You are on page 1of 8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi

Written by Ard Dee

PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN

DALAM MENGHADAPI

ERA GLOBALISASI*

Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi setiap manusia untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara, agar menjadi warga negara yang berkualitas sesuai cita-cita yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Maksud lainnya adalah untuk menunjang kehidupan dan tarap hidup agar menjadi lebih baik, serta memiliki harkat dan martabat yang tinggi sebagai manusia. Menurut Suyanto dan Abbas (2001), pendidikan merupakan instrumen yang amat penting bagi setiap bangsa untuk meningkatkan daya saingnya dalam percaturan politik, ekonomi, hukum, budaya dan pertahanan pada tata kehidupan masyarakat dunia global. Perubahan yang terjadi secara global menyebabkan perubahan gaya hidup.

Perubahan-perubahan global mengharuskan pada setiap organisasi termasuk organisasi pendidikan untuk segera membenahi dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, agar dapat memberikan jawaban terhadap tantangan jaman. Pemerintah tidak pernah berhenti dalam membangun dan membenahi sektor pendidikan, karena adanya tantangan jaman dan menyadari akan adanya permasalahan-permasalahan yang timbul akibat adanya pergeseran-pergeseran dan perubahan jaman.

Peran pendidikan sangatlah strategis dalam membangun bangsa (nation building), karena pendidikan tidak saja memiliki fungsi yang hakiki dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi aktor-aktor dalam menjalankan fungsi dari berbagai kehidupan, tetapi juga

1/8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi


Written by Ard Dee

merupakan suatu daya upaya bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter, pikiran, intelektual) dari tubuh anak. Kelangsungan hidup suatu masyarakat tergantung pada keberhasilannya mempersiapkan generasi penerus yang akan mengambil alih kedudukan dan peran-peran sosial para pendahulunya. Hal ini sangat penting mengingat usia manusia itu terbatas. Cepat atau lambat setiap manusia akan mati dan memerlukan pengganti. Proses peremajaan itu tidak terbatas pada kegiatan reproduksi, melainkan yang lebih penting adalah pembekalan dan pengembangan pendidikan, pengetahuan budaya dan keterampilan kerja bagi generasi penerus (ensulturation) untuk mengambil alih peran-peran sosial pendahulunya.

Melalui pendidikan, diupayakan terciptanya manusia Indonesia yang unggul yang memiliki visi jauh ke depan, selalu ingin maju dan berkembang, siap menaggung resiko, mempunyai wawasan yang luas, mampu menerapkan ide-ide yang bervisi secara optimal, mampu berkomunikasi, mampu berkoordinasi dengan orang lain, dan mempunyai semangat kewirausahaan (ulet, rajin, tahan uji dll). Pendidikan selain sebagai suatu pembentuk watak/kepribadian juga harus dapat mempersiapkan sumber daya yang handal dan dapat dipertanggung jawabkan.

Globalisasi merupakan suatu kondisi yang tidak terelakkan oleh semua bangsa di duni, dan bahkan oleh setiap umat manusia di bumi ini. Globalisasi tidak bisa dianggap enteng dan ditangani sambil lalu belaka. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap maupun tidak siap, Indonesia terimbas, bahkan terseret pula oleh arus deras globalisasi. Pembangunan yang menekankan pada sumber daya alam (resouce based) tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Yang harus diutamakan sekarang adalah pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (human resouce based). Globalisasi membawa konsekuensi berupa berbagai dampak baik social, politik maupun budaya, selain tentu saja dampak ekonominya yang paling menonjol. Berbagai perubahan pada era globalisasi ini menimbulkan berbagai tantangan yang membutuhkan cara-cara mengatasi, yang berbeda dengan cara-cara yang dilakukan pada masa lampau.

Cara yang paling jitu menghadapi era globalisasi adalah dengan melalui peningkatan mutu pendidikan !! Hal tersebut dikarenakan kualitas sumber daya manusia Indonesia masih sangat rendah, bahkan ada di bawah negara-negara lain di tingkat regional ASEAN.

Banyak pihak mengeluhkan bahwa sebagian besar siswa sekolah yang sekarang ini kurang terampil dan tidak mampu berpikir kritis. Sebagian besar siswa tidak mampu berpikir sesuai dengan masalah yang disodorkan kepadanya, dan tidak mampu mencari pemecahan maslahnya dengan cara sendiri.

2/8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi


Written by Ard Dee

Sementara itu sekolah lebih bergairah untuk melatih anak dengan metode drill, anak dipacu untuk mengerjakan test tertulis berupa tes pilihan berganda, sedangkan tes lain seperti tes lisan (oral test), tes prilaku atau tampilan (performance test) kurang diperhatikan dalam penilaian siswa, sehingga proses pembelajaran hanya terfokus pada aspek kognitif saja, sedangkan pada aspek afektif dan psikomotor masih terabaikan.

Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, maka harus terjadi integrasi antara pendidik, keluarga dan sikap massa yang mengelilingi dunia pendidikan agar bersama-sama, berupaya membekali anak didik dengan logika dan etos keingintahuan secara kritis. Disini kita mempersiapkan kemampuan siswa menguasai, dan mengerti kaidah umum keilmuan dasar mulai sastra, falsafah, sejarah sampai ilmu pengetahuan lam, mendalami bahasa ibu, memahami lingua franca bangsanya dan bahasa asing utama. Bahasa itu harus siap pakai untuk kelak dipergunakan sebagai alat komunikasi intelektual. Juga disini ditumbuhkan kesadaran berorganisasi terstruktur yang dibalut dengan kesadaran sosial, sehingga anak didik menyadari toleransi cultural, dapat bekerjasama di dalam perspektif kebudayaan dan agar komunikatif, mampu mengeluarkan pendapat.

Lembaga pendidikan dan penelitian mempunyai hak, bahkan kewajiban menyatakan atau mengajarkan pandangan yang didasarkan dan diyakini kebenaran ilmiah, sehingga bebas dari rasa takut perlu dibiasakan dengan etika pemecahan soal.

Sarana dan prasarana pendidikan harus dikembangkan. Pendidikan formal dan non formal adalah sarana yang tidak boleh diabaikan, juga perpustakaan umum kota tentu saja dengan bantuan pemerintah lokal maupun pusat, agar mereka tidak introvert. Klub pengembangan intelektual harus mendapat dukungan.

Globalisasi jangan dijadikan momok yang menakutkan akan tetapi harus kita jadikan peluang yang bermanfaat. Untuk mengantisipasi peluang ini, maka perlu kesiapan dan kemahiran manusia itu sendiri. Caranya adalah BUDAYA INFORMASI harus ditanamkan mulai anak-anak sampai mereka sudah mempunyai posisi fungsional sebagai pengambil keputusan. Kalau budaya informasi ini sudah berkembang, maka kita dapat mengolah, mengerti dan kemudian mengadaptasikan yang terkandung dalam informasi itu. Hal yang paling esensial di sini adalah budaya membaca!!!.

3/8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi


Written by Ard Dee

Apabila budaya ini dapat dipacu, maka globalisasi informasi akan membawa dampak positif bagi kehidupan upaya mencerdaskan bangsa kita, akan tetapi kita juga harus mempunyai filter untuk menyaringnya.

Dalam merealisasikan arah pengembangan pendidikan tinggi yang humanis, demokratis, dan religius kurikulumnya harus dirancang berdasarkan pendekatan kompetensi dengan metode pembelajaran yang menumbuhkan pengalaman belajar secara berguna dan bermakna kepada mahasiswa, harus memuat isi yang serasi programnya dengan aspirasi masyarakat. Perlu dibuang materi yang inkoherensi, dan beban studi yang berlebihan.

Kegiatan belajar dalam proses pembelajaran, meliputi kegiatan intelektual, mental, sosial, dan emosional. Sedangkan strategi pembelajaran yang digunakan adalah :

INQIRY : Pertanyaan, Pemeriksaan, Penyelidikan.

STRAINK : Serangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal

seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari, menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga dapat merumuskan sendiri penemuannya.

Guru/Dosen harus professional, tahan terhadap kritik muridnya, tidak menyanjung dia sebagai tokoh yang serba tahu dan berperan sebagai :

1. Administrator : tanggung jawab terhadap seluruh kegiatan

2. Manajer : mengelola sumber belajar, waktu dan organisasi

3. Leader : memimpin arus kegiatan berfikir menuju sasaran

4/8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi


Written by Ard Dee

4. Motivator : memberi rangsangan agar aktif, gairah berfikir

5. Fasilitator : menunjukkan jalan keluar terhadap hambatan dalam

proses berpikir.

6. Penanya : menyadarkan pada peserta didik akan kekeliruan.

Pendidikan tinggi Indonesia, harus mempunyai fungsi untuk pembentukan sosok lulusan yang utuh dan lengkap ditinjau dari segi kemampuan, keilmuan dan keterampilan serta kematangan/kesiapan pribadi, sehingga konsisten melaksanakan 4 pilar pendidikan, yaitu :

1. Prinsip learning to be

2. Prinsip learning to know

3. Prinsip learning to do

4. Prinsip learning to live together

Pada prinsipnya paradigma baru pendidikan tinggi di Indonesia adalah :

1. Kualitas : peningkatan mutu untuk pencapaian tujuan dan sasaran sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan oleh setiap universitas.

5/8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi


Written by Ard Dee

2. Otonomi : keleluasaan dalam pengambilan keputusan, perbaikan system pengelolaan, dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu dan peningkatan kesejahteraan manusia.

3. Akuntabilitas : pertanggungjawaban dan kemampuan untuk mendemonstrasikan keluaran ( outputs ) dan hasil ( outcomes ) yang memuaskan segenap stakeholders secara transparan.

4. Akreditasi : jaminan standar tingkat kompetensi yang dapat dikontrol masyarakat luas melalui penilaian oleh lembaga independen.

5. Evaluasi : untuk mengunmpulkan dan memproses informasi agar dapat dilakukan penilaian kesesuaian antara rencana dan pelaksanaanya, guna disimpulkan kadar kinerja serta manfaatnya, sebagai umpan balik untuk perencanaan ke depan.

Dalam arus kelembagaan, aktivitas yang berkaitan dengan kewirausahaan atau entrepreneurships juga harus lebih digalakkan, agar lebih ulet, terampil dan mandiri sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan, bukan hanya pencari kerja.

Secara spesifik disebutkan bahwa universitas dituntut untuk berperan sebagai kekuatan moral ( moral force ) dalam arti harus selalu kredibel, akuntabel, dipercaya oleh masyarakat dan dapat memberi contoh keteladanan yang benar. Selain itu Universitas harus tetap konsisten mengemban tugas mulia sebagai knowledge factory : tidak sekedar sebagai pencipta ilmu pengetahuan, pendidik generasi muda, penyebar budaya, tetapi juga sebagai agen pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi. Itulah tugas setiap intelektual hasil didikan kampus yang sesungguhnya.

Para ilmuan perlu menyediakan diri dengan tanggungjawab menjadi kotak pos pertanyaan publiknya, agar dapat membantu masyarakat dan pengambil keputusan melaksanakan sains, agar publik dan politisi mengambil keputusan dapat menentukan pilihan serasional dan tidak berdasarkan atas aku suka.

6/8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi


Written by Ard Dee

Keterbukaan semacam ini layak dikembangkan secara bertahap, agar partisipasi segenap stakeholders tidak pada aras terendah berupa penyampaian informasi dan penyerapan aspirasi, tetapi suatu saat nanti akan sampai pada aras tertinggi berupa stakeholders power.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ari Kunto Suharsimi, Prof.Dr (1999), Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.

2. Bernadib Imam, Prof, MA, Phd (1995), Beberapa aspek Substansial Ilmu Pendidikan, Jogjakarta, Andi Offset.

3. Bernadib Imam Sutari, Prof.Dr, (1995), Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Jogyakarta, Andi Offset.

4. Budihardjo, Eko, (2002), UNDIP Sebagai Kekuatan Moral dan Intelektual.

5. Soehendro,B, (1996) Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (PPTP JP III 1996 2005 Ditjen Dikti Depdikbud Jakarta).

7/8

Pengembangan Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi


Written by Ard Dee

6. Sudharmono Pratiwi, Dr, Globalisasi sebagai Peluang untuk Mengembangkan Diri,

7. Soedijarto,H,Dr (1998), Pendidikan Sebagai Sarana Reformasi Mental Dalam Upaya Pembangunan Bangsa, jakarta, Balai Pustaka.

*Oleh : Drs. Sofyan, M.Pd

8/8