You are on page 1of 44

Abstract Interpreter as mediator in an interlingual communication creates certain relationship with other parties in it.

As a mediator interpreter is regarded as a non person party for he has no right to produce his own ideas during the exchange. However, interpreter has an authority to conduct the flow ot the communication because he is the one in which all languages owned by both parties are masterd well. Because of its position as a middle man who works for ather party, interpreter is often laid among other interests. Kata kunci: interpreter, mediator, pembicara, pendengar, mediasi, mediator, pihak Pengantar Proses komunikasi bisa berjalan lancar apabila masing-masing pihak yang terlibat dalam komunikasi itu menggunakan kode komunikasi yang bisa dipahami oleh kedua belah pihak. Pada kasusu di mana keadaan seperti ini tidak dimungkinkan, perlu dihadirkan pihak ketiga yang bertindak sebagai mediator yang menjembatani jurang kompetensi linguistik dan cultural antara pihak yang menginginkan komunikasi. Ketika sebuah hubungan melibatkan beberapa pihak, hubungan ini akan menciptakan sebuah relasi kekuasaan yang spesifik, di mana sebuah pihak bisa mempunyai peran sebagai pengendali pihak lain atau sebuah hubungan yang masing-masing saling mengendalikan pada tataran satu tingkat atau dengan kata lain tidak ada pihak yang dominan. Relasi kekuasaan ini bisa berujud kekuasaan mempengaruhi dan mengendalikan pihak lain. Makalah ini akan membahas tentang peran, tanggung jawab dan relasi kekuasaan antara pihak yang terlibat dalam komunikasi interlingual dengan mediasi seorang interpreter. Pada bagian pertama akan dibahas tentang interpreter sebagai mediator dalam komunikasi interlingual. Karena kadang ada persepsi yang keliri tentang peran mediator dalam sebuah interaksi komunikasi, akan dibahasa pula sedikit tentang mitos mediator. Interpreter sebagai pihak yang dianggap non person dalam komunikasi interlingual akan dibahas berikutnya. Pada bagian lain juga akan dibahasa loyalitas professional interpreter dan otoritas serta tanggung jawab seorang interpreter, Interpreter Sebagai Mediator Komunikasi Interlingual Ketika dua pihak ingin berinteraksi secara verbal dan komunikasi langsung terhambat karena pengetahuan, kompetensi bahasa dan hambatan budaya, dibutuhkan seorang perantara bahasa untuk mengatasi kesenjangan komunikasi ini. Kebutuhan ini bisa terpenuhi dengan menyediakan seseorang yang bisa diterima oleh kedua pihak baik secara kultural maupun secara linguistik. Pengalihbahasaan atau interpreting menjadi sebuah keniscayaan dalam sebuah komunikasi interlingual. Menurut Hella Kirchhoff dalam Pochhacker (2005) interpreting adalah sebuah sistem komunikasi dua bahasa dengan minimal tiga pihak yang terlibat; pembicara, pendengar dan interpreter.

Dalam sebuah proses komunikasi, terdapat tiga elemen yang tidak bisa dabaikan yaitu code, sender dan receiver. Ketiga unsur tersebut secara bersama-sama mempunyai satu tujuan bagaimana pesan dalam komunikasi tersampaikan secara tepat yaitu menyampaikan pesan yang terdiri dari komponen verbal dan non verbal yang diungkapkan oleh pembicara kepada pendengar pada konteks situasi tertentu. Komunikasi interlingual yang terwujud dalam bentuk komunikasi dengan mediasi seorang interpreter juga tidak lepas dari tujuan utama komunikasi seperti ini. Perkembangan peradaban manusia dengan ide-ide globalisasinya, di mana sebuah masyarakat, seterpencil apapun, tidak bisa mengasingkan diri dari pergaulan antar bangsa, membuat peran perantara ini berkembang mencapai tahap profesionalisasi. Peran ini kemudian tidak sekedar sebuah peran sampingan, tapi peran yang kemudian ditata sedemikian rupa melalui pendidikan dan kemudian menjadi sebuah profesi tersendiri dengan penghargaan profesi yang setara dengan profesi-profesi yang sudah mapan lainnya. Orang-orang yang kemudian secara khusus dilatih untuk berperan sebagai perantara dan berbicara untuk pihak lain dan atas nama orang lain ini mempunyai tempat khusus diberbagai bidang kehidupan masyarakat. Dari bidang politik, perdagangan, diplomatik, hukum sampai ke pelayanan kesehatan dan relasi sosial lainnya. Interpreting atau pengalihbahasaan kemudian memegang peranan yang sangat penting dalam peristiwa komunikasi modern. Interpreting atau pengalihbahasaan dianggap sebagai proses mental dan tindakan komunikatif mereproduksi apa yang dikatakan seorang pembicara sebagai bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran (Riccardi, 2002:75) Goffman dalam Wadensjo (1998) mengamati sebuah peristiwa sosial verbal yang menggunakan mediator di antara dua pihak yang berbeda latar belakang linguistic dan budayanya. Dalam peristiwa sosial tersebut, dia mengamati bahwa kehadiran seorang mediator akan mengubah perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi itu. Jadi bisa kita simpulkan bahwa peristiwa sosial verbal bilingual sangat berbeda dengan situasi komunikasi monolingual. Pada peristiwa komunikasi ini ternyata situasi yang terbangun sangat tergantung pada ketiga pihak dan terutama pihak interpreter sebagai mediator dan relasi di antara mereka. Untuk memahami bagaimana relasi yang terjadi pada peristiwa komunikasi interlingual di mana hadir peran interpreter sebagai salah satu pihak dalam proses komunikasi , kita perlu memahami terlebih dulu peran sosial di antara sebuah kelompok dan anggotanya. Peristiwa interpreting bisa kita pahami sebagai sebuah peristiwa di mana ada tiga pihak yang terlibat sekaligus, yaitu pembicara, interpreter dan audiens/pendengar. Interpreting, seperti jenis komunikasi yang lain, adalah sebuah aktivitas multi faset yang melibatkan sender, a chanel, dan recipient dan merupakan bentuk komunikasi yang melibatkan orang-orang dengan latar belakang linguistik dan kultural yang berbeda (Al-Salama, 2002:3) Menurut wadensjo (1998), audiens dalam peristiwa komunikasi interlingual perlu menunjuk seseorang untuk mengambil peran sosial sebagai perantara dan membangun kerja sama tertentu dalam interaksi diantara anggota peristiwa komunikasi ini. Juga menurut Wandensjo (1998), auidiens seorang interpreter adalah dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dalam bahasa dan latar belakang budaya yang berbeda. Dengan menjembatani kendala dua bahasa, interpreter

membantu pembicara untuk menyampaikan idenya kepada audiens dan sekaligus membantu audiens memenuhi kebutuhannya untuk memahami apayang dikkatakan pembicara (Nolan, 2005:2) Bailey dalam Wadensjo (1998), dengan kajian antropologinya, membahas tentang peran seorang mediator dalam masyarakat. Menurutnya, peran seorang mediator dalam konteks seperti ini bisa dikelompokan kedalam dua kategori. Kategori yang pertama adalah seorang mediator yang diambil dari kelompok mayoritas atau kelompok yang secara sosial lebih dominan dalam situasi komunikasi tersebut. Sedang kategori kedua adalah seorang mediator yang diambil dari kelompok minoritas atau kelompok yang secara sosial lebih inferior. Perbedaan kultural, baik dalam norma maupun nilai-nilai yang dianut antara dua pihak dalam komunikasi tersebut akan sangat mempengaruhi hubungan dan kondisi proses intermediasi. Bila proses intermediasi berjalan tidak seperti yang diharapkan, akan ada kecenderungan dua pihak yang diintermediasi untuk menyalahkan mediator. Apabila mediator diambil dari pihak mayoritas, baik secara sosial maupun politis, intermediator akan dianggap sebagai mata-mata. Demikian sebaliknya, apabila mediator diambil dari pihak minoritas, kegagalan mediasi atau negosiasi akan mengakibatkan mediator dianggap sebagai pengkhianat. Sementara itu, Paine (1971) dalam Wadensjo membedakan mediator dalam proses mediasi ke dalam dua kelompok. Yang pertama, yang disebut broker. Seorang broker akan bekerja secara lebih independen dalam melakuan mediasi maupun negosiasi. Sementara yang kedua disebut go-betweens. Seorang go-betweens akan melakukan tugasnya berdasarkan kemauan pihak mayoritas atau pihak yang mempunyai kekuatan lebih dalam proses mediasi. Peran broker sering dikombinasikan dengan peran patron misalkan seorang juru bicara, atau seorang big man pada kelompok minoritas (Paine dalam Wadensjo, 1998:64). Juru bicara ini sering mempunyai peran yang begitu besar dan diserahi tanggung jawab oleh dua kelompok yang dimediasi. Mitos peran mediator Mediatorsering dianggap sebagai katalist (meminjam istilah kimia) yaitu seseorang yang berfungsi menghubungkan/mengkomunikasikan dua pihak tanpa ia sendiri terlibat dalam tujuan komunikasi atau mediasi itu sendiri. Atau dengan kata lain, seorang mediator haruslah memegang prinsip impartiality. Tepi menurut Gullivers dalam Wadensjo (1998) anggapan di atas lebih bersifat keyakinan dan mitos, dari pada fakta. Anggapan keliru lainnya berkaitan dengan tugas medasi adalah bahwa masing-masing pihak dalam proses mediasi selalu bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kenyataanya masing-masing pihak tidak selalu bekerja sama secara harmonis. Sering mereka juga bersaing dalam tataran tertentu. Menurut Gullivers, peran seorang mediator sangat bervariasi. Variasi itu tidak hanya dalam hal strategi dan wewenang yang ia dapatkan, tapi juga dalam banyak hal lainnya. Situasi yang diharapkan dari mediasi ini mempunyai nilai keberterimaan yang berbeda dari kultur yang satu ke kultur yang lain. Variasi itu termasuk juga dalam penentuan sejauh mana wewenangnya (Wadensjo, 1998:64)

Interpreter sebagai Pihak non-person Ada sebuah peran yang oleh Goffman dalam wadensjo (1998) disebut sebagai non-person dalam situasi komunikasi. Mereka yang memerankan non-person ini sebenarnya hadir dalam situasi komunikasi tersebut tapi dalam beberapa hal mereka tidak berperan sebagai performer maupun audience. Mereka juga tidak sedang berpura-pura memerankan sesuatu yang bukan diri mereka (seperti yang dilakukan seorang detektif atau mata-mata). Contoh mudah peran non-person dalam sebuah acara dalam hal ini adalah seorang pelayan. Ia hadir dalam sebuah acara dan perannya sangat dibutuhkan tapi ia dalam banyak hal dianggap tidak ada sehingga orang-orang yang berada pada acara tersebut leluasa berbicara tanpa merasa ada pihak lain yang mendengarkan pembicaraan mereka. Seorang non-person menikmati situasi bisa berbicara kepada siapapun atau bisa mengabaikan untuk disapa oleh pihak manapun tanpa menyebabkan perubahan situasi (Wadensjo, 1998:66). Seorang juru kamera atau teknisi pada suatu acara siaran televisi misalnya sering berperan sebagai non person ini. mereka tidak hadir sebagai performer maupun audience, tapi sebagai mediator yang menghubungkan antara performer dan audience di rumah. Seorang interpreter dalam sebuah percakapan bisnis atau politik misalkan mengambil peran sebagai non person. Ia bukan performer, bukan pula audience dan tidak berhak untuk terlibat menyumbangan ide-idenya sendiri. Peran seorang interpreter hanyalah sebagai mediator yang menyampaikan kembali apa yang dikatakan oleh si pembicara. Interpreter memainkan sebuah peran teknis dan dianggap tidak hadir dalam peristiwa komunikasi itu. Interpreter bisa diandaikan sebagai jembatan antara latar belakang situasional dan kultural dari bahasa sumber dan bahasa sasaran tapi ia sendiri berada di luar situasi komunikasi itu sendiri (Pochhacker, 2005:5) Dia tidak diharapkan untuk memberi kontribusi pada substansi percakapan. Meskipun begitu, ada beberapa aspek dari profesi interpreter yang tidak bisa ditinggalkan yaitu untuk mengungkapkan apa yang didengarnya dari si pembicara secara terang dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Lebih jauh lagi perlu dipahami bahwa isi pembicaraan seorang interpreter menentukan proses berlangsungnya komunikasi. Secara ide seorang interpreter tidak diperkenankan untuk memproduksi informasi sendisr. Artinya tidak boleh ada informasi baru yang muncul dari benak interpreter. Interpreter hanyalah meneruskan ide yang sudah ada dalam sebuah percakapan. Jadi bisa kita simpulaka bahwa secara ide seorang interpreter adalah non-person. Loyalitas Profesional Interpreter Ada paling tidak dua hal penting dalam interaksi yang dimediasi oleh seorang interpreter. Kehadiran seorang interpreter dalam beberapa hal akan mempengaruhi proses komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat, baik hal yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan. Hal ini sangat dipahami oleh seorang interpreter yang sudah berpengalaman. Proses komunikasi ini sangat potensial menimbulkan konflik sudut pandang antara pihak yang terlibat sehingga perlu dicari jalan keluar untuk menghindari keberpihakan pada salah satunya. Seorang interpreter punya kewajiban untuk bersikap impartial dalam hal ini.

Isu tentang loyalitas professional seorang interpreter sangatlah nyata. Isu ini lebih berkaitan dengan bersifat etika dan filosofis dari pada teknis. Meskipun lebih berkaitan secara filosofis dan etis, implikasi dari prisnsip-prinsip loyalitas ini sangat nyata dalam praktek penerjemahan lisan. Ada saat-saat tertentu di mana pendengar atau pimpinan pada sebuah negosiasi dengan proses pengalihbahasaan menghendaki interpreter merangkum atau bahkan kadang menghilangkan beberapa bagian ujaran karena pendengar merasa tidak perlu dengan bagian tersebut meskipun pembicara menginginkan bagian itu sebagai bagian utuh dari keseluruhan pesan. Pada kasus seperti itu, interpreter bisa terjebak pada konflik kepentingan dan tekanan dari luar dirinya (Gile, 1995:29). Konflik kepentingan dan tekanan seperti di atas jarang terjadi pada penerjemahan tulis maupun conference interpreting, tapi agak sering terjadi pada penerjemahan legal, penerjemahan pengadilan dan penerjemahan komunitas/liason interpreting (Gile, 1995:29). Ini memberi implikasi bahwa secara etika seharusnya seorang interpreter menganggap dirinya sebagai penyampai pesan seperti yang dimaksukan oleh si pembicara, bukan seperti yang dinginkan si pendengar. Meskipun interpreter adalah penyampai pesan seperti yang dimaksukan oleh si pembicara, tidak berarti bahwa ia menutup mata terhadap kemungkinan reaksi pendengar. Interpreter harus tetap memperhatikan respon pendengar atas ujaran yang diungkapkannya. Respon dari pendengar ini bisa saja terjadi ditengah interpreter mengalihbahasakan ujaran pembicara yang bisa berujud pertanyaan, reaksi negative maupun interupsi.. Posisi seorang interpreter sering dianggap netral. Tapi menurut Gile (2002), posisi ini harus dirubah menjadi posisi rotating side taking. Yaitu posisi interpreter untuk membela kepentingan kedua belah pihak, yaitu kepentingan pembicara dan kepentingan pendengar. Jika misalnya pada sebuah konferensi seorang interpreter harus bekerja pada dua pihak yang berlawanan secara pandangan atau pendapat sekaligus, loyalitasnya harus berpindah dari satu pihak ke pihak lain seirng perpindahan ujaran yang diterjemahkannya. Beberapa pembicara yang mempunyai persamaan etnik dan keyakinan dengan interpreter, menurut Gile (2002), sering tidak bisa memahami prinsip rotating side taking ini. mereka sering menuntut loyalitas sepihak dari interpreter. Pada beberapa kasus, prinsip rotating side taking memang secara psikologis sulit diterapkan. Interpreter yang merupakan anggota kelompok sosial tertentu, yang memiliki nilai-nilai moralitas, dan keyakinan akan sulit sekali untuk bersikap netral bila harus mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinan dan nilai-nilai yang dia anut. Pada kasus seperti ini, menurut Gile (2002) sebaiknya kedua belah pihak memiliki interpreternya masing-masing, meskipun ini akan menjadi sangat mahal dan sebenarnya tidak perlu. Satu hal yang harus ditekankan sebenarnya bahwa pada banyak kasus, termasuk negisiasi politik, interpreter harus bisa menerapkan prinsip rotating side taking tanpa merasa sungkan dengan kepentingan politik maupun ekonomi dari pihak yang membayarnya. Ada tiga pihak yang terlibat dalam hubungan professional seorang interpreter, yaitu sender/pembicara, receiver/pendengar dan client. Loyalitas pada pembicara akan berakibat pada terabaikannya kepentingan klien karena klien kadang bukan merupakan orang yang terlibat pada

komunikasi dengan mediasi interpreter ini. Ia kadang merupakan orang luar yang membayar seorang interpreter tapi tidak terlibat secara langsung pada komunikasi penerjemahan lisan ini. Kasus ini bisa terjadi misalnya pada konferensi dimana pembicara tidak menyewa sendiri intepreternya tapi interpreter disewa oleh panitia. Inilah alasan utama mengapa interpreter pada konferensi yang bisanya direkrut oleh kolega mereka sendiri (Gile, 2002:30) akan lebih loyal pada profesionalisme mereka dan tidak terpengaruh pada respon yang diberikan delegasi konferensi. Di sini imparsialitas interpreter menjadi lebih terjaga karena ia tidak mengabdi pada kepentingan salah satu pihak pada proses komunikasi tersebut. Meskipun begitu, beberapa interpreter menganggap diri mereka bekerja untuk pendengar atas kepentingan si pembicara. Beberapa interpreter yang lain menganggap loyalitas mereka adalah loyalitas pada klien yang membayar mereka, bukan pada pembicara atau pendengar. Menurut Gile (2002) selama seorang interpreter berbicara sebagai orang pertama; mengidentifikasikan dirinya seolah dialah pembicaranya maka sebenarnya ia sudah memenuhi prinsip loyalitas pada pembicara. Dalam rangka menghindari dari jebakan berpihak pada kepentingan salah satu pihak yang terlibat dalam komunikasi, seorang interpreter perlu memperhatikan kaidah-kaidah imparsialitas di mana ia mengabdi pada kepentingan agar pesan yang disampaikan memiliki akurasi tinggi tanpa ada informasi yang dikurangi atau ditambahkan karena kepentingan atau tekanan pihak luar.. Otoritas dan Tanggung jawab interpreter Ketika sebuah hubungan melibatkan beberapa pihak, hubungan ini akan menciptakan sebuah relasi kekuasaan yang spesifik, di mana sebuah pihak bisa mempunyai peran sebagai pengendali pihak lain atau sebuah hubungan yang masing-masing saling mengendalikan pada tataran satu tingkat atau dengan kata lain tidak ada pihak yang dominan. Relasi kekuasaan ini bisa berujud kekuasaan mempengaruhi dan mengendalikan pihak lain atau . Tiap pihak dalam komunikasi yang dimediasi oleh seorang interpreter punya kewajiban yang berbeda. Seorang interpreter punya kewajiban yang unik terutama berkaitan dengan bagaimana ia harus mendengarkan pihak lain yang terlibat dalam komunikasi tersebut. Demikian juga bagaimana seorang interpreter harus berbicara di dalam forum adalah mandat yang khusus dimiliki seorang interpreter dan tidak dimiliki pihak lain. Masing masing pihak dalam situasi tuturan yang dimediasi interpreter terikat dalam suatu turn taking yang khas. Ini merupakan hubungan interdependensi antar partisipan yang melibatkan peran mediator secara kebahasaan dan budaya. Salah satu tugas interpreter yang utama adalah bagaimana ia mengkoordinasi pembicaraan dua arah yang terjadi dalam proses mediasi dengan aturan berbicara dan mendengarkan yang sudah tertentu (Wadensjo, 1998:153). Interpreter bertugas bagaimana agar komunikasi bisa dipahami oleh masing-masing pihak yang terlibat.

Masing-masing pihak yang terlibat dalam pembicaraan mengarahkan diri mereka pada makna proposional dari kata, frasa, kalimat maupun ekspresi yang bisa ditarik dari sebuah percakapan. Makna dari ujaran dalam proses percakapan ini harus dipahami dari konteks situasi yang melingkupi proses percakapan itu yaitu siapa pembicara, siapa yang diajak bicara, kapan percakapan itu berlangsung dan di mana percakapan itu terjadi. Dalam sebuah percakapan yang melibatkan tiga pihak atau lebih, aliran percakapan diatur oleh apa yang dinamakan kerangka partisipasi (Wadensjo, 1998:153) atau dengan kata lain bagaimana masing-masing pihak memposisikan diri mereka dalam kaitannya dengan pihak lain, siapa yang harus berbicara pada giliran tertentu, siapa yang harus merespon dan bagaimana cara merespon. Menurut Goffman dalam Wadensjo (1998), sebuah percakapan antara dua orang berlangsung menurut kepentingan kedua belah pihak. Kehadiran pihak ketiga akan mengakibatkan sebuah pihak ikut terlibat atau tidak dilibatkan. Jika terlibat, pihak ini akan berperan sebagai mediasi terhadap pihak lain dalam percakapan itu. Pada percakapan yang tidak melibatkan lebih dari satu bahasa antara tiga orang atau lebih, siapapun bisa mengambil peran sebagai mediator. Setiap pihak bisa berkomunikasi dengan pihak manapun tanpa harus menunggu mediator yang sekaligus bertindak sebagai penghubung antara si penyapa dan yang disapa. Pada sebuah percakapan formal, siapa yang harus terlibat dan siapa yang tidak pada sebuah turn tertentu sudah sangat jelas dan diatur oleh sebuah peran, moderator misalnya. Pada sebuah percakapan yang dimediasi oleh seorang interpreter, peran ini secara inheren dipegang oleh interpreter. Interpreter diharapkan secara aktif dan secara langsung terlibat dalam berbagai aspek agar semua partisipan yang terlibat bisa memahami semua informasi yang beredar sedangkan pihak lain berinteraksi dan bertukar informasi melalui mediasi interpreter. Bisa kita ibaratkan interpreter adalah saluran di mana semua informasi mengarah dan melalui dirinya. Pada sebuah interaksi yang dimediasi oleh seorang interpreter, semua yang dikatakan oleh pihakpihak yang terlibat paling tidak memiliki dua fungsi. Yang pertama, semua ujaran yang terlontar harus direspon oleh interpreter dengan cara memahami dan kemudian mengalihbahasakan kedalam bahasa pihak kedua. Dan sebaliknya, sedang yang kedua ujaran itu juga sekaligus merupakan respon untuk pihak yang dituju oleh ujaran itu. Fungsi lain dari sebuah ujaran, yang tergantung pada dinamika percakapan, tergantung dari latar belakang pengetahuan, kompetensi linguistik, dan tujuan dari komunikasi tersebut (Wadensjo, 1998:154). Dinamika interaksi dalam percakapan yang dimediasi interpreter akan sangat tergantung pada konvensi sosiokultural yang berkaitan dengan tipe situasi percakapan (pada situasi percakapan resmi) di mana proses pengalihbahasaan itu berlangsung dan pemahaman pihak-pihak yang terlibat tentang bagaimana berinteraksi melalui interpreter harus berlangsung. Penggunaan berbagai macam perangkat, misalnya protocol atau prosedur hukum pada percakapan dalam interogasi polisi misalkan, akan sangat membantu dalam membangun situasi percakapan melalui interpreter. Meskipun dalam percakapan dengan mediasi interpreter seorang interpreter mempunyai peran mengendalikan percakapan, masing masing partisipan dalam percakapan bisa berinisiatif

mengarahkan, mengubah situasi dan atmosfir percakapan, misalnya mengubah dari situasi serius menjadi situasi humor. Situasi percakapan dengan mediasi interpreter sangat dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa komunikasi lokal yang dikendalikan oleh aturan turn taking. Pada peristiwa komunikasi monolingual, masing-masing partisipan memahami aturan turn taking ini lewat ujaran dan bahasa tubuh yang diekspresikan mitra tuturnya. Tidak seperti percakapan monolingual, pengaturan interaksi pada komunikasi interlingual ini sedikit banyak akan sangat dipengaruhi oleh peran interpreter. Kita lihat contoh berikut bagaimana sebuah interaksi antara interpreter dengan partisipan di dalam sebuah perakapan di sebuah kantor imigrasi di Swedia. Contoh ini diambil dari Wadensjo (1998). Alisa seorang wanita yang sedang mendaftar di bagian imigrasiuntuk mendapatkan ijin tinggal di Swedia. Ia menemui berhadapan dengan seorang petugas, Peter. Alisa mengaku dirinya dari Mesir. Peter, sebagai polisi, berusaha mendapatkan bukti dari kartu identitas Alisa bahwa dia memang betul-betul dari Mesir. Percakapan ini, karena kendala bahasa, didampingi seorang interpreter, Ilona. Berikut ini petikan percakapan yang diucapkan oleh Peter yang kemudian dialihbahasakan oleh Ilona beserta terjemahannya dalam bahasa Inggris Peter : Kan di visa mig var? (can you show me where?) Ilona : A bli moxete nokaeatb rae?

(and can you show where?) Peter, petugas seorang polisi, duduk di belakang mejanya dengan sebuah mesin ketik di hadapannya dengan sebuah formulir yang masih kosong siap diisi. Sebuah formulir yang salah satu poinnya harus diisi informasi tentang kewarganegaraan. Sebelumnya, Peter tidak mengetahui bahwa wanita yang ada di depannya berasal dari Mesir. Ketika Alisa mengatakan bahwa ia berasal dari mesir, Peter berusaha melihat informasi itu pada pasport milik Alisa. Dia membolak-balik paspor kemudian memberikan pasort itu kepada interpreter Ilona sambil mengatakan dalam bahasa Swedia, can you show me where? Ilona, si interpreter mengambil passport yang disodorkan Peter kemudian memberikannya kepada Alisa sambil mengucapkan hal yang sama diucapkan Peter dalam bahasa Rusia. Di sini kita melihat Ilona sebagai interpreter tidak saja memberikan passport yang disodorkan Peter kepada Alisa, tapi ia juga mengucapkan kalimat persis seperti yang diucapkan Peter. Dia tidak mengatakan he is asking you to show where the information about your nationality in your pasport. Ilona mengatakan kalimat persis seperti yang dikatakan Peter lengkap dengan pronoun you. Dengan kata lain, di sini interpreter berbicara dan bertindak untuk dan atas nama si pembicara bukan sebagai orang ketiga. Bagi pihak pendengar, apa yang dikatakan oleh seorang interpreter adalah sama dengan apa yang diucapkan pembicara aslinya (Ricardi, 2002:89)

Umumnya, hanya interpreterlah yang mempunyai akses langsung pada semua yang dikatakan oleh kedua belah pihak pada situasi komunikasi yang dimediasi interpreter ini. Karena perannya yang berada ditengah dan merupakan saluran di mana semua informasi melaluinya, interpreter mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan keberaturan lalu lintas informasi dalam percakapan. Ketika pihak-pihak yang terlibat dalam percakapan tidak memiliki pemahaman yang sama tentang peran dan tanggung jawab seorang interpreter dalam mengendalikan jalannya percakapan dan mengendalaikan bagaimana kesempatan berbicara masing-masing pihak dididtribusikan maka kepiawaian profesional interpreter dalam sedang diuji (Wadensjo, 1998:192). Ini bisa terjadi pada kasus di mana salah satu pihak dalam percakapan dengan mediasi interpreter itu adalah seorang anak misalkan. Ada saat-saat tertentu mungkin si anak tidak mau berbicara ketika tiba saatnya giliran dia untuk berbicara. Ketika beberapa pihak sekaligus berbicara pada giliran yang sama misalkan, kecakapan interpreter dalam mengalihbahasakan dan mengkoordinasi lalul-lintas percakapan sedang diuji. Di sini kemampuan interpreter untuk mengelola situasi tuturan sangat diperlukan. Roy dalam Wadensjo (1998), misalnya, melaporkan sebuah percakapan dengan mediasi interpreter yang melibatkan bahasa Inggris Amerika dan bahasa isyarat Amerika di mana terjadi overlap percakapan antara dua pihak. Pada situasi seperti ini, Roy menyarankan tindakan-tindakan yang mungkin bisa dilakukan interpreter untuk mengatasi situasi yang tidak diharapkan ini. 1) Interpreter bisa menghentikan salah satu atau kedua pembicara dan kemudian berpaling pada salah satu pembicara ubtuk mendengarkan pembicaraanya dan mengabaikan pihak lainnya. Dengan demikian ia secara bahasa tubuh menyuruh salah satu pihak untuk menghentikan percakapannya dan menyuruh pihak lain untuk sementara diam sebelum giliran bicara untukya diberikan. 2) Interpreter bisa untuk sementara mengabaikan salah satu pembicara yang berbicara secara overlap, kemodian mengingatnya dalam memori apa yang ia katakana, sambil terus mengalihbahasakan ujaran dari pembicara pertama dan begitu si pembicara pertama selesai berbicara dan selesai ia alih bahasakan ia mulai mengalihbahasakan ujaran pembiara kedua yang ia simpan dalam memori. Tentu tindakan ini sangat berat dan menuntut daya ingat yang luar biasa dari interpreter. 3) Interpreter bisa mengabaikan percakapan yang overlap ini sama sekali. Ini adalah sebuah pertanda yang dilakukan oleh interpreter untuk menghentikan pembicaraan kedua belah pihak. 4) Interpreter bisa untuk sementara mengabaikan percakapan yang overlap ini kemudian mengalihbahasakan ujaran salah satu pembicara dan menawarkan pembicara kedua untuk menunggu giliran bicara. Kemampuan interpreter untuk mengendalikan situasi percakapan termasuk seperti yang disebutkan di atas menyangkut pula wewenang yang ia miliki dalam situasi tuturan dengan mediasi interpreter.

Interpreter bisa diasumsikan sebagai satu-satunya pihak yang memiliki kompetensi kebahasaan yang dimiliki kedua pihak sekaligus serta menguasai kompetensi transfer yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan semua pelaku dalam percakapan interlingual. Posisi strategis ini di satu sisi memberi keleluasaan untuk mengendalikan jalannya percakapan tapi di lain pihak ia adalah orang yang bertanggung jawab banyak ketika sebuah percakapan dengan mediasi interpreter tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam situasi percakapan tersebut. Pada situasi tertentu seorang interpreter bisa menjadi sumber kesalahpahaman yang bisa berakibat fatal bagi salah satu pihak atau mungkin kedua belah pihak dalam percakapan dengan mediasi interpreter ini. Ketidak akuratan interpreter dalam mengalihbahasakan apa yang dikatakan pembicara bisa menjadi sumber kesalahpahaman. Di bawah ini beberapa sumber yang bisa menyebabkan kesalahpahaman oleh seorang interpreter 1) Kesalahpahaman bisa timbul karana interpreter salah mendengar apa yang dikatakan oleh pembicara. Berbeda dengan penerjemahan tulis di mana kecil sekali kemungkinan terjadi kesalahterjemahan karena salah tulis. Listenership seorang interpreter sangat menentukan kemungkinan terjadinya salah terjemahan karena salah dengar. 2) Miskinnya kosa kata yang dimiliki seorang interpreter juga bisa menimbulkan kesalahpahaman. Ini bisa terjadi apabila interpreter tidak mampu mendapatkan padanan yang tepat dari kata atau frasa yang disampaikan oleh pembicara kemudian ia menggunakan kata atau frasa yang cenderung merupakan terjemahan literalnya. Misalnya seperti pada kasus seorang interpreter, pada Wadensjo (1998), yang mengalihbahasakan kalimat what size is your mothers flat? kepada seorang Rusia yang sedang mengurus ijin tinggal di Swedia. Kepada kliennya, interpreter menerjemahkannya menjadi kalimat yang dalam bahasa rusia kira-kira berarti what area is your mothers flat? Interpreter tidak sadar bahwa kata size dalam bahasa Swedia bila diterjemahkan secara literal dalam bahasa Rusia menjadi area yang berarti di wilayah mana flat ibunya berada padahal yang dimaksud oleh interpreter adalah area (ukuran panjang dikali lebar) yang berarti seberapa besar ukuran flat ibunya. Di sini kekurangan kompetensi linguistik interpreter bisa menjadi sumber kesalahpahaman dalam proses komunikasi interlingual. 3) Kemampuan pembicara dalam mengkonstruksi kaliamat. Kesalahpahaman juga bisa timbul dari si pembicara dalam konteks komunikasi interlingual. Klien seorang interpreter bisa saja merupakan orang awam dengan kemampuan verbal yang mungkin sangat terbatas. Klien yang mempunyai kemampuan verbal yang terbatas bisa menjadi hambatan tersendiri dalam proses pengalihan bahasa. Mungkin apa yang dikatakan klien tidak seperti apa yang dimaksudkan atau mungkin juga klien menggunakan kalimat-kalimat yang tidak bagus susunan gramatikanya sehingga interpreter memahaminya secara keliru. Simpulan Interpreter dalam komunikasi interlingual bertindak sebagai mediator yang menjembatani jurang kompetensi linguistik antara pihak yang menginginkan komunikasi. Meskipun interpreter hadir secara fisik dalam situasi komunikasi interlingual, Interpreter dianggap non-person dalam situasi percakapan dengan mediasi interpreter. Artinya seorang interpreter tidak berhak untuk

menuangkan ide-idenya sendiri. Ia tidak berhak untuk menembah-atau mengurangi informasi yang disampaikan pembicara. Meskipun begitu, interpreter adalah satu-satunya pihak yang mempunyai akses pada seluruh informasi yang beredar dalam situasi percakapan interlingual. Ia adalah saluran di mana seluruh pengetahuan dan informasi dalam percakapan melaluinya sehingga ia punya otoratas mengendalikan keteraturan berlangsungnya situasi tutuan. Tapi ibarat pisau bermata dua, interpreter akan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab bila keberlangsungan percakapan tidak seperti yang diharapkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam situasi percakapan dengan mediasi interpreter tersebut. Ia bahkan bisa dianggap matamata pada kasus tertentu dan bisa dianggap pengkhianat pada kasus sensitif yang lain. Pada situasi tertentu seorang interpreter bisa menjadi sumber kesalahpahaman yang bisa berakibat fatal bagi salah satu pihak atau malah mungkin kedua belah pihak. Kecakapan seorang interpreter menentukan nasib sebuah percakapan interlingual termasuk bahkan mungkin nasib sekelompok orang atau nasib sebuah bangsa. Seorang interpreter harus memegang prinsip impartiality atau seperti yang dikemukakan Gile (2002)memegang prinsip rotating side taking Yaitu posisi interpreter untuk membela kepentingan kedua belah pihak, yaitu kepentingan pembicara ketika dia seang mengalihbahasakan apa yang ia katakana dan kepentingan pendengar ketika ia berubah posisi sebagai pembicara. secara etika seorang interpreter menganggap dirinya sebagai penyampai pesan seperti yang dimaksukan oleh si pembicara, bukan seperti yang dinginkan si pendengar. . DAFTAR PUSTAKA Al-Salman, Saleh. 2002. the native language factor in simultaneous interpretation arab/English context. Meta Vol XLVII, 4 Gile, Daniel. 1995. Basic Concepts and Models for Interpreter and Translator Amsterdam/Philadelpia: John Benyamin Publishing Company Nolan, James. 2005. Interpretation: Technique and Exercise. Matters Ltd Toronto: in

Training.

Multilingual

Pchhacker, Franz. 2005. From Operation to Action: Process-Orientation in Interpreting Studies. Meta Vol L, 2 Riccardi, Alessandra. 2002. Translation Studies:Perspectives on a New Emerging disciplines. Edinburgh: Cambridge University Press Wadensjo, Cesilia. 1998. Interpreting in Interaction. United Stated of America: wesley Longman Limited. Addison

15 May 10

PENERJEMAHAN LISAN
By sumardionozy Leave a Comment Categories: Uncategorized PENERJEMAHAN LISAN SUMARDIONO Linguistik Penerjemahan Pascasarjana UNS Abstract Interpreting is a special kind in translation. It needs several concern because of some special condition engaged during its process. Time limitation is one among the most critical problem in interpreting. This problem even creates other concerns. Listening skill is another problem encountered inthis field as well as the limitation of vocabulary in certain field. Within this retrictions, interpreter should apply some strategies and techniques in order to pass through this limitation. Pengantar Menurut Hella Kirchhoff dalam Pochhacker (2005) interpreting adalah sebuah sistem komunikasi dua bahasa dengan minimal tiga pihak yang terlibat; pembicara, pendengar dan interpreter. Menurut Wandensjo (1998), auidiens seorang interpreter adalah dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dalam bahasa dan latar belakang budaya yang berbeda. Dengan menjembatani kendala dua bahasa, interpreter membantu pembicara untuk menyampaikan idenya kepada audiens dan sekaligus membantu audiens memenuhi kebutuhannya untuk memahami apa yang dikkatakan pembicara (Nolan, 2005:2) Penerjemahan lisan menjadi rumit karena beberapa kondisi yang meliputinya jauh berbeda dengan penerjemahan tulis. Ketika seorang penerjemah lisan atau interpreter melakukan tugasnya, ia harus sadar kondisi apa saja yang akan dia hadapi dengan teks bahasa sumbernya. Pertama seorang interpreter akan berhadapan dengan teks yang tidak tertulis tapi lisan. Ini sudah menimbulkan permasalahan tersendiri. Teks lisan menuntut penerjemah memiliki skill listening yang memadai. Di sini posisi interpreter adalah semacam telinga bagi audience sekaligus mulut bagi si pembicara. Bagi pihak pendengar, apa yang dikatakan oleh seorang interpreter adalah sama dengan apa yang diucapkan pembicara aslinya (Ricardi, 2002:89) Kemampuan

mendengarkan yang jelek akan membuatnya menjadi telinga yang jelek bagi audience. Kemampuan interpreter dalam berbicara juga syarat penting seorang interpreter yang baik karena menerjemahkan, termasuk terjemahan lisan pada dasarnya adalah proses mereproduksi apa yang sudah diproduksi si pembicara. Interpreting atau pengalihbahasaan dianggap sebagai proses mental dan tindakan komunikatif mereproduksi apa yang dikatakan seorang pembicara sebagai bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran (Riccardi, 2002:75) Yang kedua, seorang interpreter bekerja dalam batasan waktu yang sangat terbatas. Berbeda dengan penerjemahan tulis di mana penerjemah punya waktu yang cukup banyak sehingga ia bisa mengulang-ulang proses penerjemahan, termasuk proses rekonstruksi dan editing. Pada penerjemahan lisan, penerjemah punya waktu yang sangat terbatas. Dia tidak punya waktu untuk membuka kamus bila mendapatkan kesulitan dengan kosa kata. Dia bahkan tidak punya waktu yang cukup panjang untuk proses rekonstruksi apa lagi proses editing. Keterbatasan waktu inilah, apa lagi pada simultaneous interpreting, yang menyebabkan tingkat kesulitan penerjemahan lisan menjadi lebih besar dibanding penerjemahan tulis. Pada makalah ini penulis akan membuat sebuah studi kasus penerjemahan lisan. Penulis akan mempraktekan penerjemahan lisan pada sebuah film documenter kemudian menganalisis kesalahan apa yang telah dilakukan dan kesulitan-kesulitan apa yang dialami selama prosen penerjemahan. Tentang Film Scandalous Washington Film Scandalous Washington menceritakan sisi gelap kota Washington sebagai ibu kota Amerika. Film ini menguak skandal-skandal yang terjadi di kota Washington. Sebagai ibu kota Negara adidaya Amerika, Washington menjadi magnet yang menarik perhatian manusia di penjuru dunia. Washington kemudian menjadi simbol adidaya itu sendiri dan menjadi pusat kekuasaan pemerintahan yang juga berkelindan dengan bisnis. Selama lebih dari 200 tahun sebagai pusat kekuasaan, Washington diwarnai dengan intrik dan skandal. Skandal korupsi, perempuan, perdagangan senjata illegal dan obat terlarang. Film ini diawali dengan kisah paling mencengangkan dalam sejarah perpolitikan Amerika, Water Gate. Skandal ini membuat presiden Nixon jatuh dari kursi kepresidenannya. Berikutnya skandal yang melibatkan wanita yang dikenal dengan skandal Tidal Basin. Skandal ini merupakan tipikal bagi presiden-presiden Amerika dari J.F Kennedy sampai Bill Clinton. Kasus yang dalam file FBI disebut Iran-Contra melibatkan penjualan senjata illegal untuk membiayai dukungan terhadap pemberontak anti komunis di Sandinista. Skandal yang terjadi di kota Washington menjadi memiliki arti politik penting karena melibatkan tokoh-tokoh yang dikenal diseluruh dunia dan mempunyai pengaruh politik global. Skandal semacam Water Gate bahkan menjadi semacam ikon dan menjadi nama generic untuk kasus yang melibatkan tokoh seorang presiden. Di Indonesia kita mengenal skandal Bulog Gate yang melibatkan presiden Abdulrahman Wahid. Nama Bulog Gate tidaka lain adalah plesetan dari Water Gate. Di sini kita melihat arti penting dari film Scandalous Washington. Apa Yang Dilakukan selama Studi Kasus Ini.

Penulis ingin mengetahui melalui praktek secara langsung kesulitan-kesulitan apa yang dialami seorang interpreter dalam menjalankan tugasnya. Untuk mengetahui ini, penulis mengambil salah satu film documenter yang tentang kota Washington yang berjudul Scandalous Washington. Penulis menggunakan film dengan pertimbangan akan lebih mudah menerjemahkan lisan audiovisual disbanding hanya menggunakan suara saja. Audio visual akan sangat membantu pemahaman interpreter atas teks audio yang sedang berlangsung. Untuk mempraktekkan proses penerjemahan lisan ini penulis menggunakan perangkat computer yang dilengkapi multimedia player. Penggunaan perangkat ini dengan pertimbangan untuk memudahkan proses pemutaran film, penulisan script dan pengulangan-pengulangan yang diperlukan. Penulis sebenarnya ingin menggunakan penerjemahan lisan simultaneous. Tapi karena terkendala peralatan di mana untuk praktek itu penulis membutuhkan perekam suara digital. Karena film yang dipakai cukup panjang (43 menit 56 detik), penulis hanya menggunakan sebagian dari film. Penulis memilih kasus Water Gate untuk diterjemahkan secara lisan. Ada dua teks audio di dalam film documenter Scandalous Washingto. Pertama adalah suara narrator. Narrator memberikan narasi film dengan visualisasi yang sesuai dengan narasi. Yang kedua adalah suara dari tokoh yang muncul di film ini. tokoh yang muncul adalah saksi yang terlibat secara langsung dengan peristiwa itu atau ahli di bidang politik, hukum serta wartawan yang pernah meliput peristiwa tersebut. Penulis menerjemahkan keduanya. Kesulitan-kesulitan serta kekurangan dan kelebihn dua teks itu akan dibandingkan. Pada bagian awal, penulis akan menganalisis kesulitan-kesulitan dan kesalahan perbagian kecil. Di sini penulis mendengarkan teks bahasa sumber selama antara 15 sampai 30 detik. Sambil mendengarkan, penulis membuat catatan-catatan kecil. Begitu film dihentikan, penulis menerjemahkan secara lisan sambil. Setelah terjemahan lisan selesai penulis membuat transkrip terjemahan untuk keperluan analisis. Hasil Temuan selama Studi Kasus Berikut ini analisis yang dilakukan penulis setelah mempraktekan penerjemahan lisa pada fil Scandalous Washington: Teks Asli 1 (00:00-00:30) Wasington DC, the nation capital. For more than two hundred years Washington has been the center of power and government. The stage upon which the fair and status salomoned debated and executed. But behind the pumpkin and circumstance lay a hidden word of intrigues, scandal and corruptions. Teks Terjemahan: Washington DC, Ibu kota negara. Selama lebih dari 200 tahun telah menjadi pusat pemerintahan di mana skandal diperdebatkan. Tapi dibalik itu semua, tersembunyi intrik, skandal dan korupsi.

Secara sekilas, lewat perbedaan panjang tulisan teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran, kita bisa melihat bahwa telah terjadi proses pemendekan. Pada teks BSU kita lihat ada dua kalimat sementara pada teks bahasa sasaran hanya ada dua kalimat. Kalimat kedua dan ketiga pada teks BSU telah mengalami penggabungan. Ini kelihatannya sederhana sebuah tekhnik yang dalam penerjemahan disebut tekkhnik compensation by merging. Tapi bila kita teliti lebih jauh, tampak bahwa interpreter (penulis) tidak saja melakukan pemendekan, penggabungan dua ide rinci menjadi satu ide yang lebih padat. Interpreter di sini melakukan deletion pada beberapa bagian yang sebernarnya lumayan penting. Pada kalimat kedua, For more than two hundred years Washington has been the center of power and government. Kata power lupa diterjemahkan. Penulis langsung menyebut Washington sebagai pusat pemerintahan tanpa menyebutnya sebagai pusat kekuasaan dan pemerintahan. Pada teks yang bertema politik seperti di atas mestinya kata kekuasaan adalah sebuah unsur yang sangat penting. Berikutnya kata stage juga tidak disampaikan pada teks BSA. Padahal kata stage di sini mempunyai arti penting karena merupakan metafor yang memberi kesan dramatis Washington sebagai panggung tempat berlangsungnya kekuasaan yang disertai skandal dan intrik. Ini terjadi karena interpreter gagal menangkap kata stage. Interpreter pada saat mendengarkan sambil membuat catatan menangkap kata ini sebagai state sehingga kemudia mengganggapnya bukan bagian penting dan dianggap sebagai pengulangan saja sehingga tidak perlu disampaikan secara detail. Berikutnya kata executed juga tidak berhasil diterjemahkan oleh interpreter. Interpreter di sini gagal mencari padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia ketika kata executed ini disandingkan dengan dengan kata skandal. Interpreter berpikir bahwa kata executed hanya cocok untuk kalimat yang berisi tentang hokum, misalnya kapan sebuah keputusan hukum akan dieksekusi. Pemahaman ini membuat interpreter kemudian menghilangkan kata ini. Pada kalimat ketiga, interpreter lbih banyak melakukan deletion. Ini mungkin terjadi karena memori interpreter untuk mengingat banyak pesan pada kalimat-kalimat sebelumnya sehingga ia cenderung melupakan banyak hal pada bagian terakhir ini. bagian yang pertama dihilangkan adalah frasa behind the pumpkin and circumstance. Interpreter mengalami kesulitan memahami makna frasa ini sehingga kemudian menghilangkannya dalam terjemahannya dan langsung menggabungkannya dengan ide pada kalimat kedua. Frasa verba lay a hidden word of intrigues, scandal and corruptions secara bebas diterjemahkan menjadi tersembunyi intrik, skandal dan korupsi. Lagi-lagi kata world juga tidak tersampaikan pada teks terjemahan. Kasus berikutnya pada terjemahan di atas adalah kecenderungan interpreter untuk melakukan penerjemahan secara sederhana, tanpa melakukan penambahan atau pengurangan yang diperlukan. Pada kalimat pertama, misalnya, frasa the nation capital hanya diterjemahkan ibu kota negara. Interpreter lupa bahwa teks asli dari ini diperuntukan bagi penonton Amerika sehinggan hanya dengan menyebut ibu kota negara saja mere sudah tahu rujukannya. Sementara bila teks film ini disampaikan untuk masyarakat di luar Amerika penerjemah/interpreter tentunya perlu menambahkan informasi ibu kota negara manakah Washington itu. Tekhnik addition yang

diperlukan dalam penerjemahan teks di atas lupa dilakukan interpreter karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kekurangan informasi pada teks terjemahan tentu akan sangat mengganggu pendengar, terutama bila pendengar tidak mempunyai latar belakang pengetahuan yang cukup. Teks Asli II (1:14-01:30) What goes on behind the close door our nation capital. What will we find if we look at the key hole of the corridor of power. Tonight, we take you behind the scene to reveal the secreet of Washington scandals. Teks Terjemahan Apa yang terjadi di balik pintu ibu kota kita . Apa yang kita lihat bila kita lihat di lubang kunci pintunya. Malam ini kita akan melihat di balik layar untuk mengungkap rahasia skandal-skandal Washington. Deletion masih menjadi masalah pada penerjemahan lisan menit 1:14 sampai 01:30 ini. Pada kalimat pertama misalnya kata behind the close door of our nation capital diterjemahkan menjadi di balik pintu ibu kota kita ini. Tapi kelihatannya strategi deletion ini justeru membuat kalimat lebih terasa natural. Seandainya kalimat tadi diterjemahkan menjadi di balik pintu tertutup ibu kota kita ini pendengar mungkin akan menginterpretasikannya secara berbeda. Pintu tertutup oleh pendengar akan diinterpretasikan sebagai metafor bahwa Washington adalah kota tertutup. Kota yang mungkin tidak mau menerima budaya, pengaruh bahkan mungkin orangorang dari luar komunitasnya. Pada awalnya interpreter melakukan deletion ini karena tidak bisa menangkap kalimatnya secara detail. Tapi interpreter memang tidak focus pada kata-perkata ketika menerjahkan lisan ini. Dia hanya lebih focus pada pesan teks suara secara keseluruhan. Jadi strategi deletion yang dilakukan interpreter di sini sudah tepat. Deletion yang kedua dilakukan oleh interpreter pada kata the corridor of power. Interpreter hanya menangkap kalimat itu What will we find if we look at the key hole. Ini ada kaitannya dengan pesan yang ditangkap pada kalimat pertama. Pesan kalimat pertama yang ditangkap interpreter adalah Apa yang terjadi di balik pintu ibu kota kita. Ini membuat interpreter berasumsi bahwa pesan berikutnya pastilah the key hole of the door sehingga frasa the corridor of the power tidak tertangkap. Jadi di sini interpreter tidak menangkap sebuah fragmen kalimat karena ia tidak berharap fragmen kalimat itu muncul. Ada kaitan antara yang kita dengarkan dengan apa yang kita harapkan. Pada kalimat ketiga, Tonight, we take you behind the scene to reveal the secreet of Washington scandals, interpreter menerjemahkannya secara lebih bebas/dinamis. Tidak ada terjemahan kami akan membawa anda di balik layar untuk mengungkap rahasia skandal-skandal Washington. Kalimat we take you behind diterjemahkan menjadi kita akan melihat. Ada usaha untuk menyederhanakan kalimat pada teks terjemahan. Hal ini mungkin sesuatu yang wajar bagi seorang penerjemah lisan untuk menyederhanakan ujaran teks terjemahan mengingat waktu yang sangat terbatas antara klaimat itu terdengar sampai saat harus merekonstruksi kembali kalimat itu dalam bahasa sasaran.

Masalah lain yang muncul peda terjemahan lisan di atas adalah bentuk kalimat terjemahan yang terdengar kaku dan cenderung literal. Hampir sama dengan kasus sebelumnya. Kalimat What goes on behind the close door our nation capital diterjemahkan Apa yang terjadi di balik pintu ibu kota kita. Interpreter lupa bahwa audiens teks asli berbeda dengan audiens terjemahan. Karena audiens terjemahan lisan ini orang Indonesia, mereka mungkin akan membayangkan kota Jakarta, bukannya Washington. Di sini interpreter lupa melakukan penyesuaia referen. Pada teks BSU ibu kota kita mengacu pada Washington tapi tidak demikian pada kalimat BSA, jadi mestinya kalimat terjemahan menjadi Apa yang terjadi di balik pintu ibu kota Amerika ini. Kesigapan interpreter dalam menangkap pergeseran refen ini sangat penting dalam penerjemahan lisan. Penerjemahan lisan jelas memiliki situasi yang sangat berbeda dengan penerjemahan tulis. Waktu yang tersedia pada penerjemahan tulis jaul lebih longgar sehingga penerjemah punya waktu yang leluasa untuk memperhatikan detail, termasuk dalam hal ini referen dari sebuah kata. Dalam penerjemahan tulis waktu bukanlah penghambat yang berarti sebaliknya dalam penerjemahan lisan, interpreter berkejar dengan waktu. Teks asli III (01:51-02:15) Every year, thousand of tourist from all around the world come to Washington to visit the magnificent monument and memorial of the nation. Have you got any fire? Any body has a fire, raise your hand. Thats good. You need it in this murderous capital. But there ir one tour that you can take that features the least exulted events in the history of the republic Teks terjemahan Setiap tahun ribuan orang dating ke Washington DC untuk menyaksikan kemegahan dan untuk mendatangi manumen dan memorial Amerika ini. Ada yang membawa pistol? Yang membawa angkat tangan. Tapi ada sebuah tour yang bisa mengantarkan ke tempat- tempat yang akan menggambarkan sejarah bangsa ini. Ada beberapa masalah yang menarik pada penerjemahan lisan di atas yang pertama dan paling menonjol adalah interpreter menghilangkan satu kalimat yang diucapkan oleh tour guide:Thats good. You need it in this murderous capital. (baris ke enam teks BSU). Ini sesuatu yang menarik karena dari sisi pesan kalimat ini adalah penjelasan penting dari tour guide kepada turis yang sedang melakukan tour tempat-tempat yang terkenal sebagai tempat berlangsungnya skandal-

skandal besar di Washington. Bila kita memperhatikan kalimat sebelum maupun sesudahnya kita tidak menjumpai pesan pada kalimat ini tersampaikan pada bagian lain (compensation by place). Artinya bukan kalimatnya saja yang hilang tapi pesannya juga betul-betul hilang. Kalau keadaanya demikian pastilah interpreter punya alasan yang kuat atas tindakannya ini. Pada teks-teks sebelum ini semua kalimat narasi pada film diucapkan cukup jelas. Ini karena kalimat narasi diucapkan oleh seorang narrator yang mempunyai kemampuan mengucapkan kalimat bahasa Inggris dengan sangat terampail. Dia mungkin sudah melalui pelatihan khusus untuk menjalani profesi ini. atau paling tidak dia memang punya bakat sebagai seorang narrator. Kalimat pada baris keempat sampai enam diucapkan oleh seorang tour guide (interpreter/penulis tidak tahu apakah dia betul-betul seorang tour guide ataukah hanya seorang aktor yang memerankan seorang tour guide untuk keperluan film documenter ini). penulis menjumpai kalimat yang diucapkan tour guide ini jauh kurang jelas dari pada kalimat yang diucapkan oleh narrator. Ditambah lagi si tour guid mengucapkan kalimatnya dengan bantuan megaphone yang membuat ujaranujaran yang diucapkan semakin tidak jelas Jadi mengapa interpreter tidak menerjemahkan bagian ini adalah interpreter gagal menangkap kalimat ini secara jelas. Artinya telah terjadi unnecessary deletion. Masalah berikutnya yang muncul pada proses penerjemahan lisan di atas adalah kegagalan interpreter menangkap kata exulted (baris ketuju pada trankrip). Kegagalan menangkap kata ini berakibat lumayan fatal pada teks terjemahan. Kalimat But there ir one tour that you can take that features the least exulted events in the history of the republic menjadi hanya diterjemahkan Tapi ada sebuah tour yang bisa mengantarkan ke tempat- tempat yang akan menggambarkan sejarah bangsa ini. frasa the least exulted event tidak tersampaikan. Padahal ini merupakan pesan yang sangat penting karena tujuan dari tour itu adalah mengunjungi tempat-tempat yang menjadi situs berlangsungnya skandal-skandal memalukan dan dikenang oleh dunia di Washington. Terjemahan yang tepat, seandainya interpreter berhasil menangkap kata exulted adalah sebagai berikut : Tapi ada sebuah tour yang bisa mengantarkan Anda pada kejadian kejadian yang tidak terrpuji dalam sejarah bangsa ini. Kegagalan interpreter menangkap yang less-frequent word sering terjadi terutama pada interpreter pemula yang masih perlu banyak menambah kosa kata yang terkait dengan bidangbidang tertentu. Meskipun hanya satu kata, bila kata tersebut adalah sebuah kata yang mengemas sebuah konsep atau pengertian tertentu yang penting akan sangat fatal pada proses penerjemahan apalagi penerjemahan lisan yang tidak mempunyai kesempatan untuk membuka kamus. Teks Asli IV (07:07-07:33) Water Gate is a monumental abuse of power in which the white house engaged to subvert the American constitution and to sabotage his political enemies which use of American law enforcement, agencies and its intelegents community as well. Teks terjemahan

Water Gate adalah simbol dari pelecehan kekuasaan oleh gedung putih damana gedung putih menggunakan kekuasaanya dan komunitas intelejennya untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya. Seperti pada terjemahan-terjemahan sebelumnya yang banyak terdapat kasus deletion. Pada terjemahan kali ini disamping penggunaan deletion juga ada penyampaikan informasi oleh interpreter secara tidak linier seperti pada teks lisan bahasa sumbernya. Kasus deletion yang pertama yang juga menyangkur pergeseran pusat ide dari kalimat itu. Bagian kalimat Water Gate is a monumental abuse of power diterjemahkan menjadi Water Gate adalah simbol dari pelecehan kekuasaan. Pada kalimat teks bahasa sumber inti dari komplemen adalah abuse of power sementara pada teks terjemahan inti frasa komplemen berpindah menjadi simbol. Rupanya disini interpreter agak ceroboh dalam menentukan mana inti dari sebuah frasa, yang merupakan inti sebuah ide juga. Kecerobohan ini tentu bukan tanpa sebab. Kita bisa melihat bahwa kalimat pada teks lisan bahasa sumber di atas cukup panjang. Inilah yang menjadi pangkal permasalahan dari kegagalan interpreter dalam menentukan ide utama dari frasa. Kegagalan interpreter untuk merekonstruksi kembali ide-ide yang terdapat pada teks bahasa sumber secara linier pada bahasa sasaran bisa berakibat fatal. Ide atau pesan adalah entitas utama dan penting dalam proses penerjemahan. Bila ide atau pesan ini bergeser jelas ada kemungkin yang sangat besar pesan teks lisan bahasa sumber tidak tersampaikan ataupun tersampaikan secara terbalik (posittif menjadi negative, pelaku menjadi objek dan sebalikanya ) Pada kasus berikutnya terjadi proses deletion sekaligus fragmen kalimat white house engaged to subvert the American constitution and to sabotage his political enemies diterjemahkan secara lisan menjadi gedung putih menggunakan kekuasaanya dan komunitas intelejennya untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya. Kata to subvert the American constitution yang merupakan pesan yang sangat penting dari frasa tersebut justeru hilang pada teks lisan bahasa sasaran. Kata to subvert kemudian justeru bergabung dengan kata his political enemies sehingga terjemahannya menjadi gabungan-gabungan beberapa fragmen dari tempat yang berbeda. Ini kasus yang memang lumayan banyak dialami interpreter pada saat berpraktek penerjemahan lisan pada film documenter Scandalous Washington ini. ini mungkin merupakan alasan pentingnya seorang interpreter membuat catata-catatan kecil selama ia mendengarkan teks bahasa sumber. Hal-hal yang merupakan ide penting dari teks lisan bahasa sumber perlu dicatat sehingga ketika ia merrekonstruksi kalimat bahasa sasaran tidak ada informasi penting yang tertinggal atau lupa tidak disampaikan pada teks bahasa sasaran. Ada beberapa bagian pada teks lisan bahasa sumber di atas tidak tersapaikan ke dalam teks lisan bahasa sasaran tapi tidak begitu mengganggu seperti kata engage dan agency. Pada kasus-kasus tertentu memang deletion tidak mengganggu keutuhan pesan teks bahasa sumber. Tapi interpreter tentu harus sangat berhati-hati dalam menentukan mana yang bisa titinggalkan dan mana yang tidak boleh. Ini penting karena kita tentu tahu bahwa proses penerjemahan lisan mempunyai tekanan waktu yang sangat tinggi. Tidak mungkin interpreter bisa mentransfer semua yang terdapat dalam teks lisan bahasa sumber ke dalam teks lisan bahasa sasaran secara detail tanpa tercecer sedikitpun. Note taking memang sangat penting, terutama bila interpreter menggunakan metode consecutive di mana ia punya sedikit watu untuk membuat catatan-catatan kecil selama pembicara menyampiakan idenya.

Simpulan Secara umum ada beberapa kesulitan dan masalah yang ditemukan pada praktek penerjemahan lisan film Scandalous Washington. Berikut ini kesulutan dan masalah yang dihadapi interpreter A. Kesulitan-kesulitan 1. Keterbatasan waktu Keterbatasan waktu adalah kesulitan yang sangat dominan pada praktek penerjemahan lisan film Scandalous Wasington ini. Tapi mungkin ini merupakan msalah yang sangat umum pada penerjemahan lisan. Interpreter punya waktu yang sangat terbatas untuk melakukan proses penerjemahan. Semua tahap pada proses ini berlangsung daam waktu yang sangat singkat dari mulai memahami pesan yang ada pada teks lisan bahasa sumber sampai merekonstruksi kembali ke dalam teks lisan bahasa sasaran. Keterbatasan waktu ini juga berdapak pada hal-hal lain misalnya interpreter tidak punya waktu untuk melakukan koreksi dan revisi sehinggan teks lisan bahasa bahasa sasaran cenderung tidak sebagus pada teks terjemahan tertulis. Teks bahasa sasaran pada penerjemahan lisan diproduksi di bawah tekanan waktu sehingga interpreter hanya punya kesempatam waktu sangat sedikit untuk melakukan koreksi dan revisi (Phochacker, 2004:10). 1. Ucapan teks bahasa sumber yang sulit ditangkap Ini juga masalah yang sangat klise dan sebenarnya masalah listening secara general. Interpreter pemula selalu berhadapan dengan teks lisan bahasa sumber yang dianggap diucapkan terlalu cepat. Aspek yang paling sulit dari penerjemahan lisan adalah kecepatan yang harus dicapai oleh seorang interpreter (Weber, 1984:27). Ketrampilam mendengarkan seorang interpreter betulbetul diuji pada penerjemahan lisan ini. Ada hal lain sebenarnya yang membuat proses mendengarkan pada penerjemahan lisan menjadi penuh tekanan. Ketika kita mendengarkan dalam rangka memahami sesuatu, misalkan dalam kelas perkuliahan dengan dosen native speaker, tanpa beban untuk mengungkapakan kembali pemahaman kita, kita tidak berada dalam posisi yang sangat tertekan. Pada proses penerjemahan lisan, interpreter tidak hanya dituntut untuk memahami pesan pada teks bahasa sumber, ia juga dibebani oleh tugas untuk mengingat hal-hal detail pada teks tersebut. 1. Kesulitan dalam mengingat informasi secara detail Dalam sebuah teks lisan bahasa sumber yang panjang, terdapat banyak informasi detail yang perlu diingat interpreter. interpreter dituntut untuk memiliki memori yang prima. Selama proses penerjemahan lisan, short-term memory beroperasi secara terus-menerus, ini berkaitan dengan terbatasnya waktu antar informasi itu didengar dan informasi itu harus diterjemahkan (Gile, 1995:168). Kesulitan ini mungkin bisa diatasi pada penerjemahan consecutive dengan mumbuat catatan-catatan kecil. Interpreter perlu secara telaten melakukan ini agar tidak ada informasi teks bahasa sumber yang tercecer. 1. Kesulitan dengan kosa kata dibidang tertentu.

Ini juga masalah yang agak klise dalam listening maupun reading. Tapi pada kasus penerjemahan lisan keadaanya menjadi kritis bila interpreter tidak mengenali kosa kata tertentu dalam bidang tertentu. Ini karena pada penerjemahan lisan interpreter tidak punya kesempatan untuk melihat kamus atau bertenya. Penerjemahan lisan menuntut pengenalan kata teks lisan bahasa sumber yang sangat ekstrim (Gile, 1995:162). Pendapat Gile ini akan sangat terasa kebenarannya bila kita sudah mempraktekan sendiri penerjemahan lisan. B. Kasus- kasus yang dialami 1. Deletion Deletion adalah kasusu yang sangat banyak dialami oleh interpreter pada penerjemahan lisan film scandalous Washington di atas. Ini terjadi karena keterbatasan memori dan waktu yang dialami oleh interpreter dalam setiap proses penerjemahan. Deletion pada hal-hal yang tidak substansial mungkin tidak akan mengganggu keutuhan pesan teks bahasa sasaran. Tapi kasusnya akan berbeda bila ini terjadi pada kata-kata atau informasi penting dalam teks lisan bahasa sumber. 1. Pemendekan teks atau kalimat Interpreter pada kasus di atas melakukan beberapa pemendekan. Beberapa kalimat secara sekaligus digabungkan menjadi satu kalimat yang lebih padat. Ini mungkin strategi umum yang dilakukan oleh seorang interpreter mengingat keterbatasan waktu sehingga tidak memungkinkan baginya untuk justeru misalnya memecah satu kalimat menjadi beberapa kalimat untuk menyederhanakan pemahaman pembaca. Strategi ini adalah strategi biasa dalam penerjemagan. Higgins menyebut strategi ini sebagai strategi compensation by merging.

DAFTAR PUSTAKA Al-Salman, Saleh. 2002. The Native Language Factor in Simultaneous Interpretation Arab/English Context. Meta Vol XLVII, 4 Nolan, James. 2005. Interpretation: Technique and Exercise. Matters Ltd Toronto: in

Multilingual

Pchhacker, Franz. 2005. From Operation to Action: Process-Orientation in Interpreting Studies. Meta Vol L, 2 ______________. 2004. Introducing Interpreting Studies. London: Roudledge Riccardi, Alessandra. 2002. Translation Studies:Perspectives on a New Emerging disciplines. Edinburgh: Cambridge University Press

Wadensjo, Cesilia. 1998. Interpreting in Interaction. United Stated of America: wesley Longman Limited.

Addison

Weber, Wilhelm, K. 1984. Translators Interpreters. New York: Harcourt Brace Jovanovick, Inc. 15 May 10

LOKALISASI DALAM PENERJEMAHAN


By sumardionozy Leave a Comment Categories: Uncategorized

LOKALISASI DALAM PENERJEMAHAN


Sumardiono Linguistik Penerjemahan Pascasarjana UNS

Abstract Localization is a part of ideology in translation. Translation is a process of transferring message from one language to another by considering the aspects of accuracy and acceptability. Accuracy tends to the source language while acceptability tends to the target language. Localization is applied in order to make the text closer to the target audience. There are some reasons in applying this strategy PENGANTAR Masalah lokalisasi dalam penerjemahan tidak bisa terlepas dari dua ideologi besar dalam penerjemahan yaitu lokalisasi domestifikasi dan foreignisasi. Dalam makalah ini saya ingin membahas bagaimana seorang penerjemah memilih metode lokalisasi. Apa alasan mereka memilih?. Juga akan dibahas sedikit tentang foreignisasi dan lokalisasi untuk menjelaskan kontras di antara keduanya. Karena masalah ini juga berkaitan erat dengan konsep dasar penerjemahan yaitu konsep keakuratan dan keberterimaan, saya mengawali makalah ini dengan konsep keakuratan dan keberterimaan. Untuk memberi penjelasan secara lebih gamblang, pada masing-masing bagian saya menggunakan beberapa contoh kasus yang diambil dari beberapa buku, baik buku yang membahas khusus tentang penerjemahan maupun diambil langsung dari novel asli dan terjemahannya serta sebagian juga diambil dari paper di internet

KEAKURATAN VERSUS KEBERTERIMAAN Proses penerjemahan selalu berada dalam tarik menarik dua kepentingan utama yaitu keakuratan dan keberterimaan. Dua kutub ini masing-masing mengabdi pada dua kepentingan yang berbeda. Akurasi mengabdi pada kepentingan teks bahasa sumber yaitu makna atau pesan dengan segala aturan dan normanya. Sedangkan keberterimaan mengabdi pada kepentingan teks bahasa sasaran yaitu kaidah gramatika, pilihan kata, dan hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang cultural dan norma atau dengan kata lain berpihak pada audiens teks bahasa sasaran Sebuah teks terjemahan yang terlalu berkiblat pada teks bahasa sumber akan terdengar asing bagi telinga pembaca. Teks akan masih terasa sebuah terjemahan. Pilihan seorang penerjemah untuk berkiblat secara ketat pada teks bahasa sumber bisa jadi merupakan simbol kehati-hatian penerjemah dalam menghadapi informasi yang terdapat pada teks bahasa sumber. Tentu usaha untuk menjaga keakuratan kadang seorang penerjemah perlu sedikit mengorbankan keberterimaan sebuah teks terjemahan. Sebuah resiko yang kadang menyulitkan seorang penerjemah. Keberterimaan, sebaliknya, mengabdi pada kepentingan teks bahasa sasaran. Bahasa sasaran selalu mempunyai aturan, kaidah gramatika dan pilihan kata yang berbeda dengan bahasa sumber. Menyampaikan informasi secara akurat tetapi dengan tetap patuh pada aturan bahasa sasaran kadang bisa menimbulkan konflik yang serius. Konflik bisa terjadi karena sesuatu yang harus patuh pada bahasa sasaran akan berarti mengesampingkan informasi tertentu pada teks bahasa sumber. Seperti yang dikatakan Hatim dan Munday (2004) tentang konsep unfaithful beauties, yang kira-kira artinya terjemahan yang tampak cantik (berterima) akan cenderung tidak setia (unfaithful), dan sebaliknya terjemahan yang setia (akurat) cenderung terdengar tidak cantik (kurang berterima). Ketika seorang penerjemah menerjemahkan kalimat sederhana di bawah ini misalnya: 1. I have one brother. 2. Saya punya seorang saudara laki-laki. 3. saya punya seorang adik. Dia berhadapan dengan dua pilihan. Apakah akan lebih memilih keakuratan dan sedikit mengorbankan keberterimaan atau sebaliknya. Jika ia memilih yang pertama, ia akan berusaha mengalihkan semua informasi yang ada pada teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran. Kata brother yang mengandung informasi saudara kandung dan gender laki-laki diterjemahkan secara utuh sehingga kalimatnya berbunyi (2) Saya punya seorang seorang saudara laki-laki. Di sini kita melihat informasi teks bahasa sumber di transfer secara utuh ke dalam teks bahasa sasaran. Tidak ada informasi yang tercecer dan tidak terakomodasi dalam teks bahasa sasaran. Keakuratan ini bukannya tanpa resiko. Kesetiaan berlebihan pada bahasa sasaran berakibat pada berkurangnya keberterimaan. Kalimat pada contoh (2) terdengar tidak begitu lazim bagi pendengar bahasa Indonesia dan cenderung terdengar seperti sebuah teks terjemahan. Ada informasi yang menurut bahasa Indonesia tidak penting tapi disampaikan pada teks terjemahan. Informasi gender pada ujaran dalam bahasa Indonesia ini dianggap tidak terlalu penting sehingga tidak perlu disampaikan secara eksplisit. Mungkin hanya lewat konteks saja seorang pembicara bahasa Idonesia akan mengetahui gender yang sedang ia rujuk.

Kalimat (2) merepresentasikan kalimat yang lebih berterima meskipun menjadi berkurang keakuratannya. Kata adik pada kalimat (2) tidak mengandung unsur gender seperti kata brother pada teks bahasa sumber. Dan sebaliknya, kalimat (2) meskipun berterima, menjadi berkurang keakuratannya karea ada informasi yaitu informasi gender yang tidak tersampaikan. Di sini kita melihat bahwa keakuratan dan keberterimaan menjadi dua hal yang kadang sulit untuk didamaikan. Ketika kita mengutamakan keakuratan, kita kadang harus sedikit mengorbankan keberterimaan. Demikian juga sebaliknya. Penerjemah, dengan demikian perlu berhati-hati untuk tidak tergelincir dalam wilayah ekstrim keduanya. Keberterimaan tidak saja terjadi pada tataran leksikal, gaya pengungkapan juga menentukan apakah sebuah kalimat atau ujaran bisa berterima untuk pendengar teks bahasa sasaran atau tidak. Di bawah ini sebuah puisi oleh Mosby yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang dikutip dari Suryawinata: Heal my impatient heart which burns within me like a cancer Teach me not to be annoyed by faults which buzz in my ears as loudly as mosquitos wings Help me to love the small, the damaged, the three-legged dog, without sorrow Fill me with understanding as a pear tree fills with wind Touch my leaves, let my bloom shake down and cover those I love with love Sembuhkan hatiku yang tak sabar yang membakar dalam diri seperti kangker Ajari aku untuk tidak merasa jengkel oleh kesalahan yang mendengung-dengung dalam telingaku sekeras dengung nyamuk.

Bantu aku untuk mencintai anjing kecil, penyakitan, yang berkaki pincang, tanpa kesedihan. Limpahi aku dengan pengertian seperti halnya pohon pear dimanja angina. Sentuhlah daun-daunku, biarkan bungaku berjatuhan Dan melingkupi orang-orang yang aku cintai dengan cinta. (Suryawinata, 60:2000 ) Kita melihat ada beberapa kalimat yang diterjemahkan secara dinamis dan idiomatis. Kalimat Help me to love the small, the damaged, the three-legged dog, without sorrow digunakan untuk menggambarkan seekor anjing kecil yang malang. Frasa the damaged, the three-legged dog menggambarkan secara lebih detail kemalangan itu. Di sini kita melihat kata damaged yang secara harfiah berarti terluka diterjemahkan menjadi penyakitan. The three-legged yang berarti berkaki tiga diterjemahkan yang berkaki pincang. Ada gaya pengungkapan yang berbeda antara teks bahasa Inggris dan teks bahasa Indonesia. Penerjemah tampak memilih untuk lebih setia pada bahasa sasaran. Penerjemah memilih ungkapan yang lebih bisa diterima pembaca. Frasa the three-legged dog akan terasa janggal bila diterjemahkan anjing berkaki tiga, frasa berkaki pincang akan lebih mengena bagi pembaca bahasa Indonesia meskipun pada dasarnya kedua ungkapan itu menggambarkan keadaan yang sama. Penerjemah menggunakan prinsip terjemahan harus bisa menyampaikan ide teks bahasa sumber dengan luwes dan mudah dimengerti pembacanya, bukannya kata-katanya (Suryawinata, 2003:61) Penerjemahan puisi tentu berbeda dengan menerjemahkan jenis teks yang lain di dalam teks puisi tidak hanya pesan yang perlu disampaikan, ada pesan-pesan lain yang juga perlu disampaikan. Seorang penerjemah puisi tidak sekedar berusaha keras menyampaikan pesan semantis yang ada dibalik kata-kata tapi ia juga harus memperhatikan sampai sejauh mana katakata dalam bahasa sasaran memberi efek yang sepadan dengan kata-kata itu dalam bahasa sumber. Dengan kata lain perlu kesepadanan pragmatic antara kalimat atau ujaran dalam teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran. Pada contoh teks di atas, kalimat Heal my impatient health which burns within me like a cancer diterjemahkan menjadi Sembuhkan hatiku yang tak sabar yang membakar dalam diri seperti kangker. Kangker dalam bahasa Inggris diandaikan sesuatu yang membakar. Bagi pembaca bahasa Indonesia, ekspresi figuratif ini terdengar janggal. Kita lebih sering mengandaikan kangker yang menggerogoti tubuh, bukan membakar. Di sini tampak penerjemah lebih setia dengan bentuk dan pilihan kata bahasa sumber. Penerjemahan berdasar bentuk ini berusaha mengikuti bahasa sumber atau disebut juga penerjemahan literal (Larson, 1984:15). Kalimat Heal my impatient health which burns within me like a cancer akan mengena dan memberi efek psikologis yang mirip dengan bahasa sumber atau dengan kata lain menimbulkan illocutionary force yang setara seandainya diterjemahkan menjadi Sembuhkan

hatiku yang tak sabar yang menggerogoti diri seperti kangker, tanpa harus terlalu setia dengan bentuk bahasa sumbernya . Pilihan kata menggerogoti memberi efek psikologis yang lebih mengena bagi pembaca bahasa Indonesia disbanding kata membakar. Pilihan kata yang terlalu setia dengan bahasa sumbernya akan mengakibatkan terjemahan terdengar asing (Larson, 1984:15) Keakuratan dan keberterimaan pada akhirnya merupakan dua kutub yang saling berlawanan yang, meskipun sulit, perlu didamaikan oleh seorang penerjemah. Penerjemah perlu mempertimbangkan kapan saat harus lebih memenangkan keakuratan dan kapan harus lebih berpihak pada pembaca atau dengan kata lain lebih mengutamakan keberterimaan. Keberpihakan pada pembaca membuat penerjemah tidak harus mengikuti gaya bahasa teks bahasa sumber dan bahkan kadang menambah dan mengurangi eleman yang tidak begitu penting (Suryawinata, 2003:61). Keberpihakan pada teks bahasa sumber/keakuratan sebaliknya menuntut penerjemah untuk sedikit mengabaikan kenyamanan pembaca dalam menangkap pesan dan lebih mengutamakan menyampaikan seakurat mungkin informasi yang ada pada teks bahasa sumber. Sampai sejauh mana seorang penerjemah bisa mengabaikan keakuratan dan mementingkan keberterimaan? Seorang penerjemah harus pandai-pandai mensiasati kapan dirasa perlu lebih condong pada keberterimaan dan sedikit mengabaikan keakuratan dan sebaliknya. Lokalisasi/Domestikasi versus Foreignisasi; Ideologi Penerjemah Istilah foreignisation dan domestification digunakan untuk merujuk pada metode yang diterapkan oleh penerjemah ketika mentransfer sebuah teks dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain (MaziLeskovar, 2003:5). Masalah foreignisation dan domestification masuk dalam wilayah ideologi penerjemah Ideologi, menurut Hoed (2003) adalah suatu prinsip yang dipercayai kebenarannya dalam sebuah komunitas dalam sebuah masyarakat. Ideologi dalam penerjemahan adalah prinsip atau keyakinan tentang benar atau salah dalam penerjemahan (Hoed, 2003:1). Ada penerjemah yang menganggap bahwa penerjemahan dikatakan benar apabila telah menyampaikan pesan teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran secara tepat tanpa memperhatikan apakah teks terjemahan berterima dalam bahasa sasaran atau tidak. Sementara ada juga penerjemah yang menganggap teks terjemahan yang benar adalah teks terjemahan yang yeng seberterima mungkin dengan bahasa sasaran. Menurut Hoed (2003) lagi bahwa apa yang dikatakan benar atau salah dalam penerjemahan bersifat sangat relatif dan berkaitan dengan faktor-faktor yang ada dil uar proses penerjemahan itu sendiri. Lebih jauh Hoed (2003) mengatakan bahwa predikat benar atau salah ditentukan oleh untuk siapa dan untuk tujuan apa suatu terjemahan dilakukan. Ada dua ideologi besar di dalam proses penerjemahan. Yang pertama adalah ideologi yang mengatakan bahwa terjemahan yang baik adalah terjemahan yang mengacu pada bahasa sasaran. Jadi, sebuah teks terjemahan dikatakan baik apabila bisa diterima dan dipahami dengan baik oleh pembaca bahasa sasaran. Teks terjemahan tersebut haruslah tidak terdengar seperti teks terjemahan; seakan-akan sebuah karya asli bahasa yang bersangkutan. Ideology ini disebut

lokalisasi atau domestifikasi. Sebaliknya, yang kedua mengatakan bahwa terjemahan yang baik adalah terjemahan yang mengacu pada bahasa sumber atau dengan kata lain teks terjemahan yang baik adalah teks terjemahan yang masih mempertahankan bentuk-bentuk bahasa sumber termasuk unsur-unsur kulturalnya. Ideology ini disebut foreignisasi. Seorang penerjemah pada saat tertentu akan berhadapan dengan bentuk atau istilah atau apapun dari teks bahasa sumber yang kemudian memerlukan pertimbangan khusus apakah ia harus mempertahankan bentuk seperti yang terdapat dalam bahasa sumber karena pertimbanganpertimbangan tertentu ataukah harus merubah untuk memudahkan pembaca memahami.dengan cara membuat sesuatu yang lebih dekat dengan khalayak pembaca. Foreignisasi pada konteks penerjemahan adalah upaya mempertahankan apa yang asing dan tidak lazim pada konteks bacaan pembaca target tapi merupaka hal yang lazim, unik, dan khas dari budaya bahasa sumber (Mazi-Leskovar, 2003:5). Menurut penganut ini, terjemahan yang bagus adalah terjemahan yang tetap mempertahankan gaya, dan cita rasa kultural bahasa sumber. Mempertahankan apa yang terdapat pada teks bahasa sumber adalah symbol kebenaran menurut penganut ini. Hoed (2003) dalam makalahnya mengatakan bahwa penerjemahan yang benar, berterima, dan baik adalah yang sesuai dengan selera dan harapan sidang pembaca yang menginginkan kehadiran kebudayaan bahasa sumber. Pemakaian kata sapaan seperti Mr, Mrs, dan Miss, misalnya akan membuat pembaca memahami kultur bahasa sumber dan secara tidak langsung telah belajar kultur bahasa sumber ketika membaca karya terjemahan. Berikut sebuah kutipan percakapan dalan novel The Da Vinci Code karya Dan Brown yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Isma B. Koesalamwardi. BSU Im sorry, Langdon said, but Im very tired and Mais, monsieur, the concierge pressed, lowering his voice to an urgent whisper. Your guest is an important man. (Dan Brown, The Da Vinci Code, hal BSA Maaf, ujar Langdon, Tetapi saya sangat letih dan _ Mais, monsieur, penerima tamu itu memaksa, seraya merendahkan suaranya menjadi bisikan yang mendesak. Tetapi tamu anda orang penting. (Dan Brown, The Da Vinci Code, terjemahan hal16)

Penerjemah berusaha mempertahankan atmosfir dan cita rasa kultural Perancis dalam terjemahan di atas. Penyebutan panggilan khas perancis membuat pembaca berimajinasi bahwa percakapan di atas betul-betul terjadi di sebuah kota di Perancis. Mempertahankan gaya dan cita rasa bahasa sumber tidak saja dimaksudkan untuk memberi informasi kultural kepada pembaca. Bagian yang terdengar asing atau eksotik yang dipertahankan dari teks bahasa sumber ini diharapkan menjadi stimulus bagi pembaca. (Mazi-Leskovar, 2003:5) Domestifikasi atau lokalisasi, sebaliknya, adalah strategi penerjemahan yag dilakukan ketika istilah asing dan tidak lazim dari teks bahasa sumber akan menjadi hambatan atau kesulitan bagi pembaca bahasa sasaran dalam memahami teks (Mazi-Leskovar, 2003:5). Kesulitan pemahaman pembaca bahasa sasaran bisa diakibatkan oleh perbedaan cara pandang kultur bahasa sasaran dengan cara pandang kultur bahasa sumber maupun pengalaman peristiwa sosial tertentu. Berikut ini contoh terjemahan sebuah puisi dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris yang diambil dari Machali (2000), sebuah puisi yang menggambarkan situasi pernikahan dengan kultur Jawa. Kita akan melihat bagaimana penerjemah berusaha melokalisasi istilah-istilah dan konsep-konsep kultural khas bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris. Puisi ini karangan Toety Heraty, seorang wanita penyair yang banyak menulis puisi dengan latar belakang kultur Jawa dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John McGlynn. Surat dari Oslo . lalu kini, siraman air kembang dahulu, midodareni Sebelum esok menghadap penghuluTarub, janur, gamelan dan gending kebogiro Penganten bertemu, berlempar sirih, wijidadi, Sindur ibu, pangkon ayah, dulangan, kacar-kucur Sesuai adat upacara Jawa. Aku mohon pada yang Maha Kuasa supaya terkabul semua keinginan mereka, dan .. Letter from Oslo . And now, the sprinkle of the water from an earthen jugBefore facing God and his servant tomorrow

The nuptial awning, woven palm leaves, the orchestra and wedding songs the bridal couple meets, betel leaves thrown in exchange a red sash for the brides mother , asking fathers blessing, the ritual exchange of food, symbol of obedience and property distributed, all in keeping with Javanese tradition I pray to the Most Power That all their wishes are granted, and after that . (Machali, 2000:186-187) Pertama, McGlynn berhadapan dengan sebuah istilah dalam ritual pengantin Jawa, siraman air kembang. Frasa ini deterjemahkan menjadi the sprinkle of the water from an earthen jug. Siraman air kembang, dalam ritual pengantin adat Jawa adalah sebuah prosesi memandikan calon pengantin baik mempelai laki-laki maupun perempuan dari pihak keluarga, diawali dari ayah mempelai kemudian ibu dan saudara-saudara tua lainnya. Ritual ini memiliki makna bahwa sebelum menghadapi hidup baru, pasangan pengantin harus berhati bersih dan suci. Kesucian ini disimbolkan dengan air kembang. Pesan ini sepertinya tidak tersampaikan dengan baik pada bahasa sasaran. Dalam teks bahasa sasaran ritul ini hanya digambarkan menyiramkan air dari kendi/jug yang terbuat dari tanah. Teks bahasa sasaran menggambarkan peristiwa ini hanya dari penglihatan yang ditangkap oleh penerjemah. Ini mungkin terjadi karena penerjemah tidak memahami makna sebenarnya dari peristiwa ini atau mungkin juga ia hanya ingin mempermudah pemahaman pembaca. Berikutnya penerjemah berhadapan dengan istilah gamelan dan gending kebo giro yang ia terjemahkan the orchestra and wedding songs. Gamelan yang merupakan sperangkat alat musik Jawa diterjemahkan menjadi the orchestra. Gamelan adalah perangkat musik sementara orchestra adalah jenis musik. Penerjemah berusaha membuat padanan istilah dalam bahasa Inggris yang mendekati meskipun tidak bisa sama persis. Pada istilah gending kebo giro, penerjemah memakai istilah wedding song, lagu yang dinyanyikan pada prosesi pernikahan dalam kultur barat. Pembaca bahasa Inggris tidak akan memahami bahwa gending kebo giro hanyalah sebuah musik tanpa lagu yang diputar ketika kdua mempelai pengantin Jawa bertemu sebelum menuju perkawinan. Penjelasan di atas menggambarkan bagaimana karena alasan-alasan tertentu seorang penerjemah berusaha melokalisasi istilah dan konsep yang ada pada teks bahasa sumber ke dalam istilah dan konsep yang lebih dekat dengan pembaca bahasa sasaran, meskipun dengan resiko ada pesan yang menjadi tidak tersampaikan.

Bagaimana dan Mengapa Penerjemah Melakukan Lokalisasi? Menurut Mazi-Leskovar (2003), domestifikasi atau lokalisasi mengacu pada semua perubahan pada semua tingkat teks untuk membuat pembaca sasaran yang berasal dari Negara lain atau tinggal di wilayah geografis yang berbeda dengan pengalaman sosiokultural dan latar belakang budaya yang berbeda bisa memahami teks terjemahan dengan baik. Perubahan pada teks terjemahan dengan demikian merupakan suatu hal yang dirasa oleh pengarang sebagai upaya untuk meningkatkat keberterimaan teks Pada beberapa teks terjemahan novel atau bentuk karya prosa lain, upaya lokalisasi dilakukan antara lain dengan melokalisasi nama-nama tokoh cerita dengan penggunaan nama dengan pengucapan yang lebih mudah diucapkan pembaca. Pada novel Romeo and Juliet, misalnya, pada versi bahasa Indonesia diganti dengan Romi dan Yuli. Perubahan ini tentu dimaksudkan tidak saja agar pembaca Indonesia lebih mudah mengucapkannya, tapi juga agar tokoh-tokoh tersebut terasa lebih dekat dengan kultur pembaca Indonesia. Pada beberapa novel lain bahkan Pada contoh kasus lainnya, misalnya yang dilakukan oleh penerjemah Slovenia, penerjemah mengubah nama tokoh Tom dengan Tomaz, sebuah nama varian yang terdengar lebih akrab bagi pembaca Slovenian. Penerjemah bahkan melakukan domestikasi dengan memperpendek judul, dan, selain mengubah nama tokoh-tokoh hero yang lain, menghilangkan sebagian informasi yang dianggap terlalu detail bagi rata-rata pembaca dan figure-figur politik yang tidak dikenal oleh khalayak Slovenia (Mazi-Leskovar, 2003:5) Pada terjemahan karya sastra tertentu, penerjemah bisa menghubungkan isu sebuah peristiwa atau fenomena social tertentu dalam teks bahasa sumber ke dalam fenomena yang mirip terjadi di dalam masyarakat pembaca bahasa sasaran. Misalnya kasus perbudakan masyarakat Amerika abad 19 dihubungkan dengan isu perlakuan majikan terhadap buruh. Di sini penerjemah menunjukan bahwa perlakuan buruk para majikan pada buruhnya pada dasarnya adalah sama dengan perbudakan yang terjadi pada masyarakat lain. Pengandaian ini akan membuat pembaca lebih bisa memahami bagaimana situasi masyarakat yang diceritakan di dalam novel dengan membandingkannya dengan situasi riil yang ada dalam kehidupannya. Ini merupakan alat yang ampuh untuk membawa teks terjemahan lebih dekat kepada pembaca target dengan menggambarkan dua situasi yang mirip tapi dengan konteks kultural yang berbeda. Pada sebuah contoh percakapan dua tokoh novel terjemahan dari novel asli berbahasa Inggris yang diterbitkan di Slovenia (diambil dari Mazi-Leskovar) penerjemah berusaha melokalisasi topic percakapan. Versi bahasa Inggris You know, John, that I dont know anything about politics, but I know that I must feed the hungry, clothe the naked, and comfort the desolate. Versi Slovenia (Back translation)

Now, John, I dont know anything about politics, but I can read myBible; and there I see that I must feed the hungry, clothe the naked, and comfort the desolate; and that Bible I mean to follow. (dikutip dari Mazi-Leskovar, 2003:9) Contoh di atas menunjukan bagaimana penerjemah menambahkan unsur-unsur relijiusitas pada teks terjemahannya untuk melokalisasi atmosfir percakapan. Penambahan kata Bible pada percakapan membuat tokoh tokoh dalam cerita nampak relijius sesuai tuntutan masyarakat pembaca Lokalisasi bisa dilakukan untuk memenuhi kaidah sopan santun yang berlaku pasa masyarakat bahasa sasaran. Ada ungkapan-ungkapan tertentu yang kalau diterjemahkan secara harfiah akan menimbulkan ketidakberterimaan secara cultural pada masyarakat bahasa sasaran. Bila seorang penerjemah menjumpai kasus seperti ini, dia harus dengan pandai berusaha mencari padanan terdekat tanpa harus melanggar norma yang dituntut masyarakat bahasa sasaran. Di bawah ini contoh kasus yang diambil dari Suryawinata: Versi bahasa Inggris I was the only guy in the top ten who was not Jewish. (And any one who says it doesnt matter is full of it). Christ, there are dozens of frms who will kiss the ass of a WASP who can merely pass the bar. . Versi bahasa Indonesia Aku satu-satunya orang dalam sepuluh besar yang bukan Yahudi.(Dan siapapun yang berkata kalau itu tidak berpengaruh, sebaiknya diam saja). Ada lusinan biro hukum yang mau melakukan apa saja untuk memperoleh WASP yang lolos dengan nilai pas-pasan (Suryawinata, 63:2000) Pada contoh di atas penerjemah berusaha memperhalus ungkapan kiss the ass dengan ungkapan yang lebih bisa diterima menurut sopan santun masyarakat Indonesia, mau melakukan apa saja. Sebenarnya ada ungkapan yang lebih dekat yaitu menjilat pantat, tetapi mungkin penerjemah memandangnya masih terlalu kasar (Suryawinata, 65:2000). Di sini, juga kita bisa melihat bahwa proses lokalisasi yang dimaksudkan untuk membuat teks terjemahan lebih bisa diterima oleh khalayak pembaca berkaitan dengan nilai-nilai kesopanan dan nilai-nilai budaya lainnya, kadang membuat pesan emosiaonal atau makna ekspresif tidak

tersampaikan. Seperti yang disampaikan oleh Pym (2006) bahwa selalu ada bagian yang hilang ketika seorang penerjemah membuat proses lokalisasi. Lokalisasi mungkin juga dilakukan karena alasan politis atau ideologi. Penerjemah kadang karena alasan tertentu atau pesan dari pihak tertentu menggunakan penerjemahan sebagai alat untuk mendukung atau menyampaikan tujuan dari sebuah ideology yang mereka anut atau yang mereka sukai. Keberadaan ideologi dalam mempengaruhi teks terjemahan dan memberi warna ideologi penganutnya sudah berlangsung lama. Seorang pendukung timor Leste misalkan, apakah mereka akan menyebut pejuang atau separates di dalam teksnya Menurut Fawcett (1998) selama berabad-abad baik lembaga atau perorangan telah menerapkan keyakinan mereka pada teks terjemahan yang mereka produksi. Di sini Fawceet memberi gambaran bahwa apa yang diyakini seorang penerjemah, entah itu keyakinan yang berkaitan dengan ideology maupun keyakinan yang berkaitan dengan pandangan politik tertentu akan secara sadar atau tidak mewarnai teks terjemahannya. Kita menjadi tahu bahwa apakah sebuah penerjemahan dianggap baik atau tidak tergantung pada untuk siapa dan untuk tujuan apa penerjemahan itu dilakukan (Hoed, 2003:15). Pada akhirnya pilihan penerjemah untuk melakukan lokalisasi merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh penerjemah untuk melakukan pendekatan teksnya kepada pembaca bahasa target dengan menggunakan bahasa, istilah maupun deskripsi yang dekat dan lazim dengan masyarakat bahasa target. Tapi, ia tentu akan dibatasi oleh tanggung jawab etika sebagai seorang penerjemah yang bertanggung jawab terhadap keakuratan sekaligus keberterimaan sebuah teks terjemahan. Penutup Ketika berhadapan dengan teks atau istilah atau konsep yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa sasaran, seorang penerjemah mempunyai dua pilihan. Apakah ia akan mempertahankan seperti bentuk aslinya dalam bahasa sumber yang dengan begitu dia mempertahankan keakuratan teks atau ia berusakha menggunakan sesuatu yang sudah dikenali oleh pembaca meskipun dengan resiko keakuratan penerjemahan menjadi berkurang Ada berbagai alasan kenapa seorang penerjemah melakukan lokalisasi bisa karena alas an agar teks terjemahan lebih mudah dipahami oleh khalayak pembaca. Bisa juga seorang penerjemah melakukan strategi lokalisasi karena alasan nilai-nilai kultural, misalnya karena alasan kesopanan bahasa sasaran yang tidak memungkinkan penerjemah menerjemahkan teks bahasa sumber secara apa adanya, tapi harus memperhalusnya dengan ungkapan local yang lebih diterima. Alasan lain yang melatarbelakangi proses lokalisasi adalah alas an ideologi atau alasan politik. Ideology dan politik yang diyakini penerjemah akan ikut mempengaruhi hasil terjemahannya. DAFTAR PUSTAKA Brown, Dan. 2003. The Da Vinci Code (Novel). New York: Doubleday.

_________. 2003. The Da Vinci Code (Novel terjemahan). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. Fawcett, Peter 1998. Strategies on Translation in Baker. Encyclopedia of Translation Studies. London& NewYork : Routledge: 107 Hatim, Basil & Jeremy Munday. 2004. Translataion; An Advance resource Book. Guildfork, UK:University of Surrey Hoed, Benny. 2003. Ideologi dalam Penerjemahan . konas Penerjemahan. Solo

Larson, Mildred A. 1984. Meaning-Based Translation. Lanham: University Press of America. Machali, Rochayah. 2000. Pedoman bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo. Mazi, Darja. Leskovar. 2003. Domestication and Foreignization in Translating American Prose for Slovenian Children. Meta Vol XLVIII, 1-2 Suryawinata, Zuchridin & Sugeng Hariyanto. 2003. Translation: Bahasan Teori dan Penuntun Praktis Menerjemahkan. Yogyakarta: Kanisius. Pym, Anthony. 2006. localization in the Perspective of Translation Studies: the digital Devide. Meta 15 May 10 Overlap in

PENERJEMAHAN DAN BUDAYA


By sumardionozy Leave a Comment Categories: Uncategorized PENERJEMAHAN DAN BUDAYA Sumardiono Linguistik Penerjemahan Pascasarjana UNS

Abstract Language is a product of a specific culture. Language, therefore reflect the values and norms of the culture. These reflect in its vocabulary and metaphors. In translataing a text, a translator must take cultural considerations into accounts. A translation without taking cultural aspect into one of the consideration will produse a unacceptable translation. Pengantar Menerjemahkan teks pada dasarnya adalah menerjemahkan budaya karena bahasa pada hakekatnya adalah produk dari budaya tertentu. Budaya tidak saja menyangkut apa yang tampak pada permukaan. Budaya melibatkan nilai-nilai kehidupan dan pergaulan serta apa yang diyakini dari sebuah masyarakat. Budaya adalah gaya hidup manusia biasa yang menyangkut nilai-nilai, keyakinan, dan prasangka yang dimiliki bersama oleh sebuah masyarakat dalam wadah kebahasaan dan kelompok sosial tertentu yang membedakannya dengan kelompok yang lain (Tomasouw, 1986:1.2). Nilai-nilai dan keyakinan serta prasangka budaya itu tentu saja akan terealisasikan dalam bahasa yang bersangkutan. Dengan demikian, menerjemahkan, disadari atau tidak, tidak akan bisa lepas dari tindakan mentransfer budaya. Teks ini akan menjelaskan secara singkat hubungan antara bahasa dan budaya, bagaimana aspekaspek budaya perlu diperhatikan dalam proses penerjemahan serta contoh-contoh penerjemahan yang perlu memperhatikan factor budaya bahasa sumber dan bahasa sasaran; metafora dan culture-specific expression Bahasa dan Budaya Budaya didefinisikan Newmark (1995) sebagai cara hidup dan manifestasinya yang khas dari masyarakat tertentu yang menggunakan bahasa tertentu sebagai alat untuk mengekspresikan. Jadi budaya diekspresikan oleh pendukungnya dengan sebuah media ekspresi yang disebut bahasa. Atau bisa pula kita simpulkan bahwa bahasa adalah budaya verbal dari suatu masyarakat. Budaya adalah ide, bahasa adalah ekspresinya. Sementara, seperti yang dikatakan Larson (1984), bahwa budaya adalah cetak biru sebuah masyarakat. Budaya memberi petunjuk bagaimana orang-orang dalam sebuah masyarakat bersikap dan berperilaku (Tomasouw, 1986:1.3). Budaya mengendalikan perilaku kita di dalam masyarakat dan menempatkan kita pada apa yang disebut status sosial. Budaya memberitahu kita apa yang diharapkan orang lain terhadap kita dan apa yang bisa kita harapkan dari orang-orang di sekeliling kita. Singkatnya, budayalah yang menyatukan orang-orang di dalam sebuah masyarakat. Untuk menjalankan ini semua, budaya membutuhkan sebuah perangkat untuk mengikat antar anggotanya. Perangkat inilah yang menyatukan aggotanya akan nilai-nilai dan norma serta keyakinan mereka. Bahasa mengkomunikasikan nilai-nilai ini di antara anggotanya. Bahasa kemudian tidak saja perangkat yang mengkumunikasikan nilai-nilai itu secara pasif, bahasa pun kemudian merekam apa yang diyakini suatu masyarakat serta nilai-nilai dan norma.

Budaya merupakan latar belakang peristiwa linguistik dengan bahasa sebagai latar depannya. Apa yang tampak dalam panggung linguistik merupakan produk dari budaya yang melatarbelakanginya. Kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa apa yang menjadi aturanaturan kebahasaan sebuah bahasa pada dasarnya adalah realisasi nilai-nilai dan keyakinan masyarakat penutur bahasa tersebuat. Dengan kata lain, kita bisa berkeyakinan bahwa bahasa adalah sebuah cermin besar dari budaya masyarakat penuturnya. Bahasa merupakan ciri yang paling menonjol dari sebuah budaya yang bisa digambarkan sebagai sikap simplistik sebagai totalitas keyakinan dan tindakan suatu masyarakat tertentu (Nida, 2001:13). Pada sebuah budaya yang berkeyakinan bahwa pembeda gender adalah sesuatu yang penting, misalnya, maka bahasa tersebut akan merekam nilai-nilai itu dalam kategori leksikal atau gramatikanya. Sebagian bahasa di dunia merekam keyakinan ini. bahasa Inggris, misalnya mengenal perbedaan kata ganti orang ketiga untuk laki-laki dan perempuan. Lebih jauh, bahasa inggris bahkan membuat perbedaan kata benda tertentu berdasar gender (Wardhaugh, 1997:312). Man-woman, boy-girl, widow-widower, master-mistress adalah sebagian kecil contoh. Di sini bahasa merefleksikan nilai-nilai sosial sebuah masyarakat. Bahasa tidak bisa dilihat sebagai fenomena yang terpisah pada sebuah ruang hampa tapi merupakan bagian integral dari sebuah kebudayaan (Hornby: 1988:39) sebagai bagian integral dari sebuah kebudayaan, bahasa bersifat dinamis, mengikuti dinamika kebudayaan yang menjadi wadahnya. Konsekuensinya, apabila nilai-nilai sosial masyarakat berubah, bahasa pun berubah. Dalam bahasa Inggris saat ini kita menyaksikan banyak kata-kata yang pada awalnya terikat gender seperti contoh di atas tidak dipakai lagi. Pemakai bahasa Inggris kemudian lebih memilih katakata yang tidak bias gender seperti police officer sebagai ganti policeman atau policewoman, chair person sebagai ganti chairman. Ini semua adalah konsekuensi dari perubahan masyarakat dari patriarkis menjadi masyarakat yang tidak lagi menerapkan diskriminasi gender. Ini adalah bukti dari pernyatan Hagfors bahwa semua teks/bahasa terikat oleh tempat dan waktu serta konteks social di mana teks itu diproduksi yang mencerminkan kultur dan jamannya (Hagfors, 2003:3) Bahasa juga mengendalikan cara orang bersikap terhadap orang lain dalam masyarakat tuturnya yang merupakan cermin nilai-nilai relasi sosial dan kekuasan dalam masyarakat tersebut. Budaya Jawa, misalnya, merupakan budaya yang sangat mengatur relasi sosial antar anggotanya yang berdasar status sosial. Bahasa sendiri mencerminkan beragam aspek dari budayanya. Misalnya, budaya yang mengenal kelas social seperti budaya Jawa akan merekam pembagian kelas soial ini dalam bahasa mereka. Nilai-nilai dan norma relasi sosial ini terekam dalam pemakaian level speech dalam bahasa Jawa. Pemakaian level speech atau undha usuk dalam bahasa Jawa mengatur ragam bahasa yang dipakai berdasarkan siapa si pembicara dan siapa yang diajak bicara serta siapa yang sedang dibicarakan. Seseorang dengan status sosial lebih rendah, bisa karena umur, kedudukan dalam pekerjaan maupun dalam masyarakat, akan menggunakan ragam bahasa lebih tinggi untuk berbicara dengan mereka dengan status sosial yang lebih tinggi demikian sebaliknya. Seorang pembicara yang membicarakan seseorang dengan status sosial lebih tinggi juga menuntut

pemakaian ragam bahasa tinggi. Pemakaian ragam bahasa yang tidak tepat akan berakibat si pembicara mendapat cap tidak sopan dan akan menyinggung lawan bicara. Bahasa merupakan alat ekspresi budaya sekaligus individual dari si penutur yang memandang dunia melalui bahasanya (Hornby, 1988:40). Jadi dalam sebuah bahasa terangkum dua ekspresi sekaligus, ekspresi individual dan ekspresi budaya di mana si penutur tinggal. Ketika seseorang berbicara sebenarnya ia sedang mengkomunikasikan dua ide sekaligus, ide yang bersifat individual dan ide dari kebudayaannya. Aspek Budaya dalam Penerjemahan Pada tahun 1923 seorang antropolog bernama Bronislaw Malinowski mengusulkan sebuah istilah yang disebut konteks situasi. Ia mempelajari penduduk pulau Trobriand dan bahasanya Kiriwian. Di sana ia menyadari bahwa untuk memahami percakapan mereka seseorang harus memahami budaya mereka. Dia berpendapat bahwa bahasa hanya bisa dipahami (memiliki makna) bila konteks situasi dan konteks budaya secara implicit atau eksplisit dipahami oleh si pendengar dan si pembicara (Katan, 1999:72). Malinowski merasa bahwa ia harus membuat perubahan dalam menerjemahkan percakapan bahasa Kiriwian ke dalam bahasa Inggris. Dia perlu menambahkan beberapa komentar tentang apa yang implisit dalam bahasa Kiriwian menjadi eksplisit dalam bahasa Inggris. Dia perlu memberi penjelasan secara eksplisit situasi tuturan yang sedang berlangsung, memberi keterangan bahwa tradisi dan keyakinan mereka terekam dalam percakapan mereka dan perlu dipahami ole pendengar dari kultur lain. Hanya dengan memahami faktor-faktor situasi dan kulturallah percakapan mereka akan bisa dipahami (Katan, 1999:72). Bahasa adalah bagian dari budaya, karena itu penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain tidak bisa dilakukan tanpa pengetahuan yang cukup tentang budaya dan struktur bahasa tersebut (Larson, 1984:431). Penerjemah harus mengetahui topic teks yang sedang ia terjemahkan. Ia harus mengetahui latar belakang budaya teks bahasa sumber sekaligus latar belakang budaya teks bahasa sasaran. Tanpa ini semua, teks terjemahan tidak akan bisa menyampaikan makna secara akurat. Penerjemahan adalah transfer makna dari satu perangkat simbol tertentu yang terjadi pada budaya tertentu ..ke dalam perangkat symbol yang lain dalam budaya lain (Dostert dalam Larson, 1984:431) .Penerjemahan, yang melibatkan dua bahasa, tidak bisa terhindar dari pengaruh dua budaya dari dua bahasa yang bersangkutan, yaitu budaya bahasa sumber dan budaya bahasa sasaran (Wong dan Shen, 1999:10). Sehingga bisa dikatakan penerjemahan adalah proses komunikasi interkultural. Karena budaya dan bahasa seperti dua sisi dari koin yang sama, mentransfer bahasa pada hakekatnya juga mentransfer kebudayaan. Seorang penerjemah tidak bisa terhindar dari peran ini; peran sebagai komunikator antar dua budaya yang berbeda. Penerjemah berusaha menjembatani gap kultural antara dua dunia dan membuat sebuah komunikasi memungkinkan terjadi di antara dua komunitas bahasa yang berbeda (Bassnett, 1992:14). Lebih jauh Bassnet menjelaskan bahwa bahasa ibarat hati dalam tubuh budaya sehingga pembedahan hati tidak dapat mengabaikan tubuh yang ada di sekelilingnya. Jadi,

tindakan seorang penerjemah yang memperlakukan teks bahasa sumber terpisah dengan kultur yang melingkupinya adalah sesuatu yang berbahaya. Menerjemahkan pada hakekatnya adalah komunikasi antar budaya. ketika seorang penerjemah menerjemahkan teks dari budaya tertentu ke dalam budaya yang berbeda, dia perlu mempertimbangkan informasi-informasi apa saja yang memungkinkan untuk disampaikan ke dalam teks bahasa sasaran sehingga bisa dipahami pembaca sasaran dan informasi mana yang justru harus disesuaikan dengan kultur bahasa sasaran. Tujuan utama penerjemahan memindahkan teks ke dalam budaya yang berbeda - menimbulkan pertanyaan sampai sejauh mana komunikasi memungkinkan dari satu budaya ke budaya lain dan informasi apa saja yang dapat dikomunikasikan (ST-Pierre, 1997:8) Bila budaya anatara bahasa sumber dan bahasa sasaran mirip, akan lebih sedikit kesulitan yang dijumpai pada proses penerjemahan dan sebaliknya, semakin besar perbedaan budaya di antara keduanya akan semakin besar kesulitan yang dijumpai pada proses penerjemahan. Kemiripan budaya bahasa sumber dan bahasa sasaran akan mengakibatkan pada mudahnya mencari padanan kata perkata yang tepat. Salah satu masalah yang menyulitkan dalam penerjemahan adalah perbedaan budaya antara teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran (Larson, 1984:137). Sebuah kata yang dalam suatu kultur mempunyai konotasi positif mungkin mempunyai konotasi negatif dalam budaya lain. Kata babi misalkan pada masyarakat di pedalaman Papua mempunyai konotasi yang sangat positif. Babi identik dengan kemakmuran dan simbul status sosial yang tinggi. Seorang wanita, dalam, proses perkawinan, bahkan dinilai berdasarkan berapa banyak ekor babi yang ditukar sebagai mas kawinnya. Sementara pada kultur muslim dan Yahudi, babi mempunyai konotasi negative. Babi dicitrakan sebagai simbol kekotoran dan kerakusan sehingga bahkan daging dan bagian lainnya diharamkan untuk dikonsumsi. Penerjemah perlu mempertimbangkan nilai-nilai ini ketika menerjemahkan antar budaya. Seorang penerjemah tidak hanya berhubungan dengan konsep-konsep dari sebuah sisitem budaya, melainkan dua sistem dari budaya yang berbeda (Larson, 1984:96). Setiap bahasa akan memberi label nama secara berbeda pada sebuah realitas yang sama. Perbedaan penamaan ini karena perbedaan cara dua budaya itu memandang sesuatu. Penerjemah akan berusaha seakurat mungkin dan akan mempertimbangkan tiap kata dari teks bahasa sumber dengan hati-hati sampai ia menemukan padanan yang tepat bukan saja padanan dalam rujukan benda secara umum, tapi juga rujukan benda sesuai kontksnya. Ketika kita menerjemahkan kata rice ke dalam bahasa Indonesia, di dalam kamus kita menemukan beberapa padanan sekaligus. Rice bisa mengacu pada empat benda yang berbeda dalam bahasa Indonesia, padi, gabah, beras dan nasi. Penerjemah akan berusaha menggunakan pengetahuannya untuk memutuskan padanan kata mana yang paling tepat untuk mengalihkan makna yang dimaksud dengan mempertimbangkan komponen-komponen makna dari kata rujukan. Kita lihat contoh berikut: (1) Thailand reduces its export on rice recently due to the internal energy (2) The rice was served in a luxurious dish with traditional touch. problem

Pada kalimat (1) penerjemah lewat konteks akan mempertimbangkan dengan pengetahuannya kira-kira padanan apa yang tepat untuk kata rice yang di eksport dari Thailand, apakah padi, gabah, beras, ataukah mungkin nasi demikian juga pada kalimat (2), manakah yang cocok dari padanan rice yang disajikan dengan piring-piring mewah dengan sentuhan tradisional. Penting untuk diingat bahwa padanan yang cocok antara dua bahasa harus dicari bukan padanan kata tersebut secara terpisah tapi dengan cara mengidentifikasi rujukannya secara real lewat konteks situasi dan konteks kultural yang disediakan oleh teks bahasa sumber. Seperti yang dikatakan Larson (1984) bahwa makna hanya ada karena kontrasnya dengan kata lain yang memiliki ciri-ciri yang sama dan kontras dengan apa yang dirujuk dalam konteks situasi tertentu saat kata itu digunakan. Kosa Kata dan Budaya Kita telah memahami bahwa setiap bahasa memiliki konsentrasi kosa kata yang berbeda. Perbedaan ini sangat tergantung dengan budaya, dalam hal ini termasuk mata pencaharian, lokasi geografis, keyakinan dan cara pandang masyarakat pemakai bahasa tersebut terhadap dunia. Setiap masyarakat mempunyai perhatian terhadap kehidupan yang berbeda. Masyarakat pedalaman Papua, misalkan, memusatkan kehidupannya pada berburu dan mengumpulkan makanan serta ritual-ritual adat dari masyarakat berburu dan meramu. Sementara masyarakat di kota-kota pelabuhan memusatkan kehidupannya pada berdagang dan berlayar untuk niaga. Di belahan dunia yang lain, di Amerika, masyarakat memfokuskan kehidupannya pada pekerjaan, mencari uang, olahraga, sekolah dan keluarga. Perbedaan fokus kehidupan ini menciptakan perbedaan dalam kosa kata keseharian mereka Sebuah masyarakat dengan kultur pertanian tentu akan menyimpan lebih banyak kosa kata yang berkaitan dengan bercocok tanam, tumbuhan dan musim dibanding dengan masyarakat dengan kultur berdagang. Bahasa Indonesia dengan kultur masyarakatnya yang agraris memiliki kosa kata tentang padi dan turunannya secara lebih detail dibanding bahasa Inggris. Kata padi, gabah, beras dan nasi, seperti pada contoh di atas, hanya memiliki padanan bahasa Inggris tunggal yaitu rice. Bahasa Inggris tidak menggunakan pembeda keempat kata yang menurut penutur bahasa Indonesia jelas hal yang berbeda. Perhatikan ungkapan di bawah ini: (3) Nasibnya bagai telur di ujung tanduk dalam kompetisi mendatang. (4) He is hanging on a thread in the coming competition. Pesan yang sama diungkapakan dengan cara yang berbeda. Bahasa Indonesia menggambarkan kegentingan dengan ungkapan bagai telur diujung tanduk. Sementara, bahasa Inggris menggambarkannya dengan hanging on a thread, bergantung di seutas benang. Tiap bahasa dengan latar belakang kulturalnya memahami sesuatu dengan cara yang berbeda. Menurut hipotesis Saphir-Whorf dalam Wong (1999) komunitas linguistik yang berbeda memiliki cara yang pengungkapan yang berbeda dalam mengalami, membedakan dan mengkonstruksi realitas. Masing-masing penutur akan menggunakan ungkapan-ungkapan figuratif dengan symbol-simbol dan ungkapan yang dekat dengan kulturnya. Ketika berhadapan dengan ungkapan-ungkapan

demikian, seorang penerjemah harus berusaha seakurat mungkin dan mempertimbangkan tiap kata dari teks bahasa sumber dengan hati-hati sampai ia menemukan padanan yang tepat bukan saja padanan dalam rujukan benda, tapi sekaligus konotasi dan makna figuratif yang ada di dalamnya. Makna Figuratif yang Timbul Karena Budaya; Metafora dan Similie Metafora dan simili sangat berkait erat dengan budaya itulah makanya menerjemahkan metafora dan simili menjadi tidak mudah. Jika sebuah metafora diterjemahkan secara literal hasilnya bisa menjadi sangat fatal karena kata yang menjadi perbandingan memnpunyai makna figuratif yang berbeda pada bahasa sasaran. Kita ambil contoh berikut (3) He is an ox Pada bahasa sumber mungkin ox memiliki makna figurative liar dan jahat, tapi pada bahasa sasaran bisa saja diartikan sebagai gagah atau mungkin pemberani. Di sini kita menjadi tahu bahwa tidak semua metafora mudah dipahami. Jika metaphor diterjemahkan secara literal, kata perkata, ke dalam bahasa ke dua, metafor itu akan disalahartikan (Larson, 1984:150) Metafora dan similie sangat berkaitan erat dengan budaya. metafora yang berkaitan dengan salju misalkan akan sulit ditangkap maksudnya oleh pembaca dari masyarakat yang berasal dari gurun. Perhatikan contoh similie berikut: (4) The cloth is as white as snow (5) Bajunya seputih salju (6) Bajunya seputih tulang (7) Bajunya seputih kapas Variasi penerjemahan pada (5), (6) dan (7) dimungkinkan bila penerjemah menerjemahkan kalimat (4) ke dalam bahasa-bahasa dengan latar belakang budaya yang berbeda. Penerjemah akan mempertahankan kalimat The cloth is as white as snow secara literal menjadi Bajunya seputih salju bila ia mendapati masyarakat pembaca bahasa sasaran masih mengenal salju. Tapi ia akan menerjemahkannya menjadi Bajunya seputih tulang bila pembaca bahasa sasaran mempunyai latar belakang budaya yang tidak mengenal salju tapi, katakanlah, mempunyai budaya peternakan. Pada pembaca target dengan katakanlah latar belakang pertanian, ia mungkin akan menejemahkannya menjadi Bajunya seputih kapas. Menurut Larson (1984) ada beberapa kesulitan yang mungkin kita dapati ketika kita menerjemahkan metafora atau similie. Larson menggambarkan anatomi metafora dan similie yang terdiri dari tiga bagian yaitu topic, image dan point of similarity. Lewat pemahaman anatomi metafora dan similie ini kita akan bisa memecahkan kesulitan penerjemahan metafora yang berkaitan dengan budaya. Pada similie di atas, misalkan, bisa kita gambarkan anatominya sebagai berikut:

the shirt snow white

:topic :image :point of similarity

penerjemah harus mengenali ketiga unsur di atas sebelum ia menerjemahkan sebuah metafora atau similie secara akurat. Pada similie, proses penerjemahan sedikit lebih mudah karena point of similarity sudah disebutkan pada kalimat tersebut. Similie ditandai dengan pemakaian kata seperti, bagaikan atau dalam bahasa Inggris like atau as. Kalimat she is as bright as a star mudah dipahami bahwa topiknya adalah she, sementara star adalah image. Di sini she yang merupakan persona dibandingkan dengan a star dalam hal kecerahannya atau keterangannya sebagai point of similarity. Pada penerjemahan metafora, proses penerjemahan menjadi lebih sulit terutama. Yang pertama, mungkin image yang digunakan pada metafora tidak dikenali pada bahasa sasaran. Misalnya seperti pada kasus di atas ketika penerjemah menerjemahkan kalimat The cloth is as white as snow ke dalam bahasa sasaran dengan latar belakang geografis gurun pasir, misalnya, yang tidak mengenal salju. Kalimat That will be a slam dunk to their failure akan tidak mungkin diterjemahkan ke dalam masyarakat yang tidak popular dengan olahraga bola basket misalnya masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih mengenal olahraga sepakbola dibanding bola basket sehingga penerjemah perlu mengganti image dengan sesuatu yang secara kultural lebih dekat dengan budaya bahasa sasaran. Terjemahan Itu akan menjadi tendangan penalti bagi kekalahannya akan lebih bisa dipahami dari pada penerjemahan literalnya. Di sini kita melihat bahwa image sebuah metafora atau similie sangat berkait erat dengan latar belakang kultural pemakai bahasa. Seorang penerjemah dengan demikian perlu hati-hati dalam mengganti image sebuah metafora dengan sesuatu yang lebih dekat dengan budaya bahasa sasaran. Kesulitan yang kedua pada penerjemahan metafora atau similie adalah apabila topic tidak dinyatakan secara eksplisit. Misalnya pada kalimat The storm againts the parliament, topic dari metaphor tidak diungkapkan secara eksplisit. Storm pada metafora di atas mungkin saja berarti skandal, isu besar atau mungkin protes dari masyarakat. Di sini penerjemah perlu berhati-hati dalam menerjemahkan. Pemahaman konteks secara mendalam mungkin akan sangat membantu dalam menemukan topic seperti yang dimaksud penulis aslinya. Kesulitan berikutnya adalah yang berkaitan dengan point of similarity. Pada similie, proses penerjemahan lebih mudah karena point of similarity diungkapkan secara eksplisit seperti pada contoh (4) sedangkan pada metafora, point of similarity tidak diucapkan secara eksplisit sehingga penerjemah harus pandai-pandai menemukan point of similarity nya. Seperti pada contoh kalimat (3) He is an ox. Ox bisa memiliki makna figuratif liar dan jahat atau bisa juga kuat. Point of similarity bisa dipahami secara berbeda oleh penerjemah yang berbeda

Kesulitan berikutnya yang berkaitan dengan point of similarity adalah apabila point of similarity itu dipahami secara berbeda pada kultur bahasa sumber dan kultur bahasa sasaran (Larson, 1984:251). Image yang sama pada sebuah metaphor bisa mempunyai makna figuratif yang berbeda pada dua bahasa dengan latar belakang Kultural yang berbeda. Ungkapan berikut bisa menjadi contoh (8) My Lord is my shepherd. Pada kultur bahasa sumber mungkin image shepherd dihubungkan dengan sifat kepemimpinan yang bijak. Sebuah figur yang melindungi yang menuntun binatang gembalanya ke jalan yang benar. Ini tentu mudah dipahami pada kultur masyarakat peternakan atau mungkin pertanian atau masyarakat yang mempunyai sejarah komunal demikian. Pada masyarakat dengan kultur yang berbeda mungkin image shepherd perlu dicari padanannya yang sesuai untuk mendapatkan point of similarity seperti yang terdapat pada teks bahasa sumber. Penerjemahan dengan cara memberi perincian secara parafrase mungkin bisa juga mengatasi penerjemahan ekspresi figurative. Meskipun begitu seorang penerjemah tetap harus bisa memahami makna yang ada dibalik metafora dengan memahami image point of similarity seperti yang dimaksudkan teks bahasa sumber. Culture-specific expressions Lotman dalam Bassnet mengatakan bahwa tidak ada bahasa yang bisa bertahan hidup kecuali jika bahasa tersebut berada dalam kontekd cultural tertentu (Bassnett, 1992:14) Meskipun kita hidup di tempat dengan lingkungan material yang mengalami banyak persamaan dan bahasa bahasa yang dipakai manusia berisi ungkapan-ungkapan yang menggambarkan benda-benda ini, misalnya matahari, sungai, hujan, gunung atau anggota-anggota masyarakat seperti, bapak, ibu, saudara, tapi setelah manusia melewati waktu yang panjang dengan kondisi alamnya masing-masing mereka mengenbangkan budaya yang berbeda-beda seperti apa yang mereka persepsikan dalam pikiran mereka. Benda dan realitas yang sama bisa dipersepsikan dengan cara yang berbeda pada masing-masing masyarakat dan budaya sehingga tiap bahasa memiliki banyak sekali ungkapan yang spesifik terhadap budayanya (Wong dan Shen, 1999:11). Orang Melayu menyebut matahari sebagai matanya hari yang artinya kira-kira sesuatu yang membuat kita bisa melihat hari. Sementara, orang Jawa mempersepsikan matahari sebuah benda dan realitas yang sama sebagai srengenge yang artinya sesuatu yang membara, menyala-nyala. Jadi meskipun dua budaya, Melayu dan Jawa, merujuk realitas yang sama, tapi mereka mempersepsikannya dengan cara yang berbeda. Bahasa Inggris memiliki dua kata untuk merujuk kata rumah yaitu house dan home. Dalam bahasa Indonesia kata house dan home diterjemahkan hanya satu kata yaitu rumah. Kultur bahasa Indonesia tidak membedakan antara house dan home sehingga kita sangat kesulitan untuk menerjemahkan kata home ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat akurat karena home lebih dari sekedar rumah. Home adalah rumah yang memberikan seseorang kedamaian dan selalu

dirindukan. Sementara house adalah sekedar rumah dalam bentuk fisik belaka. Seorang pembicara bahasa Inggris akan mengatakan I will go home dan tidak pernah mengatakan I will go house*. Perbedaan persepsi kultur bahasa Indonesia dengan kultur bahasa Inggris menyulitkan seseorang membuat terjemahan secara akurat. Obyek alam yang sama juga digambarkan secara berbeda oleh kultur bahasa Inggris dan kultur bahasa China. Seperti yang dicontohkan Wong dan Shen (1999). Bagi masyarakat barat (bahasa Inggris) selempang awan nebula yang merupakan kumpulan bermilyar-milyar bintang di angkasa disebut Milky Way yang kira-kira artinya jalan susu. Orang barat mempersepsikan galaksi yang berbentuk seperti awan berserak itu sebagai bentangan susu yang tumpah dan membentuk seperti jalan. Sementara kultur bahasa China mempersepsikannya sebagai sungai yang di dalamnya mengalir cairan logam perak. Mereka menamakan benda yang sama yang dilihat orang-orang dengan kultur bahasa Inggris ini Yinhe yang kira-kira artinya sungai perak, silver river. Dua frasa di atas merujuk pada satu benda yang sama tapi mereka mengasosiasikannya sebagai dua hal yang berbeda karena perbedaan latar belakang budaya yang berbeda. Kasus-kasus di atas disebut oleh Lado (1957:118) dalam Wong dan Shen sebagai same meaning, different form. Perbedaan bentuk tapi kesamaan arti terjadi pada ungkapan-ungkapan yang bersifat culture-specific atau culture-coloured. Jadi meskipun kata Milky Way dalam bahasa Inggris sering diganti dengan kata Yinhe sebagai padanannya dalam bahasa China, tapi keduanya akan menimbulkan konotasi yang berbeda ketika digunakan dalam bentuk metaforanya. Kata Milky Way dengan demikian mudah diasosiasikan dengan street/jalan. Tapi bila kata itu diganti dengan padanannya dalam bahasa China Yinhe/silver river maka image dari metafora itu menjadi tidak tepat. Mari kita lihat dua petikan puisi bahasa Inggris berikut yang merupakan terjemahan dari bahasa China yang diambil dari Wong dan Shen (1999). (3) Passing an uneven pass I come aboard the boat UP into the Milky Way, (Tr. Wu Juntao) (4) A thousand starry sails dance in the fading Milky Way. (Tr. Xu Jieyu) Bagi pembaca bahasa Inggris akan terasa aneh membaca dua petikan puisi di atas. Bagaimana kapal/boat/sail berjalan di atas Milky Way yang oleh kultur bahasa Inggris di asosiasikan sebagai jalan. Di sini, seorang penerjemah harus berhati-hati dengan metafora bahasa sumber. Dia mungkin harus menerjemahkannya dengan memberi keterangan tambahan atau mungkin merubah image dari sail/boat/kapal menjadi car/van/mobil sehingga metafora lebih bisa dipahami oleh pembaca bahasa ssasaran Ketika seseorang dari kultur barat mendoakan orang lain, dia akan mengatakan God bless you sementara orang China akan mengatakan Pusa baoyou yang artinya kira kira Semoga sang Budda memberkati.. Sehingga ketika seorang penerjemah menerjemahkan kalimat God bless you ke dalam bahasa China, dia akan menerjemahkannya menjadi Pusa baoyou(Semoga sang Budda memberkati) bukan kalimat yang dalam bahasa China berarti Semoga Tuhan memberkati. Di sini kita melihat bahwa sebenarnya pesan yang yang ingin disampaikan kedua

kultur itu sebenarnya sama, tapi karena mereka mempunyai latar belakang cultural, termasuk nilai-nilai keyakinan, mereka mengungkapkannya secara berbeda Contoh lain tentang bagaimana istilah yang bersifat culture-specific harus diterjemahkan secara hati-hati adalah puisi berjudul Surat dari Oslo karangan Toety Heraty, seorang wanita penyair yang banyak menulis puisi dengan latar belakang kultur Jawa dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John McGlynn. Berikut ini cuplikan beberapa kalimatnya Bahasa Indonesia . lalu kini, siraman air kembang dahulu, midodareni Sebelum esok menghadap penghuluTarub, janur, gamelan dan gending kebogiro . And now, the sprinkle of the water from an earthen jugBefore facing God and his servant tomorrow The nuptial awning, woven palm leaves, the orchestra and wedding songs (Machali, 2000:186-187) Di sini kita melihat banyak sekali istilah-istilah yang sangat tipikal kultur Jawa. Berhadapan dengan istilah-istilah ini si penerjemah rupanya lebih memilih teknik lokalisasi. Ini tentu hak seorang penerjemah untuk apakah akan mempertahankan istilah-istilah yang bersifat culturespecific sehingga cita rasa cultural teks bahasa sumber mewarnai teks bahasa sasaran ataukah ia akan melokalisasi istilah-istilah itu sehingga pembaca lebih mudah memahami dengan resiko ada pesan cultural yang tida tersampaikan dalam teks bahasa sasaran. Penutup Bahasa dan budaya bisa kita andaikan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Bahasa di satu pihak merupakan produk budaya sebuah masyarakat tertentu sementara budaya adalah lahan di mana bahasa tumbuh dan berkembang. Bahasa dengan demikian merekam setiap nilai-nilaI, norma dan keyakinan yang terdapat pada kultur di mana ia tumbuh. Seorang penerjemah yang merupakan mediator interkultural harus memperhatikan aspek-aspek kultural dari teks yang sedang ia terjemahkan. Karena menerjemahkan pada hakekatnya adalah menyampaikan makna bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran di mana makna itu sendiri sangat terikat oleh kultur

masyarakat penuturnya, seorang penerjemah mesti memilki kompetensi cultural ke dua bahasa secara memadai. Tanpa kompetenti ini ia tidak akan berhasil memproduksi teks terjemahan yang tidak akurat dan berterima. DAFTAR PUSTAKA Bassnett, Susan. 1992. Hagfors, Irma. 2003. The Translation of Culture-Bound Elements into Finnish in the War Period. Meta, Vol XLVIII, 1-2, Hornby. Mary Snell. 1988. Translation Studies; An Integrated Approach. Amstredam/Philadelpia: John Benyamin Publishing Company Katan, David. 1999. Translating Cultures; An Introduction to Translator, Interpreter and Mediator. Danvers: St. Jerome Publishing. Larson, Mildred A. 1984. Meaning-Based Translation. Lanham: University Press of America. Machali, Rochayah. 2000. Pedoman bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo. Newmark, Peter. 1995. A Text Book of Translation. Hertfordsire: Phoenix ELT Nida, Eugene. 2001. Context in Translating. Amsterdam /Philadelpia: John Benyamin Publishing Company. ST-Pierre, Paul. Senapatis, Fakir Mohan. Guntha, Chna Mana. 1997. Translating Difference. Meta Vol XLILI, 2 Culture Post-

Tomasouw, Pauline. 1986. Cross Cultural Understanding . Jakarta: Penerbit Karunika Jakarta. Wardhaugh, Ronald. 1997. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Publisher Ltd. Wong, Dongfeng. Shen. 1999. Factors Influencing the Process of Tra Blackwell