You are on page 1of 5

TUGAS TATA TULIS DAN KOMUNIKASI

Disusun oleh : Raysha Fatima (I0308065)

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

PERKEMBANGAN MUSIK DI INDONESIA

Menurut Bens Leo, sejarah industri rekaman di Indonesia berawal dari dua tempat: Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta. Lokananta adalah milik pemerintah, dan menghasilkan rekaman berupa lagu daerah. Irama adalah perusahaan rekaman pertama yang banyak melahirkan lagu-lagu hiburan. Namanama seperti Rachmat Kartolo, Nien Lesmana, sampai Patty Sisters pernah rekaman di sana, yang awalnya hanya sebuah studio kecil di sebuah garasi di Menteng, Jakarta Pusat. Bahkan pada tahun 1957, piringan hitam long play diproduksi pertama kali oleh Irama Record. LP ini berukuran 12 inch bermuatan musik instrumental yang dimainkan oleh Nick Mamahit Periodesasi musik indonesia dapat dipaparkan sebagai berikut: Era 1940-an Terdapat tiga jenis musik yang utama dan berkembang di Indonesia, yaitu Keroncong, Gambus dan musik Hawaiian ditambah musik semi klasik dan klasik dari orkestra yang disukai orang Belanda dan kalangan elit. Pada era ini musik Indonesia juga mulai lebih banyak mengambil tema perjuangan, keberanian, semangat dan kebangsaan. Tema-tema heroik macam ini tentu saja berkaitan dengan kondisi Indonesia saat itu yang sedang melakukan perjuangan melawan Belanda dan Jepang. Era 1950-an Masa ini merupakan bangkitnya musik hiburan (entertainment music). Di masa ini lagu-lagu pop sudah mulai diminati. Lagu pop mendapatkan posisinya di samping lagu berirama Keroncong dan Seriosa sebagai salah satu kategori dalam acara pemilihan bintang radio yang diselenggarakan tiap tahun sejak tahun 1951 oleh Radio Republik Indonesia (RRI). Era 1960-an Pengaruh musik barat semakin terasa terhadap perkembangan music di Indonesia. Penyanyi yang terkenal pada masa ini adalah: Titik Puspa, Rhamat Kartolo, Lilis Suryani. Lirik lagu kebanyakan pada tahun 60-an banyak menceritakan cinta dan kesedihan. Era 1970-an Dick Tamimi mendirikan studio rekaman Dimita di daerah Bandengan Selatan Jakarta Kota. Studio rekaman ini juga menjadi pioner

rekaman lagu-lagu pop, karena di tempat ini nama-nama tenar Koes Bersaudara, Panbers, Dara Puspita, Rasela, lahir. Keunikan Dimita, rekaman harus berhenti karena ada kereta api lewat. Pada saat itu, teknologi rekaman pun masih me- ngandalkan jumlah track yang kecil, 8 tracks. Karena terletak di pinggir rel kereta api, proses rekaman harus dilakukan begitu lama. Pada periode ini, Indonesia berada di bawah pemerintahan Orde baru dimana musik barat muncul secara bebas. Maka banyak muncul grup-grup musik yang mengusung aliran musik hard rock. Era 1980-an Pada era ini jenis lagu yang banyak digemari adalah lagu pop yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Rinto Harahap adalah contoh dari sekian banyak nama pencipta lagu yang cukup produktif di era ini. Nama-nama penyanyi seperti: Nia Daniaty, Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugianto, adalah beberapa nama yang merupakan spesialis lagu sedih. Nama seperti Ebiet G Ade dan Franky and Jane juga sangat familiar pada waktu itu. Beberapa lagu sempat menjadi fenomenal. Di antaranya adalah lagu 'Gelas-Gelas Kaca' dan lagu 'Hati Yang Luka' milik Betharia Sonata. Lagu yang berjudul "Aku Masih Seperti Yang Dulu', yang dinyanyikan Dian Piesesha bahkan sampai terjual 2 juta kopi. Harmoko yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Penerangan melarang peredaran lagu-lagu jenis ini dengan alasan, membuat mental bangsa menjadi lemah, masyarakat jadi cengeng dan malas bekerja. Sebenarnya ada beberapa musisi yang tetap konsisten dengan aliran mereka dan tidak terbawa arus untuk memainkan musik yang sedih dan mendayu-dayu. Contohnya adalah Fariz RM dan Vina Panduwinata. Musik mereka sering disebut sebagai musik pop kreatif. Lagu Vina yang berjudul 'Burung Camar' bahkan jadi hits dimana-mana. Pada era ini musik rock juga sempat berjaya meski hanya sebentar. Beberapa nama seperti, Ikang Fauzy, Nicky Astria, dan Gito Rollies sempat bersinar pada waktu itu. Nicky Astria bahkan manjadi ikon Rocker Wanita Indonesia. Era 1990-an Setelah pelarangan dari Menteri Harmoko terhadap musik berlirik cengeng, musik pop Indonesia seperti kehilangan arah. Hal ini memberi jalan bagi musik dangdut untuk berjaya di industri musik Indonesia.

Bahkan terdapat beberapa penyanyi yang tadinya beraliran pop dan rock beralih ke dangdut sehingga muncul aliran musik pop dangdut. Obbie Mesakh sukses menciptakan lagu 'Mobil dan Bensin' yang akhirnya membuat jenis lagu ini seperti merajalela. Hits berikutnya yaitu lagu yang berjudul 'Gantengnya Pacarku' yang dinyanyikan Nini Karlina semakin memperkuat eksistensi musik jenis ini. Doel sumbang pun yang biasanya menyanyikan lagu daerah dan protes sosial mencoba keberuntungan di jenis musik ini dan sukses dengan lagu 'Kamu' dan Ahmad Albar yang merupakan penyanyi rock akhirnya ikut terseret dan menyanyikan lagu 'Zakiyah'. Group-group musik baru juga bermunculan seperti Dewa 19 dengan lagu berjudul 'Kangen' dan Slank dengan lagu 'Terlalu Manis'. Beberapa musisi Indonesia menciptakan trend musik baru pop rock. Nama-nama seperti Dedy Dores, Nike Ardilla, Inka Christy dan Nafa Urbach menyanyikan lagu jenis ini. Setelah kematian Nike Ardilla, beberapa nama baru muncul di dunia rekaman Indonesia, seperti Kahitna, Java Jive dan Krisdayanti. Beberapa label rekaman kemudian mengeluarkan album kompilasi dari beberapa group musik yang mengambil aliran alternatif dan ternyata banyak diminati. Akhirnya album-album kompilasi jadi trend waktu itu. Di Akhir tahun 90-an, Sheila On 7 membuat gebrakan dengan lagunya yang berjudul 'Dan' dan Kita menjadi hits. Album pertama mereka terjual lebih dari 2 juta kopi. Bahkan album mereka juga banyak terjual di Malaysia dan Singapura. Kemudian Dewa dengan formasi barunya kembali hadir setelah istirahat selama 2 tahun dan kembali melahirkan beberapa hits dan juga terjual lebih dari 2 juta kopi. Album Padi juga berhasil terjual lebih dari 2 juta kopi. Era 2000-an Pada awal era ini selera masyarakat lebih mengarah pada group musik dibandingkan dengan penyanyi yang bersolo karir. Beberapa penyanyi solo yang sempat berjaya perlahan redup di masa ini. Namanama seperti, Peterpan, Ungu, Dewa, Gigi, dan Nidji seakan mendominasi ruang musik Indonesia. Namun, kemudian penyanyi solo mulai bermunculan kembali dan berhasil membuktikan eksistensinya di industri musik Indonesia. Namanama seperti Tompi, Rio Febrian, Afgan, Vidi Aldiano dan lain-lain masih tetap bersaing di tahun-tahun berikutnya.

Era 2000-an juga merupakan era ajang pencarian bakat. Acara pencarian bakat di bidang musik yang paling terasa eksistensinya adalah Akademi Fantasi (AFI) dan Indonesian Idol. Ajang ini melahirkan penyanyi-penyanyi baru berbakat tetapi sangat disayangkan nama mereka redup dalam waktu singkat.

Dekade terakhir, industri musik dan rekaman Indonesia diwarnai kehadiran cabang lima industri musik kelas dunia yaitu BMG, Universal, EMI, Warner Music Indonesia dan Sony Entertainment. Lima perusahaan rekaman ini kira-kira mendapatkan 40-50 persen dari omset industri rekaman Indonesia. Ancaman terhadap industri musik dan rekaman di tanah air adalah persoalan pembajakan kaset dan CD yang meningkat tajam. Bahkan menurut Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) beberapa waktu lalu, pembajakan mencapai angka hingga 500%. Sementara itu, dengan kehadiran internet dan teknologi MP3, kini lagu-lagu bisa didapatkan dengan mudah dan murah. Ramainya pembajakan, menemukan solusinya dengan perkembangan industri telekomunikasi yang bergerak signifikan. Beberapa yang membuat industri musik dan rekaman tetap eksis adalah ringtone, khususnya ring back tone untuk handphone. Pengguna telepon seluler yang sekitar 160 juta orang tentu saja merupakan sasaran pasar yang bagus.