You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.

Demokrasi mungkin menjadi istilah baru dalam khazanah kebuadayaan


bangsa, namun secara esensi demokrasi adalah sesuatu yang lama hidup di
Indonesia.. Dalam khazanah Islam juga dikenal istilah syura yang secara
prinsip sejalan dengan demokrasi. Sementara di barat prinsip tersebut dikenal
sebagai demokrasi. Dalam budaya Jawa sendiri juga dikenal istilah rembug,
yang esensinya adalah bagaimana sebuah keputusan dishare oleh pimpinan
kepada warganya untuk dicari penyeleseian bersama. Secara prinsip hal itu
juga sejalan dengan demokrasi.
Di era demokrasi, manifestasi berbagai nilai-nilai tersebut terejawantah
melalui pemilihan kepala desa langsung. Dalam kacamata historis, pemilu dan
pilkada sebenarnya bisa dikatakan kelanjutan dari praktik demokrasi langsung
yang sudah lama berjalan di masyarakat yakni dalam pemilihan kepala desa.
Karenanya, tidak selamanya demokrasi itu dianggap sebagai konsep impor,
karena dalam konteks budaya dan praktik keseharian, demokrasi sudah lama
ada dalam budaya masyarakat.
Reformasi intelektual yang disusul oleh reformasi dan revolusi sosial yang
berlangsung sepanjang abad ke 17 dan 18 di Eropa Barat, di antaranya telah
melahirkan sistem demokrasi di dalam tata bermasyarakat dan
berpemerintahan. Sebenarnya yang terjadi di Eropa ketika demokrasi menjadi
alternatif adalah penerusan dari suatu tradisi tentang tata cara pengaturan
hidup bersama yang dilaksanakan oleh warga kota Athena, Yunani, pada
beberapa abad sebelum masehi. Sejak tiga dekade terakhir dunia menyaksikan
kemajuan yang luar biasa dalam perkembangan demokrasi. Sejak tahun 1972
jumlah negara yang mengadopsi sistem politik demokrasi telah meningkat
lebih dari dua kali lipat, dari 44 menjadi 107. Pada akhir tahun 90-an, hampir
seluruh negaradi dunia ini mengadopsi pemerintahan demokratis, meski
masing-masing dengan variasi sistem politik tertentu.

1
Seperti halnya tak mungkin melepaskan kaitan Islam dengan
politik,demikian pula pada masa sekarang, tak mungkin melepaskan Islam
dengan pembicaraan tentang demokrasi. Demokrasi sebagai bagian dari
pembicaraan mengenai politik, dengan sendirinya dapat pula dilihat dari sudut
pandang ajaran Islam. Pada dasarnya, di kalangan penganut Islam, terdapat
dua pandangan terhadap demokrasi. Yaitu, yang menerima, karena itu,
mendorong proses demokratisasi berlangsung secara terus menerus; dan, yang
menolak, karena itu, bersikap sangat kritis terhadap setiap proses
demokratisasi.
Melihat perkembangan tema pemikiran tersebut penulis dalam makalah ini
memandang perlu untuk meluruskan kembali apa subsantasi demokrasi dan
bagaiman islam meresponnya, oleh karnanya penulis memberi judul
”DEMOKRASI DAN ISLAM”

B. Rumusan masalah
Mendiskusikan demokrasi dalam waktu yang sangat singkat adalah
pekerjaan yang sangat mustahil, oleh karnanya dalam makalah ini kami
rumuskan hanya pada hal-hal sebagai berikut:
1. Apa demokrasi itu?
2. Bagaimana penerapan demokrasi?
3. Bagaimana demokrasi menurut islam?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Demokrasi
Secara etimologis, demokrasi berasal bahasa Yunani, yaitu demos yang
berarti rakyat atau penduduk dan cratein yang berarti kekuasaan atau
kedaulatan, kratos yang mempunyai arti Pemerintahan, gabungan dua kata
demos- cratein atau demos-kratos (demokrasi) dapat diterjemahkan sebagai
kekuasaan rakyat atau pemerintahan rakyat. keadaan negara di mana
kedaulatan atau kekuasaan tertingginya berada di tangan rakyat, kekusaan
tertinggi berada dalam keputusan, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan
kekuasaan oleh rakyat.

Adapun secara terminologi demokrasi sebagaimana dikutip oleh para ahli


adalah sebagai berikut:
1. Joseph A.Schmeter mengatakan, demokrasi merupakan suatu perencanaan
indtitusional untun mencapai keputusan politik dimana individu-individu
memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas
suara rakyat;
2. Sidney Hook berpendapat, demokrasi adalah bentuk pemeritahan dimana
keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak
langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang deberikan secara
bebas dari rakyat dewasa;
3. Philippe C. Schemitter dan Terry Lynn Karl menyatakan, demokrasi
sebagai suatu sistem pemerintahan dimana pemerintah dimintai
tanggungjawab atas tindakan-tindakan mereka di wilayah pulik oleh warga
negara, yang bertindak secara langsung melalui kompetisi dan kerjasama
dengan para wakil mereka yang terpilih;
4. Henbry B. Mayo menyatakan, demokrasi sebagai sistem politik merupakan
suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas

3
dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat
dalam pemilihan pemilihan berkala yang didasrkan atas prinsip kesamaan
politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik.1

Dari beberapa perbedaan pengertian demokrasi menurut beberapa ahli di


atas penulis menemukan titik temu yaitu, bahwa demokrasi adalah landasan
hidup bermasyarakat dan bernegara dengan meletakkan rakyat sebagai obyek
sekaligus sebagai subyek tanpa ada tekanan dari siapapun dan dalam bentuk
apapun. Rakyat menjadi komponen utama dalam sebuah praktik demokrasi,
rakyat mempunyai hak untuk melibatkan atau tidak melibatkan diri dalam
proses demokrasi baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam
bernegara.

Dari beberapa pengertian demokrasi tersebut juga dapat disimpulkan


bahwa suatu sistem bermasyarakat dan bernegara hakikat demokrasi adalah
peran utama rakyat dalam proses sosial dan politik, dengan kata lain, sebagai
pemerintahan ditangan rakyat mengandung tiga hal: pemerintahan dari rakyat
(government of the people); pemerintahan oleh rakyat (government by the
people); pemerintahan untuk rakyat (government for the people). 2

B. Penerapan Demokrasi
1. Urgensi Nilai-Nilai Demokrasi
Konsep demokrasi diterima oleh hampir seluruh negara di dunia.
Diterimanya konsep demokrasi disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa
konsep ini merupakan tata pemerintahan yang paling unggul dibandingkan
dengan tata pemerintahan lainnya. Demokrasi telah ada sejak zaman Yunani
Kuno. Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln mengatakan
demokrasi adalah government of the people, by the people and for the people.

Terbukanya gerbang era reformasi pada akhir 90-an, mengobarkan


semangat demokrasi yang semakin kuat di Indonesia. Nilai-nilai demokrasi
Tim ICCE, Demokrasi,HAM danMasyarakat Madani, Jakarta,2006, hal. l31
ibid, hal 132-133

4
yang dulu sempat lama terbendung di era orde baru kini menjadi agenda utama
pemerintahan reformasi. Oleh karena itu dibutuhkan program-program guna
mensosialisasikan dan mentransformasikan nilai-nilai tersebut. Sekian lama
agenda sosialisasi-transformasi niai-nilai demokrasi dilaksanakan oleh
pemerintah ternyata belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, Selama
ini agenda pemerintah yang masuk dalam kategori paliing sukses baru
menyentuh pada aspek politik. Terealisasinya Pemilu langsung oleh rakyat dari
tingkat presiden sampai tingkat desa mungkin menjadi klaim keberhasilan
demokrasi. Tetapi sebenarnya sukses tersebut masih sebatas pada ”kulit”
demokrasi atau prosedur demokrasi.
Menurut Prof. Komaruddin Hidayat demokrasi bukan semata persoalan
prosedur, melainkan tak kalah pentingnnya adalah sebuah komitmen bersama
untuk menjunjung tinggi hukum serta nilai-nlai terbaik yang melekat pada
seseorang maupun sebuah bangsa.3

Banyak pihak yang berpendapat bahwa persitiwa dan fenomena tersebut


adalah akibat dari kurangnya serta minimnya pengetahuan masyarakat terhadap
urgensi nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya. Diantara urgensi nilai-nilai
demokrasi tersebut adalah; Adanya pembagian kekuasaan, Pemilihan umum
yang bebas, manajemen yang terbuka, kebebasan individu, peradilan yang
bebas, pengakuan hak minoritas, pemerintahan yang berdasarkan hukum, pers
yang bebas, beberapa partai politik, konsensus, persetujuan, pemerintahan yang
konstitusional, ketentuan tentang pendemokrasian, pengawasan terhadap
administrasi negara, perlindungan hak asasi, pemerintah yang mayoritas,
persaingan keahlian, adanya mekanisme politik, kebebasan kebijaksanaan
negara, dan adanya pemerintah yang mengutamakan musyawarah.

Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebutkan di atas kemudian


dituangkan ke dalam konsep yang lebih praktis sehingga dapat diukur dan
dicirikan. Ciri-ciri ini yang kemudian dijadikan parameter untuk mengukur
tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. Parameter
tersebut meliputi empat aspek.Pertama, masalah pembentukan negara. Proses
ibid, hal . vi

5
pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas, watak,
dan pola hubungan yang akan terbangun. Pemilihan umum dipercaya sebagai
salah satu instrumen penting yang dapat mendukung proses pembentukan
pemerintahan yang baik. Kedua, dasar kekuasaan negara. Masalah ini
menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawabannya
langsung kepada rakyat. Ketiga, susunan kekuasaan negara. Kekuasaan negara
hendaknya dijalankan secara distributif. Hal ini dilakukan untuk menghindari
pemusatan kekuasaan dalam satu tangan..Keempat, masalah kontrol rakyat.
Kontrol masyarakat dilakukan agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah
atau negara sesuai dengan keinginan rakyat.

Akan tetapi mengingat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia memiliki


rasio heteregonitas yang tinggi segala bentuk kebebasan tersebut haruslah
dibarengi dengan batasan-batasan untuk saling menghormati. Hal yang paling
urgen seperti inilah yang seharusnya menjadi agenda utama pemerintah saat ini
guna meminimalisir kesalahfahaman dalam memahami nilai-nilai demokrasi
yang seringkali mengakibatkan hal-hal destruktif terhadap masyarakat.

Setidaknya menurut Dahl (2001) terdapat beberapa keuntungan demokrasi


yang selain contoh sederhana diatas, diantaranya:

a.Demokrasi menolong mencegah tumbuhnya pemerintahan oleh kaum


otokrat yang kejam dan licik.
b. Demokrasi menjamin bagi warga negaranya dengan sejumlah
HAM yangtidak diberikan dan tidak dapat diberikan oleh sistem-sitem
yang tidak demokratis.
c.Demokrasi menjamin kebebasan pribadi yang lebih luas bagi warga
negaranya daripada alternatif lain yang memungkinkan.
d. Demokrasi membantu rakyat untuk melindungi kepentingan
dasarnya.
e.Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan
kesempatan sebesar-besarnya bagi orang-orang untuk menggunakan

6
kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, yaitu untuk hidup di bawah
hukum yang mereka pilih sendiri.
f. Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan
kesempatan sebesar-besarnya untuk menjalankan tanggungjawab moral.
g. Demokrasi membantu perkembangan manusia lebih total daripada
alternatif lain yang memungkinkan.
h. Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat membantu
perkembangan kadar persamaan politik yang relatif tinggi.
i. Negara-negara demokrasi perwakilan modern tidak berperang satu sama
lain.
j. Negara-negara dengan pemerintahan demokratis cenderung lebih
makmur daripada negara-negara dengan pemerintahan yang tidak
demokratis.

Hal-hal diatas menjadi "pekerjaan rumah" pemerintah saat ini,


pemerintahlah yang harus bertanggungjawab karena sudah menetapkan
demokrasi sebagai asas negara. Sukses di ranah politik tidak menjadi jaminan
keseluruhan masyarakat menerapkan nilai-nilai demokrasi. Perlu adanya
langkah-langkah intensif dalam mentransformasi nilai-nilai tersbut. 4

2. Demokratisasi

Demokratisasi merupakan penerapan kaidah-kaidah atau prinsip


demokrasi pada kekuatan sistem politik kenegaraan. Tujuasn untuk
membentuk kehidupan politik bercirikan demokrasi. Demokratisasi merujuk
pada proses perubahan menuju system pemerintahan yang lebih demokratis.
dengan Ciri-ciri, berlangsung secara evolusioner, perubahan secara persuasive
bukan; (musyawarah bukan paksaan atau kekerasan), proses demokrasi tidak
pernah selesai. Demokrasi suatu yang ideal tidak pernah tercapai. Negara
yang benar-benar demokrasi tidak ada. Bahkan negara yang menyatakan
negaranya demokrasi dapat jatuh menjadi otoriter.
Iwan Sukma NI, S.Pd,makalah , Prinsip prinsip demokrasi,Iwan sukma Scrib, 14 Nop 2009 Jam 19.00

7
Umumnya pembahasan mengenai demokratisasi lebih
banyak menekankan pada faktor-faktor domestik yang diduga
akan menjadi faktor pendukung ataupun penghambat proses
demokratisasi. Keumuman ini terjadi karena beberapa alasan.
Diantaranya adalah bahwa aktor-aktor politik dalam proses
demokratisasi senantiasa berkonsentrasi untuk usaha-usaha
mengkonsolidasi kekuasaannya masing-masing. Karena itu,
proses-proses politik di masa transisi cenderung bersifat
inward-looking. Selain itu, kuatnya kecenderungan untuk
menganalisis proses demokratisasi melalui lensa dinamika
politik domestik juga terjadi karena adanya anggapan bahwa
pada akhirnya aktor-aktor politik domestiklah yang akan
menentukan tindakan politik apa yang akan diambil.

Akan tetapi, situasi ketidakpastian yang melingkupi setiap


proses transisi politik sebetulnya membuat sebuah negara
yang sedang menjalani demokratisasi sangat mudah
dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Pengaruh
internasional dari sebuah proses demokratisasi bisa terjadi
dalam beberapa bentuk: contagion, control, consent dan
conditionality. Contagion terjadi ketika demokratisasi di
sebuah negara mendorong gelombang demokratisasi di
negara lain. Proses demokratisasi di negara-negara Eropa
Timur setelah Perang Dingin usai dan juga gelombang
demokratisasi di negara-negara Amerika Latin pada tahun
1970-an merupakan contoh signifikan.

Mekanisme control terjadi ketika sebuah pihak di luar


negara berusaha menerapkan demokrasi di negara tersebut.
Misalnya Doktrin Truman 1947 mengharuskan Yunani untuk

8
memenuhi beberapa kondisi untuk mendapatkan status
sebagai ‘negara demokrasi’ dan karenanya berhak menerima
bantuan anti komunisme dari Amerika Serikat.

Bentuk ketiga, consent, terjadi ketika ekspektasi terhadap


demokrasi muncul dari dalam negara sendiri karena warga
negaranya melihat bahwa sistem politik yang lebih baik,
seperti yang berjalan di negara demokrasi lain yang telah
mapan, akan bisa juga dicapai oleh negara tersebut. Dengan
kata lain, pengaruh internasional datang sebagai sebuah
inspirasi yang kuat bagi warga negara di dalam negara itu.
Kasus yang paling sering disebut dalam hubungannya dengan
hal ini adalah reunifikasi Jerman Timur dengan Jerman Barat.
Bentuk keempat dari dimensi internasional dalam proses
demokratisasi adalah conditionality, yaitu tindakan yang
dilakukan organisasi internasional yang memberi kondisi-
kondisi tertentu yang harus dipenuhi negara penerima
bantuan.

Keempat bentuk di atas menggambarkan proses outside-


in, dimana dorongan demokratisasi datang dari luar batas
sebuah negara. Proses lain yang mungkin terjadi adalah
proses inside-out, yaitu proses dimana negara yang tengah
mengalami proses demokratisasi menggunakan diplomasi dan
politik luar negeri untuk mengkonsolidasikan demokrasinya.
Dalam studinya mengenai bagaimana negara-negara
demokrasi baru menggunakan politik luar negerinya, Alison
Stanger menemukan bahwa proses transisi bisa
dipertahankan arahnya ketika negara –negara demokrasi baru

9
‘membawa dirinya lebih dekat kepada negara-negara
demokrasi yang lebih mapan’.5

Dua alasan bisa dikemukakan untuk menjelaskan hal ini.


Pertama, politik luar negeri bisa digunakan sebagai alat untuk
menjaga jarak atau membedakan diri dari rezim autoritarian
yang digantikannya. Kedua, sebagai konsekuensi dari alasan
pertama, prospek bagi kerjasama internasional, terutama
dengan negara-negara yang mapan demokrasinya akan
semakin baik dan pada akhirnya memberi kontribusi positif
bagi proses konsolidasi internal.

3. Budaya dan Prinsip-Prinsip Demokrasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa karakteristik yang harus ditampilkan dari warga negara yang


berkarakter dan berjiwa demokratis, yaitu ;Memilki sikap rasa hormat dan
tanggung jawab, bersikap kritis, membuka diskusi dan dialog, bersikap
terbuka,Iwan Sukma NI, S.Pd,makalah , Prinsip prinsip demokrasi, Scrib, 14 Nop 2009 Jam 19.00
bersikap rasional, adil, dan selalu bersikap jujur. Warga negara yang
otonom harus melakukan tiga hal untuk mewujudkan demokrasi konstitusional,
yaitu menciptakan kultur taat hukum yang sehat dan aktif (culture of law), ikut
mendorong proses pembuatan hukum yang aspiratif (process of law making),
mendukung pembuatan materi-materi hukum yang responsif (content of law),
ikut menciptakan aparat penegak hukum yang jujur dan bertanggung jawab
(structure of law). 6

Demokrasi membutuhkan merupakan proses yang panjang melalui


pembiasaan, pembelajaran dan penghayatan, keberhasilan demokrasi
ditunjukkan oleh sejauh mana demokrasi sebagai prinsip dan acuan hidup
bersama antara warga negara dan antar warga negara dengan negara dijalankan
dan dipatuhi oleh semua pihak. Menjadi demokratis membutuhkan norma dan
rujukan praktis serta teoritis dari masyarakat yang telah maju dalam

10
berdemokrasi. Setidaknya ada enam norma atau unsur utama yang dibutuhkan
oleh tatanan masyarakat yang demokratis:

a. Pluralisme, dengan kesadaran pluralisme diharapkan akan mencegah


sikap hegemoni mayoritas dan tirani minoritas.
b. Musyawarah, makna dan semangat musyawarah adalah keinsyafan dan
kedewasaan warga negara unuk menerima negosiasi dan kompromi dari
kepentingan masyarakat yang majemuk
c. Kesamaan cara dan tujuan, menjaga agar tujuan demokrasi tidak
ditempuh dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan tujuan demokrasi
itu sendiri dengan kata lain pelaksanaan demokrasi haruslah dengan cara
yang berakhlaqul karimah
d. Kejujuran dan permufakatan.
e. Kebebasan nurani dan persamaan hak dan kwajiban
f. trial and error. 7
Ibid,
Azizi,Qodri, Melawan Globalisasi, Pustaka pelajar, Jakarta,2003 Hal 138

4. Demokrasi Sebagai Bentuk Pemerintahan

Demokrasi pernah dipahami sebagai bentuk pemerintahan, akan


tetapi perkembangannya dipahami dalam pengertian luas, sebagai bentuk
pemerintahan dan politik. Pada awalnya Plato mengemukakan 5 macam
bentuk negara sesuai dengan sifat tertentu dari jiwa manusia.

a. Aristokrasi, pemerintahan dipegang oleh sekelompok kecil para cerdik


pandai berdasarkan keadilan. Kemerosotan dari aristokrasi ini menjadi
Timokrasi.

b. Timokrasi,. Pemerintahan dijalankan untuk menda-patkan kekayaan


untuk kepentingan sendiri. Oleh karena kekayaan untuk kepentingan
sendiri lalu jatuh dan dipegang olah kelopmpok hartawan. Sehingga
yang berhak memerintah adalah orang yang kaya saja timbullah oligarchi.

11
c. Oligarchi, pemerintahan dijalankan oleh sekelompok orang yang
memegang kekayaan untuk kepentingan pribadi.. Timbul kemelaratan
umum. Banyak orang miskin. Tekanan penguasa semikin berat. Rakyat
semakin sengsara. Akhirnya rakyar sadar dan bersatu memegang
pemerintahan. Timbullah Demokrasi.

d. Demokrasi. Pemerintahan secara demokrasi diutama-kan


kemerdekaan dan kebebasan. Oleh karena kebebasan dan
kemerdekaan ini terlalu diutamakan timbul kesewenang-wenangan.

e. Anarchi, pemerintahan anarki seseorang dapat berbuat sesuka hatinya.


Rakyat tidak mau lagi diatur, karena ingin mengatur dan memerintah
sendiri. Negara menjadi kacau. Untuk itu perlu pemimpin yang
keras dan kuat. Akhirnya timbullah Tirany.

f. Tirany. Pemerintahan dipegang oleh seorang saja dan tidak suka


terdapat peresaingan. Semua orang yang menjadi saingan disingkirkan dan
diasingkan,. Pemerintahan ini tambah jauh dari keadilan.

5. Demokrasi Menuju Masyarakat Madani (Civil Society)

Hubungan antara masyarakat madani dengan demokrasi (demokratisasi)


menurut M. Dawam Rahadjo, bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya bersifat
ko-eksistensi atau saling mendukung. Hanya dalam masyarakat madani yang
kuatlah demokrasi dapat ditegakkan dengan baik dan hanya dalam suasana
demokratislah masyarakat madani dapat berkembang secara wajar. Nurcholish
Madjid memberikan penjelasan mengenai keterkaitan antara masyarakat
madani dengan demokratisasi. Menurutnya, masyarakat madani merupakan
tempat tumbuhnya demokrasi. Pemilu merupakan simbol bagi pelaksanaan
demokrasi. Masyarakat madani merupakan elemen yang signifikan dalam
membangun demokrasi. Salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah
terciptanya partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan
yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. Masyarakat madani

12
mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam
asosiasi-asosiasi sosial. Civic engagement ini memungkinkan tumbuhnya sikap
terbuka, percaya, dan toleran antara satu dengan lainnya. Masyarakat madani
dan demokrasi menurut Ernest Gellner merupakan dua kata kunci yang tidak
dapat dipisahkan. Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika
masyarakat yang menghendaki adanya partisipasi.8

Sebagaimana penulis kemukakan di atas bahwa erat sekali keterkaitan


antara masyarakat madani dan demokrasi, tetapi di kalangan akademisi lebih
mengemuka istilah MM daripada demokrasi, disamping alasanyang telah
penulis kemukakan di awal, MM oleh para pakar dianggap lebih netral
daripada demokrasi, meminjam istilah John Hall, yang dikutip oleh Qodri
azizi, demokrazy can be decidedly incivil, dengan kata lain, demokrasi, karna
ia sebuah system, telah terkontaminasi oleh kepentingan dan terdegradasi di
Philips J. Vermonte Demokratisasi dan Politik Luar Negeri Indonesia mht,14 Nop 2009 Jam 19.00
beberapa negara, di Indonesia saja kita mengenal dengan demokrasi terpimpin,
demokrasi pancasila dan di beberapa negara eropa barat dengan demokrasi
liberal, meskipun dalam prakteknya masing-masing berbeda bahkan bertolak
belakang. Alasan lain adalah MM lebih fokus pada konsep dan citizenchip,
sementara demokrasi lebih banyak dikonotasikan dengan upaya pemenuhan
semua lapisan untuk mendapatkan kekuasaan dan kedudukan.

Penggunaan istilah demokrasi atau MM menurut pendapat penulis bukan


perkara yang harus dimasalahkan, sebab yang terpenting adalah keseimbangan
antara hak dan kewajiban setiap warga negara harus tetap terjaga sebagaimana
yang dikutip oleh Brian O`Connell sebagai berikut:

a. Demokrasi dimana masyarakat akhirnya berkuasa


b. Pemerintah atas dasar perwakilan yang berangkat dari satu orang/satu
suara
c. Kebebasan berbicara, beragama dan berkumpul.
d. Penghargaan dan dan perlindungan terhadap hampir semua apa yang
kita lakukan dalam kehidupan privat.

13
e. Perlindungan terhadap keamanan dan kepemilikan kita.
f. Hak untuk melakukan inisiatif perorangan untuk menyelesaikan
problem-problem dan keperluan masyarakat kita.
g. Hak untuk berorganisasi
h. Kebebasan pers
i. Persamaan didepan hukum
j. Pendidikan publik
k. Bebas berusaha
l. Kesejahteraan sosial dan program-program lain yang menyangkut
kepentingan masyarakat secara luas

Dengan keduabelas karakteristik tatanan masyarakat ideal tersebut,


O`Connell merumuskan kewajiban sebagai unsur penyeimbang, yaitu:

1. Participation in government.
2. Personal service to many people
3. Civility in our dealing with others
4. Vigilance in protecting freedoms and rights for ourselves and
others
5. Obidience to the law
6. Payment of taxes
7. Willingness to defend the country.9

C. Demokrasi Dalam Pandangan Islam

Dalam sebuah kaidah fiqh di sebutkan

‫تصرف المام على الرعية منوط بالمصلحة‬


” Tasharuf imam atas orang yang di pimpinnya (rakyat) harus berdasarkan
kemaslahatan”

Dan sebuah hadis nabi

14
‫ما راه المسلمون حسنا فهو حسن‬
”pendapat yang oleh ulam islam dianggap baik maka (pendapat) itu baik”
(HR.Buhari Muslim)

Dalam kitab-kitab ushul fiqh diuraikan tentang lima prinsip dasar yang harus
dijaga, yaitu: 1) memelihara agama (Hifdh al-ddin), 2). Memelihara jiwa (Hifdh
al nafs),. 3). Memelihara harta (Hifdh al maal), 4). Memelihara keturunan (hifdh
al nasl), dan 5) memelihara akal (Hifdh al aql).

Dan masih banyak lagi prinsip-prinsip islam baik yang tersurat maupun yang
tersirat dalam al quran dan hadist.

Melihat nilai-nilai filosofis yang dikemukakan diatas, tidak ada yang perlu
dipertentangkan antara islam sebagai ajaran dan demokrasi, karna islam adalam
adalah sistem nilai bukan teori yang bersifat teknis, sebab andaikata islam (al
Qur`anTim
danICCE, Demokrasi,HAM
Hadis) danMasyarakat
membicarakan Madani,
teori itu Jakarta,2006,
berarti AlhalQuran
36-138 tidak bisa berlaku

sepanjang masa. Sementara tata sistem sosial dan pemerintahan bisa saja berganti
menuju sistem yang lebih baik sebagaimana kita lihat dalam sejarah demokrasi.
Di sisi lain, ilmuwan-ilmuwan barat yang notabene-nya adalah non islam banyak
yang pesimis terhadap perkembangan demokrasi dalam dunia keislaman,
walaupun tidak secara keseluruhan pandangan pesimis mereka salah, sebab
memang cara pandang mereka lebih banyak dipengaruhi oleh praktek islam yang
berarti juga sejarah masyarakat islam dimana sering kontradiktif dengan islam
sebagai ajaran.

Menarik pendapat yang dikemukakan oleh Rousseau dalam sosial contac-


nya ia mengemukakan ”Mohammad had very sound oppinions taking care to give
unity to his political system, and for as long as form of his government endured
under the chaliphs who succeeded him, the government was undivided and, to
that extant,good” dan pengakuan weeramantry dalam bukunya Islamic
jurisprudasce: An International perspective, terbitan Macmillan Press, dia

15
mengatakan ”Indeed there are many specific refrences to the Qur`an and the
islamic law in the writings of Montesquiu”

Dengan melihat landasan perbedaan pandangan para pemikir tersebut


nampaklah di hadapan kita bahwa sumber perbedaan sudut pandang antara yang
pro dan kontra terhadap demokrasi dalam pandangan islam berawal dari cara
pandang mereka yang berbeda, pandangan yang pesimis bersumber dari islam
sebagai sejarah yang memberikan kesan ”pahit” dan pandangan yang optimis
berangkat dari islam sebagai ajaran, dimana islam sebagai ajaran tidak pernah
mempersoalkan sebuah sistem bermasyarakat dan bernegara tetapi lebih menitik
beratkan pada substansi dari semua sistem yang ada, jika substansi sebuah sistem
tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan maka sistem itu
sesuai dengan islam sebagai ajaran, namun sebaliknya jika bertentangan dengan
nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan maka apapun nama sistem dan sebaik apa
pun sistem pasti akan dikoreksi oleh generasi penerusnya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Substansi demokrasi adalah upaya mensejahterakan warga menuju


tatanan masayarakat yang adil dan makmur, keadilan sistem dan kemakmuran
warga masyarakat.

Saat ini demokrasi dianggap sebagai sistem yang baik maka perlu secara
bertahap untuk mentransformasikan nilai-nilai demokrasi dalam tatanan
kehidupan bernegara dan bermasyarakat

Tidak sepatutnya kita merendahkan ajaran islam untuk kita sejajarkan


atau bahkan kita pertentangkan dengan demokrasi yang pasti akan mengalami
fase pertumbuhan dan akan dikoreksi secara terus-menerus sebab islam adalah
tata nilai yang berlaku sepanjang masa.

16
B. Saran

Banyaknya pandangan yang sinis dan pesimis terhadap perkembangan


demokrasi di negara negara islam (mayoritas muslim) merupakan tantangan
yang harus direspon oleh para pemikir muslim masa depan dan dimulai dari
sekarang.

Daftar Pustaka

Tim ICCE, Demokrasi,HAM danMasyarakat Madani, Jakarta,2006

Bloq/Kencus's Area_ transformasi nilai-nilai demokrasi.mht,14 Nop 2009


Jam 19.00Iwan Sukma NI, S.Pd,

Iwan sukma, Prinsip prinsip demokrasi, Scrib makalah, 14 Nop 2009

Azizi,Qodri, Melawan Globalisasi, Pustaka pelajar, Jakarta,2003

Philips J. Vermonte, Demokratisasi dan Politik Luar Negeri Indonesia mht,14


Nop 2009

Tim ICCE, Demokrasi,HAM danMasyarakat Madani, Jakarta,2006

17