You are on page 1of 2

Peninggalan Megalitik Gunung Padang, Cianjur

Peninggalan megalitik di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat (Foto-foto: Koleksi Marsad) Suara Pembaruan, 25 Maret 1988 Batu-batu itu berserakan di atas sebuah bukit. Ada yang berbentuk persegi panjang, ada pula yang tak beraturan. Namun dibandingkan kebanyakan batu, batu-batu di atas bukit ini memberikan warna tersendiri. Soalnya kalau dipelajari dengan cermat, batu-batu tersebut bisa menghasilkan rangkaian kisah sejarah yang menarik. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat zaman kuno menyusun batu-batu sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah bangunan yang dalam arkeologi dikenal dengan nama bangunan berundak. Menurut para arkeolog, bangunan berundak yang terdapat di Gunung Padang ini, berasal dari tradisi megalitik (batu besar). Gunung Padang terletak di desa Cimenteng, kecamatan Campaka, kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Untuk menuju ke sana kita dapat memilih dua rute perjalanan, melalui Pal Dua atau Tegal Sereh. Kalau menggunakan jalur Pal Dua, kita harus menempuh jalan Cianjur-Sukabumi, kemudian dari desa Warungkondang membelok ke kanan menuju ke Cipadang Cibokor Lampegan Pal Dua Ciwaringin Cimanggu Gunung Padang. Rute lain melalui Cianjur Sukabumi, selanjutnya dari Sukaraja membelok ke kiri Cireungas Cibanteng Rawabesar Sukamukti Cipanggulaan Gunung Padang.

Situs Gunungpadang Cianjur

Keberadaan Situs Gunungpadang Cianjur Diteliti Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom, tahun 1914. Tim Bencana Katastropik Purba bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam tengah melakukan penelitian keberadaan

situs Gunungpadang. Situs itu berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Hal itu disampaikan Anwar Syadat Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial Dan Bencana Alam kepada wartawan di Jakarta, (22/12). Penelitian tersebut melengkapi penelitian yang ada, dan bertujuan melakukan pengkayaan terhadap data dan informasi atas penelitian yang sudah ada. Untuk itu langkah koordinasi dengan pihak terkait selain survei akan terus dilakukan. "Penelitian patahan Cimandiri yang merupakan patahan aktif yang terdapat di daerah Sukabumi Selatan yang memanjang dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cianjur sampai Padalarang, adalah riset awal kita tentang kebutuhan mitigasi bencana, dan upaya mencari sumber bencana purba yang pernah terjadi," ujar Anwar Syadat. Dikatakannya, beberapa kejadian gempa bumi yang tercatat dalam kurun waktu relatif terkini yang terkait dengan aktivitas Patahan Cimandiri adalah gempa Pelabuhan Ratu tahun 1900, gempa Padalarang tahun 1910, gempa Conggeang tahun 1948, gempa Tanjungsari tahun 1972, gempa Cibadak tahun 1973, gempa Gondasoli tahun 1982 dan gempa Sukabumi tahun 2001. Terkait Gunung Padang, seperti diketahui, dalam banyak literatur disebutkan Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom. Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie). Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada pemilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Dikatakan Anwar, situs prasejarah peninggalan kebudayaan megalitikum di Jawa Barat memiliki luas kompleks bangunan kurang lebih 900 m, terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.