You are on page 1of 21

RESUME PELAPORAN DAN AKUNTANSI KEUANGAN

PENDAPATAN DAN BEBAN

OLEH ILMA HUDALINA FUMASA RAHMA SARI YUNITA RAISA 11 158 005 11 158 007 11 158 008

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS 2011

PENDAPATAN DAN BEBAN A. PENDAPATAN 1. Pengertian Pendapatan Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode jika arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal (PSAK 23 Paragraf 6).

Pendapatan adalah penghasilan yang timbul selama dalam aktivitas normal entitas dan dikenal dengan bermacam-macam sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, dan royalti. (Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan).

Pendapatan hanya terdiri atas arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh perusahaan untuk dirinya sendiri. Jumlah yang ditagih atas nama pihak ketiga seperti pajak pertambahan nilai bukan merupakan manfaat ekonomi yang mengalir ke perusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas sehingga tidak diakui sebagai pendapatan.

Secara garis besar, konsep pendapatan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu : a. Menurut Ilmu Ekonomi Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi. b. Menurut Ilmu Akuntansi
2

Ada beberapa pandangan, diantaranya : Vernon Kam berpendapat bahwa, pendapatan adalah kenaikan kotor dalam jumlah atau nilai aset dan ekuitas, dan biasanya kenaikan tersebut berwujud aliran kas masuk ke unit usaha. Aliran kas masuk ini terjadi terutama akibat penciptaan melalui produksi dan penjualan output perusahaan.
-

FASB SFAC No.6 menekankan pengertian pendapatan pada arus masuk penambahan lain atas aktiva suatu entitas atau penyelesaian kewajibankewajibannya atau kombinasi keduanya yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, pemberian jasa atau kegiatan-kegiatan lain yang merupakan operasi inti.

Permasalahan utama dalam akuntansi pendapatan adalah menentukan saat pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui bila kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke entitas dan manfaat ini dapat diukur dengan andal.

2. Karakteristik Pendapatan Ada beberapa karakteristik tertentu dari pendapatan yang menentukan atau membatasi bahwa sejumlah rupiah yang masuk ke perusahaan merupakan pendapatan yang berasal dari operasi perusahaan. Karakteristik ini dapat dilihat berdasarkan : a. Sumber pendapatan Jumlah rupiah perusahaan bertambah melalui berbagai cara tetapi tidak semua cara tersebut mencerminkan pendapatan. Tambahan jumlah rupiah aktiva perusahaan dapat berasal dari transaksi modal, laba dari penjualan aktiva yang bukan barang dagangan seperti aktiva tetap, surat berharga, ataupun penjualan anak atau cabang perusahaan, hadiah, sumbangan atau penemuan, revaluasi aktiva tetap, dan penjualan produk perusahaan. b. Produk dan kegiatan utama perusahaan

1. Produk perusahaan mungkin berupa barang ataupun dalam bentuk jasa. 2. Perusahaan tertentu mungkin sekali menghasilkan berbagai macam produk baik berupa barang atau jasa atau keduanya yang sangat berlainan jenis maupun arti pentingnya bagi perusahaan. c. Jumlah rupiah pendapatan dan proses penandingan Pendapatan merupakan jumlah rupiah dari harga jual per satuan kali kuantitas terjual. Perusahaan umumnya akan mengharapkan terjadinya laba yaitu jumlah rupiah pendapatan lebih besar dari jumlah biaya yang dibebankan.

3. Ruang Lingkup Pendapatan timbul dari transaksi dan peristiwa ekonomi, seperti : a. Penjualan Barang Meliputi barang yang diproduksi perusahaan untuk dijual dan barang yang dibeli untuk dijual kembali, seperti barang dagangan yang dibeli pengecer atau tanah dan properti lain yang dibeli untuk dijual kembali. b. Penjualan Jasa Biasanya menyangkut pelaksanaan tugas yang secara kontraktual telah disepakati untuk dilaksanakan selama suatu periode waktu yang disepakati oleh perusahaan. Jasa tersebut dapat diserahkan selama satu atau lebih dari satu periode. c. Penggunaan aset perusahaan oleh pihak lain menimbulkan pendapatan dalam bentuk :
-

Bunga, yaitu pembebanan untuk penggunaan kas dan setara kas atas jumlah terutang kepada perusahaan.

Royalti, yaitu pembebanan untuk penggunaan aset jangka panjang perusahaan misalnya paten, merek dagang, hak cipta, dan piranti lunak komputer.

Dividen, yaitu distribusi laba kepada pemegang investasi ekuitas sesuai dengan proporsi mereka dan jenis modal tertentu.

Perjanjian sewa. Pertumbuhan alami dari ternak dan hasil pertanian, dll.

4. Pengukuran Pendapatan Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Biasanya timbul dari transaksi persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau pengguna aset tersebut. Jumlahnya diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah discount dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan. Bila barang atau jasa dipertukarkan (barter) untuk barang atau jasa dengan sifat dan nilai yang sama, maka tidak dianggap sebagai pendapatan, terkecuali bila barang/jasa tidak serupa, maka mengakibatkan pendapatan.

5. Pengakuan Pendapatan a. Pendapatan diakui berdasarkan dua kriteria :


-

Pada saat direalisasi atau dapat direalisasi (terjadinya pertukaran dengan kas atau klaim atas kas).

Pada saat dihasilkan (penyelesaian atau penyelesaian yang sebenarnya dari proses menghasilkan laba)

b. Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dan manfaat dapat diukur dengan andal. c. Pendapatan dari penjualan barang diakui jika seluruh kondisi berikut dipenuhi : Entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan barang secara signifikan kepada pembeli.
5

Entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan kepemilikan atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual.

Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal. Kemungkinan besar manfaat ekonomi yang terkait dengan transaksi tersebut akan mengalir kepada entitas tersebut, dan

Biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi penjualan tersebut dapat diukur dengan andal.

d. Pendapatan diakui hanya bila besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir kepada perusahaan. e. Bila suatu hasil transaksi yang meliputi penjualan jasa dapat diestimasi dengan andal, pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut harus diakui dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca dan hasil suatu transaksi dapat diestimasi apabila seluruh kondisi berikut terpenuhi : Jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal. Besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan. Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur dengan andal. Biaya yang terjadi untuk transaksi dan untuk menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur dengan andal. f. Pendapatan yang timbul dari penggunaan aset perusahaan oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen harus diakui atas dasar : Bunga harus diakui atas dasar proporsi waktu yang memperhitungkan hasil efektif aset tersebut.

Royalti harus diakui atas dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan

Dalam metode biaya atau cost method, dividen tunai harus diakui bila hak pemegang saham untuk menerima pembayaran ditetapkan.

6. Pengakuan Pendapatan untuk Transaksi Penjualan Khusus a. Waralaba Dalam akuntansi untuk penjualan waralaba, perusahaan harus menganalisis transaksi itu dan, dengan mempertimbangkan semua situasi, harus menggunakan pertimbangan dalam memilih serta menerapkan satu atau lebih dasar pengakuan pendapatan, dan kemudian, memantau situasinya selama periode waktu yang panjang. Ada empat jenis perjanjian waralaba yang berkembang : 1. Pabrikan-pengecer 2. Pabrikan-grosir 3. Sponsor jasa-pengecer 4. Grosir-pengecer Kategori waralaba yang paling cepat pertumbuhannya, dan yang menyebabkan akuntansi yang sesuai ditelaah kembali, adalah kategori ketiga, yaitu sponsor jasapengecer (service sponsor-retailer). Termasuk dalam kategori ini adalah industri dan bisnis seperti toko es krim lembut/yoghurt beku, drive-in makanan, restoran, motel, penyewaan mobil, dan lainnya. Perusahaan waralaba memperoleh pendapatannya dari salah satu atau kedua sumber ini : 1. Dari penjualan waralaba awal dan aktiva atau jasa terkait, dan

2. Dari iuran (fee) berkesinambungan yang didasarkan pada pengoperasian waralaba. Franchisor (pihak yang memberikan hak bisnis dalam waralaba) biasanya memberikan kepada franchisee (pihak yang mengoperasikan bisnis waralaba) jasajasa berikut ini : 1. Bantuan dalam memilih lokasi berupa menganalisis lokasi dan menegosiasikan lokasi. 2. Evaluasi laba potensial. 3. Pengawasan kegiatan konstruksi, seperti mendapatkan pembiayaan, merancang bangunan, mengawasi kontraktor selama pembangunan. 4. Bantuan untuk memperoleh papan nama, perabotan, dan peralatan. 5. Jasa pembukuan dan konsultasi, seperti menyiapkan catatan franchisee, memberikan konsultasi mengenai pajak penghasilan, real estat, dan pajak lainnya, memberikan konsultasi mengenai peraturan daerah setempat yang menyangkut bisnis franchisee. 6. Pelatihan karyawan dan manajemen 7. Pengendalian mutu
8. Iklan dan promosi.

Pada masa lalu, praktik yang standar bagi para franchisor adalah mengakui seluruh iuran waralaba pada tanggal penjualan, baik apakah iuran itu diterima saat ini atau harus ditagih sepanjang suatu periode waktu yang panjang. Sering kali, franchisor mencatat seluruh jumlah itu sebagai pendapatan pada tahun penjualan meskipun masih banyak jasa yang harus dilakukan serta ada ketidakpastian menyangkut penagihan keseluruhan iuran. Namun, perjanjian waralaba dapat menetapkan pengembalian pembayaran kepada franchisee jika kondisi-kondisi tertentu tidak terpenuhi, dan laba iuran waralaba dapat menurun secara drastis akibat biaya
8

kewajiban dan jasa yang harus diberikan oleh franchisor di masa depan. Untuk menghambat penyalahgunaan pengakuan pendapatan yang terjadi saat itu serta untuk menstandardisasi praktik akuntansi dan pelaporan dalam industri waralaba, FASB mengeluarkan Statement No. 45, yang merupakan bentuk dasar akuntansi waralaba 1. Iuran Awal Waralaba Iuran awal waralaba (initial franchise fee) merupakan pembayaran untuk membentuk suatu hubungan waralaba dan penyediaan berbagai jasa awal. Iuran awal waralaba dicatat franchisor sebagai pendapatan hanya bila dan ketika franchisor secara substansial melaksanakan jasa-jasa yang wajib ia laksanakan dan penagihan iuran dapat dipastikan secara layak. Pelaksanaan yang substansial (substantial performance) terjadi bila franchisor tidak lagi memiliki kewajiban untuk mengembalikan kas yang telah diterima atau membebaskan semua wesel yang belum dibayar serta telah melakukan semua jasa awal yang disyaratkan dalam kontrak. Menurut SFAS No. 45, dimulainya operasi oleh franchisee harus dianggap sebagai titik paling awal terjadinya pelaksanaan yang substansial, kecuali dapat diperlihatkan bahwa pelaksanaan yang substansial atas semua kewajiban, termasuk jasa-jasa yang diberikan secara sukarela, telah terjadi sebelum saat itu.

2. Iuran Waralaba yang Berkesinambungan Iuran waralaba yang berkesinambungan (continuing franchise fee) diterima sebagai imbalan atas hak berkesinambungan yang diberikan oleh perjanjian waralaba dan atas penyediaan jasa seperti pelatihan manajemen, iklan dan promosi, bantuan hukum, serta dukungan lainnya. Iuran yang berkesinambungan harus dilaporkan franchisors sebagai pendapatan pada saat dihasilkan dan dapat ditagih dari franchisee, kecuali jika sebagian dari iuran itu dikhususkan untuk tujuan tertentu, seperti penyisihan sejumlah tertentu untuk perawatan bangunan atau iklan lokal. Dalam hal ini, bagian yang ditangguhkan merupakan jumlah

yang cukup untuk menutup estimasi biaya yang melebihi iuran waralaba berkesinambungan dan memberikan laba yang layak atas jasa yang berlanjut itu.

3. Pembelian dengan Harga Murah Selain membayar iuran waralaba yang berkesinambungan, franchisee sering kali juga membeli beberapa atau semua peralatan dan perlengkapan mereka dari franchisor. Franchisor akan memperhitungkan penjualan ini sama seperti penjualan produk lainnya. Namun, kadang-kadang perjanjian waralaba memberikan hak kepada franchisee untuk melakukan pembelian dengan harga murah (bargain purchase) atas peralatan atau perlengkapan setelah iuran awal waralaba dibayarkan. Bila harga murah ini lebih rendah daripada harga jual normal produk yang sama, atau bila harga tersebut tidak memberi franchisor laba yang layak, maka sebagian dari iuran awal waralaba harus ditangguhkan. Bagian yang ditangguhkan dihitung sebagai penyesuaian harga jual bila franchisee kemudian membeli peralatan atau perlengkapan. 4. Opsi untuk Membeli Perjanjian waralaba mungkin saja memberi franchisee opsi untuk membeli bisnis franchisee. Sebagai kebijakan manajemen, franchisor mungkin memegang hak untuk membeli outlet waralaba yang menguntungkan, atau membeli outlet yang sedang menghadapi kesulitan keuangan. Jika pada saat opsi diberikan besar kemungkinan franchisor akan membeli outlet tersebut, maka iuran awal waralaba tidak boleh diakui sebagai pendapatan, tetapi harus dicatat sebagai kewajiban. Ketika opsi digunakan franchisor, kewaijiban itu akan mengurangi investasi franchisor dalam outlet itu. 5. Biaya-biaya Franchisor

10

Akuntansi waralaba juga menyangkut akuntansi yang tepat untuk biaya-biaya franchisor. Tujuannya adalah untuk menandingkan biaya dan pendapatan terkait dengan melaporkannya sebagai komponen laba dalam periode akuntansi yang sama. Franchisor biasanya harus menangguhkan biaya langsung (biasanya biaya inkremental) yang berkaitan dengan penjualan waralaba tertentu yang pendapatannya belum diakui. Akan tetapi, biaya tidak boleh ditangguhkan tanpa mengacu pada pendapatan yang diantisipasi dan kemungkinan realisasinya. Biaya tidak langsung yang bersifat teratur dan berulang seperti beban penjualan dan administrasi yang tetap timbul berapapun tingkat penjualan waralaba harus dibebankan pada saat terjadinya.

6. Pengungkapan oleh Franchisor Franchisor harus mengungkapkan semua komitmen dan kewajiban signifikan yang timbul dari perjanjian waralaba, termasuk penjelasan mengenai jasa-jasa yang belum dilaksanakan secara substansial, harus dilakukan. Setiap penyelesaian ketidakpastian mengenai ketertagihan iuran waralaba harus diungkapkan. Iuran awal waralaba harus dipisahkan dari pendapatan iuran waralaba lainnya apabila jumlahnya signifikan. Bilamana mungkin, pendapatan dan biaya yang berkaitan dengan outlet yang dimiliki franchisor harus dibedakan terhadap pendapatan dan biaya yang berkaitan dengan outlet yang diwaralabakan.

b. Konsinyasi Dalam beberapa perjanjian, penyerahan barang dari pabrikan (atau pedagang grosir) kepada dealer (atau pengecer) tidak dianggap sebagai pelaksanaan sepenuhnya dan sebagai penjualan karena pabrikan masih memegang hak atas barang tersebut. Metode khusus untuk memasarkan jenis produk tertentu ini memanfaatkan suatu cara yang dikenal sebagai konsinyasi. Menurut perjanjian ini, consignor (pabrikan) mengirimkan barang dagang kepada consignee (dealer), yang bertindak sebagai agen
11

bagi consignor dalam menjual barang dagang itu. Baik consignor maupun consignee berkepentingan dalam penjualan ituyang pertama untuk mendapatkan laba atau mengembangkan pasar, sementara yang kedua untuk mendapatkan komisi atas penjualan itu. Consignee menerima barang dagang dan setuju untuk dengan cermat menjaga serta menjual barang tersebut. Kas yang diterima dari pelanggan dikirimkan kepada consignor oleh consignee, setelah dikurangi komisi penjualan dan semua beban yang dapat dikenakan. Suatu versi dasar penjualan yang dimodifikasi untuk pengakuan pendapatan digunakan oleh consignor. Yaitu, pendapatan hanya diakui setelah consignor menerima pemberitahuan penjualan dan pengiriman kas dari consignee. Barang dagang itu sepanjang konsinyasi tercatat sebagai persediaan consignor, dan secara terpisah diklasifikasikan sebagai Barang Dagang atas Konsinyasi. Barang tersebut tidak dicatat sebagai aktiva dalam pembukuan consignee. Pada saat barang dagang itu terjual, consignee mempunyai kewajiban sebesar jumlah bersih yang terutang kepada consignor. Consignor secara periodik menerima dari consignee sebuah laporan penjualan (account sales) yang memperlihatkan barang dagang yang diterima, barang dagang yang terjual, beban yang dapat dikenakan pada konsinyasi, serta kas yang dikirimkan. Saat itulah pendapatan diakui oleh consignor. Dalam perjanjian konsinyasi, pabrikan (consignor) menerima risiko bahwa barang dagang mungkin tidak terjual dan membebaskan dealer (consignee) dari keharusan mengkomitmenkan sebagian dari modal kerjanya dalam persediaan. Berbagai sistem dan judul akun yang berbeda dipakai untuk mencatat konsinyasi, tetapi semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu menunda pengakuan pendapatan sampai diketahui bahwa penjualan kepada pihak ketiga sudah terjadi. 7. Analisis dan Interpretasi Keuangan IAS 18 (Pendapatan)
a. Laba akuntansi dihasilkan ketika pendapatan dan beban terkait diakui dalam suatu

laporan laba rugi. Adalah prinsip pengakuan dan penandingan (matching principle) yang menentukan saat terjadinya pendapatan dan beban. IAS 18 menetapkan kriteria
12

yang harus dipenuhi sebelum pendapatan dihasilkan (dan pada akhirnya diakui) dalam laporan keuangan berbasis IFRS. b. Ketika suatu perusahaan dengan sengaja melakukan distorsi terhadap hasil keuangan atau kondisi keuangan atau keduanya, perusahaan tersebut telah terlibat dengan manipulasi keuangan. Secara umum, perusahaan yang melakukan kegiatan seperti itu bermaksud untuk menyembunyikan masalah operasionalnya. Pada saat kegiatan tersebut diketahui, perusahaan tersebut akan menghadapi akibat seperti hilangnya kepercayaan investor kepada pihak manajemen perusahaan dan selanjutnya penurunan harga saham perusahaan. Dua strategi dasar yang menjadi alasan semua manipulasi akuntansi adalah : Untuk menggelembungkan laba periode kini dengan melebihsajikan pendapatan dan keuntungan atau mengurangsajikan beban, dan Untuk mengurangi laba periode kini dengan mengurangsajikan pendapatan atau melebihsajikan beban. Suatu perusahaan mungkin menerapkan strategi ini dengan tujuan untuk menggeser laba ke periode lain yang lebih membutuhkan. c. Strategi manipulasi keuangan yang menyangkut pendapatan secara umum dapat dikelompokkan ke dalam empat bagian : Mencatat pendapatan yang masih diragukan atau mencatat pendapatan lebih awal 1. Mencatat pendapatan untuk jasa yang masih harus disediakan 2. Mencatat pendapatan sebelum pengiriman dilakukan atau sebelum pelanggan memperoleh kendali atas suatu barang 3. Mencatat pendapatan untuk barang-barang yang sebenarnya tidak harus dibayar oleh pelanggan 4. Mencatat pendapatan untuk penjualan yang sengaja dibuat-buat untuk pihak afiliasi
5. Terlibat dengan transaksi (pertukaran) quid pro quo dengan pelanggan 13

Mencatat pendapatan fiktif 1. Mencatat pendapatan atas penjualan yang tidak memiliki substansi ekonomi 2. Mencatat pendapatan yang sebenarnya merupakan pinjaman 3. Mencatat laba investasi sebagai pendapatan 4. Mencatat potongan dari pemasok yang sebenarnya untuk pembelian wajib di masa depan sebagai pendapatan 5. Melaporkan pendapatan yang secara tidak tepat ditahan sebelum proses merger.

Mencatat keuntungan yang hanya terjadi satu kali (sekaligus) untuk meningkatkan laba 1. Secara sengaja menilai kurang aktiva, sehingga mencatat adanya keuntungan atas penjualan. 2. Mencatat keuntungan investasi sebagai pendapatan 3. Mencatat laba atau keuntungan investasi sebagai pengurangan beban 4. Melakukan reklasifikasi akun neraca untuk mencatat laba.

Menggeser pendapatan ke periode di masa depan 1. Membuat akun cadangan yang akan dibalik (dengan dilaporkan sebagai laba) pada periode berikutnya di masa depan 2. Menahan pendapatan sebelum suatu proses akuisisi dan melepaskannya sebagai pendapatan pada periode-periode mendatang.

d. Tidak semua manipulasi memiliki skala penting yang relatif sama bagi investor. Sebagai contoh, penggelembungan nilai pendapatan akan berakibat lebih serius daripada manipulasi yang memengaruhi beban. Perusahaan mengakui bahwa pertumbuhan pendapatan dan konsistensi pertumbuhan tersebut merupakan hal
14

penting bagi kebanyakan investor dalam melakukan penilaian terhadap masa depan (prospek) perusahaan. Oleh karena itu, melakukan identifikasi terhadap pendapatan yang telah digelembungkan nilainya merupakan hal yang sangat penting. Distorsi yang biasa digunakan dapat berupa sesuatu yang relatif tidak berarti hingga sesuatu yang sangat serius dampaknya. e. Tanda-tanda peringatan dini yang akan membantu mengidentifikasikan perusahaan bermasalah adalah : 1. Sedikit atau tidak ada anggota dewan direksi yang independen. 2. Auditor eksternal yang tidak kompeten atau auditor yang tidak independen. 3. Tekanan kompetitif yang sangat berat terhadap manajemen 4. Manajemen yang diketahui atau diduga memiliki karakter yang tidak baik. f. Di samping itu, adalah bijaksana untuk mengamati perusahaan dengan pertumbuhan yang cepat atau perusahaan yang secara keuangan lemah. Seluruh perusahaan yang tumbuh dengan cepat pada akhirnya akan mengalami pertumbuhan yang lambat, dan pihak manajer cenderung tergoda untuk menggunakan trik-trik akuntansi yang akan menciptakan ilusi berupa pertumbuhan cepat yang berkelanjutan. Demikian juga halnya dengan perusahaan lemah yang mungkin menggunakan manipulasi akuntansi untuk membuat investor percaya bahwa masalah perusahaan tidak separah kenyataan sebenarnya. g. Adalah bijaksana pula untuk mengamati perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan untuk publik atau perusahaan yang baru saja melakukan penawaran saham perdana. Perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan untuk publik mungkin saja tidak menggunakan auditor eksternal, sehingga lebih memungkinkan bagi perusahaan untuk lebih fleksibel dalam melakukan praktik-praktik yang meragukan dengan menggunakan auditor atau penasihat yang mungkin pula kurang objektif.

15

B. BEBAN 1. Pengertian Beban Beban adalah penurunan manfaat ekonomi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas (selain penurunan karena distribusi kepada pemilik/penanam modal). Beban adalah harga perolehan barang, jasa dan fasilitas yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan periode berjalan seperti harga pokok penjualan, beban dan biaya operasi, beban di luar usaha, dan pos-pos luar biasa. Dalam akuntansi, setiap expense (beban) adalah cost (biaya), namun tidak setiap cost merupakan expense. Dengan demikian bilamana cost akan diakui atau berubah sebagai expense, tergantung pada saat cost dapat dikaitkan atau dihubungkan dengan manfaat sesuai prinsip matching (dapat saling ditandingkan) antara pengorbanan dengan manfaat. Menurut FASB, expense are outflows or other using up of assets or incurrences of liabilities (or a combination of both) from delivering or producing goods, rendering, services, or carrying out other activities that constitute the entitys on going major or central operation. Dari definisi-definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa umumnya secara normal biaya terjadi karena kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pengeluaran kas. Beban, menurut FASB, berhubungan dengan operasi terbesar atau utama dari perusahaan. Otoritas lain mendefinisikan beban secara lebih luas dengan mencakup habis waktunya biaya operasi dan bukan operasi.

2. Teori Beban
a. Beban mencakup baik kerugian maupun beban yang timbul dalam pelaksanaan

aktivitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa meliputi, misalnya beban pokok penjualan, gaji dan penyusutan. Beban tersebut
16

biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aset seperti kas dan setara kas, persediaan dan aset tetap. b. Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan kewajiban telah terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aset (misalnya, akrual hak karyawan atau penyusutan aset tetap). c. Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh. d. Beban dalam laporan laba rugi atas dasar prosedur alokasi yang rasional dan sistematis. Hal ini sering diperlukan dalam pengakuan beban yang berkaitan dengan penggunaan aset seperti aset tetap, goodwill, paten, dan merek dagang. Dalam kasus semacam itu, beban itu disebut penyusutan atau amortisasi. Prosedur alokasi ini dimaksudkan untuk mengakui beban dalam periode akuntansi yang menikmati manfaat ekonomi aset yang bersangkutan. e. Beban segera diakui dalam laporan laba rugi kalau pengeluaran tidak menghasilkan manfaat ekonomi masa depan tidak memenuhi syarat, atau tidak lagi memenuhi syarat, untuk diakui dalam neraca sebagai aset. f. Beban juga diakui dalam laporan laba rugi pada saat timbul kewajiban tanpa adanya pengakuan aset, seperti apabila timbul kewajiban akibat garansi produk.

C. PSAK 46 (Revisi 2010) Akuntansi Pajak Penghasilan


1. PSAK 46 (revisi 2010) mengatur tentang pajak penghasilan.

2. PSAK 46 (revisi 2010) merevisi PSAK 46 sebelumnya yang dikeluarkan tahun 1997 mengenai Akuntansi Pajak Penghasilan. 3. PSAK 46 (revisi 2010) diadopsi dari IAS 12 per 1 Januari 2009. 4. Tujuan PSAK 46 :
17

PSAK 46 (Revisi 2010) vs PSAK 46 (1997) Perihal PSAK 46 (Revisi 2010) Ruang Lingkup 1. Mencakup pajak domestik dan luar negeri berdasarkan laba kena pajak 2. Mencakup akuntansi untuk perbedaan temporer yang ditimbulkan dari hibah pemerintah dan kredit pajak investasi, tetapi tidak mencakup metode akuntansinya. Definisi aset Aset pajak tangguhan diakui akibat dari : pajak a. Perbedaan temporer dapat dikurangkan tangguhan b. Akumulasi rugi pajak belum dikompensasi c. Akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan, dalam hal peraturan perpajakan mengijinkan Pengakuan aset Manfaat berkaitan dengan rugi pajak yang dan liabilitas ditarik kembali untuk memulihkan pajak pajak kini kini periode sebelumnya diakui sebagai aset Perbedaan Perbedaan temporer kena pajak atas temporer kena pengakuan awal goodwill dikecualikan pajak dari pengakuan liabilitas pajak tangguhan PSAK 46 (1997) Tidak diatur

Tidak mengakui aset pajak tangguhan dari akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan

Tidak diatur

Perbedaan temporer kena pajak untuk aset yang diukur pada nilai wajar Perbedaan temporer kena pajak goodwill

Perbedaan jumlah tercatat aset terevaluasi dengan DPP adalah perbedaan temporer yang menimbulkan liabilitas pajak tangguhan Tidak memperkenankan pengakuan liabilitas pajak tangguhan yang dihasilkan dari perbedaan jumlah tercatat goodwill dan DPPnya karena goodwill diukur sebagai sisa dan pengakuan liabilitas pajak tangguhan akan meningkatkan jumlah tercatat goodwill Terdapat pengaturan perbedaan temporer untuk instrumen keuangan majemuk

Pengecualian pengakuan liabilitas pajak tangguhan yang timbul dari perbedaan temporer kena pajak goodwill yang amortisasinya tidak dapat dikurangkan untuk tujuan fiskal Tidak diatur

Tidak diatur

Pengakuan awal aset atau liabilitas Perbedaan temporer dapat

Tidak diatur

Pengaturan kemungkinan bahwa laba kena Tidak diatur pajak tersedia terhadap perbedaan
18

dikurangkan

Perbedaan temporer dapat dikurangkan goodwill Rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan Investasi pada entitas anak, cabang dan asosiasi dan bagian partisipasi dalam ventura bersama Pengukuran

temporer dapat dikurangkan yang dapat dimanfaatkan ketika terdapat perbedaan temporer kena pajak yang memadai menurut otoritas perpajakan yang sama dan entitas kena pajak yang sama Jumlah tercatat goodwill dari transaksi kombinasi bisnis yang lebih rendah dari DPPnya akan menimbulkan aset pajak tangguhan Kriteria pengakuan aset pajak tangguhan karena akumulasi rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan sama dengan kriteria pengakuan aset pajak tangguhan dari perbedaan temporer dapat dikurangkan Mengakui liabilitas dan aset pajak tangguhan untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan perbedaan temporer dapat dikurangkan

Tidak diatur

Tidak diatur

Tidak diatur

Pos yang diakui di luar laporan laba rugi (pendapatan komprehensif lain dan ekuitas)

Pajak kini dan

Mengukur aset dan liabilitas pajak tangguhan dengan tarif pajak dan DPP konsisten dengan ekspektasi dalam memulihkan atau menyelesaikan aset atau liabilitas. Dalam hal perbedaan perlakuan pajak terhadap pendistribusian laba, aset atau liabilitas pajak kini dan tangguhan diukur dengan tarif pajak terhadap laba yang tidak terdistribusi. a. Pajak kini dan tangguhan diakui di luar laporan laba rugi (OCI atau langsung dibebankan ke ekuitas) jika pajak terkait pos-pos tersebut diakui di luar laporan laba rugi pada periode yang sama atau berbeda/ b. Jumlah transfer secara neto dari pajak tangguhan apabila melakukan transfer surplus revaluasi ke saldo laba dan pelepasan aset tetap. c. Jumlah pemotongan pajak atas dividen dibebankan ke ekuitas sebagai bagian dari dividen Dalam hal terdapat pengurangan pajak

Tidak diatur

Tidak diatur

Tidak diatur
19

tangguhan dari transaksi pembayaran berbasis saham Penyajian

sehubungan dengan remunerasi yang dibayar dengan saham, maka dapat menimbulkan perbedaan temporer Tidak mengatur penyajian tersebut a. Penyajian terpisah aset/liabilitas pajak tangguhan dengan aset/liabilitas pajak kini b. Aset dan liabilitas pajak tangguhan tidak boleh disajikan dalam aset dan liabilitas lancar dalam neraca a. Memperbolehkan saling hapus aset pajak kini terhadap liabilitas pajak kini tanpa persyaratan b. Tidak mengatur saling hapus untuk pajak tangguhan Tidak diatur

Saling hapus

Mengatur syarat diperbolehkannya saling hapus atas aset pajak kini/tangguhan terhadap liabilitas pajak kini/tangguhan

Penyajian Beban Pajak

Penyajian terpisah untuk beban (penghasilan) pajak terkait laba rugi dari aktifitas normal jika menggunakan laporan laba rugi terpisah

D. PSAK 25 (Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan)

Perihal Pemilihan kebijakan akuntansi

Definisi

PSAK 25 (Revisi 2009) a. Mengatur persyaratan pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi b. Memberikan panduan pemilihan kebijakan akuntansi ketika tidak ada SAK yang secara spesifik berlaku untuk transaksi, peristiwa atau kondisi lainnya a. Mendefinisikan kelalaian pencantuman atau kesalahan penyajian yang material (material omnision and misstatement) b. Mendefinisikan ketidakpraktisan c. Mengeliminasi konsep fundamental errors dan memberikan batasan perbedaan antara fundamental errors dengan other material errors

PSAK 25 (1994) Tidak diatur. Hal ini sebelumnya diatur dalam PSAK 1 (1998).

a. Tidak ada penjelasan yang

cukup mengenai material omnision and misstatement, bahkan di PSAK lain b. Tidak diatur, bahkan di PSAK lain c. Mendefinisikan dan mengatur perlakuan akuntansi terhadap kesalahan mendasar
20

Pengungkapan

Penyajian laba atau rugi neto periode berjalan

Pengungkapan atas perubahan kebijakan akuntansi yang akan datang ketika entitas belum menerapkan suatu PSAK baru yang telah diterbitkan tetapi belum efektif berlaku dan Pengungkapan yang detail atas jumlah penyesuaian yang dihasilkan dari perubahan kebijakan akuntansi atau kesalahan periode awal. Tidak diatur. Hal ini akan diatur dalam PSAK 1 (revisi 2009) : Penyajian Laporan Keuangan

Tidak diatur

Diatur mengenai hal tersebut.

21