You are on page 1of 7

Kekayaan Jenis Ikan Karang di Kepulauan Raja Ampat

Oleh :

Robi Binur
Staf Dosen Jurusan Biologi FMIPA Univ. Negeri Papua, Manokwari

1
Pendahuluan

Kepulauan Raja Ampat terletak di barat laut pesisir Papua, Indonesia yang memiliki keanekaragaman
hayati laut yang luar biasa terutama bagi ilmu pengetahuan dan konservasi. Kepulauan ini terletak di
dekat jantung “segitiga karang” (coral triangle) sebuah kawasan yang mencakupi bagian utara Australia,
Philipina, Indonesia, dan Papua Nugini yang memiliki keragaman karang tertinggi di dunia. Kepulaun Raja
Ampat meliputi lebih dari empat juta hektar areal darat dan laut. Termasuk diantaranya empat pulau-
pulau besar seperti: Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool serta ratusan pulau-pulau kecil lainnya.

Gambar 1. Letak kepulauan Raja Ampat.

Kepulauan Raja Ampat adalah salah satu kawasan yang memiliki jenis ikan karang terkaya di dunia,
dimana lebih dari 1.074 jenis ikan dijumpai. Jumlah jenis ini menempati urutan ketiga di dunia untuk
jumlah jenis ikan karang, setelah Milne Bay Province, PNG yang ditemukan 1.109 jenis dan Teluk
Maumere, Flores, Indonesia yang ditemukan 1.111 jenis. Menurut Allen (2002) jika berdasarkan
pengamatan visual sekali menyelam total jenis ikan yang ditemukan di Raja Ampat merupakan yang
tertinggi di dunia yaitu sebanyak 284 jenis yang disurvei di Teluk Wambong dibandingkan di Milne Bay
dan Teluk Maumere yang didasarkan pada hasil survei jangka panjang dan pengambilan data yang lebih
intensif.

Terumbu Karang

Perairan laut kepulauan Raja Ampat sebagian besar ditutupi oleh karang yang belum terganggu sehingga
menjadi surga bagi ikan sebagai tempat mencari makan, berkembangbiak dan bermain. Kepulauan Raja
Ampat terdiri dari miniatur lingkungan yang unik, mulai dari penelukan (embayment) yang ternaungi
dengan pemasukan air tawar yang besar, hamparan karang yang luas hingga pulau-pulau karang (atol-atol)
menjulang tinggi yang membentuk posisi silang yang unik.

2
Kepulauan Raja Ampat salah satu kawasan yang terkenal memiliki keragaman karang keras yang tertinggi
di dunia dan kebanyakan terumbu karang di kawasan ini mempunyai ketahanan yang tinggi (high resilience)
terhadap pemutihan karang (bleaching). Kepulauan ini diperkirakan mengandung lebih dari 75% dari jenis
karang yang diketahui di dunia. Sejumlah 488 karang skleraktinia berhasil diidentifikasi di kawasan ini dan
lebih tinggi dari yang tercatat di Sulawesi Utara sebanyak 445 jenis, di Milne Bay sebanyak 379 spesies
dan di Kimbe Bay, PNG sebanyak 347.

Komposisi fauna ikan

Famili ikan yang dominan di kepulauan Raja Ampat umumnya adalah ikan-ikan yang berasosiasi dengan
terumbu karang. Famili ikan yang paling banyak ditemukan adalah ikan gobi (Gobiidae; 137 spesies), ikan
damsel (Pomacentridae; 114 spesies), ikan wrasse (Labridae; 109 spesies), ikan cardinal (Apogonidae; 73
spesies), ikan kerapu (Serranidae; 58 spesies) ikan kepe-kepe (Chaetodontidae ; 40 spesies), ikan
blennies (Blenniidae; 35 spesies), ikan dokter (Acanthuridae; 34 spesies), ikan snapper (Lutjanidae; 32
spesies) dan ikan kakatua (Scaridae; 28 spesies). Ke-sepuluh famili ikan tersebut menyumbang sebanyak
660 spesies atau 62,5 persen dari total ikan karang yang dijumpai di kepulauan Raja Ampat(Gambar 2)

Gambar 2. Sepuluh famili ikan terbanyak ditemukan di kepulauan Raja Ampat (Allen, 2002).

Kebanyakan ikan di kepulauan Raja Ampat termasuk ke dalam kelompok ikan karnivora diurnal yang
hidup di dasar laut (atau paling tidak hidup di dekat dasar). Kurang lebih 10% dari ikan-ikan yang ada
bersifat nokturnal, 4% penghuni retakan yang samar-samar, 4% perenang air pertengahan yang diurnal
dan sekitar 3% merupakan predator-predator pengembara. Disamping karnivora, kategori-kategori
pemakan lainnya termasuk omnivora (15.1%), planktivora (14.7%), dan herbivora (8.2%).

Kekayaan fauna ikan di suatu areal sangat tergantung kepada kondisi habitat (naungan, substrat, faktor
fisik-kimia air) dan makanan. Di laut, daerah yang menyumbang kekayaan fauna ikan tertinggi adalah
daerah terumbu karang, padang lamun (seagrass) dan daerah muara (hutan mangrove). Hamparan karang
yang luas dengan kenekaragaman karang yang relatif tinggi dan penutupan karang hidup yang baik
biasanya merupakan areal-areal yang paling kaya akan ikan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Allen
(2002) menemukan ada sepuluh lokasi di kepulauan Raja Ampat yang memiliki kekayaan ikan yang tinggi
(Tabel 1).
3
Tabel 1. Sepuluh lokasi terkaya akan jenis ikan di kepulauan Raja Ampat
No. Lokasi Jumlah jenis
1. Kofiau 1 284
2. SE Misool 1 275
3. SE Misool 2 261
4. Kofiau 2 245
5. Kofiau 3 241
6. Kofiau 4 240
7. Wayang 239
8. Alyui Bay 235
9. E. Waigeo 226
10. Sayang 221
Sumber Allen (2002)

Indeks Keanekaragaman Ikan Karang (CFDI)

Allen (1998) mengembangkan sebuah metoda yang tepat untuk menilai dan membandingkan
keanekaragaman ikan karang secara keseluruhan yaitu dengan menginventarisasi enam famili kunci:
Chaetodontidae, Pomacanthidae, Pomacentridae, Labridae, Scaridae, dan Acanthuridae. Di kepulauan
Raja Ampat kesemua famili kunci tersebut ditemukan. Jumlah spesies yang termasuk dalam famili ini
ditotal untuk mendapatkan Indeks Keanekaragaman Ikan Karang atau Coral Fish Diversity Index (CFDI)
untuk satu lokasi penyelaman tunggal, khusus pada areal-areal geografis yang relatif terbatas (misalnya
Kepulauan Raja Ampat ) dan daerah-daerah yang besar (misalnya Indonesia).

Nilai-nilai CFDI dapat digunakan untuk membuat estimasi yang cukup akurat jumlah total fauna ikan
terumbu karang suatu lokasi tertentu dengan menggunakan formula-formula regressi dengan bantuan
program statistik seperti Statview. Untuk menampilkan analisa-analisa regressi linier sederhana pada
masing-masing set data dalam rangka untuk menentukan sebuah formula prediktor, menggunakan CFDI
sebagai variabel prediktor (x) untuk mengestimasi variabel independen (y) atau total fauna ikan terumbu
karang. Semakin besar nilai CFDI semakin baik tingkat keanekaragmannya. Negara terdepan di dunia
untuk keanekaragaman ikan karang, berdasarkan nilai-nilai CFDI adalah Indonesia. Nilai CFDI untuk
beberapa lokasi yang sudah disurvei di seluruh dunia (Tabel 2).

Jenis-jenis Ikan Endemik

Di Kepulauan Raja Ampat menurut Allen (2002) ada enam jenis yang dikategorikan endemik. Kesemua
spesies ini termasuk ke dalam famili-famili yang memperlihatkan asuhan induk dan mengalami fase larva
yang singkat. Jenis-jenis tersebut sebagai berikut :

Hemiscyllium freycineti (Quoy dan Gaimard, 1824) (Hemiscyllidae) - Spesies ini dikenali berdasarkan lima
spesimen yang tersimpan di the Muséum National d‟Histoire Naturelle, Paris dan sebuah spesimen
tambahan di the Western Australian Museum. Para penyelidik alam Perancis mengoleksi spesimen-
spesimen asli antara tahun 1817 dan 1825 dari daerah sekitar Pulau Waigeo. Spesies ini relatif umum di
hamparan karang yang dangkal dan terutama terlihat pada malam hari.

Pseudochromis sp. (Pseudochromidae) - Spesies ini umumnya terlihat di dasar-dasar pecahan batu pada
bagian dasar lereng-lereng yang curam pada kedalaman sekitar 18 hingga 20 m. Umumnya terlihat
menyendiri atau berpasangan. Tampaknya baru dan memiliki kekerabatan yang dekat dengan P. eichleri
Gill dan Allen dari Filipina.

4
Tabel 2. Nilai-nilai indeks Keanekaragaman ikan karang (CFDI) untuk daerah-daerah di dunia yang sudah
disurvei, dimana Kepulauan Raja Ampat menduduki peringkat pertama.

Sumber Allen (2002)

Apogon leptofasciatus Allen, 2001c (Apogonidae) - Spesies ini dideskripsikan berdasarkan tiga spesimen
yang dikumpulkan oleh penulis di Pulau Batanta pada tahun 2001. Hanya sekitar 15 individu terlihat pada
kedalaman antara 12-15 m.

Apogon oxygrammus Allen, 2001c (Apogonidae) - Ini merupakan jenis ikan cardinal yang nampaknya
jarang. Tiga spesimen dikumpulkan pada kedalaman 45-50 m di Pulau Pef, sebelah ujung barat Pulau
Gam. Ikan-ikan tersebut melayang-layang dalam jarak yang pendek di atas dasar pecahan batu yang
tertutup Halimeda diantara sebuah kumpulan besar Apogon ocellicaudus. Berbeda dari semua spesies
yang diketahui pada tingkatan marga didasarkan pada pola warna (keseluruhan berwarna keputih-putihan
dengan garis tengah-samping yang lancip berwarna hitam yang memanjang ke sirip caudal) dan pergigian
rahang (gigi-gigi membesar dalam baris-baris yang relatif sedikit).

Meiacanthus crinitus Smith-Vaniz, 1987 (Blenniidae) - Spesies ini sebelumnya dikenali berdasarkan 11
spesimen yang dikumpulkan pada tahun 1979 dari daerah sekitar Pulau Batanta. Jenis ini kadang-kadang
terlihat di karang-karang yang ternaungi dengan karang hidup yang melimpah pada kedalaman 1-20 m.
Meiacanthus memiliki gigi taring beracun dan seringkali ditirukan oleh ikan-ikan lain (Smith-Vaniz, 1976).
Anakan ikan threadfin bream Pentapodus trivittatus (Nemipteridae) sangat mirip perawakannya dengan
M. crinitus dan Smith-Vaniz et al. (2001) menyarankan bahwa ada peniruan.

5
Eviota raja Allen, 2001d (Gobiidae) - Ikan goby yang sangat kecil dan melayang-layang di perairan-tengah
ini merupakan jenis yang umum di perairan yang ternaungi dengan pertumbuhan karang yang kaya.
Sangat mirip dengan E. bifasciata, suatu spesies sympatric yang tersebar melintasi Nusantara Indo-
Australia. Kedua spesies tersebut berbeda dalam pola warna, paling nampak adalah garis samping-
tengahnya serta tanda-tanda gelap pada bagian dasar bawah dan atas sirip caudalnya (garis-garis
horizontal pada E. bifasciata, bintik-bintik vertikal memanjang pada spesies yang baru). Keduanya juga
berbeda dalam jumlah pola-pola terpotong pada sirip dorsal ke-dua dan baris-baris sisik menyamping
(biasanya 9 dan 22 berturut-turut untuk E. bifasciata dan 10 dan 25 pada spesies yang baru).

Rekor Baru untuk Indonesia

Fauna ikan yang ditemukan di kepulauan Raja Ampat menyumbang rekor baru bagi Indonesia yang
selama ini tidak pernah dilaporkan ditemukan diperairan laut Indonesia. Jenis-jenis tersebut menurut
Allen (2002) adalah:

Rabaulichthys altipinnis Allen, 1984 (Anthiinae: Serranidae) - Sekitar 15 individu terlihat (sebelah Waigeo-
Misool) pada kedalaman 25-30 m di bagian dasar sebuah lereng sebelah luar yang curam di dasar
pecahan batuan Halimeda. Beberapa yang jantan sibuk dalam pertunjukan bercumbu-cumbuan yang
terdiri dari aktivitas berenang cepat dan sirip-sirip dorsal dan panggul menegang. Spesies ini sebelumnya
dikenali hanya di Rabaul di pulau New Britain, PNG.

Cheilodipterus intermedius Gon, 1993 (Apogonidae) - Sebuah kumpulan kecil dengan enam ikan terlihat
sedang bernaung dekat hamparan karang pada kedalaman 9 m di lokasi 51 dekat Waigeo utara. Spesies
ini sebelumnya hanya tercatat dari Palau, Vietnam, Great Barrier Reef, Kepulauan Solomon, serta
Kepulauan Manu, PNG.

Hologymnosus rhodonotus Randall dan Yamakawa, 1988 (Labridae) - Sekitar lima individu terobservasi
(dekat Waigeo-Misool) pada kedalaman 30m di bagian dasar sebuah lereng sebelah luar yang curam di
dasar pecahan batu Halimeda. Jenis ini memiliki pola dengan garis-garis merah terang yang berbeda.
Sebelumnya hanya diketahui dari Okinawa, Filipina, dan Hibernia Reef dekat Australia sebelah barat laut.

Echinogobius hayashii Iwata, Hosoya, dan Niimura, 1998 (Gobiidae) - Beberapa individu terobservasi di
dasar pasir putih yang bersih di Pulau Sayang pada kedalaman 12m. Dua spesimen dikoleksi
menggunakan tombak bermata banyak. Sebelumnya hanya tercatat dari Kepulauan Ryukyu, Palau dan
Seringapatam Reef sebelah northwestern Australia.

Upaya Konservasi

Upaya konservasi bertujuan untuk kesinambungan pemanfaatan baik masa sekarang maupun masa yang
akan datang. Telah banyak upaya konservasi yang telah dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga swadaya
masyarakat (LSM) maupun kalangan akademisi (perguruan tinggi). Tetapi upaya konservasi harus
dilakukan terus-menurus demi mencapai tujuan yang diharapkan, bagian yang terpenting di dalam upaya
konservasi adalah penelitian yang berkesinambungan untuk menilai kelestarian dan daya dukung
ekosistim.

Setelah terpublikasinya Kepulauan Raja Ampat sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan laut
yang tinggi, khususnya jenis-jenis ikan maka wajar jika daerah ini disebut sebagai surganya bagi Ikan.
Banyak jenis ikan baru yang ditemukan dan menjadi record baru bagi Indonesia, sehinnga kawasan ini
menjadi justifikasi yang penting bagi konservasi kedepan dengan tetap ramah bagi penduduk lokal dalam
pemanfaatan. Kepentingan ekonomi menjadi isu penting bagi kawasan ini karena mempunyai nilai jual
yang tinggi bagi wisatawan sehingga pemerintah daerah perlu membuat strategi yang baik dalam

6
pengelolaan. Ada beberapa lokasi yang disarankan oleh Allen (2002) untuk dijadikan kawasan konservasi
yaitu:

Kepulauan Misool Tenggara: Meskipun tidak begitu luar biasa kaya akan ikan, areal ini memiliki
pemandangan di atas air yang spektakuler yang terdiri dari gugus yang luas dari kepulauan batu kapur
yang sangat terukir yang dikelilingi oleh hamparan karang di bagian tepinya. Areal ini mengandung sebuah
contoh yang luar biasa untuk komunitas karang yang ternaungi. Terdapat juga beberapa lokasi
penyelaman yang spesial, seperti adanya terowongan bawah air yang luar biasa dan kelimpahan karang
lunak dan „gorgonians‟.

Kepulauan Misool Barat: Gugusan pulau-pulau sangat kecil yang rendah tepat di dekat ujung barat Misool
termasuk sebagai salah satu areal terkaya akan ikan. Meskipun kepulauan ini banyak ditutupi bakau,
habitat yang biasanya kurang akan spesies ikan, terusan antara pulau Kamet dan pulau Kanari luar biasa
kaya. Siraman pasang menciptakan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan karang dan menyokong
keanekaragaman hayati yang luar biasa jumlahnya. Selain itu, lereng sebelah luar dekat sisi barat Pulau
Kanari tampaknya dipengaruhi oleh luapan yang dingin dan menyokong fauna yang kaya dengan
persentase yang tinggi akan ikan-ikan yang biasanya jarang seperti Rabaulichtys altipinnis dan
Hologymnous rhodonotus.

Kofiau: Hamparan karang Kofiau luar biasa kaya akan ikan, dengan rata-rata 228 spesies per lokasi. Tidak
ada areal lain di kawasan Segitiga Karang yang telah disurvei hingga sekarang yang dapat menandingi
jumlah ini. Lokasi Teluk Wambong menghasilkan jumlah ikan tertinggi (284) yang pernah dicatat untuk
sebuah penyelaman bawah air tunggal.

Pulau Wayag: kawasan ini memiliki variasi yang kaya akan habitat-habitat karang yang terlindungi maupun
yang sebelah luar. Pemikat terbesarnya adalah banyaknya tonjolan-tonjolan puncak batu kapur yang
indah. Ini merupakan salah satu kawasan hamparan karang terindah di Indonesia.

Menurut penulis ada beberapa kekuatan yang harus digabungkan di dalam menciptakan upaya konservasi
yang kuat. Pertama pemerintah harus dalam membentuk manajemen dan pengelolaan kawasan yang kuat.
Kedua lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai pengontol dan pengawasan. Ketiga lembaga riset dan
perguruan tinggi sebagai media penelitian dan monitoring. Dan keempat adalah masyarakat lokal yang
harus kritis dalam menjaga sumberdaya alam di daerahnya. Jika kekuatan-kekuatan ini menjadi satu maka
tidak mustahil ekosistim laut Kepulauan Raja Ampat akan tetap indah sepanjang waktu.

Kesimpulan

Jumlah total jenis ikan karang yang ditemukan di Kepulauan Raja Ampat sebanyak 1.074 jenis. Dengan
jumlah ini kepulauan Raja Ampat menempati urutan ketiga di dunia untuk jumlah jenis ikan karang,
setelah Milne Bay Province, PNG yang ditemukan 1.109 jenis dan Teluk Maumere, Flores, Indonesia yang
ditemukan 1.111 jenis. Tetapi berdasarkan Indeks Keanekargaman Ikan Karang (CFDI) kepulauan Raja
Ampat menempati urutan pertama dibandingkan kedua lokasi tersebut. Upaya konservasi yang
melibatkan keempat kekuatan (pemerintah, LSM, badan riset dan akademisi serta masyarakat lokal)
harus terus dilakukan. Salah satu upaya konservasi yang sangat penting dilakukan adalah melalui
penelitian kelautan yang lebih intensif dan berkesinambungan.

Referensi

Allen, G. R., 2002. Chapter 3. Reef Fishes of the Raja Ampat Islands, Papua Province, Indonesia. In:
S.A. McKenna, G.R. Allen and S. Suryadi (Editor): A marine rapid assessment of the Raja Ampat
Islands, Papua Province, Indonesia (RAP Buletin of Biological Assessment 22). Conservation
International, Washington, DC: 46-57: 132-185.
7