You are on page 1of 20

DIKSI

1. Diksi dan Gaya Bahasa Gaya bahasa ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata, kalimat, paragraf, atau wacana menjadi efektif jika diekspresikan dengan gaya bahasa yang tepat. Gaya bahasa mempengaruhi terbentuknya suasana, kejujuran, kesopanan, kemenarikan, tingkat keresmian, atau realita. Gaya resmi, misalnya, dapat membawa pembaca/pendengar ke dalam suasana serius dan penuh perhatian. Suasana tidak resmi mengarahkan pembaca/pendengar ke dalam situasi rileks tetapi efektif. Gaya percakapan membawa suasana ke dalam situasi realistis. Selain itu, pilihan dan kesesuaian kata yang didukung dengan tanda baca yang tepat dapat menimbulkan nada kebahasaan, yaitu sugesti yang terekspresi melalui rangkaian kata yang disertai penekanan mampu menghasilkan daya persuasi yang tinggi. Gaya bahasa berdasarkan nada yang dihasilkan oleh pilihan kata ini ada tiga macam, yaitu: (1) Gaya bahasa bernada rendah (gaya sederhana) menghasilkan ekspresi pesan yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan pembaca, misalnya dalam buku-buku pelajaran, penyajian fakta, dan pembuktian. (2) Gaya bahasa bernada menengah, rangkaian kata yang disusun berdasarkan kaidah sintaksis dengan menimbulkan suasana damai dan kesejukan, misalnya: dalam seminar, kekeluargaan, dan kesopanan. (3) Gaya bahasa bernada tinggi mengekspresikan maksud dengan penuh tenaga, menggunakan pilihan kata yang penuh vitalitas, energi, dan kebenaran universal. Gaya ini menggunakan kata-kata yang penuh keagungan dan kemuliaan yang dapat

menghanyutkan

emosi pembaca atau pendengarnya. Gaya ini sering digunakan untuk

menggerakkan masa dalam jumlah yang sangat banyak

2. Ketepatan Kata Diksi adalah ketepatan pilihan kata Indikator ketepatan kata ini, mengkomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan antara lain: (1) sesuai berdasarkan

kaidah bahasa Indonesia, (2) menghasilkan komunikasi puncak (yang paling efektif) tanpa salah penafsiran atau salah makna, (3) menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan penulis atau pembicara, dan (4) menghasilkan target komunikasi yang diharapkan. Selain pilihan kata yang tepat, efektivitas komunikasi menuntut persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan

komunikasi. Syarat-syarat ketepatan pilihan kata: 1) membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat, denotasi yaitu bermakna lugas dan tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi kata yang

dapat menimbulkan

makna yang bermacam-macam, lazim digunakan dalam pergaulan, untuk tujuan estetika, dan kesopanan. 2) membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim, bersinonim, misalnya: adalah, ialah, yaitu, merupakan, dalam beda. 3) membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya: inferensi kata yang hampir

pemakaiannya berbeda-

(kesimpulan) dan interferensi (saling mempengaruhi), sarat (penuh, bunting) dan syarat (ketentuan), 4) tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat pemahaman belum dapat dipastikan, pemakai kata harus dalam kamus, misalnya: modern sering kamus modern berani sendiri, jika

menemukan makna yang tepat

diartikan secara subjektif canggih menurut banyak cakap, suka

terharu atau mutakhir; canggih berarti mengetahui, bergaya intelektual,

mengganggu, banyak 5)

menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami

maknanya secara

tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya koordinasi, 6) menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang misanya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan, 7) menggunakan kata umum dan kata khusus, secara cermat. Untuk pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya misalnya: mobil (kata umum) corolla (kata 8) mendapatkan benar,

menggunakan kata khusus,

khusus, sedan buatan Toyota). (berasal dari

menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya: isu bahasa Inggris issue berarti publikasi, kesudahan, perkard) isu

(dalam bahasa Indonesia

berarti kabar yang tidak jelas asal-usulnya, kabar angin, desas-desus), 9) menggunakan dengan cermat kata bersinonim (misalnya: pria dan laki-laki, saya dan aku, serta buku dan kitab); berhomofoni (misalnya: bang) 10) menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat.

3. Kesesuaian Kata Selain ketepatan pilihan kata itu, pengguna bahasa harus pula memperhatikan kesesuaian kata agar tidak merusak makna, suasana, dan situasi yang hendak ditimbulkan, atau suasana yang sedang berlangsung. Syarat kesesuaian kata: 1) menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukkan pergaulan,

penggunakannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam misalnya: hakikat (baku), hakekat (tidak baku), konduite (baku), 2)

kondite (tidak baku), misalnya:

menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat, kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan), pelacur halus),

(kasar) tunasusila (lebih

3)

menggunakan kata berpasangan (idiomatik) dan berlawanan makna misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan

dengan cermat,

hanya melainkan juga

(benar), bukan hanya...tetapi juga (salah), tidak hanya tetapi juga (benar). 4) menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya: berjalan lambat, merangkak; merah darah, merah hati. 5) menggunakan kata ilmiah untuk penulisan karangan ilmiah, dan nonilmiah (surat-menyurat, diskusi umum) komunikasi mengesot, dan

menggunakan kata populer, misalnya:

argumentasi (ilmiah), pembuktian (populer), psikologi (ilmiah), ilmu jiwa (populer). 6) menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa tulis, tulis, baca, kerja (bahasa lisan), menulis, menuliskan Memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan ilmiah menuntut penguasaan: (1) keterampilan yang tinggi terhadap bahasa yang digunakan, (2) wawasan bidang ilmu yang ditulis, (3) konsistensi penggunaan sudut; pandang, istilah, baik dalam makna maupun bentuk agar tidak menimbulkan salah penafsiran, (4) syarat ketepatan kata, dan (5) syarat kesesuaian kata. Fungsi diksi (1) melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal resmi) sehingga misalnya:

(2) membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak menyenangkan pendengar atau pembaca, (3) menciptakan komunikasi yang baik dan benar,

(4) (5) (6) (7)

menciptakan suasana yang tepat, mencegah perbedaan penafsiran, mencegah salah pemahaman, dan mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

4. Perubahan Makna Bahasa berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat pemakainya. Pengembangan diksi terjadi pada kata. Namun, hal ini berpengaruh pada penyusunan kalimat, paragraf, dan wacana.

Pengembangan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi. Komunikasi kreatif berdampak pada perkembangan diksi, berupa penambahan atau pengurangan kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu, bahasa berkembang sesuai dengan kualitas pemikiran pemakainya. Perkembangan dapat menimbulkan perubahan yang mencakup: perluasan, penyempitan, pembatasan, pelemahan, pengaburan, dan pergeseran makna. Faktor penyebab perubahan makna: (1) Kebahasaan a) Perubahan makna yang ditimbulkan oleh faktor kebahasaan meliputi perubahan intonasi, bentuk kata, dan bentuk kalimat. Perubahan intonasi adalah perubahan makna yang diakibatkan oleh perubahan nada, irama, dan tekanan. Kalimat berita Ia makan. Makna berubah jika intonasi kalimat diubah, misalnya: Ia makan? Ia makan! Ia makanan. b) Perubahan struktur frasa: kaleng susu (kaleng bekas tempat susu) susu kaleng (susu yang dikemas dalam kaleng), dokter anak (dokter spesialis penyakit anak) anak dokter (anak yang dilahirkan oleh orang tua yang menjadi dokter) c) Perubahan bentuk kata adalah perubahan makna yang ditimbulkan oleh perubahan

bentuk tua (tidak muda) jika ditambah awalan ke- menjadi ketua, makna berubah menjadi pemimpin. d) Kalimat akan berubah makna jika strukturnya berubah. Perhatikan kalimat (1) Ibu Rina menyerahkan laporan itu lantas dibacanya (2) Karena sudah diketahui sebelumnya satpam segera dapat meringkus pencuri itu Kalimat pertama: salah bentuk kata sehingga menghasilkan makna Ibu Ratna dibaca setelah menyerahkan surat. (la) Setelah diserahkan oleh Ibu Rina laporan itu dibaca oleh penerimanya. berikut ini:

(lb) Setelah diserahkan oleh Ibu Rina laporan itu ia baca. (2) Kesejarahan Kata perempuan pada zaman penjajahan Jepang digunakan untuk menyebut perempuan penghibur. Orang menggantinya dengan kata wanita. Kini, setelah orang melupakan peristiwa tersebut menggunakannya kembali, dengan pertimbangan, dibanding kata wanita. (3) Kesosialan Masalah sosial berpengaruh terhadap perubahan makna. Kata gerombolan yang pada mulanya bermakna orang berkumpul atau kerumun. Kemudian, kata itu tidak digunakan karena berkonotasi dengan pemberontak, perampok, dan sebagainya. Sebelum tahun 1945 orang dapat berkata, gerombolan laki-.aki menuju pasar, setelah tahun 1945, apalagi dengan munculnya l . pemberontak, kata gerombolan tidak digunakan bahkan ditakuti kata perempuan lebih mulia

(4) Kejiwaan Perubahan makna karena faktor kejiwaan ditimbulkan oleh pertimbangan: (a) rasa takut, (b) kehalusan ekspresi, dan (c) kesopanan. Misalnya, pada masa Orde Baru, orang takut (khawatir) banyak utang (komersial) merupakan kinerja buruk bagi pemerintah, kata tersebut diganti dengan bantuan atau pinjaman. Padahal, utang (komersial) dan bantuan berbeda makna. Utang harus dikembalikan bersama bunganya, sedang bantuan tidak menuntut pengembalian. Perhatikan contoh berikut ini: (a) Tabu: pelacur disebut tunasusila atau penjaja seks komersial (PSK) germo disebut hidung belang koruptor disebut penyalahgunaan jabatan (b) Kehalusan (pleonasme) bodoh disebut kurang pandai malas disebut kurang rajin perampok hutan disebut penjarah hutan (c) Kesopanan

ke kamar mandi disebut ke belakang gagal disebut kurang berhasil sangat baik disebut tidak buruk

(5) Bahasa Asing Perubahan makna karena faktor bahasa asing, misalnya kata tempat orang terhormat diganti dengan VIP. Kata symposium pada mulanya bermakna orang yang minum-minum di restoran dan kadang-kadang ada acara dansa yang diselingi dengan diskusi. Dewasa ini kata symposium sudah lebih dititikberatkan pada acara diskusi yang membahas berbagai masalah dalam bidang ilmu tertentu. Perhatikan contoh berikut ini:

(6) Kata Baru Kreativitas pemakai bahasa berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut memerlukan bahasa sebagai alat ekspresi dan komunikasi. Kreativitas baru dihadapkan pada kelangkaan makna leksikal, yang mendasari bentuk inflesi suatu kata, atau istilah baru yang mendukung pemikirannya: Kebutuhan tersebut mendorong untuk menciptakan istilah baru bagi konsep baru yang ditemukannya Perhatikan penggunaan kata: jaringan, justifikasi, kinerja, klarifikasi, konfirmasi, vasektomi, dan verifikasi berikut ini. jaringan kerja (jejaring) untuk menggantikan network justifikasi untuk menggantikan pembenaran kinerja menggantikan performance klarifikasi untuk menggantikan clarification konfirmasi untuk menggantikan confirmation vasektomi menggantikan operasi untuk memandulkan kaum pria dengan cara memotong saluran sperma atau saluran mani dari bawah buah jakar sampai ke kantong sperma (pengertian ini terlalu panjang dan dapat menimbulkan masalah kejiwaan, penggunaan vasektomi lebih baik dari pada terjemahan dalam bahasa Indonesianya), verifikasi pemeriksaan kebenaran laporan.

5. Denotasi dan Konotasi Makna denotasi dan konotasi dibedakan berdasarl^an ada atau tidaknya nilai rasa. Kata denotasi lebih menekankan tidak adanya nilai rasa, sedangkan konotasi bernilai rasa kias. Makna denotasi lazim disebut 1) makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi (data) faktual dan objektif. 2) makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang berkaki empat (makna sebenarnya). 3) makna lugas yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya, bu4can makna kias. Konotasi berarti makna kias, bukan makna sebenarnya. Sebuah kata dapat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma masyarakat tersebut. Makna konotasi dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Sebuah kata dapat merosot nilai rasanya karena penggunaannya tidak sesuai dengan makna denotasinya.. (1) Pengemudi kendaraan bermotor ditilang karena melanggar peraturan lalu kebijaksanaan kepada petugas agar tidak diperkarakan (damai di tempat). (2) Orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas mohon kebijaksanaan sekolah agar bersedia menolong anaknya (menaikkan kelas). Dapat ditegaskan bahwa makna kata konotatif cenderung bersifat subjektif. Makna kata ini lebih banyak digunakan dalam situasi lidak formal, misalnya: dalam pembicaraan yang bersifat ramah tamah, diskusi tidak resmi, kekeluargaan, dan pergaulan. Perhatikan contoh berikut ini. (1) Laporan Anda harus diserahkan selambat-lambatnya 1 Juni 2004. (denotasi) (2) Laporan Anda belum memenuhi sasaran (konotasi). kepada kepala lintas minta

6. Sinonim Sinonim ialah persamaan makna kata. Artinya, dua kata atau lebih yang berbeda

bentuk, ejaan, dan pengucapannya, tetapi bermakna sama wanita bersinonim dengan perempuan, makna sama tetapi berbeda tulisan maupun pengucapannya. Perhatikan contoh kata-kata bersinonim dan hampir bersinonim berikut ini. Jadi, kesinoniman mutlak jarang ditemukan dalam perbendaharaan kata bahasa

Indonesia. Ketidakmungkinan menukar sebuah kata dengan kata lain, yang bersinonim atau

hampir bersinonim disebabkan oleh berbagai alasan: waktu, tempat, kesopanan, suasana batin, dan nuansa makna. Perhatikan contoh berikut: kegiatan, kesopanan, nuansa makna :

(1) (2) (3) (4)

kegiatan, misalnya: aman-tenteram, matahari-surya. kesopanan, misalnya: saya, aku. nuansa makna, misalnya: melihat, melirik, melotot, meninjau, mengintip: penginapan, hotel, motel, losmen; mantan, bekas

Dua kata bersinonim atau hampir bersinonim tidak digunakan dalam sebuah frasa. Misalnya: adalah merupakan, agar supaya, bagi untuk, adalah yaitu, yth. kepada. Dalam sebuah kalimat, penggunaan kedua kata tersebut, misalnya: (1) Kucing adalah merupakan binatang buas. (salah) (2) Kepada Yth. Bapak Nurhadi (salah) Penggunaan kata bersinonim dalam sebuah frasa tersebut salah, seharusnya: (1) a. Kucing adalah binatang buas. (benar) b. Kucing merupakan binatang buas. (benar) (2) a. Kepada Bapak Nurhadi (benar) b. Yth. Bapak Nurhadi (benar)

7. Idiomatik Idiomatik adalah penggunaan kedua kata yang berpasangan. Misalnya: sesuai dengan,

disebabkan oleh, berharap akan, dan Iain-lain. Pasangan idiomatik kedua kata seperti itu tidak dapat digantikan dengan pasangan lain. Contoh: (1) Bangsa Indonesia berharap akan tampilnya seorang presiden yang mampu berbagai kesulitan bangsa. (2) (3) Karyawan itu bekerja sesuai dengan aturan perusahaan Kara berharap akan (kalimat 1) tidak dapat digantLoleh mengharapkan akan atau berharap dengan. Pasangan kedua kata sesuai dengan (kalimat 2) tersebut tidak boleh diganti pasangan lain mengatasi

8. Kata Tanya: Di Maria, Yang Mana, Hal Mana

Kata tanya hanya digunakan untuk menanyakan sesuatu jika tidak menanyakan sesuatu tidak digunakan (digunakan berarti salah). Kata-kata Tanya yang sering digunakan secara salah, misalnya: yang mana, di mana, dan hal mana. Perhatikan penggunaan kata-kata tersebut dalam kalimat berikut ini. (1) Laboratorium komputer hal mana sangat diperlukan untuk mengembang dan komunikasi para siswa SMP itu menjadi pemacu siswanya. (salah) (2) Sahabatku yang mana sangat baik kepadaku ketika di SMP dulu sekarang pengusaha yang sukses. (salah) (3) SMP itu di mana kami sekolah dulu disumbangnya dengan perlengkapan komputer beberapa hari yang lalu.(salah) (1) Laboratorium komputer itu sangat diperlukan untuk mengembangkan dan komunikasi para siswa SMP sehingga memacu kecerdasan (2) kreativitas laboratorium menjadi kan kreativitas

pengembangan kecerdasan para

siswanya. (benar) menjadi

Sahabatku yang sangat baik kepadaku ketika di SMP dulu sekarang pengusaha sukses. (benar)

(3)

SMP sekolahku itu disumbangnya dengan perlengkapan laboratorium beberapa hari yang lalu.(benar)

komputer

9. Homonim, Homofon, Homograf 9.1 Homonim Kata homonim berasal dari bahasa homo berarti sama dan nym berarti nama. Homonim dapat diartikan sama nama, sama bunyi, sebunyi, tetapi berbeda makna. Contoh: (1) syah syah (2) = raja = kepala (pemimpin)

buku = ruas buku = kitab

9.2 Homofon Homofon terdiri atas kata homo berarti sama dan foni (phone) berarti bunyi atau suara.

1.

Peristilahan Istilah adalah kara atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu materi,

konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Ada dua macam istilah: (1) istilah khusus; dan (2) istilah umum. Istilah khusus adalah kata yang pemakaiannya dan maknanya terbatas pada suatu bidang tertentu, misalnya cakar ay am (bangunan), agregat (ekonomi); sedangkan istilah umum ialah kata yang menjadi unsur bahasa umum, misalnya: ambil alih daya guna, kecerdasan, dan tepat guna merupakan istilah umum, sedangkan radiator, pedagogi, androgogi, panitera, sekering dan atom merupakan istilah khusus. Istilah dalam bahasa Indonesia bersumber pada: kosakata umum bahasa Indonesia, kosa kata bahasa serumpun, dan kosa kata bahasa asing. Proses pembentukan istilah dilakukan melalui pemadanan atau penerjemahan, misalnya busway menjadi jalur bus; penyerapan kosa kata asing, misalnya camera menjadi kamera; dan gabungan penerjemahan dan penyerapan, misalnya subdivision menjadi subbagian. 10.1 Sumber Istilah 10.1.1 Istilah Indonesia Kata atau istilah dalam bahasa Indonesia dapat dijadikan sumber istilah jika memenuhi salah satu atau lebih syarat-syarat bahwa istilah yang dipilih adalah kata atau frasa: (1) paling tepat untuk mengungkapkan konsep yang dimaksudkan, (2) paling singkat di antara pilihan yang tersedia, (3) berkonotasi baik, (4) sedap didengar, dan (5) bentuknya seturut dengan kaidah bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah, 2005:2).

10.1.2 Istilah Nusantara Jika dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang tepat yang dapat

mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang dimaksudkan. Istilah dapat diambil dari istilah Nusantara, baik yang lazim maupun yang tidak lazim, asal memenuhi syarat, misalnya: Garuda Pancasila, bineka tunggal ika, wayang, saiver, dan Iain-lain. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah, 2005: 4). 10.1.3 Istilah Asing Istilah baru dapat dilakukan dengan pemadanan melalui penerjemahan atau penyerapan istilah asing. Penerjemahan perlu memperhatikan kesamaan dan kesepadanan makna konsepnya,

misalnya: network - jaringan kerja, jejaring; medical treatment berarti pengobatan, brother-in law berarti abangladik ipar, (begrooting) post berarti mata anggaran Penyerapan istilah asing dilakukan jika dalam istilah Indonesia dan istilah nusantara tidak lagi dapat ditemukan. Istilah asing diserap jika dapat : (1) meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indonesia secara timbal balik, (2) mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca Indonesia, (3) lebih singkat dibandingkan dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia, (4) mempermudah kesepakatan antarpakar jika istilah Indonesia terlampau banyak sinonimnya, atau (5) lebih tepat karena tidak mengandung konotasi buruk. Penyerapan istilah asing dengan dilakukan dengan: (1) (1) penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya camera (kaemera) kamera (kamera), (2) penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal design, misalnya (disain) desain (desain), (3) tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal, misalnya bias (baies) bias (bias), (4) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya status quo, in vitro, (5) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya golf, internet. 10.1.4 Perekeciptaan Para ahli dalam berbagai bidang keilmuan (ilmuwan, budayawan, seniman) pencetus ide, konsep, sistem, dan Iain-lain yang tidak pernah ada sebelumnya dapat dikategorikan sebagai perekacipta. Untuk menamai hasil pemikiran tersebut dapat menciptakan istilah baru sesuai dengan lingkungan dan corak keilmuannya, misalnya: pondasi cakar ayam, sasra bahu (dalam bidang bangunan), dan agrowisata (wisata pertanian) (Pusat Bahasa Departemen

Pendidikan Nasional., Pedoman Pembentukan Istilah, 2005: 6-21).

10.2 Tata Bahasa Peristilahan Pembentukan istilah perlu memperhatikan morfem peristilahan yaitu kata atau imbuhan yang digunakan dalam pembentukan istilah : a. Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina, dan numeralia, misalnya: kaidah {rule), keluar {out), force). a. Istilahan bentuk berafiks disusun dari bentuk dasar dengan penambahan sufiks, atau konfiks seturut kaidah pembentukan bahasa prefiks, infiks, verba, adjektiva,

kenyal {elastic), gaya empat {four

Indonesia, misalnya hantar

menjadi penghantar atau hantaran, sabut menjadi serabut, bineka menjadi kebinekaan. 1) Paradigma bentuk berafiks ber- , misalnya: ber-tani menjadi bertam, petani, pertanian. 2) Paradigma bentuk berafiks me-, misalnya: me-baca menjadi membaca, pembaca,

pembacaan; meng-ganda menjadi rnenggandakan, pemberdaya, pemberdayaan, mempersatukan menjadi mempersatu-kan, pemersatu, pemersa-tuan, persatuan; ke-bermaknaan menjadi kebermanaan c. Istilah bentuk ulang: 1) Bentuk ulang utuh, misalnya: paru-paru, ubur-ubur, undur-undur. 2) Bentuk ulang suku awal, misalnya: jaring menjadi jejaring, tangga tetangga. 3) Bentuk ulang berafiks, misalnya: daun menjadi dedaunan, pohon pepohonan. 4) Bentuk ulang salin suara, misalnya: sayur menjadi sayur-mayur. d. Istilah bentuk majemuk atau kompositum: Istilah ini dibentuk dengan penggabungan dua bentuk atau lebih yang satuan leksikal baru. 1) Penggabungan bentuk bebas dan bentuk bebas, misalnya: garis lintana 2) Penggabungan bentuk (dasar) bebas dan bentuk terikat, misalnya; 3) Penggabungan bentuk berafiks dan bentuk berafiks, misalnya: sistem penghijauan. penelitian menghasilkan menjadi menjadi

berkelanutan, pembangunan berkelanjutan. 4) Penggabunagan bentuk terikat dan bentuk bebas, misalnya: adidaya menjadi adidaya, catur-catur menjadi caturwarga, divi-bahasa menjadi dwibahasa, maha-siswa menjadi

mahasiswa, non-teknik menjadi yionteknik, panca-sila menjadi pancasila, swa-sembada menjadi stvasembada, tuna-karya menjadi tunakarya. 5) Penggabungan bentuk terikat, misalnya: dun + tunggal menjadi + ivarsa menjadi dasaivarsa. 6) Istilah bentuk analogi: pembentukan istilah ini bertolak dari pola bentuk istilah dwitunggal, dasa

yang sudah ada, seperti pegidat, juru mudi, berdasarkan pola ini terbentuklah berbagai istilah lain, misalnya: pegulat-pegolf, juru mudi-juru teknik, pramuniaga- pramuwisma. 7) Istilah bentuk singkatan: istilah bentuk yang penulisannya diperpendek menurut tiga macam berikut: (1) Pembentukan berdasarkan satu huruf atau lebih yang dilisankan dengan istilah lengkapnya, misalnya: cm (dibaca sentimeter), 1 (dibaca liter). (2) Pembentukan berdasarkan bentuk tulisannya yang terdiri satu huruf atau lebih yang dilisankan huruf demi huruf, misalnya: KKN (Kuliah Kerja Nyata) dilisankan Ka-Ka-En. (3) Istilah yang sebagian unsurnya ditinggalkan, misalnya: promo berasal dari sesuai

promosi, demo berasal dari demonstrasi, bulanan berasal dari majalah bidanan. 8) Istilah bentuk akronim: pemendekan bentuk majemuk yang berupa awal suku kata, misalnya: asi dari kata alat susu ibu, rudal dari kata peluru kendali. (Pusat Bahasa gabungan huruf

gabungan suku kata, misalnya: Departemen Pendidikan Nasional,

Pedoman Umum Pembentukan Istilah, 2005: 23-38).

10.3 Semantik Peristilahan Selain aspek ketatabahasaan, istilah dibentuk berdasarkan aspek semantik peristilahan (makna). Untuk itu, perangkat kata peristilahan disusun dengan mengacu pada paradigma pembentukan yang dilakukan secara konsisten sehingga menghasilkan : (1) sinonim, misalnya: gulma = tanaman pengganggu, gambut (Banjar) peat (Inggris; absorb = serap; absorbate = zat terseiap; absorbent = zat penyerap, absorber = penyerap; absorptivity keabsortifan = kedayaserapan = daya serap jenis; absortive, absorbent = absorrif berdaya serap; absorbance, absorbancency - daya serap, absorbans; absorbability - keterserapan; absorbabilitas, absorbtion - penyerapan, serapaa, absorsi. (2) Istilah baku yang diutamakan di samping istilah sinonim, misalnya: absorb (Inggris) menjadi

serap (dalam istilah yang

diutamakan), absorb (dalam istilah sinonim). (Pusat Bahasa

Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah, 2005: 40-41).

11. Definisi Istilah Definisi mempunyai beberapa pengertian yaitu: 1) kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas; 2) batasan arti. 3) nmuisan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan at au studi (Kamus Besar Bahasa Indonesia). 4) uraian pengertian yang bcrtungsi membarasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian. Ciri-ciri umum definisi: 1) terdapat unsur kata atau istilah yang didefinisikan, lazim disebut definiendum, pengertian,

2) terdapat unsur kata, frasa, atau kalimat yang berfungsi menguraikan lazim disebut definiens, 3) pilihan kata: (1) Definisi dimulai dengan kata benda, didahului kata adalah. Misalnya: a) Cinta adalah perasaan setia, bangga, dan prihatin. b) Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.

(2) Definisi dimulai selain kata benda (umpamanya kata kerja), didahului kata yaitu. Misalnya: a) Cinta yaitu merasa setia, bangga, dan prihatin. b) Setia yaitu merasa terdorong untuk mengakui, memahami, menerima,

menghargai, menghormati, mematuhi, dan melestarikan. (3) Definisi memberikan pengertian rupa atau wujud diawali kata merupakan. Misalnya: Mencintai merupakan tindakan terpuji untuk mengakhiri konflik. (4) Definisi berupa sinonim didahului kata ialah. Misalnya: a) Cinta ialah kasih sayang. b) pria ialah laki-laki.

11.1 Jenis Definisi Definisi dapat dibedakan atas: definisi nominal, definisi formal, definisi personal, definisi kerja atau definisi operasional, dan definisi luas. 11.1.1 Definisi Nominal Definisi nominal berupa pengertian singkat. Definisi pada jenis definisi jenis ini ada tiga macam, yaitu: 1) sinonim atau padanan, contoh: manusia ialah orang, perempuan ialah wanita terjemahan dari bahasa lain, contoh: kinerja ialah perfomance, pengembang ialah developer jiwa, dan logos

2) asal-usul sebuah kata, contoh: psikologi berasal dari kata psyche berarti berarti ilmu, psikologi ialah ilmu jiwa.

11.1.2 Definisi Formal Definisi formal disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun

berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur. Struktur definisi ini berupa kelas, genus, dan pembeda (deferensiasi). Ketiga unsur tersebut harus tampak dalam definiens. Struktur formal diawali dengan klasifikasi, diikuti dengan menentukan kata yang akan dijadikan definiendum, dilanjutkan dengan menyebutkan deskripsi pembeda. genus, dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar

Pembeda harus

menunjukkan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari kelas yang lain. Contoh: Manusia adalah makhluk yang berakal budi. Hewan adalah makhluk yang hidup berdasarkan naluri dan insting. Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi. Syarat-syarat definisi formal: (1) Definiendum dan definiens bersirat koterminus, mempunyai makna yang (2) Definiendum dan definiens bersifat konvertabel, dapat dipertukarkan sama.

tempatnya. populer, atau

(3) Definiens tidak berupa sinonim, padanan, terjemahan, etimologi, bentuk pengulangan definiendum. Misalnya: (1) Manusia adalah orang yang berakal budi (salah). (2) Manusia adalah insan yang berakal budi (salah).

(3) Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. (benar)

4) Definiens bukan kiasan, pcrumparnaan, arau pengadaian. Misalnya: (1) Manusia adal ah i b a r a t makhluk wing selalu ingin dekat kepada (salah). (2) Manusia adalah bagaikan hewan yang tidak pernah merasa puas (3) Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diperintahkan untuk beribadah (benar) 5) Definiens menggunakan makna paralel dengan definiendum, tidak mana, yang mana, jika, misalnya, dan lain-lain. Misalnya: (1) Manusia adalah makhluk yang mana merupakan ciptaan Tuhan. (salah) (2) Pendidikan adalah proses pendewasaan peserta didik melalui pelatihan. (benar) (3) Definisi menggunakan bentuk positif, bukan kalimat negatif; tanpa kata tidak, bukan. 6) Pembeda (deferensiasi) pada definisi harus mencukupi sehingga yang tidak bias (samar) dengan kelas yang lain. Misalnya: (1) Manusia adalah ciptaan Tuhan. (pembeda tidak lengkap) (2) Hewan adalah ciptaan Tuhan. (pembeda tidak lengkap) (3) Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. (benar) 11.1.3 Definisi Operasional Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya penelitian. Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi kerja karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu penelitian atau pekerjaan tertentu. Definisi ini disebut juga definisi subjektif karena disusun berdasarkan keinginan orang yang akan melakukan pekerjaan. Ciri-ciri definisi operasional: 1) mengacu pada target pekerjaan yang hendak dicapai, 2) berisi pembatasan konsep, tempat, dan waktu, dan menghasilkan makna negatif: pengajaran dan menggunakan kata di (salah). kepada-Nya. pencipta-Nya

3) bersifat aksi, tindakan, atau pelaksanaan suatu kegiatan. Contoh: (1) Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pengaruh indeks

prestasi kumulatif

terhadap kecerdasan mahasiswa Jurusan Ekonomi Universitas Indonesia Angkatan 2004. (2) Pretasi mahasiswa adalah indeks prestasi kumulatif yang diperoleh sejak sampai dengan akhir perkuliahan. (3) Prestasi atlet bulutangkis adalah jumlah medali yang diperoleh pada setiap sejak awal karier bermain bulu tangkis sampai akhir. 11.1.4 Definisi Paradigmatis Definisi paradigmatis bertujuan untuk mepengaruhi pola berpikir orang lain. Definisi jenis ini disusun berdasarkan pendekatan nilai-nilai tertentu. 12.1 Kata dan Frasa Penghubung Antarkalimat Diikuti Koma Kata penghubung antar kalimat diikuti koma (,). Tanpa koma, penulisan dinyatakan salah. Perhatikan contoh berikut ini. Akan tetapi, ... Dampaknya, ... Kecuali itu, ... Meskipun demikian, ... Oleh karena itu, ... Singkatnya, ... Tegasnya, ... Walaupun demikian, ... pertandingan awal kuliah

12.2 Kata dalam Kalimat yang Didahului Koma Penulisan kata tertentu (karena, tetapi, sedangkan, antara lain, misalnya, seperti) yang diikuti detail (perincian) harus didahului koma. Perhatikan contoh berikut ini: ..., antara lain ... ..., misalnya ... ..., namun ... ..., padahal ... ..., sedangkan ... ..., seperti ... ..., yaitu ... ..., tetapi ...

Kata dalam kalimat yang tidak didahului koma jika tidak diikuti detail atau perincian.

... bahwa ... ... karena ...

... maka ... ... sehingga ...

12.3 Penulisan Kata Berdasarkan Kebenaran Fakta Fakta ditulis dalam kurung dengan huruf kapital: (1) Fakta Geografi; nama kota atau daerah diapit tanda kurung. Ciawi (Bogor), Ciawi (Tasik), Ciledug (Tangerang) (2) Fakta Sejarah: nama perustiwa sejarah ditulis dengan huruf kapital: Hari Desember, Hari Kartini 22 April Pahlawan 11 November, (3) Fakta ilmiah: air (H2O), karbondioksida (CO2), besi (Fe) 12.4 Nama Jenis dan Nama Produk Penulisan nama jenis benda yang terkait dengan nama kota ditulis dengan huruf kecil, sedangkan nama kota penghasil produk ditulis dengan huruf kapital: (1) Nama jenis benda: apel malang, as am jaw a, duku palembang (2) Nama kota penghasil produk ditulis dengan huruf kapital: asinan Bogor batik Yogyakarta, pempek Palembang, rendang Padang. (3) Nama kota penghasil karya seni ditulis dengan huruf kapital: ketoprak Mataram, langgam Jawa, legong Bali, lenong Betawi 12.5 Kata Baku Berimbuhan Baku dimungkiri ditemukan Tidak Baku dipungkiri diketemukan Ibu 22

14.6 Seperti, Misalnya, Antara Lain Seperti, misalnya, antara lain tidak diakhiri dengan kata dan lain-lain atau dan sebagainya.

Contoh: (1) Ayam makan biji-bijian, seperti: beras, jagung, dan lain-lain, (salah) (2) Ayam makan biji-bijian, seperti: beras, jagung, dan kedelai. (benar) (3) Ayam suka makan biji-bijian, misalnya: beras, jagung, kedelai, dan sebagainya. (salah)

(4) Ayam makan biji-bijian, misalnya: beras, jagung, dan kedelai. (benar) (5) Teman saya banyak, antara lain: Rudi, Rini, Rita, dan lain-lain, (salah) (6) Teman saya banyak, antara lain: Rudi, Rini, dan Rita, (benar) 12.7 Masing-masing, Setiap, Suatu, dan Sesuatu

Masing-masing dan sesuatu dapat berdiri sendiri tan pa lain, sedangkan setiap dan suatu tidak dapat berdiri sendiri dan harus disertai kata lain. Contoh: (1) Mahasiswa diwajibkan membayar SPP, masing-masing harus menyetorkan selambat-lambatnya 10 Agustus 2003. (benar) (2) Mahasiswa diwajibkan membayar SPP, masing-masing mahasiswa harus uang tersebut selambat-lambatnya 10 Agustus 2003. (salah) (3) Mahasiswa wajib membayar SPP, setiap mahasiswa harus menyetorkan selambat-lambatnya 10 Agustus 2003. (benar) (4) Setiap orang cenderung sensitif terhadap suatu perubahan yang ada di (5) Mereka dapat bereaksi secara tepat atas gejala sesuatu. (benar) 12.8 Penggunaan Kata Idiomatik Idiomatik adalah penggunaan kedua kata yang berpasangan. Misalnya: sesuai dengan, disebabkan oleh, berharap akan, dan Iain-lain. Pasangan idiomatic seperti itu tidak dapat digantikan dengan pasangan lain Perhatikan contoh berikut ini: (1) Karyawan itu bekerja sesuai dengan aturan perusahaan. Pasangan kedua kata tersebut tidak boleh diganti pasangan lain, misalnya: sesuai pada, disebabkan karena, mengharapkan akan. dekatnya. (benar) uang tersebut menyetorkan uang tersebut

Kekacauan sosial di berbagai tempat disebabkan oleh tidak meratanya keadilan dan kemakmuran. (2) Kata disebabkan oleh tidak dapat diganti disebabkan karena atau disebabkan dengan (3) Bangsa Indonesia berharap akan tampilnya seorang presiden yang mampu mengatasi berbagai kesulitan bangsa. (4) Kata berharap akan tidak dapat diganti dengan mengharapkan akan atau berharap dengan.