You are on page 1of 16

KATA PENGANTAR

Landasan Bimbingan dan KonselingAgar dapat berdiri tegak sebagai sebuah


layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi
kehidupan, maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas
landasan yang kokoh, dengan mencakup: (1) landasan filosofis, (2) landasan
psikologis; (3) landasan religius, dan (4) landasan pedagogis. Berkenaan dengan
layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia, selain berpijak pada
keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek ilmu pengetahuan
dan teknologi, sosial-budaya dan yuridis-formal. Untuk terhidar dari berbagai
penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling, setiap konselor
mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai
pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.
Dan untuk selanjutnya semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua,
tidak lupa saran dan kritik yang membangun dari teman-teman, khususnya dari
ibu dosen pembimbing mata kuliah BP/BK sangat penulis harapkan.

1
LANDASAN DAN BIMBINGAN KONSELING
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Permasalahan


Setelah memahami pengertian bimbingan dan konseling pada materi
sebelumnya, kami dalam makalah ini akan menguraikan berbagai hal yang
menjadi landasan pelayanan bimbingan dan konseling. Landasan tersebut meliputi
landasan filosofis, religius, psikologis, sosial budaya, pedagogis.
Paparan tentang landasan filosofis membahas tentang hakikat manusia.
Uraian landasan filosofis menyangkut empat dimensi kemanusiaan dan berbagai
pemikiran tentang evolusi perkembangan manusia, tinjauan psikologis tentang
manusia, serta hakikat tentang tujuan dan tugas kehidupan manusia. Landasan
religius masih berbicara tentang manusia, tetapi khusus dikaitkan pada aspek-
aspek keagamaan. Pemuliaan kemanusiaan manusia sebagai makhluk Tuhan
menjadi focus pembahasan.
Uraian tentang landasan psikologis mengemukakan berbagai hal pokok
yang amat besar pengaruhnya terhadap pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu
tentang tingkah laku, motif dan motivasi, pembawaan dan lingkungan,
perkembangan dan tugas-tugas perkembangan, belajar dan penguatan dan
kepribadian. Sedangkan tentang landasan sosial budaya dibahas pengaruh sosial
budaya terhadap individu, hambatan-hambatan komunikasi dan penyesuaian diri
sebagai dampak perbedaan antar budaya serta pengaruh perbedaan antar budaya
itu terhadap layanan bimbingan dan konseling. Tentang landasan ilmiah dan
teknologis dibahas secara garis besar keilmuan bimbingan dan konseling, Peranan
ilmu-ilmu lain dan teknologi, serta peranan penelitian dalam pengembangan
bimbingan dan konseling.
Terakhir di bahas tentang peranan secara hakiki pendidikan terhadap
pelayanan bimbingan dan konseling.

2
2. Rumusun Masalah
a. Landasan yang digunakan dalam bimbingan dan konseling?
- Landasan Filosofis
- Landasan religius
- Landasan Psikologis
- Landasan Pedagogis
b. Bagaimanakah implikasi landasan-landasan tersebut dalam bimbingan dan
konseling?

3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman/
pengetahuan tentang landasan-landasan apa saja yang digunakan dalam
bimbingan dan konseling dan implikasinya terhadap penerapan BK itu sendiri.

4. Manfaat
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
a. Mahasiswa dapat mengetahui tentang landasan-landasan yang
digunakan dalam bimbingan konseling.
b. Dapat memberi sumbangsih pengetahuan dalam pembelajaran mata
kuliah bimbingan dan konseling.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. LANDASAN FILOSOFIS
Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan
pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan
bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis,
etis maupun estetis.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama
berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis
tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan
filosofis tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat
yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan
filsafat post-modern. Dari berbagai aliran filsafat yang ada, para penulis Barat .
(Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph, dalam
Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut :

• Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan


mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.
• Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya
apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada
dirinya.
• Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan
dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.
• Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan
hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau
setidak-tidaknya mengontrol keburukan.
• Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji
secara mendalam.
• Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan
manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri.
• Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya
sendiri.

4
• Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk
membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri.
Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa
sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu.
• Manusia pada hakikatnya positif, yang pada setiap saat dan dalam suasana
apapun, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan
berkemampuan untuk melakukan sesuatu.

Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan


dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu
sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu
melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan
berbagai dimensinya.

1. Makna dan Fungsi Prinsip-prinsip Filosofis Bimbingan Konseling


Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: Philos berarti cinta
dan sophos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap
kebijaksanaan. Sikun pribadi mengartikan filsafat sebagai suatu “usaha manusia
untuk memperoleh pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa
makna hidup manusia dialam semesta ini”.1

Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa :


1) Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan,
2) Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
3) Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan
4) Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.

Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala


pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat John J.
Pietrofesa et. al. (1980) mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-
prinsip filosofis dalam bimbingan sebagai berikut:
1
Syamsul Yusuf, A. Juntika Narihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling (Bandung: Remaja ERasdakarnya, 2006), hal.
106

5
a. Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan
harga diri individu dan hak-haknya untuk mendapat bantuannya.
b. Bimbingan merupakan proses yang berkeseimbangan
c. Bimbingan harus Respek terhadap hak-hak klien
d. Bimbingan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental
e. Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi
dirinya
f. Bimbingan merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat
individualisasi dan sosialisasi
2. Hakikat Manusia
a) B.F Skinner dan Watsan2 Mengemukakan tentang hakekat manusia:
- Manusia dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan
negatif yang sama
- Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial
budaya
- Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari
- Manusia tidak memiliki kemampuan untuk membentuk nasibnya sendiri
b) Virginia Satir3 Memandang bahwa manusia pada hakekatnya positif, Satir
berkesimpulan bahwa pada setiap saat, dalam suasana apapun juga,
manusia dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan
untuk melakukan sesuatu.
Upaya-upaya bimbingan dan konseling perlu didasarkan pada pemahaman
tentang hakekat manusia agar upaya-upaya tersebut dapat lebih efektif.

3. Tugas dan Tujuan Kehidupan


Witner dan Sweeney4 mengemukakan bahwa ciri-ciri hidup sehat ditandai
dengan 5 kategori, yaitu:
 Spiritualitas ~ agama sebagai sumber inti dari hidup sehat.

2
Gerold Corey, Terjemahan E. Koeswara, 1988.
3
Thompson dan Rodolph, 1983
4
Prayitno dan Erman Anti, 2002

6
 Pengaturan diri ~ seseorang yang mengamalkan hidup sehat pada dirinya
terdapat ciri-ciri :
a) rasa diri berguna
b) pengendalian diri
c) pandangan realistic
d) spontanitas dan kepekaan emosional
e) kemampuan rekayasa intelektual
f) pemecahan masalah
g) kreatif
h) kemampuan berhumor dan
i) kebugaran jasmani dan kebiasaan hidup sehat.
 Bekerja ~ untuk memperoleh keuntungan ekonomis, psikologis dan sosial
 Persahabatan ~ persahabatan memberikan 3 keutamaan dalam hidup yaitu
1. dukungan emosional 2. dukungan material 3. dukungan informasi .
 Cinta ~ penelitian flanagan 1978 (dalam Prayitno dan Erman Anti, 2006)
menemukan bahwa pasangan hidup suami istri, anak dan teman
merupakan tiga pilar utama bagi keseluruhan pencipta kebahagiaan
manusia.
Paparan tentang hakikat, tujuan dan tugas kehidupan manusia diatas
mempunyai implikasi kepada layanan bimbingan dan konseling.

B. LANDASAN RELIGIUS

Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:


a. Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk tuhan
b. Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia
berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
c. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara
optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai
dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan
pemecahan masalah individu

7
Landasan Religius berkenaan dengan :
a) Manusia sebagai Mahluk Tuhan
Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sisi-
sisi kemanusiaan tersebut tdiak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal
negatif. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan
tersebut pada hal-hal positif.
b) Sikap Keberagamaan
Agama yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi
isi dari sikap keberagamaan. Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan
pada agama itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam
hidup, nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan
iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
c) Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak
dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak
mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam
konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi :
a. Memelihara fitrah
b. Memelihara jiwa
c. Memelihara akal
d. Memelihara keturunan

C. LANDASAN PSIKOLOGIS
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan
pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan
(klien). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi
yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b)
pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e)
kepribadian.
1. Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan
seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan

8
asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas
dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti
rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya.
Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari
dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi
ekstrinsik)–, menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang
mengarah pada suatu tujuan.

2. Pembawaan dan Lingkungan


Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang
membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala
sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang
mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah,
bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya
bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan
mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada.
Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu
yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan
rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau
bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot). Demikian pula dengan
lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif
dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan
yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu
yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana
dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang
dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-siakan.

3. Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan
berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga
akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan
kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan

9
individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari
McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam
perkembangan individu; (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual; (3) Teori
dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; (4) Teori dari Piaget tentang
perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral; (6)
teori dari Zunker tentang perkembangan karier; (7) Teori dari Buhler tentang
perkembangan sosial; dan (8) Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas
perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai
aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah
perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor
pembawaan dan lingkungan.
4. Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi.
Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat
mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia
mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan
belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan
yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan
pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek
kognitif, afektif maupun psikomotor/keterampilan. Untuk terjadinya proses
belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang
dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya.
Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat
beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan, diantaranya adalah : (1) Teori
Belajar Behaviorisme; (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan
Informasi; dan (3) Teori Belajar Gestalt. Dewasa ini mulai berkembang teori
belajar alternatif konstruktivisme.

5. Kepribadian
Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan
tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.. Dalam suatu penelitian

10
kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner
Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-
beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu
rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia
bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem
psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri
terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah
penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan
penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat
behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari
dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma)
lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas
sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya.
Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya
konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang
saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau
perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori
kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : Teori Psikoanalisa dari
Sigmund Freud, Teori Analitik dari Carl Gustav Jung, Teori Sosial Psikologis dari
Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, Teori Medan
dari Kurt Lewin, Teori Psikologi Individual dari Allport, Teori Stimulus-Respons
dari Throndike, Hull, Watson, Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya.
Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek
kepribadian, yang mencakup :
• Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku,
konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
• Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya
mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.

11
• Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau
ambivalen.
• Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap
rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih,
atau putus asa.
• Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari
tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko
secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
• Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan
interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya


memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka
konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi
yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Selain itu,
seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan
dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian
hidup kliennya. Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan
lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya.
Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk
memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang
mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien,
konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian
kliennya. Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan
psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai
dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi
belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian.

12
D. LANDASAN PEDAGOGIS

Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan
berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992)

1. Pendidikan sebagai upaya pengembangan Individu: Bimbingan


merupakan bentuk upaya pendidikan.
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Seorang bagi manusia
hanya akan dapat menjadi manusia sesuai dengan tuntutan budaya hanya melalui
pendidikan. Tanpa pendidikan, bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan
mampu memperkembangkan dimensi keindividualannya, kesosialisasinya,
kesosilaanya dan keberagamaanya.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
menetapkan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

2. Pendidikan sebagai inti Proses Bimbingan Konseling.


Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh
klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan
Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun 1953,
Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah proses yang
berorientasi pada belajar……, belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri
sendiri, belajar untuk mengembangkan dan merupakan secara efektif berbagai
pemahaman.. (dalam Belkin, 1975). Lebih jauh, Nugent (1981) mengemukakan
bahwa dalam konseling klien mempelajari ketrampilan dalam pengambilan
keputusan. Pemecahan masalah, tingkah laku, tindakan, serta sikap-sikap baru .
Dengan belajar itulah klien memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya;
dengan memperoleh hal-hal baru itulah klien berkembang.

13
3. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan Bimbingan tujuan dan
konseling
Tujuan Bimbingan dan Konseling disamping memperkuat tujuan-tujuan
pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal itu dapat
dimengerti karena program-program bimbingan dan konseling meliputi aspek-
aspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kawasan
kematangan pendidikan karier, Kematangan personal dan emosional, serta
kematangan sosial, semuanya untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar
(SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (Borders dan Drury, 1992). Hasil-hasil
bimbingan dan konseling pada kawasan itu menunjang keberhasilan pendidikan
pada umumnya.

14
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan.

Dari pembahasan yang diuraikan didepan dapat ditarik kesimpulan bahwa


pelayanan bimbingan dan konseling memerlukan berbagai landasan, diantaranya:
1. Landasan Filosofis: Landasan filosofis memberikan pemikiran-pemikiran
tentang hakikat dan tujuan hidup manusia dipandang dari perspektif filsafat
untuk menemukan hakikat manusia secara utuh mengingat bimbingan
konseling akan selalu berkaitan dengan manusia sebagai objeknya.
2. Landasan Religius: Landasan religius menggambarkan sisi-sisi agama yang
perlu dikorek, diaplikasikan kedalam pelayanan bimbingan dan konseling
karena bimbingan dan konseling tidak akan lepas dari manusia sebagai
objeknya dan realitas bahwa manusia merupakan makhluk religius.
3. Landasan Psikologis: Landasan psikologis menggambarkan sisi-sisi psikis
individu, sisi psikis tersebut berkenaan dengan motif, motivasi, pembawaan
dan lingkungan, perkembangan individu, belajar, balikan dan penguatan dari
kepribadian. Mengingat klien memiliki psikis yang berbeda maka konselor
harus memahami tentang landasan psikologis
4. Landasan Pedagogis: Landasan pedagogis mengemukakan bahwa
bimbingan merupakan salah satu bagian dari pendidikan yang amat penting
dalam upaya untuk memberikan bantuan (pemecahan-pemecahan masalah)
motivasi agar peserta didik dapat mencapai tujuan pendidikan yang
diharapkan.

15
DAFTAR PUSTAKA

W.S, Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta :


PT Grasindo.

Yusuf, Syamsu dan Nurishan, A. Juntika, 2006, Landasan Bimbingan dan


Konseling, Bandung : Remaja Rosdakarya

Prayitno dan Amti, Erman, 2004, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling,


Jakarta : Rineka Cipta.

16