You are on page 1of 28

PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM

DISUSUN OLEH: 1. AKBAR ALFARISYI 2. TOTO KURNIAWAN


KELAS : BIOLOGI 3C 11

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA 2012

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Pengertian kurikulum senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Berikut ini adalah beberapa pengertian kurikulum ditinjau dari beberapa sudut pandang.

22

1. Pengertian Kurikulum Secara Etimologis


Websters Third New International Dictionary menyebutkan kurikulum berasal dari kata curere dalam bahasa latin Currerre yang berarti : 1. Berlari cepat 2. Tergesa-gesa 3. Menjalani Currerre dikatabendakan menjadi Curriculum yang berarti : 1. Lari cepat, pacuan, balapan berkereta, berkuda, berkaki
33

2. Pengertian Kurikulum Secara Tradisional


Pertengahan abad ke XX pengertian kurikulum berkembang dan dipakai dalam dunia pendidikan yang berarti sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah. Pengertian ini termasuk juga dalam pandangan klasik, dimana disini lebih ditekankan bahwa kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah yang mencakup pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. Pengertian tradisional ini telah diterapkan dalam penyusunan kurikulum seperti kurikulum SD dengan nama Rencana Pelajaran Sekolah Rakyat tahun 1927 sampai pada tahun 1964 yang isinya sejumlah mata pelajaran yang diberikan pada kelas I s.d. kelas VI.

44

3. Pengertian Kurikulum Secara Modern


Menurut Saylor J. Gallen & William N. Alexander dalam bukunya Curriculum Planning menyatakan Kurikulum adalah Keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas, dihalaman maupun diluar sekolah. Menurut B. Ragan, beliau mengemukakan bahwa Kurikulum adalah semua pengalaman anak dibawah tanggung jawab sekolah. Menurut Soedijarto, Kurikulum adalah segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh siswa atau mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan.

Dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar 55 pada siswa dibawah tanggung jawab

4. Pengertian Kurikulum Dari Berbagai Ahli


George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : A Curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers.

Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu: Kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang di dalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu. Kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan.

66

Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian : kurikulum sebagai ide; kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum; kurikulum menurut persepsi pengajar; kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

77

Menurut Ludwig Von Bartalanfy, Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsurunsur tersebut dengan lingkungan.

Menurut L. Ackof, Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.

Menurut Anatol Raporot, Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.
88

Kurikulum mempunyai komponenkomponen yang mempunyai tujuan utama atau tujuan dari kurikulum tersebut dan komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan menunjang untuk mencapai tujuan dari kurikulum maka di sebutlah kurikulum sebagai suatu system.
Ada beberapa ahli mengemukakan tentang komponen-komponen yang ada di dalam kurikulum, yakni :

Zais (1976:295) mengatakan empat komponen dasar kurikulum, antara lain 1) aims, goals, and objective, 2) content, 3) Learning activities, 4) evaluations Nana Sy. Sukmadinata (1988:110) mengemukakan empat komponen kurikulum, yaitu 1) tujuan, 2) isi atau materi, 3) proses atau system penyampaian, serta 4) evaluasi

Herrick (1950 dalam Taba, 1962:425), mengemukakan 4 elemen kurikulum, yakni 1) Tujuan, 2) Mata pelajaran, 3) Metode dan Organisasi, dan 4) evaluasi.

99

Menurut Hornby C.S dalam The Advance Learners Dictionary of Current English (Redja Mudyahardjo, 2001:8) mengemukakan definisi landasan sebagai berikut: Foundation that on which an idea or belief rest; an underlying principles as the foundations of religious belief; the basis or starting point.

Dengan semikian berarti bahwa Landasan pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan, suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.
10 10

Ada empat landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu

Landasan Filosofis Landasan Psikologis Landasan Sosiologis Landasan Organisatoris Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

11 11

1. Landasan Filosofis

Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka junjung tinggi. Terdapat berbagai aliran filsafat yang masing-masing dengan dasar pemikiran sendiri, berikut adalah beberapa aliran dalam filosofis pendidikan: Aliran Perennialisme Aliran Idealisme Aliran Realisme Aliran Pragmatisme Aliran Eksistensialisme

12 12

Aliran Perennialisme Aliran ini bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui pengetahuan yang abadi, universal dan absolut atau perennial. Aliran Idealisme Filsafat ini berpendapat bahwa kebenaran itu berasal dari dunia supra-natural dari tuhan. Boleh dikatakan semua agama menganut filsafat idealisme.filsafat ini umumnya diterapkan disekolah yang berorientasi religius. Aliran Realisme Filsafat realisme mencari kebenaran di dunia ini sendiri. Melalui pengamatan dan penelitian ilmiah dapat ditemukan hukum-hukum alam.

Aliran Pragmatisme Aliran ini juga disebut aliran instrumentalisme atau utilitarianisme dan berpendapat bahwa kebenaran adalah buatan manusia berdasarakan pengalamannya. Tidak ada kebenaran mutlak, kebenaran adalah tentatif (sementara) dan dapat berubah. Aliran Eksistensialisme Filsafat ini mengutamakan individu sebagai aktor dalam menentukan apa yang baik dan benar. Norma-norma hidup berbeda secara individual dan ditentukan masingmasing secara bebas, namun dengan pertimbangan jangan menyinggung perasaan orang lain.

13 13

2. Landasan Psikologis

a) Psikologi Perkembangan Peserta Didik Kurikulum disamping menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang nersifat akademik. Bagi anak yang berbakat dibidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya. Kurikulum memuat tujuantujuan yang mengandung pengetahuan, nilai atau sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan batin.

14 14

b) Psikologi Belajar Psikologi atau teori belajar yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga rumpun yaitu: Teori Daya (Disiplin Mental). Teori Behavorisme Teori Organismik atau Gestalt

15 15

3. Landasan Sosiologis

Tiap masyarakat memiliki norma dan adat kebiasaan yang harus dipatuhi. Norma dan adat kebiasaan tersebut memiliki corak nilai yang berbeda-beda, selain itu masing-masing dari kita juga memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dalam pengembangan sebuah kurikulum, termasuk perubahan tatanan masyarakat akibat perkembangan IPTEK. Sehingga masyarakat dijadikan salah satu asas dalam pengembangan kurikulum. Ada beberapa faktor yang memberikan pengaruh
16 16

Kebutuhan masyarakat Perubahan dan perkembangan masyarakat Tri pusat pendidikan

17 17

4. Landasan Organisatoris

Landasan ini berkenaan dengan organisasi kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum perlu di susun suatu desain yang tepat dan fungsional. Dilihat dari organisasinya ada tiga tipe bentuk kurikulum: 1. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah(separated subject curriculum) 2. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang sejenis di hubunghubungkan(Correlated curriculum) 3. Kurikulum yang terdiri dari peleburan semua/ hampir semua mata

18 18

Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: 1) filosofis 2) psikologis 3) sosial-budaya dan 4) ilmu pengetahuan dan teknologi.

19 19

5. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan metakognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.

20 20

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

21 21

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam implementasi kurikulum di lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip 22 22 yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.

Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu : Prinsip relevansi; Delevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi) Prinsip fleksibilitas; Memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya Prinsip kontinuitas; Kesinambungan kurikulum

dalam

Prinsip efisiensi; Dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumbersumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai. Prinsip efektivitas; Mencapai tujuan tanpa23 kegiatan yang mubazir,23 baik secara kualitas

1. Rentjana Pembelajaran 1947 Yang menjadi ciri utama kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain. 2. Rentjana Terurai 1952 Pelajaran

3.

Rentjana pendidikan 1964. Yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani. Kurikulum 1968 Yaitu perubahan struktur pendiddikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Pembelajaran diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan fisik yang 24 sehat dan kuat

4.

24

5. Kurikulum 1975 Menurut Mudjito (dalam Dwitagama: 2008) Zaman ini dikenal dengan istilah satuan pelajaran yaitu pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan intruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajarmengajar, dan evaluasi.

7. Kurikulum 1994 dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan.

6. Kurikulum 1984 mengusung proses skill approach. Posisi siswa ditempatkan sebgai subyek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan,

25 25

8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).


KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugastugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu.

9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)


KTSP ini merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: 1)standar isi, 2)standar proses, 3)standar kompetensi lulusan, 4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, 5)standar sarana dan prasarana, 6)standar pengelolaan, standar 26 pembiayaan, dan 26 7)standar penilaian pendidikan.

Tujuan pengembangan kurikulum dengan mengabaikan tingkatan adalah untuk membuat suatu perbedaan untuk memungkinkan para siswa untuk mencapai tujuan milik sekolah, tujuan milik masyarakat, dan barangkali yang paling penting, capaian dan tujuan mereka sendiri. Implementasi merupakan suatu bagian penting pengembangan kurikulum, membawa ke dalam kenyataan mengantisipasi perubahan.
27 27

Contoh Implementasi Kurikulum Sebagai Proses Perubahan Merancang inovasi untuk meningkatkan prestasi siswa harus secara teknis bunyi. Inovasi yang sukses memerlukan perubahan di dalam struktur suatu sekolah tradisional. Inovasi harus mungkin dan dapat dikendalikan oleh rata-rata guru. Implementasi dari usaha perubahan sukses harus organik bukan birokratis. Hindarilah sindrom "lakukan sesuatu, kerjakan apapun" sindrom.
28 28