You are on page 1of 21

Anatomi Fungsional Sendi Bahu (Shoulder Joint)

Secara anatomi sendi bahu merupakan sendi peluru (ball and socket joint) yang terdiri
atas bonggol sendi dan mangkuk sendi, gambar 2. 2. Cavitas sendi bahu sangat dangkal,
sehingga memungkinkan seseorang dapat menggerakkan lengannya secara leluasa dan
melaksanakan aktifitas sehari-hari. Namun struktur yang demikian akan menimbulkan
ketidakstabilan sendi bahu dan ketidakstabilan ini sering menimbulkan gangguan pada bahu.
Sendi bahu merupakan sendi yang komplek pada tubuh manusia dibentuk oleh tulangtulang yaitu : scapula (shoulder blade),clavicula (collar bone), humerus (upper arm bone), dan
sternum. Daerah persendian bahu mencakup empat sendi, yaitu sendi sternoclavicular, sendi
glenohumeral, sendi acromioclavicular, sendi scapulothoracal. Empat sendi tersebut
bekerjasama secara secara sinkron. Pada sendi glenohumeralsangat luas lingkup geraknya karena
caput humeri tidak masuk ke dalam mangkok karena fossa glenoidalis dangkal (Sidharta, 1984).
Berbeda dngan cara berpikir murni anatomis tentang gelang bahu, maka bila dipandang
dari sudut klinis praktis gelang bahu ada 5 fungsi persendian yang kompleks, yaitu:
a. Sendi Glenohumerale
Sendi

glenohumeral

dibentuk

oleh

caput

humeri

yang

bulat

dan

cavitas

glenoidalisscapula yang dangkal dan berbentuk buah per. Permukaan sendi meliputi oleh rawan
hyaline, dan cavitas glenoidalis diperdalam oleh adanya labrum glenoidale (Snell, 1997).
Dibentuk oleh caput humerrus dengan cavitas glenoidalisscapulae, yang diperluas
dengan adanya cartilago pada tepi cavitas glenoidalis, sehingga rongga sendi menjadi lebih
dalam. Kapsul sendi longgar sehingga memungkinkan gerakan dengan jarak gerak yang lebih
luas. Proteksi terhadap sendi tersebut diselenggarakan oleh acromion, procecus coracoideus, dan
ligamen-ligamen. Tegangan otot diperlukan untuk mempertahankan agar caput humerus selalu
dipelihara pada cavitas glenoidalisnya.
Ligamen-ligamen yang memperkuat sendi glenohumeral antara lain ligamenglenoidalis,
ligamenhumeral tranversum, ligamencoraco humeral dan ligamencoracoacromiale, serta kapsul
sendi melekat pada cavitas glenoidalis dan collum anatomicum humeri (Snell, 1997).
Ligament yang memperkuat antara lain:
1) ligamentumcoraco humerale, yang membentang dari procesus coracoideus sampai tuberculum
humeri.
2) ligament coracoacromiale, yang membemtang dari procesus coracoideus sampai acromion.

3) ligament glenohumerale, yang membentang dari tepi cavitas glenoidalis ke colum anatobicum,
dan ada 3 buah yaitu:
a) ligament gleno humerale superior, yang melewati articulatio sebelah cranial
b) Ligament glenohumeralis medius, yang melewati articulatio sebelah ventral.
c) Ligamentum gleno humeralis inferius, yang melewati articulation sebelah inferius.
Bursa-bursa yang ada pada shoulder joint:
1) Bursa otot latisimus dorsi, terletak pada tendon otot teres mayor dan tendon latisimus dorsi.
2) Bursa infra spinatus, terdapat pada tendon infra spinatus dan tuberositashumeri.
3) Bursa otot pectoralis mayor, terletak pada sebelah depan insersio otot pectoralis mayor.
4) Bursa subdeltoideus, terdapat diatas tuberositas mayus humeri dibawah otot deltoideus.
5) Bursa ligament coraco clavikularis, terletak diatas ligamentum coracoclaviculare.
6) Bursa otot subscapularis terletak diantar sisi glenoidalis scapulae dengan otot subscapularis.
7) Bursa subcutanea acromialis, terletak diatas acromion dibawah kulit
Ada dua tipe dasar gerakan tulang atau osteokinematika pada sendi glenoidal yaitu rotasi
atau gerakan berputar pada suatu aksis dan translasi merupakan gerakan menurut garis lurus dan
kedua gerakan tersebut akan menghasilkan gerakan tertentu dalam sendi atau permukaan sendi
yang disebut gerakan artrokinematika.Rotasi tulang atau gerakan fisiologis akan menghasilkan
gerakan roll-gliding di dalam sendi dan translasi tulang menghasilkan gerakan gliding, traction
ataupun compression dalam sendi yang termasuk dalam joint play movement (Mudatsir, 2002).
Ada dua tipe dasar gerakan tulang atau osteokinematika adalah rotasi atau gerakan
berputar pada suatu aksis dan translasi merupakan gerakan menurut garis lurus dan kedua
gerakan tersebut akan menghasilkan gerakan tertentu dalam sendi atau permukaan sendi yang
disebut gerakan artrokinematika. Rotasi tulang atau gerakan fisiologis akan menghasilkan
gerakan roll-gliding di dalam sendi dan translasi tulang menghasilkan gerakan gliding, traction
ataupun compression dalam sendi yang termasuk dalam joint play movement (Mudatsir, 2002).
Gerakan arthrokinematika pada sendi gleno humeralyaitu : (1) gerakan fleksi terjadi
rollingcaput humeri ke anterior, sliding ke posterior (2) gerakan abduksi terjadi rollingcaput
humeri ke cranio posterior, sliding ke caudo ventral (3) gerakan eksternal rotasi terjadi
rollingcaput humeri ke dorso lateral, sliding ke ventro medial (4) gerakan internal rotasi terjadi
rollingcaput humeri ke ventro medial dan sliding ke dorso lateral (Kapanji, 1982).

b. Sendi sterno claviculare


Dibentuk oleh extremitas glenoidalis clavikula, dengan incisura clavicularis sterni.
Menurut bentuknya termasuk articulation sellaris, tetapi fungsionalnya glubiodea. Diantar kedua
facies articularisnya ada suatu discus articularis sehingga lebih dapat menyesuikan kedua
facies articularisnya dan sebagai cavum srticulare. Capsula articularis luas,sehingga
kemungkinan gerakan luas.
Ligamentum yang memperkuat:
1)

ligamentum interclaviculare, yang membentang diantara medial extremitassternalis, lewat


sebelah cranial incisura jugularis sterni.

2)

ligamentum costoclaviculare, yang membentang diantara costae pertama sampai permukaan


bawah clavicula.

3) ligamentum sterno claviculare, yang membentang dari bagian tepi caudal incisura clavicularis
sterni, kebagian cranial extremitas sternalis claviculare.
Gerak osteokinematika yang terjadi adalah gerak elevasi 45 dan gerak depresi 70, serta
protraksi 30 dan retraksi 30. Sedangkan gerak osteokinematikanya meliputi: (1) gerak
protraksi terjadi roll clavicula kearah ventral dan slide kearah ventral, (2) gerak retraksi terjadi
roll clavicula kerah dorsal dan slide kearah dorsal, (3) gerak elevasi terjadi roll kearah cranial
dan slide kearah caudal, gerak fleksi shoulder 10 (sampai fleksi 90) terjadi gerak elevasi
berkisasr 4, (4) gerak depresi terjadi roll ke arah caudal dan slide clavicula kearah cranial.
c.

Sendi acromioclaviculare
Dibentuk oleh extremitas acromialisclavicula dengan tepi medial dari acromion scapulae.
Facies articularisnya kecil dan rata dan dilapisi oleh fibro cartilago. Diantara facies articularis
ada discus artucularis. Secara morfologis termasuk ariculatio ellipsoidea, karena facies
articularisnya sempit, dengan ligamentum yang longgar.
Ligamentum yang memperkuatnya:

1) ligamentacromio claiculare, yamg membentang antara acromion dataran ventral sampai dataran
caudal clavicula.
2) ligament coraco clavicuculare, terdiri dari 2 ligament yaitu:
a) Ligamentum conoideum, yang membentang antara dataran medial procecuscoracoideus sampai
dataran caudal claviculare.

b)

Ligamentum trapezoideus, yang membentang dari dataran lateral procecuscoraoideus sampai


dataran bawah clavicuare,
Gerak osteokinematika sendi acromio clavicularis selalu berkaitan dengan gerak pada
sendi scapulothoracalis saat elevasi diatas kepala maka terjadi rotasi clavicula mengitari sumbu
panjangnya. Rotasi ini menyebabkan elevasi clavicula, elevasi tersebut pada sendi sterno
clavicularis kemudian 30% berikutnya pada rotasi clavicula.

d. Sendi subacromiale
Sendi subacromiale berada diantara arcus acromioclaviculare yang berada di sebelah
cranial dari caput serta tuberositas humeri yang ada di sebeleh caudal, dangan bursa
subacromiale yang besar bertindak sebagai rongga sendi.
e.

Sendi scapulo thoracic


Sendi scapulo thoracic bukan sendi yang sebenarnya, hanya berupa pergerakan scapula
terhadap dinding thorax [(Sri surini, dkk),2002].
Gerak osteokinematika sendi ini meliputi gerakan kerah medial lateral yang dalam klinis
disebut down ward-up wardrotasi juga gerak kerah cranial-caudal yang dikenal dengan gerak
elevasi-depresi.
Join play movement adalah istilah yang digunakan pada Manipulative therapy untuk
menggambarkan apa yang terjadi didalam sendi ketika dilakukan gerakan translasi, gerakangerakan tersebut dilakukan secara pasif oleh terapis pada saat pemeriksaan maupun terapi. Ada 3
macam joint play movement: (1). Traction/ traksi, (2). Compression/ kompresi, (3). Gliding.
1) Gliding
Gliding yaitu gerakan permukaan sendi dimana hanya ada satu titik kontak pada satu
permukaan sendi yang selalu kontak dengan titik kontak yang baru (selalu berubah) pada
permukaan sendi laannya. Arah gliding permukaan sendi sesuai dengan hukum konkaf konvek
yaitu : jika permukaan sendi konkaf, maka arah gliding berlawanan dengan gerakan tulang.
Sedangkan bila permukaan sendi konvek maka arah gliding searah dengan gerakan tulang. Untuk
sendi bahu arah gliding berlawanan dengan arah gerakan tulang, karena pertmukaan sendi konfek
bergerak peda permukaan sendi konkaf (caput humei dengan cavitas glenoidal).

The human shoulder is the most mobile joint in the body.[1] This mobility provides the upper
extremity with tremendous range of motion such as adduction, abduction, flexion, extension,
internal rotation, external rotation, and 360 circumduction in the sagittal plane. Furthermore, the
shoulder allows for scapular protraction, retraction, elevation, and depression. This wide range of
motion also makes the shoulder joint unstable.[1] This instability is compensated for by rotator
cuff muscles, tendons, ligaments, and the glenoid labrum.[2, 3, 4, 5, 6]
An image depicting shoulder anatomy can be seen below.
The shoulder or pectoral girdle is composed of the bones that connect the upper extremity to the
axial skeleton. Two bones comprise the shoulder girdle. These are the clavicle and scapula.

Osteology
Scapula
The scapula is a triangular-shaped bone that functions mainly as a site for muscle attachment.
Four rotator cuff muscles that act on the shoulder take their origin from the scapula. These are
the supraspinatus, infraspinatus, teres minor, and subscapularis (see the following image).

Shoulder anatomy, lateral view.


Additionally, the trapezius, serratus anterior, rhomboids, and levator scapulae insert on the
scapula and are responsible for scapular mobility and stability. The scapula is freely moveable,
because it is suspended by these muscles. The scapula has 4 processes, the spine, the acromion,

the coracoid, and the glenoid. The glenoid cavity (or, alternatively, the glenoid fossa) is set on the
expanded aspect of the lateral angle of the scapula. The glenoid cavity is an irregularly shaped
oval and has been compared to an inverted comma shape. It articulates with the head of the
humerus, forming the glenohumeral joint, which serves as the main joint of the shoulder.
Clavicle
The clavicle is an S-shaped bone that forms the anterior portion of the shoulder girdle that keeps
the arm away from the trunk, allowing it to move freely. The clavicle has 2 articulations, the
sternoclavicular joint and the acromioclavicular joint. The sternoclavicular joint is formed by the
medial aspect of the clavicle articulating with the manubrium of the sternum. This is the only
skeletal connection between the axial skeleton and the upper extremity. Furthermore, the clavicle
provides protection for the subclavian artery, subclavian vein, and brachial plexus posteriorly and
inferiorly. See the images below.

Shoulder anatomy muscle, anterior


view.

Shoulder anatomy, posterior view.


Humeral head
The proximal articular surface of the humerus is termed the humeral head. The humeral head
articulates against the shallow glenoid cavity. Only 25% of the humeral head surface makes
contact with the glenoid cavity.[7] The glenoid labrum, a fibrocartilaginous ring attached to the
outer rim of the glenoid cavity, provides additional depth and stability.

Articulations
Sternoclavicular joint
The sternoclavicular joint is the sole connection between the axial skeleton and the upper
extremity. The sternoclavicular joint allows 30-35 of upward elevation, 35 of anteroposterior
movement, and 44-50 of rotation about the long axis of the clavicle.[8]
Acromioclavicular joint
The acromioclavicular (AC) joint is the only articulation between the clavicle and scapula. It is
formed by the distal clavicle articulating with the acromion of the scapula. Little motion exists in
this joint. The AC joint is an encapsulated diarthrodial joint held together by its joint capsule and
the coracoacromial ligaments: the trapezoid and conoid ligaments.
Glenohumeral joint
The glenohumeral joint is the main articulation of the shoulder joint. It is the multiaxial ball-andsocket synovial joint formed by the articular surfaces of the glenoid cavity and the head of the
humerus. The glenoid cavity depth is increased by a rim of fibrocartilage that surrounds it. This
rim of fibrocartilage is the glenoid labrum.

Labrum
The glenoid labrum is a ring composed of mostly dense fibrous tissue. The average depth of the
glenoid cavity is 2.5 mm, but the labrum serves to increase this depth. Although the labrum
increases the depth and volume of the glenoid cavity, it does not seem to increase the stability of
the glenohumeral joint.[8]

Ligaments
Coracoclavicular
The conoid and trapezoid ligaments comprise the coracoclavicular ligaments (CCLs) (see the
image below). They function to maintain the articulation of the clavicle with the coracoid process
of the scapula. Studies have concluded that the coracoclavicular ligaments are the primary
restraint to superior and posterior clavicular dislocation.[9]

Shoulder joint, anterior view.


Glenohumeral
Three glenohumeral ligaments exist: (1) the superior glenohumeral ligament (SGHL), (2) the
middle glenohumeral ligament (MGHL), and (3) the inferior glenohumeral ligament (IGHL).
The SGHL has a variable origin and inserts on the humerus near the lesser tubercle; this ligament
resists inferior translation of the humeral head in the adducted shoulder. The MGHL originates
from the labrum and inserts on the humerus medial to the lesser tubercle; this ligament resists
inferior translation in the adducted and externally rotated shoulder. The IGHL originates from the

labrum and the adjacent glenoid neck, inserts on the anatomic neck of the humerus, and resists
humeral head anterior and posterior translation. Furthermore, the IGHL is the primary restraint to
inferior dislocation in the abducted shoulder.
Coracohumeral
The coracohumeral ligament (CHL) originates on the base and lateral border of the coracoid
process of the scapula and inserts on the greater tubercle. The biomechanical function of this
ligament is not fully understood; however, it appears to have suspensory function of the humeral
head.

Rotator cuff
The supraspinatus, infraspinatus, teres minor, and subscapularis muscles comprise the rotator
cuff (see the following image) (see Table 1, below). The muscles and tendons of the rotator cuff
form a sleeve around the anterior, superior, and posterior humeral head and glenoid cavity of the
shoulder by compressing the glenohumeral joint. In addition to stabilization, the rotator cuff
provides the shoulder with tremendous mobility.

Shoulder anatomy, lateral view.


Table 1. Origins, Insertions, Actions, and Nerve Supplies of the Rotator Cuff Muscles (Open
Table in a new window)
Muscle
Origin
Supraspinatus Supraspinous fossa

Insertion
Greater

Action
Nerve Supply
Abduction of the arm Suprascapular

tubercle of
humerus
Greater
Infraspinatus Infraspinous fossa
tubercle of
humerus
Greater
Upper 2/3 of the lateral
Teres minor
tubercle of
border of the scapula
humerus
Subscapular fossa on Lesser
Subscapularis the anterior surface of tubercle of
the scapula
humerus

to approximately 30 nerve
External
Suprascapular
(lateral)rotation of the
nerve
arm
External (lateral)
rotation of the arm

Axillary nerve

Internal (medial)
rotation of the arm

Upper and lower


subscapular nerves

Subacromial/subdeltoid bursa
The subacromial bursa lies on the superior aspect of the supraspinatus tendon (see the images
below). The bursa acts to cushion and reduce friction during motion between the overlying bone
of the acromion and the soft rotator cuff muscles below. It often extends laterally to be
continuous with the subdeltoid bursa.

Shoulder anatomy muscle, anterior


view.

Shoulder anatomy, posterior view.

Shoulder anatomy, lateral view.


Previous
Next Section: Microscopic Anatomy
Read more about Shoulder Joint Anatomy on Medscap

a. Shoulder joint:
Gerakan-gerakan yang terjadi digelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah sendi yang saling
berhubungan erat, misalnya sendi costovertebral atas, sendi acromioklavikular, permukaan
pergeseran scapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu. Gangguan gerakan dalam
sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendi yang lain di gelang bahu dan
sebaliknya.
Sendi bahu dibentuk oleh kepala tulang humerus dan mangkok sendi, disebut cavitas glenoidalis.
Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti menyisir, menggaruk kepala,
mengambil dompet, dan sebagainya atas kerjasama yang harmonis dan simultan dengan senisendi lainnya.
Cavitas glenoidalis sebagai mangkok sendi bentuknya agak cekung tempat melekatnya kepala
tulang humerus dengan diameter cavitas glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup
sepertiga bagian dan kepala tulang sendinya yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat
sendi tersebut tidak stabil namun paling luas gerakannya.
Beberapa karakteristik dari pada sendi bahu yaitu : perbandingan antara permukaan mangkok
sendinya dengan kepala sendi tidak sebanding, kapsul sendinya relative lemah. Otot-otot
pembungkus sendi relative lemah seperti otot supraspinatus, infraspinatus, teres minor, dan
subscapularis, gerakan paling luas, tetapi stabilitas sendi relatif kurang stabil. Dengan melihat
keadaan sendi tersebut, maka sendi bahu lebih mudah mengalami gangguan fungsi dibandingkan
dengan sendi lainnya.
b. Kapsul sendi
Kapsul sendi terdiri atas dua lapisan :
1) Kapsul sinovial (lapisan bagian dalam)
Dengan karakteristik mempunyai jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memiliki saraf
reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dan sebagai
transfomator makanan ke tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada sendi yang ringan saja,
maka yang pertama kali yang mengalami gangguan fungsi adalah kapsul sinovial, tetapi karena
kapsul tersebut tidak memiliki reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada
gangguan, misalnya pada artrosis sendi.
2) Kapsul fibrosa
Karakteristiknya berupa jaringan fibrous keras dan memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah.
Fungsinya memelihara posisi dan stabilitas sendi, dan memelihara regenerasi kapsul sendi.
C. Ligamen dari Glenohumeral joint
Ada beberapa ligamen penting di bahu. Ligamen adalah struktur jaringan lunak yang
menyambungkan tulang ke tulang. kapsul sendi adalah kantung yang kedap air yang
mengelilingi sendi. Di bahu, kapsul sendi dibentuk oleh sekelompok ligamen yang
menghubungkan humerus ke glenoidale. Ligamen ini adalah sumber utama stabilitas untuk bahu,
mereka membantu memegang bahu di tempatnya dan menjaga dari dislokasi. Ligament ini
adalah glenohumeral ligamen (GHL), dan ligamentum lain yang menghubungkan ke coracoid

akromion adalah coracoacromial ligamentum (CAL). ligamentum ini dapat menebal dan
menyebabkan Sindrom rotator. ligamen juga mengikat clavicula dan acromion di AC joint.dua
ligament yang menghubungkan clavicula ke scapula dengan melekat ke prosesus coracoids
adalah coracoclavicular ligamen (CCL).
Ligamen shoulder kompleks:
CCL - coracoclavicular ligaments
CAL - coracoacromial ligaments
SGHL - Superior GlenoHumeral Ligament ligamentum
MGHL - Muperior GlenoHumeral Ligament MGHL
IGHL - Inferior GlenoHumeral Ligament IGHL
D. Ligamen dari Rotator Cuff
Tendon rotator cuff adalah lapisan berikutnya di shoulder joint. Tendon dan ligamen sangat
mirip, kecuali bahwa tendon otot melekat ke tulang menggerakkan otot tulang dengan menarik
pada tendon. Satu hal penting tendon yang bergerak melalui sendi bahu tendon biseps. Para
tendon biseps sebenarnya dimulai pada bagian atas bahu soket (yang glenoid) dan kemudian
lewat di depan bahu untuk menyambung ke otot bisep. tendon rotator cuff adalah kelompok
empat tendon yang menghubungkan otot lapisan terdalam untuk humerus.
Tendon bahu:
Dari depan ke belakang:
Subscapularis Subscapularis
Biceps Tendon Biceps Tendon
Supraspinatus Supraspinatus
Infraspinatus Infraspinatus
Teres Minor Teres minor
E. Otot shoulder
Ada 30 otot yang memberikan dukungan untuk gerakan dan bahu kompleks. 15 otot penggerak
dan yang menstabilkan scapula, 9 otot untuk menggerakan sendi glenohumeral, dan 6 otot
mendukung skapula pada toraks
Ada tiga kelompok penting otot-otot sekitar bahu:
1. 1. Otot (ekstrinsik):
Otot deltoideus yang besar membentuk otot lapisan luar. Ini adalah yang terbesar, terkuat otot
bahu. Kemampuan otot deltoideus mengambil alih mengangkat tangan setelah lengan menjauh
dari samping.
Pectoralis mayor menggerakan dan memberikan dukungan di depan bahu
2. 2. Otot (intrinsik):
Manset rotator tendon melekat ke dalam otot manset rotator. 4 otot-otot ini yang terlibat dalam
meningkatkan lengan dari samping dan memutar bahu dalam berbagai arah. Mekanisme manset
rotator juga membantu menjaga stabil sendi bahu dengan memegang kepala humeri di glenoid
soket. Otot-otot ini adalah: m. subskapularis, supraspinatus, infraspinatus dan teres minor.

3. 3. Otot (posterior):
Otot-otot ini berada di belakang bahu yang mengstabilkan dan menggerakkan skapula pada
batang tubuh. Kelompok ini mencakup trapezius, rhomboids, m. levator scapulae, dan otot
serratus anterior.

F. Bursa Shoulder
Bursa terjepit di antara otot manset rotator dan lapisan luar tebal besar otot adalah struktur yang
dikenal sebagai bursa. Bursae di mana-mana di dalam tubuh. Mereka ditemukan di bagian tubuh
mana pun yang bergerak melawan satu sama lain untuk mengurangi gesekan. Sebuah bursa
hanyalah sebuah kantung antara dua permukaan yang bergerak yang berisi sejumlah kecil cairan
pelumas.
Bayangkan sebuah bursa seperti ini: Jika Anda menekan tangan Anda bersama-sama dan geser
mereka terhadap satu sama lain, Anda menghasilkan beberapa gesekan. Bahkan, ketika tangan
Anda dingin Anda mungkin gosokkan mereka bersama-sama cepat untuk menciptakan panas dari
gesekan. Sekarang bayangkan bahwa Anda pegang di tangan Anda kantong plastik kecil yang
berisi beberapa tetes minyak salad. plastik ini akan membiarkan tangan Anda meluncur bebas
terhadap satu sama lain tanpa banyak gesekan.
G. Saraf
aksila (ketiak) tepat di bawah sendi bahu.Tiga saraf utama mulai dari shoulder joint: n. radialis,
n. ulnaris, dan n. medianus. Saraf ini membawa sinyal-sinyal dari otak ke otot-otot yang
menggerakkan lengan. Saraf juga membawa sinyal kembali ke otak tentang sensasi seperti
sentuhan, nyeri, dan suhu.
H. Aliran darah
Travelling bersama dengan saraf adalah kapal-kapal besar yang mensuplai lengan dengan darah.
A. aksilaris besar bergerak melalui aksila. Jika Anda menempatkan tangan di ketiak Anda, Anda
mungkin dapat merasakan denyut arteri besar ini. A. aksilaris memiliki banyak cabang-cabang
yang lebih kecil yang memasok darah ke berbagai bagian bahu. bahu memiliki suplai darah yang
sangat kaya.
I. Kartilago
Kartilago atau ujung tulang rawan sendi berfungsi sebagai bantalan sendi, sehingga tidak nyeri
sewaktu penderita berjalau.Namun demikian pada gerakan tertentu sendi dapat nyeri akibat
gangguan yang dikenal dengan degenerasi kartilago.
2. Biomekanika sendi bahu
Ditinjau dari aspek gerak maka sendi bahu dapat dibagi menjadi dua, yaitu gerak secara
osteokinematika dan arthrokinmeatika.
A. Gerakan osteokinematika
Gerakan fleksi
Yaitu gerakan lengan ke depan, ke arah atas mendekati kepala, bergerak pada bidang sagital dan

axisnya melalui pusat caput humeri dan tegak lurus bidang sagital. Otot penggerak utamanya
adalah otot deltoid anterior dan otot supraspinatus dari 0 90 derajat, sedangkan untuk 90 180
derajat di bantu oleh otot pectoralis mayor, otot coracobrachialis, dan otot bicep brachii.
Gerakan ekstensi
Yaitu gerakan lengan ke belakang yang menjauhi dari posisi anatomis, bergerak pada bidang
sagital. Otot penggerak utamanya adalah latissimus dorsi dan teras mayor. Sedankan pada
gerakan hiper ekstensi teres mayor tidak berfungsi lagi, hanya sampai 90 derajat dan digantikan
fungsinya oleh deltoid posterior.
Gerakan abduksi
Yaitu gerakan pada bidang frontal dengan axisnya horisontal. Otot penggerak utamanya adalah
otot deltoid midle dan supraspinatur. Abduksi sendi bahu meliputi tiga fase, yaitu: abduksi 0o
90o akan diikuti gerakan eksternal rotasi. Otot-otot yang berkerja pada fase ini adalah deltoid,
seratus anterior, dan trapezius ascenden desenden. Gerakan ini dihambat oleh adanya tahanan
peregangan dari latisimus dorsi dan pektoralis mayor. Abduksi 120o 180o melibatkan otot
deltoid, trapezius dan erector spine. Gerakan ini dikombinasikan abduksi, fleksi dan vertebra.
Gerakan adduksi
Yaitu suatu gerakan yang merupakan kebalikan dari gerakan abduksi. Otot penggerak utamanya
adalah pectoralis mayor dibantu oleh otot latisimus dorsi, teres mayor serta otot sub scapulari.
Luas gerak sendinya pada bidang frontal.
Gerakan abduksi horizontal
Yaitu gerakan lengan yang mendekati tubuh dalam posisi abduksi lengan 90 dan mencapai jarak
gerak sendi 45 yang dimulai posisi anatomis.
Gerakan adduksi horizontal
Yaitu gerakan lengan yang menjauhi tubuh dalam posisi abduksi lengan 90 dan mencapai jarak
gerak sendi 145 yang dimulai posisi anatomis.
Gerakan eksorotasi
Yaitu gerakan sepanjang axis longitudinal yang melalui caput humeri. Gerakan ini dilakukan
oleh otot infraspinatus, teres mayor dan deltoid posterior.
Gerakan endorotasi
Yaitu suatu gerakan yang merupakan kebalikan dari gerakan eksorotasi. Gerakan ini dilakukan
oleh otot sub scapularis, pectoralis mayor, latisimus dorsi dan teres mayor.
Gerakan sirkumduksi
Yaitu gerakan yang merupakan kombinasi dari semua gerakan di atas.

B.Gerakan arthrokinematika
Pada gerakan arthrokinmeatika meliputi dua gerakan roll dan slide. Roll adalah suatu gerakan
sendi dimana perubahan jarak titik kontak pada suatu permukaan sendi sama besarnya dengan
perubahan jarak titik kontak permukaan sendi lawannya. Sedangkan slide adalah suatu gerakan
sendi dimana hanya ada satu titik yang selalu kontak dengan titik-titik yang selalu berubah pada
permukaan sendi lawannya.
Pada sendi bahu meliputi :
Pada gerakan endorotasi caput humeris roll searah dengan gerakan endorotasi dan slidenya ke
posterior.
Pada gerakan abduksi caput humeris roll searah dengan gerakan abduksi dan slidenya ke

caudal.
Pada gerakan eksorotasi caput humeris roll searah gerak eksorotasi dan slide ventral agak
medial.
GLENOHUMERAL DISLOCATION
I. Definisi
Dislokasi glenohumeral adalah terpisahnya seluruh bagian yang membentuk sendi glenohumeral
akibat rudapaksa/trauma. Hal tersebut terdapat dalam ICD X dengan kode S.43.0.
Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral dapat terjadi pada bagian :
anterior dan medial glenoid disebut sebagai dislokasi anterior
caput humeri bergeser ke medial dibawah processus coracodeus.
Posterior disebut sebagai dislokasi posterior
caput humeri masih terletak dilateral tapi masih berada diposterior dalam fosa infraspinatus.
di bawah glenoid disebut sebagai dislokasi inferior/ luksasi erecta
Dislokasi diklasifikasikan sebagai berikut :
a). Congenital
Congenital dislocation berhubungan dengan congenital deformities
b). Traumatic
Traumatic dislocation, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
Dislokasi akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut
dan pembengkakan di sekitar sendi.
Dislokasi kronik
Dislokasi berulang
Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan
trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint
dan patello femoral joint.
II.Etiologi:
Dislokasi disebabkan oleh :
1.Cedera olah raga
Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan
hoki, serta olahraga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat
bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola
paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena
secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.
2.Trauma yang tidak berhubungan dengan olahraga
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya

menyebabkan dislokasi
3.Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin
4. Patologis
terjadinya tear ligament dan kapsul articuler yang merupakan
kompenen vital penghubung tulang.
III.Gambaran klinik
Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya dan segan menerima
pemeriksaan apa saja .Garis gambar lateral bahu dapat rata dan ,kalau pasien tak terlalu berotot
suatu tonjolan dapat diraba tepat di bawah clavikula.
IV.Patofisiologi
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan. Humerus terdorong kedepan ,merobek
kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi. Kadang-kadang bagian posterolateral kaput
hancur. Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan
luksasio erekta [dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke
posisi da bawah karakoid]
V.Prosedur Diagnosa
Klinis
Anterior dislokasi :
- posisi menahan lengan atas adduksi (menempel pada sisi badan)
- deformitas bisa nampak langsung atau teraba
- ROM aktif/pasif menurun
- Catat status vascular/nervus
Posterior dislokasi
- posisi lengan atas exorotasi dan slight abduksi
- teraba kosong pada region deltoid anterior
Inferior dislokasi
- teraba caput di axial
- daerah kosong region deltoid
Radiologist
- X Ray pada bagian anteroposterior akan memperlihatkan bayangan yang tumpah-tindih antara
kaput humerus dan fossa Glenoid. Kaput biasanya terletak di bawah dan medial terhadap
terhadap mangkuk sendi.
- AP/lat dan axillary vie (rutin)
- Post. Dislokasi perlu CT scan
- Arteriografi/ EMG
VI.Komplikasi:

Komplikasi dini
- Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera , pasien tidak dapat mengkerutkan otot
deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
- Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
- Fraktur disloksi
Komplikasi lanjut
- Kekakuan sendi bahu : Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu
,terutama pada pasien yang berumur 40 tahun. Terjadinya kehilangan rotasi lateral yang secara
otomatis membatasi Abduksi
- Dislokasi yang berulang : terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian
depan leher glenoid
- kelemahan otot
VII.Terapi medika mentosa dan Reposisi
Reposisi
-MUA [ Manipulasi Under General Anastesi ]
-Hangin Arm Teknik
-Hipocratic Methode : handuk atau kain dililitkan di region axillaries penderita, fisioterapis
melakukan traksi pada posisi semi abduksi lengan.
-Kocher : 4 manuver
siku difleksikan 90 lakukan traksi sesuai dengan axis humerus
humerus dirotasi internal.
Selanjutnya humerus digeser kemedial (adduksi) didada penderita.
Humerus dirotasi interna dengan memutar lengan bawah kedalam. Post reposisi dilakukan
imobilisasi dengan seling 2 minggu.
-Eksternal Rotasi Metode :traksi pada humerus distal kemudian ekternal rotasi fore arm secara
pelan-pelan.hentikan jika terjadinya nyeri
Terapi medika mentosa
Analgetik opioid diberikan untuk mengurangi nyeri dengan aktualitas tinggi. Suntikan
intrarticular dan anastetik regional teknik telah dilaporkan sukses membantu dalam mereduksi
dislokasi shoulder. Prosedural sedasi dan analgesi umumnya digunakan untuk memperoleh
control nyeri yang adekuat dan relaksan otot untuk reduksi. Prosedural sedasi dan
analgesi{PSA}yang digunakan Morphine dan midazolam memperlamlambat perawatan di
department emergensi serta bebas komplikasi. [emedicene] Etomidate, fentanyl/midazolam,
ketamine, atau propofol umumnya digunakan untuk PSA.
VIII. Program Rehabilitasi
Program Rehabilitasi secara umum terbagi menjadi Nonoperatif Manajemen dan Operatif
manajemen.
a.Non operatif Rehabilatation
Penanganan rehabilitasi non operatif bertujuan untuk mengoptimalkan stabilisasi
sendi bahu, sebab komplikasi dislokasi berulang banyak terjadi. Menghindari

maneuver yang bersifat provokativ dan penguatan otot secara hati-hati merupakan
komponen penting dalam program rehabilitasi.
Hindari provokatif posisi, termasuk eksternal rotasi, Abduksi,dan Minggu 0-2
Distrak.
Immobilisasi tergantung umur.
> 20 tahun :: 3 sampai 4 minggu
20-30 tahun :: 2 sampai 3 minggu
> 30 tahun :: 10 hari sampai 2 minggu.
> 40 tahun :: 3 sampai 5 hari
Program dilanjutkan secara bertahap untuk pemulihan fungsi sesuai prosedur rehabilitasi yang
telah ditetapkan.
b. Operatif Treatment
Tujuan utama rehabilitasi adalah
- Menjaga integritas stabilitasi bedah kore
- Memulihkan ROM fungsional secara full
- Meningkatkan stabilitas Dynamik
- Kembali aktivitas yang tak dibatasi dan olahraga
Biomekanik Shoulder Joint
1. Anatomi Fungsional Dan Biomekanik
a. Shoulder joint
Gerakan-gerakan yang terjadi digelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah sendi yangsaling
berhubungan erat, misalnya sendi kostovertebral atas, sendi akromioklavikular, permukaan
pergeseran skapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu.Gangguan gerakan dalam
sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendiyang lain di gelang bahu dan
sebaliknya.Sendi bahu dibentuk oleh kepala tulang humerus dan mangkok sendi, disebut
cavitasglenoidalis. Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti
menyisir,menggaruk kepala, mengambil dompet, dan sebagainya atas kerjasama yang
harmonisdan simultan dengan seni-sendi lainnya. Cavitas glenoidalis sebagai mangkok
sendi bentuknya agak cekung tempat melekatnya kepala tulang humerus dengan diameter cavitas
glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup sepertiga bagian dan kepalatulang sendinya
yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat sendi tersebut tidak stabil namun paling luas
gerakannya.Beberapa karakteristik dari pada sendi bahu yaitu : perbandingan antara
permukaanmangkok sendinya dengan kepala sendi tidak sebanding, kapsul sendinya relative
lemah.Otot-otot pembungkus sendi relative lemah seperti otot supraspinatus, infraspinatus,
teresminor, dan subscapularis, gerakan paling luas, tetapi stabilitas sendi relatif kurang
stabil.Dengan melihat keadaan sendi tersebut, maka sendi bahu lebih mudah
mengalamigangguan fungsi dibandingkan dengan sendi lainnya. b. Kapsul sendiKapsul sendi
terdiri atas dua lapisan :1) Kapsul sinovial (lapisan bagian dalam)Dengan karakteristik
mempunyai jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memilikisaraf reseptor dan pembuluh
darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dansebagai transfomator makanan ke
tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada sendi yangringan saja, maka yang pertama kali yang

mengalami gangguan fungsi adalah kapsulsinovial, tetapi karena kapsul tersebut tidak memiliki
reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada gangguan, misalnya pada artrosis send

Sendi Bahu
Tujuan mobilisasi sendi untuk mengembalikan fungsi sendi yang normal tanpa nyeri pada waktu
melakukan aktivitas gerak sendi. Secara mekanik tujuannya untuk memperbaiki joint play
movement melalui mekanisme gerak arthrokinematik yang benar.
Secara biomekanik gerakan suatu sendi akan mengikuti pola gerak arthrokinematik dan
arteokinematik. Pada sendi bahu yang merupakan sendi yang sangat komplek selalu mengikuti
maka mobilisasi sendi juga dipengaruhi oleh struktur sendi yang lain dalam mempertahankan
mobilitasnya yang normal.
Sendi yang terlibat pada gerakan bahu tercakup dalam komponen shoulder girdle, sehingga
untuk memobilisasi sendi bahu juga melibatkan sendi lain misalnya acromio clavicular,
sternoclavicular dan cervico thoracal serta costo scapular. Disisi lain peran otot juga sangat
menentukan mobilisasi sendi bahu, misalnya otot deltoideus, rotator cuff dan otot lain di sekitar
sendi bahu.
Pada kondisi tertentu nyeri bahu dapat terjadi oleh karena factor muskuler yang secara tidak
langsung apabila otot tersebut mengalami patologi akan menekan struktur vaskuler dan
persyarafan yang melintasi sendi bahu misalnya pada kondisi scalmi sindrom, pectoralis sindrom
yang sering disebut TOC. Sindroma nyeri bahu sangat luas, apabila dikaji secara holistic,
sehingga untuk membatasi pengertian mobilisasi disini hanya akan dibahas tentang mobilisasi
artikuler yang berkaitan dengan (1) mekanisme joint play yaitu roll-gliding dan traksi serta (2)
mobilisasi muskuler pada otot postural yang ikut mempengaruhi mobilitas sendi bahu.
Sebelum melakukan mobilisasi sendi bahu maka harus dipahami tentang pengertian permukaan
sendi concave dan convex sebgai dasar artrokinetik. Pada sendi bahu, glenohumeral
berpermukaan convex sedang cavitas glenoidalis bersifat concave. Gliding akan berlawanan
dengan arah gerak tulang (osteokinetik). Sedang sendi yang berpermukaannya concave maka
arah gliding (sliding) searah dengan tulang yang bergerak.
Traksi pada sendi bahu ke arah lateral, ventral cranial atau tegak lurus dengan permukaan sendi
pada posisi maximal loose packed position

Hukum Konkaf-Konvek :
1. Bila Konvek ( cembung ) bergerak terhadap Konkaf ( cekung ), maka arah Rolling
berlawanan dengan arah Sliding.

2. Bila Konkaf ( cekung ) bergerak


terhadap Konvek ( cembung ), maka Rolling searah dengan Sliding.