You are on page 1of 10

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang nabi dan rasulnya dengan ajaran yang baik dala syariat yang benar sehingga dapat dibedakan yang baik dan yang buruk. Sholawat dan salam semoga terkirimkan buat nabi Muhammad SAW semoga banyaknya kita bersolawat mudah- mudahan mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir. Amin. Akhir akhir ini berbagai macam kasus yang terjadi dikalangan kaum muslimin, dan kita harus mengetahui apa yang menimpa kaum muslimin. Belakangan ini, dengan berkuasanya musuh terhadap mereka di sejumlah belahan negeri kaum muslimin tidak terlepas dari pengaruh dampak negative dari perbuatan perbuatan terorisme. Sesuai dengan judul yang dibut pemakalah yaitu : PANDANGAN ISLAM TERHADAP TERORISME. Pemakala mncoba untuk menguraikan apa dan siapa terosime itu sebenarnya, apa sebab sebab munculnya terorisme, apa dampak-dampak negative terorisme dan bagaimana solusi menghadapi terorisme. Semoga dengan penguraian yang singkat ini kita dapt memahami semuanya. Amin. Sekian dan terima kasih atas perhatian nya Wassalam

Duri,15 Mei 2010

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tidaklah diragukan bahwa bicara tentang terorisme adalahsuatu hal yang sangat penting di zaman ini. Dimana telah berlalu dalam kehidupan manusia berbagai kejadian dan aksi-aksi teror yang telah mengguncang sejumlah negara dan negeri kaum muslim tak terlepas dari hal terorisme.

Setelah kejadian 11 september 2009 isu terorisme semakin menjadi-jadi dan telah menjadi sebuah polemic yang telah meninggalkan berbagai trauma kepedihan dan kekalutan ditengah manusia. Dan manusia menyikapi terorisme terbagi jadi tiga golongan diantaranya : 1. mereka ekstrim dalm menetapkan adanya terorisme dan terlalu meluas dalam menggunakan kalimat terorisme tersebut sehingga orang yang berpegang teguh terhadap islam dan mencegah dari kemungkaran juga digolongkan sebagai terorisme. Golongan ini dipelopori oleh orang-orang kafir yang menaruuh kebencian kepada umat islam. 2. Mereka yang ekstrim dalam meniadakan segala bentuk wujud terorisme dan meingkari wujudnya dan mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah rekayasa dan ilustrasi musuhmusuh islam. 3. mereka menetapkan adanya terorisme tersebut namun tidak berlebihan dalam menetapkan dan menyikapi, sebagian dari terror ada yang dibenarkan dalam pandangan syariat dan sebagian lainnya sangat tercela. Golongan ini adalah para ulama umat dan orang-orang yang berjalan diatas al-quran dan as-sunnah.

PERKEMBANGAN ANTARA AGAMA ISLAM DAN TERORISME

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang TERORISME merupakan sebuah istilah yang saat ini banyak digembar-gemborkan oleh media massa dunia. Tulisan ini ingin mendefinisikan istilah terorisme dalam perspektif yang luas dan membedakannya dengan perjuangan rakyat membela negaranya dan pembebasan wilayah mereka. Ini berarti bahwa kita akan mempertimbangkan langkah-langkah berikut. Pertama-tama, mengacu pada referensi-referensi Islam guna menentukan kriteria utama, `mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang menjadi sumber dalam menilai tujuan dan tindakankemanusiaan, dan menjadikan prinsip-prinsip tersebut sebagai basis penilaian kita dalammenghadapi kasus-kasus yang beraneka ragam.Kedua, mengecek sifat alamiah manusia yang terbebas dari kepentingan terbatas, untuk mengidentifikasi peraturan-peraturan manusia yang dapat diketengahkan di kancah internasional sebagai kriteria manusia yang general.

Oleh karena itu, hasil sudi kami ini mesti meliputi berbagai masalah internasional dan menggambarkan kerangka kerja yang general. Ketiga, berdasarkan kemanusiaan dan Islam, kami menyimpulkan definisi yang eklusif dan komprehensif, misalnya memasukkan seluruh kriteria terorisme yang nyata dan mengecualikan kriteria terorisme yang sebenarnya termasuk prinsip-prinsip yang luhur. Keempat, kemudian, kita mengaplikasikan kriteria-kriteria yang disampaikan tersebut ke contoh-contoh terorisme nasional dan internasional. Kita menceknya satu persatu berdasarkan hasil-hasil yang telah dibuat, lalu menyampaikan penilaian yang cocok dan pas, yang terbebas dari segala kesamaran atau kelicikan dan memberi kata sifat yang benar pada masing-masing tindakan.

1.2 Rumusan Masalah Pada makalah ini dibahas tentang masalah perbandingan antara agama islam dan perkembangan terorisme di indonesia agar dapat memperdalam tentang apa dan bagaimana perkembangan islam terhadap kemajuan terorisme di dunia

1.3 Tujuan Penulisan Dengan pembuatan makalah ini, penulis berharap supaya perkembangan terorisme dan pengaruh-pengaruhnya dapat di minimalisir. Dan diharapkan juga pembaca dapat mengetahui bagaimana tindakan preventif dan penanganan yang paling tepat terhadap ancaman terorisme di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Terorisme Sejarah tentang Terorisme berkembang sejak berabad lampau, yang bermula dalam bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang dianggap sebagai musuh.

Kata Terorisme berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata Terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah. Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya. Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik: 1. ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan. 2. keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin. 3. tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudah dilakukan. 4. serangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.

1.2 Pengertian Terorisme Terorisme dalam bahasa Arab disebut al-irhab. Istilah tersebut digunakan al-Quran untuk melawan musuh Tuhan (QS.8:60). Karenanya, kalau kita mencermati gerakan Islam Politik, pandangan fundamentalistik dan gerakan radikalistik seringkali digunakan untuk melawan musuh Tuhan. Bagi mereka, barat disebut sebagai salah satu simbol musuh Tuhan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah, padahal bukan merekalah sasaran yang mereka tuju. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Namun, belakangan, kaum teroris semakin membutuhkan dana besar dalam kegiatan globalnya, sehingga mereka tidak suka mengklaim tindakannya, agar dapat melakukan upaya mengumpulkan dana bagi kegiatannya.

1.3 Penyebab Terorisme

Mengapa ada muslim yang menjadi teroris? Ada banyak sebab. Pertama, dari sudut pandang agama bisa dijawab dengan mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dengan segala kekurangan. Tentang kekurangan manusia banyak sekali disebutkan, baik dalam al-Quran maupun Hadits. Dalam satu ayat al-Quran misalnya disebutkan bahwa ketika manusia diciptakan Allah, sudah inheren dalam jiwanya dua potensi: (1) berbuat kebajikan (dimensi takwa); dan (2) berbuat kejahatan (dimensi fujur). Dan, seseorang yang sudah memeluk Islam pun, tak ada jaminan untuk bisa menghindarkan diri dari dimensi fujur, karena manusia memang tempatnya kesalahan dan kealpaan (mahal al-khatha wa al-nisyan). Bahkan Rasulullah yang mashum sekalipun, suatu ketika pernah berbuat kesalahan walaupun ringan. Kedua, seorang muslim juga bisa menjadi teroris karena pemahamannya yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Dari segi metode, mereka yang cenderung memahami agama secara literal (dhahiry) misalnya, akan potensial menjadi pemeluk agama yang ekstrem. Demikian juga yang dangkal (setengah-setengah) ilmu agamanya. (Baca, Dr. Yusuf Qardhawi, Islam Ekstrem: Analisa dan Pemecahannya, Bandung: Mizan, 1985). Di antara aspek agama yang paling sering ditafsirkan secara literal dan dangkal adalah konsep mengenai jihad fi sabilillah yang dianggap identik dengan aksi-aksi fisik seperti perang mengangkat pedang, senapan, atau meledakkan bom. Selain itu, ketidakadilan politik global juga sangat potensial melahirkan teroris, termasuk dari kalangan muslim. Kebijakan politik dunia yang tidak adil terhadap beberapa negara muslim misalnya, telah menimbulkan perlawanan dari segenap muslim yang menyadari betul ketidakadilan itu.

1.4Islam = Terorisme? Dalam kaitannya dengan terorisme, muncul pertanyaan yang tidak pernah terjawab, adakah korelasi fungsional antara Islam dan Terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya? Memang, pertanyaan-pertanyaan di atas terus mengalir deras, sederas banjir. Stigmatisasi Islam sebagai agama teroris makin dahsyat. Ini terkait erat dengan maraknya gerakan Islam Politik yang menunjukkan pandangan-pandangan fundamentalistik. Fenomenanya, pascaruntuhnya menara kembar WTC, respon sebagian besar gerakan Islam Politik bukan malah simpati terhadap korban kemanusiaan, melainkan makin memperbesar resistensi terhadap barat. Yang mengemuka adalah semangat anti-barat. Apapun yang datang dari barat senantiasa dikecam dan ditolak.

Sikap tersebut bukan tanpa alasan. Mengerasnya sikap Islam Politik juga seiring dengan kebijakan politik luar negri Amerika Serikat yang semakin keras juga, terutama menyangkut konflik Israel-Palestina dan rencana serangan ke Irak. Ini justru memberikan amunisi bagi reaksi yang semakin kencang dari kalangan Islam Politik. Kendatipun demikian, perihal yang tidak bisa diabaikan begitu saja, bahwa potensi-pontensi bagi terbentuknya pemahaman keagamaan yang menjurus pada terorisme dalam tradisi Islam bisa didapatkan dengan mudah. Ini biasanya disebabkan pandangan tekstual terhadap kitab suci. Kamal Abul Madjid (2000) dalam al-Irhab wa al-Islam (Islam dan Terorisme) membenarkan, bahwa terorisme dalam tradisi Islam terbentuk melalui pandangan keagamaan yang mengacam dan menakutkan (al-tahdid wa al-takhwif). Dalam mengidentifikasi musuh, Islam politik menggunakan tiga pandangan mendasar. Pertama, politik sebagai bagian dari Islam. Berpolitik praktis merupakan kewajiban (fardlu) bagi setiap muslim. Ini mengakibatkan setiap muslim harus terlibat dalam politik guna melawan politik kafir. Kedua, Islam sebagai komunitas yang paling benar, sedangkan yang lain dianggap murtad. Ketiga, kecenderungan untuk memaksakan pandangan dengan tangan besi, kekerasan, pembunuhan dan perang, yang biasa disebut dengan jihad fi sabililillah. (Said Asymawi: 1996: 297) Di sini, letak problematikanya, ketika Islam dijadikan sebagai lanskap politik, karena tidak mampu mengakomodasi pandangan lain dan kelompok lain. Karenanya, pandangan tersebut berdampak negatif, tidak hanya bagi orang lain, akan tetapi bagi Islam sendiri yang diamanatkan Tuhan menjadi agama rahmatan li al-alamien.

1.5 Pengaruh Terorisme Terhadap Agama Islam Sebagai agama, Islam dalam ajarannya sudah pasti menentang segala bentuk dan tindakan terorisme. Namun dalam ajaran oleh para pengikutnya, agama Islam kerap maju sebagai sosok politik dan ideologi. Dengan begitu, hampir pasti tak bisa mengelak jika dipakai oleh para aktivis Islam ekstrim untuk melakukan justifikasi bagi aksi kekerasan terorisme. Terorisme selama ini terbukti paling mudah berkedok agama untuk memikat pengikut guna melancarkan gerakan politik ekstrim yang biadab. Salah satu sumber masalah terorisme yang merebak sekarang ini adalah salah penafsiran atas ayat-ayat Quran yang sedemikian lama mengakar dalam beberapa gelintir umat. Kesalahan itu tidak kunjung diperbaiki hingga waktu yang lama hingga menimbulkan suatu doktrin yang mengakar kuat dan dianggap sebagai ajaran yang benar oleh orang yang

menganutnya. Celakanya doktrin ini selama bertahun-tahun telah disebarkan oleh ulamaulama yang sangat berpengaruh yang jumlahnya tidak sedikit. Peran pemerintah di berbagai negara yang mayoritas beragama islam, dimana ulama sangat berpengaruh luas adalah jelas. Pemerintah sangat bertanggungjawab atas merebaknya suatu ideologi yang membayakan keamanan, ketertiban, serta keselamatan warga negaranya masing-masing. Oleh karena itu upaya preventif untuk mengatasi problematika penyebaran faham salah itu adalah suatu keharusan. Melawan terorisme yang dilandasi oleh akidah keagamaan yang keliru hanya dengan kekuatan senjata semata, adalah kesalahan yang besar. Seperti halnya menyiram api dengan bahan bakar. Semakin mereka ditekan, para pelaku teror yang merasa dirinya benar itu justru akan semakin merasa bangga dan tertantang untuk melakukan aksinya. Dan dengan bekal keyakinan yang teguh dengan akidahnya, mereka akan dengan sangat mudah mempengaruhi orang lain yang kurang beruntung. Akibatnya sangat fatal, kita akan kehabisan energi untuk memberantas serta menanggulangi aksi-aksi mereka. Sedangkan mereka seolah gelombang yang tiada habisnya terus tumbuh seperti halnya moto TNI, "Esa hilang dua terbilang". Atau yang lebih menakutkan lagi bila yang terjadi adalah seperti kata pepatah, "Mati Satu Tumbuh Seribu."

1.6 Perintah untuk menjalankan islam yang kaffah Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, danjanganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al Baqarah: 208) Penafsiran ayat ini menurut Imam Ibnu Katsirrah ima h u lla h adalah,Allah taalaberfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariat; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka. (Tafsir Ibn Katsir 1 /3 35 ) . Berdasarkan ayat ini seorang Muslim diperintahkan untuk melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan secara komprehensif sebagaimana yang tertulis dalam Al Quran dan Hadits sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Adanya perbedaan di antara umat Muslim mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban atau yang lainnya adalah sesuatu yang wajar adanya selama perbedaan tersebut berdasarkan dalil yang kuat yaitu Quran dan Sunnah berdasarkan pemahaman ulama- ulama ahlu sunnah yang berkompeten. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qs.

Al-Baqarah: 286)

Islam adalah agama yang mudah dan tidak membebankan umatnya. Setiap ibadah wajib diiringi dengan keringanan yang dapat diambil karena kondisi-kondisi tertentu. Misalnya orang yang sedang dalam perjalanan jauh bisa membatalkan puasanya dan menjama shalatnya. Semakin tinggi tingkat ketakwaan seseorang, semakin gigih pula Ia dalam melaksanakan semua perintah agama. Tingkat ketakwaan itu dipengaruhi oleh banyak hal dan salah satunya adalah adanya kesadaran untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, tidak hanya sekedar ritual tapi terinternalisasi ke dalam semua sisi kehidupan. Termasuk mewujudkan negara yang berdasarkan kepada syariah Islam. Semua orang yang sudah memahami Islam pada tingkat yang lebih tinggi pastilah mempunyai harapan itu. Kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang bersumber pada Al Quran dan Sunnah seperti yang terjadi pada masa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.

1.7 Apakah Terorisme dibenarkan dalam Islam? Terorisme sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam. Tapi apakah harapan itu akan terwujud tanpa adanya proses dan perjuangan? Atau bisakah terwujud dengan mudah sedangkan sebagian besar umat Islam di Indonesia masih banyak yang masih awam terhadap agamanya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam berhasil membangun masyarakat dan pemerintahan yang Islami setelah tauhid menyebar dan mengakar kuat pada umat Islam pada masa itu. Umat Islam pada saat itu berada pada zaman keemasannya. Dengan kadar keimanan dan keilmuan tinggi yang sudah merata di kalangan umat, dan di bawah pimpinan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam, seorang pemimpin terbaik sepanjang zaman, berjayalah Islam pada masa itu. Kejayaan Islam itu bukanlah suatu hal yang mustahil. Bahkan pasti akan terwujud tentunya dengan syarat yaitu berpegang teguh dengan petunjuk dan agama AllahT a a la, dengan kembali kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahualaihi wa sallam dengan pemahaman dan pengamalan yang benar. Bagaimana mungkin kejayaan Islam itu terwujud dengan cara yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri? Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pun pernah mengalami masa-masa pahit ketika

menyebarkan Islam. Beliau, keluarga dan pengikutnya pada waktu itu dizhalimi oleh kaum musyrik, tetapi beliau tetap bersabar menghadapi kondisi itu. Tidak memerintahkan pengikutnya melakukan bom bunuh diri atau hal-hal lain yang mengganggu keamanan masyarakat. Islam sangat menghargai kehidupan dan memiliki aturan yang tegas dalam memelihara dan menjaga kehidupan.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Islam hari ini dipandang oleh banyak orang di Barat sebagai agama yang agresif yang mempromosikan terorisme. Sayangnya, hal yang sering terjadi bahwa pembunuhan orangorang yang tidak berdosa, bom bunuh diri, dan kegiatan teroris ini dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai Muslim, namun pada kenyataannya, tanggung jawab untuk tindakan-tindakan berbahaya seperti itu benar-benar bersandar dengan apa yang diajarkan para pemuka agama Islam, yang sungguh-sungguh keliru dalam pemahaman mereka tentang masalah jihad. Mereka menganggap pembunuhan manusia 'oleh pedang' sebagai kewajiban agama. Para ulama ini sengaja menyalahtafsirkan beberapa ayat-ayat Al Qur'an Mutashabihat (bermakna rumit dan beraneka segi) dan mempersamakan Jihad Islam sejati dengan pemberontakan untuk keuntungan mereka sendiri. SARAN

Pada kesempatan ini kami sebagai manusia biasa hanya bisa mengingatkan, bahwa terorisme pada mulanya menjanjikan sesuatu yang baik, tapi pada akhirnya hanya kerugian yang akan diperoleh.