You are on page 1of 2

Perlawatan Menuju Kota-Kota Impian Judul Buku Judul Asli Penulis Penerbit Edisi Tebal : Kota-Kota Imajiner : Invisible

Cities : Italo Calvino : Fresh Book, Jakarta : 2006 : 185 hlm.

Kota adalah belantara yang berjarak. Kita menghadapi kota asing seolah-olah kita sendirian. Kita takut lenyap dan tidak bisa ditemukan. Tapi bagi penghuninya kota adalah tanda. Sebuah tikungan, gang, bangunan, tanda lalu lintas, semak, pohon bahkan sosoksosok manusia adalah tanda arah dan situasi. Jalan tertentu bisa menjadi langganan kemacetan, rawan kejahatan, atau sentra hiburan. Kita mengenali tanda-tanda, maka kita telah menjadi bagian dari kota. Bagaimana dengan para peziarah kota? Para peziarah menempuh jarak ribuan mil dan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekedar mengunjungi kota-kota. Para pengembara itu justru ingin menundukkan keasingan sebuah kota. Ia tidak takut tenggelam dalam lautan tanda. Ketika seorang peziarah tersesat di sebuah kota, maka gambaran kota-kota yang telah dilaluinya menjadi semakin jelas, begitu tulis Calvino di salah satu bagian novel ini. Italo Calvino adalah salah satu novelis paling cemerlang Italia pasca-Perang Dunia II. Namanya mulai dikenal setelah mengeditori buku monumental dari Penerbit Enaudi berupa kumpulan cerita rakyat Italia. Pada tahun 1981 ia dianugrahi Lgion d'Honneur, sebuah penghargaan sastra yang sangat prestisius di Perancis. Sebelumnya ia telah dianugerahi Austrian State Prize for European Literature. Selain Invisible Cities, karya-karyanya yang terkenal adalah Cosmicomics (1968), dan If on a winter's night a traveler (1979). Ia meninggal pada tahun 1985. Novel Kota-Kota Imajiner ini diterjemahkan dari Invisible Cities. Melalui novel ini, Calvino mengajak kita meninggalkan sejenak dunia sehari-hari untuk bertamasya mengunjungi kota-kota nan jauh. Lima puluh lima kota digambarkan secara singkat, padat, dan puitis. Novel ini tidak memiliki alur, awal dan akhir cerita. Hanya ada fragmen-fragmen tentang kota, diselingi debat-debat mendalam antara Khan dan Marcopolo. Setiap fragmen kota diberi judul Calvino seperti Kota dan Kenangan, Kota dan Tanda-Tanda, Kota dan Kematian, Kota dan Keinginan atau Kota dan Langit. Ada kota bernama Octavia yang digambarkan seperti jaring laba-laba, kota Eudoxia yang tertata seperti karpet Persia, kota bawah tanah, kota yang tergantung di langit, dan banyak lagi. Dua sosok agung yang pernah mewarnai sejarah peradaban manusia, Kubilai Khan dan Marco Polo, ia gunakan sebagai narator yang menghamparkan imajinasinya. Khan sang pewaris imperium Tartar, yang merasakan kemegahan kekuasaannya yang terbentang luas mulai merapuh, mendengar dengan antusias berita dari Marco Polo, sang pemuda pengembara asal Venesia, tentang kota-kota nun jauh di luar jangkuan Khan. Melalui isyarat, gerak badan, berbagai tanda dan sketsa, Marco Polo menggambarkan pesona kota-kota yang dilaluinya. Di mata Sang Kaisar, gerak-gerak Marco Polo menjadi ritmis dan magis. Marco berubah menjadi penari yang setiap

gerakkannya seolah menggurat miniatur-miniatur kota impian. Pada kesempatan lain, kedatangan Marco dari ekspedisinya disambut Khan dengan papan catur dan menantang Marco untuk menceritakan kota-kota yang dikunjunginya melalui bidak-bidaknya. Sebegitu jauh Marco Polo bercerita tentang kota-kota yang dikunjunginya, Khan Agung segera menemukan kejanggalan: Marco tidak pernah menceritakan kota asalnya, Venesia. Marco menjawab: Setiap kali hamba bercerita tentang sebuah kota, hamba pun bercerita tentang Venesia. Ketidakpuasan Khan mendengar jawaban itu membuat Marco menambahkan: Bayang-bayang ingatan, sekali ia ditetapkan dalam kata-kata, akan terhapus...Barangkali hamba takut kehilangan Venesia jika menuturkannya. Atau boleh jadi, dengan berbicara tentang kota-kota lain, hamba telah kehilangan Venesia, sedikit demi sedikit. Dalam kalimat menentukan Khan segera menyergap: ...Jadi, perkelanaanmu benar-benar sebuah perjalanan ingatan!. Dari seluruh bagian novel, kalimat inilah yang kiranya hampir berhasil menggambarkan keseluruhan isi novel. Gambaran kota-kota surealis Calvino bisa kita terima sebagai aneka kota yang berbeda. Namun tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa semua gambaran kota tersebut tak lebih dari banyak wajah dari satu kota. Intinya terletak pada bagaimana kita menangkap lanskap kota dan kemudian memaknainya. Calvino seolah mengatakan bahwa kota tak lebih dari ingatan kita tentangnya. Kota bukan lagi sekedar ruang geografis. Kota adalah nostalgia, ideal-ideal, harapan, bahkan fantasi. Singkatnya, kota adalah imajinasi. Novel Calvino ini banyak menarik perhatian para arsitek, perencana kota, dan bahkan otoritas kota. Terinspirasi dari novel ini, ketika Rotterdam dipilih sebagai kota kebudayaan Eropa pada tahun 2001, motto resmi festival untuk memperingatinya adalah Rotterdam is many cities. Penyelenggara festival mencoba memperlihatkan sudut berbeda dari Rotterdam dari segala perspektif yang memungkinkan.