You are on page 1of 4

Rudolf Alponso

Anamnese, Pemeriksaan Fisik dan Penunjang ISPA


Anamnese
Anamnese Pribadi o Nama o Umur o Alamat o Pekerjaan o Status perkawinan Anamnese Penyakit o Menanyakan keluhan utama pada pasien atau keluarganya (batuk, batuk berdarah, batuk berdahak, sesak napas, nyeri dada, napas berbunyi) o Menelusuri/ menelaah keluhan utama lebih dalam (OPQRST) o Menelusuri/ menelaah keluhan tambahan/ penyerta (demam, demamnya tinggi atau tidak, berat badan menurun atau tidak, dll) o Menelusuri/ menelaah riwayat penyakit terdahulu, riwayat pengobatan, pemakaian obat sekarang dan riwayat alergi o Menelusuri riwayat penyakit keluarga o Menelusuri riwayat merokok o Menelusuri status sosial o Menanyakan tentang konsumsi alkohol o Menanyakan riwayat pekerjaan

Pemeriksaan Fisik
Observasi Memperhatikan pasien saat masuk ruang periksa, cara berjalan, penampilan wajah dan penampilan fisik Inspeksi o Kepala: mata (adakah ptosis), lidah (adakah sianosis), adakah pernapasan cuping hidung o Kedua tangan (clubbing, sianosis), kedua kaki (edema) o Bentuk dada: fusiform, barrel chest, pigeon chest, funnel chest, kifosis, scoliosis Normal: diameter transversal > diameter anteroposterior o Apakah dada simetris atau tidak o Pola pernapasan (thoraco-abdominal, abdominothoracal) o Ketinggalah bernapas (ada/tidak)

Rudolf Alponso o Pemakaian otot pernapasan tambahan (ada/tidak) o Venetasi/ vena kollateral o Apakah ada pembengkakan di leher dan wajah Palpasi o Palapasi pada kelenjar leher dan region supraclavicular Kelenjar getah bening; Dimulai dari daerah submandibular, tantai yugular (bagian atas, tengah, bawah), supraclavicula, trigonum posterior leher o Perabaan posisi trakea o Meletakkan kedua telapak tangan pada dinding toraks atas kanan dan kiri o Pasien disuruh mengatakan 77 berulang-ulang o Memindahkan posisi telapak tangan pada seluruh dinding toraks (atas tengah, dan ke bawah) o Menilai getaran suara yang terjadi pada dinding toraks o Menilai ekspansi dinding toraks (tangan pada posisi ujung scapula) o Meraba empisema subcutis Perkusi Pada lokasi sekitar diatas Hepar, dilakukan perkusi sambil pasien disuruh ekspirasi dan tahan napas hingga suara perkusi berubah dari sonor ke bedan dan diberi tanda. Kemudian sambil diperkusi, pasien disuruh menarik napas dalam kemudian ditahan dan lokasi perkusi sonor berubah menjadi beda diberi tanda. Auskultasi o Meletakkan stetoskop pada dinding toraks dan pasien diminta untuk melakukan inspirasi dan eksipasi secara terus menerus o Letakkan posisi stetoskop pada seluruh dinding toraks secara sistematis mulai dari lapangan atas, tengah dan bawah dari paru-paru kanan ke paru-paru kiri o Perhatikan apakah terdapat suara tambahan yang terdengar dari stetoskop

Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan sputum biasanya diperlukan jika diduga adanya penyakit paru. Membran mukosa saluran pernapasan berespons terhadap inflamasi dengan meningkatkan keluaran sekresi yang sering mengandung organisme penyebab. Perhatikan dan catat volume, konsistensi, warna dan bau sputum. Pemeriksaan sputum mencakup pemeriksaan : o Pewarnaan Gram, biasanya pemeriksaan ini

Rudolf Alponso memberikan cukup informasi tentang organisme yang cukup untuk menegakan diagnosis presumtif. Kultur sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnosa defmitif. Untuk keperluan pemeriksaan ini, sputum harus dikumpulkan sebelum dilakukan terapi antibiotik dan setelahnya untuk menentukan kemanjuran terapi. Sensitivitas berfungsi sebagai pedoman terapi antibiotik dengan mengidentifikasi antibiotik yang mencegah pertumbuhan organisme yang terdapat dalam sputum. Untuk pemeriksaan ini sputum dikumpulkan sebelum pemberian antibiotik. Pemeriksaan kultur dan sensitivitas biasanya diinstruksikan bersamaan. Basil tahan asam (BTA) menentukan adanya mikobakterium tuberkulosis, yang setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh alkohol asam. Sitologi membantu dalam mengidentifikasi karsinoma paru. Sputum mengandung runtuhan sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat sel-sel malignan. Sel-sel malignan menunjukkan adanya karsinoma, tidak terdapatnya sel ini bukan berarti tidak adanya tumor atau tumor yang terdapat tidak meruntuhkan sel. Tes kuantitatif adalah pengumpulan sputum selama 24 sampai 72jam.

Pengumpulan Sputum Sebaiknya klien diinformasikan tentang pemeriksaan ini sehingga akan dapat dikumpulkan sputum yang benar-benar sesuai untuk pemeriksaan ini. Instruksikan pasien untuk mengumpulkan hanya sputum yang berasal dari dalam paruparu. (Karena sering kali jika klien tidak dijelaskan demikian, klien akan mengumpulkan saliva dan bukan sputum). Sputum yang timbul pagi hari biasanya adalah sputum yang paling banyak mengandung organisme produktif. Biasanya dibutuhkan sekitar 4 ml sputum untuk suatu pemeriksaan laboratorium. Implikasi keperawatan untuk pengumpulan sputum termasuk: o Klien yang kesulitan dalam pembentukan sputum atau mereka yang sangat banyak membentuk sputum dapat mengalami dehidrasi, perbanyak asupan cairan klien. o Kumpulkan sputum sebelum makan dan hindari kemungkinan muntah karena batuk. o Instruksikan klien untuk berkumur dengan air sebelum mengumpulkan spesimen untuk mengurangi kontaminasi sputum. o Instruksikan klien untuk mengingatkan dokter segera setelah spesimen terkumpul sehingga spesimen tersebut dapat dikirim ke laboratorium secepatnya.

Rudolf Alponso

Computed Tomograph (CT) CT digunakan untuk mengidentifikasi massa dan perpidahan struktur yangdisebabkan oleh neoplasma, kista, lesi inflamasi fokal, dan abses. CTscan dapat dilakukan dengan cepat-dalam 20 menit, tidak termasuk proses analisis.Sebelum pemeriksaan, pastikan izin tindakan telah didapatkan dari klien, jawab setiap pertanyaan klien dan keluarga tentang CTscan. Klien dipuasakan, dan jelaskan bahwa pemeriksaan ini sering membutuhkan media kontras. Karena media kontras biasanya mengandung yodium (Juga disebut zat warna), tanyakan klien apakah ia mempunyai alergi terhadap yodium, zat warna, atau kerang. Ingatkan agar klien tidak bergerak selama prosedur, namun ia dapat bercakap-cakap dengan teknisinya. Pemeriksaan Endoskopi Laringoskopi langsung biasanya dilakukan setelah klien mendapat anestesi lokal dengan kokain 10% atau anestesi umum. Satu jam sebelum pemeriksaan klien diberikan sedatif (mis. sekobarbital, meperidin, atau narkotik lainnya) dan atropin sulfat. Pemberian atropin penting sebelum pemberian anestesi lokal maupum umum. Untuk laringoskopi langsung, klien dibaringkan dengan posisi kepala di atas alat penyangga kepala. Laringoskopi mikro yang menggunakan pengoperasian mikroskop sekarang ini makin banyak digunakan. Metode ini memberikan visualisasi binokular lebih baik.Laringoskop adalah tube berlubang yang terbuat dari logam dan dilengkapi dengan pemegang pada ujung proksimal dan mempunyai sumber cahaya pada ujung distalnya, alat ini dimasukkan oleh dokter melalui mulut ke dalam laringofaring, menaikkan epiglotis, dan membuat bagian interior faring mudah diamati. Prosedur bedah minor seperti biopsi atau pengangkatan tumor jinak yang kecil dapat dilakukan dengan instrumenini.Penatalaksanaan keperawatan setelah tindakan laringoskopi termasuk; (1)Pasien dalam status puasa sampai refleks muntah pulih (sekitar 2 jam), (2)Periksa refleks muntah dengan menyentuh bagian belakang lidah secara perlahan menggunakan bilah lidah, dan (3)Jika refleks muntah positif, beri klien sedikit air sebelum diberikan cairan atau makanan lain untuk mencegah aspirasi yang tidak diinginkan.

References: Buku Blok Sistem Respirasi FK UNPRI Asih N G Y, Effendy C. Keperawatan Medikal Bedah Klien Dengan Gangguan Sistem pernapasan. EGC Penerbit Buku Kedokteran.