You are on page 1of 1

Pengaruh Polemik Djawi Hisworo Terhadap Kondisi Sarekat Islam Tahun 1918-1920 Wido Aditya Skripsi: Jurusan Ilmu

Sejarah Fakultas Sastra Dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini membahas tentang perkembangan dari kasus Polemik Surat Kabar Djawi Hisworo terhadap kondisi Sarekat Islam Tahun 1918-1920. Sebagai organisasi massa terbesar pada dasawarsa kedua tahun 1900, kasus polemik surat kabar Djawi Hisworo memiliki pengaruh besar dalam mengubah kondisi internal Sarekat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui perkembangan Sarekat Islam Surakarta pada tahun 1918-1919, untuk mengetahui perkembangan awal kasus polemik surat kabar Djawi Hisworo tahun 1918-1919, serta untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan persdelict surat kabar Djawi Hisworo terhadap kondisi Sarekat Islam dan kehidupan perpolitikan Surakarta 1918-1920. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahap yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu heuristik atau pengumpulan sumber-sumber sejarah melalui penelusuran dokumen tentang Sarekat Islam dan Polemik Surat Kabar Djawi Hisworo serta studi pustaka. Tahap kedua adalah kritik sumber, yaitu memeriksa keaslian dan validitas sumber yang diperoleh. Tahap ketiga adalah interpretasi berupa penafsiran terhadap data yang diperoleh sehingga didapat fakta-fakta sejarah. Tahap keempat penulisan atau historiografi, yaitu menyajikan fakta-fakta yang telah diperoleh dalam bentuk tulisan sejarah. Untuk menganalisa data digunakan pendekatan ilmu sosial yang lain sebagai ilmu bantu ilmu sejarah. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosial dan politik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas dan perkembangan Sarekat Islam Surakarta mengalami penurunan kemampuan pergerakan menjelang awal tahun 1916. Permasalahan ini dipicu oleh pergeseran kepemimpinan SI dari Samanhudi ke Cokroaminoto. Perubahan ini juga menggeser poros kekuatan SI dari Surakarta ke Surabaya, menyusul munculnya cabang lain yang juga pantas untuk diperhitungkan yaitu Sarekat Islam Semarang. Kondisi nasionalisme yang dijunjung oleh para aktivis pergerakan Islam ternyata berbenturan dengan pemikiran kaum nasionalis sekuler dan kaum nasionalisme Jawa. Keadaan kemudian semakin meruncing dengan munculnya kasus polemik surat kabar Djawi Hisworo, dimana kaum Islam merasa dilecehkan dengan artikel yang menghina Nabi Muhammad. Kasus ini semakin naik ke permukaan sebagai akibat konflik politik di tubuh Sarekat Islam. Dukungan dari umat Islam tidak seluruhnya murni dipergunakan untuk menyerang balik Djawi Hisworo dan Martodharsono, tetapi juga dipakai untuk memperkuat kedudukan beberapa tokoh SI seperti Abdul Muis dan Cokroaminoto di Volksraad. Semakin lama, ketidakjelasan penyelesaian dari SI pusat justru memancing reaksi balik dari sebagian tokoh SI yang kritis. Pertentangan di wilayah internal SI pun semakin meruncing yang menyebabkan kasus Djawi Hisworo akhirnya hilang seiring dengan berjalannya waktu.

1/1