You are on page 1of 2

POLA KUMAN PADA PASIEN DIARE AKUT YANG DIRAWAT DI RS HASAN

SADIKIN DALAM KURUN WAKTU 1 SEPTEMBER 2010 - 1 SEPTEMBER 2012

Diare akut masih merupakan masalah umum yang ditemukan di seluruh dunia. WHO
memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare akut yang terjadi setiap tahun dengan
mortalitas 3-4 juta per tahun. Di Indonesia, data epidemiologi di beberapa rumah sakit besar
menunjukkan diare akut karena infeksi masih menjadi peringkat pertama sampai dengan
keempat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pola kuman kasus diare akut pada pasien yang dirawat di Bagian Ilmu Penyakit
Dalam RS Hasan Sadikin sejak 1 September 2010 sampai dengan 1 September 2012.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan objek penelitian data hasil kultur feses pada pasien
diare akut yang dirawat di bagian Ilmu Penyakit Dalam sejak 1 September 2010 sampai 1
September 2012. Kriteria inklusi yang digunakan adalah pasien berusia lebih dari 14 tahun
dengan keluhan diare selama kurang dari 2 minggu. Spesimen feses yang diambil kemudian
diinokulasi langsung pada agar MacConkey, diinkubasikan pada suhu 35-37oC selama 18-24
jam. Untuk tes resistensi antibiotik, digunakan metode turbidimetri dengan alat Vitek 2
Compact.
Jumlah pasien diare akut yang memenuhi kriteria inklusi selama kurun waktu tersebut adalah
272 pasien. Dari jumlah tersebut, jumlah pasien yang menjalani pemeriksaan kultur feses dan
sekaligus menjadi total populasi sampel dalam penelitian ini adalah 180 pasien (66,17%).
Populasi sampel terdiri atas 81 laki-laki (45%) dan 99 wanita (55%). Kelompok usia <20
tahun sebanyak 11 orang (6,11%), 20-50 tahun sebanyak 80 orang (44,4%), dan usia >50
tahun sebanyak 89 orang (49,45%). Berdasarkan diagnosis klinis, populasi sampel dibagi ke
dalam dua kelompok, yaitu kelompok diare akut yang disebabkan inflamasi sebanyak 101
sampel (56,11%) dan diare akut yang disebabkan non inflamasi sebanyak 79 sampel
(43,89%). Dari 180 kultur feses yang diteliti, diperoleh profil kuman yang ditemukan dalam
hasil kultur pada tersebut adalah E. coli non patogen sebanyak 114 kasus (63,33% dari total
populasi sampel), E coli patogen sebanyak 53 kasus (29,44%), Klebsiella spp sebanyak 12
kasus (6,67%), dan Enterobacter cloacae sebanyak 1 kasus (0,56%). Hal ini menunjukkan
bahwa kasus diare akut pada populasi sampel yang diteliti paling banyak disebabkan oleh
penyebab non infeksi bakteri. Dari kasus diare akut yang disebabkan oleh infeksi, E. coli
merupakan penyebab terbanyak yaitu 80,3%. Penyebab terbanyak kedua adalah Klebsiella
spp yaitu sebanyak 18,18%. Untuk kelompok diare akut yang disebabkan oleh inflamasi,
kuman yang ditemukan pada kultur feses adalah E coli patogen (47,52%), E. Coli non
patogen (40,6%), dan Klebsiella spp (11,88%). Untuk kelompok diare akut yang disebabkan
oleh non inflamasi, diperoleh kuman E coli non patogen (92,4%), E coli patogen (6,3%), dan
Enterobacter cloacae (1,3%). Hal ini menunjukkan bahwa dalam pengelolaan pasien masih
banyak kasus diare yang disebabkan oleh penyebab non infeksi didiagnosa sebagai diare yang
disebabkan oleh infeksi (40,6%). Selain itu ada juga diare yang disebabkan oleh infeksi

namun didiagnosa sebagai diare non infeksi dalam jumlah yang relatif sedikit (6,3%). Pada
tes resistensi antibiotik, didapatkan
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penyebab terbanyak diare akut pada populasi sampel
yang diteliti adalah penyebab non infeksi. Peneliti juga menemukan masih banyak kasus
diare akut non infeksi yang dikelola sebagai diare yang disebabkan oleh infeksi dan diberi
antibiotik. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menganjurkan agar penggunaan antibiotik
sebaiknya tidak rutin digunakan pada kasus diare akut. Sementara untuk diare yang
disebabkan oleh infeksi, E. Coli masih merupakan penyebab terbanyak (80,3%) diikuti oleh
Klebsiella spp sebagai penyebab terbanyak kedua (18,18%) di mana keduanya merupakan
kuman gram negatif. Oleh karena itu dalam pengelolaan kasus diare akut yang disebabkan
oleh infeksi, peneliti menganjurkan pemilihan antibiotik empirik yang sensitif untuk kuman
gram negatif, agar diperoleh respon klinis yang sesuai dengan yang diharapkan.