You are on page 1of 2

Perkembangan Anak Menurut Islam oleh Resna Anggria Putri, 0906524160

Di seluruh wilayah Arab, sebelum Islam, anak tidak mendapat perlakuan yang baik. Di dalam tradisi sebagian suku bangsa Arab malah terdapat kebiasaan membunuh anak perempuan dengan cara menguburnya dalam keadaan hidup tanpa sedikitpun merasa belas kasihan. Keadaan mereka ini pada waktu itu sama saja dengan hewan yang memakan anaknya. Di wilayah-wilayah lainnya, meskipun tidak menganut tradisi membunuh anak perempuan, berlaku hukum rimba di mana yang kuat mengeksploitasi yang lemah, yang kaya memeras yang miskin dan berbagai kekerasan lainnya tanpa rasa manusiawi. Selain daripada pengharaman pembunuhan anak, Islam, lebih jauh, telah menampilkan ketentuan hukum yang memperlihatkan betapa pentingnya bahkan betapa wajibnya memperhatikan dan merawat anak dengan penuh kasih sayang sejak sebelum dan, apalagi setelah lahir. Ibu yang sedang mengandung, jika merasa berat atau kuatir akan kesehatannya terganggu, dibolehkan berbuka di kala orang lain sedang wajib berpuasa dalam Ramadhan agar menyusukan anaknya selama 2 tahun, jika ia bermaksud supaya penyusunan itu lebih sempurna dan menolong. Jika karena satu dan lain hal ia tidak sanggup menyusukan sendiri anaknya maka suami (dan juga isteri) diharuskan (baca: diwajibkan) mencari ibu lain yang mempunyai air susu agar, dengan upah yang wajar, membantu menyusukan anaknya tersebut sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Islam sama sekali tidak memberi isyarat meskipun tidak mengaramkan atau melarang penggantian air susu ibu dengan air susu kambing, sapi atau susu buatan, melainkan mencari ibu lain, yakni manusia yang memiliki air susu agar anak menghisap air susu manusia, bukan air susu hewan atau susu buatan. Islam mewajibkan suami agar berusaha untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga, termasuk anak, karena dalam hal itu, secara alami, ia lebih kuat dan mampu. Sedangkan isteri dibebankan kewajiban merawat mengasuh anak, karena dalam hal ini ia, secara alami pula, lebih lembut, sabar dan kasih sayang. Dan nanti, setelah anak mencapai umur layak untuk secara wajar dididik, maka ayah kembali terbeban kewajiban mendidiknya, sebab untuk itu, dialah yang biasanya lebih berwibawa dan karenanya lebih bertanggungjawab. Isteri diwajibkan membantu dalam hal mendidik tersebut sehingga tercapai kerjasama yang harmonis dan edukatif dalam rumah tangga.

Nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah, tidak membicarakan secara terjabar cara-cara (metode) pendidikan anak. Ajaran-ajaran yang disampaikannya melingkup segala aspek kehidupan manusia, baik kehidupan jasmani dan rohani maupun kehidupan anak, remaja, dewasa dan orang tua dan bahkan tidak saja kehidupan di dunia melainkan juga di akhirat. Namun, nabi sendiri telah merupakan teladan yang paling utama dalam hal bergaul dan kasih sayang terhadap anak. Keteladannya itu terutama terlihat dalam tingkah laku pergaulannya dengan cucunya. Hasan dan Husin, dua orang putera Ali dari Fatimah binti Rasul Allah, pada waktu keduanya masih kecil. Dalam pergaulannya itu, Nabi telah memperlakukan Hasan dan Husin sebagai anak, sebagai cucu, bukan sebagai manusia dewasa yang kecil. Sehubungan dengan tingkah laku tersebut terdapat beberapa sabda Nabi SAW : Pertama, Barangsiapa mempunyai anak kecil maka hendaklah ia mempergaulinya sebagai anak kecil. Kedua, Mengajarlah, tetapi jangan berlaku kasar, karena guru (harus) lebih baik daripada orang yang kasar. Ketiga, Tanah adalah musim seminya anak-anak. Musim semi membuat tumbuh-tumbuhan berdaun, berbunga dan berbuah. Demikianlah tanah, menurut makna yang terkandung dalam hadits yang tersebut terakhir, membuat anakanak tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu, anak-anak harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk bermain-main dengan tanah dan pasir, sebab dengan begitu ia akan mendapatkan pengalaman berharga yang menunjang bagi pertumbuhan fisik, psikis dan kreatifitasnya. Sabda-sabda Nabi SAW yang mengandung makna memperlakukan anak sebagai anak (bukan sebagai orang dewasa yang berbadan kecil), mengajar anak dengan lembut dan memberi kesempatan baginya untuk bermain-main dengan tanah dan pasir dan banyak sabdasabda lainnya telah merubah pola pikir tradisional orang Arab, khususnya dalam hal mengasuh, merawat dan mendidik anak-anak mereka, baik laki-laki maupun perempuan. Ajaran Islam tentang kasih sayang kepada anak dipatuhi dan diamalkan sepenuhnya oleh mereka sehingga, pada saat yang sama, tertransfer kepada cara mendidik anak oleh orang tua.

Sumber referensi: http://www.scribd.com/doc/18676265/Konsep-Pendidikan-Anak-Menurut-Islam