You are on page 1of 2

ABSTRAK

Timor Timur adalah sebuah negara kecil di sebelah Utara Australia dan bagian Timur
pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing aatau Atauro, Jaco dan
Enklave Oecussi-Ambeno di Timor Barat. Dengan munculnya tiga partai Fretelin, UDT dan
Apodete yang memiliki perbedaan kepentingan mengawali terjadinya konflik perang saudara di
Timor Timur. Dengan kekalahan yang dialami oleh UDT, membawa pemerintah Indonesia
bersama dengan masyarakat pro-integrasi Indonesia termasuk APODT sendiri sebagai aliansinya
masuk ke wilayah Timor Timur. Konflik pun semakin memanas ketika Indonesia muncul sebagai
aktor lain dalam interaksi berupa konflik intra-state tersebut. Dengan hadirnya kekuatan
Indonesia ke dalam wilayah Timor Timur, guna menghilangkan pengaruh Fretelin dengan cara
mengarahkan militer Indonesia kala itu melakukan pembantaian massal terhadap penduduk yang
diasumsikan sebagai pejuang pro-kemerdekaan.
Dengan melihat hal ini, penduduk asli Timor Timur mendukung adanya gerakan aksi
protes terhadap pemerintah Indonesia yang melakukan pelanggaran HAM. Hal ini didukung pula
oleh dunia internasional terhadap Timor Timur untuk merdeka dan desakan dunia internasional
terhadap pemerintahan Habibie membuat Habibie tertekan. Konfik yang terjadi antara
masyarakat asli Timor Timur dengan pemerintah Indonesia merupakan konflik yang bersifat
suspended, karena pasca kemerdekaan Timor Leste masih mengalami beberapa konflik yang
timbul dan tenggelam. Yang menjadikan konflik ini berjalan berkepanjangan yang berpotensi
kembali terjadinya konflik. Kebencian masyarakat Timor Leste terhadap pemerintah Indonesia
akan aksi pelanggaran HAM, banyaknya korban jiwa yang ditimbulkan, kerugian material pun
menjadi pemicu tidak cepat terselesaikannya konflik yang terjadi.

KESIMPULAN
Dinamika konflik yang tejadi di Timor Timur dipicu oleh adanya perbedaan kepentingan
tiga partai utama yaitu Fretelin, UDT, dan Apodete. Dengan kekalahan yang dialami oleh UDT,
muncul lah campur tangan pemerintah Indonesia melalui invasi militer melalui pembantaian
massal terhadap penduduk asli Timor Timur menuai aksi protes untuk segera memerdekakan
negaranya. Hal ini didukung pula oleh adanya tekanan tekanan dari masyarakat internasional
guna memaksa Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan yang dapat mengaspirasi masyarakat
Timor Leste. Dengan adanya desakan dunia internasional terhadap pemerintahan Habibie,
membuatnya tertekan dan akhirnya dikeluarkannya opsi kepada Timor Timur.
Pada bulan Juni 1998, pemerintah Indonesia memutuskan untuk memberikan otonomi
luas kepada Timor Timur. Dengan dilakukannya referendum yang akhirnya memilih untuk
membangun negaranya sendiri melalui hasil dari jajak pendapat yang telah disepakati bersama
pada tanggal 30 November 1999. Hasil dari jajak pendapat tersebut berakhir dengan hasil 78,5 %
menyatakan menolak daerah otonomi khusus dan 21,5% menyatakan menerima daerah otonomi
khusus dengan membawa Timur Timur secara resmi merdeka pada tanggal 20 Mei 2002 dan
mengubah namanya menjadi Negara Republik Demokratik Timor Leste.