You are on page 1of 76

 

  LOGIKA MATEMATIKA

  Logika matematika meliputi: logika pernyataan atau proposisi


(propositional logic) suatu yang menelaah manipulasi antar
 
pernyataan dan logika penghubung atau predikat (predicate logic)
 
yang menelaah manipulasi hubungan relasioanal antara pernyataan
pertama dengan pernyataan kedua. Oleh karena itu logika
LOGIKA MATEMATIKA 
matematika adalah ilmu yang menelaah manipulasi antar pernyataan
  matematik (mathematical Statement). Namun sebelum melangkah
 
lebih jauh, kita perlu memahami terlebih dahulu pengertian
• Kalimat Terbuka – Tertutup 
• Negasi, Kata Penghubung  pernyataan dan pengertian penghubung. Berikut ini diberikan
• Penarikan Kesimpulan  definisi suatu pernyataan :
• Soal ‐ Soal 
Sebuah pernyataan atau proposisi adalah sebuah kalimat deklaratif
  yang mempunyai tepat satu nilai kebenaran, yaitu: ” Benar ” (B) saja
atau” Salah ” (S) saja, tetapi tidak sekaligus keduanya.
 

 
A. Pengertian
 
Logika matematika adalah pola berpikir berdasarkan penalaran dan
Disusun oleh:  dapat di uji kebenarannya secara matematika.

Muhammad Irfan,S.Si 


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
1. Kalimat terbuka Latihan
Kalimat terbuka adalah kalimat yang belum dapat di tentukan nilai 1. Diantara kalimat-kalimat berikut ini tentukan manakah yang
kebenarannya. Atau dengan kata lain kalimat yang masih merupakan pernyataan dan manakah yang merupakan
bervariabel. kalimat terbuka. Jika pernyataan tentukan nilai
Contoh kebenarannya.
a. 2x + 5 = 7 a. x + 5 > 0.
b. x2 + 1 = 10 b. x2 + 5 ≥ 0.
c. Jarak kota A dan kota B 200 km c. Satu windu sama dengan n tahun.
d. Usia A lebih muda dari B, dll. d. Bilangan asli merupakan himpunan bagian bilangan
bulat.
2. Pernyataan e. 2k + 1 merupakan bilangan ganjil, untuk k bilangan
Jika variabel pada kalimat terbuka diganti maka akan menjadi cacah.
pernyataan. Dan pernyataan tersebut dapat bernilai salah atau benar. f. 2k merupakan bilangan genap, untuk k bilangan real.
Contoh pernyataan g. Itu adalah benda cair.
a. 2 x 5 = 10 h. Dua kali bilangan asli adalah bilangan genap
b. 20 : 2 = 6 2. Diberikan kalimat terbuka berikut : x2 - 1 = 0 , x bilangan
c. Toni lebih muda dari Susi real. Tentukan Himpunan x agar kalimat itu menjadi suatu
Pernyataan a bernilai benar pernyataan.
Pernyataan b bernilai salah
Pernyataan c bisa benar atau salah B. Penghubung / Konektif (Connective)
Dalam logika matematika dikenal sebanyak 5 operator logika
(penghubung), yaitu: Negasi (Negation), Konjungsi (Conjunction),


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
Disjungsi (Disjunction), Implikasi (Implication) , Biimplikasi, bilangan prima bilangan prima
atau Ekuivalensi (Equivalence). (S) (B)
Semua binatang adalah Tidak semua binatang
1. NEGASI mahluk hidup adalah mahluk hidup
Negasi disebut juga ingkaran atau pengingkaran . Ingkaran dari (B) (S)
suatu pernyataan diperoleh dengan menambahkan” tidak benar”
di awal kalimat, atau dengan cara menyisipkan kata ” tidak” atau 2. KONJUNGSI
” bukan” pada pernyataan tersebut. Pada bagian sebelumnya telah dipelajari suatu pernyataan
tunggal. Namun selanjutnya akan dipelajari dua atau lebih
Misalkan p adalah adalah pernyataan pernyataan tunggal yang digabung dan disebut
Negasi p adalah: Untuk sembarang pernyataan p, negasi dari
p dilambangkan dengan ̂ dan dibaca “ bukan p” Suatu denganpernyataan majemuk. Konjungsi merupakan kata
pernyataan yang bernilai salah (S ) jika p benar (B), dan
penyambung antar beberapa pernyataan yang biasanya berupa
bernilai benar (B ) jika p salah (S)
kata “dan”. Kata penghubung “dan” pada perkataan majemuk
Berikut adalah tabel kebenaran pernyataan negasi dilambangkan dengan “ ” yang disebut Konjungsi. Konjungsi
p didefinisikan sebagai berikut :
B S
Konjungsi
S B Pernyataan majemuk p dan q disebut Konjungsi dari p dan q
dinyatakan dengan:

Contoh adalah sebuah pernyataan bernilai benar jika pernyataan p dan
q keduanya bernilai benar, dan bernilai salah jika salah satu p
Pernyataan : p Negasi (ingkaran) : atau q (keduanya) salah
Tiga puluh sembilan adalah Tiga puluh sembilan bukan


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
Tabel Kebenaran Konjungsi 3. DISJUNGSI
p q Disjungsi merupakan kata penghubung berupa kata “atau”
B B B dalam menghubungkan dua pernyataan menjadi kalimat
B S S majemuk. Kata penghubung “atau” pada pernyataan majemuk
S B S dilambangkan dengan “ ” yang disebut Disjungsi. Disjungsi
S S S didefinisikan sebagai berikut :

Disjungsi :
Pernyataan majemuk p dan q disebut Disjungsi dari p dan q
Contoh dinyatakan dengan:
”pVq”
Pernyataan : p Pernyataan : q
adalah sebuah pernyataan bernilai benar jika pernyataan p dan q
SMK 1 Sragen berada di Sragen termasuk ke B salah satu atau keduanya bernila benar, dan bernilai salah hanya
jika keduanya bernilai salah 
Kabupaten Sragen (B) dalam wilayah Jawa
Tengah (B)
Jumlah sudut dalam Besar sudut segitiga sama S Tabel Kebenaran Disjungsi

suatu segi tiga selalu sisi adalah 90o (S) p q

180o (B) B B B

Dua adalah bilangan Dua adalah bilangan S B S B

ganjil (S) prima (B) S B B

2 + 6 = 7 (S) 6 = 7 – 2 (S) S S S S


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
Contoh Sehingga dapat dinyatakan sebagai “ Jika p maka q ” atau
Pernyataan : p Pernyataan : q dilambangkan dengan “ ” suatu pernyataan majemuk
SMK 1 Sragen berada di Sragen termasuk ke dalam B yang disebut dengan Implikasi. Implikasi dari pernyataan p ke
Kabupaten Sragen (B) wilayah Jawa Tengah (B) pernyataan q dinyatakan dengan , ” ”, ialah sebuah
Jumlah sudut dalam suatu Besar sudut segitiga sama B pernyataan yang bernilai salah jika dan hanya jika p bernilai
o o
segi tiga selalu 180 (B) sisi adalah 90 (S) benar dan q bernilai salah. Pernyataan p disebut hipotesa
Dua adalah bilangan ganjil Dua adalah bilangan prima B (premis) dan pernyataan q disebut kesimpulan (konklusi).
Implikasi:
(S) (B) PernyataanImplikasi
Selanjutnya majemukdidefinisikan
p dan q disebut
sebagai berikut :(pernyataan
implikasi
bersyarat) adalah sebuah pernyataan majemuk yang
2 + 6 = 7 (S) 6 = 7 – 2 (S) S dilambangkan :
”p→q”
bernilai salah hanya jika hipotesa p bernilai benar dan konklusi q
4. IMPLIKASI (Proporsi Bersyarat) bernilai salah. Untuk kasus lainnya bernilai benar.
Untuk memahami implikasi, perhatikan uraian berikut ini.
Misalkan Boby berjanji pada Togar “Jika saya dapat medali
olimpiade sains-matematika nasional tahun ini maka aku akan Tabel Kebenaran Implikasi
membelikan kamu sepatu bola”. Janji Boby ini hanya berlaku p q
jika Boby mendapatkan medali olimpiade sains-matematika. B B B
Kalimat yang diucapkan Boby pada Togar dalam bahasa logika B S S
matematika dapat ditulis sebagai berikut : S B B
Jika p : dapat medali olimpiade sains-matematika nasional. S S B
Maka q : membelikan sepatu bola


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
Contoh Oleh karena itu nilai kebenaran biimplikasi p ⇔q dikatakan
Pernyataan : p Pernyataan : q bernilai benar jika p dan q mempunyai nilai kebenaran yang
SMK 1 Sragen berada di Sragen termasuk ke dalam B sama seperti yang diungkapkan pada definisi berikut ini :
Kabupaten Sragen (B) wilayah Jawa Tengah (B)
Jumlah sudut dalam Besar sudut segitiga sama S Biimplikasi:
Pernyataan majemuk p dan q disebut biimplikasi (pernyataan
suatu segi tiga selalu sisi adalah 90o (S) bersyarat dua arah) adalah sebuah pernyataan majemuk yang
dilambangkan :
180o (B)
”p⇔ q”
Dua adalah bilangan Dua adalah bilangan prima B bernilai benar jika p dan q mempunyai nilai kebenaran yang
sama.
ganjil (S) (B)  
2 + 6 = 7 (S) 6 = 7 – 2 (S) B

5. BIIMPLIKASI (EKUIVALENSI) Tabel Kebenaran Biimplikasi


Pernyataan p dan q apabila dirangkai dengan menggunakan p q
hubungan “Jika dan hanya jika“ Sehingga menjadi suatu B B B
kalimat yang dapat dinyatakan sebagai “p Jika dan hanya jika q B S S
” atau dilambangkan dengan : S B S
“ p ⇔q ” S S B
suatu pernyataan majemuk disebut dengan biimplikasi.
Pernyataan majemuk biimplikasi menyiratkan suatu gabungan
dari:
p ⇔q dan q⇔p


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
Contoh Nilai kebenaran
Nyatakan pernyataan berikut dengan symbol dan tentukan ABCD adalah persegi ABCD segi empat B
kebenarannya. yang sisinya sama
“ Irfan Bachdim adalah pemain Timnas dan tidak benar bahwa n adalah bilangan prima n habis dibagi 7 S
Jakarta adalah ibukota Indonesia atau SMK N 1 Sragen terletak di
SMK 1 Sragen terletak di Jawa Tengah S
Kabupaten Sragen”
Sragen adalah Kota yang ada di Yogyakarta
Penyelesaian:
Grafik bukan garis lurus B
Setiap pernyataan kita misalkan dengan symbol:
adalah fungsi yang tidak linier
p : Irfan Bachdim adalah pemain Timnas (B)
q : Jakarta adalah ibukota Indonesia (B)
C. TABEL KEBENARAN (Truth Table)
r : SMK N 1 Sragen terletak di Kabupaten Karanganyar (S)
Untuk mengevaluasi apakah sebuah pernyataan majemuk benar
Secara simbolik, pernyataan tersebut dapat dinyatakan sebagai
atau salah kita perlu table kebenaran dari kalimat penghubung
berikut:
yang ada dalam pernyataan tersebut. Untuk sembarang
        
pernyataan p dan q, rangkuman tabel kebenaran dari semua
Kemudian, untuk mencari nilai kebenaran dari pernyataan di atas
penghubung adalah sebagai berikut:
yaitu:
p q
(p ∧ q ) ∨ r ⇔ (B ∧ B ) ∨ S
B B S S B S B B
⇔ (B ∧ S ) ∨ S B S S B S S S S
⇔ S∨ S S B B S S S B S
⇔S S S B B S B B B
Jadi, pernyataan di atas bernilai salah.


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
DEFINISI p : Dua garis sejajar mempunyai titik potong
Misalkan P(x) merupakan sebuah pernyataan yang mengandung q : Nilai maksimal sinus suatu sudut adalah 1
variabel x dan D adalah sebuah himpunan. Kita sebut P sebuah fungsi
pernyataan (dalam D) jika untuk setiap x di D, P(x) adalah r : Syamsir Alam bukan pemain Tenis
pernyataan. Kita sebut D daerah asal pembicaraan (domain of Tentukan nilai kebenaran dari pernyataan – pernyataan
discourse) dari P.
berikut:
Contoh a.  
Berikut ini beberapa contoh fungsi pernyataan dan himpunan b.    
daerah asal : c.  
1. n 2 + 2n adalah bilangan ganjil, dengan daerah asal d.  
himpunan bilangan bulat. 3. Periksalah nilai kebenaran dari Implikasi berikut, jika salah
2. x 2 - x - 6 = 0 , dengan daerah asal himpunan bilangan real. berikan contoh kesalahannya.
3. Seorang pemain bisbol memukul bola melampaui 300 ft pada a. Jika x=2 maka 2 5 2 0
tahun 1974, dengan daerah asal himpunan pemain bisbol. b. Jika x = 90 maka sin cos 0

Soal Latihan
1. Tentukan ingkaran atau negasi dari setiap kalimat berikut:
a. Dua ratus tujuh belas adalah bilangan prima.
b. Diagonal ruang pada suatu kubuas ada 4 buah
c. Pulau Madura termasuk wilayah propinsi Jawa Timur.
d. 49 adalah bilangan kuadrat.

2. Diberikan pernyataan sebagai berikut:


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
D. KUANTOR Jadi untuk mengevaluasi sebuah pernyataan dalam bentuk
1. Kuantor Universal dan Kuantor Eksistensial simbulik dan memuat penghubung, kita harus menetapkan
daerah asal dari setiap variabelnya dan memberikan
DEFINISI
interpretasi (makna) terhadap fungsi dan penghubung yang
Misalkan P(x) adalah fungsi pernyataan dengan daerah
asal D. ada didalamnya.
1. Pernyataan ”untuk setiap x, P(x)” dikatakan
sebagai pernyataan kuantor universal dan secara
simbulik ditulis sebagai berikut " x; P(x) " 2. Negasi dari Pernyataan berkuantor
Simbul ” ” disebut kuantor universal (universal Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa negasi adalah
quantifier).
2. Pernyataan ”untuk beberapa x, P(x)” dikatakan ingkaran dari suatu pernyataan p yang dilambangkan dengan p
sebagai pernyataan kuantor eksistensial dan secara . Selanjutnya dapat dengan mudah dapat dirumuskan bahwa:
simbulik ditulis sebagai berikut " x; P(x) "
Simbul ” ” disebut kuantor eksistensial - Negasi dari sebuah kuantor universal pastilah kuantor
(existensial quantifier). eksistesial.
- Negasi dari kuantor eksistensial adalah kuantor universal.
Jadi pernyataan yang menggunakan kata “ semua” atau
“setiap” disebut pernyataan kuantor universal (umum) , Contoh:
sedangkan pernyataan yang menggunakan kata “Beberapa” Tentukan negasi dari kalimat yang berkuantor berikut:
atau “ada” kuantor eksistensial (khusus). Pernyataan untuk a.   , 1 0
setiap x, P(x) bernilai benar jika untuk setiap x  D, maka P(x) b.   , 1 0
bernilai benar. Pernyataan untuk beberapa x, P(x) bernilai Jawab:
benar jika terdapat sekurang kurangnya satu x  D sehingga a.   , 1 0 adalah pernyataan yang benar
P(x) bernilai benar. Negasi dari pernyataan tersebut adalah:


 
Logika Matematika  2010/2011 

 
  , 1 0 , 1 0 bernilai Pernyataan – pernyataan i, ii, iii, dan iv dapat ditulis sebagai
salah berikut:
b.   , 1 0 adalah pernyataan yang salah i. : disebut implikasi
Negasi dari pernyataan tersebut adalah: ii. : disebut konvers dari implikasi
  , 1 0  , 1 0 bernilai iii. : disebut invers dari implikasi
benar iv. : disebut kontraposisi dari implikasi

3. Hubungan Invers, Konvers, dan Kontraposisi Berikut adalah table kebenaran dari Konvers, Invers, dan
Untuk melihat hubungan antara implikasi dengan konvers, Kontraposisi.
invers dan kontraposisi perhatikan pernyataan implikasi Komponen Implikasi Konvers Invers Kontraposisi
berikut ini : p q
i. Jika Nena seorang mahasiswa maka Nena lulus SMA B B S S B B B B
Dari pernyataan implikasi ini, dapat dibuat B S S B S B B S
pernyataan baru: S B B S B S S B
ii. Jika Nena lulus SMA, maka Nena seorang mahasiswa S S B B B B B B
iii. Jika Nena bukan seorang mahasiswa, maka Nena Berdasarkan table kebenaran di atas, dapat disimpulkan
tidak lulus SMA bahwa:
iv. Jika Nena tidak lulus SMA, maka Nena bukan - Implikasi ekuivalen dengan kontraposisi
seorang mahasiswa - Konvers ekuivalen dengan Invers

10 
 
Logika Matematika  2010/2011 

 
4. Dua Pernyataan Majemuk yang Ekuivalen Jawab:
Perhatikan contoh kalimat berikut: p q
p : Markus tidak malas B B S B B B
q : Markus giat berlatih B S S S S B
Dari pernyataan di atas, akan dibuat kalimat majemuk sebagai S B B B B B
berikut: S S B B B B
a: Markus tidak malas maka Markus giat berlatih :   Dari tabel dapat disimpulkan bahwa    
bernilai B Coba kita perhatikan kolom ke-6 pada table tersebut. Pada
b: Markus malas atau Markus giat berlatih :   kolom tersebut selalu bernilai benar untuk setiap
bernilai B kemungkinan nilai kebenaran dari pernyataan komponen
Dari pernyataan a dan b dapat dibentuk biimplikasinya: yang ada. Pernyataan majemuk tersebut disebut Tautologi
  (benar logis). Tautologi yang berbentuk
      disebut Ekuivalen Logis ditulis dengan lambang
Contoh dibaca (a ekuivalen b)
Dengan menggunakan tabel kebenaran, tunjukkanlah bahwa Sedangkan untuk setiap kemungkinan nilai kebenaran dari
pernyataan   ekuivalen dengan pernyataan   pernyataan komponen yang bernilai salah pernyataan
majemuk tersebut disebut Kontradiksi.
Tautologi:
Sebuah pernyataan dikatakan bernilai Tautologi (valid), jika
pernyataan tersebut bernilai benar terhadap setiap pemberian
nilai kebenaran bagi setiap variabelnya.

11 
 
Logika Matematika  2010/2011 

 
Kontradiksi: Jawab:
Sebuah pernyataan dikatakan bernilai Kontradiksi, jika
pernyataan tersebut bernilai salah terhadap setiap pemberian
nilai kebenaran bagi setiap variabelnya. B B B S S B
B S S B B B
Contoh
S B B S B B
Tunjukkan bahwa adalah tautology dan adalah
S S B S B B
kontradiksi
Dapat disimpulkan bahwa pernyataan adalah
Jawab
tautology
Latihan
B S B S
1. Tentukan konvers, invers, dan kontraposisi dari
S B B S
pernyataan berikut:
Dari table tersebut dapat kita simpulkan bahwa adalah
a. Jika Timnas juara AFF Cup, maka Timnas punya
Tautologi dan adalah Kontradiksi.
piala.
b. Jika Ryan seorang mahasiswa, maka Ryan lulus
Contoh
SMA.
Tunjukkan bahwa pernyataan adalah
c. Jika bilangan ganjil, maka  1 adalah
tautology
bilangan genap.
2. Tentukan negasi dari setiap pernyataan berkuantor
berikut ini:
a. Setiap bilangan bulat adalah bilangan real.
b. Terdapat bilangan real sehingga 4 0

12 
 
Logika Matematika  2010/2011 

 
c. Ada siswa di kelas ini yang suka bercanda. ii. Misalkan hipotesa yang diketahui adalah a dan b
d. Semua segitiga sama sisi mempunyai sudut 60 . sedangkan kesimpulannya adalah c, Argumen yang
3. Tunjukkan bahwa pernyataan berikut adalah tautology: berlaku atau sah:
a.
b. iii. Argumen dikatakan berlaku atau syah:
c. Jika hipotesa-hipotesanya benar maka kesimpulannya
juga benar.
5. Silogisme, Modus Tollens, dan Modus Ponens
Silogisme Modus Ponens dan Modus Tollens adalah metode
atau cara yang digunakan dalam menarik kesimpulan. Proses
penarikan kesimpulan terbagi atas beberapa hipotesa yang B B B B B B B B
diketahui nilai kebenarannya yang kemudian dengan B B S B S S S B
menggunakan prinsip-prinsip logika diturunkan suatu B S B S B B S B
kesimpulan (konklusi). Penarikan kesimpulan ini disebut B S S S B S S B
dengan argumentasi. S B B B B B B B
Prinsip-prinsip logika yang digunakan untuk menarik suatu
S B S B S B S B
kesimpulan adalah sebagai berikut :
S S B B B B B B
i. Argumen dikatakan berlaku atau sah:
S S S B B B B B
Jika konjungsi dari hipotesa-hipotesanya berimplikasi
iv. Argumen disusun dengan cara menuliskan hipotesa -
dengan kesimpulan
hipotesanya barus demi baris kemudian dibuat garis

13 
 
Logika Matematika  2010/2011 

 
mendatar dan kesimpulan diletakkan baris paling Contoh
bawah sebagai berikut : Tentukan kesimpulan dari argument berikut:
a hipotesa 1 Hipotesa 1 : Jika n bilangan ganjil maka n2 ganjil.
b hipotesa 2 Hipotesa 2 : Jika n2 ganjil maka n2+1 genap.
kesimpulan Jawab:
Tanda “ “ dibaca “Jadi c” atau “Oleh karena Hipotesa 1 : Jika n bilangan ganjil maka n2 ganjil.
p q
itu…”. 2 2
Hipotesa 2 : Jika n ganjil maka n +1 genap.
q r
Kesimpulan: .
1. Silogisme
Jadi, kesimpulannya adalah: Jika n bilangan ganjil maka
Proses penarikan kesimpulan yang menggunakan sifat
n2+1 genap
menghantar dari pernyataan implikasi, yaitu dilakukan
dengan cara menyusun baris – baris:
2. Modus Ponens
hipotesa 1
Proses penarikan kesimpulan yang menggunakan sifat
hipotesa 2
menghantar dari pernyataan implikasi, yaitu dilakukan
kesimpulan
dengan cara menyusun baris – baris:
Dalam bentuk implikasi, silogisme dapat ditulis menjadi:
hipotesa 1
hipotesa 2
Silogisme dikatakan sah jika nilai dari bentuk implikasi
kesimpulan
tersebut merupakan tautologi
Dalam bentuk implikasi, modus ponens dapat ditulis
Berikut ini adalah table kebenarannya.
menjadi:

14 
 
Logika Matematika  2010/2011 

 
Modus Ponens dikatakan sah jika nilai dari bentuk 3. Modus Tollens
implikasi tersebut merupakan tautologi Proses penarikan kesimpulan yang menggunakan sifat
Berikut ini adalah table kebenarannya. menghantar dari pernyataan implikasi, yaitu dilakukan
dengan cara menyusun baris – baris:
B B B B B hipotesa 1
B S S S B hipotesa 2
S B B S B kesimpulan
S S B S B Dalam bentuk implikasi, modus tollens dapat ditulis
menjadi:
Contoh Modus Tollens dikatakan sah jika nilai dari bentuk
Tentukan kesimpulan dari argument berikut: implikasi tersebut merupakan tautologi
Hipotesa 1 : Jika n bilangan ganjil maka n2 ganjil. Berikut ini adalah table kebenarannya.
Hipotesa 2 : n bilangan ganjil.
Jawab: B B S B S S B
Hipotesa 1 : Jika n bilangan ganjil maka n2 ganjil. B S B S S S B
p q
S B S B S B B
Hipotesa 2 : n bilangan ganjil.
p S S B B B B B
Kesimpulan: .
Jadi, kesimpulannya adalah: n2 ganjil
Cara lain untuk menunjukkan sah atau tidaknya sebuah
Modus Tollens adalah dengan mengambil kontaposisi
dari argument sebagai berikut:

15 
 
Logika Matematika  2010/2011 

 
c. Hipotesa 1 : Jika 0 maka 0 .
Kontraposisi:  Hipotesa 2 : Jika 0 maka . 0
d. Hipotesa 1 : Jika √ . √ √ maka √ . √ √ .
Contoh
Hipotesa 2 : Jika √ . √ √ .maka 0
Tentukan kesimpulan dari argument berikut:
e. Hipotesa 1 : Jika 4 0 maka 0.
Hipotesa 1 : Jika n bilangan ganjil maka n2 ganjil.
Hipotesa 2 : 0
Hipotesa 2 : n2 tidak ganjil.
Jawab:
2. Periksalah keabsahan dari setiap argument berikut:
Hipotesa 1 : Jika n bilangan ganjil maka n2 ganjil.
p q a. hipotesa 1
Hipotesa 2 : n2 tidak ganjil. hipotesa 2
Kesimpulan: . kesimpulan
Jadi, kesimpulannya adalah: n bilangan tidak ganjil
b. hipotesa 1
hipotesa 2
Latihan kesimpulan
1. Tentukan kesimpulan dari argument berikut ini:
a. Hipotesa 1 : Jika kena hujan aku basah.
Hipotesa 2 : Aku basah
b. Hipotesa 1 : Jika Yongki mencetak gol maka Yongki
akan melakukan selebrasi.
Hipotesa 2 : Yongki tidak mencetak gol.

16 
 
  A. Macam – macam Matriks 

  1. Pengertian Matriks 
Matriks  adalah  susunan  elemen  –  elemen  yang  berbentuk  persegi 
 
atau  persegi  panjang  dengan  dibatasi  oleh  tanda  kurung  “(  )”  atau 
  kurung siku “[ ]”. Elemen – elemen tersebut bias berbentuk bilangan 
ataupun huruf. Nama suatu matriks dinotasikan dengan huruf capital, 
MATRIKS  sedangkan elemen – elemennya menggunakan huruf kecil. 

 
   
• Macam – macam Matriks 
• Operasi pada Matriks   adalah elemen pada baris pertama kolom pertama. 
• Determinan dan Invers pada Matriks   adalah elemen pada baris pertama kolom kedua. 
• Menyelesaikan Sistem Pers. Linier 
 adalah elemen pada baris kedua kolom pertama. 
• Soal ‐ Soal 
 adalah elemen pada baris ke‐m kolom ke‐n. 
 
 
  Matriks    adalah  matriks  A  dengan  m  baris  dan  n  kolom.  Mxn 

  disebut juga dengan ukuran suatu matriks atau biasa dikenal dengan 
nama ordo suatu matriks. 
 
 
Disusun oleh:  Contoh 1 

Muhammad Irfan,S.Si  Tentukan ordo dari matriks berikut: 
1 3
, 2 1 2 
  2 4
Matriks  A  mempunyai  ordo  2x2  karena  mempunyai  2  baris  dan  2 
 
kolom. Sedangkan B ber‐ordo 1x3. 
 
 
17 
 
2. Macam – macam Matriks  d. Matriks Kolom 
a. Matiks Nol  Matriks kolom adalah matriks yang hanya terdiri dari satu kolom. 
Matriks Nol adalah matriks dimana semua elemennya bernilai nol.  Contoh 5 
Contoh 2  3
2  
0 0 0 0 0
,   1
0 0 0 0 0
 
 
e. Matriks Baris 
b. Matriks persegi (bujur sangkar) 
Matriks kolom adalah matriks yang hanya terdiri dari satu kolom. 
Matriks  persegi  adalah  matriks  yang  jumlah  baris  sama  dengan 
Contoh 6 
jumlah kolom. 
3 2 1 
Contoh 3 
 
2 1 4
2 4
, 6 4 2   f. Matriks Diagonal 
5 0
9 7 8
Matriks  diagonal  adalah  matriks  yang  semua  elemennya  bernilai 
 
nol kecuali pada diagonal utama tidak nol semuanya. 
c. Matriks persegi panjang 
Contoh 7 
Matriks  persegi  panjang  adalah  matriks  yang  jumlah  kolomnya 
0 0
0
tidak sama dengan jumlah baris.  , 0 0  
0
Contoh 4  0 0
 
2 3 7
 
4 1 9 g. Matriks Identitas 
  Matriks  identitas  adalah  matriks  persegi  yang  elemen  pada 
  diagonal utamanya bernilai 1 dan lainnya bernilai 0. 
  Contoh 8 
  0 0
0
, 0 0  
  0
0 0
 
18 
 
  2 4 2 6 9
3 1 1 4 7  
  7 9 4 2 8
h. Matriks Segitiga   
• Matriks Segitiga Atas  3. Kesamaan Dua Buah Matriks 
Matriks  segitiga  atas  adalah  matriks  yang  elemen‐elemen  di  Dua  matriks  dikatakan  sama,  apabila  mempunyai  ordo  sama  dan 
bawah diagonal utama seluruhnya nol.  elemen‐elemen  yang  seletak  (bersesuaian)  dari  kedua  matriks 
Contoh 9  tersebut sama. 
1 8 10  
4 7
, 0 6 5  
0 1 Contoh 12 
0 0 11
  4 0 4 0 0 4
, ,  
10 1 10 1 1 10
• Matriks Segitiga Bawah 
Matriks  A=B  karena  ordo  dan  elemen‐elemen  seletak  sama.  A C 
Matriks  segitiga  atas  adalah  matriks  yang  elemen‐elemen  di 
karena elemen – elemen seletaknya tidak sama. 
atas diagonal utama seluruhnya nol. 
 
Contoh 10 
Contoh 13 
1 0 0
4 0 Tentukan nilai x, y dan z dari persamaan matriks beerikut! 
, 10 6 0  
10 1
9 8 11 2 6 8 6
,  
  2 2

i. Matriks Transpose     

Matriks transpose didapat dari menukar baris menjadi kolom dan  Penyelesaian: 

kolom menjadi baris.   
2 6 8 6
Contoh 11    
2 2
Tentukan    Didapatkan: 
2 1 4
2 3 7 • 2 8 … pers.1  
, 6 4 2  
4 1 9
9 7 8 • 2  

19 
 
2 0   
  B. Operasi pada Matriks 
0 di substitusikan ke dalam pers.1 menjadi:  1. Penjumlahan dan Pengurangan Matriks 
2 8  Dua buah Matriks dapat dijumlahkan maupun dikurangkan jika kedua 
2 0 8  buah  matriks  tersebut  mempunyai  ordo  yang  sama.  Hasil  jumlah 
  ataupun  selisih  didapat  dengan  cara  menjumlahkan  atau 
• 2  mengurangkan  elemen‐elemen  yang  seletak  dari  kedua  matriks 
4 2   tersebut. 
   
  Contoh 14 
  Diketahui: 
  LATIHAN 5 4 2 2 5 5 3 1
, ,  
1. Tentukan nilai x, y, dan z dari persamaan matriks di bawah ini.  1 6 1 6 5 3 4 1

2 3 6  
3 2
a.  
2 5 30 3 30 5 2 4 5 2 5 3 9 7
 
1 6 2 10 1 6 6 5 1 3 5 11 4
b.  
2 0 3 0  
  5 2 4 5 2 5 7 1 3
 
2. Tentukan nilai a, b, c, d, dan e dari persamaan matriks di bawah ini.  1 6 6 5 1 3 7 1 2
4 1 5 2 5   tidak  dapat  dijumlahkan  maupun  dikurangkan,  karena  ordo 
6 8 3 2 2 8  kedua matriks tersebut tidak sama. 
2 2 3 2 3
   

1 0   Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita
0 1 1
bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi
3. Jika  1 0 0 0 3     dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita
0 1 1 2 0 1 belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.
 
Tentukan w, x, y, dan z! 
 
20 
 
Sifat – sifat Penjumlahan dan Pengurangan Matriks  Penyelesaian: 
1.    sifat assosiatif  2  
2.        sifat komutatif  2 4 2 4 2
2  
1 0 4 1 8
3.      sifat distributive 
2 4 2 2 4
2  
4.     4 1 8 1 0
2 1 2 6
5. terdapat matriks X sedemikian sehingga A+X=B.       
4 2 2 8
      2 1 3
 
2. Perkalian Matriks  4 1 4

a. Perkalian Matriks dengan scalar (k)  Dari persamaan matriks di atas didapat: 

Misalkan A merupakan sebuah matriks dan k sebuah scalar, maka  1; 1; 2 3 1 
 
kA  adalah  sebuah  matriks  yang  didapat  dengan  cara  mengalikan 
Contoh 17 
setiap elemen matriks A dengan scalar k. 
Tentukan matriks X yang memenuhi persamaan berikut: 
 
7 5 3 1
Contoh 15  2  
9 1 5 1
1 3  
Diketahui   maka 
6 2
4.1 4. 3 4 12 Penyelesaian: 
4   
4.6 4.2 24 8 7 5 3 1
2  
  9 1 5 1
3 1 7 5
Contoh 16  2  
5 1 9 1
Tentukan nilai a, b, c jika diketahui  10 6
2  
2 4 2 4 2 14 0
  , ,   sehingga  5 3
1 0 4 1 8  
7 0
berlaku P‐2Q=R. 
Untuk setiap matriks A dan B yang berordo sama dan untuk setiap 
 
scalar  k1  dan  k2  dan  AB  terdefinisi,  berlaku  sifat  –  sifat  perkalian 
 
matriks dengan scalar sebagai berikut: 
21 
 
a.   Penyelesaian: 
b.   Matriks  A  berordo  2x2  dan  B  berordo  2x3,  maka  hasil  kali  A.B 
c.   adalah matriks yang berordo 2x3. 
d.   1 1 1 0 1
.  
e.   2 0 2 2 0
 
f.  
  =  1.0 1 . 2 2  adalah  elemen  baris  ke‐1  dan  kolom 
 
ke‐2 dari matriks A.B. Diperolah dengan cara mengalikan elemen – 
b. Perkalian Matriks dengan Matriks 
elemen baris ke‐1 matriks A dengan elemen – elemen kolom ke‐2 
Dua buah matriks A dengan ordo mxn dan matriks B dengan ordo 
matriks  B,  kemudian  menjumlahkannya.  Demikian  seterusnya 
pxq, hasil kali antara A dan B adalah sebuah matriks C = A.B yang 
untuk mengisi kotak kotak tersebut. 
berordo  mxq,  dengan  syarat  n=p.  Didapatkan  dengan  cara 
 
mengalikan  setiap  elemen  baris  matriks  A  dengan  elemen  kolom 
1 1 1 0 1
matriks  B.  Dua  buah  matriks  tidak  dapat  dikalikan  jika  dan  hanya  .  
2 0 2 2 0
jika  , mengakibatkan A.B tak terdefinisi.   
Perhatikan gambar berikut:  1.1 1 .2 1.0 1 . 2 1. 1 1 .0
.  
Matriks A    Matriks B  2.1 0.2 2.0 0. 2 2. 1 0.0
 
baris  kolom    baris  kolom 
1 2 1
  .  
2 0 2
Baris matriks A=kolom matriks B,matriks dapat dikalikan   
 
Hasil kali kedua matriks dengan ordo baris matriks A x kolom matriks B   
 
 
 
Contoh 19 
Contoh 18 
2 1 2 1 1
1 1 1 0 1 Diketahui    dan  serta  .  Tentukan  A.B 
Diketahui   dan   Tentukan A.B  2 3 2 1 2
2 0 2 2 0
dan A.C serta C.A 
 
22 
 
  Jumlah yang harus dibayarkan oleh Ibu Fira dan Ibu Ira adalah 
Penyelesaian:  7000
5 4 3
8000  
2 1 2 2.2 1 . 2 6 10 8 2
.   9000
2 3 2 2.2 3. 2 2
5.7000 4.8000 3.9000 94.000
  
2 1 1 1 2.1 1 . 1 2.1 1 .2 10.7000 8.8000 2.9000 152.000
.  
2 3 1 2 2.1 3. 1 2.1 3.2 Jadi,  jumlah  yang  harus  dibayar  Ibu  Fira  adalah  Rp.  94.000,‐  dan  Ibu  Ira 
3 0
.   adalah Rp. 152.000,‐. 
1 8
1 1 2 1 1.2 1.2 1. 1 1.3  
.   Jadilah orang yang
1 2 2 3 1 . 2 2.2 1 . 1 2.3   CERDAS.
4 2
.     Comperhensive (think)
2 7
Emphatic (heart)
Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa  . .  (perkalian tidak   
Religius (Views)
komutatif)    Dicipline (time)
Active (move on)
   
Social (responbility)
Contoh 20   
 
LATIHAN
Ibu Fira berbelanja di Toko “ASA” sebanyak 5 kg beras dengan harga Rp. 
2 1 2 2 3 1
7.000,‐  per  kg,  4  kg  terigu  dengan  harga  Rp.  8.000,‐  per  kg,  dan  3  liter  1. Diketahui  , ,  
1 5 1 3 5 3
minyak  goreng  dengan  harga  Rp.  9.000,‐  per  liter.  Sedangkan  Ibu  Ira 
Tentukanlah: 
berbelanja di Toko yang sama dan barang yang sama dengan kuantitas 10 
a) .   c)  
kg beras, 8 kg terigu, dan 2 liter minyak goreng. 
b)   d)  
Sederhanakan  persoalan  di  atas  dalam  bentuk  perkalian  matriks  dan  e) Tunjukkanlah bahwa  . .  
tentukan jumlah yang harus dibayar oleh ibu Fira dan Ira.  2. Tentukanlah matriks X dari persamaan matriks berikut: 
Penyelesaian:  3 5 1 3
a. 4  
Dari soal di atas, jika disajikan ke dalam benuk matriks sebagai berikut:  5 4 7 12
0 2 2 4
7000 b. 4 2  
5 4 3 8 4 10 8
8000   ket: F = Ibu Fira, dan I = Ibu Ira. 
10 8 2
9000
23 
 
4 6 7 0 4 3
Misalkan  ,  maka  determinan  matriks  A  adalah  det
c. 2 6 4 2 2 0 5 
0 2 2 8 2 4
 
 
4 3 Contoh: 
3. Diketahui  ,  carilah  2 4 5   (I  matriks 
1 2 2 1
Tentukan determinan dari   
identitas)  4 3
4. Tentukan nilai a,b,c, dan d dari persamaan matriks berikut:  Penyelesaian: 

3 2 1 2 1 0 3 2 1
a.   det 2. 3 1. 4  
3 2 2 3 2 4 5 4 3
  6 4 2 

2 3 2 2 5 3 0 6  
b. 2  
4 2 1 2 4 5 Contoh 21 
  2
Jika   2 1 . Tentukanlah nilai x. 
9 5
6 1 0 14 17
5. Diketahui  4 1  Tentukanlah x,y, dan z!!!! 
3 5 4 21 2 Penyelesaian: 
4
2
6. Kim membeli 8 buku dengan harga @Rp. 3.000,‐, 12 pensil dengan harga  2 1 
9 5
@Rp. 2.500,‐, dan 5 pulpen dengan harga @Rp. 2.000,‐. Sedangkan Okto  2 .5 .9 2 1 
membeli barang yang sama dengan kuantitas 1 lusin buku, 8 pensil, dan  2 1 
2  pulpen.  Sederhanakan  persoalan  di  atas  dalam  bentuk  perkalian  1 
matriks  dan  tentukan  jumlah  uang  yang  harus  dibayar  oleh  Kim  dan   
Okto.  2. Determinan Matriks ordo 3x3 
 
Misalkan   maka  
C. Determinan Suatu Matriks 
1. Determinan Matriks ordo 2x2 
det | |  

24 
 
Ada  banyak  sekali  cara  untuk  menghitung  determinan  matriks  ordo  1 2 1 1 2
| | 1 2 1 1 2 
3x3.  Akan  tetapi,  metode  yang  paling  banyak  digunakan  adalah  2 1 2 2 1
dengan aturan Sarrus. Langkah‐langkahnya sebagai berikut:  | | 1.2.2 2.1.2 1.1.1 1.2.2 1.1.1 2.1.2 
a. Letakkan kolom pertama dan kedua di sebelah kanan garis vertikal  | | 4 4 1 4 1 4 0 
dari determinan.   
b. Jumlahkan  hasil  kali  unsur‐unsur  yang  terletak  pada  diagonal  Contoh 23 
utama  dengan  hasil  kali  unsur‐unsur  yang  sejajar  diagonal  utama  1 1 3
Jika diketahui determinan matriks  1 2 4  adalah 5. Tentukan 
pada  arah  kanan,  kemudian  dikurangi  dengan  hasil  kali  unsur‐ 3 2 5
unsur yang terletak sejajar dengan diagonal samping.  nilai X. 
Perhatikan skema berikut:  Penyelesaian: 
1 1 3 1 1
| | 1 2 4 1 2 
3 2 5 3 2
| | 1 . 2.5 1.2.5 1. 4 .3 3. 1 .2 3.2.3
1 . 4 .2 1. 1 . 5 
| | 1 10 10 12 6 18 1 8 5 
 
| | 12 19 
 
| | 5 
det . . . . . . . .
12 19 5 
. . . .  
  12 5 19 
 
24
Contoh 22  2 
12
1 2 1
Tentukan determinan  1 2 1 .   
2 1 2
 
Penyelesaian: 
 

25 
 
3. Minor, Kofaktor, dan Adjoin  1 1 2 2 
Jika A adalah matriks persegi, maka minor elemen aij dinyatakan oleh   
Mij  dan  didefinisikan  sebagai  determinan  submatriks  yang  tinggal  Matriks kofaktornya adalah 
setelah  baris  ke‐I  dan  kolom  ke‐j  dicoret  dari  A.  Bilangan  (‐1)i+j  Mij  4 5
 
1 2
dinyatakan oleh Cij yang disebut kofaktor elemen aij. 
 
Jika  A  adalah  sembarang  matriks  persegi  dan  Cij  adalah  kofaktor  aij, 
Adjoin  dari  matriks  kofaktor  adalah  transpose  dari  matriks  kofaktor, 
maka matriks 
sehingga 
4 5 4 1
   
1 2 5 2
 
Disebut matriks kofaktor dari A. Transpose matriks ini disebut adjoin  Contoh 25 
dari A dan dinyatakan dengan Adj (A).  1 2 1
  Tentukan minor,matriks kofaktor, dan adjoin dari  2 1 2  
2 1 1
Contoh 24 
Penyelesaian: 
2 1
Tentukan minor, matriks kofaktor, dan adj (A) dari  .  Minor matriks tersebut adalah: 
5 4
Penyelesaian:  1 2
1 .1 2.1 3 
1 1
Minor matriks A adalah  2 2
2.2 2.1 2 
4  1  2 1
2 1
5 2  2.1 2. 1 4 
2 1
  2 1
2.1 1.1 1 
Kofaktor dari matriks A adalah  1 1
1 1
1 1 4 4  1.1 2.1 1 
2 1
1 1 5 5  1 2
1.1 2.2 3 
2 1
1 1 1 1 
2 1
2.2 1 .1 5 
1 2
26 
 
1 1 D. Invers Suatu Matriks 
1.2 2.1 0 
2 2
Jika  A  dan  B  adalah  matriks  persegi  yang  berordo  sama,  sedemikian 
1 2
1. 1 2.2 5 
2 1 sehingga hasil kali AB = BA = I, dengan I matriks identitas, maka B adalah 
  invers dari A dan sebaliknya, yaitu B = A‐1 atau A = B‐1.  
Kofaktor dari minor‐minor tersebut adalah:  Jika A adalah matriks persegi, maka invers dari matriks A adalah: 
1 3 1 4 
 
1 2 
1 1 1 3   

1 1  Contoh 26 
1 5 1 5  Tentukan invers dari   
1 0 
Penyelesaian: 
 
det | |  
Matriks kofaktornya adalah 
3 2 4 Minor A adalah 
1 1 3   | | | |  
5 0 5
| | | |  
 
Kofaktor dari A adalah 
Adjoin  dari  matriks  kofaktor  adalah  transpose  dari  matriks  kofaktor, 
 
sehingga 
 
3 2 4 3 1 5
1 1 3 2 1 0   Matriks kofaktor   sedangkan matriks adjoin adalah 
5 0 5 4 3 5
   
 
Jadi, invers matriks A adalah 
 
 
 
 
27 
 
Contoh 27  5 7 4 7 20 21 35 35 1 0
.  
3 4 3 5 12 12 21 20 0 1
Tentukan invers dari  
Karena  . .   maka  terbukti  bahwa  kedua  matriks  tersebut 
2 2 1 2 1
a.   saling invers. 
1 2 b. 2 1 2 
2 1 1  
 
 
NOTE: 
Penyelesaian: 
 
a. Matriks yang mempunyai invers adalah matriks yang nilai 
a. Det(A) = 2.(‐2) ‐ 1.(‐2) = ‐4 – (‐2) = ‐2 
 
1 1 determinannya  0, matriks seperti ini disebut matriks 
1 1 2 2 1    
nonsingular. Sedangkan matriks yang harga 
det 2 1 2 1
2  
determinannya = 0 disebut matriks singular. 
 
 
b. Invers suatu matriks jika ada dan tunggal, berlaku: 
b. 1. 1 .1 2.2.2 1.2.1 1. 1 .2 1.2.1 2.2.1 
 
•  
1 8 2 2 2 4 5 
 
3 1 •  
1  
5 5
1 1 3 1 5 2 1  
2 1 0 0  
det 5 5 5
4 3 5 Contoh 29 
4 3
1
5 5 Manakah yang termasuk matriks singular dan nonsingular 
*) matriks adjoin A  berasal dari contoh 25  2 4 4 1
   
  3 6 2 3
Penyelesaian: 
Contoh 28 
2.6 3.4 12 12 0  (matriks singular) 
4 7 5 7
Dari  ,  tunjukkan  bahwa  kedua  matriks 
3 5 3 4 4.3 2.1 12 2 10 (matriks nonsingular) 
tersebut saling invers!   
Penyelesaian:   
4 7 5 7 20 21 28 28 1 0
.    
3 5 3 4 15 15 21 20 0 1
 
28 
 
  4. Tentukan invers dari matriks di bawah ini: 
  1 2 1 1 0
LATIHAN a.
2 3
 
e. 0 2 1  
  1 2 1
5 2
b.  
1. Tentukan determinan matriks berikut:  9 2 1 2 3
2 8 f. 1 0 4  
1 2 1 1 0 c.  
a.   0 5 3 2 4
2 3 e. 0 2 1  
1 2 1 1 2 3
5 2 √3 2
b.   d.   g. 1 2 1  
9 2 1 2 3 √6 √3 1 2 2
2 8 f. 1 0 4  
c.   3 2 4  
0 5
1 2 3 5. Manakah yang termasuk matriks singular dan nonsingular! 
√3 2
d.   g. 1 2 1  
√6 √3 1 2 2 1 2 2 3
a.   c.  
2 3 3 5
 
2 2 √3 3
b.   d.  
2. Tentukan nilai X dari persamaan berikut:  1 2 √2 √6
1 2 1 2  
a. 0  
2 3 c. 2 1 1 2 5 
4 0 5 1 2 1 1
2 3 6. Diketahui  ,  tentukan: 
b. 7   2 3 1 2
5 4 2
d. 0 1 1 2  a.   d. .  
0 0 1 b.   e. Apakah  . ? 
 
c.   f. Apakah  . ? 
3. Tunjukkan bahwa kedua matriks di bawah ini saling invers. 
 
3 5 3 5 4 3 1 3
a.   c.    
2 3 2 3 1 1 1 4
3 7 9 7 6 5 4 5  
b.   d.  
4 9 4 3 5 4 5 6
 
 
 
 
 
 
 
29 
 
E. Menyelesaikan Sistem Persamaan Linier  4 5 2
Sistem  persamaan    jika  dibuat  dalam  bentuk  matriks 
3 4 4
Sistem  persamaan  linier  dua  ataupun  tiga  variable  selain  menggunakan 
4 5 2
eliminasi  dan  substitusi  juga  dapat  digunakan  invers  dan  kaidah  Cramer  menjadi  . Untuk mencari nilai X, maka: 
3 4 4
untuk  mencari  himpunan  penyelesaiannya.  Langkah  –  langkah  untuk 
.  
mencari  himpunan  penyelesaian  system  persamaan  linier  dengan 
1 4 5 1 4 5 4 5
menggunakan invers adalah sebagai berikut:   
4.4 3 . 5 3 4 1 3 4 3 4
• Ubahlah system persamaan ke dalam bentuk matriks.  4 5 2 8 20 12
 
3 4 4 6 16 10
• Nyatakan  bentuk  tersebut  kedalam  perkalian  matriks  koefisien 
Jadi,  himpunan  penyelesaian  dari  system  persamaan  tersebut  adalah 
dengan matriks variabelnya. 
{12,10}. 
 
 
 
Di  samping  menggunakan  cara  invers,  dapat  juga  digunakan  aturan 
 
Cramer. Jika A.X = C adalah matriks system persamaan linier yang terdiri 
atas  n  persamaan  linier  dan  n  variable  yang  tidak  diketahui,  sehingga 
Persamaan matriks A.X = C 
det 0,  maka  system  tersebut  mempunyai  penyelesaian  yang  unik 
• Kalikan kedua ruas dengan invers A: 
(tunggal). Penyelesaian tersebut adalah: 
. . .  
det det det
. .   , ,…,  
det det det
.  
Dimana   adalah matriks yang didapat dengan cara mengganti elemen – 
 
elemen  di  dalam  kolom  ke‐j  dari  A  dengan  elemen  elemen  di  dalam 
Contoh 30: 
Tentukan nilai x dan y dari system persamaan  matriks  .  
4 5 2 
 
3 4 4 
 
Penyelesaian: 
 

30 
 
Contoh 31:  1 0 2 7
Bentuk perkalian matriknya adalah  3 4 6 7   ,didapat: 
Gunakan  aturan  Cramer  untuk  mencari  himpunan  penyelesaian  dari  1 2 3 12
system persamaan berikut:  1 0 2
3 4 6 , det 12 0 12 8 12 0 44 
3 5 11 
1 2 3
2 3  7 0 2
Penyelesaian:  7 4 6 , det 84 0 28 96 84 0 44 
12 2 3
3 5 11 1 7 2
Bentuk  perkalian  matriksnya  adalah  ,  dari  bentuk  ini 
2 1 3 3 7 6 , det 21 42 72 14 72 63 88 
didapat:  1 12 3
3 5 1 0 7
; det 3.1 2. 5 13  3 4 7 , det 48 0 42 28 14 0 132 
2 1
1 2 12
11 5
; det 11.1 5 .3 26 
3 1  
3 11 det 44 det 132
; det 3.3 2.11 13  1; 3 
2 3 det 44 det 44
Sehingga, 
det 88
det 26 2 
det 44

det 13  
det 13
1   
det 13
 
Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {2,‐1}. 
 
 
 
Contoh 32: 
  Tentukan matriks P dari persamaan: 
Tentukan x, y, dan z dari system persamaan dengan aturan Cramer: 
2 3 4 0
  .  
7  3 5 1 2
   
3 4 6 7 
*) gunakan  .  
2 3 12   

Penyelesaian:   
31 
 
Contoh 33:  2. Gunakan  kaidah  Cramer  untuk  menentukan  himpunan  penyelesaian 
Harga  3  baju  dan  2  kaos  adalah  Rp.  280.000,‐.  Sedangkan  harga    1  baju  berikut: 
dan 3 kaos adalah Rp. 210.000,‐. Tentukan harga 5 kaos dan 6 baju.!!!  a. 8 2 ; 5 31 3  
Penyelesaian:  b. 3 8 ; 2 2 4 
Misalkan, harga baju adalah x dan harga kaos adalah y. diperoleh:  c. 3 10 
3 2 280.000  2 4 
3 210.000  4 3 5 
Dari system persamaan tersebut, jika dibuat dalam bentuk matriks:  d. 1 
3 2 280000 4 
 
1 3 210000 1 
.  
3. Tentukan matriks X yang memenuhi persamaan berikut: 
1 3 2 1 3 2
  2 1 7
3.3 1.2 1 3 7 1 3 a. .  
4 3 1
1 3 2 280000 1 3 280000 2 210000 6 5 3 2
7 1 3 210000 7 1 280000 3 210000 b. .  
1 1 4 7
1 420.000 60.000 2 1 1 4 0
  c. .  
7 350.000 50.000 3 2 2 3 5
Harga 6 baju, dan 5 kaos = 6x60.000 + 5x50.000 = 550.000  0 6
d. . 3 24  
1 2
Jadi, harga 6 baju dan 5 kaos adalah Rp. 550.000,‐. 
4. Carilah nilai x dan y berikut: 
 
2 1 2 25
a.  
  4 3 1 7
LATIHAN
  4 3 2 4 20
b.  
1 2 2 10
1. Tentukan himpunan penyelesaian dengan menggunakan invers: 
5. Ashanty  menjual  dua  jenis  komoditas.  Komoditas  jenis  pertama 
a. 3 8 7  ;  4 11 
merupakan  campuran  dari  10  kg  kualitas  A  dan  30  kg  kualitas  B. 
b. 8 2 ; 5 3 31 
Komoditas jenis ke‐2 merupakan campuran dari 20 kg kualitas A dan 
c. 4 19 ; 2 11 
50 kg kualitas B. Harga komoditas jenis pertama adalah Rp. 100.000,‐ 

32 
 
dan harga komoditas jenis ke‐2 adalah Rp. 170.000,‐. Tentukan harga  Did You Know??? OTAK 
masing masing kualitas per kilogramnya.  “Otak  manusia,  seperti  mesin  yang  bisa  melakukan  perawatannya  sendiri,  ia  bisa 
6. Lima meja dan delapan kursi berharga $115, sedangkan tiga meja dan  menyembuhkan dirinya dari segala kerusakan internal, sambil bergerak ke tingkat kinerja 
yang lebih tinggi”, Prof. Robert  Oates and Gerald Swanson, Ph.D. 
lima kursi berharga $70. Tentukan harga 10 meja dan 9 kursi. 
Tidak  bisa  dipungkiri  bahwa  otak  merupakakn  organ  tubuh  kita  yang  sangat  penting. 
Setiap  aktivitas  kita,  baik  sadar  maupun  tidak  sadar,  pasti  berawal  dari  otak  kita.  Para 
  ilmuwan sudah menemukan bahwa otak dibagi menjadi dua ruang, yaitu otak kanan dan 
kiri. Kedua belah otak tersebut ternyata memiliki karakter yang berbeda. 
 
OTAK KIRI OTAK KANAN
• Pemikiran Analitis  • Pemikiran Holistika 
 
• Logika  • Intuitif 
• Bahasa  • Kreativitas 
  • Sains dan Matematika  • Seni dan Musik 
• Verbal, Proporsional  • Nonverbal, imaginative 
  • Fokus  • Difus 
• Perbedaan  • Persamaan 
• Bergantung Waktu  • Tak bergantung waktu 
  • Segmental  • Global 
Jika kemampuan otak kanan‐kiri seimbang, maka kemampuan dirinya pun akan optimal, 
  akan tetapi jika otak kanan‐kiri tidak seimbang / tidak bisa bersatu maka seseorang dalam 
menjalani hidupnya akan dipenuhi berbagai prasangka. Jika keadaan seperti ini dibiarkan 
terus menerus, maka orang tersebut akan menyangka bahwa tidak ada hubungan dengan 
 
satu  sama  lain,  saling  mengalahkan  untuk  sukses.  Akan  sangat  mirip  dengan  dunia 
binatang “survival of the fittest”. 
 
“Tingkat  kemampuan  berfikir  logis  dan  tingkat  kemampuan  “berperasaan”  bervariasi 
antara  individu  (dan)  manusia  yang  dapat  mencapai  keseimbangan  antara  keduanya 
 
akan berhasil hidup di dunia dan akhirat”,Prof.DR.Dr.H.M. Nurhalim Shahib (ahli Biokimia 
dan  Biologi  Molekuler  dalam  bukunya  “Mengenal  Allah  dengan  Mencerdaskan  Otak 
  Kanan”. 

Oleh karena itu, kita harus selalu membiasakan otak kita untuk “belajar” agar bisa bekerja 
  sama dengan baik antar otak kanan dan otak kiri. Untuk mencapai itu, kita telah diajarkan 
untuk mengembangkan diri, mau lebih berinteraksi antar satu sama lain. 
 
*) sumber: Quantum Ikhlas: Erbe Sentanu.2007 

 
33 
 
A. SUDUT BANGUN DATAR 
  Sudut  adalah  daerah  yang  dibatasi  oleh  dua  ruas  garis  yang 
bertemu  pada  satu  titik.  Besarnya  sudut  dinyatakan  dengan 
  derajat atau radian. 
Secara garis besar, sudut dibagi menjadi 3, yaitu: 

DIMENSI DUA  a. Sudut siku – siku 
b. Sudut tumpul 
  c. Sudut lancip. 
  Ukuran  sudut  dalam  derajat  yang  lebih  kecil  dapat  dinyatakan 
  dalam menit (‘) dan detik (“). 1 derajat = 60 menit. 
• Sudut Bangun Datar   
• Keliling Bangun Datar  Contoh: 
• Luas Bangun Datar  Nyatakan ukuran sudut dibawah ini dalam derajat, menit, detik. 
• Transformasi Bangun Datar  a. 34,30    b.   79,180 
   
  Penyelesaian: 
  a. 34,30 = 340 + 0,30 = 340 + 0,3 x 60’ = 340 18’. 
Disusun oleh:  b. 79,180 = 790 + 0,180 
Muhammad Irfan, S.Si       = 790 + 0,18 x 60’ = 790 + 10,8’ 
       = 790 + 10’ + 0,8 x 60” = 790  10’ 48”. 
2011   
   

34 
 
Contoh: 
 
Ubahlah ukuran sudut   380 25’ 18” ke dalam derajat saja. 
1
   
360 2
Penyelesaian:  2 360  
38  25’18” = 38
0
38 0,4 0,005 38,405   180  
.

  ,  
Pengubahan derajat ke radian atau sebaliknya   
Pengukuran  sudut  berdasarkan  ukuran  radian  didasarkan  Contoh: 
anggapan bahwa: “satu radian = besarnya sudut pusat lingkaran  Diketahui ukuran sudut 30 . ubahlah ke dalam bentuk radian, 
yang  dibatasi  oleh  busur  lingkaran  yang  panjangnya  sama  setelah itu, ubahlah kembali ke dalam bentuk derajat. 
dengan jari jari.”    
Perhatikan gambar berikut:  Penyelesaian: 
  30
Jika OA = OB = r, dan busur AB  30 0,524 . 30.  
57,3 180 6
                         A  juga panjangnya r, maka 
 sebesar 1 radian.  1
              r               
    B  180 30 . 0,524 57,3 30  
6 6
     
           O        r    1 putaran lingkaran = 3600   
                   dan keliling lingkaran = 2  
 
  Maka berlaku rumus 
perbandingan pada lingkaran   
 
   
   
 
35 
 
LATIHAN  B. KELILING DAN  LUAS BANGUN DATAR 

1. Ubahlah ukuran sudut berikut ke dalam derajat, menit, dan  1. PERSEGI 
A      B 
detik: 
 
a. 39,9 . 45,7  
  Luas persegi  = s x s
b. 130,8 . 185,42  
2. Ubahlah ukuran sudut di bawah ini menjadi derajat saja:    Keliling persegi  = 4s 

a. 39 6 9 . 45 16 39   D      C 

b. 139 16 19 . 145 56 59    

3. Ubahlah ukuran derajat ini ke radian:  Sifat – Sifat: 

a.   15 . 23,7   • Memiliki 4 sumbu simetri 

b.   315 . 225   • Keempat sudutnya siku – siku 


4. Ubahlah ukuran radian ini ke derajat:  • Kedua  diagonalnya  sama  panjang  dan  saling 

a. 2,3 radian      berpotongan tegak lurus di tengah – tengahnya 
• Keempat sisinya sama panjang 
b. 0,5 radian     
 
5. Tentukan jenis sudutnya, apakah tumpul, lancip, atau siku – 
2. PERSEGI PANJANG 
siku:  • Sisi yang berhadapan 
A        B 
a. 123         0 
d.  22 12’ 54”  sama panjang 
  • Keempat sudutnya 
b.  
  siku siku 
c. 1  
         D        C  • Kedua diagonalnya 
  sama panjang 
 
• Memiliki dua sumbu 
 
  simetri

36 
 
  3. SEGITIGA 
  Jenis jenis segitiga:        A 
  a. Segitiga sama kaki 
Contoh:  b. Segitiga sama sisi 
Panjang  suatu  persegi  panjang  2  lebihnya  dari  lebarnya.  Jika  c. Segitiga siku – siku            b          t        c 
luas persegi panjang 48 cm2, tentukan kelilingnya.  d. Segitiga lancip 
  e. Segitiga tumpul        C  a       B 
Penyelesaian:   
Misalkan : lebar = x, dan panjang = x+2 
 
Maka  L = p.l = (x+2).x 
 
    48 = x2 + 2x 
 
0 = x2 + 2x – 48 
Luas  segitiga  sembarang  jika  diketahui  panjang  sisinya 
0 = (x + 8) (x – 6) 
adalah a, b, dan c: 
X = ‐8 (tidak memenuhi) 
 
X = 6. 
Lebar = 6cm, dan panjang = 8cm. Sehingga   Dengan,   

keliling = 2(p+l) = 28cm.   
  Contoh: 
  Tentukan  luas  segitiga  jika  diketahui  tinggi  segitiga  6cm 
  dan alasnya 7cm. 
  Penyelesaian: 
 
 

37 
 
Contoh:  • Memiliki dua diagonal yang saling membagi dua sama 
Tentukan  luas  segitiga  jika  diketahui  sisi  sisinya  adalah  panjang. 
13cm, 13cm, dan 10cm.   
  5. BELAH KETUPAT 
Penyelesaian:                         A 
1 1   .  
13 13 10 18  
2 2
 
L s s a s b s c    
D                  d1    B 
L 18 18 13 18 13 18 10                        d2                                     
L √18.8.5.5 60 cm    
                              C 
Untuk segitiga sama sisi, didapat dari aturan sinus.  Sifat – sifat: 

√ .  • Keempat sisinya sama panjang 
• Sudut – sudut yang berhadapan sama besar 
 
4. JAJAR GENJANG  • Memiliki dua diagonal yang saling membagi dua sama 

  A        B  panjang 

  • Kedua  diagonalnya  berpotongan  dan  saling  tegak 

             t    lurus. 

D          C   

Sifat – sifat:   

• Sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar   
 
• Sudut yang berhadapan sama besar 

38 
 
6. LAYANG – LAYANG  8. LINGKARAN 
 
Sifat – sifat: 
 
  • Sisi yang berdekatan 
sama panjang 
 
• Kedua diagonalnya 
  berpotongan saling 
  tegak lurus 
     
    Keterangan: 
  • O adalah pusat lingkaran 
7. TRAPESIUM  • OA=OB adalah jari – jari lingkaran (r). 
a. Trapesium sembarang hanya memiliki sepasang sisi yang  • AB adalah diameter (d). 
sejajar.  • Garis lengkung CD adalah busur lingkaran. 
b. Trapesium siku – siku adalah trapezium yang mempunyai 
• CD adalah tali busur lingkaran 
sudut siku – siku. 
• Arsiran POQ adalah juring lingkaran 
c. Trapesium sama kaki mempunyai sifat: 
• Arsiran CSD adalah tembereng lingkaran 
• Mempunyai satu pasang sisi sejajar, 
• OS adalah apotema. 
• Mempunyai satu pasang sisi sama panjang, 
;  
• Mempunyai dua pasang sudut yang sama besar. 
.  
 
.  
 
  .  

39 
 
C. TRANSFORMASI BANGUN DATAR  • Misalkan, tempat duduk Candra minggu lalu di titik N(a, b) pada 
1. TRANLASI  ⎛ − 2⎞
koordinat Cartesius. Dengan translasi   ⎜⎜ ⎟⎟ , diketahui tempat 
Minggu  lalu,  Candra  duduk  di  pojok  kanan  baris  pertama  di  ⎝ 2 ⎠
kelasnya.  Minggu  ini,  ia  berpindah  ke  baris  ketiga  lajur  keempat  duduknya  inggu  ini  pada  titik  N  ’(a‐2,b+2).  Kalian  dapat 
yang  minggu  lalu  ditempati  Dimas.  Dimas  sendiri  berpindah  ke  menuliskan translasi ini sebagai berikut 
baris  kedua  lajur  kedua  yang  minggu  lalu  ditempati  Sari.  ⎛ −2 ⎞
⎜⎜ ⎟⎟

Perhatikan perpindahan tempat duduk Candra dan Dimas ini.  N (a, b ) ⎯⎯
⎯→ N ' (a − 2, b + 2)  
⎝ 2 ⎠

Dengan prinsip yang sama, jika titik P(x, y) ditranslasikan dengan 

⎛a⎞
T1 = ⎜⎜ ⎟⎟  maka diperoleh bayangannya   P ' ( x + a, y + b ) . Secara 
⎝b⎠
matematis, ditulis sebagai berikut. 
⎛a⎞
T1 ⎜⎜ ⎟⎟
P( x, y ) ⎯⎯⎯→ P ' ( x + a, y + b )  
⎝b⎠

Sekarang,  translasikan  lagi  bayangan  yang  telah  kalian  peroleh 


 
• Candra  berpindah  2  lajur  ke  kiri  dan  2  baris  ke  belakang.  Saat  ⎛c⎞
dengan T2 = ⎜⎜ ⎟⎟  
berpindah ini, Candra telah melakukan translasi 2 satuan ke kiri  ⎝d ⎠
⎛c⎞
⎛ − 2⎞ T2 ⎜⎜ ⎟⎟
dan 2 satuan ke atas yang ditulis sebagai  ⎜⎜ ⎟⎟   Didapat,  P (x + a, y + b ) ⎯⎯⎯→ P '' ( x + a + c, y + b + d )  
' ⎝d ⎠

⎝ 2 ⎠
Perhatikan bahwa,   
• Kemudian, Dimas berpindah 2 lajur ke kiri dan 1 baris ke depan. 
P '' (x + a + c, y + b + d ) = P '' ( x + (a + c ), y + (b + d ))   
Saat berpindah ini, Dimas telah melakukan translasi 2 satuan ke 

⎛ − 2⎞
kiri dan 1 satuan ke bawah yang ditulis sebagai   ⎜⎜ ⎟⎟  
⎝ 1 ⎠

40 
 
Ini  berarti  P '' ( x + a + c , y + b + d )   diperoleh  dengan  Contoh: 

⎛a +c⎞ ⎛ p⎞
mentranslasikan    P( x, y )   dengan  T = ⎜⎜ ⎟⎟   Translasi  T  ini  1. Translasi  T1 = ⎜⎜ ⎟⎟ memetakan titik A(1,2) ke titik A'(4,6) 
⎝b + d ⎠ ⎝q⎠

merupakan  translasi  T1  dilanjutkan  dengan  T2,  yang  ditulis  a. Tentukan translasi tersebut ! 


b. Tentukanlah  bayangan  segitiga  ABC  dengan  titik  sudut 
sebagai   T1 o T2  
A(1, 2), B(3, 4), dan C( 5, 6) oleh translasi tersebut.  
⎛a⎞ ⎛c⎞ ⎛a +c⎞
Oleh karena  T1 = ⎜⎜ ⎟⎟  dan  T2 = ⎜⎜ ⎟⎟  maka  T1 o T2 = ⎜⎜ ⎟⎟   c. Jika  segitiga  yang  kalian  peroleh  pada  jawaban  b 
⎝b⎠ ⎝d ⎠ ⎝b + d ⎠
⎛ − 1⎞
Akibatnya,  titik    P( x, y )   ditranslasikan  dengan  T1  dilanjutkan  ditranslasikan  lagi  dengan  T2 = ⎜⎜ ⎟⎟ Tentukan 
⎝ − 1⎠
dengan translasi T2 menghasilkan bayangan   P ''  sebagai berikut  bayangannya! 
⎛ a +c ⎞
T1 oT2 ⎜⎜ ⎟⎟ d. Translasikan  segitiga  ABC  dengan  translasi  T2    ◦T1. 
P (x, y ) ⎯⎯ ⎯⎯→ P '' ( x + a + c, y + b + d )  
⎝ b+d ⎠

Samakah jawabannya dengan jawaban c? 
 
 
Sifat: 
Penyelesaian  
⎛a⎞
• Dua  buah  translasi  berturut‐turut    ⎜⎜ ⎟⎟ diteruskan  dengan ⎛ p⎞
T1 ⎜⎜ ⎟⎟
⎝b⎠ a.  A(1,2 ) ⎯⎯⎯→ A ' (1 + p, 2 + q ) = A1 (4,6 )  
⎝q⎠

⎛c⎞ ⎛a +c⎞    Diperoleh   1+p = 4 sehingga p = 3 


⎜⎜ ⎟⎟ dapat digantikan dengan translasi tunggal  ⎜⎜ ⎟⎟  
⎝d ⎠ ⎝b + d ⎠       2+q = 6 sehingga q = 4 
• Pada suatu translasi setiap bangunnya tidak berubah.  ⎛ 3⎞
  Jadi translasi tersebut adalah  T1 = ⎜⎜ ⎟⎟  
  ⎝ 4⎠
 
 

41 
 
⎛ 3⎞ ⎛ 3 + (− 1) ⎞ ⎛ 2⎞
b.  translasi  T1 = ⎜⎜ ⎟⎟   artinya  artinya  memindahkan  suatu  titik  3  d. translasi titik  T1 o T2 = ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟  
⎝ 4⎠ ⎝ 4 + (− 1)⎠ ⎝ 3 ⎠
satuan  ke  kanan  dan  4  satuan  ke  atas.  Dengan  mentranslasikan  ⎛ 2⎞
⎜⎜ ⎟⎟

titiktitik A', B', dan C' dari segitiga ABC dengan translasi T1, kalian 
  A(1,2) ⎯⎯→ A' (1 + 2,2 + 3) = A' (3,5)  
⎝ 3⎠

⎛ 2⎞
memperoleh segitiga A'B'C' sebagai berikut  ⎜⎜ ⎟⎟
  B(3,4) ⎯⎝⎯→
3⎠
B' (3 + 2,4 + 3) = B' (5,7 )  
⎛ 3⎞
T1 ⎜⎜ ⎟⎟
A(1,2) ⎯⎯
⎯→ A' (1 + 3,2 + 4) = A' (4,6)
⎝ 4⎠ ⎛ 2⎞
⎜⎜ ⎟⎟

⎛ 3⎞
  C (− 5,6) ⎯⎯→ C ' (− 5 + 2,6 + 3) = C ' (− 3,9)  
⎝ 3⎠

T1 ⎜⎜ ⎟⎟
B(3,4) ⎯⎯
⎯→ B' (3 + 3,4 + 4) = B' (6,8)
⎝ 4⎠
  Jadi bayangan segitiga ABC adalah segitiga A'B'C' dengan titik 
⎛ 3⎞ A'(3,5),  B'(5,7)  dan  C'(‐3,9)  Perhatikan  bahwa  segitiga  yang 
T1 ⎜⎜ ⎟⎟
C(− 5,6) ⎯⎯
⎯→C' (− 5 + 3,6 + 4) = C' (− 2,10)
⎝ 4⎠
kalian  peroleh  pada  jawaban  c  sama  dengan  segitiga  yang 
Jadi  bayangan  segitiga  ABC  adalah  segitiga  A'B'C'  dengan  titik  kalian peroleh pada jawaban d. 
A'(4,6), B'(6,8), dan C'(‐2,10)     
  2. Tentukan  bayangan  lingkaran  (x‐3)2  +  (y+1)2  =  4  jika 
⎛ −1 ⎞
T2 ⎜⎜ ⎟⎟ ⎛ − 5⎞
c.  A' (4,6 ) ⎯⎯⎯→ A' ' (4 + (− 1),6 + (− 1)) = A' ' (3,5)  
⎝ −1 ⎠
ditranslasikan  T = ⎜⎜ ⎟⎟ ! 
⎝ 2 ⎠
⎛ −1 ⎞
T2 ⎜⎜ ⎟⎟
A' (6,8) ⎯⎯⎯→ A' ' (6 + (− 1),8 + (− 1)) = B' ' (5,7 )
⎝ −1 ⎠ Jawab  
 
⎛ −1 ⎞
T2 ⎜⎜ ⎟⎟
Ambil sembarang titik P(a,b) pada lingkaran (x‐3)2 + (y+1)2 = 4 
A' (4,6) ⎯⎯⎯→ A' ' ((− 2) + (− 1),10 + (− 1)) = A' ' (− 3,9)
⎝ −1 ⎠
sehingga diperoleh (a‐3)2 + (b+1)2 = 4 
Jadi  bayangan  segitiga  A'B'C'  adalah  segitiga  A''B''C''  dengan  ⎛ − 5⎞
Translasikan  titik  P  dengan    T = ⎜⎜ ⎟⎟   sehingga  diperoleh 
titik A''(3,5), B''(5,7) dan C''(‐3,9)  ⎝ 2 ⎠
  ⎛ −5 ⎞
⎜⎜ ⎟⎟
P(a, b ) ⎯⎝⎯

2⎠
→ P' ' (a − 5, b + 2)  

42 
 
Jadi titik P'(a‐5, b+2)  
Perhatikan bahwa: a'= a ‐ 5. Dari persamaan (*), didapat a = 
a' + 5. 
b'= b + 2. Dari persamaan (*), didapat  b = 
b' ‐ 2. 
Dengan mensubstitusi nilai a dan b ini ke persamaan (*), akan 
Diperoleh (a' + 5‐3)2 + (b' ‐ 2+1)2 = 4 
    (a' + 2)2 + (b' ‐ 1)2 = 4 
Jadi  bayangan  dari  (a' +  5‐3)2  +  (b'  ‐  2+1)2  =  4  jika   
⎛ − 5⎞ Dari gambar tersebut, kalian dapat mengatakan bahwa: 
ditranslasikan dengan T = ⎜⎜ ⎟⎟ adalah (a' + 2)2 + (b' ‐ 1)2 = 4 
⎝ 2 ⎠ • Lingkaran Q kongruen dengan bayangannya, yaitu lingkaran Q’ 

  • Jarak setiap titik pada lingkaran Q ke cermin sama dengan jarak 

1. REFLEKSI  setiap titik bayangannya ke cermin, yaitu QA = Q’A dan PB = P’ B. 

Kalian pasti sering bercermin. Ketika bercermin, amatilah diri dan  •  Sudut  yang  dibentuk  oleh  cermin  dengan  garis  yang 

bayangan kalian. Apakah memiliki bentuk dan ukuran yang sama?  menghubungkan  setiap  titik  ke  bayangannya  adalah  sudut  siku‐

Amati  pula  jarak  diri  kalian  ke  cermin.  Samakah  dengan  jarak  siku. 

bayangan  kalian  ke  cermin?  Dengan  bercermin  dan  menjawab  Sifat‐sifat tersebut merupakan sifat‐sifat refleksi. 

pertanyaan‐pertanyaan  tersebut,  kalian  akan  menemukan  Matriks yang bersesuaian dengan tranformasi geometri 

beberapa sifat pencerminan.   
Refleksi   Rumus   Matriks  
Refleksi  A( x, y ) ⎯sb⎯. x → A' (x,− y ) ⎛ x' ⎞ ⎛ 1 0 ⎞⎛ x ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap    ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 − 1⎠⎝ y ⎠

43 
 
sumbu‐x  titik 
Refleksi  A( x, y ) ⎯sb⎯→

.y
A' (− x, y ) ⎛ x' ⎞ ⎛ − 1 0 ⎞⎛ x ⎞ pusat 
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap    ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 1 ⎠⎝ y ⎠ (0,0) 
sumbu‐y  Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' ( x' , y ')
y = mx
⎛ x' ⎞ ⎛ cos 2α sin 2α ⎞⎛ x ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎜ ⎟
Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯→
⎯ A' ( y, x )  
y=x
⎛ x' ⎞ ⎛ 0 1 ⎞⎛ x ⎞ terhadap  dengan x' = x cos 2α + y s ⎝ y ' ⎠ ⎝ sin 2α − cos 2α ⎟⎠⎜⎝ y ⎟⎠
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 1 0 ⎠⎝ y ⎠ garis  y ' = x sin 2α − y co
 
garis y=x  y=mx,m=
Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' ( y,− x ) ⎛ x' ⎞ ⎛ 0 − 1⎞⎛ x ⎞
y =− x tan α 
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap    ⎝ y ' ⎠ ⎝ − 1 0 ⎠⎝ y ⎠ Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' ( x' , y ')
y = x+k
⎛ x' ⎞ ⎛ 0 1 ⎞⎛ x ⎞ ⎛ 0 ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟  
garis y=‐x  terhadap  dengan x' = y − k ⎝ y ' ⎠ ⎝ 1 0 ⎠⎝ y − k ⎠ ⎝ k ⎠
Refleksi  A( x, y ) ⎯x⎯
=k
→ A' (2k − x,   garis  y' = x + k
 
terhadap    y=x+k 
garis x=k  Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' (x' , y
y =− x+ k
⎯ ⎛ x' ⎞ ⎛ 0 − 1⎞⎛ x ⎞ ⎛ 0 ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟  
Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯→
⎯ A' ( x,2k −  
y =k terhadap  dengan x' = − y + k ⎝ y ' ⎠ ⎝ − 1 0 ⎠⎝ y − k ⎠ ⎝ k ⎠
terhadap    garis  y=‐ y' = − x + k
 
garis y=k  x+k 
Refleksi  A( x, y ) ⎯(⎯⎯→ A' ( x' , y ') ⎛ x'− p ⎞ ⎛ cos180° − sin 180° ⎞
p ,q )  
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟
terhadap    ⎝ y '−q ⎠ ⎝ sin 180° cos180° ⎠ SIFAT‐SIFAT 
titik (p,q)  Sama dengan rotasi pusat    a. Dua refleksi berturut‐turut terhadap sebuah garis merupakan 
(p,q) sejauh 180˚  suatu identitas, artinya yang direfleksikan tidak berpindah.  
Refleksi  A( x, y ) ⎯(⎯
⎯→ A' (− x,− y ⎛ x' ⎞ ⎛ − 1 0 ⎞⎛ x ⎞
0, 0 )
b. Pengerjaan dua refleksi terhadap dua sumbu yang sejajar, 
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap    ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 − 1⎠⎝ y ⎠ menghasilkan translasi (pergeseran) dengan sifat: 

44 
 
ƒ Jarak bangun asli dengan bangun hasil sama dengan dua  2. ROTASI 
kali jarak kedua sumbu pencerminan.   Rotasi  Rumus  Matriks 
ƒ Arah translasi tegak lurus pada kedua sumbu sejajar, dari  Rotasi  A( x, y ) ⎯R⎯ ⎯→ A' ( x' , y ')
(0 ,α )
⎛ x' ⎞ ⎛ cos α − sin α ⎞⎛ x ⎞
  ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎜ ⎟  
cos α ⎟⎠⎜⎝ y ⎟⎠
dengan x' = x cos α − y sin α
sumbu pertama ke sumbu kedua. Refleksi terhadap dua  dengan 
y ' = x sin α + y cos α ⎝ y ' ⎠ ⎝ sin α
sumbu sejajar bersifat tidak komutatip.  pusat  (0,0) 
c. Pengerjaaan  dua  refleksi  terhadap  dua  sumbu  yang  saling  dan  sudut 
tegak  lurus,  menghasilkaan  rotasi  (pemutaran)  setengah  putar α 
lingkaran  terhadap  titik  potong  dari  kedua  sumbu  Rotasi  A(x, y ) ⎯R⎯ ⎯→ A' ( x' , y ')
( P ,α )
⎛ x' ⎞ ⎛ cosα − sinα ⎞⎛ x − a ⎞ ⎛ a ⎞  
  ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟
dengan x'− a = ( x − a ) cos α − ( y − b )sin α
pencerminan. Refleksi terhadap dua sumbu yang saling tegak  ⎝ y' ⎠ ⎝ sinα cosα ⎠⎝ y − b ⎠ ⎝ b ⎠
dengan  y '−b = (x − a )sin α + ( y − b ) cos α

lures bersifat komutatif.  pusat 
d. Pengerjaan dua refleksi berurutan terhadap dua sumbu yang  P(a,b)  dan 
berpotongan  akan  menghasilkan  rotasi  (perputaran)  yang  sudut 
bersifat:  putar α 
ƒ Titik potong kedua sumbu pencerminan merupakan pusat   
perputaran.  Keterangan  
ƒ Besar sudut perputaran sama dengan dua kali sudut  α + : arah putaran berlawanan putaran jarum jam 
antara kedua sumbu pencerminan.  α ‐ : arah putaran searah putaran jarum jam 
ƒ Arah perputaran sama dengan arah dari sumbu pertama  SIFAT‐SIFAT 
ke sumbu kedua.   Dua  rotasi  bertumt‐turut  mempakan  rotasi  lagi  dengan  sudut 
  putar  dsama  dengan  jumlah  kedua  sudut  putar  semula.Pada 
  suatu  rotasi,  setiap  bangun  tidak  berubah  bentuknya. 
   

45 
 
Catatan:   Dilatasi  Rumus  Matriks 
Pada  transformasi  pergeseran  (translasi),  pencerminan  (refleksi)  Dilatasi  A(x, y ) ⎯[⎯
⎯→ A' (kx, ky )   ⎛ x' ⎞ ⎛ k 0 ⎞⎛ x ⎞
0,k ]
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
dan  perputaran  (rotasi),  tampak  bahwa  bentuk  bayangan  sama  dengan  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 k ⎠⎝ y ⎠
dan  sebangun  (kongruen)  dengan  bentuk  aslinya.  Transformasi  pusat  (0,0) 
jenis ini disebut transformasi isometri.   dan  factor 
3. DILATASI  dilatasi k 
Aini  dan  teman‐temannya  berkunjung  ke  IPTN.  Di  sana,  mereka  Dilatasi  A( x, y ) ⎯[⎯ ⎯→ A' ( x' , y ')
P ,k ]
⎛ x' ⎞ ⎛ k 0 ⎞⎛ x − a ⎞ ⎛ a ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟
mengamati  miniatur  sebuah pesawat  terbang.  Miniatur  pesawat  dengan  dengan x'−a = k ( x − a )   ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 k ⎠⎝ y − b ⎠ ⎝ b ⎠
terbang  ini  mempunyai  bentuk  yang  sama  dengan  pesawat  pusat  y '−b = k ( y − b )
terbang  sesungguhnya,  tetapi  ukurannya  lebih  kecil.  Bentuk  P(a,b)  dan 
seperti  miniatur  pesawat  terbang  ini  telah  mengalami  dilatasi  faktor 
diperkecil  dari  pesawat  terbang  sesungguhnya.  Selain  dilatasi  dilatasi k 
diperkecil, terdapat pula dilatasi diperbesar, misalnya pencetakan   
foto  yang  diperbesar  dari  klisenya.  Faktor  yang  menyebabkan   
diperbesar  atau  diperkecilnya  suatu  bangun  ini  disebut  faktor  4. KOMPOSISI TRANSFORMASI DENGAN MARIKS 
dilatasi.  Faktor  dilatasi  ini  dinotasikan  dengan  huruf  kecil,  Matriks yang bersesuaian dengan transformasi geometri 
misalnya k.  Transformasi   Rumus  Matriks 
• Jika k $ _ 1 atau k 0 1, maka hasil dilatasinya diperbesar  Identitas   A( x, y ) ⎯
⎯→
1
A' (x, y )   ⎛ x' ⎞ ⎛ 1 0 ⎞⎛ x ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
• Jika _1 $ k $ 1, maka hasil dilatasinya diperkecil  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 1 ⎠⎝ y ⎠
• Jika k _ 1, maka hasil dilatasinya tidak mengalami perubahan 
Translasi   ⎛ p⎞
⎜⎜ q ⎟⎟ ⎛ x' ⎞ ⎛ x ⎞ ⎛ p ⎞
  A(x, y ) ⎯⎯→ A' ( x + p, y + q ⎜⎜ y ' ⎟⎟ = ⎜⎜ y ⎟⎟ + ⎜⎜ q ⎟⎟  
⎝ ⎠
⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠
   

46 
 
Refleksi  A( x, y ) ⎯sb⎯. x → A' (x,− y )   ⎛ x' ⎞ ⎛ 1 0 ⎞⎛ x ⎞ Refleksi  A( x, y ) ⎯(⎯
⎯→ A' (− x,− y )  
0, 0 )
⎛ x' ⎞ ⎛ − 1 0 ⎞⎛ x ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟   ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 − 1⎠⎝ y ⎠ terhadap  titik  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 − 1⎠⎝ y ⎠
sumbu‐x  pusat (0,0) 
Refleksi  A( x, y ) ⎯sb⎯→

.y
A' (− x, y )   ⎛ x' ⎞ ⎛ − 1 0 ⎞⎛ x ⎞ Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' ( x' , y ')
y = mx
⎛ x ' ⎞ ⎛ cos 2α
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜
sin 2α ⎞⎛ x ⎞  
⎟⎜ ⎟
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟   ⎝ y ' ⎠ ⎝ sin 2α − cos 2α ⎟⎠⎜⎝ y ⎟⎠
terhadap  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 1 ⎠⎝ y ⎠ terhadap garis  dengan x' = x cos 2α + y sin 2α
y ' = x sin 2α − y cos 2α
sumbu‐y  y=mx,m=tan α 
Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯→
⎯ A' ( y, x )  
y=x
⎛ x' ⎞ ⎛ 0 1 ⎞⎛ x ⎞ Refleksi  A(x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' (x' , y ')
y= x+k
⎛ x' ⎞ ⎛ 0 1 ⎞⎛ x ⎞ ⎛ 0 ⎞  
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap garis  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 1 0 ⎠⎝ y ⎠ terhadap garis  dengan x ' = y − k   ⎝ y ' ⎠ ⎝ 1 0 ⎠⎝ y − k ⎠ ⎝ k ⎠

y=x  y=x+k  y' = x + k


Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' ( y,− x )  
y =− x
⎛ x' ⎞ ⎛ 0 − 1⎞⎛ x ⎞ Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯ ⎯→ A' (x' , y ')
y =− x+ k
⎯ ⎛ x' ⎞ ⎛ 0 − 1⎞⎛ x ⎞ ⎛ 0 ⎞  
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
terhadap garis  ⎝ y ' ⎠ ⎝ − 1 0 ⎠⎝ y ⎠ terhadap garis  dengan x' = − y + k   ⎝ y ' ⎠ ⎝ − 1 0 ⎠⎝ y − k ⎠ ⎝ k ⎠

y=‐x  y=‐x+k  y' = − x + k


Refleksi  A( x, y ) ⎯x⎯
=k
→ A' (2k − x, y )     Rotasi  dengan  A( x, y ) ⎯R⎯ ⎯→ A' (x' , y ')
(0 ,α ) ⎛ x' ⎞ ⎛ cos α
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜
− sin α ⎞⎛ x ⎞
⎟⎜ ⎟  
terhadap garis  pusat  (0,0)  dengan x' = x cos α − y sin α ⎝ y ' ⎠ ⎝ sin α cos α ⎟⎠⎜⎝ y ⎟⎠

x=k  dan  sudut  y ' = x sin α + y cos α


Refleksi  A( x, y ) ⎯⎯→
⎯ A' ( x,2k − y )  
y =k   putar α 
terhadap garis  Rotasi  dengan  A( x, y ) ⎯R⎯ ⎯→ A' ( x' , y ')
( P ,α ) ⎛ x' ⎞ ⎛ cosα − sinα ⎞⎛ x − a ⎞ ⎛ a ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟
x'− a = ( x − a ) cos α − ( y − b )sin α   ⎝ y' ⎠ ⎝ sinα cosα ⎠⎝ y − b ⎠ ⎝ b ⎠
y=k  pusat  P(a,b) 
y '−b = (x − a )sin α + ( y − b ) cos α
Refleksi  A( x, y ) ⎯(⎯⎯→ A' ( x' , y ')  
p ,q ) ⎛ x'− p ⎞ ⎛ cos 180° − sin 180° ⎞⎛ x − dan 
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜
p⎞  

sudut 
q ⎟⎠
⎝ y '− q ⎠ ⎝ sin 180° cos 180° ⎠⎝ y −putar α 
terhadap  titik  Sama  dengan  rotasi  pusat 
(p,q)  (p,q) sejauh 180˚  Dilatasi  A(x, y ) ⎯[⎯
⎯→ A' (kx, ky )  
0,k ]
⎛ x' ⎞ ⎛ k 0 ⎞⎛ x ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟  
dengan  pusat  ⎝ y ' ⎠ ⎝ 0 k ⎠⎝ y ⎠

47 
 
(0,0)  dan  x'=2(b‐a)+x 
factor  dilatasi  y'=y 
k  Jika  titik  A(x,y)  direfleksikan  terhadap  garis  y=a  dilanjutkan 
Dilatasi  A( x, y ) ⎯[⎯⎯→ A' ( x' , y ')
P ,k ]
⎛ x ' ⎞ ⎛ k 0 ⎞⎛ x − a ⎞ ⎛ a ⎞   terhadap garis y=b. Maka bayangan akhir A adalah  A' ( x' , y ')  
⎜⎜ y ' ⎟⎟ = ⎜⎜ 0 k ⎟⎟⎜⎜ y − b ⎟⎟ + ⎜⎜ b ⎟⎟
dengan  pusat  dengan x'−a = k ( x − a )   ⎝ ⎠ ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝ ⎠
yaitu: 
P(a,b)  dan  y '−b = k ( y − b ) x'=x 
faktor  dilatasi  y'=2(b‐a)+y 
k   
  b. refleksi terhadap dua sumbu saling tegak lurus 
  Jika  titik  A(x,y)  direfleksikan  terhadap  garis  x=a  dilanjutkan 
Komposisi transformasi  terhadap garis y=b (dua sumbu yang saling tegak lurus) maka 
1. komposisi dua translasi berurutan  bayangan akhir A adalah   A' ( x' , y ')  sama dengan rotasi titik 
⎛a⎞ ⎛c⎞ A(x,y) dengan pusat titik potong dua sumbu (garis) dan sudut 
Diketahui dua translasi   T1 = ⎜⎜ ⎟⎟  dan  T2 = ⎜⎜ ⎟⎟ . Jika translasi  T1  
⎝b⎠ ⎝d ⎠ putar 180˚ 
dilanjutkan translasi  T2  maka dinotasikan ” T1 o T2 ” dan translasi   
tunggalnya adalah T=T1+T2=T2+T1(sifat komutatif).  c. refleksi terhadap dua sumbu yang saling berpotongan 
  Jika  titik  A(x,y)  direleksikan  terhadap  garis  g  dilanjutkan 
2. komposisi dua refleksi berurutan  terhadap garis h, maka bayangan akhirnya adalah   A' ( x' , y ')  
a. refleksi berurutan terhadap dua sumbu sejajar  dengan  pusat  perpotongan  garis  g  dan  h  dan  sudut  putar 
Jika  titik  A(x,y)  direfleksikan  terhadap  garis  x=a  dilanjutkan  2α(α sudut antara garis g dan h) serta arah putaran dari garis 
terhadap garis x=b. Maka bayangan akhir A adalah  A' ( x' , y ')   g ke h. 
yaitu: 

48 
 
m k − ml a. T1 dilanjutkan T2 (T2   T1) adalah T=T2 . T1 
tan α =
1 + m k ⋅ ml b. T2 dilanjutkan T1 (T1   T2) adalah T=T1 . T2 
Catatan  ml = gradien garis l   Catatan T1 . T2 = T2 . T1 
mk = gradien garis k  
  5. bayangan suatu kurva/bangun oleh dua transformasi atau lebih 
d. sifat komposisi refleksi  Contoh:  Tentukan  bayangan  garis  ‐4x+y=5  oleh  pencerminan 
Komposisi  refleksi  (refleksi  berurutan)  pada  umumnya  tidak  ⎛ 3⎞
terhadap garis y=x dilanjutkan translasi  ⎜⎜ ⎟⎟ ! 
komutatif  kecuali  komposisi  refleksi  terhadap  sumbu  x  ⎝ 2⎠
dilanjutkan  terhadap sumbu  y (dua  sumbu yang  saling  tegak  Jawab: misal titik P(x,y) pada garis ‐4x+y=5 
lurus).    P(x,y)  dicerminkan  terhadap  garis  y=x,  bayangannya 
  P'(y,x) 
3. rotasi berurutan yang sepusat 
⎛ 3⎞
a. Diketahui  rotasi  R1(P(a,b),α)  dan  R2(P(a,b),β),  maka    P'(y,x)  ditranslasi    ⎜⎜ ⎟⎟ .  Bayangannya  P''(y+3, 
⎝ 2⎠
transformasi  tunggal  dari  komposisi  transformasi  rotasi 
x+2)=P''(x'',y'') 
R1 dilanjutkan R2 adalah rotasi R(P(a,b),α+β) 
   Jadi   x'' = y +3 → y = x''‐3 
b. Rotasi R1 dilanjutkan R2 sama dengan rotasi R2 dilanjutkan 
    y'' = x +2 → x = y'' ‐2 
R1 
    persamaan ‐4x+y=5 → ‐4(y'' ‐2) + (x'' ‐ 3) = 5 
 
          ‐4y''  + 8 +  x'' – 3 = 5 
4. komposisi transformasi 
            x'' ‐ 4y''= 0 
⎛a b ⎞ ⎛ p q⎞
Diketahui  transformasi  T1 = ⎜⎜ ⎟⎟ dan T2 = ⎜⎜ ⎟⎟   maka    jadi bayangan akhirnya adalah x ‐ 4y= 0 
⎝c d ⎠ ⎝ r s⎠  
transformasi tunggal dari transformasi:   

49 
 
6. luas bangun hasil tranformasi  ⎛ − 2⎞
a) Translasi  ⎜⎜ ⎟⎟  
Jika  suatu  bangun  (segitiga,  lingkaran,  dan  lain‐lain)  ⎝3 ⎠
ditransformasikan maka:  b) Refleksi terhadap garis y = ‐4 
a. Luas  bangun  bayangan  tetap  untuk  transformasi  :  c) Refleksi terhadap garis x + y = 0 
translasi, refleksi, dan rotasi. 
b. Luas  bangun  bayangan  berubah  untuk  transformasi 
dilatasi,  yaitu  jika  luas  bangun  mula‐mula  L  setelah 
didilatasi oleh [P(a,b),k], maka luas bangun bayangannya 
adalah L'=k2 +L 
 
Soal Olimpiade 2010 
LATIHAN 
1. Tentukan bayangan titik A(‐2,8) oleh  

⎛2 ⎞
a) Translasi  ⎜⎜ ⎟⎟  
⎝ − 3⎠
a) Refleksi terhadap garis x = ‐6 
b) Refleksi terhadap garis y = x 
c) Refleksi terhadap garis y = 4 
d) Refleksi terhadap garis y = ‐x 
 
 
Diketahui panjang sisi persegi diatas adalah 14. 
2. Diketahui garis k : 2x + 3y = 2  Tentukan luas yang diarsir. 

Tentukan persamaan bayangan garis k oleh : 

50 
 
Referensi: Penulis 
Bandung Ary S.,dkk.2008. Matematika SMK Bisnis dan Manajemen.  
Nama    : Muhammad Irfan, S.Si 
Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional
TTL      : Sleman, 13 September 1988 
Drs. Sukirman,M.Pd.2006.Logika dan Himpunan.Yogyakarta:Hanggar Alamat  : Jln. Kaliurang Km.12,5 Karangasem Sukoharjo 
Kreator Ngaglik Sleman Yogyakarta 
No. HP    : 085228380303 
DEPDIKNAS.2003.Panduan Materi Matematika  Email    : vahn45@gmail.com  
SMK.Jakarta.Departemen Pendidikan Nasional Riwayat Pendidikan 
No. Nama Instansi Tahun Jurusan
Drs. Markaban,M.Si.2004.Logika Matematika­Diklat  1 TK ABA Losari 1993
Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang  2 SDN Seloharjo 1994
3 SLTP N 2 Ngaglik 2000
Dasar.Yogyakarta:PPPG Matematika 4 SMA N 2 Ngaglik 2003 IPA
5 Universitas Negeri Yogyakarta 2006 Pend. Matematika
Hamdy Taha. (1996). Riset Operasi. Jilid satu. Jakarta: Binarupa Aksara 6 AndiIT School 2009 Photoshop & 3D
To’ali. (2008). Matematika X SMK Kelompok Penjualan dan Akuntansi.  
Riwayat organisasi (2007 – 2011) 
Jakarta: Depatemen Pendidikan Nasional No. Nama Organisasi Tahun Jabatan
1 Padmakanda 2008-2010 Koord. Diklat
2 Padmakanda 2010 - 2011 Wakil Ketua
  3 HIMATIKA UNY 2007 Staf Bid. Pendidikan dan
  4 HIMATIKA UNY 2008
Penalaran
Direktur Teknologi
  Indormasi dan Multimedia
5 HIMATIKA UNY 2009 Dewan Pertimbangan
  Organisasi
  6 BEM FMIPA UNY 2008 KaDiv. IT KOMINFO
7 BEM REMA UNY 2009 Dirjen IT KOMINFO
 
 
 
 

51 
 
05. EBT-SMA-92-37
TRANSLASI, DILATASI, ROTASI Koordinat bayangan dari titik A(–1,6) yang dicerminkan terhadap garis x = 1
dilanjutkan terhadap garis x = 4 adalah …
A. (1 , 12)
B. (5 , 6)
C. (5 , 10)
01. EBT-SMP-95-28
D. (6 , 5)
Koordinat bayangan titik P (–3, 1) jika dicerminkan terhadap garis x = 4 adalah …
E. (12 , –1)
A. (11, 1)
B. (5, 1)
06. EBT-SMA-88-23
C. (–3, 7)
Pencerminan terhadap garis x = 3 dilanjutkan pencermin an terhadap garis x = 5
D. (–12, 4)
maka bayangan titik (3,2) adalah
A. ( 2 , 3 )
02. EBT-SMP-96-19
B. ( 3 , 6 )
Bayangan koordinat titik (–5, 9) jika dicerminkan terhadap garis x = 7 adalah …
C. ( 7 , 2 )
A. (–5, 5)
D. ( 7 , 6 )
B. (–5, 23)
E. ( 6 , 2 )
C. (12, 9)
D. (19, 9)
07. EBT-SMP-97-38
Titik A (–2, 3) dicerminkan pada garis x = 2, bayangan-nya A’. A’ dicerminkan pada
03. EBT-SMP-92-18
garis y = –3, bayangannya A”.
Koordinat titik P (–5, 16) jika dicerminkan terhadap garis x = 9, maka koordinat
a. Buatlah gambar titik A beserta bayangan-bayangan-nya.
bayangannya adalah …
b. Tentukan koordinat A’ dan A”
A. P’(23, 16)
B. P’(13, 16)
08. EBT-SMP-03-25
C. P’(–5, 34)
Titik B (–8, 13) dicerminkan terhadap garis x = 16, kemudian dilanjutkan dengan
D. P’(–5, 2)
⎛ − 9⎞
translasi ⎜⎜ ⎟⎟ . Koordinat bayangan titik B adalah …
04. EBT-SMA-98-23 ⎝ 5 ⎠
Bayangan titik A(1,3) oleh gusuran searah sumbu X dengan faktor skala 3 adalah … A. (31, 18)
A. (1 , 6) B. (81, 8)
B. (1, 10) C. (–17, 21)
C. (4, 3) D. (1, 14)
D. (10, 3)
E. (3, 9)

52
C. (–3, 9)
09. EBT-SMP-99-25 D. (–3, 3)
⎡ − 2⎤
Titik A (–1, 4) dicerminkan terhadap sumbu x dan dilanjutkan dengan translasi ⎢ ⎥ . 13. EBT-SMP-96-20
⎣5⎦
Koordinat bayangan dari titik A adalah … ⎛ 3 ⎞
Bayangan koordinat titik A (5, –2) pada translasi ⎜⎜ ⎟⎟ yang dilanjutkan dengan
A. (3,1) ⎝ − 2⎠
B. (–3, –1) ⎛ 5 ⎞
C. (3, –1) translasi ⎜⎜ ⎟⎟ adalah …
⎝ − 3⎠
D. (–3, 1)
A. A’ (7, –3)
B. A’ (2, 0)
10. EBT-SMP-98-21
C. A’ (10, –5)
Titik A (–3, 5) dicerminkan terhadap garis y = 7, kemudian hasilnya ditranslasikan
D. A’ (2, –1)
⎛ 2⎞
dengan ⎜⎜ ⎟⎟ . Koordinat bayangan akhir titik A adalah …
⎝ 3⎠ 14. EBT-SMP-95-29
A. (5, 12) ⎛1⎞ ⎛ − 1⎞
B. (–5,12) Koordinat bayangan titik (3, 4) pada translasi ⎜⎜ ⎟⎟ dilanjutkan dengan ⎜⎜ ⎟⎟ adalah
⎝9⎠ ⎝2⎠
C. (–1, 12)

D. (1, 12)
A. (4, 8)
B. (4, 7)
11. EBT-SMP-01-24
C. (3, 9)
Diketahui persegi panjang PQRS dengan koordinat titik P (–5, –1), Q (3, –1) dan R
D. (2, 6)
⎛ − 2⎞
(3, 8). Bayangan S pada translasi ⎜⎜ ⎟⎟ adalah …
⎝ − 3⎠ 15. EBT-SMP-00-26
A. {–7, 11} ⎛ 4⎞
B. {–7, 5} Koordinat titik B (a, –7) jika ditranslasi oleh ⎜⎜ ⎟⎟ kemudian dilanjutkan dengan
⎝ 3⎠
C. {–3, 11}
⎛ − 5⎞
D. {–3, 5} translasi ⎜⎜ ⎟⎟ menghasil-kan bayangan B’ (–4, b). Nilai a dan b adalah …
⎝ 2 ⎠
12. EBT-SMP-94-25 A. a = 5 dan b = 2
⎛ − 3⎞ ⎛2⎞ B. a = –3 dan b = –2
Koordinat bayangan titik P (–2, 6) oleh translasi ⎜⎜ ⎟⎟ dilanjutkan dengan ⎜⎜ ⎟⎟ C. a = –8 dan b = –5
⎝ − 2⎠ ⎝ −1⎠
D. a = –6 dan b = 4
adalah …
A. (7, 9)
16. EBT-SMP-94-31
B. (7, 3)
Bayangan titik P (–2, 6) oleh dilatasi (O, –1) adalah …
53
A. P’ (2, –8)
B. P’ (–3, 5) 20. EBT-SMP-98-22
C. P’ (–2, 5) Hasil dilatasi ∆ PQR dengan
D. P’ (2, 7) 1
pusat Q dan faktor skala − 2 , A

17. EBT-SMP-95-35 kemudian direfleksikan P


Dari gambar di samping. OP’ = k OP. Nilai k adalah … terhadap garis FG adalah …
4 A. ∆ GQF D
A. P
3 B. ∆ GBF R
B.
3 P’ C. ∆ AFR F Q
4
D. ∆ PGC
1
C. 3
O B G E C
1 21. EBT-SMP-97-20
D. 4 Koordinat titik P (4, 2), Q (9, 4) dan R (6, 8) merupakan titik-titik sudut PQR.
Koordinat bayangan ketiga titik tersebut oleh dilatasi (O, 2) berturut-turut adalah …
18. EBT-SMP-92-31 A. (0, 4), (0, 8) dan (0, 16)
Koordinat titik P’ (–6, 9) diperoleh dari titik P (2, –3) dengan perkalian/dilatasi (O, k). B. (4, 4), (9, 8) dan (6, 16)
Nilai k adalah … C. (6, 4), (11, 6) dan (8, 10)
A. –3 D. (8, 4), (18, 8) dan (12, 16)
1
B. −3
22. EBT-SMP-02-24
1
C. Sebuah persegi panjang PQRS dengan P (3, 4), Q (3, –4). Dan R (–2, –4) didilatasi
3
D. 3 dengan pusat O (0, 0) dengan faktor skala 3. Luas persegi panjang setelah dilatasi
adalah …
19. EBT-SMP-93-41 A. 40 satuan luas
Bayangan titik P pada dilatasi (O, –3) adalah (–12, 15), maka koordinat titik P adalah B. 120 satuan luas
… C. 240 satuan luas
A. (–4,5) D. 360 satuan luas
B. (4, –5)
C. (36, –45) 23. EBT-SMP-03-26
D. (–36, 45) Titik (6, –9) didilatasi dengan pusat O(0, 0) dan faktor skala 3, kemudian
⎛ − 10 ⎞
bayangannya di translasi dengan ⎜⎜ ⎟⎟ . Koordinat bayangan P adalah …
⎝ 18 ⎠
A. (–7, 30)
B. (7, 6)
C. (–8, 15)
54
D. (8, –9) E. –7 dan 13
27. MA-86-09
⎛ p q⎞ ⎛ p 6⎞ ⎛ 4 p + q⎞
Jika 3 ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟ maka harga p, q, r dan s adalah …
⎝ r s⎠ ⎝−1 s ⎠ ⎝r + s 3 ⎟⎠
MATRIKS A. p=2, q=3 , r=4, s=1
B. p=2, q = 4 , r = –1 , s =3
C. p=2, q = –4 , r = 1 , s =-3
24. EBT-SMA-93-03 D. p=2, q = –4 , r = –1 , s =3
Diketahui matriks E. p=2, q = 4 , r = 1 , s =3
⎛ 2 p 2 − 3a ⎞ ⎛ -p -7 q ⎞ ⎛ -2 -5 6 ⎞
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
A = ⎜ 4 -1 -4 ⎟ , B = ⎜ -5 5 r ⎟ , C = ⎜ -1 4 -2 ⎟ 28. MA-84-02
⎜ r q -2 ⎟ ⎜ -5 4 7 ⎟ ⎜ -3 1 5 ⎟
⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎛ − 1⎞ ⎛ 4⎞ ⎛ 2⎞ ⎛ 2⎞
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
Jika A + B = C maka nilai p , q dan r berturut-turut adalah … ⎜ 1 ⎟
Jika : 2 2 + 3 ⎜ 0⎟ + k ⎜ 1⎟ = ⎜ − 3⎟ maka k adalah …
A. 2 , – 3 dan 2 ⎜ 1 ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
B. 2 , – 3 dan -2 ⎜ ⎟ ⎝ 4⎠ ⎝ 3⎠ ⎝ − 4⎠
⎝ 2 ⎠
C. 2 , – 4 dan 2 A. –4
D. 2 , – 3 dan 2 B. –2
E. 2 , – 4 dan 2 C. 2
D. 3
25. EBT-SMA-87-11 E. 4
⎛5 a 3⎞ ⎛3 2 3⎞
Nilai c dari persamaan matriks : ⎜⎜ ⎟ = ⎜⎜ ⎟ adalah …
⎝b 2 c ⎟⎠ ⎝ 2a 2 ab ⎟⎠ 29. MD-00-28
A. 2 ⎛ 4x+2 y 0 ⎞⎟ ⎛ 8 0 ⎞
Jika ⎜⎜ =⎜ ⎟ maka x + y …
B. 4
⎝ 2 3x − 2 ⎟⎠ ⎜⎝ 2 7 ⎟⎠
C. 6
15
D. 8 A. − 4
E. 10 15
B.
4
9
26. EBT-SMA-87-12 C. − 4
⎛ 7 2⎞ ⎛ 3 −1⎞ ⎛1 0⎞
Jika ⎜⎜ ⎟⎟ = p ⎜⎜ ⎟⎟ + q ⎜⎜ ⎟⎟ maka p dan q berturut-turut adalah … D. 9
⎝ − 4 23 ⎠ ⎝ 2 − 5⎠ ⎝0 1⎠ 4
21
A. 2 dan 13 E.
4
B. –2 dan 13
C. 2 dan –13
D. 7 dan 13
55
30. MD-99-24 33. MD-95-16
Diketahui persamaan
log z ⎞⎟ ⎛⎜ log z 2 ⎞⎟
4
⎛ x log y 2

⎛ 2 ⎞ ⎛ −1⎞ ⎛ − 7 ⎞ Nilai x yang memenuhi persamaan ⎜⎜ = 1 adalah …


⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ 1
3
log y ⎟⎠ ⎜⎝ 1 2⎠

x ⎜ 5 ⎟ + y ⎜ − 6 ⎟ = ⎜ − 21 ⎟
⎜ − 2⎟ ⎜ 5 ⎟ ⎜ 2 z − 1⎟ A. √3
⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ B. 3
Nilai z = … C. √2
A. –2 D. –3
B. 3 E. 0
C. 0
D. 6 34. MD-89-21
E. 30
⎛ x log ( 2a-2 ) ⎞⎟ ⎛⎜ log a 1⎞⎟ maka x = ...
Jika ⎜ log a =
⎜ log (b-4 ) 1 ⎟ ⎜⎝ log b 1⎟⎠
31. MD-86-15 ⎝ ⎠
⎛x 2 ⎞ 1 ⎛ 6 4⎞ A. 6
Jika ⎜⎜ ⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ , maka nilai y adalah
⎝ y 2 x − y ⎟⎠ 2
⎝2y 8⎠ B. 10
A. 2 C. 1
B. 3 D. 106
C. 4 E. 4
D. 6
E. 8 35. MD-99-29
⎛5 + x x ⎞ ⎛9 − x⎞
Diketahui A ⎜⎜ ⎟⎟ dan B = ⎜⎜ ⎟⎟
32.MA-04-05 ⎝ 5 3x ⎠ ⎝7 4 ⎠
⎛a + 2 a ⎞ Jika determinan A dan determinan B sama, maka harga x yang memenuhi adalah …
Oleh matriks A = ⎜⎜ ⎟ , titik P (1, 2) dan titik Q masing-masing
⎝ 1 a + 1⎟⎠ A. 3 atau 4
ditransformasikan ke titik P′(2, 3) dan titik Q′(2, 0). Koordinat titik Q adalah … B. –3 atau 4
A. (1, –1) C. 3 atau –4
B. (–1, 1) D. –4 atau 5
C. (1, 1) E. 3 atau –5
D. (–1, –1)
E. (1, 0)

56
36. MD-97-25 39. MD-89-27
⎡t − 2 − 3 ⎤ ⎛λ 3 ⎞
Nilai t yang memenuhi det ⎢ ⎥ = 0 Nilai λ 1 dan λ2 untuk λ agar matriks ⎜
⎣ − 4 t − 1⎦ ⎟ tidak mempunyai invers memenuhi
⎝ 4 1 + λ⎠
adalah …
...
(1) –2
A. | λ1 | + | λ2 | = 5
(2) 2
B. | λ1 + λ2 | = 1
(3) 5
(4) 1 C. λ1 λ2 = 6
D. λ1 dan λ2 berlawanan tanda
37. MD-90-06 40. MD-87-21
Jika 2 x + 3y – 3 = 0 Bila persamaan garis lurus dinyatakan oleh
4x – y + 7 = 0 1 x y
a a 1 1 = 0 mempunyai gradien 2, maka a = …
dan y = maka a = …
2 3 1 2 3
4 −1 A. 0
A. –26 B. 1
B. –19 C. –1
C. –2 D. 2
D. 2 E. 1
2
E. 26
41. MD-85-12
38. MD-89-24 0 2 3
( 2 x-1 ) 2 Nilai determinan − 2 0 4 sama dengan …
Jumlah akar-akar persamaan = 0 adalah ...
(x+2 ) (x + 2 )
−3 −4 0
A. –3 1 A. 0
2

B. – 1 B. 1
2
C. 2
C. 0 D. 3
1
D. E. 4
2

E. 31
2

57
E. 1
42. MD-04-21
Jika matriks : 45. MD-99-25
⎛ a 2 3⎞ ⎛ 2 5⎞ ⎛5 4⎞
⎜ ⎟ Jika A = ⎜⎜ ⎟⎟ dan B = ⎜⎜ ⎟⎟ maka
A = ⎜ 1 a 4⎟ ⎝ 1 3⎠ ⎝1 1⎠
⎜ a 2 5⎟ determinan (A . B ) –1 = …
⎝ ⎠
Tidak mempunyai invers, maka nilai a adalah … A. –2
A. –2 atau 2 B. –1
B. –√2 atau √2 C. 1
C. –1 atau 1 D. 2
D. 2 E. 3
E. 2√2
43. MD-87-22 46. MD-98-24
At adalah transpose dari A,
cos x - cos 2 x 1
Persamaan = , dipenuhi oleh x = ⎛ 4 −1 ⎞ ⎛ 4 2⎞
sin x sin 2 x 2 Jika C = ⎜ −71 72 ⎟ , B = ⎜⎜ ⎟⎟ , A = C – 1
⎜ ⎟ ⎝ 2 8 ⎠
π ⎝7 7⎠
A. 2 Maka determinan dari matriks At B adalah …
π A. –196
B. 3 B. –188
π C. 188
C. 6 D. 196
π E. 212
D. 9

π 47. MD-01-24
E. 18
⎛1 4⎞
Jika matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ , maka nilai x yang memenuhi persamaan | A – x I | = 0
44. MD-04-18 ⎝ 2 3⎠
dengan I matriks satuan dan
⎛ a 1− p ⎞ ⎛2 b⎞
Jika matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ dan A −1 = ⎜⎜ ⎟⎟ , maka nilai b adalah … | A – x I | determinan dari A – x I adalah ...
⎝ 0 1 ⎠ ⎝0 1⎠ A. 1 dan –5
A. –1 B. –1 dan –5
B. – 1 C. –1 dan 5
2
D. –5 dan 0
C. 0
1
E. 1 dan 0
D.
2

58
48. MD-84-14
⎛ 1 2⎞ ⎛ 1 0⎞ INVERS
Diketahui matriks A = ⎜ ⎟ dan I = ⎜ ⎟
⎝ 4 3⎠ ⎝ 0 1⎠
51. MA-85-17
Carilah bilangan x yang memenuhi persamaan
⎛a b⎞
| A – x I | = 0 jika | A – x I | determinan dari matriks Jika b c ≠ 0, invers matriks ⎜⎜ ⎟⎟ adalah …
A–xI ⎝ c 0⎠
A. –1 atau 0 1 ⎛− a b⎞
A. ⎜ ⎟
B. 5 atau 0 bc ⎜⎝ c 0 ⎟⎠
C. 1 atau 5
1 ⎛a c⎞
D. –1 atau 5 B. ⎜ ⎟
bc ⎜⎝ b 0 ⎟⎠
E. –1 atau –5
1 ⎛0 b ⎞
C. ⎜ ⎟
49. MD-92-19 bc ⎜⎝ c − a ⎟⎠
⎛ a-b a ⎞
Matriks ⎜⎜ ⎟⎟ tidak mempunyai invers bila … 1 ⎛0 b⎞
⎝ a a + b⎠ D. ⎜ ⎟
bc ⎜⎝ c a ⎟⎠
A. a dan b sembarang
1 ⎛0 c ⎞
B. a ≠ 0 , b ≠ 0 dan a = b E. ⎜ ⎟
bc ⎜⎝ b a ⎟⎠
C. a ≠ 0 , b ≠ 0 dan a = - b
D. a = 0 dan b sembarang
E. b = 0 dan a sembarang 52.. MD-87-18
⎛ 8 4⎞
Invers matriks A = ⎜ ⎟ adalah …
50. MD-98-28 ⎝ 6 2⎠
⎛ u u3 ⎞ ⎛ −1 1 ⎞
Diketahui matriks A = ⎜⎜ 1 ⎟⎟ dan un adalah suku ke-n barisan aritmetik. Jika u6 =
⎝ u2 u4 ⎠ A. ⎜ 3 2 ⎟
⎜− − 4⎟
1
18 dan u10 = 30 maka determinan matriks A sama dengan … ⎝ 4 ⎠
A. –30 ⎛1 − 2 ⎞⎟
1
B. ⎜
B. –18 ⎜− 3 1 ⎟
C. –12 ⎝ 4 4 ⎠

D. 12 ⎛ 1 1⎞
C. ⎜ 4 2⎟
E. 18 ⎜− 3 1⎟
⎝ 4 ⎠

59
⎛− 1 1 ⎞ ⎛ - 1 2⎞
D. ⎜ 34 2 ⎟ C. ⎜ ⎟
⎜ − 1⎟ ⎝ - 3 5⎠
⎝ 4 ⎠
⎛ −1 1 ⎞ ⎛ - 1 - 2⎞
E. ⎜ 2 ⎟ D. ⎜ ⎟
⎜ 3 1⎟
−4 ⎝ 3 5⎠
⎝ 4 ⎠
⎛ 1 2⎞
E. ⎜ ⎟
53. MD-92-18 ⎝ - 3 - 5⎠
⎛ 1 1 ⎞
⎜ ⎟
Invers matriks ⎜ 2(a-b) 2(a+b) ⎟
⎜ -1 1 ⎟ 55. MD-82-12
⎜ 2(a-b) 2(a+b) ⎟⎠ ⎛ 1 − 1⎞

Jika M . ⎜⎜ ⎟⎟ = matriks satuan , maka M = …
A. ⎛ a-b a-b ⎞ ⎝ −1 2 ⎠
⎜⎜ ⎟
⎝ a + b a + b ⎟⎠ ⎛ 1 1⎞
A. ⎜⎜ ⎟⎟
B. ⎛ a-b -a+b ⎞ ⎝ 2 1⎠
⎜⎜ ⎟⎟
⎝ a+b a+b ⎠ ⎛1 2 ⎞
⎛ a-b -a+b ⎞ B. ⎜⎜ ⎟⎟
C. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝1 1 ⎠
⎝ -a-b a + b ⎠
⎛ 2 1⎞
⎛ -a+b a-b ⎞ C. ⎜⎜ ⎟⎟
D. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝ 1 1⎠
⎝a + b a + b⎠
⎛1 1 ⎞
E.
⎛ a+b a-b ⎞ D. ⎜⎜ ⎟⎟
⎜⎜ ⎟
⎝ a + b -a + b ⎟⎠ ⎝1 2 ⎠
⎛1 2 ⎞
E. ⎜⎜ ⎟⎟
54. MD-83-13 ⎝ 1 − 1⎠
⎛ 5 - 2⎞ 56. MA-84-08
Jika M N = matriks satuan dan N = ⎜ ⎟ maka matriks M =… ⎛1 2 2 ⎞⎟
1
⎝ 3 - 1⎠ Jika M = ⎜ 2 1 2 maka inversnya yaitu M-1 adalah :…
⎜ 1 ⎟
⎛ - 5 3⎞ ⎝ 2 2 ⎠
A. ⎜ ⎟ ⎛ 1 2 1⎞
⎝ - 2 1⎠
A. ⎜ 21 2⎟
⎜− 1⎟
⎛ 5 2⎞ ⎝ 2 2 2⎠
B. ⎜ ⎟
⎝ - 3 - 1⎠ ⎛1 2 1⎞
B. ⎜2 2⎟
⎜1 2 1⎟
⎝2 2⎠

60
⎛1 2 − 1⎞⎟ ⎛ − 2 − 3⎞
⎜2 D. ⎜⎜ ⎟
C.
⎜1 2 ⎝ 3 4 ⎟⎠
⎝2 − 1⎟⎠
⎛ − 4 − 3⎞
⎛ 1 2 1⎞ E. ⎜⎜ ⎟
D. ⎜ 21 ⎟ ⎝ 3 2 ⎟⎠
⎜− 2 1 ⎟
⎝ 2 ⎠ 59. MD-03-21
⎛ 1 2 1⎞ ⎛ 3 2⎞
⎜2 ⎟ Jika X adalah invers dari matriks ⎜⎜ ⎟⎟ , maka X2 adalah matriks …
E. ⎝ 2 2⎠
⎜ 1 2 1⎟
⎝2 ⎠ ⎛ 2 − 2⎞
A. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝− 2 3 ⎠
57. MD-82-29
⎛ 3 − 2⎞
⎛ 2 3⎞ ⎛1 0⎞ B. ⎜⎜ ⎟⎟
Jika A = ⎜ ⎟ dan I = ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝− 2 2 ⎠
⎝ 4 5⎠ ⎝0 1⎠
⎛ 2 − 2 2 ⎞⎟
1
⎛ 2 3⎞ C. ⎜
(1) AI= ⎜ ⎟ ⎜− 2 1 34 ⎟
1
⎝ 4 5⎠ ⎝ 2 ⎠
⎛ 31 − 2 2 ⎞⎟
1
⎛ 3 2⎞ D. ⎜ 4 1
(2) IA= ⎜ ⎟ ⎜− 2
⎝ 5 4⎠ 2 ⎟
⎝ 2 ⎠
(3) II=I ⎛2 1
⎜ 2 2 ⎞⎟
(4) AA=A E.
⎜3 1 −2 2⎟
1
⎝ 4 ⎠
58. MD-85-13
⎛ 4 3 ⎞ 60. MD-91-19
Diketahui matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ maka matriks B yang memenuhi A B = I dengan I
⎝ − 3 − 2⎠ ⎛a − a⎞
Diberikan matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ . Himpunan nilai a yang memenuhi hubungan
matriks satuan ialah … ⎝a a ⎠
⎛ − 2 3⎞ invers A = A transpose adalah …
A. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ − 3 4⎠ A. {–√2 , √2}
⎛ 2 3 ⎞ B. { 1 , –1 }
B. ⎜⎜ ⎟
4 ⎟⎠
1 1
⎝ − 3 − C. ( 2 √2 , – 2 √2 }
⎛ 4 3 ⎞ D. {
1 1
,–2 }
C. ⎜⎜ ⎟⎟ 2
⎝ − 3 − 2⎠ 1 1
E. ( 4 √2 , – 4 √2 }

61
61. MA-90-04 PERKALIAN
⎧ x = ax' + by'
Jika ad ≠ bc, dan dari sistem persamaan ⎨ dapat dihitung menjadi
⎩ y = cx' + dy'
63. EBT-SMA-86-02
⎧ x' = px + qy ⎛ g h⎞ ⎛a b ⎞ ⎛ p q⎞
⎨ , maka ⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎜ ⎟⎟ = … Bila matriks A berordo 3 × 2 dan matriks B berordo 2 × 1 maka matriks perkalian AB
⎩ y' = rx + sy ⎝m t ⎠ ⎝c d ⎠ ⎝ r s⎠ mempunyai ordo …
⎛ t − h⎞ A. 3 × 2
A. ⎜⎜ ⎟
⎝ − m g ⎟⎠ B. 2 × 1
⎛− g h ⎞ C. 2 × 3
B. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ m −t⎠ D. 1 × 3
E. 3 × 1
⎛ t m⎞
C. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝h g ⎠ 64. MD-86-16
⎛ g h⎞
D. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎛ 3⎞ ⎛1 3 ⎞
⎝m t ⎠ Jika diketahui matriks A = ⎜ ⎟ dan B = ⎜ ⎟ yang benar di antara hubungan
⎝ 2⎠ ⎝ 4 − 3⎠
⎛ − g − h⎞ berikut adalah …
E. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝− m − t ⎠ A. A B = 3A
B. A B = 3B
62. EBT-SMA-98-04 C. B A = 3A
⎛ 6 2 ⎞ ⎛ −1 − 5 ⎞ ⎛ 2 3⎞ D. B A = 3B
Diketahui matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ , B = ⎜⎜ ⎟⎟ dan C = ⎜⎜ ⎟⎟ . Nilai k yang E. 3B A = A
⎝ − 3 − 2⎠ ⎝ 0 3k + 1⎠ ⎝ 3 5⎠
memenuhi A + B = C-1
65. MA-79-49
(C-1 invers matriks C) adalah …
A. 1 ⎛a b ⎞
⎜ ⎟ ⎛ u v⎞
1 Diketahui matriks P = ⎜ c d ⎟ dan Q = ⎜⎜ ⎟⎟
B. ⎝w z⎠
3 ⎜e f ⎟
⎝ ⎠
2
C. Diantara operasi-operasi di bawah ini, mana saja yang dapat dikerjakan ?
3
D. 1 (1) P×Q
E. 3 (2) P+Q
62
(3) 5Q Berapakah (A + B)2 ?
(4) Q×P (1) A2 + 2AB + B2
(2) A2 + AB + AB + B2
(3) AA + 2AB + BB
(4) A(A + B) + B (A + B)
66. MA-94-10
⎛ x − 5 4 ⎞⎛ 4 −1 ⎞ ⎛ 0 2⎞ 70. MD-96-15
Jika ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟=⎜ ⎟ maka …
⎝ − 5 2 ⎠⎝ 2 y − 1⎟⎠ ⎜⎝ − 16 5 ⎟⎠ ⎛ 4 1 ⎞ ⎛ -1
Jika ⎜⎜ ⎟⎟ . ⎜⎜
a⎞ ⎛ 1 15 ⎞
⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ maka b = …
A. y = 3x ⎝ 3 a ⎠ ⎝ 2 a + b 7 ⎠ ⎝ 7 20 ⎠
B. y = 2x A. 1
C. y = x B. 2
x C. 3
D. y = 3
D. 4
x E. 5
E. y= 2

71. MD-02-06
67. MD-81-44 Harga x yang memenuhi
⎛ 2 0⎞ ⎛5 6⎞ ⎛ 4 x − 2⎞ ⎛ − 6 8 ⎞ ⎛ 3 1 ⎞⎛ 0 3 ⎞
Diketahui matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ dan B = ⎜⎜ ⎟⎟ . Pernyataan di bawah ini mana yang ⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟ = 2⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 0 2⎠ ⎝7 8⎠ ⎝3 2 ⎠ ⎝ − 11 − 6 ⎠ ⎝ − 2 4 ⎠⎝ − 1 1 ⎠
benar ? adalah …
(1) A2 = 2A A. 0
(2) A . B = B . A B. 10
(3) A . B = 2B C. 13
(4) B . A . B = 2B2 D. 14
E. 25
68. MD-00-26
Hasil kali matriks (B A) (B + A-1) B–1 = … 72. MD-87-23
A. A B + 1 ⎛ -1 d ⎞ ⎛ 4 − 5⎞ ⎛ 2 -1⎞ ⎛ 2c 1 ⎞
B. B A + 1 ⎜⎜ ⎟⎟ +
⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎜ ⎟
⎝ -b 3 ⎠ ⎝ -3 b ⎠ ⎝ - 4 3 ⎠⎝ c a + 1⎟⎠
C. A + B–1
maka a = …
D. A–1 + B
A. –2
E. AB + A
4
B. –
69. MD-84-32 3
Diketahui matriks A dan B berordo sama, 2 × 2
63
2
A. ⎡ - 1 6⎤
C. ⎢- 7 4⎥
3 ⎣ ⎦
D. 2
B. ⎡ ⎤
- 1 14
2 ⎢- 3 − 4⎥
E. – ⎣ ⎦
3
⎡1 − 14⎤
C.
⎢3 4 ⎥
73. EBT-SMA-01-02 ⎣ ⎦
D. ⎡
⎛ − 1 4 ⎞ ⎛ 4 − 5 ⎞ ⎛ 2 1 ⎞⎛ 2 p 1 ⎞ - 1 6⎤
Diketahui ⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ ⎢ 7 4⎥
⎝ − 2 3 ⎠ ⎝ − 3 2 ⎠ ⎝ − 4 3 ⎠⎝ 1 q + 1⎠ ⎣ ⎦

E. ⎡
Maka nilai p+ q = … - 1 3⎤
A. –3 ⎢14 4 ⎥
⎣ ⎦
B. –1 76. MD-96-21
C. 1 Titik potong dari dua garis yang disajikan sebagai persamaan matriks
D. 2
⎛ − 2 3⎞ ⎛ x ⎞ ⎛ 4⎞
E. 3 ⎜⎜ ⎟⎟ . ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ adalah …
⎝ 1 2⎠ ⎝ y ⎠ ⎝ 5⎠
74. MD-03-20 A. (1, –2)
Jika x dan y memenuhi persamaan matriks B. (–1,2)
⎛1 − x 1 ⎞⎛ 1 ⎞ ⎛ 4 ⎞ C. (–1, –2)
⎜⎜ ⎟⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ D. (1,2)
⎝ 3 2 + y ⎟⎠⎜⎝ 2 ⎟⎠ ⎜⎝ 1 ⎟⎠
E. (2,1)
maka x + y = …
A. –4 77. MD-94-28
B. –2
⎛ 2 − 3⎞ ⎛ x ⎞ ⎛ 3 ⎞
C. 2 Persamaan matriks : ⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ merupakan persamaan garis-garis lurus
D. 4 ⎝ 3 2 ⎠ ⎝ y ⎠ ⎝ 4⎠
E. 8 yang …
(1) berpotongan di titik (1,1)
75. EBT-SMA-95-23 (2) melalui titik pangkal sistem koordinat
(3) berimpit
Diketahui transformasi T1 bersesuaian dengan ⎡
1 2⎤
dan T2 bersesuaian dengan
⎢- 1 0⎥ (4) saling tegak lurus
⎣ ⎦
⎡ 1 2⎤ . Matriks yang bersesuaian dengan T o T adalah … 78. MD-93-27
⎢- 1 0⎥ 1 2
⎣ ⎦ ⎛ − 1 5 ⎞⎛ x ⎞ ⎛ − 13 ⎞
Jika ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ , maka x dan y berturut-turut …
⎝ 4 − 6 ⎠⎝ y ⎠ ⎝ 24 ⎠

64
A. 3 dan 2
B. 3 dan –2 82. EBT-SMA-88-12
C. –3 dan –2 ⎛1 - 6 ⎞ ⎛ x ⎞ ⎛ - 10 ⎞ ⎛ x⎞
D. 4 dan 5 Jika ⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ , maka ⎜⎜ ⎟⎟ = …
⎝1 - 2 ⎠ ⎝ y ⎠ ⎝ 18 ⎠ ⎝ y⎠
E. 5 dan –6
⎛ 37 ⎞
A. ⎜ ⎟
⎝7⎠
⎛ 32 ⎞
79. MD-01-03 B. ⎜ ⎟
⎛ 2 3 ⎞⎛ x ⎞ ⎛ 5 ⎞
⎝ - 4⎠
Persamaan matriks ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ merupakan persamaan dua garis lurus yang
⎝ − 4 5 ⎠⎝ y ⎠ ⎝ 1 ⎠ ⎛ - 4⎞
C. ⎜ ⎟
berpotongan di titik yang jumlah absis dan ordinatnya sama dengan ... ⎝1⎠
A. 0
⎛ - 18 ⎞
B. 2 D. ⎜ ⎟
C. 3 ⎝ -2 ⎠
D. 4 ⎛ -2 ⎞
E. 5
E. ⎜ ⎟
⎝ - 18 ⎠
80. MD-87-16
83. MA-85-02
⎛ 1 − 4⎞ ⎛ x ⎞ ⎛ -3 ⎞
Jika ⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ , maka … ⎛1 5 ⎞ ⎛ x⎞ ⎛ − 4⎞
⎝− 4 6 ⎠ ⎝ y⎠ ⎝ 2 ⎠ Diketahui A = ⎜ ⎟ ,B= ⎜⎜ ⎟⎟ , C = ⎜ ⎟ Apabila A . B = C, maka nilai x dan y
⎝ 3 − 5⎠ ⎝ y⎠ ⎝ − 2⎠
A. x=1 dan y = –1
berturut-turut adalah …
B. x = –1 dan y=1
13 1
C. x = –2 dan y=1 A. – 2
dan 2
D. x=2 dan y = –1 3 1
B. – 2 dan - 2
E. x=1 dan y=1
3 13
C. 2
dan – 2
81. MD-83-12
3 1
⎛ 3 1 ⎞⎛ x ⎞ ⎛ 9 ⎞ D. – 2 dan 2
Pasangan (x , y) yang di dapat dari : ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ ialah …
⎝ 3 2 ⎠⎝ y ⎠ ⎝12 ⎠ E.
13
dan
1
2 2
A. (3 , 1)
B. (1 , 3)
84. EBT-SMA-03-09
C. (2 , 3)
⎛ 2 6 ⎞⎛ x ⎞ ⎛ 2 ⎞
D. (3 , 2) Nilai x2 + 2xy + y2 yang memenuhi persamaan ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ adalah …
E. (1 , 1) ⎝ 1 − 3 ⎠⎝ y ⎠ ⎝ − 5 ⎠
65
A. 1 ⎛ -1 4⎞
B. 3 B. ⎜ ⎟
C. 5
⎝ 4 2⎠
D. 7 ⎛ 1 3⎞
E. 9
C. ⎜ ⎟
⎝ 4 2⎠
⎛ -1 3⎞
D. ⎜ ⎟
⎝ 4 2⎠
⎛5 4⎞
85. EBT-SMA-92-03 E. ⎜ ⎟
Matriks X berordo 2 × 2 yang memenuhi persamaan ⎝ - 9 1/2 ⎠

( ) ( )
1 3
X=
-7 4
adalah …… 87. EBT-SMA-90-05

( ) ( )
2 4 -10 8

⎛ −1 4⎞
1 -1 -7 -3 ⎛a d ⎞
A. ⎜⎜ ⎟⎟ Diketahui matrks : A = 2 3
, B = 11 14 x = ⎜⎜ ⎟⎟ dan A . X = B . Nilai d pada
⎝ − 2 0⎠ ⎝b c ⎠
matriks x tersebut adalah …
⎛ 4 − 2⎞
B. ⎜⎜ ⎟⎟ A. –3
⎝ −1 0 ⎠ B. –2
⎛ − 2 4⎞ C. 2
C. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 0 1⎠ D. 3
E. 4
⎛ 1 4⎞
D. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 2 0⎠ 88. EBT-SMA-89-10
⎛ 0 − 2⎞
E. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎛ 2 8⎞ ⎛ 2 4⎞
⎝ −1 0 ⎠ Perkalian dua matriks ordo 2 × 2 ⎜ ⎟ M= ⎜ ⎟
⎝1 2⎠ ⎝1 2⎠
maka matriks M adalah ……
86. EBT-SMA-91-03
⎛1 2⎞
⎛ 2 3⎞ ⎛ 10 12 ⎞ A. ⎜ ⎟
Diketahui persamaan matriks ⎜ ⎟X=⎜ ⎟ dengan X adalah matriks bujur ⎝ 0 0⎠
⎝ - 1 2 ⎠ ⎝9 1⎠
sangkar ordo 2. Matriks X = … ⎛ 2 1⎞
B. ⎜ ⎟
⎛ -1 3⎞ ⎝ 0 0⎠
A. ⎜ ⎟
⎝ 2 4⎠ ⎛ 1 3⎞
C. ⎜ ⎟
⎝ 0 0⎠

66
⎛ 2 1⎞ ⎛ − 5 − 6⎞
D. ⎜ ⎟ C. ⎜⎜ ⎟
⎝1 2⎠ ⎝ 4 5 ⎟⎠

⎛ 1 0⎞ ⎛ 2 − 1⎞
E. ⎜ ⎟ D. ⎜ 1 1⎟
⎜− ⎟
⎝0 1⎠ ⎝ 2 12 ⎠
⎛ − 6 − 5⎞
E. ⎜⎜ ⎟
⎝ 5 4 ⎟⎠
91. EBT-SMA-87-13
89. MA-89-02
⎛1 2⎞ ⎛ 4 11⎞
⎛ 1 2⎞ ⎛ 0 1⎞ Matriks A berordo 2 × 2 . Jika ⎜ ⎟ A =⎜ ⎟ maka A adalah matriks …
Jika ⎜ ⎟ . A= ⎜
⎝ 3 4⎠
⎟ , maka 2A sama dengan …
⎝ 1 0⎠
⎝3 1⎠ ⎝7 8 ⎠
⎛1 2 ⎞
⎛ 2 − 4⎞ A. ⎜⎜ ⎟⎟
A. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝1 5 ⎠
⎝− 4 3 ⎠
⎛ 1 1⎞
⎛ 1 − 2⎞ B. ⎜⎜ ⎟⎟
B. ⎜ 1 ⎟ ⎝ 2 5⎠
⎜− 3

⎝ 2 2 ⎠
⎛ 2 5⎞
C. ⎜⎜ ⎟⎟
⎛ 2 − 4⎞
C. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝ 1 5⎠
⎝−1 3 ⎠ ⎛ 2 1⎞
⎛ 4 − 8⎞
D. ⎜⎜ ⎟⎟
D. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝ 5 1⎠
⎝− 2 6 ⎠ ⎛5 1⎞
E. ⎜⎜ ⎟⎟
⎛ 2 − 4⎞
E. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝1 2⎠
⎝−1 2 ⎠
92. MD-91-20
90. MA-79-39 ⎛ 6 7 ⎞ ⎛ 2 3⎞
Matriks X berordo 2 × 2 yang memenuhi Jika P . ⎜⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ maka P = …
⎝ 8 9 ⎠ ⎝ 4 5⎠
⎛ 1 2⎞ ⎛ 4 3⎞
⎜ ⎟X = ⎜ ⎟ , adalah matriks … ⎛ 3 2⎞
⎝ 3 4⎠ ⎝ 2 1⎠ A. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝2 1⎠
⎛1 0⎞
A. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎛ − 3 2⎞
⎝0 1⎠ B. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝− 2 1⎠
⎛ 0 1⎞
B. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎛1 2⎞
C. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 1 0⎠
⎝ 2 3⎠

67
⎛ 2 3⎞
D. ⎜⎜ ⎟⎟
95. MD-02-02
⎝1 2⎠
⎛1 3⎞ ⎛ 2 2⎞
⎛ 3 − 2⎞ Jika A = ⎜⎜ ⎟⎟ dan B = ⎜⎜ ⎟⎟ , maka
E. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝3 4⎠ ⎝1 3⎠
⎝2 −1⎠
(A B)–1 AT = …
⎛3 2⎞
A. ⎜ 14 4⎟
93. MD-98-25
⎛ x 1⎞ ⎛3 2⎞ ⎜ 2⎟
Diketahui matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ , B = ⎜⎜ ⎟⎟ dan ⎝4 4⎠
⎝−1 y⎠ ⎝1 0⎠ ⎛ 3 − 4 ⎞⎟
2
⎛1 0⎞ B. ⎜ 4
C = ⎜⎜ ⎟⎟ . Nilai x + y yang memenuhi persamaan AB – 2B = C adalah … ⎜⎜ − 1 2 ⎟

⎝ -1 - 2⎠ ⎝ 4 4 ⎠

A. 0 ⎛ 3 − 8 ⎞⎟
2

C. ⎜ 8
B. 2 ⎜⎜ − 1 2 ⎟

C. 6 ⎝ 8 8 ⎠
D. 8 ⎛3 2⎞
E. 10 D. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝1 2⎠
⎛ 3 − 2⎞
94. MD-95-28 E. ⎜⎜ ⎟⎟
⎛1 2⎞ ⎛ − 6 − 5⎞ ⎝−1 2 ⎠
Diketahui : A = ⎜⎜ ⎟⎟ dan B = ⎜⎜ ⎟.
⎝3 4⎠ ⎝ 5 4 ⎟⎠
96. MD-01-23
(A . B) –1 = …
⎛ p −1 p + q⎞ ⎛ 1 0⎞ ⎛1 1 ⎞
⎛ 4 3⎞ A = ⎜⎜ ⎟,B= ⎜⎜ ⎟⎟ dan C = ⎜⎜ ⎟⎟ . Jika A + B = C2 maka q + 2t
A. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ p 2 s ⎟⎠ ⎝− s t ⎠ ⎝ 0 − 1⎠
⎝ 2 1⎠
= ...
⎛ 1 − 3⎞
B. ⎜⎜ ⎟⎟ A. –3
⎝− 2 4 ⎠ B. –2
⎛− 1 − 1 2 ⎞⎟
1 C. –1
C. ⎜ 2
⎜ 1 2 ⎟⎠ D. 0

E. 1
⎛− 1 −1 1 ⎞
D. ⎜ 2 2⎟
⎜ −1 2 ⎟⎠ 97. MD-93-13

⎛1 a + b⎞ ⎛a −1 0 ⎞
⎛− 1 − 1 2 ⎞⎟
1 Matriks A = ⎜⎜ ⎟ ,B= ⎜⎜ ⎟⎟ dan
E. ⎜ 2 ⎝a c ⎟⎠ ⎝ −c d⎠
⎜ 1 − 2 ⎟⎠

68
⎛1 0 ⎞ E. dua garis berpotongan
C = ⎜⎜ ⎟⎟ . Jika A + Bt = C2 , dengan Bt tranpose dari B, maka d = …
⎝ 1 1 ⎠
100. MD-88-14
A. –1
B. –2 ⎛a 4⎞ ⎛ 2c-3b 2a+1⎞
Matrik A = ⎜⎜ ⎟⎟ dan B = ⎜⎜ ⎟
C. 0 ⎝ 2b 3c ⎠ ⎝ a b+7 ⎟⎠
D. 1 Supaya dipenuhi A = 2Bt , dengan Bt menyatakan transpos matrik B maka nilai c = …
E. 2 A. 2
B. 3
C. 5
98. MD-90-15 D. 8
⎛6 7⎞ E. 10
Jika C adalah hasil kali matriks A dengan matriks B yakni C = A B dan C = ⎜⎜ ⎟⎟
⎝19 18 ⎠
101. MD-87-20
⎛ 4 3⎞
dan B = ⎜⎜ ⎟⎟ maka A adalah … Jika α , β dan γ sudut-sudut segitiga ABC dan
⎝ 1 2⎠
⎛ sin α cos α ⎞ ⎛ cos β - sin β ⎞ ⎛ sin γ cos 2 γ ⎞⎟
1
⎛ 1 4⎞ ⎜⎜ ⎟⎜ ⎟=⎜
A. ⎜⎜ ⎟⎟ ⎝ cos β sin β ⎟⎠ ⎜⎝ sin β cos β ⎟⎠ ⎜⎝ 1 0 ⎟⎠
⎝ 2 3⎠
maka γ = …
⎛ 1 3⎞
B. ⎜⎜ ⎟⎟ A. 300
⎝ 2 4⎠ B. 450
⎛ 1 2⎞ C. 600
C. ⎜⎜ 4 3 ⎟⎟ D. 900
⎝ ⎠
E. 1200
⎛1 2⎞
D. ⎜⎜ ⎟
⎝3 4 ⎟⎠
102. MD-86-33
⎛1 3⎞ ⎛ 1 0⎞
E. ⎜⎜ ⎟
⎟ untuk mentranformasikan titik P(2, 3) bayangannya P′ (2, 3)
⎝4 2 ⎟⎠ Dengan matriks ⎜
⎝ 0 1⎠
SEBAB
99. MD-90-21
⎛ 1 0⎞ ⎛ 2⎞ ⎛ 2⎞
⎜ ⎟ ⎜ ⎟= ⎜ ⎟
(x y ) ⎛⎜⎜
0 1⎞ ⎛ x ⎞
⎟⎟ ⎜⎜ ⎟⎟ = 5 merupakan persamaan … ⎝ 0 1⎠ ⎝ 3⎠ ⎝ 3⎠
⎝1 0⎠ ⎝ y ⎠
A. lingkaran
103. MD-81-17
B. elips
C. parabol
D. hiperbol
69
Si A berbelanja di toko P: 3 kg gula @ Rp. 400,00, 10 kg beras @ Rp. 350,00 dan di D. –1 atau –2
toko Q : 2 kg gula @ Rp. 425,00, 5 kg beras @ Rp. 325,00. Pengeluaran belanja di E. –1 atau 1
toko P dan di toko Q dapat ditulis dalam bentuk matriks ...
⎛ 3 10 ⎞⎛ 400 350 ⎞ UAN-SMA-04-12
A. ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 2 5 ⎠⎝ 425 325 ⎠ ⎡ 2 0⎤ ⎡1 2 ⎤
Diketahui matriks S = ⎢ ⎥ dan M = ⎢ ⎥.
⎛ 3 10 ⎞⎛ 400 425 ⎞ ⎣ 0 3⎦ ⎣0 − 3⎦
B. ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟
Jika fungsi f (S, M) = S2 – M2, maka matriks
⎝ 2 5 ⎠⎝ 350 325 ⎠
F (S + M, S – M) adalah …
⎛3 2 ⎞⎛ 400 425 ⎞
C. ⎜⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎡4 20 ⎤
⎝10 5 ⎟⎠⎜⎝ 350 325 ⎟⎠ A. ⎢ ⎥
⎣4 − 40 ⎦
⎛3 2 ⎞⎛ 400 425 ⎞
D. ⎜⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎡4 20 ⎤
⎝10 5 ⎟⎠⎜⎝ 350 325 ⎟⎠ B. ⎢4 − 30 ⎥
⎣ ⎦
⎛ 3 2 ⎞⎛ 350 325 ⎞
E. ⎜⎜ ⎟⎟⎜⎜ ⎟⎟ ⎡4 − 8 ⎤
⎝10 5 ⎠⎝ 400 425 ⎠ C. ⎢4 − 38⎥
⎣ ⎦
104. EBT-SMA-97-13 ⎡ 4 20 ⎤
D. ⎢− 4 − 40⎥
⎛ 2 1⎞ ⎣ ⎦
Diketahui matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ . Nilai k yang memenuhi
⎝ 4 3⎠ ⎡ 4 − 8⎤
E. ⎢− 4 36 ⎥
k det AT = det A–1 (det = determinan) adalah … ⎣ ⎦
A. 2
B. 1 1 106. EBT-SMA-00-07
4
⎛2 3 ⎞ ⎛ 6 12 ⎞
C. 1 Diketahui A = ⎜⎜ ⎟⎟, B = ⎜⎜ ⎟ dan
1 ⎝ − 1 − 2 ⎠ ⎝ − 4 − 10 ⎟⎠
D. 2 A2 = xA + yB. Nilai x y = …
1 A. –4
E.
4
B. –1

105. EBT-SMA-96-02 C. – 1
2
⎛2 1 ⎞ ⎛1 0⎞ D. 1 1
Diketahui matriks A = ⎜⎜ ⎟⎟ dan I = ⎜⎜ ⎟⎟ . Matriks (A – kI) adalah matriks 2
⎝ 0 − 1⎠ ⎝0 1⎠ E. 2
singular untuk k = ...
A. 1 atau 2 107. EBT-SMA-99-07
B. 1 atau –2
C. –1 atau 2
70
⎛ 2 3⎞ ⎛ −1 − 4⎞ A. ⎡ 1 0 ⎤
Diketahui matrik A = ⎜⎜ ⎟⎟ , B = ⎜⎜ ⎟, ⎢0 1⎥
⎝ 5 1⎠ ⎝ 2 3 ⎟⎠ ⎣ ⎦
⎛ 2 3n + 2 ⎞ B. ⎡1 0⎤
C = ⎜⎜ ⎟⎟ . Nilai n yang memenuhi ⎢- 2 1 ⎥⎦

⎝ − 6 3 − 18 ⎠
C. ⎡1 0⎤
A × B = C + At (At tranpose matriks A) adalah … ⎢2
1 ⎣ 1 ⎥⎦
A. –6 3
D. ⎡1 0⎤
B. –2 2 ⎢2 - 1⎥⎦
3 ⎣
2 E. ⎡1 0 ⎤
C. ⎢- 1 - 2⎥
3
⎣ ⎦
D. 2
E. 2 2 110. EBT-SMA-03-40
3
108. EBT-SMA-90-04 Jika x dan y memenuhi persamaan:

( ) ( ) ⎛ 2 2 log x log y ⎞⎟⎛ 1 ⎞ ⎛ 5 ⎞


2 -1 2
1 2
Diketahui matriks A = 3 4 dan B = ⎜ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ , maka x . y = …
-2 1 ⎜ 3 2 log y

2
log x ⎟⎠⎜⎝ 4 ⎟⎠ ⎜⎝ 5 ⎟⎠
A2. B = … 1
A. √2
⎛ − 13 − 4 ⎞ 4
A. ⎜⎜ ⎟⎟ 1
⎝ − 8 49 ⎠ B. 2
√2
⎛ 13 − 4 ⎞ C. √2
B. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ − 8 49 ⎠ D. 2√2
⎛ 13 − 4 ⎞ E. 4√2
C. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ − 8 23 ⎠ 111. MA-87-10
⎛ −4 2⎞ ⎛ x⎞
D. ⎜⎜ ⎟⎟ Bentuk kuadrat ax2 + bx + c dapat ditulis sebagai per-kalian matriks (x 1) A ⎜⎜ ⎟⎟ ,
⎝ − 18 16 ⎠ ⎝1⎠
⎛2 9 ⎞ A adalah matriks …
E. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 1 22 ⎠ ⎛c 1⎞
(1) ⎜⎜ ⎟⎟
⎝0 a⎠
109. EBT-SMA-95-04
⎛a b⎞
Diketahui matriks A = ⎡ 1 - 1⎤ dan B = ⎡1 - 1⎤ , X adalah matriks bujur sangkar (2) ⎜⎜ ⎟⎟
⎢2 2 ⎥⎦ ⎢0 ⎝0 c⎠
⎣ ⎣ 4 ⎥⎦
ordo dua. Jika X A = B , maka X adalah matriks … ⎛c 0⎞
(3) ⎜⎜ ⎟⎟
⎝b a⎠
71
⎛ a 0⎞
(4) ⎜⎜ ⎟⎟
116. MA-88-08
⎝b c⎠
⎛ 0 1⎞
Diketahui suatu transformasi T dinyatakan oleh matrik ⎜ ⎟ maka transformasi T
112. EBT-SMA-01-34 ⎝ − 1 0⎠
Bayangan segitiga ABC dengan A(2, 1), B(5, 2) dan C(5,4) jika dicerminkan terhadap adalah …
sumbu Y dilanjutkan dengan rotasi (O, 90o) adalah … A. pencerminan terhadap sumbu x
A. A′(–1, –2), B′(–2,-6) dan C′(–4, –5) B. pencerminan terhadap sumbu y
B. A′(2,1), B′(2,6) dan C′(3,5) C. perputaran
1
π
2
C. A′(1, –2), B′(2, –6) dan C′(4, –5)
1
D. A′(–2, –1), B′(–6, –2) dan C′(–5, –4) D. perputaran – 2 π
E. A′(2,1), , B′(6,2) dan C′(5,4) E. pencerminan terhadap garis y = x

113. EBT-SMP-02-23 117. EBT-SMP-93-32


Bayangan sebuah titik M (6, -8) dirotasikan dengan pusat O sejauh 90o adalah M’. Koordinat titik (3, –4) dicerminkan dengan garis
Koordinat M’ adalah … y = x, koordinat bayangan titik A adalah …
A. (–8, –6) A. (–4, –3)
B. (–8, 6) B. (4, –3)
C. (8, –6) C. (–3, 4)
D. (8, 6) D. (–4, 3)

114. EBT-SMP-99-26 118. EBT-SMP-03-24


Segi tiga ABC dengan koordinat A (–4, 1), B (–1, 2) dan C (–2, 4) dirotasikan dengan ⎛ 10 ⎞
pusat O sebesar 90o. Koordinat titik sudut bayangan ∆ ABC adalah … Titik A (5, –3) di translasi ⎜⎜ ⎟⎟ , kemudian dilanjutkan dengan rotasi yang pusatnya
⎝− 7⎠
A. A’ (1, 4), B’ (2, 1), C’ (4, 2) o
O dengan besar putaran 90 berlawanan arah jarum jam. Koordinat bayangan titik A
B. A’ (4, 1), B’ (1, 2), C’ (2, 4)
adalah …
C. A’ (–4, –1), B’ (–1, –2), C’ (–2, –4)
A. (10, –15)
D. A’ (–1, –4), B’ (–2, –1), C’ (–4, –2)
B. (–10, –15)
C. (10, 15)
115. EBT-SMP-01-25
D. (–10, 15)
Titik-titik K (–2, 6), L (3, 4) dan M (1, –3) adalah segi tiga yang mengalami rotasi
berpusat di O (0, 0) sejauh 180o, Bayangan K, L dan M berturut-turut adalah …
119. EBT-SMA-90-30
A. K’ (6, –2), L (4, 3) dan M (–3, 1)
Bayangan garis x + 3y + 2 = 0 oleh transformasi yang ber kaitan dengan matriks
B. K’ (–6, 2), L (–4, 3) dan M (3, –1)
C. K’ (–2, –6), L (3, –4) dan M (1, 3) ⎛ 2 3⎞ ⎛1 2⎞
⎜⎜ ⎟⎟ dilanjutkan matriks ⎜⎜ ⎟⎟ adalah …
D. K’ (2, –6), L (–3, –3) dan M (–1, 3) ⎝ 1 2 ⎠ ⎝3 4⎠

72
A. 13x – 5y + 4 = 0 122. EBT-SMA-94-22
B. 13x – 5y – 4 = 0 Garis yang persamaannya x – 2y + 3 = 0 ditransformasi-kan dengan transformasi yang
C. –5x + 4y + 2 = 0 berkaitan dengan matriks ⎛⎜ 1 − 3 ⎞ . Persamaan bayangan garis itu adalah ……
⎜2 ⎟
D. –5x + 4y – 2 = 0 ⎝ − 5 ⎟⎠
E. 13x – 4y + 2 = 0 A. 3x + 2y – 3 = 0
B. 3x – 2y – 3 = 0
C. 3x + 2y + 3 = 0
– x+y+3=0
D. x – y + 3 = 0
120. EBT-SMA-88-13
Matriks yang bersesuaian dengan pencerminan terhadap garis y = x adalah … 123. EBT-SMA-03-35
⎛−1 0 ⎞ Persamaan peta garis 3x – 4y = 12 karena refleksi terhadap garis y – x = 0,
A. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 0 − 1⎠ ⎛ − 3 5⎞
dilanjutkan oleh transformasi yang bersesuaian dengan matriks ⎜⎜ ⎟⎟ adalah …
⎛1 0⎞ ⎝ −1 1⎠
B. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝0 1⎠ A. y + 11x + 24 = 0
⎛0 1⎞ B. y – 11x – 10 = 0
C. ⎜⎜ ⎟⎟ C. y – 11x + 6 = 0
⎝1 0⎠ D. 11y – x + 24 = 0
⎛ 0 − 1⎞ E. 11y – x – 24 = 0
D. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝1 0 ⎠
⎛ 0 − 1⎞ 124. EBT-SMA-02-36
E. ⎜⎜ ⎟⎟ Bayangan garis y = 2x + 2 yang dicerminkan terhadap garis y = x adalah …
⎝−1 0 ⎠
A. y = x + 1
B. y = x – 1
121. EBT-SMA-98-24 1
Garis dengan persamaan 2x + y + 4 = 0 dicerminkan terhadap garis y = x dan C. y = x–1
2

⎛1 2⎞ D. y = 1
x+1
dilanjutkan dengan transformasi yang bersesuaian dengan matriks ⎜⎜ ⎟⎟ . 2
⎝0 1⎠ 1 1
E. y = x–
Persamaan bayangannya adalah … 2 2

A. x – 2y + 4 = 0
B. x + 2y + 4 = 0 125. EBT-SMA-00-38
C. x + 4y + 4 = 0 Persamaan peta garis x – 2y + 4 = 0 yang dirotasikan dengan pusat (0,0) sejauh +90o,
D. y + 4 = 0 dilanjutkan dengan pencerminan terhadap garis y = x adalah …
E. x + 4 = 0 A. x + 2y + 4 = 0
B. x + 2y – 4 = 0

73
C. 2x + y + 4 = 0 ⎛ 1 0⎞
D. 2x – y – 4 = 0 A. ⎜ ⎟
E. 2x + y – 4 = 0
⎝ 0 1⎠
⎛1 0 ⎞
B. ⎜ ⎟
126. EBT-SMA-99-37 ⎝ 0 - 1⎠
Garis y = –3x + 1 diputar dengan R(0, 90o), kemudian dicerminkan terhadap sumbu X.
Persamaan bayangannya adalah … ⎛ -1 0⎞
C. ⎜ ⎟
A. 3y = x + 1 ⎝ 0 1⎠
B. 3y = x – 1
⎛ 0 - 1⎞
C. 3y = –x – 1 D. ⎜ ⎟
D. y = –x – 1 ⎝ -1 0 ⎠
E. y = 3x – 1 ⎛ 0 - 1⎞
E. ⎜ ⎟
⎝1 0 ⎠
127. EBT-SMA-91-37
Garis yang persamaanya y = 2x + √2 dirotasikan sejauh 450 dengan pusat O(0,0). 129. EBT-SMA-02-40
Garis yang terjadi persamaan-nya adalah ……
Diketahui segitiga ABC panjang sisi-sisinya 4, 5 dan 6 satuan terletak pada bidang α.
A. y + 3x + 2 = 0
B. y – 3x + 2 = 0 T adalah transformasi pada bidang α yang bersesuaian dengan matriks ⎛⎜ 1 4⎞
⎟ . Luas
⎝3 4⎠
C. y + 2x – 3 = 0
bayangan segitiga ABC oleh transformasi T adalah …
D. y + x – 2 = 0 5
E. 3y + x + 4 = 0 A. 16
√7 satuan luas
5
B. 4
√7 satuan luas
UAN-SMA-04-35
Persamaan peta kurva y = x2 – 3x + 2 karena pencermin an terhadap sumbu X C. 10√7 satuan luas
dilanjutkan dilatasi dengan pusat O dan faktor skala 3 adalah … D. 15√7 satuan luas
A. 3y + x2 – 9x + 18 = 0 E. 30 √7satuan luas
B. 3y – x2 + 9x + 18 = 0
C. 3y – x2 + 9x + 18 = 0 130. EBT-SMA-97-09
D. 3y + x2 + 9x + 18 = 0 Titik (4, –8) dicerminkan terhadap garis x = 6, dilanjutkan dengan rotasi (O, 60o).
E. y + x2 + 9x – 18 = 0 Hasilnya adalah …
A. (–4 + 4√3, 4 – 4√3)
128. EBT-SMA-91-38 B. (–4 + 4√3, –4 – 4√3)
M adalah pencerminan terhadap garis x + y = 0. R ada-lah pemutaran sejauh 900 C. (4 + 4√3, 4 – 4√3)
searah jarum jam dengan pusat O(0,0). Matriks transformasi yang bersesuaian dengan D. (4 – 4√3, –4 – 4√3)
(R o M) adalah … E. (4 + 4√3, –4 + 4√3)

74
131. EBT-SMA-01-35 ⎛ 1 1⎞
Persegi panjang PQRS dengan titik P(1, 0), Q(–1, 0), T2 = ⎜ ⎟ . Koordinat bayangan titik P(6, –4) karena transformasi pertama
⎝ 0 1⎠
π
R(–1, 1) dan S(1, 1). Karena dilatasi [0, 3] dilanjutkan rotasi pusat O bersudut 2
. dilanjutkan dengan transformasi kedua adalah …
Luas bayangan bangun tersebut adalah … A. (–8 , 4)
A. 2 satuan luas B. (4 , –12)
B. 6 satuan luas C. (4 , 12)
C. 9 satuan luas D. (20 , 8)
D. 18 satuan luas E. (20 , 12)
E. 20 satuan luas

132. EBT-SMA-96-23 135. EBT-SMA-89-26


Lingkaran yang berpusat di (3, –2) dan jari-jari 4. Diputar dengan R(0,90o) kemudian ⎛ 0 - 1⎞
Lingkaran (x – 2)2 + (y + 3)2 = 25 ditransformasikan oleh matriks ⎜⎜ ⎟⎟ dan
dicerminkan terhadap sumbu x. Persamaan bayangannya adalah … ⎝1 0 ⎠
A. x2 + y2 – 4x + 6y – 3 = 0
⎛1 0⎞
B. x2 + y2 + 4x – 6y – 3 = 0 dilanjutkan oleh matriks ⎜⎜ ⎟⎟ maka persamaan bayangan lingkaran itu adalah …
C. x2 + y2 + 6x – 6y – 3 = 0 ⎝0 1⎠
D. x2 + y2 – 6x + 4y – 3 = 0 A. x2 + y2 + 6x – 4y – 12 = 0
E. x2 + y2 + 4x + 6y + 3 = 0 B. x2 + y2 – 6x – 4y – 12 = 0
C. x2 + y2 – 4x – 6y – 12 = 0
133. EBT-SMA-93-32 D. x2 + y2 + 4x – 6y – 12 = 0
Persamaan bayangan dari lingkaran E. x2 + y2 + 4x + 6y – 12 = 0
⎛ 0 1⎞
x2 + y2 + 4x – 6y – 3 = 0 oleh transformasi yang berkaitan dengan matriks ⎜⎜ ⎟⎟ 137. EBT-SMA-86-46
⎝ -1 0⎠ Diketahui sistem persamaan : 2x + y = 12
adalah …… 3x – 2y = 25
A. x2 + y2 – 6x – 4y – 3 = 0 Selesaikan persamaan itu dengan matriks.
B. x2 + y2 – 6x – 4y + 3 = 0 a. matriks koeffisien persamaan di atas adalah A = …
C. x2 + y2 + 6x – 4y – 3 = 0 b. determinan matriks A adalah …
D. x2 + y2 – 6x + 4y – 3 = 0 c. invers dari matriks A adalah …
E. x2 + y2 + 6x – 4y + 3 = 0 d. nilai x dan y dari persamaan di atas adalah …

134. EBT-SMA-92-38 UAN-SMA-04-34


Diketahui T1 dan T2 berturut-turut adalah transformasi yang bersesuaian dengan T1 adalah transformasi rotasi pusat O dan sudut putar 90o . T2 adalah transformasi
⎛ 0 2⎞ pencerminan terhadap garis y = -x. Bila koordinat peta titik A oleh transfor-masi T1 o
matriks T1 = ⎜⎜ ⎟⎟ dan
⎝ 2 0⎠ T2 adalah A’(8, –6), maka koordinat titik A adalah …

75
A. (–6, –8) x + y = 1 berpotongan di titik A, maka persamaan garis yang melalui A dan
B. (–6, 8) bergradien K adalah …
C. (6, 8) A. x – 12y + 25 = 0
D. (8, 6) B. y – 12x + 25 = 0
E. (10, 8) C. x + 12y + 11 = 0
D. y – 12x – 11 = 0
E. y – 12x + 11 = 0

136. MA-93-09
r ⎡x ⎤
Vektor x = ⎢ 1 ⎥ diputar mengelilingi pusat koordinat O sejauh 900 dalam arah
⎣ x2 ⎦
berlawanan perputaran jarum jam. Hasilnya dicerminkan terhadap sumbu x ,
r ⎡y ⎤ r r
menghasilkan vektor y = ⎢ 1 ⎥ Jika x = A y , maka A = …
⎣ y2 ⎦
⎛0 1⎞
A. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝1 0⎠
⎛ 0 − 1⎞
B. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝−1 0 ⎠
⎛ 0 − 1⎞
C. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝1 0 ⎠
⎛ 1 0⎞
D. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 0 1⎠
⎛−1 0 ⎞
E. ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 0 − 1⎠

138. MD-00-25
⎛3 1⎞ ⎛0 2 ⎞
Diketahui B = ⎜⎜ ⎟⎟ , C = ⎜⎜ ⎟⎟ dan determinan dari matriks B . C adalah K.
⎝ 2 0⎠ ⎝ 3 − 6⎠
Jika garis 2x – y = 5 dan

76