You are on page 1of 16

Perencanaan dan Citra sebagai Sasaran Humas

Penyusun: Deka Adinova Raden Roro Shinta Felisia SMSA 02-3 Universitas Gunadarma 2011
1

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan karunianya kami mampu menyelesaikan makalah ini yang berjudul "Perencanaan dan Citra sebagai Sasaran Humas". Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada para pembaca tentang model perencanaan humas dan serba-serbi citra yang dibentuk melalui humas. Semoga kiranya makalah ini membantu. Akhir kata, kami para penyusun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Jakarta, 27 November 2011

Penyusun Deka Adinova (11610763) Raden Roro Shinta Felisia (15610481)

Daftar Isi
Kata Pengantar.........................................................................................................................1 Bab I: Model Perencanaan Humas.........................................................................................3 A. Tujuan Pembelajaran.........................................................................................................3 B. Alasan Dilakukannya Perencanaan Humas........................................................................3 C. Model Perencanaan Humas................................................................................................3 1. Pengenalan Situasi.........................................................................................................4 2. Penetapan Tujuan...........................................................................................................6 3. Penentuan Khalayak......................................................................................................7 4. Pemilihan Media dan Teknik-teknik Humas.................................................................7 5. Perencanaan Anggaran................................................................................................10 6. Pengukuran Hasil Kegiatan.........................................................................................10 Bab II: Citra sebagai Sasaran Humas..................................................................................11 A. Pengertian Citra...............................................................................................................11 B. Citra sebagai Sasaran Humas...........................................................................................11 1. Citra Bayangan (Mirror Image)...................................................................................12 2. Citra yang Berlaku (Current Image)............................................................................12 3. Citra Harapan (Wish Image)........................................................................................12 4. Citra Perusahaan (Corporate Image)...........................................................................12 5. Citra Majemuk (Multiple Image).................................................................................13 Bab III: Penutup.....................................................................................................................14 Daftar Pustaka........................................................................................................................15

Perencanaan dan Citra sebagai Sasaran Humas


Bab I Model Perencanaan Humas
A. Tujuan Pembelajaran Tujuan dari pembelajaran bab ini ialah tuk dapat mengetahui dan memahami tentang model perencanaan humas serta pentingnya perencanaan program dalam suatu departemen humas.

B. Alasan Dilakukannya Perencanaan Humas Terdapat empat alasan perlunya dilakukan perencanaan humas sebelum bertindak: 1. Untuk menetapkan target-target operasi humas yang nantinya akan menjadi tolak ukur atas segenap hasil yang diperoleh. 2. Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan berbagai biaya yang diperlukan. 3. Untuk menyusun skala prioritas guna menentukan: a. Jumlah program. b. Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan segenap program humas yang telah diprioritaskan itu. 4. Untuk menentukan kesiapan atau kelayakan pelaksanaan berbagai upaya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai dengan jumlah dan kualitas: a. Personil yang ada. b. Daya dukung dari berbagai peralatan fisik seperti alat-alat kantor, mesin cetak, kamera, kendaraan, dan sebagainya. c. Anggaran dana yang tersedia

C. Model Perencanaan Humas Terdapat enam langkah dalam model perencanaan humas: 1. Pengenalan situasi 2. Penetapan tujuan 3. Penentuan khalayak 4. Pemilihan media dan teknik-teknik humas 5. Perencanaan anggaran 6. Pengukuran hasil kegiatan

1. Pengenalan Situasi Perencanaan Logis Kunci pertama dalam menyusun suatu rencana secara logis adalah pemahaman terhadap situasi yang ada. Sebelum kita merumuskan suatu program humas, kita perlu mengetahui titik awalnya. Untuk memahami situasi, kita memerlukan informasi atau data intelijen. Perlu diadakan suatu studi mengenai situasi-situasi internal maupun eksternal yang dihadapi organisasi sebagai implikasi dari inti kegiatan humas yang senantiasa menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran, menuntut keterbukaan yang memerlukan komunikasi yang baik. Proses Transfer Humas Tujuan paling utama dari kegiatan humas adalah menciptakan pemahaman. Setiap praktisi humas berkewajiban menjadikan khalayak organisasinya memahami produk atau kehadiran organisasi secara keseluruhan. Mereka sama sekali tidak dibebani tugas untuk membuat khalayak tadi menyukai atau mencintai organisasinya. Kalau khalayak bisa memahami kondisi organisasi, meskipun mereka tidak menyukainya, tujuan humas sudah tercapai. Jadi di sini yang harus ditekankan adalah pengertian dan pemahaman. Kompromi yang Diperlukan Dengan menyadari berbagai kesulitan dalam melaksanakan proses transfer humas dari sikap negatif menjadi sikap positif, maka setiap praktisi humas harus selalu realistis, dan jangan sampai terjebak dalam sikap optimisme yang berlebihan. Tidak ada jaminan bahwa ia akan berhasil sepenuhnya. Ada baiknya jika kita menetapkan target yang wajar. Penyelidikan Situasi Guna memahami situasi yang ada, kita perlu mengadakan suatu investigasi atau penyelidikan. Investigasi itu sendiri bisa dilakukan melalui suatu observasi atau melalui suatu studi informasi dan statistik (studi kepustakaan). Tetapi kalau kegiatan itu belum juga
5

memunculkan hasil yang memuaskan, maka kita mau tidak mau harus mengadakan penelitian yang khusus dan mendalam. Pengumpulan Pendapat Salah satu metode yang paling sering digunakan oleh praktisi humas adalah pengumpulan pendapat atau studi sikap (attitude study) dimana seorang pewawancara akan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada sejumlah responden sampel yang dianggap cukup mewakili suatu khalayak yang hendak dituju. Selanjutnya, jawaban mereka dikelompokkan menurut kategori tertentu. Pemecahan Masalah Setelah kita mampu mengenali situasi dengan baik, maka kita juga akan dapat mengenali masalah yang ada serta mencari cara untuk memecahkannya. Humas seringkali juga merupakan suatu kegiatan untuk memecahkan masalah. Antara kegiatan humas dan kegiatan pemecahan masalah memang terkait erat karena kita tidak akan mungkin mengatasi suatu persoalan jika kita tidak memahaminya terlebih dahulu. Metode-metode Pengenalan Situasi Survei-survei yang khusus diadakan untuk mengungkapkan pendapat, sikap-sikap masyarakat atau citra organisasi di mata khalayaknya. Pemantauan berita-berita di media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Tinjauan terhadap angka dan grafik penjualan serta menelaah berbagai indikasi yang terkandung di dalam laporan-laporan tahunan. Tinjauan terhadap kondisi-kondisi persaingan pada umumnya di pasar. Tinjauan terhadap fluktuasi harga-harga saham (jika organisasi anda adalah sebuah perusahaan yang sudah go public), survei terhadap pendapat umum di kalangan para pelaku pasar bursa, penafsiran angka deviden, serta penelaahan data neraca keuangan. Situasi hubungan industri pada umumnya (antara lain terwujud berupa frekuensi pemogokan dan protes terhadap suatu kebijakan dari pihak manajemen yang mencakup berbagai hal seperti angka gaji, fasilitas kerja dan sebagainya). Kondisi dan pengaruh cuaca (jika hal itu memang relevan bagi organisasi anda). Frekuensi keluhan konsumen, penerimaan produk, serta laporan atas hasil uji coba produk di pasar. Diskusi mendalam dengan para petugas penjualan serta para distributor. Tinjauan secara seksama terhadap harga-harga produk dan fluktuasinya.

Kajian secara mendalam terhadap berbagai kekuatan pasar mulai dari yang bersifat ekonomis, sosial, hingga yang berdimensi politis. Sikap-sikap tokoh masyarakat yang merupakan para pencipta atau pemimpin pendapat umum.

2. Penetapan Tujuan Target dari penetapan tujuan humas adalah sebagai berikut: Untuk mengubah citra umum di mata khalayak sehubungan dengan adanya kegiatankegiatan baru yang dilakukan oleh perusahaan. Untuk meningkatkan bobot kualitas para calon pegawai. Untuk menyebarluaskan suatu cerita sukses yang telah dicapai oleh perusahaan kepada masyarakat dalam rangka mendapatkan pengakuan. Untuk memperkenalkan masyarakat kepada masyarakat luas, serta membuka pasarpasar baru. Untuk mempersiapkan dan mengkondisikan masyarakat bursa saham atas rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru atau saham tambahan. Untuk memperbaiki hubungan antara perusahaan itu dengan khalayaknya, sehubungan dengan telah terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan kecaman, kesangsian, atau salah paham di kalangan khalayak terhadap niat baik perusahaan. Untuk mendidik para pengguna atau konsumen agar mereka lebih efektif dan mengerti dalam memanfaatkan produk-produk perusahaan. Untuk meyakinkan khalayak bahwasanya perusahaan mampu bertahan atau bangkit kembali setelah terjadinya suatu krisis. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan perusahaan dalam menghadapi resiko pengambilalihan (take-over) oleh pihak-pihak lain. Untuk menciptakan identitas perusahaan yang baru. Untuk menyebarluaskan informasi mengenai aktivitas dan partisipasi para pimpinan perusahaan organisasi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Untuk mendukung keterlibatan suatu perusahaan sebagai sponsor dari suatu acara. Untuk memastikan bahwasanya para politisi benar-benar memahami kegiatankegiatan atau produk perusahaan yang positif, agar perusahaan yang bersangkutan terhindar dari peraturan, undang-undang, dan kebijakan pemerintah yang merugikan.
7

Untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan riset yang telah dilakukan perusahaan, agar masyarakat luas mengetahui betapa perusahaan itu mengutamakan kualitas dalam berbagai hal.

3. Penentuan Khalayak Sebesar apapun suatu organisasi tidak mungkin menjangkau semua orang. Ia harus menentukan sebagian di antaranya yang sekiranya paling sesuai atau yang paling dibutuhkannya. Dengan jenis dan jumlah khalayak (public) yang lebih terbatas, suatu organisasi akan lebih efisien dalam mengarapnya. Khalayak adalah kelompok atau orang-orang yang berkomunikasi dengan suatu organisasi, baik secara internal maupun eksternal (Frank Jefkins, Public Relations, Erlangga, 1996, hlm 71). Perusahaan-perusahaan industri, komersial, finansial, pelayanan umum, dan transportasi adalah pemakai utama teknik-teknik hubungan masyarakat dalam mencari saling pengertian dengan dan itikad baik dari khalayak mereka. Khalayak suatu perusahaan dapat terdiri atas para karyawan, pemegang saham, konsumen, pelanggan, masyarakat tetangga (sekitar), distributor, para pemimpin pendapat umum, pendidik dan pemerintah. Khalayak-khalayak ini masing-masing mempunyai kepentingan terhadap perusahaan sebagai sumber keuntungan: karyawan menginginkan pekerjaan dan upah; pemegang saham menginginkan deviden; distributor mengharapkan laba; pemasok memerlukan pesanan; masyarakat membutuhkan pajak; dan pendidik serta pemerintah memerlukan dukungan finansial. Beragamnya kepentingan setiap khalayak menuntut program humas khusus. Seperti bagaimana meningkatkan jumlah pelanggan melalui program-program tertentu. Menurut salah seorang pengusaha terkenal di Amerika Serikat, Lew Hahn, sukses yang besar yang diperoleh suatu perusahaan adalah mendapatkan pelanggan. Oleh karena itu seorang Public Realtions Officers dituntut untuk memberikan layanan yang terbaik kepada para pelanggan. Di samping itu, hubungan yang baik antara perusahaan dan karyawannya akan menciptakan itikad baik dari karyawan sehingga meningkatkan efisiensi. Suatu perusahaan juga perlu membina hubungan baik dengan masyarakat, karena hal itu penting dalam menciptakan iklim usaha yang menguntungkan.

4. Pemilihan Media dan Teknik-teknik Humas Contoh: para jurnalis untuk media, dan penyelenggaraan acara resepsi pers untuk tekniknya. Bila kita membandingkan media humas dan media iklan, akan muncul lima hal menarik: 1. Kampanye periklanan dan kampanye humas sama-sama bisa menggunakan berbagai macam media.
8

2. Para praktisi humas berhubungan dengan para editor, jurnalis, serta para produser TV dan radio, sedangkan para praktisi periklanan lebih banyak berhubungan dengan para manager iklan dari berbagai perusahaan, petugas iklan di media massa (radio, koran, televisi, majalah, dan sebagainya). 3. Iklan sifatnya jauh lebih komersial dibandingkan dengan humas. 4. Kampanye periklanan biasanya dilakukan terbatas pada media-media yang bisa diharapkan akan membuahkan hasil maksimal (misalnya lonjakan penjualan) dengan biaya serendah-rendahnya. Sedangkan kampanye humas bersedia menggunakan media apa saja, asalkan bisa menjangkau sebanyak mungkin khalayak. 5. Tidak seperti dunia periklanan, dunia kehumasan dapat menggunakan berbagai media khusus seperti jurnal-jurnal internal, buletin atau sekedar majalah dinding. Variasi Media Humas 1. Media pers (press) Media ini terdiri dari berbagai macam koran yang beredar di masyarakat secara umum, baik yang berskala regional maupun nasional atau bahkan internasional, koran-koran gratis, majalah-majalah, yang diterbitkan secara umum maupun hanya dalam jumlah terbatas untuk kalangan tertentu; buku-buku petunjuk khusus; bukubuku tahunan dan laporan-laporan tahunan dari berbagai lembaga yang sengaja dipublikasikan untuk umum. 2. Audio-visual Media ini terdiri dari slide dan kaset video, film-film dokumenter. 3. Radio Kategori ini meliputi semua jenis radio, mulai dari yang berskala lokal, nasional hingga internasional baik yang dipancarkan secara luas maupun yang dikemas secara khusus. 4. Televisi Televisi sebagai media humas tidak hanya televisi nasional atau regional tapi juga televisi internasional, termasuk pula sistem-sistem teletex. 5. Pameran (exhibition) 6. Bahan-bahan cetakan (printed material) Yakni berbagai macam bahan cetakan yang bersifat mendidik, informatif, dan menghibur yang disebarkan dalam berbagai bentuk guna mencapai tujuan humas tertentu. 7. Penerbitan buku khusus (sponsored books)
9

Isi buku ini bisa bermacam-macam, misalnya saja mengenai seluk-beluk organisasi, petunjuk lengkap mengenai cara penggunaan produk-produknya atau bisa juga mengenai keterangan tentang berbagai aspek yang berkenaan dengan produk atau organisasi itu sendiri. 8. Surat langsung (direct mail) Surat humas seperti ini tidak saja ditujukan kepada tokoh atau pribadi-pribadi tertentu saja, tetapi juga kepada berbagai macam lembaga yang sekiranya relevan, atau untuk dipajang di tempat-tempat umum. 9. Pesan-pesan lisan (spoken words) Penyampaian pesan humas juga bisa dilakukan melalui komunikasi langsung atau tatap muka. 10. Pemberian sponsor (sponsorship) Suatu organisasi atau perusahaan bisa pula menjalankan kegiatan humasnya melalui penyediaan dana atau dukungan tertentu atas penyelenggaraan suatu acara seni, olahraga, ekspedisi, beasiswa universitas, sumbangan amal, dan sebagainya. Kegiatan penyediaan sponsor ini juga sering dilakukan dalam rangka melancarkan suatu iklan atau mendukung usaha-usaha pemasaran. 11. Jurnal organisasi (house jurnals) Suatu bentuk terbitan dari sebuah perusahaan atau organisasi yang sengaja dibuat dalam rangka mengadakan komunikasi dengan khalayaknya. 12. Ciri khas (house style) dan identitas perusahaan (corporate identity) Bentuknya bisa bermacam-macam, tergantung pada bentuk dan karakter organisasinya. Ciri khas organisasi atau identitas perusahaan ini sengaja diciptakan untuk mengingatkan khalayak atas keberadaan dari organisasi yang bersangkutan. 13. Bentuk-bentuk media humas lainnya Misalnya banyak perusahaan sengaja menyisipkan pesan-pesan sosial pada kemasan produknya agar khalayak mengetahui bahwa mereka bukanlah binatang ekonomi yang semata-mata mengejar keuntungan. Media dan Anggaran Para perencana media humas juga harus memperhitungkan media mana yang harus digunakan untuk menjangkau khalayak yang telah dipilih, tentunya sesuai dengan keterbatasan anggaran yang ada.

5. Perencanaan Anggaran
10

Humas merupakan kegiatan yang padat karya, sehingga pos pengeluaran terbesar dihabiskan untuk pemakaian jam kerja alias gaji personil. Pos pengeluaran lain yang cukup besar akan tercipta bila pelaksanaan kegiatan humas itu juga melibatkan pemakaian alat-alat canggih seperti kamera video, komputer, hingga mesin cetak modern. Adakalanya, pos-pos pengeluaran itu dialihkan ke anggaran yang lain misalnya saja ke anggaran dokumentasi. Setiap perencanaan dana humas harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing perusahaan. Apabila dana humas tidak mencukupi bahkan tidak ada sama sekali, maka perusahaan harus mencari sponsor agar bisa menyelenggarakan kegiatan humas yang telah ditetapkan sebelumnya.

6. Pengukuran Hasil Kegiatan Pengukuran Keberhasilan atau Kegagalan Teknik-teknik yang digunakan untuk mengenali situasi sering juga dimanfaatkan guna mengevaluasi berbagai hasil yang telah dicapai dari segenap kegiatan-kegiatan humas yang telah dilaksanakan. Metode pengumpulan pendapat atau uji sikap (attitude test) merupakan dua metode yang paling lazim digunakan. Unsur lain yang bisa digunakan sebagai metode tolak ukur adalah liputan oleh media massa. Sikap-sikap media massa yang lebih simpatik terhadap suatu organisasi bisa pula dipandang sebagai salah satu bukti keberhasilan atas segenap kegiatan humas yang telah dilaksanakan oleh organisasi itu. Contoh-contoh Lain Hasil Humas Setelah kampanye atau program humas usai dilaksanakan, maka guna mengukur hasilnya kita bisa memanfaatkan keempat belas tujuan sebagai suatu tolak ukur atau bahan perbandingan. Hal terakhir yang perlu ditegaskan di sini adalah setiap kegiatan humas harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan profesional. Sebelumnya, segala sesuatunya harus sudah direncanakan secara cermat, dengan mengacu pada tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Segala sesuatunya harus dibuat sepraktis mungkin agar mudah dipahami dan diterima (disetujui) oleh pihak manajemen.

11

Bab II Citra Sebagai Sasaran Humas


A. Pengertian Citra Bila seseorang mendengar kata citra, yang akan ada di benak orang tersebut adalah sebuah gambaran semu mengenai penilaiannya terhadap orang lain, benda atau instansi. Baik tidaknya gambaran tersebut tergantung dari pengalaman atau apa yang didengarnya. Bila pengalaman yang didengarnya itu baik, positif-lah pandangan orang tersebut terhadap orang, benda atau lembaga itu. Sebaliknya bila apa yang didengarnya atau pengalaman yang didengarnya itu buruk, gambaran buruk juga yang akan ia bayangkan pada saat itu. Istilah citra atau dalam bahasa inggris image, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia antara lain mengandung arti gambar, rupa atau gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, produk, sejalan dengan pengertian tersebut. Jallaludin Rakhmat dalam Psikologi Komunikasi mengartikan citra sebagai berikut : Citra sebagai gambaran yang mempunyai makna. Gambaran tersebut merupakan hasil penampakan realitas yang teroganisasikan atau struktur dari info yang diperoleh seseorang atau individu tentang realitas mengenai dunia, tanpa citra kita akan selalu berada pada suasana yang tidak pasti. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus sesuai harus sesuai dengan realitas. Citra adalah dunia menurut persepsi kita. (Rakhmat, 2003 : 221) Dalam kamus komunikasi, Onong Uchjana Effendy mengatakan bahwa citra adalah perwakilan atau refrosentasi secara mental dari sesuatu, baik manusia, benda atau lembaga yang mengandung kesan tertentu. (Effendy, 1998 : 172) Sedangkan Frank Jefkins di dalam Munandar, citra adalah gambaran yang ada dikepala kita, maksudnya adalah gambaran mental yang ada di kepala kita meliputi baik atau buruk, positif atau negatif. (Munandar, 1991 : 26)

B. Citra Sebagai Sasaran Humas Seorang praktisi humas senantiasa dihadapkan pada tantangan dan harus menangani berbagai macam fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu hitam, putih atau abu-abu. Perkembangan komunikasi tidak memungkinkan lagi bagi suatu organisasi untuk menutupnutupi suatu fakta. Oleh karena itu, para personelnya kini dituntut lebih jauh untuk mampu menjadikan orang lain mampu memahami pesan, demi menjaga reputasi atau citra lembaga atau organisasi yang diwakilinya. Ada beberapa jenis citra (image), antara lain: 1. Citra Bayangan
12

2. Citra yang Berlaku 3. Citra Harapan 4. Citra Perusahaan 5. Citra Majemuk (Anggoro, 2000 : 59)

1. Citra Bayangan (Mirror Image) Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar terhadap organisasinya. Citra ini seringkali tidaklah tepat, bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, mengenai pendapat atau pandangan pihak-pihak luar. Citra ini cenderung positif, bahkan terlalu positif.

2. Citra yang Berlaku (Current Image) Citra yang berlaku adalah citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Citra ini merupakan kebalikan dari citra bayangan di mana citra ini biasanya cenderung negative. Namun sama halnya dengan citra bayangan, citra yang berlaku tidak selamanya bahkan jarang, sesuai dengan kenyataan karena semata-mata terbentuk dari pengalaman atau pengetahuan orang-orang luar yang bersangkutan biasanya tidak memadai.

3. Citra Harapan (Wish Image) Citra harapan adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen. Citra ini juga tidak sama dengan citra yang sebenarnya. Biasanya citra harapan lebih baik atau lebih menyenangkan dari citra yang sebenarnya. Citra harapan biasanya dirumuskan dan diperjuangkan untuk menyambut sesuatu yang relatif baru, yakni ketika khalayak belum memiliki informasi yang memadai.

4. Citra Perusahaan (Corporate Image) Citra perusahaan atau disebut juga sebagai citra lembaga adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan citra atas produk dan pelayanannya saja. Citra ini terbentuk oleh banyak hal, seperti sejarah atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilankeberhasilan dibidang keuangan yang pernah diraih, sukses ekspor, hubungan industri yang baik, kesediaan turut memikul tanggung jawab sosial, reputasi sebagai pencipta lapangan pekerjaan dalam jumlah yang besar, dan sebagainya.

13

5. Citra Majemuk (Multiple Image) Citra majemuk adalah jumlah citra yang dimiliki suatu perusahaan, di mana suatu perusahaan atau organisasi pasti memiliki banyak unit dan pegawai, sehingga setiap pegawai secara sengaja atau tidak akan memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau perusahaan secara keseluruhan. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, variasi citra itu ditekan seminim mungkin dan citra perusahaan secara keseluruhan harus ditegakkan. Hal itu dapat dilakukan melalui mewajibkan pegawai memakai seragam, menyamakan mobil dinas, dan pemakaian simbol-simbol tertentu. Citra humas yang ideal adalah kesan yang benar, yakni sepenuhnya berdasarkan pengalaman, pengetahuan serta pemahaman atas kenyataan yang sesungguhnya. Hal ini berarti bahwa suatu citra yang sesungguhnya bisa dimunculkan kapan saja, termasuk di tengah terjadinya musibah atau sesuatu yang buruk. Caranya adalah dengan menjelaskan secara jujur apa yang menjadi penyebabnya, baik itu informasi yang salah atau suatu perilaku yang keliru.

14

Bab III Penutup


Demikian makalah ini kami susun. Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa:
-

Perlunya dilakukan perencanaan humas sebelum bertindak. Terdapat enam langkah dalam model perencanaan humas: pengenalan situasi, penetapan tujuan, penentuan khalayak, pemilihan media dan teknik-teknik humas, perencanaan anggaran, dan pengukuran hasil kegiatan. Ada lima jenis citra (image): Citra Bayangan (Mirror Image), Citra yang Berlaku (Current Image), Citra Harapan (Wish Image), Citra Perusahaan (Corporate Image), dan Citra Majemuk (Multiple Image). Citra humas yang ideal adalah kesan yang benar, yakni sepenuhnya berdasarkan pengalaman, pengetahuan serta pemahaman atas kenyataan yang sesungguhnya. Caranya adalah dengan menjelaskan secara jujur apa yang menjadi penyebabnya, baik itu informasi yang salah atau suatu perilaku yang keliru.

15

Daftar Pustaka
http://minnyminds.wordpress.com/2009/02/06/perencanaan-program-public-relations/ http://komunikasimanajemen.wordpress.com/2011/01/20/public-relations-2/ http://www.anneahira.com/pemasaran-humas.htm

16