You are on page 1of 7

Pengembangan Agribisnis Melalui FMA

Melalui Kegiatan Penyuluhan yang dikelola oleh Petani (FMA) diharapkan akan terwujud wirausahawan yang handal, kelembagaan petani yang kokoh, dan usaha tani yang maju di perdesaan. Walaupun Pemerintah telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 39,3 juta orang (17,75%) pada tahun 2006 menjadi 32,53 juta orang (14,15%) pada tahun 2009, diperkirakan pada RPJM II (2009 s.d. 2014) masalah kemiskinan masih menjadi fokus utama perhatian Pemerintah. Selain kemiskinan, masalah lain yang juga menjadi perhatian Pemerintah adalah masalah pengangguran, baik di perdesaan maupun di perkotaan, yang jumlahnya dilaporkan terus meningkat. Kementerian Pertanian berupaya merancang berbagai model pemberdayaan masyarakat khususnya pemberdayaan masyarakat tani yang bertujuan untuk merubah pola pikir petani, dari petani subsisten tradisional menjadi petani modern berwawasan agribisnis dan menciptakan wirausahawan yang handal di perdesaan. Dalam rangka memberdayakan masyarakat tersebut, salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan adalah kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penyuluhan pertanian yang dikelola oleh petani dengan memanfaatkan teknologi dan informasi pertanian yang diproses secara partisipatif. Metode pembelajaran semacam ini dikenal dengan FMA (Farmer Managed Extension Activities) yaitu suatu kegiatan yang merupakan proses pengembangan kapasitas petani dengan menitik beratkan pada peningkatan kemampuan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan pelaku utama dalam melaksanakan pembelajaran agribisnis berbasis inovasi teknologi. Kegiatan FMA ini difasilitasi oleh Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) yang dikelola oleh Pusat Penyuluhan Pertanian. Pengertian Kegiatan Penyuluhan yang dikelola oleh petani / FMA adalah proses perubahan perilaku, pola pikir, dan sikap petani dari petani subsisten tradisional menjadi petani modern berwawasan agribisnis melalui pembelajaran yang berkelanjutan dilaksanakan dengan pendekatan belajar sambil berusaha (learning by doing) yang menitikberatkan pada pengembangan kapasitas manajerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan pelaku utama dalam rangka mewujudkan wirausahawan (enterpreneur) agribisnis yang handal.

Peningkatan Kualitas Manajemen FMA Bagi Pengurus dan Penyuluh Swadaya Senin, 23 Mei 2011 12:23

Salah satu metoda pengembangan kapasitas pelaku utama dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang dikelola oleh pelaku utama itu sendiri (Farmers Managed Extension Activities/FMA). FMA dirancang sebagai wahana pembelajaran bagi petani dalam pengembangan agribisnis di perdesaan dengan skala usaha ekonomi yang lebih menguntungkan melalui peningkatan kapasitas pelaku utama dalam memenuhi spesifikasi produk/komoditi unggulan daerah sesuai permintaan pasar. Metode ini menitikberatkan pada pengembangan kapasitas managerial, kepemimpinan dan kewirausahaan pelaku utama dalam melaksanakan pembelajaran agribisnis berbasis inovasi teknologi. Tujuan apresiasi peningkatan kualitas manajemen FMA bagi pengurus dan penyuluh swadaya dalam program FEATI adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan Pengurus UPFMA dan Penyuluh Pendamping FMA dalam menerapkan prinsip-prinsip agribisnis serta perencanaan agribisnis. Peserta apresiasi adalah sebanyak 200 orang dari 40 desa wilayah Feati 13 Kecamatan di Kabupaten Tulungagung. Untuk masing-masing desa lima orang terdiri dari tiga Pengurus UP-FMA dan dua Penyuluh Swadaya, yang terbagi menjadi lilma angkatan. Dalam lokakarya yang dilaksanaan di Liiur Cafe dan Resto ini menggunakan pemaparan singkat/presentasi, diskusi dan tanya jawab, serta kunjungan lapangan. Pelaksanaan kegiatan apresiasi pengembangan manajemen agribisnis dalam Implementasi FMA dilaksanakan pada: 1. Angkatan I dan II pada tanggal 9 Mei sampai dengan tanggal 11 Mei 2011. 2. Angkatan III pada tanggal 12 Mei sampai dengan tanggal 14 Mei 2011. 3. Angkatan IV dan V pada tanggal 18 Mei sampai dengan tanggal 20 Mei 2011. Materi apresiasi yang dibahas meliputi: 1. Program ketahanan pangan dan penyuluhan. 2. Identifikasi permasalahan pelaksanaan FMA.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Peningkatan kualitas kelompok pembelajaran FMA. Peningkatan kapasitas UP-FMA dan Penyuluh Swadaya. Review proposal dana FMA 2011. Pengelolaan FEATI. Refleksi UP-FMA. Administrasi UP-FMA. Rencana Tindak Lanjut (RTL).

FMA Wahana Petani Mengembangkan Agribisnis


Sumber Berita : Sekretariat

Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian menambahkan dalam Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) atau Farmer Empowerment through Agricultural Technology and Information Project (FEATI) dikembangkan Farmer Managed Extention Activities (FMA). FMA adalah suatu wadah penyuluhan di tingkat desa sebagai wahana pembelajaran petani dalam pengembangan agribisnis . Di FMA itu Ato Suprapto berharap para petani bisa belajar praktek menerapkan konsep agribisnis secara utuh dari hulu sampai ke hilir secara bertahap. Walau orientasi pembangunan pertanian sudah diubah dari pendekatan produk ke agribisnis, namun masih saja para petani menanam dulu baru dicarikan pasarnya. Mestinya bukan begitu, petani mengidentifikasi pasar, baru menyusun perencanaan tanamnya, jelas Ato yang pernah menjadi Kepala Badan Agribisnis. Oleh karena itu Kepala Badan sangat ingin agar FMA ini bisa membenahi perilaku petani yang belum berubah. Pengembangan agribisnis dalam kontek FMA ini, saya ingin ke sana, katanya lagi. Dijelaskannya, FEATI dan FMA dilakukan adalah untuk mengimplementasikan pelaksanaan UU No 16 2006 tentang Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. FMA intinya adalah untuk mewujudkan proses pembelajaran penyuluhan dari, oleh dan untuk petani agar bisa menerapkan agribisnis secara benar. Atau FMA adalah salah satu metode pengembangan pelaku utama yang dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang dikelola oleh pelaku utama itu sendiri. Cuma proses pembelajaran penyuluhannya itu bukan hanya pembelajaran penyuluhan saja tapi sudah melakukan praktek beragribisnis dari hulu sampai hilir, tambah Ato Suprapto. Dengan kata lain, metode ini menitik beratkan kepada pengembangan kapasitas manajerial kepemimpinan dan kewirausahaan pelaku utama dengan kegiatan penyuluhan pertanian. Untuk itu sebelum para petani menyusun proposal rencana usaha bersama (RUB) dilatih dulu mengenai prinsip-prinsip agribisnis. Ada lima prinsip beragribisnis yang perlu dipahami untuk diterapkan para petani. Prinsip yang pertama, kegiatan agribisnis harus berorientasi pasar. Para petani sebelum memilih menanam komoditi tertentu, ia harus mengetahui permintaan pasarnya, bagaimana kualitasnya, bagaimana kontinuitasnya, berapa harganya dan lain-lain. Prinsip yang kedua, bahwa usaha agribisnis harus menguntungkan dan komparabel (dibandingkan) dengan usaha-usaha lainnya. Jadi kalau petani dalam kelompok FMA itu sudah memilih cabe merah misalnya, maka dia harus yakin betul bahwa usaha cabe merah itu lebih baik dari usaha lainnya. Prinsip yang ketiga agribisnis itu merupakan kepercayaan jangka panjang, jangan sampai kita terganggu situasi jangka pendek hanya karena mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan mengorbankan konsumen. Contohnya, di daerah Cirebon ada mangga gedong gincu yang terkenal yang diekspor ke Singapura dan Malaysia. Biasanya, mangga gedong gincu harganya Rp 25.000 per kilogram, dan untuk mangga gedong harganya Rp 10.000 rupiah per kilo. Kadang-kadang karena petani atau pedagang ingin mendapatkan untung yang sebesar-besarnya

walau dengan mengorbankan konsumen. Dia kemas dalam kemasan 5 kiloan yang 2 kilo ditaruh di atas adalah gedong gincu, dan yang tiga kiloan ditaruh di bawah adalah gedong biasa. Jadi kelihatan oleh konsumen seolah-olah gedong gincu ditawarkan harganya lebih murah yakni Rp 20.000/kg. Namun setelah konsumen membongkar di rumah kok yang gincunya cuma 2 kilo yang gedong biasa 3 kilo. Itu artinya pedagangnya mencari keuntungan setinggi-tingginya pada orientasi jangka pendek dengan mengorbankan konsumen. Nggak boleh yang begini ini, urainya. Prinsip yang keempat, kemandirian dan daya saing. Kelima, memiliki teknik negoisasi untuk menjalin mitra pembeli, pemasok dan produsen lainnya. Untuk itu, petani perlu tahu harga pokok dari setiap komoditi yang diproduksi. Petani juga perlu berkelompok agar dia memiiki daya saing dan posisi tawar yang tinggi. Dengan pemahaman agribisnis melalui program FMA tersebut Ato Suprapto berharap para petani yang belajar penyuluhan dengan konsep agribisnis lama-lama menjadi mandiri dan berdaya saing. Melalui program FMA itu sebenarnya pemerintah ingin membantu petani yang mau menolong dirinya, tambahnya. Som

Farmer Managed Extension Activities (FMA) Sebagai Wahana Pembelajaran Petani Dalam Pengembangan Agribisnis

View Track

Penyuluhan pertanian mempunyai kedudukan yang strategis dalam pembangunan pertanian khususnya dalam pengembangan kualitas pelaku utama dan pelaku usaha. Dalam rangka mengimplementasikan pelaksanaan Undang-Undang no 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, dirancang Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/ Feati). Program P3TIP/ FEATI bertujuan memberdayakan pelaku utama/ petani dan organisasi petani dalam rangka meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraannya.

Salah satu komponen kegiatan P3TIP adalah memperkuat penyuluhan yang berorientasi pada kebutuhan petani dengan metode pengembangan kapasitas pelaku utama yang dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang dikelola oleh pelaku utama itu sendiri ( Farmers Managed Extension Activities / FMA). FMA dirancang sebagai wahana pembelajaran bagi pelaku utama dalam pengembangan agribisnis di perdesaan dengan skala ekonomi yang lebih menguntungkan untuk mengubah perilaku, pola pikir, dan sikap petani dari petani subsisten tradisional menjadi petani modern berwawasan agribisnis melalui pembelajaran yang berkelanjutan dengan pendekatan belajar sambil berusaha (learning by doing ). Kegiatan pembelajaran dalam FMA menitikberatkan pada pengembangan kapasitas manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan pelaku utama dalam melaksanakan pembelajaran agribisnis berbasis inovasi teknologi. Dalam metode FMA ini pelaku utama dan pelaku usaha mengidentifikasi peluang, permasalahan dan potensi yang ada pada dirinya, usaha dan wilayahnya, merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan kebutuhan mereka secara partisipatif dalam rangka mengembangkan agribisnis berskala ekonomi, sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan pelaku utama.

Tujuan umum pelaksanaan FMA adalah untuk meningkatkan kemampuan pelaku utama sebagai wirausaha agribisnis dalam mengelola kegiatan penyuluhan/ pembelajaran di desa dalam mengembangkan agribisnisnya sehingga pelaku utama mampu melaksanakan prinsip-prinsip agribisnis dalam melaksanakan usahanya dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pelaku utama. Tujuan khusus pelaksanaan FMA adalah meningkatkan kemampuan pelaku utama dan pelaku usaha dalam : mengidentifikasi peluang dan kebutuhan pasar yang potensial; mengidentifikasi potensi sumberdaya yang dimiliki dalam pemenuhan permintaan pasar; memilih usaha yang paling menguntungkan, mengidentifikasi kebutuhan informasi, teknologi dan sarana yang diperlukan untuk mendukung pengembangan usahanya secara berkelanjutan ; menerapkan prinsip-prinsip agribisnis (orientasi pasar, menguntungkan, memiliki kepercayaan jangka panjang, kemandirian dan daya saing usaha, komitmen terhadap kontrak usaha) dalam pelaksanaan usahanya; mengembangkan jejaring dalam berbagai sumber dan mengembangkan kemitraan usaha dengan berbagai pihak; mengembangkan dirinya menjadi pengusaha agribisnis yang profesional; menumbuhkan dan mengembangkan wadah pembelajaran bagi pelaku utama dan organisasi pelaku utama (kelompoktani/ gapoktan/asosiasi) sehingga menghasilkan pelaku utama sebagai enterpreneur yang mandiri di bidang pertanian dan menciptakan penyuluh swadaya sebagai motivator diperdesaan untuk menggerakkan , membimbing dalam pelaksanaan agribisnis antar pelaku agribisnis pada satuan wilayah desa dan kecamatan; serta menumbuhkan dan mengembangkan kelembagaan pembelajaran/ penyuluhan didesa (pos penyuluhan desa) untuk menjamin keberlanjutan penyuluhan oleh, dari dan untuk pelaku utama dalam pengembangan agribisnis. Prinsip-prinsip dasar pelaksanaan FMA : 1) Partisipatif, pelaku utama dan pelaku usaha berperan secara aktif dalam setiap pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan penyuluhan, 2) Demokratis, setiap keputusan dibuat melalui musyawarah atau kesepatan sebagian besar pelaku utama dan pelaku usaha; 3) Desentralisasi, kegiatan penyuluhan direncanakan dan dilaksanakan sesuai kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha; 4) keterbukaan , manajemen dan administrasi penggunaan dana FMA harus diketahui dan diumumkan ke masyarakat luas; 5) akuntabilitas, pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan dana FMA harus dilaporkan Dan dipertanggungjawabkan kepada seluruh masyarakat desa, 6) sensisitif gender , memberikan manfaat bagi laki-laki maupun perempuan; 7) kemandirian, mengembangkan usaha tanpa harus tergantung kepada pemerintah; 8) belajar sambil berusaha, kegiatan pembelajaran dirancang terintegrasi dengan pelaksanaan usaha untuk memenuhi kebutuhan belajar.

Peserta pembelajaran FMA adalah kelompoktani yang mempunyai minat yang sama dalam mengembangkan agribisnis komoditi unggulan tertentu. Sedang Fasilitator adalah penyuluh swadaya, praktisi, peneliti, petugas/penyuluh. Materi belajar FMA mengenai aspek-aspek sistem agribisnis yang membawa inovasi strategis dan spesifik lokasi , yang memberikan nilai tambah produk yang diusahakan untuk meningkatkan pendapatan pelaku utama dan pelaku usaha.diantaranya : teknik mengidentifikasi pasar, teknik analisa potensi desa, teknik analisis pemilihan komoditi unggulan, pemilihan dan penghitungan penggunaan sarana produksi secara efisien dan efektif, pemilihan teknologi pasca panen dan pengolahan hasil, manajemn produksi, manajemen keuangan, manajemen transportasi, pengembangan organisasi petani, teknik negosiasi, teknik melakukan kemitraan dan teknik negosiasi. Sedangkan metode pelaksanaan FMA yaitu studi petani, temu teknologi, temu lapang, sekolah lapang agribisnis, demonstrasi cara , hari lapang petani, magang dan studi banding. Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan FMA, terciptanya pengembangan agribisnis perdesaan melalui pengembangan komoditi unggulan dengan munculnya wirausahawan yang handal, terbentuknya wadah pembelajaran agribisnis di perdesaan dan terbentuknya penyuluh swadaya agribisnis.