You are on page 1of 14

THAHARAH

SEBAGAI SYARAT SYAH SHALAT


OLEH
DRS. FAKHRURAZI RENO
SUTAN, MA

PENGERTIAN THAHARAH
Thaharah secara lughawi (sematik adalah
suci. Menurut istilah (terminologi) ahli
fikih, thaharah adalah : menghilangkan
sesuatu yang menjadi kendala bagi
sahnya ibadah tertentu. Kendala-kendala
ada yang sifat atau bendanya nyata
sehingga dapat diketahui melalui indra,
seperti benda-benda najis. Tetapi ada
juga yang sifat atau bendanya tidak nyata
(abstrak), seperti hadats-hadats.

pada surat al- baqorah ayat 222:


Yang artinya : sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat
dan orang-orang yang mensucikan diri
.

NAJIS
Benda-benda najis adalah kotorankotoran yang wajib dibersihkan oleh
setiap muslim, jika benda-benda itu
terkena pada badannya, pakaiannya
atau tempatnya. Jika tidak, bukan
saja badannya, pakaiannya
lingkungannya tidak suci (kotor)
melainkan juga shalat yang didirikan
(dilaksanakan) tidak sah.

Di antara benda-benda najis tersebut adalah :


1. Muntah
2. Air kecil (kencing)
3. Air besar (berak)
4. Air madzi
5. Air liur anjing
6. Khamar
7. Darah haidh, darah nifas darah istihadah
8. Darah yang keluar dari badan (manusia atau
hewan) karena terluka karena sebab-sebab lainnya.
Benda-benda najis tersebut jika terkena badan,
pakaian atau tempat, wajib dibersihkan.

Benda-benda najis lainnya (yang agak jauh


dari badan, tetapi jika terkena juga wajib
dibersihkan) adalah :
1. Bangkai, kecuali bangkai ikan dan
belalang
2. Binatang yang mati tercekik, atau
dicekik, dipukul, atau jatuh, ditanduk, atau
diterkam binatang buas
3. Daging babi
4. Binatang yang disembelih untuk berhala.

HADATS
Adapun hadats adalah keadaan tidak
suci. Dengan kata lain, orang yang tidak
suci dikatakan berhadats yang
menyebabkannya tidak boleh shalat,
tawaf dan yang semacamnya. Seorang
muslim yang batal wu-dhunya sudah
berada dalam kondisi berhadats. Jika ia
segera ber-wudhu, maka ia telah suci
kembali dan, oleh karenanya, ia boleh
shalat, tawaf, dan amal lainnya yang
bersyaratkan wudhu.

PEMBAGIAN HADATS
1. Hadats kecil dan
2. Hadats besar
Hadats kecil terjadi karena wudhu batal dan
hadats besar muncul karena terjadi sesuatu
yang menyebabkannya, misalnya bersetubuh
dengan isteri atau sebab-sebab lainnya yang
mewajibkan mandi

A. WUDHU
Menurut lughat ( bahasa ), adalah perbuatan
menggunakan air pada anggota tubuh tertentu.
Dalam istilah syara wudhu adalah perbuatan
tertentu yang dimulai dengan niat. Mula-mula
wudhu itu diwajibkan setiap kali hendak
melakukan sholat tetapi kemudian kewajiban itu
dikaitkan dengan keadaan berhadats

DALIL-DALIL WAJIB
WUDHU:
1. ayat Al-Qur'an surat al-maidah ayat 6 yang artinya
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak melakukan sholat , maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan
sapulah kepalamu dan ( basuh ) kaimu sampai
dengan ke dua mata kaki
2. Hadits Rasul SAW


Yang artinya Allah tidak menerima shalat
seseorang kamu bila Ia berhadats, sampai Ia
berwudhu ( HR Baihaqi, Abu Daud, dan Tirmizi )

Fardhu wudhu
1.
2.
3.
4.
5.
6.

niat
membasuh muka
membasuh tangan
menyapu kepala
membasuh kaki
tertib

SUNAT WUDHU
1. membaca basmalah pada awalnya
2. membasuh ke dua telapak tangan sampai
ke pergelangan sebanyak tiga kali, sebelum
berkumur-kumur., walaupun diyakininya
tangannya itu bersih
madmanah, yakni berkumur-kumur
3. memasukan air ke mulut sambil
mengguncangkannya lalu membuangnya.
4. istinsyaq, yakni memasukan air ke hidung
kemudian membuangnya
5. meraatakan sapuan keseluruh lepala
6. menyapu kedua telinga.

7. menyela-nyela janggut dengan jari


8. mendahulukan yang kana atas yang kiri
9. melakukan perbuatan bersuci itu tiga
kali- tiga kali
10. muwalah, yakni melakukan perbuatan
tersebut secara beruntun
11. menghadap kiblat
12. mengosok-gosok anggota wudhu
khususnya bagian tumit
13. menggunakan air dengan hemat