You are on page 1of 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Keluarga Berencana dan Kontrasepsi


1. Akseptor
Akseptor adalah orang yang menerima serta mengikuti (pelaksanaan)
program keluarga berencana. Akseptor keluarga berencana merupakan
upaya untuk mengatur jumlah penduduk (Saifuddin, 2010).
2. Kontrasepsi
a. Pengertian
1) Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan. Upaya itu
dapat mencegah terjadinya kehamilan (Winkjosastro, 2010).
2) Kontrasepsi adalah suatu cara untuk mencegah terjadinya kehamilan
yang bertujuan untuk menjarangkan kehamilan, merencanakan jumlah
anak dan meningkatkan kesejahteraan keluarga agar keluarga dapat
memberikan perhatian dan pendidikan yang maksimal pada anak
(Hartanto, 2010).
3) Keluarga Berencana merupakan upaya untuk mencegah kehamilan
yang bersifat sementara ataupun menetap. Keluarga Berencana dapat
dilakukan tanpa menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan
obat atau alat dan dengan operasi. Pemilihan jenis kontrasepsi
didasarkan pada tujuan penggunaan dari kontrasepsi yaitu menunda
kehamilan, menjarangkan kehamilan (mengatur kesuburan) dan
mengakhiri kesuburan (Mansjoer, 2010).

b. Tujuan Kontrasepsi
Ada dua tujuan pelayanan kontrasepsi menurut Hartanto (2010) :
1) Tujuan umum
Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB (keluarga
Berencana) yaitu dihayatinya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia
dan Sejahtera).
2) Tujuan pokok
Penurunan angka kelahiran yang bermakna.
c. Syarat - Syarat Kontrasepsi
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode Kontrasepsi
yang baik adalah:
1)

Aman / tidak berbahaya

2)

Dapat diandalkan

3)

Sederhana, sedapat-dapatnya tidak usah dikerjakan


oleh seorang dokter.

4)

Murah

5)

Dapat diterima oleh banyak orang

6)

Pemakaian jangka lama (continuation rate tinggi)

d. Jenis kontrasepsi
Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma lakilaki mencapai dan membuahi telur wanita, kontrasepsi dapat kembali atau
permanen. Jenis kontrasepsi antara lain (BKKBN, 2012)

1) Kontrasepsi Suntikan
a) Depo provera yang mengandung medroxypprogesteron acetate 50 Mg.
b) Cyclofem yang mengandung medroxyprogesteron acetatedan
estrogen.
c) Norethindrone enanthate (Noresterat) 200 mg yang mengandung
derivate testosteron.
2) Kontrasepsi Oral (Pil)
a) Kontrasepsi oral adalah Kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk
tablet, mengandung hormon estrogen dan trogestron yang digunakan
untuk mencegah hamil.
b) Kontrasepsi oral terdiri atas 5 macam yaitu:
(1) Pil kombinasi, dalam satu pil terdapat estrogen dan progestron
sintetik yang diminum 3 kali seminggu.
(2) Pil sekunsel, pil ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip
dengan urutan hormon yang di keluarkan ovarium pada tiap
siklus. Maka berdasarkan urutan hormontersebut, estrogen hanya
di berikan selama 14 sampai 16 pertama diikuti oleh kombinasi
progestron dan estrogen selama 5 sampai 7 terakhir.
(3) Pil mini, merupakan pil hormon yang hanya mengandung
progestron dalam dosis mini (kurang dari 0,5 mg) yang harus
diminum setiap hari termasuk pada saat haid.
(4) Once a moth pil, pil hormon yang mengandung estrogen yang
long acting yaitu biasanya pil ini terutama diberikan untuk
wanita yang mempunyai biological half live panjang.
(5) Morning after pil, merupakan pil hormon yang mengandung
estrogen dosis tinggi yang hanya di berikan untuk keadaan darurat
saja, seperti kasus pemerkosaan dan kondom bocor.
3) Kontrasepsi Implant

10

a) Norplant yang berisi 6 batang silastik lembut yang panjang 3,4 cm,
dengan diameter 2,4 mm, lama kerjanya 5 tahun.
b) Implanot yang berisi satu batang putih lentur dengan panjang 40
mm,dengan diameter 2 mm, lama kerjanya 3 tahun.
c) Jadena berisi dua batang lama kerjanya 3 tahun
4) Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang dapat dibuat dari
berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan
alami (produksi hewan) yang dipasang pada penis saat berhubungan
seksual. Kondom tidak hanya mencegah kehamilan tetapi juga mencegah
IMS termasuk HIV/AIDS
5) Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional,
dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum
pria mencapai ejakulasi.Cara melakukannya adalah Alat kelamin (penis)
dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam
vagina sehingga kehamilan dapat dicegah
6) Pantang berkala merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA)
yang paling tua. Pencetus KBA sistem kalender
7) Spermatisida alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non
oksinol-9) yang digunakan untuk membunuh sperma
8) Cincin vagina berbentuk cincin yang lentur berdiameter sekitar 5 cm,
mengandung estrogen dan progestin
9) Vagina diafragma cakram berbentuk kubah dari karet yang dangkal,
dengan bagian badannya yang fleksibel sehingga dapat ditempatkan

11

dengan baik di dalam vagina yang kemudian mampu menutupi leher


rahim dan mencegah setiap sperma mencapai Rahim
10) IUD (AKDR) adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan dalam rongga
rahim wanita yang bekerja menghambat sperma untuk masuk ke tuba
fallopii
11) Tubektomi adalah pemotongan saluran indung telur (tuba fallopi)
sehingga sel telur tidak bisa memasuki rahim untuk dibuahi
12) Vasektomi metode kontrasepsi atau KB permanen pria dimana vasektomi
akan memotong saluran sperma agar tidak bisa membuahi sel wanita
B. Tinjauan Umum Tentang Kontrasepsi IUD
1. Pengertian IUD
a. Suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim terbuat dari
plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya konsepsi atau
kehamilan (BKKBN, 2012).
b. Suatu alat yang terbuat dari palstik atau tembaga yang dimasukkan ke
dalam rahim oleh seorang dokter untuk jangka waktu yang lama
(Suriani, 2009).
2. Profil
a. Sangat efektif, reversibel, dan berjangka panjang
b. Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak
c. Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan
d. Dapat dipakai oleh semua wanita usia reproduksi
e. Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada IMS
(Saifuddin, 2010).
3. Macam-macam alat kontrasepsi AKDR (Hartanto, 2009).
a. Un. Medicate IUD

12

Gambar 2.1: IUD Lipps loop


Diperkenalkan pada awal 1960 - an dan dianggap sebagai AKDR
standar, terbuat dari polyeht (suatu plastik inert secara biologic)
ditambah barium sulfat.
b. Medicatet Device atau Bio-Active Device yang terdiri dari dua bahan
antara lain:

1) Mengandung logam :
a) Cu T 380 A :

Gambar 2.2 : AKDR CuT 380 A


panjang 36 mm, lebar 32 mm, 314 mm2 kawat Cu pada batang
vertikal, 2 selubung Cu seluas masing-masing 33
masing-masing

mm pada

lengan horizontal. Daya kerjanya 8 tahun

(FDA : 10 tahun).
b)Cu T 380 Ag :Seperti Cu T 380 A hanya
dengan

tambahan inti

Ag

di

kawat Cu nya. Daya kerja 5 tahun

dalam

13

c) Nova T

: Panjang 32 mm, lebar 32

mm, 200 mm luas permukaan Cu nya


dengan inti Ag di dalam kawat Cu nya.
Daya kerja 5 tahun.
2) Mengandung hormon : Progesteron atau Levonorgestrel yang
meliputi :
a) Progestart = Alza-T, dengan daya kerja 1 tahun
b) LNG mengandung Levonorgestrel.

4. Mekanisme kerja kontrasepsi IUD


Menurut Mansjoer (2012), mekanisme kerja IUD sampai saat ini
belum diketahui secara pasti. Pendapat terbanyak mengatakan IUD
menimbulkan reaksi radang endometrium dengan sebutan leukosit yang
dapat menghancurkan blastokista atau sperma. IUD yang mengandung
tembaga (Cu) juga menghambat khasiat anhidrase karbon dan fosfatase
alkali, memblok bersatunya sperma dan ovum, mengurangi jumlah sperma
yang mencapai tuba falopii dan menginaktifkan sperma. IUD yang
mengeluarkan

hormon

juga

menebalkan

lendir

serviks

hingga

menghalangi pergerakan sperma.


Pendapat lain yang dikemukakan Saifuddin (2010), bahwa
mekanisme kerja IUD yaitu:
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba fallopii

14

b. Mempengaruhi fertilitas sebelum ovum mencapai kavum uteri


c. IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun
IUD membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan
dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.
d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
5.

Keuntungan dan kerugian kontrasepsi IUD (Saifuddin, 2010).

Keuntungan
1) Efektifitas nya tinggi 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam
satu tahun pertama.
2) AKDR dapat efektif setelah pemasangan
3) Metode jangka panjang ( 10 tahun)
4) Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ingat
5) Tidak mempengaruhi hubungan seksual
6) Meningkatkan kenyamanan karena tidak perlu takut hamil
7) Tidak ada efek samping hormonal
8) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
9) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus.
10) Dapat digunakan sebelum menopause (1 tahun atau lebih setelah
haid terakhir)
11) Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
12) Membantu mencegah kehamilan ektopik.
b. Kerugian

15

1) Perubahan siklus haid terjadi karena pada pada pemasangan IUD hal
yang paling sering terjadi adalah berubahnya siklus haid
2) Haid lebih lama dan banyak
3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi
4) Ekspulsi
6.

Waktu yang Tepat Untuk Melakukan Pemasangan IUD (Manuaba,


2010).

a.

Bersamaan dengan menstruasi

b.

Segera setelah bersih menstruasi

c.

Pada masa akhir peurperium

d.

Tiga bulan pascapersalinan

e.

Bersamaan dengan abortus dan kuretase

f.

Sewaktu seksio sesarea.

g.

Hari kedua, ketiga pasca persalinan


7.

Kontra Indikasi
Berikut adalah kontraindikasi pemasangan alat kontrasepsi dalam
rahim (IUD) pada seorang wanita, yang dilakukan oleh bidan menurut
Varney H (2009)
a. Kehamilan karena dengan akseptor hamil maka tidak diperkenankan
untuk menggunakan IUD
b. Penyakit Inflamasi Pelvik (PID) yang tidak dianjurkan untuk
menggunakan IUD
c. Karsinoma serviks atau uterus karena penyakit ini tidak dianjurkan
untuk menggunakan IUD

16

d. Riwayat atau keberadaan penyakit katup jantung karena penyakit ini


sangat beresiko jadi tidak diperkenankan untuk menggunakan IUD
e. Keberadaan miomata, malformasi kongenital, atau anomali
perkembangan yang dapat mempengaruhi rongga uterus dan tidak
boleh menggunakan IUD
f. Diketahui atau dicurigai alergi terhadap tembaga karena dengan
kontra indikasi ini tidak dapat digunakan IUD.
g. Risiko tinggi penyakit menular seksual tidak diperkenankan untuk
menggunakan IUD
h. Riwayat kehamilan ektopik dan tidak dapat menggunakan IUD
i. Servisitis atau vaginitis akut karena penyakit ini tidak dapat
diperkenankan untuk menggunakan alat kontrasepsi apapun
j. Aktinomikosis karena dengan penyakit ini bagi penderita tidak dapat
menggunakan IUD
k. Penyakit hati akut dengan penyakit ini tidak dapat diperkenankan
untuk menggunakan IUD
8.

Efek Samping
Efek samping/komplikasi IUD dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu:
a. Pada saat insersi (pemasangan) :

1)

Rasa sakit/nyeri saat haid dan nyeri segera setelah pemasangan


IUD.

2)

Muntah, keringat dingin dan syncope

3)

Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar).


b. Dikemudian hari :

17

1) Rasa sakit dan perdarahan : merasa sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah
pemasangan, serta perdarahan pada waktu haid atau diantaranya yang
memungkinkan penyebab anemia.
2) Infeksi dapat terjadi apabila pemasangan tidak benar.
Menurut Winkjosastro (2010), efek samping yang lebih
serius dari pe masangan IUD yaitu:
a) Perforasi Uterus
b) Infeksi Pelvik dapat terjadi apabila pemasangan tidak benar
c) Endometritis
Efek samping yang dapat terjadi pada ibu seperti ibu
mengeluh rasa sakit pada saat haid, hipermenorea, muntah,
perforasi uterus bahkan infeksi. Keluhan yang dirasakan ibu
terkadang sangat mengganggu aktifitas kesehariannya sehingga
dapat membuat ibu cemas karena kurangnya pengetahuan tentang
kontrasepsi IUD sehingga sulit untuk bisa menerima keadaannya
dari efek samping yang ditimbulkan kontrepsi yang digunkannya
(Hartanto, 2010).
9.

Waktu/saat insersi

a. Insersi interval:
1) Kebijakan(Policy)sekarang:
Insersi IUD dapat dilakukan setiap saat dari siklus haid asal kita
yakin seyakin-yakinnya bahwa calon akseptor tidak dalam keadaan
hamil.
2) Kebijakan(Policy) lama:
Insersi IUD dilakukan selama atau segera sesudah haid.

18

a)
b)
c)
d)
e)

Alasan:
Ostium uteri lebih terbuka.
Canalis cervicalis lunak.
Perdarahan yang timbul karena prosedur insersi.
Tertutup oleh perdarahan haid yang normal.
Wanita pasti tidak hamil.
Tetapi, akhirnya kebijakan ini ditinggalkan karena:
(1) Infeksi dan ekspulsi lebih tinggi bila insersi dilakukan
saat haid.
(2) Dilatasi canalis cervicalis adalah sama pada saat haid
maupun pada saat mid-siklus.
(3) Memudahkan calon akseptor pada setiap saat ia datang
keklinik KB.
b. Insersi Post-Partum
Insersi IUD adalah aman dalam beberapa hari post partum,
hanya kerugian paling besar adalah angka kejadin ekspulsi yang
sangat tinggi. Tetapi menurut penyelidikan di singapura,saat yang
terbaik adalah delapan minggu post-partum,bahaya perforasi tinggi
sekali. IUD yang dipakai dan yang sedang dicoba:
1) Delta Loop = Modified Lippes Loop D.
2) Delta T
= Modified CuT-220C.
3)Kedua IUD tersebut diberi benang chromic cutgut pada lengan
atasnya,dengan maksud benangnya akan tertanam kedalam
endometrium dan menahan IUD -nya ditempatnya selama involusi
uterus,Benangnya secara perlahan-lahanakan larut dalam waktu 6
minggu.
4)Modified Delta Loop.
IUD yang mengandung Cu dapat meningkatkan prostaglandin
sehingga mengurangi immobilisasi sperma masuk ke tuba
fallopi,dimana sperma dan ovum memiliki umur dan apabila ovum
tidak dibuahi tidak akan terjadi kehamilan
5)Modified Delta-T.

19

Kedua IUD tersebut diberi tonjolan-tonjolan yang terbuat dari


bahan polimer yang biodegradable,yang akan larut secara
perlahan-lahan.
Post partum mempunyai lengan tambahan pada bagian bawah
batang AKDR,sepanjang 2cm yang menjurus keatas kearah luar.
Insersi AKDR post-partum tidak mempunyai efek pada kuantitas
atau komposisi dari air susu ibu(ASI).
10. Teknik pemasangan IUD
Memperhatikan

penyulit

IUD,

maka

pemasangan perlu

mendapat perhatian.
a. Jelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan klien dan
mempersiapkan klien mengajukan pertanyaan. Sampaikan kepada
klien mungkin akan merasa sedikit sakit pada beberapa langkah waktu
pemasangan dan nanti akan diberitahu bila sampai pada langkahlangkah tersebut.
b. Periksa genitalia eksterna untuk memeriksa terjadinya pembengkakan
pada kelenjar bartholini dan kelenjar skene.
c.

Lakukan pemeriksaan spekulum untuk memeriksa adanya cairan


vagina, servitis, dan pemeriksaan mikroskopis bila diperlukan.

d. Lakukan pemeriksaan panggul untuk menentukan besar, posisi, serta


adanya nyeri goyang serviks.
e. Masukkan benang IUD Copper T 308A di dalam kemasan sterilnya

20

f. Masukkan spekulum, dan usap vagina dan serviks dengan larutan


antiseptik.
g. Masukkan tenakulum untuk menjepit serviks
h. Masukkan sonde uterus
i. Pasang IUD 380A
1)Atur letak leher biru pada tabung inserter sesuai dengan kedalaman
kavum uteri. Hati-hati memasukkan tabung inserter sampai leher
biru menyentuh fundus atau sampai terasa ada tahanan.
2)Lepaskan lengan IUD dengan menggunakan teknik menarik. Tarik
keluar pendorong.
3)Setelah lengan IUD lepas, dorong secara perlahan-lahan tabung
inserter ke dalam kavum uteri sampai leher biru menyentuh serviks.
4)Tarik keluar sebagian tabung inserter, potong benar IUD kira-kira 34 cm panjangnya.
j. Buang bahan-bahan habis pakai yang terkontaminasi sebelum melepas
sarung tangan.
k. Bersihkan permukaan yang terkontaminasi.
l. Lakukan dekontaminasi alat-alat dan sarung tangan dengan segera
setelah selesai dipakai.
m. Ajarkan pada klien bagaimana memeriksa benang IUD
11. Follow up post insersi IUD (Hartanto, 2010).
a.

2 minggu setelah insersi

b.

1 bulan berikutnya

c.

3 bulan berikutnya

d.

6 bulan-1 tahun sekali.


12. Hal-hal yang harus diketahui oleh akseptor IUD (Hartanto, 2010).

21

a.

Cara memeriksa sendiri benang ekor IUD


Hal ini terutama berlaku dala bulan-bulan pertam post insersi,
kemudian periksa setiap selesai haid atau bila ada dismenore. Akseptor
tidak akan dilindungi oleh IUD bila :
1) Tidak teraba benang ekor
2) Teraba batang IUD
3) Benang ekor A IUD bertambah panjang atau bertambah pendek.
13. Angka kegagalan IUD (Hartanto, 2009).
a. Belum ada IUD yang 100% efektif
b. Angka kegagalan untuk :
1) IUD pada umumnya : 1-3 kehamilan per 100 wanita pertahun
2) Lippes loop dan fisrt generation Cu IUD : 2 kehamilan per 100
wanita pertahun.
3) Second generation Cu IUD < 1 kehamilan per 100 wanita perahun
dan 4 kehamilan per 100 wanita setelah 6 tahun pemakaian.
c. Angka kontinuitas pemakaian IUD
1) 70 90 per 100 wanita setelah satu tahun
2) Di Indonesia 65 - 75% akseptor IUD masih tetap memakai IUD
nya, dibandingkan 30 - 40% yang memakai pil oral.
13. Penanganan bidan terhadap akseptor IUD
1) Berikan konseling tentang
a)

Efektifitas dari IUD

b)

Keuntungan dan efek samping dari IUD

c)

Indikasi dan kontraindikasi dari pemasangan IUD

22

2) Anjurkan ibu untuk memeriksakan setelah 4 sampai 6 minggu


pemasangan IUD
3) Anjurkan pada ibu untuk memeriksa keberadaan benang IUD setelah
haid.
4) Anjurkan ibu untuk kembali memeriksakan diri apabila:
a) Tidak dapat meraba benang IUD
b) IUD terlepas
c) Siklus haid terganggu /meleset
d) Adanya infeksi
C.

Tinjauan Umum Tentang Variabel Yang Diteliti


Motivasi
Motivasi atau dukungan kepada ibu menjadi satu faktor penting
yang mempengaruhi ibu menggunakan KB IUD. Seorang ibu yang punya
pikiran positif tentu saja akan senang menggunakan KB IUD. Keadaan
tenang ini didapat ibu jika adanya motifasi dari lingkungan sekitar ibu untuk
menggunakan KB IUD. Karena itu, ibu memerlukan motivasi yang kuat
agar dapat menggunakan KB IUD. Menurut Tasya (2008), Motivasi ini
didapat oleh ibu dari 3 pihak yaitu, suami, keluarga, dan tenaga kesehatan.
Tetapi pengaruh motivasi yang paling besar adalah dukungan dari suami.
Hal ini dikarenakan suami merupakan keluarga inti dari dan orang yang
paling dekat dengan ibu.
Salah Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
motivasi ibu tentang menggunakan KB IUD yang benar adalah peran tenaga

23

kesehatan sebagai educator diharapkan dapat membantu memberikan


informasi tentang hal tersebut tidak hanya dengan penyuluhan tetapi petugas
kesehatan harus memberikan petunjuk serta dorongan bagaimana ibu
seharusnya menggunakan KB IUD (Saifuddin, 2010).
Dukungan Suami
Dukungan suami didefinisikan dari dukungan sosial. Definisi
dukungan sosial sampai saat ini masih diperdebatkan bahkan menimbulkan
kontradiksi. Dukungan sosial sering dikenal dengan istilah lain yaitu
dukungan emosi yang berupa simpati, yang merupakan bukti kasih sayang,
perhatian, dan keinginan untuk mendengarkan keluh kesah orang lain.
Sejumlah orang lain yang potensial memberikan dukungan tersebut disebut
sebagai significant other, misalnya sebagai seorang istri significant other
nya adalah suami (Manuaba, 2010).

Kebutuhan, kemampuan, dan sumber dukungan mengalami


perubahan sepanjang kehidupan seseorang. Keluarga merupakan lingkungan
pertama yang dikenal oleh individu dalam proses sosialisasinya. Dukungan
suami merupakan bantuan yang dapat diberikan kepada keluarga lain berupa
barang, jasa, informasi dan nasehat, yang mana membuat penerima
dukungan akan merasa di sayang, dihargai, dan tentram (Merina, 2012).

24

Dari definisi yang disebutkan, penulis mengambil kesimpulan


bahwa dukungan suami sangat bermanfaat dalam pengendalian seseorang
terhadap tingkat kecemasan dan dapat pula mengurangi tekanan-tekanan
yang ada pada konflikyang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa
dorongan, motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu
yang lainnya merasa leboh tenang dan aman. Dukungan didapatkan dari
suami. Dukungan suami dapat mendatangkan rasa senang, rasa aman, rasa
puas, rasa nyaman dan membuat orang yang bersangkutan merasa mendapat
dukungan emosional yang akan mempengaruhi kesejahteraan jiwa manusia.
Dukungan keluarga berkaitan dengan pembentukan keseimbangan mental
dan kepuasan psikologis.
Mendukung dan menganjurkan suami dan anggota keluarga yang
lain untuk mendampingi ibu selama persalinan dan kelahiran. Menganjurkan
mereka untuk berperan aktif dalam mendukung dan mengenali langkah
langkah yang mungkin akan dapat membantu kenyamanan ibu (Purwanto,
2010).
Kategori Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan membagikan
kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui
atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan pengetahuan
(Notoatmodjo, 2010).

25

Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa skor yang sering digunakan


untuk

mempermudah

dalam

mengkategorikan

jenjang/peringkat

pengetahuan dalam penelitian dapat ditulis dalam bentuk persentase,


misalnya responden tinggi jika responden menjawab pertanyaan dengan
benar 50% dari seluruh pertanyaan, rendah jika responden menjawab
pertanyaan dengan benar < 50% dari seluruh pertanyaan.
D.

Kerangka Konsep
1. Kerangka konsep penelitian
Variabel independen

Motivasi
Dukungan Suami
Keterangan :
Sikap

Variabel Dependen

Pemilihan Alat
Kontrasepsi IUD Pada
Ibu

: Variabel Independen
: Variabel Dependen
: Variabel Yang Diteliti
: Variabel Yang Tidak Diteliti
2. Hubungan antar variabel
Variabel adalah karakteristik subyek penelitian yang berubah dari
suatu subyek ke subyek lainnya. Menurut fungsinya dalam konteks
penelitian secara keseluruhan.
3. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
a.Pemakaian KB IUD
Suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim terbuat
dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya konsepsi atau
kehamilan.
Kriteria objektif :
1)Ya
2)Tidak
b.
Motivasi

: Jika ibu menggunakan KB IUD.


: Jika ibu tidak menggunakan kontrasepsi.

26

Motivasi merupakan suatu pernyataan yang kompleks yang


mengarahkan tingkah laku atau perbuatan ke suatu tujuan yang
diinginkan seperti pemakaian KB IUD.
Kriteria Objektif :
1) Tinggi : Jika responden menjawab 50% seluruh pertanyaan
2) Rendah : Jika responden menjawab < 50% seluruh pertanyaan.
c.Dukungan Suami
Dukungan suami adalah bagian dari jaringan sosial yang
didalamnya tiap anggota saling mendukung, dalam bentuk dukungan
emosional, penghargaan, materi dan informasi dukungan didapatkan dari
suami.
Kriteria Objektif :
Tinggi : Jika responden menjawab 50% seluruh pertanyaan
Rendah
: Jika responden menjawab < 50% seluruh pertanyaan

1)
2)
E.

Hipotesis
Berdasarkan pada masalah, tujuan, tinjauan pustaka dan kerangka
konsep maka hipotesis yang diajukan yakni :
1.

Hipotesis Nol (Ho)


a. Tidak ada pengaruh motivasi terhadap pemilihan pemakaian KB IUD
Pada Ibu di Puskesmas Ponre Kabupaten Bulukumba Tahun 2015.
b. Tidak ada pengaruh dukungan suami terhadap pemilihan pemakaian KB
IUD Pada Ibu di Puskesmas Ponre Kabupaten Bulukumba Tahun 2015.

2.

Hipotesis Alternatif (Ha)


a. Ada pengaruh motivasi terhadap pemilihan pemakaian KB IUD Pada Ibu
di Puskesmas Ponre Kabupaten Bulukumba Tahun 2015.
b. Ada pengaruh dukungan suami terhadap pemilihan pemakaian KB IUD

Pada Ibu di Puskesmas Ponre Kabupaten Bulukumba Tahun 2015.