You are on page 1of 4

PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH Zaman Awal Perkembangan Islam

Pendeklarasian negara islam di Madinah tahun 622M, didasari oleh konsep bahwa seluruh muslim adalah bersaudara tanpa memandang ras, suku, warna kulit, dan golongan, sehingga seluruh kegiatan kenegaraan dilakukan secara bersama dan gotong-royong di kalangan para muslimin. Telah menjadi tradisi, bahwa bangsa Arab melakukan 2 kali perjalanankalifah perdagangan. Perdagangan tersebut pada akhirnya berkembang hingga ke Eropa terutama setelah penaklukan Mekah. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika kewajiban zakat, ushr, dan perluasan wilayah sehingga dikenal adanya jizyah dan kharaj, maka Rasul mendirikan Baitul Maal pada awal abad ke-7. Kosep ini cukup maju pada zaman tersebut dan nabi telah menunjuk petugas qadi, ditambah para sekretaris dan pencatat administrasi pemerintah.

Zaman Empat Khalifah


Pada pemimpin Abu Bakar, pengelolaan Baitul Maal masih sangat sederhana dimana penerimaan dan pengeluaran dilakukan secara seimbang sehingga hampir tidak pernah ada sisa. Perubahan sistem administrasi yang cukup signifikan dilakukan di era kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab dengan memperkenalkan istilah Diwan oleh Saad bin Abi Waqqas (636 M). Diwan ini berfungsi untuk mengurusi pembayaran gaji. Khalifah Umar menunjuk beberapa orang pengelola dan pencatat dari Persia untuk mengawasi pembukuan Baitul Maal. Hal ini kembali menunjukkan bahwa akuntansi berkembang dari suatu lokasi ke lokasi lain sebagai akibat dari hubungan antar masyarakat. Selain itu, Baitul Maal juga sudah tidak terpusat lagi di Madinah tetapi juga di daerah-daerah taklukan islam. Pada Diwan yang dibentuk oleh Khalifah Umar terdapat 14 departemen dan 17 kelompok. Pada masa itu, istilah awal pembukuan dikenal dengan Jarridah atau menjadi istilah Journal dalam bahasa Inggris yang berarti berita. Di Venice istilah ini dikenal dengan sebutan zournal. Fungsi akuntansi telah dilakukan oleh berbagi pihak dalam islam seperti: Al-Amed, Mubashor, Al-Kateb. Sedangkan untuk khusus akuntan dikenal juga dengan nama Muhasabah/Muhtasib yang menunjukkan orang yang bertanggung jawab melakukan perhitungan.

Pada zaman kekhalifahan sudah dikenal Keuangan Negara. Kedaulatan islam telah memiliki departemen-departemen atau disebut dengan Diwan, ada Diwan Pengeluaran (Diwan An-nafaqat), Militer (Diwan Al Jayash), pengawasa, pemungutan hasil, dan sebagainya. Diwan Pengawasan Keuangan disebut Diwan Al-Kharaj. Pada zaman khalifah Mansur dikenal Khitabat al Rasul was Sirr, yang memelihara pecatatan rahasia. Untuk menjamin dilaksanakannya hukum maka dibentuk Shahib al Shurta. Di sisi lain, ada juga fungsi muhtasib dalam bidang pelayanan umum (public servise) misalnya: pemeriksaan kesehatan, suplai air, memastikan orang miskin mendapat tujangan, dll. Dari berbagai fungsi Shahib al shurta dan muhtasib ini dapat disimpulkan bahwa fungsi utamanya adalah untuk mencegah pelanggaran terhadap hukum baik hukum sipil maupun hukum agama. Jadi dapat disimpulkan bahwa akuntansi islam adalah menyangkut semua praktek kehidupan yang lebih luas tidak hanya menyangkut praktek ekonomi dan bisnis sebagaimana dalam sistem kapitalis. Akuntansi islam sebenarnya lebih luas dari hanya perhitungan angka, informasi keuangan atau pertanggungjawaban. Dia menyangkut semua penegakkan hukum sehingga tidak ada pelanggaran hukum baik hukum sipil atau hukum yang berkaitan dengan ibadah. Pengembangan lebih komperhensif mengenai Baitul Maal dilanjutkan pada masa Khalifah Ali bi Abi Thalib. Pada masa pemerintahan beliau, sistem administrasi Baitul Maal baik tingkat pusat dan lokal telah berjalan baik serta telah menjadi sulprus pada Baitul Maal dan dibagikan secara proposional sesuai tuntunan Rasulullah. SEKILAS PROSEDUR DAN ISLTILAH YANG DIGUNAKAN Dari uraiana di atas diketahui bahwa pelaksanaan akuntansi pada negara islam terjadi terutama adanya dorongan kewajiban zakat, yang harus dikelola dengan baik melalui Baitul Maal. Kontribusi besar yang diberikan oleh Al-Khawarizmy adalah membuat sistem akuntansi dan pencatatan dalam negara islam dan membaginya dalam beberapa jenis daftar. Tujuan sistem akuntansi adalah untuk memastikan akuntanbilitas, mendukung proses pengambilankeputusan serta mempermudah proses evaluasi atas program yang telah selesai. Ada tujuh hal khusus dalam sistem akuntansi yang dijalankan oleh negara islam sebagaimana dijelaskan oleh Al-Khawarizmy dan Al-Mazendarany (Zaid, 1999), yaitu:

1) Sistem akuntani untuk kebutuhan hidup, sistem ini dibawah koordinais seorang manajer 2) Sistem akuntansi untuk konstruksi merupakan sistem akuntansi untuk proyek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah 3) Sistem akuntansi untuk pertanian merupakan sistem yang berbasis non-moneter 4) Sistem akuntansi gudang merupakan sistem un tuk mencatat pembelian barang negara 5) Sistem akuntansi mata uang, sistem ini telah dilakukan oleh negara islam sebelum abad ke14 M. Sistem ini memberikan hak kepada pengelolanya untuk mengubah emas dan perak yang diterima penngelola 6) Ssitem akuntansi peternakan, merupakan sistem untuk mencatat seluruh binatang 7) Sistem akuntansi perbendaharaan merupakan sistem untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran harian negara baik dalam nilai uang atau barang.

Dibuat Oleh : Yasir Barori Siti Mardiyah Evi Yuni Novita Sari (092010300040) (092010300041) (092010300042)