You are on page 1of 4

IQBAL BASYARI 09/283037/SP/23655

Agenda Setting Kebijakan Trans Studio Solo Agenda setting merupakan salah satu tahapan dalam proses kebijakan. Agenda setting merupakan proses pencarian dan penyaringan isu dalam menentukan sebuah kebijakan. Tahapan ini akan melibatkan beberapa aktor yang terkait dan memiliki kepentingan yang berbeda dalam proses kebijakan. Setelah semua kepentingan yang berbeda terkumpul, maka akan dipilih agenda utama yang harus diselesaikan dengan pembuatan kebijakan. Dalam level ini terdapat pertarungan berbagai kepentingan untuk mendapatkan prioritas dalam agenda publik seringkali merupakan pertarungan yang sengit, di mana tiap kepentingan harus diperjuangkan untuk bisa masuk dalam agenda publik (Santoso, 2010). Dalam agenda setting terdapat beberapa poin penting yang dapat dianalisa. Faktor yang mempengaruhi proses agenda setting, siapa saja aktor yang membuat isu menjadi agenda setting dan bagaimanakah proses untuk mempengaruhi menjadi agenda setting dapat digunakan untuk menganalisa sebuah kebijakan. Dalam kebijakan pembangunan trans studio Solo, ada beberapa aktor yang membuat isu agar dapat dijadikan agenda setting pemerintah. Setiap aktor memiliki kepentingan yang berbeda sehingga akan menghasilkan isu yang berbeda pula antara satu dengan yang lainnya. Beberapa aktor yang membuat isu tentang pendirian trans studio Solo yaitu Pemkot Surakarta, Investor, Pedagang kecil di kota solo, pelaku usaha hiburan di Solo, serta masyarakat kelas menengah keatas di Solo. Masing masing memiliki perbedaan pendapat agar dijadikan isu dan bagaimana isu isu muncul pad agenda pemerintah agar ditindak lanjuti melalui kebijakan pemerintah. Selain ada aktor, terdapat faktor yang mempengaruhi agenda setting. Faktor yang mempengaruhi agenda setting dapat dibedakan menjadi faktor ekonomi, politik dan sosial budaya. Faktor ekonomi yang mempengaruhi agenda setting peningkatan PAD kota Solo. Tak dapat dipungkiri lagi dalam era desentralisasi ini daerah akan berusaha mendapatkan pendapatan sebesar besarnya guna membiayai proses pemerintahan. Begitupun di Solo yang di tahun 2011 terakhir mendapatkan PAD sebesar 169 miliyar, akan selalu berusaha meningkatkan pendapatan asli daerahnya setiap tahun. Dengan pendirian trans studio tentunya akan banyak sekali pajak yang masuk ke daerah. Pajak ini akan menjadi sumber PAD yang besar mengingat harga tiket untuk masuk trans studio berkisar antara 150 200 ribu per-orang. Dengan harga tiket masuk yang bear pastinya akan memberikan keuntungan yang besar bagi pengelolanya, yang kemudian juga akan meningkatkan pendapatan bagi Solo dari pajak yang

disetor oleh trans studio kepada pemkot Solo. Faktor ekonomi yang kedua adalah peningkatan jumlah investasi di Kota Solo. Investasi yang berkembang akan menimbulkan efek positif bagi pembangunan ekonomi masyarakat di suatu daerah. Dengan pendirian trans studio akan menimbulkan iklim investasi yang baik bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di Solo. Mengan banyaknya investor yang menanamkan modal, tentunya membuat solo semakin dikenal dan akan mulai bermunculan investor lain yang menanamkan modalnya di Solo. Dengan banyak dan mudahnya berinvestasi di Solo, akan menjadikan solo sebagai kota yang ramah dengan investor dan manjadi kota tujuan investasi terbaik di Indonesia. Faktor ekonomi yang lain adalah peningkatan dan pemerataan pembangunan demi kemajuan wilayah perkotaan. Pemkot Solo sepertinya tahu bagaimana cara termudah untuk meratakan pendapatan rakyatnya. Pusat investasi kota Solo saat ini hanya terpusat di daerah Slamet Riyadi dimana terdapat banyak sekali mall, tempat hiburan maupun hotel. Hal ini tentunya akan menimbulkan dilema pemerataan pembangunan karena wilayah Solo bagian pinggir menjadi tidak semaju di wilayah kota. Dengan rencana pembangunan trans studio ini direncanakan akan dibangun di wilayah Solo bagian utara yang notabene minim dengan pembangunan. Melalui pembuatan taman hiburan trans studio di wilayah yang masih tertinggal, tentu akan menjadikan keseimbangan pembangunan Solo baik di daerah pusat kota maupun pinggiran sehingga kemajuan kota Solo tidak hanya dikenal di wilayah pusat kota dan akhirnya dapat mengurangi kesenjangan sosial antara masyarakat kota dan pinggiran. Faktor selanjutnya adalah faktor politik. Sebagaimana pemimpin di daerah lainnya, Jokowi tentu memiliki agenda tersendiri atas pendirian trans studio di Solo. Dia ingin membuat simbol simbol kemegahan sebuah kota. Dengan trans studio yang merupakan taman hiburan berskala nasional akan mengangkat nama Solo di kancah nasional. Ketenaran inilah yang akan membuat nama seorang Jokowi semakin disegani di dunia politik nasional karena telah berhasil menarik investor besar dan dapat memajukan daerah Solo yang sebelumnya tidka diperhitungkan di dalam politik nasional. Faktor politik ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam proses agenda setting. Karena disini terdapat aktor yang kuat (Jokowi) yang juga memiliki kepentingan dalam proses pembuatan isu untuk dijadikan kebijakannya sebagai seorang walikota. Apabila kebijakan ini sukses, satu satunya orang yang melambung namanya adalah Jokowi, karena akan memiliki legitimasi yang kuat dari masyarakatnya disebabkan telah membuat inovasi yang baik bagi masyarakat Solo sendiri maupun masyarakat

IQBAL BASYARI 09/283037/SP/23655

luar Solo yang mendapatkan manfaat langsung dari pembuatan trans studio di kota Solo. Faktor ketiga adalah sosial budaya. Ini adalah satu satunya faktor yang akan menghambat kebijakan trans studio di kota Solo. Mengingat Solo adalah kota budaya sudah memiliki tempat hiburan tradisional yaitu THR Sriwedari dengan berbagai pertunjukan budaya Solo, jikalau akan didirikan Trans studio nantinya akan berisikan wahana modern yang jauh dari kesan melestarikan budaya daerah. Trans studio sebelumnya di Makassar dan Bandung hanya berisi hiburan modern dan berorientasi dengan progran acara di Trans TV dan Trans 7. Hal ini tentu tidak sejalan dengan konsep kota budaya yang ingin ditampilkan oleh Pemkot Solo. Dari berbagai aktor dengan kepentingan yang berbeda tersebut, diperlukan cara yang tepat agar isu tersebut bisa diangkat menjadi masalah bersama dan harus diselesaikan dengan kebijakan. Dalam proses ini media massa menjadi aktor yang penting, karena media massa memiliki kemapuan untuk membentuk meaning masyarakat. McComb dan Reynolds (2002: 1) menjelaskan bahwa peran agenda-setting adalah kemampuan media massa untuk mempengaruhi topik yang dianggap penting dalam agenda publik. Atau, dalam bahasa Severin & Tankard (1988: 264), agenda-setting merupakan gagasan bahwa media, melalui berita yang disampaikan, akan menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik. Terkadang keputusan politik bukanlah apa yang paling baik, tapi apa yang mendapatkan dukungan terbanyak. Apabila banyak aktor yang kemudian terframing oleh media, maka bisa dipastikan bahwa isu tersebut yang menjadi masalah bersama dan siap untuk diselesaikan dengan kebijakan. Ada dua peran media dalam proses agenda setting, yaitu framing dan priming. Framing berasumsi bahwa media bisa membentuk perspektif tertentu, atau memutar (spin), terhadap peristiwa yang disajikannya. Pada gilirannya, ini akan berpengaruh terhadap sikap publik terhadap peristiwa tadi. Melalui pemberitaan yang intens maka masyarakat akan lebih sering mendengar kebijakan yang disuarakan oleh salah satu aktor. Dalam kasus trasn studio, solopos sebagai media massa lokal sering memberitakan proses pembangunan trans studi dari sisi Jokowi sebagai walikota solo. Semua isu yang dilontarkan oleh Jokowi kemudia disampaikannya kepada publik melalui media massa. Seiring banyaknya pemberitaan menganai isu yang diangkat Jokowi, maka masyarakat akhirnya akan terframing oleh agenda yang dibawa oleh Jokowi. Walaupun sesungguhnya itu bukan agendanya, tapi berdasarkan media massa maka agenda yang diangkat oleh Jokowi akan menjadi agenda bagi masyarakat baik

yang berkepentingan langsung maupun yang tidka berkepentingan dalam kebijakan trans studio. Sedangkan peran yang lain yaitu priming adalah proses di mana isu yang diangkat media akan mengingatkan publik akan informasi sebelumnya yang mereka miliki tentang isu itu, sehingga akan memicu perhatian yang lebih. Priming adalah dampak dari isi media terhadap perilaku atau penilaian khalayak yang muncul kemudian (Roskos-Ewoldsen et al., 2007: 53). Sebuah isu akan terabaikan apabila isu tersebut dianggap sebagai bagian dari rutinitas, tidak dianggap sebagai masalah pemerintah, dan ditimpali dengan isu lainnya (Santoso, 2010). Melalui proses primming, masyarakat diajak untuk mengingat kembali isu utama dalam sebuah kebijakan. Mengingat tidak setiap hari pemberitaan tentang isu yang dibawa oleh Jokowi dimuat dalam media massa, maka primming akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Dengan melakukan framing dan priming yang tepat, maka sebuah isu yang dibawa oleh salah satu aktor akan sangat berpengaruh terhadap agenda setting dalam pembuatan kebijakan publik. Agenda setting memang sebuah proses pembuatan kebijakan yang multi aktor dan multi disiplin. Proses pencarian dan penyaringan isu akan semakin mudah tatkala mayoritas masyarakat merasa memiliki masalah bersama. Mengingat banyaknya aktor dan kepentingan yang berbeda, maka pertarungan politik di arena media massa menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan. Barang siapa yang dapat menguasai media massa sebagai alat untuk menciptakan meaning masyarakat dalam proses framing dan priming, maka akan mendapatkan banyak dukungan dalam menyuarakan isu yang dibawa untuk dijadikan sebuah kebijakan. Meskipun terkadang isu yang dibawa bukan merupakan isu yang terbaik, tapi berkat framing media massa isu tersebut akan menjadi masalah bersama yang harus segera diselesaikan. Daftar Pustaka Santoso, Purwo, (2010), Analisis Kebijakan Publik, JPP UGM: Yogyakarta http://paksanto.wordpress.com/2010/05/08/agenda-setting-framing-dan-priming/ diakses pada hari Senin, 26 Maret 2012 pukul 21.00 WIB