You are on page 1of 4

AGENDA SETTING OLEH KELOMPOK 2 HARIF PUDDIN KUSNIDAR SYARUNUDDIN ZULKIRAM DIKA SUTRYANI

Alur Informasi Alur informasi publik di suatu negara ditentukan oleh sistem politiknya. Negara yang menganut sistem politik otoriter (tertutup), arus informasi berlangsung top down. Negara yang menganut sistem demokrasi (terbuka), arus informasi berlangsung bottom up. Tiga Agenda Setting Konsep agenda setting mengenal tiga agenda: agenda media, agenda publik (khalayak), dan agenda kebijakan.

Negara yang menganut sistem tertutup, media massa pada umumnya menonjolkan agenda kebijakan. Negara yang menganut sistem terbuka, media massa lebih mengedepankan agenda publik. Peran media dalam agenda setting hanya perantara, yang berfungsi sebagai mediasi antara agenda kebijakan dan agenda publik.

Asumsi Dasar Diantara sejumlah isu/topik, maka isu/topik yang mendapat lebih banyak perhatian dari media akan makin akrab dengan khalayak dan dianggap penting dalam jangka waktu tertentu. Khalayak tidak hanya memahami masalah-masalah umum dari media massa, mereka juga memahami betapa pentingnya satu isu/topik dari penekanan yang diberikan media massa terhadap isu/topik itu.

Fungsi Agenda Setting Media Kemampuan media massa untuk menseleksi dan memberikan penekanan terhadap beberapa isu/topik, menyebabkan publik menerima isu/topik tersebut sebagai isu/topik yang penting. Prioritas Pentingnya Topik Setiap hari redaksi menyeleksi berbagai informasi yang masuk berdasarkan prioritas pentingnya suatu informasi. Prioritas pentingnya informasi dalam media massa tercermin dalam penonjolan pemuatan isu/topik tertentu. Proses seleksi pentingnya suatu isu/topik ditentukan oleh gatekeeper (redaktur). Proses kegiatannya disebut gatekeeping, yaitu semua bentuk kontrol informasi pada saat memutuskan untuk menyampaikan isu/topik tertentu seperti : Seleksi Penonjolan ukuran judul/penempatan Pengaturan waktu atau ruang pemuatan Pemotongan Frekuensi pemunculan Komponen informasi yang disajikan. Praktik Agenda Setting di Indonesia Media massa cendrung melaksanakan fungsi berperan serta dalam mempraktikan agenda setting. Agenda publik yang idealnya mendapat porsi utama dikemas dengan memasukkan agenda media. Agenda publik menjadi bias, sehingga agenda kebijakan pemerintah yang diambil bias juga. Agenda kebijakan tidak mendapat porsi yang berimbang di media massa, sehingga publik tidak mengetahui dengan benar apa yang dilakukan pengambil kebijakan. Arus informasi dari publik ke pengambil kebijakan atau sebaliknya melalui media terjadi distorsi. Terjadi missperception antara publik dan pemerintah. Perlu dicari format agenda kebijakan dan agenda publik yang dapat mengalirkan informasi publik agar alur informasi tidak terputus, minimal tidak terditorsi. Pengambil kebijakan sebaiknya proaktif dalam menginformasikan agendanya kepada publik.

tujuan,permasalahan yang di angkat,Saran,kesimpulan,berita yg tdak bleh di siar kan-sara,agama,suku,penipuan,supersip yg mengogon negara


AGENDA SETTING
Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan. Di sinilah kita membayangkan fungsi media sebagai institusi sosial yang tidak melihat publik semata-mata sebagai konsumen. faktor-faktor diluar tubuh teori agenda-setting yang mempengaruhi implementasi teori tersebut. Faktor menonjol adalah pola hubungan yang terbentuk antara pekerja media dengan nara sumber. Review ini akan mengalami edit ulang demi meningkatkan kenyamanan membaca.

Argumen inti dari teori agenda setting adalah isu-isu yang dianggap penting dan menjadi agenda oleh media massa akan berpengaruh secara linier terhadap isu-isu yang dianggap penting dan menjadi agenda oleh publik. Artikel berjudul Beyond Agenda Setting dari Oscar Gandy ini berupaya memaparkan isu-isu lanjutan mengenai pembahasan agenda setting. Isu-isu yang terkait namun tidak banyak dibahas dalam pembahasan inti teori agenda setting itu sendiri. Gandy terutama menggunakan pendekatan ekonomi politik untuk membedah faktor sumber berita yaitu gatekeeper dan nara sumber dalam konteks penyusunan agenda media. Publikasi riset ini kemudian memicu berbagai penelitian sejenis untuk melihat apakah hasil nya bervariasi sesuai jenis media dan kelompok-kelompok isu. Seperti halnya kajian efek media lain, riset-riset agenda setting mengungkap kompleksitas yang ada terhadap fenomena tersebut seiring dengan digunakannya berbagai variabel berbeda sebagai landasan perbandingan. Terdapat perbedaan hasil mengenai kekuatan dan keterkaitan antara konten dan agenda publik manakala peneliti menggunakan kondisi-kondisi yang berbeda. Perbedaan kesesuaian antara agenda media dan agenda publik antara lain dipengaruhi oleh: 1. Derajat ketertarikan pengguna media terhadap urusan-urusan publik 2. Pengetahuan pengguna media mengenai isu-isu dan posisi para kandidat terhadap isu-isu tersebut 3. Keterlibatan pengguna media dalam diskusi isu-isu politik dengan teman dan keluarga 4. Menunjukkan kebutuhan orientasi dalam pola-pola konten media yang berputar-putar

Informasi agenda seting adalah masukan penting dalam menghasilkan pengaruh, dan tujuan utama media massa adalah mengantarkan informasi.

contoh kasus; unit polisi baru berusaha meraih publisitas dengan membocorkan kisah meningkatnya penyerangan pemuda keturunan spanyol dan kulit hitam kepada kaum tua miskin berkulit putih, walaupun data statistik kepolisian menunjukkan penurunan akan jenis kejahatan seperti itu, para jurnalis tidak sanggup menahan tekanan untuk menuliskan kisah tersebut, karena jika mereka tidak menuliskannya maka media lain akan tetap menuliskannya.

berita yg tdak bleh di siar kan. agama.

Suku.

Tujuan.

Kesimpulan.