You are on page 1of 1

ABSTRAK Diundangkannya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pada tanggal

18 November 2004 oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, tampaknya diiringi dengan harapan terwujudnya wacana baru yang berhubungan dengan kepailitan terhadap kepentingan dunia usaha dalam menyelesaikan masalah utang piutang secara adil, cepat, terbuka dan efektif. Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ini didasarkan pada beberapa asas. Asas-asas tersebut antara lain adalah asas keseimbangan, asas kelangsungan usaha, asas keadilan dan asas integrasi. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam skripsi ini akan dibahas dua permasalahan yaitu: bagaimana manfaat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) bagi pihak debitor dan kreditor dalam perjanjian sewa menyewa serta bagaimana kedudukan hukum debitor dalam perjanjian sewa menyewa akibat hukum penundaan kewajiban pembayaran utang menurut Undang-Undang No. 37 Tahun 2004. Penyusunan skripsi ini dengan menggunakan metode kepustakaan (library research) yaitu dengan mendasarkan kepada bahan kepustakaan baik berupa pendapat para ahli hukum dan juga ketentuan perundang-undangan yang ada kaitan dengan masalah tersebut di atas. Adapun kesimpulan yang dapat dikemukakan adalah peranan pengadilan niaga dalam menyelesaikan perkara kepailitan dan PKPU menurut UndangUndang No. 37 Tahun 2004 adalah kelemahan-kelemahan yang ada pada proses peradilan menurut ketentuan Faillisement Verordening Stb. 1905 No. 217 jo. Stb. 1906 dengan semasa Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 dan juga pada UndangUndang Kepailitan yang baru Undang-undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan PKPU sudah lebih maju lagi khususnya dalam hal pengajuan PKPU yaitu permohonan PKPU tidak hanya dapat diajukan oleh pihak debitor saja, tetapi juga sudah dapat diajukan oleh pihak kreditornya, hal ini tentunya menjadi sangat penting, karena membuka secara luas kearah proses perdamaian tidak semata-mata mempailitkan debitor. Proses di pengadilan niaga yang sangat cepat dalam memutuskan/mengabulkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dimana jika permohonan diajukan oleh pihak debitor hanya memerlukan batas waktu 3 hari, harus sudah dikabulkan PKPUnya oleh pihak pengadilan yaitu PKPU sementara pada Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 hal ini tidak disebut dengan jelas. Pada Pasal 214 ayat (2) hanya dikatakan pengadilan harus segera mengabulkan penundaan sementara kewajiban pembayaran utang tanpa menetapkan batas waktu segera tersebut.