You are on page 1of 12

Pengantar Arsitektur 1

Rumah Adat Bali


Oleh : Kelompok 8 1. Muhajir Agus Beta Kaprawijoyo 2. Putri Kumalasari Adinegoro 3. Remicha Dwigamie 4. Wina Tristiana 2TB02

Jurusan Teknik Sipil dan Arsitektur Universitas Gunadarma 2011 Arsitektur Tradisional Bali
Arsitektur Tradisional Bali merupakan kombinasi dari hubungan keseimbangan antara Bhuwana Agung (alam semesta, dunia yang lebih besar,) dan Bhuwana Alit (manusia, miniatur kecil).Arsitektur Tradisional Bali mendapat pengaruh campuran budaya Hindu, Cina Buddha, dan kebudayaan Megalitik. Beberapa bagian dari gaya Eropa juga dapat ditemukan dalam Arsitektur Bali.

Nawa Sanga
Nawa Sanga adalah konsep 9 mata angin yang menjadi pedoman bagi kehidupan keseharian masyarakat Bali.Seperti halnya dengan mata angin arah utara selatan yang di sebut Kaja Kelod, dan timur barat yang disebut kangin kaluh.Hal ini sangat penting karena orientasi orang Bali terhadap Gunung Agung dan arah terbit matahari menjadi pedoman bagi perletakan pola perumahan pada umumnya.Utara melambangkan dewa Wisnu, selatan dewa Brahma, timur dewa Iswara dan barat dewa Mahadewa.

Metodologi Arsitektur Bali


Arsitektur tradisional Bali tidak terlepas dari keberadaan Asta Kosala Kosaliyang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri dan aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Dalam asta kosala-kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik rumah dengan dibantu sang undagi sebagai pedande atau orang suci yang mempunyai kewenangan membantu membangun rumah atau pura. Dalam asta kosala-kosali terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas. Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia

dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka.Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.

Pola Ruang Rumah Tinggal


Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak merupakan satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut konsep arah angin dan sumbu gunung Agung. Hal ini terjadi karena hirarki yang ada menuntut adanya perbedaan strata dalam pengaturan ruangruang pada rumah tinggal tersebut.Seperti halnya tempat tidur orang tua dan anak-anak harus terpisah, dan juga hubungan antara dapur dan tempat pemujaan keluarga.Untuk memahami hirarki penataan ruang tempat tinggal di Bali ini haruslah dipahami keberadaan sembilan mata angin yang identik dengan arah utara, selatan, timur dan barat. Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke gunung Agung adalah lokasi utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai untuk meletakkan tempat pemujaan atau di Bali di sebut pamerajan. Sebuah rumah tradisional Bali terdiri dari sembilan bangunan yang memiliki fungsi berbeda. Bangunan yaitu: Sanggah / Merajan, Meten / Bale Daja, Bali Dangin / Bale Gede, Bale Dauh, Sake Enem, Paon / Pewaregan, Jineng, Angkul-angkul, dan Aling-aling. SANGGAH / MERAJAN / PAMERAJAN Sanggah / Merajan / Pamerajan adalah kuil yang didedikasikan untuk berdoa kepada Tuhan dan leluhur keluarga.Sanggah terletak di daerah Utama (sisi timur laut) dari rumah, seperti yang diceritakan pada konsep Tri Mandala.

METEN / BALE DAJA

Meten Daja / Bale adalah bangunan untuk anggota keluarga tertua. Meten terdiri dari satu kamar tidur dan teras. Bangunan ini terletak di daerah Utama (sebelah utara rumah), karena anggota keluarga yang lebih tua dianggap sebagai kepala keluarga yang harus dihormati. Di bangunan ini, terutama pada pintu dan jendela, Anda akan melihat beberapa relief merak atau lembu Bali. Kerbau adalah salah satu hewan suci dan digunakan sebagai simbol untuk orang terhormat, seperti juga terlihat dalam budaya India.Sementara itu, burung merak adalah simbol dari orang terhormat dalam budaya Cina.

BALE DAUH Bale Dauh adalah bangunan untuk semua anggota keluarga, kecuali yang tertua, yang terletak di daerah Madya (sisi barat rumah). Bale Dauh terdiri dari beberapa kamar tidur dan satu teras. Ukuran Bale Dauh biasanya lebih besar dari yang lain. Relief tanaman dapat ditemukan di banyak bagian bangunan ini yang melambangkan kemakmuran dan kesatuan unit keluarga.

BALE DANGIN / BALE GEDE Bale Dangin adalah sebuah bangunan udara terbuka di daerah Madya (sisi timur), dengan dinding tunggal pada sisi belakang. Di sisi timur bangunan ini terletak sebuah kayu besar untuk tempat tidur Manusa Yadnya.Bangunan ini di pergunakan untuk upacara ritual khusus untuk yang bertujuan membersihkan jiwa manusia.Bangunan ini juga menyimpan berbagai peralatan upacara.

DEMI ENEM Demi Enem adalah bangunan untuk tamu.Mirip dengan Bale Dangin, gedung ini juga memiliki struktur udara terbuka dengan dinding tunggal pada sisi selatan.Demi Enem juga memiliki tempat tidur kayu yang besar yang terletak di tengah-tengah.Demi Enem terletak di daerah Nista (sebelah selatan), mengingat bahwa mereka tidak tahu apakah tamu membawa aura baik atau buruk.Jadi, jika mereka membawa atmosfer buruk, itu bisa segera dinetralisir.

JINENG / LUMBUNG

Jineng / Lumbung adalah gudang beras.Gudang ini terletak di belakang Demi Enem, didekat Paon (dapur).Jineng / Lumbung diposisikan lebih tinggi dari bangunan lainnya.

PAON / PEWAREGAN Dapur (Paon / Pewaregan) terletak di sisi selatan rumah milik daerah Nista, karena merupakan tempat di mana keluarga menyimpan peralatan untuk menyembelih hewan dan menebang pohon, termasuk pisau, kapak, dll.Paon terdiri dari dua bagian, bagian pertama disebut Jalikan, yaitu area terbuka yang digunakan untuk memasak dengan oven kayu api. Bagian kedua adalah sebuah ruangan di mana makanan dan peralatan memasak lainnya disimpan.

ANGKUL-ANGKUL Angkul-angkul adalah gerbang/pintu masuk dengan atap sebagai penghubung kedua sisinya.Angkul-angkul memiliki atap piramida yang terbuat dari rumput kering.Angkul-angkul biasanya lebih tinggi dari dinding yang mengelilingi rumah.Di sisi kanan dan kiri pintu gerbang ini ada patung wali dalam ekspresi menakutkan. Sering kali mereka adalah pria dan wanita dengan kedua telapak tangan di depan payudara mereka. Pose ini adalah sikap ramah orang Bali yang diikuti oleh Om Swastiastu mengatakan (ucapan selamat datang).

ALING-ALING Orang Bali sangat ramah dalam arti bahwa mereka selalu menyambut tamu.Tentu mereka tidak pernah menutup gerbang.Untuk menjaga privasi mereka, orang Bali membangun dinding kecil antara Angkulangkul (gerbang) dan halaman rumah, disebut Aling-aling.Aling-aling membuat seseorang dari luar tidak dapat melihat orang yang ada di dalam rumah tersebut.

Teknik Konstruksi Dan Material


Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan konsep yang dinamakan Tri Angga, yaitu sebuah konsep hirarki dari mulai Nista, Madya dan Utama. Nista menggambarkan suatu hirarki paling bawah suatu tingkatan, yang biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunan atau bagian bawah sebuah bangunan sebagai penyangga bangunan diatasnya.Atau bilah dalam tiang kolom.Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu gunung. Batu bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akandibuat. Pada permukaan batu bata atau batu gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling yang rata.Atau merupakan plesteran akhir.Nista juga digambarkan sebagai alam bawah atau alam setan atau nafsu. Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela dan pintu.Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia. Utama adalah symbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal.Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.

Pondasi
Pondasi pada rumah tradisional Bali menggunakan pondasi setempat/menerus (batu kali) , bahan materialnya terdiri dari batu bata atau batu gunung, yang disusun rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akan dibuat, lalu diberi finishing berupa plesteran akhir.

Lantai
Lantai rumah tradisional bali menggunakan keramik dan ada juga yang tidak menggunakan keramik, melainkan langsung menyentuh tanah.

Dinding
Pada zaman dahulu bangunan rumah golongan masyarakat biasa menggunakan popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk

dinding bangunannya.Kekuatan bahan ini cukup baik dan mampu bertahan hingga puluhan tahun.Golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan bata.Untuk tempat suci/tempat pemujaan milik satu keluarga maupun milik suatu kumpulan kekerabatan, digunakan bahan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Dan ada juga aturan tentang dinding yang lain, yaitu menggunakan kayu yang jenisnya dibedakan sesuai dengan peruntukan bangunan tersebut (bangunan ibadah, rumah, dan dapur).

Pintu Dan Jendela


Pintu dan jendela pada rumah bali menggunakan bahan kayu yang jenisnya dibedakan sesuai dengan peruntukan bangunan tersebut (sama dengan dinding).

Tiang Penyangga
Bale Sakepatadalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah empat buah, dengan konstruksi tiang kolom yang disatukan dalam satu puncak atap.Jadi tidak terdapat kuda-kuda. Bale Sakenamadalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah enam buah dalam deretan 2 x 3 kolom. Bale Tiang Sangaadalah sebuah bale dengan tiang penyanggaberjumlah sembilan dan biasanya dalam formasi 3 x 3. Bale Sakarolasatau bale gede adalah bale dengan tiang penyangga berjumlah dua belas dan biasanya dengan formasi 3 x 4. Sedangkan Wantilan yang jumlah kolomnya berjajar dalam formasi 2 x 8 atau 2 x 12 sehingga bangunan memanjang mengikuti deretan kolomnya.

Ornamen
Umumnya bangunan arsitektur tradisional daerah Bali identik dengan hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna dengan warna keemasan/prada atau warna yang beragam.Biasanya mulai dari dinding, tiang, plafon dipenuhi ukiran berbagai corak dan cerita, sesuai fungsi bangunan tersebut.Terkadang ragam hias ini mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi.

Atap

Seperti untuk bahan atap digunakan ijuk bagi yang mampu sedangkan yang kurang mampu bisa menggunakan alang-alang atau genting. Untuk struktur atapnya menggunakan bambu.

Tangga
Dalam Asta Kosala-Kosali yang diyakini masyarakat, terdapat hitungan berulang pada jumlah anak tangga. Hitungannya adalah sebagai berikut, dimulai dari bawah keatas; undag, gunung, rubuh atau ada juga hitungan undag, watu, gunung, runtuh. Undag diperuntukkan bagi bangunan rumah dan kadang-kadang dipergunakan juga hitungan watu, gunung untuk bangunan yang diagungkan dan runtuh dihindari karena bangunan tidak akan memberikan kebahagiaan.

Jenis Kayu Dan Filosofisnya Yang Digunakan Dalam Pembuatan Rumah Tradisional Bali
Rumah tradisional masyarakat Bali memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan.Bagi masyarakat Bali, mendirikan sebuah rumah sangat mementingkan keseimbangan dan keselarasan dengan alam. Dalam pembuatan rumah tradisonal Bali ini, para undagi biasanya akan menggunakan kayu-kayu yang berbeda sesuai dengan tempatnya dalam rumah tersebut. hasil wawancara penulis dengan nara sumber, dapat penulis paparkan bahwa ada beberapa jenis kayu yang penting dalam pembuatan rumah. Adapun jenis kayu tersebut adalah: Kayu yang digunakan untuk Pura (Parhayangan)

Kayu yang digunakan untuk pelinggih atau Parhayangan adalah kayu yang dianggap spesial bagi masyarakat Bali, karena ada makna terpenting yang terkandung kayu tersebut. kayu yang sering digunakan adalah kayu cempaka (Michelia champaca L.), kayu majegau (Dysoxylum caulostachyumMiq.), dan kayu cendana (Santalum album L.). (Klasifikasi terlampir.)

Kayu cempaka (Michelia champaca L.) banyak digunakan dalam pembuatan pelinggih karena kayu ini memiliki aroma yang wangi.Kemudian bunga dari bunga ini biasanya digunakan untuk keperluan upacara keagamaan.Selain itu, kayu cempaka ini merupakan kayu peragan bhatara Siwa.Biasanya yang diguanakan

adalah jenis cempaka kuning, dan kayu yang pohonnya yang sudah usianya lebih dari 10 tahun. Menurut klasifikasi kayu menurut masyarakat Bali, kayu cempaka ini termasuk kayu golonganarya, artinya kayu ini biasanya digunakan dalammembuat lambang atau ige-ige.

Kayu cendana juga sangat disakralkan oleh masyarakat Bali, dimana kayu cendana (Santalum album L.) ini digunakan dalam pembuatan pelinggih karena kayu ini menghasilkan aroma yang sangat wangi, sehinngga kayu ini bagus untuk digunakan di tempat-tempat suci. Selain digunakan dalam pembuatan pelinggih, kayu cendana ini juga dapat digunakan dalam pembuatan pratima, dimana kayu ini merupakan peragan dari bhatara Paramasiwa.Dalam klasifikasi kayu menurut orang Bali, kayu cendana ini termasuk golongan kayu prabu, artinya kayu ini biasanya digunakan untuk membuat langit-langitdalam suatu pelinggih.

Jenis kayu yang tidak kalah penting yang diguankan dalam pembuatan pelinggih adalah kayu majegau (Dysoxylum caulostachyum Miq.).Dimana kayu ini banyak digunakan karena kayu ini memiliki aroma yang sangat wangi.Kayu ini digolongkan kedalam jenis kayu Demung.Dimana kayu ini biasanya digunakan untuk membuat sesaka.Kayu majegau ini dalam pembuatan pretima, merupakan peragandari Sadasiwa.

Kayu yang digunakan untuk perumahan (Bale Pesarean)

Kedudukan Bale Pesarean dalam sistem perumahan di Bali lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan Parhayangan atau Pelinggih.Sehingga jenis kayu yang digunakan pun berbeda. Adapun jenis-jenis kayu yang dapat digunakan dalam pembuatan bale pesarean adalah jenis kayu jati (Tectona grandis L.), kayu nangka (Artocarpus integra merr.), sentul, dan lainnya.

Kayu jati (Tectona grandis L.) digunakan karena memiliki struktur kayu yang sangat kuat, sehingga kokoh untuk menopang bangunan.Selain itu, kayu jati ini juga terkenal sebagai kayu yang awet, dan tahan terhadap serangan rayap.Kayu jati ini termasuk golongan kayu patih, artinya kayu ini biasanya digunakan dalam pembuatan saka.

Sama halnya dengan kayu jati, kayu nangka (Artocarpus integra merr.) juga banyak digunakan dalam pembuatan bale pesarean, mengingat kayu nangka ini memiliki struktur yang sangat kuat dan tidak terlalu berat seperti kayu jati, sehingga biasanya digunakan dalam membuat langit-langit (kayu prabu). Sama halnya dengan kayu jati dan kayu nangka, kayu sentul juga banyak digunakan dalam pembuatanbale pesarean, mengingat kayu ini memiliki struktur yang kuat dan tahan terhadap serangan rayap.Kayu sentul ini digolongkan kedalam golongan kayu pangalasan.

Kayu yang digunakan untuk dapur (Paon)

Dapur (paon) yang merupakan bagian dari suatu perumahan memiliki tempat tersendiri dan juga dalam pembuatannya menggunakan kayu yang berbeda dengan kayu yang digunakan dalam membuat pelinggih maupun bale pesarean. Jenis kayu yang biasanya digunakan adalah jenis kayu wangkal(Abizia procera Roxb.), kayu juwet (Syzygium cumini Linn.), kayu klampuak (Syzygium zollingeriamun(Miq.) Amsh.). (Klasifikasi terlampir.)

Kayu ini dapat digunakan karena kayu ini memiliki struktr kayu yang sangat kuat dan tahan lama.Kayuwangkal digolongkan kedalam kayu prabu, dan digunakan dalam membuat langit-langit atau atap.Kayu klampuak termasuk golongan jenis kayu patih dimana digunakan dalam membuat saka atau tiang penyangga. Dan kayu juwet termasuk kedalam golongan kayu mantri,, dan digunakan dalam membuatlambang atau ige-ige.

Dari semua paparan mengenai jenis kayu yang digunakan dala pembuatan perumahan tradisional Bali, pada umumnya masyarakat Bali memilih kayu berdasarkan wangi dari kayu, kekokohan kayu tersebut, serta faktor agama yang sangat memiliki peranan penting.

Kondisi Anjungan Bali Di TMII

Anjungan Bali tampil dalam bentuk lingkungan perumahan tradisional Bali di atas tanah seluas 8.000 m2, ditata berdasar pola arsitektur tradisional yang bersumber pada Lontar Astha Kosala-Kosali yang di dalamnya mengandung falsafah tri hita karana. Bangunan model puri, dibatasi tembok keliling (penyengker). Pintu gerbang berupa candi bentar diapit patung Hanoman dan Hanggada dari epos Ramayana sebagai penolak bala.Di depan candi bentar terdapat bale benggong yang berfungsi sebagi tempat istirahat dan bersantai sambil melihat suasana sekitar, karena itu letaknya lebih tinggi dan berbentuk panggung. Kemudian ada bangunan sanggah penunggu karang tempat persembahan sesaji kepada Banaspati agar wilayah jaba tengahterlindung dari marabahaya. Di sisi timur terdapat bale wantilan/pengambuhan sebagai tempat kegiatan masyarakat, seperti rapat bulanan, pertemuan muda-mudi, latihan menggamel dan menari sekaligus sebagai tempat pentas. Di sisi barat terdapat bale paruman sebagai tempat musyawarah keluarga dan untuk mempersiapkan sesaji menjelang upacara keagamaan. Bale paruman di Anjungan Bali difungsikan sebagai tempat penjulan benda-benda kerajinan khas Bali. Sebagai pemisah ruang jaba dengan ruang dalam berdiri kori agung, yaitu sebuah pintu untuk para tamu agung.Di sisi kanan-kiri kori agung terdapat patung Laksmana dan Rama sebagai lambang keramahtamahan dan kebijaksanaan.Pada bagian atas pintu terdapat patung Kala Boma dengan wujud menyeramkan sebagai lambang kesuburan.Di balik kori agung terdapat bale aling-aling; dulu berfungsi sebagai tempat membaca Weda tetapi sekarang menjadi tempat belajar. Di sebelah kiri bale aling-aling berdiri bale rangki untuk menyimpan perlengkapan upacara. Di sebelah kanan berdiri bale gede sebagai tempat pelaksanaan upacara manusa yadnya, yaitu upacara yang berkait dengan daur hidup manusia. Di sisi selatan berdiri bale gedong, tempat tidur anak gadis yang belum menikah dan untuk menyimpan benda pusaka, seperti keris dan tombak, serta barang berharga lainnya. Di sebelahnya ada bale dauh atau bale singgasari sebagai tempat jejaka atau anak laki-laki yang belum menikah. Bangunan lain adalah bale loji, digunakan sebagai tempat istirahat setelah bekerja dan menjadi tempat menginap tamu ketika berlangsung upacara keagamaan. Bale jineng memiliki tiga bagian: bagian atas digunakan untuk menyimpan padi, bagian tengah untuk istirahat para petani, dan bagian bawah untuk menyimpan peralatan pertanian.

Tempat memasak disebut bale poan/pratenan. Pada bagian ini terdapatsanggah pengijeng, yaitu tempat persembahan sesaji kepada Dewa Gede Pengadangan yang dilakukan setiap hari sebelum memulai kegiatan sehari-hari.Di sisinya terdapat patung Moangse, raksasa berkepala singa, dan patung Guakse, raksasa berkepala gagak. Setiap bangunan puri selalu dilengkapi merajan atau sanggah yang tidak setiap orang boleh masuk.Merajandikelilingi penyengker.Pintu masuk berupa kori gelung, yang di depannya berdiri patung Duara Kala, terdiri dari Kalan Taka dan Bojan Taka.Di belakang kori gelung terdapat tembok aling-aling sebagai penolak bala agar orang yang masuk ke ruang itu berpikiran suci. Di ruang merajan tedapat bangunan balai piasan, padma sari,rong telu atau sanggah kamulan, sanggah nerurah agung, dan sanggah pangaruman.