You are on page 1of 3

KASUS 1 Di Medan, Permintaan Beras Bulog Anjlok Handoko Aruan

Beras Bulog Adapun harga jual beras komersial juga masih belum direvisi, yakni sebesar Rp 7.100 per kilogram. MEDAN, Jaringnews.com - Membanjirnya beras lokal yang ada di pasar-pasar tradisional kota Medan membuat permintaan beras komersil milik Badan Urusan Logistik (Bulog) anjlok. Sudah satu bulan ini, pedagang tidak menebus beras komersial Badan Urusan Logistik (Bulog). Pedagang beralasan konsumen lebih memilih beras lokal karena telah banyak beredar di pasar dan harganya sudah mulai turun, kata Humas Bulog Sumut, Rusli saat dikonfirmasi Jaringnews.com via telepon, Senin (5/3). Ia mengatakan, penjualan beras komersial Bulog hingga saat ini kurang lebih 817 ton. Adapun harga jual beras komersial juga masih belum direvisi, yakni sebesar Rp 7.100 per kilogram. Kendati permintaan beras komersial turun, Bulog masih menjalankan program penjualan beras premium tersebut, katanya. Rusli menambahkan, kebijakan untuk tetap menggelontorkan beras premium atau komersial ini dilakukan untuk menjaga kemungkinan harga beras akan naik lagi.

Meski panen padi sudah terjadi di berbagai daerah seperti Serdangbedagai dan Deliserdang, harga beras di pasar masih belum mengalami penurunan harga yang begitu besar, katanya.

Harga beras di petani, katanya, masih di atas harga pembelian pemerintah atau HPP yang Rp 6.600 per kg. Bulog masih melihat situasi pasar dan melakukan evaluasi apakah penjualan beras komersial itu dihentikan atau masih terus akan dijalankan, katanya. Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Suharno mengatakan, penurunan harga beras baru terjadi pada akhir Februari sehingga dampak positifnya baru akan terlihat di Maret.

Ia mengatakan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumut terus melakukan berbagai upaya untuk menekan angka inflasi di Sumut yang dinilai masih tinggi di Januari 2012 atau 1,74 persen. Meski di Februari terjadi deflasi sebesar 0,81 persen, tetapi upaya penekanan inflasi harus dilakukan. Dia mengakui, beras masih menjadi salah satu kelompok barang yang memberikan kntribusi terbesar dalam inflasi dan deflasi di Sumut.

KASUS 2

Permintaan Motor Masih Tinggi


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Permintaan sepeda motor di dalam negeri diperkirakan terus meningkat, seiring dengan membaiknya perekonomian nasional dan suku bunga kredit yang stabil, serta rencana pemerintah membatasi pemakaian bahan bakar minyak bersubsidi.

"Kalau saya lihat pasar (sepeda motor) akan tetap naik," kata Eksekutif Wakil Presdir PT Astra Honda Motor (AHM) Johannes Loman, di Jakarta, Kamis. AHM merupakan pemimpin pasar sepeda motor di dalam negeri dengan penguasaan pasar di atas 50 persen dari total pasar nasional pada Januari-Pebruari yang mencapai hampir 1,3 juta unit.

Johannes Loman menjelaskan pasar sepeda motor sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah penduduk, tingkat pendapatan, infrastruktur, tingkat suku bunga, dan kondisi ekonomi.

"Kondisi ekonomi nasional membaik dan suku bunga juga bagus, mengingat sekitar 76 persen pembelian sepeda motor menggunakan kredit," katanya. Ia juga menilai kebutuhan masyarakat Indonesia pada transportasi yang irit dan efisien masih tinggi. Johannes Loman memperkirakan pada tahun ini pasar sepeda motor di Indonesia akan menembus angka 8,2 juta unit atau naik sekitar 12,3 persen dibandingkan tahun 2010 yang mencapai angka sekitar 7,3 juta unit. Ia mengaku rencana pemerintah membatasi pemakaian BBM bersubsidi untuk kendaraan roda empat hanya akan berpengaruh kecil pada kenaikan permintaan sepeda motor. "Perbandingan pasar sepeda motor dan mobil di Indonesia sangat jauh. Jadi tidak signifikan (pengaruh pembatasan BBM bersubsidi pada penjualan sepeda motor," ujarnya. Tahun lalu penjualan mobil secara nasional menembus angka di atas 700 ribu unit atau sekitar 10 persen dari pasar sepeda motor pada tahun yang sama. Ia mengatakan penjualan sepeda motor masih didominasi konsumen di Jawa dan Bali yaitu sekitar 62 persen dari total penjualan secara nasional. Sedangkan sisanya di luar kedua pulau tersebut.

"Permintaan sepeda motor di luar Jawa dan Bali akan lebih meningkat tahun ini seiring dengan naiknya harga komoditas (pertanian dan perkebunan)." Kata Johannes Loman.