You are on page 1of 2

LAPORAN PERTANYAAN DAN JAWABAN PERSENTASI BAKTERI SAKAZAKII Oleh : 1. Ilham Muchamad Zulfikar (101611011) 2.

Permadi Muhammad (101611024)

Pertanyaan Persentasi 1. Selain bakteri sakazakii, bakteri apa lagi yang menyerang atau menyebabkan peredangan otak? (oleh M.Ridwan) 2. Apa ada hubungannya bakteri sakazakii dengan penyakit Hidrostepalus? (oleh Hari Pahlawan) 3. Dalam keadaan apa bakteri sakazakii bisa mati? (oleh Yanti) 4. Bagaimana terjadinya kontaminasi bakteri sakazakii pada susu? (oleh Andri Ishak) 5. Apakah berbahaya ASI yang difakum atau dikemas untuk pemakaian sesudahnya? (oleh M.Iqbal M A) 6. Sebutkan efek bakteri sakazakii apa lagi yang dapat menyerang pada bayi selain yang ditampilkan dalam slide? (oleh Lisna F H) 7. Sebutkan perkembangan bakteri sakazakii selain pada susu? (Oleh Ari Rian Ramdhani)) 8. Sebutkan batas takaran bakteri sakazakii dalam bayi ? (Oleh Firdaus Ramlan) Jawaban 1. Selain Bakteri Sakazakii, Bakteri Pneumokokus adalah bakteri lain yang dapat menyebabkan peradangan pada otak. Dan sama halnya dengan Bakteri Sakazakii, Bakteri Pneumokokus juga bisa menyebabkan kematian. 2. Tidak ada hubungan antara Bakteri Sakazakii dengan penyakit Hidrostepalus. Dikarenakan penyakit Hidrostepalus diakibatkan bukan oleh bakteri, melainkan dikarenakan beberapa sebab, diantaranya cacat sejak lahir, adanya timor, serta dikarenakan ada pembengkakan pada otak. 3. Karena Bakteri sakazakii tidak membentuk spora maka bakteri ini mudah dibunuh oleh panas. Sebagai gambaran, jika jumlah awalnya 1.000 per mililiter, maka pemanasan pada suhu 60 derajat Celcius selama 2,5 menit, 5 menit, 7,5 menit, 10 menit akan menurunkan mikroba menjadi berturut-turut 100, 10, 1 dan 0.1 per mililiter. Peneliti lain di Korea (Kim & Park, 2007) melaporkan bahwa suhu 50C akan menyebabkan bakteri berkurang menjadi 1/100-nya, sementara dengan suhu 6075C terjadi penurunan E. sakazakii menjadi 1/10.000 sampai 1/1000.000-nya. 4. Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan

penggunaan mesin pemerah susu (milking machine) sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara. Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup. Manusia yang berada dalam proses memerah dan mengolah susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, embusan napas manusia ketika proses memerah dan mengolah susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju. 5. ASI sebenarnya adalah hal teraman untuk bayi untuk menyusui di usia 6 bulan setelah ibu melahirkan. Bahaya yang terjadi pada ASI yang difakum lalu disimpan untuk dikonsumsi dilain waktu sebenarnya bisa saja terjadi, bila tidak melakukannya sesuai dengan prosedur. Dimana Alat, Tempat, dan proses yang digunakan sesuai ketentuan dan prosedur. Prosedur yang harus di perhatikan ialah mulai dari sterilisasi alat dan Penyimpanan susu ASI yang telah difakum disuhu sekitar 4C. 6. Bakteri skazakii juga dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih, infeksi dalam perut, radang jantung, radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi mata. 7. Selain pada susu perkembangan bakteri sakazakii dapat terjadi, diantaranya pada: Lingkungan Industri makanan (pabrik kentang, coklat, sereal dan pasta) Lingkungan berair Sedimen tanah yang lembap. Dalam beberapa bahan makanan (Keju, Sosis, Daging cincang awetan, serta Sayuran) 8. Batas takaran yang digunakan untuk mencegah sakazakii sebesar 3 cfu/100 gram dapat digunakan sebagai perkiraan awal dosis infeksi.