You are on page 1of 23

Ratih Dwi Octaria 20060310180

ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG

HIDUNG
Bangunan berongga, ada sekat Bagian depan berhubungan dgn Nares anterior Bagian belakang berhubungan dgn atas faring yg disebut Nasofaring melalui Nares posterior Hidung terdiri dari :

Hidung bagian luar / piramid hidung Rongga hidung dengan perdarahan dan persarafan

HIDUNG LUAR

Hidung luar (dari atas ke bawah) :


Pangkal

hidung (bridge) Dorsum nasi Puncak hidung Ala nasi Kolumela Lubang hidung (nares anterior)

ANATOMI HIDUNG LUAR

RONGGA HIDUNG

Rongga hidung terdiri dari :


vestibulum
bagian

respirasi

Terbagi oleh sekat septum mediana Dari dinding lateral tdp 3 penonjolan tulang yaitu :

Konka nasalis superior Konka nasalis medius Konka nasalis inferior

ANATOMI RONGGA HIDUNG

Hidung luar dibentuk oleh tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari : 1. Sepasang os nasalis ( tulang hidung ) 2. Prosesus frontalis os maksila 3. Prosesus nasalis os frontalis

Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak dibagian bawah hidung, yaitu : 1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior 2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior ( kartilago alar mayor ) 3. Beberapa pasang kartilago alar minor 4. Tepi anterior kartilago septum nasi

TULANG SEPTUM NASI

FUNGSI HIDUNG
Sebagai jalan nafas Pengatur kondisi udara (mengatur kelembabapn dan mengatur suhu ) Sebagai penyaring dan pelindung Indra penghidu Resonansi suara Proses bicara Refleks nasal

PROSES PENCIUMAN
BAU RONGGA HIDUNG SARAF / NERVUS OLFAKTORIUS LOBUS TEMPORAL (PERASAAN DITAFSIRKAN) RANGSANG PENCIUMAN DIRANGSANG OLEH GAS YANG DIHISAP

PEMBULUH DARAH PADA HIDUNG

PERSARAFAN HIDUNG
Saraf motorik oleh cabang n. fasialis yang mensarafi otot-otot hidung bagian luar. Saraf sensoris. Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis anterior, merupakan cabang dari n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmika ( N.V-1 ). Rongga hidung lainnya , sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatina.

Saraf otonom. Terdapat 2 macam saraf otonom yaitu : a. Saraf post ganglion saraf simpatis (Adrenergik ). n. petrosus profundus bergabung dengan serabut saraf parasimpatis yaitu n. petrosus superfisialis mayor membentuk n. vidianus yang berjalan didalam kanalis pterigoideus. Saraf ini tidak mengadakan sinapsis didalam ganglion sfenopalatina, dan kemudian diteruskan oleh cabang palatina mayor ke pembuluh darah pada mukosa hidung. Saraf simpatis secara dominan mempunyai peranan penting terhadap sistem vaskuler hidung dan sangat sedikit mempengaruhi kelenjar.

b. Serabut saraf preganglion parasimpatis (kolinergik ). n. pterosus superfisialis mayor berjalan menuju ganglion sfenopalatina dan mengadakan sinapsis didalam ganglion tersebut. Serabut-serabut post ganglion menyebar menuju mukosa hidung. Peranan saraf parasimpatis ini terutama terhadap jaringan kelenjar yang menyebabkan sekresi hidung yang encer dan vasodilatasi jaringan erektil.

SINUS PARANASAL

Fungsi sinus paranasal


Pengatur

kondisi udara Penaha suhu Membantu keseimbangan kepala Membantu reosnansi suara Peredam perubahan tekanan udara Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung