You are on page 1of 15

Hubungan internasional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah
dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Keseluruhan artikel atau bagian tertentu dari artikel ini perlu di-wikifikasi.

Artikel ini adalah bagian dari


seri Politik

Politik

• Daftar topik politik


• Politik menurut negara
• Politik menurut administrasi wilayah negara
• Ekonomi politik
• Sejarah politik
• Sejarah politik dunia
• Filsafat politik
• Ilmu politik
• Sistem politik
o Komunisme
o Negara kota
o Kediktatoran
o Direksional
o Feodalisme
o Kerajaan
o Parlementer
o Presidensial
o Semi-presidensial

• Hubungan internasional (Teori)


• Ilmuwan politik
• Politik perbandingan
• Administrasi publik
o Birokrasi (tingkat terendah)
o Adhockrasi

• Kebijakan publik
• Pemisahan kekuasaan

• Legislatif
• Eksekutif
• Yudikatif

• Kedaulatan

• Teori perilaku politik

Sub-rangkaian

• Pemilihan umum

Sistem elektoral
Pemungutan suara

• Federalisme
• Bentuk pemerintahan
• Ideologi
• Kampanye politik

• Partai-partai politik

Portal Politik

l•b•s

Hubungan Internasional, adalah cabang dari ilmu politik, merupakan suatu studi
tentang persoalan-persoalan luar negeri dan isu-isu global di antara negara-negara dalam
sistem internasional, termasuk peran negara-negara, organisasi-organisasi
antarpemerintah, organisasi-organisasi nonpemerintah atau lembaga swadaya masyarakat,
dan perusahaan-perusahaan multinasional.[1].Hubungan Internasional adalah suatu bidang
akademis dan kebijakan publik dan dapat bersifat positif atau normatif karena berusaha
menganalisis serta merumuskan kebijakan luar negeri negara-negara tertentu.[2].

Selain ilmu politik, hubungan internasional menggunakan pelbagai bidang ilmu seperti
ekonomi, sejarah, hukum, filsafat, geografi, sosiologi, antropologi, psikologi, studi-studi
budaya dalam kajian-kajiannya.[3] HI mencakup rentang isu yang luas, dari globalisasi
dan dampak-dampaknya terhadap masyarakat-masyarakat dan kedaulatan negara sampai
kelestrarian ekologis, proliferasi nuklir, nasionalisme, perkembangan ekonomi, terorisme,
kejahatan yang terorganisasi, keselamatan umat manusia, dan hak-hak asasi manusia.[4]

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Sejarah
o 1.1 Studi Hubungan internasional
• 2 Teori hubungan internasional
o 2.1 Teori Epistemologi dan teori HI
o 2.2 Teori-teori Positivis
 2.2.1 Realisme
 2.2.2 Liberalisme/idealisme/Internasionalisme Liberal
 2.2.3 Neorealisme
 2.2.4 Neoliberalisme
 2.2.5 Teori Rejim
o 2.3 Teori-teori pasca-positivis/reflektivis
 2.3.1 Teori masyarakat internasional (Aliran pemikiran Inggris)
 2.3.2 Konstruktivisme Sosial
 2.3.3 Teori Kritis
 2.3.4 Marxisme
• 3 Teori-teori pascastrukturalis
• 4 Konsep-konsep dalam hubungan internasional
o 4.1 Konsep-konsep level sistemik
 4.1.1 Kekuasaan
 4.1.1.1 Polaritas
 4.1.2 Interdependensi
 4.1.3 Dependensi
 4.1.4 Perangkat-perangkat sistemik dalam hubungan internasional
• 5 Konsep-konsep unit level dalam hubungan internasional
o 5.1 Tipe rezim
o 5.2 Revisionisme/Status quo
o 5.3 Agama
• 6 Konsep level sub unit atau individu
• 7 Institusi-institusi dalam hubungan internasional
o 7.1 PBB

• 8 Referensi

[sunting] Sejarah
Sejarah hubungan internasional sering dianggap berawal dari [Perdamaian Westphalia]
pada [1648], ketika sistem negara modern dikembangkan.[5] Sebelumnya, organisasi-
organisasi otoritas politik abad pertengahan [Eropa] didasarkan pada tatanan hirarkis
yang tidak jelas. Westphalia membentuk konsep legal tentang kedaulatan, yang pada
dasarnya berarti bahwa para penguasa, atau kedaulatan-kedaulatan yang sah tidak akan
mengakui pihak-pihak lain yang memiliki kedudukan yang sama secara internal dalam
batas-batas kedaulatan wilayah yang sama.[6]Otoritas Yunani dan Roma kuno kadang-
kadang mirip dengan sistem Westphalia, tetapi keduanya tidak memiliki gagasan
kedaulatan yang memadai.[7] [Westphalia] mendukung bangkitnya negara-bangsa (nation-
state), institusionalisasi terhadap diplomasi dan tentara.[8] Sistem yang berasal dari Eropa
ini diekspor ke Amerika, Afrika, dan Asia, lewat kolonialisme, dan “standar-standar
peradaban”.[9] Sistem internasional kontemporer akhirnya dibentuk lewat dekolonisasi
selama [Perang Dingin].[10]Namun, sistem ini agak terlalu disederhanakan. Sementara
sistem negara-bangsa dianggap “modern”, banyak negara tidak masuk ke dalam sistem
tersebut dan disebut sebagai “pra-modern”.[rujukan?] Lebih lanjut, beberapa telah melampaui
sistem negara-bangsa dan dapat dianggap “pasca-modern”.[rujukan?] Kemampuan wacana HI
untuk menjelaskan hubungan-hubungan di antara jenis-jenis negara yang berbeda ini
diperselisihkan.[11] “Level-level analisis” adalah cara untuk mengamati sistem
internasional, yang mencakup level individual, negara-bangsa domestik sebagai suatu
unik, level internasional yang terdiri atas persoalan-persoalan transnasional dan
internasional level global.[12]

[sunting] Studi Hubungan internasional

Pada mulanya, hubungan internasional sebagai bidang studi yang tersendiri hampir secara
keseluruhan berkiblat ke Inggris.[13]Pada 1919, Dewan Politik internasional dibentuk di
University of Wales, Aberystwyth, lewat dukungan yang diberikan oleh David Davies,
menjadi posisi akademis pertama yang didedikasikan untuk HI.[14] Pada awal 1920-an,
jurusan Hubungan Internasional dari London School of Economics didirikan atas perintah
seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Phillip Noel-Baker.Pada 1927, Graduate
Institute of International Studies (Institut universitaire de hautes Ã(c)tudes
internationales), didirikan di Jenewa, Swiss; institut ini berusaha menghasilkan
sekelompok personel khusus untuk Liga Bangsa-bangsa.[15] Program HI tertua di Amerika
Serikat ada di Edmund A. Walsh School of Foreign Service yang merupakan bagian dari
Georgetown Unversity.[16] Sekolah tinggi pertama jurusan hubungan internasional yang
menghasilkan lulusan bergelar sarjana adalah Fletcher Schooldi Tufts.[17] Meskipun
pelbagai sekolah tinggi yang didedikasikan untuk studi HI telah didirikan di Asia dan
Amerika Selatan, HI sebagai suatu bidang ilmu tetap terutama berpusat di Eropa dan
Amerika Utara.[18]

[sunting] Teori hubungan internasional


Artikel utama: Teori hubungan internasional

Apa yang secara eksplisit diakui sebagai teori hubungan internasional tidak
dikembangkan sampai setelah Perang Dunia I, dan dibahas secara lebih rinci di bawah
ini.[rujukan?] Namun, teori HI memiliki tradisi panjang menggunakan karya ilmu-ilmu sosial
lainnya.[rujukan?] Penggunaan huruf besar “H” dan “I” dalam hubungan internasional
bertujuan untuk membedakan disiplin Hubungan Internasional dari fenomena hubungan
internasional.[rujukan?] Banyak orang yang mengutip Sejarah Perang Peloponnesia karya
Thucydides sebagai inspirasi bagi teori realis, dengan Leviathan karya Hobbes dan The
Prince karya Machiavelli memberikan pengembangan lebih lanjut.[rujukan?] Demikian juga,
liberalisme menggunakan karya Kant dan Rousseau, dengan karya Kant sering dikutip
sebagai pengembangan pertama dari Teori Perdamaian Demokratis.[rujukan?] Meskipun hak-
hak asasi manusia kontemporer secara signifikan berbeda dengan jenis hak-hak yang
didambakan dalam hukum alam, Francisco de Vitoria, Hugo Grotius, dan John Locke
memberikan pernyataan-pernyataan pertama tentang hak untuk mendapatkan hak-hak
tertentu berdasarkan kemanusiaan secara umum.[rujukan?] Pada abad ke-20, selain teori-teori
kontemporer intenasionalisme liberal, Marxisme merupakan landasan hubungan
internasional.[rujukan?]

Perkembangan fenomena hubungan internasional telah memasuki aspek-aspek baru,


dimana Hubungan Internasional tidak hanya mengkaji tentang negara, tetapi juga
mengkaji tentang peran aktor non-negara di dalam ruang lingkup politik global.[rujukan?]
Peran non-state actor yang semakin dominan mengindikasikan bahwa non-state actor
memegang peran yang penting.[rujukan?]

Dewasa ini, fenomena hubungan internasional telah memasuki ranah budaya (seperti
klaim tari pendet Malaysia terhadap indonesia), sehingga Hubungan Internasional
memerlukan kajian teoritis dari dispilin ilmu lainnya.[rujukan?]

[sunting] Teori Epistemologi dan teori HI

Teori-teori Utama Hubungan Internasional Realisme [[Neorealisme], Dipelopori oleh


Kenneth Waltz, istilah kunci : struktur, agen, sistem internasional[rujukan?]Idealisme,
Dipelopoeri oleh Imanuel Kant, istilah kunci : Pacific UnION[rujukan?]Liberalisme.
Dipelopori oleh Robert Keohane, istilah kunci : complex
interdepency[rujukan?]Neoliberalisme,[rujukan?]Marxisme dan Neo Marxis[rujukan?]Teori
dependensi[rujukan?]

Teori kritis dipelopori oleh Jurgen Habermas, istilah kunci : Paradigma Komunikasi,
Paradigma Kesadaran, Alienisasi, Emansipatoris.
[rujukan?]
Konstruksivisme[rujukan?]Fungsionalisme[rujukan?]Neofungsiionalisme[rujukan?]Negativitas
Total dari TW Adorno, untuk memahami isu-isu lingkungan[rujukan?]Masyarakat Konsumtif
dari Herbert Marcuse, untuk memahami hubungan antara masyarakat dengan budaya
global[rujukan?]

Secara garis besar teori-teori HI dapat dibagi menjadi dua pandangan epistemologis
“positivis” dan “pasca-positivis”.[rujukan?] Teori-teori positivis bertujuan mereplikasi
metode-metode ilmu-ilmu sosial dengan menganalisis dampak kekuatan-kekuatan
material.[rujukan?] Teori-teori ini biasanya berfokus berbagai aspek seperti interaksi negara-
negara, ukuran kekuatan-kekuatan militer, keseimbangan kekuasaaan dan lain-lain.[rujukan?]
Epistemologi pasca-positivis menolak ide bahwa dunia sosial dapat dipelajari dengan
cara yang objektif dan bebas-nilai.[rujukan?] Epistemologi ini menolak ide-ide sentral tentang
neo-realisme/liberalisme, seperti teori pilihan rasional, dengan alasan bahwa metode
ilmiah tidak dapat diterapkan ke dalam dunia sosial dan bahwa suatu “ilmu” HI adalah
tidak mungkin.[rujukan?]

Perbedaan kunci antara kedua pandangan tersebut adalah bahwa sementara teori-teori
positivis, seperti neo-realisme, menawarkan berbagai penjelasan yang bersifat sebab-
akibat (seperti mengapa dan bagaimana kekuasaan diterapkan), teori pasca-positivis
pasca-positivis berfokus pada pertanyaan-pertanyaan konstitutif, sebagai contoh apa yang
dimaksudkan dengan “kekuasaan”; hal-hal apa sajakah yang membentuknya, bagaimana
kekuasaan dialami dan bagaimana kekuasaan direproduksi.[rujukan?] Teori-teori pasca-
positivs secara eksplisit sering mempromosikan pendekatan normatif terhadap HI, dengan
mempertimbangkan etika. Hal ini merupakan sesuatu yang sering diabaikan dalam HI
“tradisional” karena teori-teori positivis membuat perbedaan antara “fakta-fakta” dan
penilaian-penilaian normatif, atau “nilai-nilai”.[rujukan?] Selama periode akhir 1980-an/1990
perdebatan antara para pendukung teori-teori positivis dan para pendukung teori-teori
pasca-positivis menjadi perdebatan yang dominan dan disebut sebagai “Perdebatan
Terbesar” Ketiga (Lapid 1989.)[rujukan?]

Islam, yang hanya dipandang orang dan para akademisi hanya sebagai agama, ternyata
menyimpan pemikiran hubungan internasional.[rujukan?] Sejarah mencatat kekuasaan Islam
atau khalifah pada sekitar abad 7M.[rujukan?] Pada masa ini, khalifah Islam merupakan suatu
global polis atau tatanan hubungan internasional, karena menata hubungan wilayah-
wilayah yang disatukan ke dalam bentuk polis.[rujukan?] Apabila dikaji lebih dalam, khalifah
Islam merupakan suatu order atau tatanan yang mengatur seluruh aspek-aspek kehidupan
manusia.[rujukan?] Misalnya hukum ekonomi global berlandaskan pada hukum ekonomi
Islam, dimana hukum ekonomi Islam tidak mengutamakan riba ( keuntungan atau jiwa-
jiwa kapitalis seperti yang diungkapkan oleh Pemikiran Marxis, tetapi suatu sistem
ekonomi yang win-win solution serta mengutamakan kesejahteraan bersama, bukan
keuntungan pihak tertentu saja. Bandingkan dengan pemikiran-pemikiran ekonomi
sekarang ini, seperti Neolib dll, dimana pemikiran telah menciptakan keterbelakangan
dan ketergantungan ( depedensi ) yang berakibat pada kesenjangan global.[rujukan?]

Teori politik adalah salah satu kajian di dalam bidang hubungan internasional.[rujukan?]
Teori politik pada dasarnya adalah tentang tata negara.[rujukan?] Pemikiran sistem politik
demokrasi yang diadopsi oleh negara-negara berkembang merupakan kajian teori politik.
[rujukan?]
Islam adalah sumber teori politik, karena memuat seluruh aspek-aspek kehidupan
manusia.[rujukan?] Sebagai contoh, sistem ekonomi Islam merupakan teori politik yang
bertujuan menjamin kesejahteraan bersama sehingga manusia menjadi "mansalahat" atau
tentram.[rujukan?] Teori politik yang bersumber dari pemikiran barat adalah suatu mal-
praktik bagi manusia itu sendiri, karena manusia tidak menerima esensinya sendiri, tetapi
mencari esensi lain yang berakibat pada jatuhnya manusia kepada jurang alienisasi.[rujukan?]

Menurut Imanuel Kant, perdamaian akan tercipta apabila negara-negara menganut sistem
demokrasi.[rujukan?] Perpertual peace adalah perdamaian yang timbul karena negara-negara
menganut sistem demokrasi.[rujukan?] Ini adalah kesalahan besar.[rujukan?] Perdamaian hanya
akan timbul apabila manusia menerima esensinya sebagai manusia, dengan cara
menerapkan teori politik Islam yang merupakan sumber dari order manusia itu sendiri.
[rujukan?]

[sunting] Teori-teori Positivis

[sunting] Realisme

Realisme, sebagai tanggapan terhadap liberalisme, pada intinya menyangkal bahwa


negara-negara berusaha untuk bekerja sama.[rujukan?] Para realis awal seperti E.H. Carr,
Daniel Bernhard, dan Hans Morgenthau berargumen bahwa, untuk maksud meningkatkan
keamanan mereka, negara-negara adalah aktor-aktor rasional yang berusaha mencari
kekuasaan dan tertarik kepada kepentingan diri sendiri (self-interested).[rujukan?] Setiap
kerja sama antara negara-negara dijelaskan sebagai benar-benar insidental.[rujukan?] Para
realis melihat Perang Dunia II sebagai pembuktian terhadap teori mereka.[rujukan?] Perlu
diperhatikan bahwa para penulis klasik seperti Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes
sering disebut-sebut sebagai “bapak-bapak pendiri” realisme oleh orang-orang yang
menyebut diri mereka sendiri sebagai realis kontemporer.[rujukan?] Namun, meskipun karya
mereka dapat mendukung doktrin realis, ketiga orang tersebut tampaknya tidak mungkin
menggolongkan diri mereka sendiri sebagai realis (dalam pengertian yang dipakai di sini
untuk istilah tersebut).[rujukan?]

[sunting] Liberalisme/idealisme/Internasionalisme Liberal

Teori hubungan internasional liberal muncul setelah Perang Dunia I untuk menanggapi
ketidakmampuan negara-negara untuk mengontrol dan membatasi perang dalam
hubungan internasional mereka.[rujukan?] Pendukung-pendukung awal teori ini termasuk
Woodrow Wilson dan Normal Angell, yang berargumen dengan berbagai cara bahwa
negara-negara mendapatkan keuntungan dari satu sama lain lewat kerjasama dan bahwa
perang terlalu destruktif untuk bisa dikatakan sebagai pada dasarnya sia-sia. Liberalisme
tidak diakui sebagai teori yang terpadu sampai paham tersebut secara kolektif dan
mengejek disebut sebagai idealisme oleh E.H. Carr. Sebuah versi baru “idealisme”, yang
berpusat pada hak-hak asasi manusia sebagai dasar legitimasi hukum internasional,
dikemukakan oleh Hans Kóchler.[rujukan?]

[sunting] Neorealisme

Neorealisme terutama merupakan karya Kenneh Waltz (yang sebenarnya menyebut


teorinya “realisme struktural” di dalam buku karangannya yang berjudul Man, the State,
and War).[rujukan?] Sambil tetap mempertahankan pengamatan-pengamatan empiris
realisme, bahwa hubungan internasional dikarakterka oleh hubungan-hubungan
antarnegara yang antagonistik, para pendukung neorealisme menunjuk struktur anarkis
dalam sistem internasional sebagai penyebabnya.[rujukan?] Mereka menolak berbagai
penjelasan yang mempertimbangkan pengaruh karakteristik-karakteristik dalam negeri
negara-negara.[rujukan?] Negara-negara dipaksa oleh pencapaian yang relatif (relative gains)
dan keseimbangan yang menghambat konsentrasi kekuasaan.[rujukan?] Tidak seperti
realisme, neo-realisme berusaha ilmiah dan lebih positivis.[rujukan?] Hal lain yang juga
membedakan neo-realisme dari realisme adalah bahwa neo-realisme tidak menyetujui
penekanan realisme pada penjelasan yang bersifat perilaku dalam hubungan
internasional.[rujukan?]

[sunting] Neoliberalisme

Neoliberalisme berusaha memperbarui liberalisme dengan menyetujui asumsi neorealis


bahwa negara-negara adalah aktor-aktor kunci dalam hubungan internasional, tetapi tetap
mempertahankan pendapat bahwa aktor-aktor bukan negara dan organisasi-organisasi
antarpemerintah adalah juga penting. Para pendukung seperti Maria Chatta berargumen
bahwa negara-negara akan bekerja sama terlepas dari pencapaian-pencapaian relatif, dan
dengan demikian menaruh perhatian pada pencapaian-pencapaian mutlak.[rujukan?]
Meningkatnya interdependensi selama Perang Dingin lewat institusi-institusi
internasional berarti bahwa neo-liberalisme juga disebut institusionalisme liberal.[rujukan?]
Hal ini juga berarti bahwa pada dasarnya bangsa-bangsa bebas membuat pilihan-pilihan
mereka sendiri tentang bagaimana mereka akan menerapkan kebijakan tanpa organisasi-
organisasi internasional yang merintangi hak suatu bangsa atas kedaulatan.[rujukan?]
Neoliberalimse juga mengandung suatu teori ekonomi yang didasarkan pada penggunaan
pasar-pasar yang terbuka dan bebas dengan hanya sedikit, jika memang ada, intervensi
pemerintah untuk mencegah terbentuknya monopoli dan bentuk-bentuk konglomerasi
yang lain.[rujukan?] Keadaan saling tergantung satu sama lain yang terus meningkat selama
dan sesudah Perang Dingin menyebabkan neoliberalisme didefinisikan sebagai
institusionalisme, bagian baru teori ini dikemukakan oleh Robert Keohane dan juga
Joseph Nye.[rujukan?]

[sunting] Teori Rejim

Teori rejim berasal dari tradisi liberal yang berargumen bahwa berbagai institusi atau
rejim internasional mempengaruhi perilaku negara-negara (maupun aktor internasional
yang lain).[rujukan?] Teori ini mengasumsikan kerjasama bisa terjadi di dalam sistem negara-
negara anarki. Bila dilihat dari definisinya sendiri, rejim adalah contoh dari kerjasama
internasional.[rujukan?] Sementara realisme memprediksikan konflik akan menjadi norma
dalam hubungan internasional, para teoritisi rejim menyatakan kerjasama tetap ada dalam
situasi anarki sekalipun.[rujukan?] Seringkali mereka menyebutkan kerjasama di bidang
perdagangan, hak asasi manusia, dan keamanan bersama di antara isu-isu lainnya.[rujukan?]
Contoh-contoh kerjasama tadilah yang dimaksud dengan rejim.[rujukan?] Definisi rejim yang
paling lazim dipakai datang dari Stephen Krasner. Krasner mendefinisikan rejim sebagai
“institusi yang memiliki sejumlah norma, aturan yang tegas, dan prosedur yang
memfasilitasi sebuah pemusatan berbagai harapan.[rujukan?] Tapi tidak semua pendekatan
teori rejim berbasis pada liberal atau neoliberal; beberapa pendukung realis seperi Joseph
Greico telah mengembangkan sejumlah teori cangkokan yang membawa sebuah
pendekatan berbasis realis ke teori yang berdasarkan pada liberal ini.[rujukan?] (Kerjasama
menurut kelompok realis bukannya tidak pernah terjadi, hanya saja kerjasama bukanlah
norma; kerjasama merupakan sebuah perbedaan derajat).[rujukan?]
[sunting] Teori-teori pasca-positivis/reflektivis

[sunting] Teori masyarakat internasional (Aliran pemikiran Inggris)

Teori masyarakat internasional, juga disebut Aliran Pemikiran Inggris, berfokus pada
berbagai norma dan nilai yang sama-sama dimiliki oleh negara-negara dan bagaimana
norma-norma dan nilai-nlai tersebut mengatur hubungan internasional.[rujukan?] Contoh
norma-norma seperti itu mencakup diplomasi, tatanan, hukum internasional.[rujukan?] Tidak
seperti neo-realisme, teori ini tidak selalu positivis.[rujukan?] Para teoritisi teori ini telah
berfokus terutama pada intervensi kemanusiaan, dan dibagi kembali antara para solidaris,
yang cenderung lebih menyokong intervensi kemanusiaan, dan para pluralis, yang lebih
menekankan tatanan dan kedaulatan, Nicholas Wheeler adalah seorang solidaris
terkemuka, sementara Hedley Bull mungkin merupakan pluraris yang paling dikenal.
[rujukan?]

[sunting] Konstruktivisme Sosial

Kontrukstivisme Sosial mencakup rentang luas teori yang bertujuan menangani berbagai
pertanyaan tentang ontologi, seperti perdebatan tentang lembaga (agency) dan Struktur,
serta pertanyaan-pertanyaan tentang epistemologi, seperti perdebatan tentang
“materi/ide” yang menaruh perhatian terhadap peranan relatif kekuatan-kekuatan materi
versus ide-ide.[rujukan?] Konstruktivisme bukan merupakan teori HI, sebagai contoh dalam
hal neo-realisme, tetapi sebaliknya merupakan teori sosial.[rujukan?] Konstruktivisme dalam
HI dapat dibagi menjadi apa yang disebut oleh Hopf (1998) sebagai konstruktivisme
“konvensional” dan “kritis”.[rujukan?] Hal yang terdapat dalam semua variasi
konstruktivisme adalah minat terhadap peran yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan ide.
[rujukan?]
Pakar konstruktivisme yang paling terkenal, Alexander Wendt menulis pada 1992
tentang Organisasi Internasional (kemudian diikuti oleh suatu buku, Social Theory of
International Politics 1999), “anarki adalah hal yang diciptakan oleh negara-negara dari
hal tersebut”.[rujukan?] Yang dimaksudkannya adalah bahwa struktur anarkis yang diklaim
oleh para pendukung neo-realis sebagai mengatur interaksi negara pada kenyataannya
merupakan fenomena yang secara sosial dikonstruksi dan direproduksi oleh negara-
negara.[rujukan?] Sebagai contoh, jika sistem internasional didominasi oleh negara-negara
yang melihat anarki sebagai situasi hidup dan mati (diistilahkan oleh Wendt sebagai
anarki “Hobbesian”) maka sistem tersebut akan dikarakterkan dengan peperangan.[rujukan?]
Jika pada pihak lain anarki dilihat sebagai dibatasi (anarki “Lockean”) maka sistem yang
lebih damai akan eksis.[rujukan?] Anarki menurut pandangan ini dibentuk oleh interaksi
negara, bukan diterima sebagai aspek yang alami dan tidak mudah berubah dalam
kehidupan internasional seperti menurut pendapat para pakar HI non-realis.[rujukan?]
Namun, banyak kritikus yang muncul dari kedua sisi pembagian epistemologis tersebut.
[rujukan?]
Para pendukung pasca-positivis mengatakan bahwa fokus terhadap negara dengan
mengorbankan etnisitas/ras/jender menjadikan konstrukstivisme sosial sebagai teori
positivis yang lain.[rujukan?] Penggunaan teori pilihan rasional secara implisit oleh Wendt
juga telah menimbulkan pelbagai kritik dari para pakar seperti Steven Smith. Para pakar
positivis (neo-liberalisme/realisme) berpendapat bahwa teori tersebut
mengenyampingkan terlalu banyak asumsi positivis untuk dapat dianggap sebagai teori
positivis.[rujukan?]

[sunting] Teori Kritis

(Artikel utama: Teori hubungan internasional kritis) Teori hubungan internasional kritis
adalah penerapan “teori kritis” dalam hubungan internasional.[rujukan?] Pada pendukung
seperti Andrew Linklater, Robert W. Cox, dan Ken Booth berfokus pada kebutuhan
terhadap emansipansi (kebebasan) manusia dari Negara-negara.[rujukan?] Dengan demikian,
adalah teori ini bersifat “kritis” terhadap teori-teori HI “mainstream” yang cenderung
berpusat pada negara (state-centric).[rujukan?] Catatan: Daftar teori ini sama sekali tidak
menyebutkan seluruh teori HI yang ada. Masih ada teori-teori lain misalnya
fungsionalisme, neofungsionalisme, feminisme, dan teori dependen.

[sunting] Marxisme

Teori Marxis dan teori Neo-Marxis dalam HI menolak pandangan realis/liberal tentang
konflik atau kerja sama negara, tetapi sebaliknya berfokus pada aspek ekonomi dan
materi.[rujukan?] Marxisme membuat asumsi bahwa ekonomi lebih penting daripada
persoalan-persoalan yang lain; sehingga memungkinkan bagi peningkatan kelas sebagai
fokus studi.[rujukan?] Para pendukung Marxis memandang sistem internasional sebagai
sistem kapitalis terintegrasi yang mengejar akumulasi modal (kapital).[rujukan?] Dengan
demikian, periode kolonialisme membawa masuk pelbagai sumber daya untuk bahan-
bahan mentah dan pasar-pasar yang pasti (captive markets)
dancuk...dancukk..dancukkkuntuk ekspor, sementara dekolonisasi membawa masuk
pelbagai kesempatan baru dalam bentuk dependensi (ketergantungan).[rujukan?] Berkaitan
dengan teori-teori Marx adalah teori dependensi yang berargumen bahwa negara-negara
maju, dalam usaha mereka untuk mencapai kekuasaan, menembus negara-negara
berkembang lewat penasihat politik, misionaris, pakar, dan perusahaan multinasional
untuk mengintegrasikan negara-negara berkembang tersebut ke dalam sistem kapitalis
terintegrasi untuk mendapatkan sumber-sumber daya alam dan meningkatkan dependensi
negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju.[rujukan?] Teori-teori Marxis
kurang mendapatkan perhatian di Amerika Serikat di mana tidak ada partai sosialis yang
signifikan.[rujukan?] Teori-teori ini lebih lazim di pelbagai bagian Eropa dan merupakan
salah satu kontribusi teoritis yang paling penting bagi dunia akademis Amerika Latin,
sebagai contoh lewat teologi.[rujukan?]

[sunting] Teori-teori pascastrukturalis


Teori-teori pascastrukturalis dalam HI berkembang pada 1980-an dari studi-studi
pascamodernis dalam ilmu politik.[rujukan?] Pasca-strukturalisme mengeksplorasi
dekonstruksi konsep-konsep yang secara tradisional tidak problematis dalam HI, seperti
kekuasaan dan agensi dan meneliti bagaimana pengkonstruksian konsep-konsep ini
membentuk hubungan-hubungan internasional.[rujukan?] Penelitian terhadap “narasi”
memainkan peran yang penting dalam analisis pascastrukturalis, sebagai contoh studi
pascastrukturalis feminis telah meneliti peran yang dimainkan oleh “kaum wanita” dalam
masyarakat global dan bagaimana kaum wanita dikonstruksi dalam perang sebagai “tanpa
dosa” (innocent) dan “warga sipil”.[rujukan?] Contoh-contoh riset pasca-positivis mencakup:
Pelbagai bentuk feminisme (perang "gender" war—“gendering” war)[rujukan?]
Pascakolonialisme (tantangan-tantangan dari sentrisme Eropa dalam HI)[rujukan?]

[sunting] Konsep-konsep dalam hubungan


internasional
[sunting] Konsep-konsep level sistemik

Hubungan internasional sering dipandang dari pelbagai level analisis, konsep-konsep


level sistemik adalah konsep-konsep luas yang mendefinisikan dan membentuk
lingkungan (milieu) internasional, yang dikarakterkan oleh Anarki.[rujukan?]

[sunting] Kekuasaan

Konsep Kekuasaan dalam hubungan internasional dapat dideskripsikan sebagai tingkat


sumber daya, kapabilitas, dan pengaruh dalam persoalan-persoalan internasional.[rujukan?]
Kekuasaan sering dibagi menjadi konsep-konsep kekuasaan yang keras (hard power) dan
kekuasaan yang lunak (soft power), kekuasaan yang keras terutama berkaitan dengan
kekuasaan yang bersifat memaksa, seperti penggunaan kekuatan, dan kekuasaan yang
lunak biasanya mencakup ekonomi, diplomasi, dan pengaruh budaya.[rujukan?] Namun, tidak
ada garis pembagi yang jelas di antara dua bentuk kekuasaan tersebut.[rujukan?]

[sunting] Polaritas

Polaritas dalam Hubungan Internasional merujuk pada penyusunan kekuasaan dalam


sistem internasional.[rujukan?] Konsep tersebut muncul dari bipolaritas selama Perang
Dingin, dengan sistem internasional didominasi oleh konflik antara dua negara adikuasa
dan telah diterapkan sebelumnya.[rujukan?] Sebagai akibatnya, sistem internasional sebelum
1945 dapat dideskripsikan sebagai terdiri dari banyak kutub (multi-polar), dengan
kekuasaan dibagi-bagi antara negara-negara besar.[rujukan?] Runtuhnya Uni Soviet pada
1991 telah menyebabkan apa yang disebut oleh sebagian orang sebagai unipolaritas,
dengan AS sebagai satu-satunya negara adikuasa.[rujukan?] Beberapa teori hubungan
internasional menggunakan ide polaritas tersebut.[rujukan?] Keseimbangan kekuasaan adalah
konsep yang berkembang luas di Eropa sebelum Perang Dunia Pertama, pemikirannya
adalah bahwa dengan menyeimbangkan blok-blok kekuasaan hal tersebut akan
menciptakan stabilitas dan mencegah perang dunia.[rujukan?] Teori-teori keseimbangan
kekuasaan kembali mengemuka selama Perang Dingin, sebagai mekanisme sentral dalam
Neorealisme Kenneth Waltz.[rujukan?] Di sini konsep-konsep menyeimbangkan
(meningkatkan kekuasaan untuk menandingi kekuasaan yang lain) dan bandwagoning
(berpihak dengan kekuasaan yang lain) dikembangkan.[rujukan?] Teori stabilitas hegemonik
juga menggunakan ide Polaritas, khususnya keadaan unipolaritas.[rujukan?] Hegemoni
adalah terkonsentrasikannya sebagian besar kekuasaan yang ada di satu kutub dalam
sistem internasional, dan teori tersebut berargumen bahwa hegemoni adalah konfigurasi
yang stabil karena adanya keuntungan yang diperoleh negara adikuasa yang dominan dan
negara-negara yang lain dari satu sama lain dalam sistem internasional.[rujukan?] Hal ini
bertentangan dengan banyak argumen Neorealis, khususnya yang dikemukakan oleh
Kenneth Waltz, yang menyatakan bahwa berakhirnya Perang Dingin dan keadaan
unipolaritas adalah konfigurasi yang tidak stabil yang secara tidak terelakkan akan
berubah.[rujukan?] Hal ini dapat diungkapkan dalam teori peralihan Kekuasaan, yang
menyatakan bahwa mungkin suatu negara besar akan menantang suatu negara yang
memiliki hegemoni (hegemon) setelah periode tertentu, sehingga mengakibatkan perang
besar.[rujukan?] Teori tersebut mengemukakan bahwa meskipun hegemoni dapat mengontrol
terjadinya pelbagai perang, hal tersebut menyebabkan terjadinya perang yang lain.[rujukan?]
Pendukung utama teori tersebut, A.F.K. Organski, mengemukakan argumen ini
berdasarkan terjadinya perang-perang sebelumnya selama hegemoni Inggris. Portugis,
dan Belanda.[rujukan?]

[sunting] Interdependensi

Banyak orang yang menyokong bahwa sistem internasional sekarang ini dikarakterkan
oleh meningkatnya interdepedensi atau saling ketergantungan: tanggung jawab terhadap
satu sama lain dan dependensi (ketergantungan) terhadap pihak-pihak lain.[rujukan?] Para
penyokong pendapat ini menunjuk pada meningkatnya globalisasi, terutama dalam hal
interaksi ekonomi internasional.[rujukan?] Peran institusi-institusi internasional, dan
penerimaan yang berkembang luas terhadap sejumlah prinsip operasional dalam sistem
internasional, memperkukuh ide-ide bahwa hubungan-hubungan dikarakterkan oleh
interdependensi.[rujukan?]

[sunting] Dependensi

Teori dependensi adalah teori yang paling lazim dikaitkan dengan Marxisme, yang
menyatakan bahwa seperangkat negara Inti mengeksploitasi kekayaan sekelompok
negara Pinggiran yang lebih lemah.[rujukan?] Pelbagai versi teori ini mengemukakan bahwa
hal ini merupakan keadaan yang tidak terelakkan (teori dependensi standar), atau
menggunakan teori tersebut untuk menekankan keharusan untuk berubah (Neo-
Marxisme).[rujukan?]

[sunting] Perangkat-perangkat sistemik dalam hubungan internasional

• Diplomasi adalah praktik komunikasi dan negosiasi antara pelbagai perwakilan


negara-negara. Pada suatu tingkat, semua perangkat hubungan internasional yang
lain dapat dianggap sebagai kegagalan diplomasi.[rujukan?] Perlu diingat,
penggunaan alat-alat yang lain merupakan bagian dari komunikasi dan negosiasi
yang tak terpisahkan di dalam negosiasi.[rujukan?] Pemberian sanksi, penggunaan
kekuatan, dan penyesuaian aturan perdagangan, walau bukan merupakan bagian
dari diplomasi yang biasa dipertimbangkan, merupakan perangkat-perangkat yang
berharga untuk mempermudah serta mempermulus proses negosiasi.[rujukan?]
• Pemberian sanksi biasanya merupakan tindakan pertama yang diambil setelah
gagalnya diplomasi dan merupakan salah satu perangkat utama yang digunakan
untuk menegakkan pelbagai perjanjian (treaties).[rujukan?] Sanksi dapat berbentuk
sanksi diplomatik atau ekonomi dan pemutusan hubungan dan penerapan batasan-
batasan terhadap komunikasi atau perdagangan.[rujukan?]
• Perang, penggunaan kekuatan, sering dianggap sebagai perangkat utama dalam
hubungan internasional.[rujukan?] Definisi perang yang diterima secara luas adalah
yang diberikan oleh Clausewitz, yaitu bahwa perang adalah “kelanjutan politik
dengan cara yang lain.” Terdapat peningkatan studi tentang “perang-perang baru”
yang melibatkan aktor-aktor selain negara.[rujukan?] Studi tentang perang dalam
Hubungan Internasional tercakup dalam disiplin Studi Perang dan Studi Strategis.
[rujukan?]

• Mobilisasi tindakan mempermalukan secara internasional juga dapat dianggap


sebagai alat dalam Hubungan Internasional.[rujukan?] Hal ini adalah untuk mengubah
tindakan negara-negara lewat “menyebut dan mempermalukan” pada level
internasional.[rujukan?] Penggunaan yang terkemuka dalam hal ini adalah prosedur
Komisi PBB untuk Hak-hak Asasi Manusia 1235, yang secara publik
memaparkan negara-negara yang melakukan pelanggaran terhadap hak asasi
manusia.[rujukan?]
• Pemberian keuntungan-keuntungan ekonomi dan/atau diplomatik. Salah satu
contohnya adalah kebijakan memperbanyak keanggotaan Uni Eropa.[rujukan?]
Negara-negara kandidat diperbolehkan menjadi anggota Uni Eropa setelah
memenuhi kriteria Copenhagen.[rujukan?]

[sunting] Konsep-konsep unit level dalam hubungan


internasional
Sebagai suatu level analisis level unit sering dirujuk sebagai level negara, karena level
analisis ini menempatkan penjelasannya pada level negara, bukan sistem internasional.
[rujukan?]

[sunting] Tipe rezim

Sering dianggap bahwa suatu tipe rezim negara dapat menentukan cara suatu negara
berinteraksi dengan negara-negara lain dalam sistem internasional.[rujukan?] Teori
Perdamaian Demokratis adalah teori yang mengemukakan bahwa hakikat demokrasi
berarti bahwa negara-negara demokratis tidak akan saling berperang.[rujukan?] Justifikasi
terhadap hal ini adalah bahwa negara-negara demokrasi mengeksternalkan norma-norma
mereka dan hanya berperang dengan alasan-alasan yang benar, dan bahwa demokrasi
mendorong kepercayaan dan penghargaan terhadap satu sama lain.[rujukan?] Sementara itu,
komunisme menjustifikasikan suatu revolusi dunia, yang juga akan menimbulkan
koeksitensi (hidup berdampingan) secara damai, berdasarkan masyarakat global yang
proletar.[rujukan?] asf

[sunting] Revisionisme/Status quo


Negara-negara dapat diklasifikasikan menurut apakah mereka menerima status quo, atau
merupakan revisionis, yaitu menginginkan perubahan.[rujukan?] Negara-negara revisionis
berusaha untuk secara mendasar mengubah pelbagai aturan dan praktik dalam hubungan
internasional, merasa dirugikan oleh status quo (keadaan yang ada).[rujukan?] Mereka
melihat sistem internasional sebagai untuk sebagian besar merupakan ciptaan barat yang
berfungsi mengukuhkan pelbagai realitas yang ada.[rujukan?] Jepang adalah contoh negara
yang beralih dari negara revisionis menjadi negara yang puas dengan status quo, karena
status quo tersebut kini menguntungkan baginya.[rujukan?]

[sunting] Agama

Sering dianggap bahwa agama dapat memiliki pengaruh terhadap cara negara bertindak
dalam sistem internasional.[rujukan?] Agama terlihat sebagai prinsip pengorganisasi terutama
bagi negara-negara Islam, sementara sekularisme terletak yang ujung lainnya dari
spektrum dengan pemisahan antara negara dan agama bertanggung jawab atas tradisi
Liberal.[rujukan?]

[sunting] Konsep level sub unit atau individu


Level di bawah level unit (negara) dapat bermanfaat untuk menjelaskan pelbagai faktor
dalam Hubungan Internasional yang gagal dijelaskan oleh teori-teori yang lain, dan untuk
beranjak menjauhi pandangan yang berpusat pada negara (negara-sentris) dalam
hubungan internasional.[rujukan?]

• Faktor-faktor psikologis dalam Hubungan Internasional - Pengevaluasian


faktor-faktor psikologis dalam hubungan internasional berasal dari pemahaman
bahwa negara bukan merupakan kotak hitam seperti yang dikemukakan oleh
Realisme bahwa terdapat pengaruh-pengaruh lain terhadap keputusan-keputusan
kebijakan luar negeri.[rujukan?] Meneliti peran pelbagai kepribadian dalam proses
pembuatan keputusan dapat memiliki suatu daya penjelas, seperti halnya peran
mispersepsi di antara pelbagai aktor.[rujukan?] Contoh yang menonjol dalam faktor-
faktor level sub-unit dalam hubungan internasional adalah konsep pemikiran-
kelompok (Groupthink), aplikasi lain yang menonjol adalah kecenderungan para
pembuat kebijakan untuk berpikir berkaitan dengan pelbagai analogi-analogi.
[rujukan?]

• Politik birokrat – Mengamati peran birokrasi dalam pembuatan keputusan, dan


menganggap berbagai keputusan sebagai hasil pertarungan internal birokratis
(bureaucratic in-fighting), dan sebagai dibentuk oleh pelbagai kendala.[rujukan?]
• Kelompok-kelompok keagamaan, etnis, dan yang menarik diri — Mengamati
aspek-aspek ini dalam level sub-unit memiliki daya penjelas berkaitan dengan
konflik-konflik etnis, perang-perang keagamaan, dan aktor-aktor lain yang tidak
menganggap diri mereka cocok dengan batas-batas negara yang pasti.[rujukan?] Hal
ini terutama bermanfaat dalam konteks dunia negara-negara lemah pra-modern.
[rujukan?]
• Ilmu, Teknologi, dan Hubungan Internasional—Bagaimana ilmu dan
teknologi berdampak pada perkembangan, teknologi, lingkungan, bisnis, dan
kesehatan dunia.[rujukan?]

[sunting] Institusi-institusi dalam hubungan


internasional
Institusi-institusi internasional adalah bagian yang sangat penting dalam Hubungan
Internasional kontemporer.[rujukan?] Banyak interaksi pada level sistem diatur oleh institusi-
institusi tersebut dan mereka melarang beberapa praktik dan institusi tradisional dalam
Hubungan Internasional, seperti penggunaan perang (kecuali dalam rangka pembelaan
diri).[rujukan?]

Ketika umat manusia memasuki tahap peradaban global, beberapa ilmuwan dan teoritisi
politik melihat hirarki institusi-institusi global yang menggantikan sistem negara-bangsa
berdaulat yang ada sebagai komunitas politik yang utama.[rujukan?] Mereka berargumen
bahwa bangsa-bangsa adalah komunitas imajiner yang tidak dapat mengatasi pelbagai
tantangan modern seperti efek Dogville (orang-orang asing dalam suatu komunitas
homogen), status legal dan politik dari pengungsi dan orang-orang yang tidak memiliki
kewarganegaraan, dan keharusan untuk menghadapi pelbagai masalah dunia seperti
perubahan iklim dan pandemik.[rujukan?] Pakar masa depan Paul Raskin telah membuat
hipotesis bahwa bentuk politik Global yang baru dan lebih absah dapat didasarkan pada
pluralisme yang dibatasi (connstrained pluralism).[rujukan?] Prinsip ini menuntun
pembentukan institusi-institusi berdasarkan tiga karakteristik: ireduksibilitas
(irreducibility), di mana beberapa isu harus diputuskan pada level global; subsidiaritas,
yang membatasi cakupan otoritas global pada isu-isu yang benar-benar bersifat global
sementara isu-isu pada skala yang lebih kecil diatur pada level-level yang lebih rendah;
dan heterogenitas, yang memungkinkan pelbagai bentuk institusi lokal dan global yang
berbeda sepanjang institusi-institusi tersebut memenuhi kewajiban-kewajiban global.
[rujukan?]

[sunting] PBB

(Artikel Utama: PBB) PBB adalah organisasi internasional yang mendeskripsikan dirinya
sendiri sebagai “himpunan global pemerintah-pemerintah yang memfasilitasi kerjasama
dalam hukum internasional, keamanan internasional, perkembangan ekonomi, dan
kesetaraan sosial”.[rujukan?] PBB merupakan institusi internasional yang paling terkemuka.
Banyak institusi legal memiliki struktur organisasi yang mirip dengan PBB.[rujukan?]