You are on page 1of 24

JETri, Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372

* Alumni Jurusan Teknik Elektro FTI, Universitas Trisakti




OPTIMASI SISTEM HIDROTERMIS JAWA-BALI
DENGAN MENGGUNAKAN METODE
RANDOM UNIT OUTAGE

Liem Ek Bien & Ajeng Welly S.*
Dosen Jurusan Teknik Elektro-FTI, Universitas Trisakti

Abstract
Regarding increasing of load demand every year, it is necessary to provide power in large
ammount which directly involved operation cost especially fuel cost. Therefore, to minimize
the fuel cost, should used an optimization technique that is Random Unit Outage, which
result not only in minimum operation cost but also reliability level of the system. this
optimization technique is divided into three steps by three methods; Gradien method,
Dynamic Programming, and Convolution method. To test method, it is implemented for
Jawa-Bali hydrothermal power system of PT PLN (PERSERO) P3B

Keywords: interkoneksi, outage, biaya energi terputus


1. Pendahuluan
Sistem tenaga listrik harus memperhatikan agar daya listrik yang
dibangkitkan pada suatu sistem tenaga listrik harus selalu sama dengan daya
yang dibutuhkan konsumen. Dalam sistem interkoneksi semua pembangkit
perlu dikoordinir agar dicapai biaya pembangkitan yang minimum dengan
tetap memperhatikan mutu dan keandalan dimana menyangkut frekuensi,
tegangan dan gangguan.

Agar energi listrik yang disalurkan dari sistem interkoneksi dapat
digunakan dan bermanfaat bagi para konsumen, perlu dilakukan operasi
sistem tenaga listrik yang matang yang bertujuan untuk menjaga agar bisa
diatur sedemikian rupa sehingga biaya operasi seminim mungkin bisa
dicapai yaitu melalui suatu metode optimasi


2. Pengoptimalan Operasi Sistem Hidrotermis Dengan Metode
Random Unit Outage

Formulasi metode Random Unit Outage dibuat dalam bentuk biaya
total yang diperoleh dari:

Biaya total = OC (t) + EIC (t) (1)






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



2
Dimana:
OC(t) : Operating cost atau biaya operasi untuk suatu periode
tertentu sistem (Rp)
EIC(t) : Expected interruption cost atau biaya energi terputus
untuk suatu periode tertentu sebagai fungsi dari tingkat
keandalan sistem (Rp).

Operation Cost (OC) atau biaya operasi merupakan biaya
pembangkitan yang dikeluarkan untuk membangkitkan sejumlah beban.
Tetapi, karena di Indonesia air bernilai gratis, maka pembangkitan dengan
menggunakan unit PLTA tidak memerlukan biaya operasi (OC), sehingga
biaya operasi hanya diperoleh dari pembangkitan dengan unit termis.

Namun, bagaimanapun juga proses optimasi tetap dilakukan pada
kedua kelompok pembangkit tersebut sehingga, dibagi menjadi dua
subproblem yang diselesaikan secara bertahap yaitu subproblem hidro, yang
dipecahkan dengan menggunakan metode Gradien, dan subproblem termis,
yang diselesaikan dengan metode Dynamic Perogramming (DP).

2.1. Subproblem hidro
Walaupun pembangkitan unit hidro tidak memerlukan biaya,
namun harus tetap diakumulasikan ke dalam perhitungan biaya operasi agar
dihasilkan biaya yang optimum. Oleh karena itu, sebelum dilakukan
perhitungan subproblem termis, harus ada koordinasi antara kedua
kelompok pembangkitan yang dimasukkan sebagai subproblem hidro.
Dalam hal ini, koordinasi dilakukan dengan memakai metode gradient
dimana dalam metode ini, unit pembangkit hidro tidak dibebani konstan
setiap saat tetapi mengikuti perubahan kenaikan biaya bahan bakar per
pembangkitan termis:
Metode Gradient =
|
.
|

\
|
c
c
T
T
P
) F(P


Dengan membebankan unit pembangkit termis secara merit loading yaitu
pembebanan yang diurutkan mulai dari unit yang mempunyai biaya
pembangkitan terendah (termurah).

Dalam subsistem hidro (Djiteng, 1990: 1990), banyaknya air per
satuan waktu (m
3
/detik) sebagai fungsi daya yang akan dibangkitkan adalah
q(P
H
), perubahan pemakaian air sebagai fungsi kenaikan pembangkitan
subsistem hidro menurut deret Taylor hanya memakai suku pertamanya:






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



3
H
H
H
H P
P
) q(P
) q(P A
c
c
= A
(2)

begitu pula untuk subsistem termis, F(P
T
) adalah biaya bahan bakar per
satuan waktu (Rp/Jam) sebagai fungsi daya yang dibangkitkan, maka
kenaikan biaya bahan bakar per satuan waktu sebagai fungsi kenaikan
pembangkitan subsistem termis adalah:

T
T
T
T P
P
) F(P
) F(P A
c
c
= A
(3)

agar didapat hubungan antara ) q(PH A (persamaan (2)) dengan
) F(PT A (persamaan (3)), dipakai persamaan yaitu:

P
B
-(P
H
+P
T
) = 0 (4)

Dari persamaan (4) tersebut, terlihat bahwa suatu kenaikan nilai P
H

diikuti dengan penurunan nilai P
T
dengan jumlah yang sama untuk
melayani suatu nilai beban P
B
, sehingga:

H P A = - T P A (5)

sementara itu dari persamaan (2) didapat:

H P A =
H
H
H
P
) q(P
) q(P
c
c
A


kemudian dengan memasukkan persamaan tersebut ke dalam persamaan (5)
didapat:

F(P
T
) = -
H
H
H
T
T
P
) q(P
) q(P
P
) F(P
c
c
A
c
c


= -
) q(P
P
) q(P
P
) F(P
H
H
H
T
T
A
c
c
c
c







JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



4
= - ) q(PH A | (6)

dimana


H
H
T
T
P
) q(P
P
) F(P
c
c
c
c
= |
(7)

persamaan (6) menggambarkan penghematan biaya bahan bakar yang dapat
dilakukan sebagai fungsi ) q(P
H
A , artinya dengan menambahkan
pemakaian air sebesar ) q(P
H
A , akan didapatkan penghematan biaya bahan
bakar fungsi ) F(P
T
A sebesar mungkin dengan cara melakukannya pada
saat (harga air) mencapai nilai maksimum.

Penyebut dari yaitu
( )
( )
H
H
P
P q
c
c
= |
dianggap konstan.

Oleh sebab itu, nilai yang maksimum didapat dengan mencari nilai
maksimum dari pembilang yaitu
( )
( )
T
T
P
P F
c
c
, artinya pada saat ini nilai
( )
( )
T
T
P
P F
c
c
tinggi, PLTA harus dibebani pada nilai maksimum nya dan pada
saat nilai
( )
( )
T
T
P
P F
c
c
rendah, PLTA harus dibebani pada nilai minimumnya,
maka besar daya yang harus dibangkitkan oleh unit pembangkit hidro pun
harus mengikuti perubahan nilai
( )
( )
T
T
P
P F
c
c
tersebut, dengan batas
pembebanan sebesar:

P
H min
P
H
P
maks
(8)

Yang ditentukan dengan menetapkan suatu nilai P, dimana nilai P






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



5
merupakan nilai
( )
( )
T
T
P
P F
c
c
yang paling kecil yang boleh dipakai, sehingga:


( )
( )
T
T
P
P F
c
c
> P maka P
H
= P
H maks
(9)

dan


( )
( )
T
T
P
P F
c
c
< P maka P
H
= P
H min
(10)

pembebanan unit pembangkit hidro di atas dilakukan dengan mengingat
batasan pada persamaan (8) serta memperhatikan besar produksi energi
(KWh) yang bisa diperoleh dari jumlah air yang diperkirakan masuk (q
inflow
)
ke PLTA dalam suatu periode tertentu, agar total daya hidro yang
dibangkitkan dalam periode tersebut tidak lebih kecil atau melebihi
perkiraan produksi energi tersebut, hal ini bertujuan agar air bisa terpakai
habis sehingga pemanfaatannya effisien.

Dalam paper ini, hasil perhitungan subproblem hidro yang berupa
biaya pembangkitan serta pembebanan unit pembangkit termis tidak akan
digunakan untuk perhitungan selanjutnya, yang dipakai hanya hasil
pembebanan unit pembangkit hidro untuk setiap jam dalam suatu periode.
Hasil yang berupa daya pembangkitan hidro (P
H
) ini akan dikurangi dengan
beban sistem untuk selanjutnya sisanya digunakan untuk perhitungan
subproblem termis dengan metode Dynamic Programming.

2.2. Subproblem Termis
Penyelesaian subproblem termis yaitu penentuan kombinasi
pembebanan diantara unit-unit pembangkit termis tiap satu jam.
Subproblem termis dipecahkan dengan tujuan agar didapat biaya bahan
bakar yang minimal dengan menggunakan metode Dynamic Programming
dalam mencari alternatif yang optimum berupa kombinasi unit pembangkit
termis yang terbaik untuk melayani beban tertentu.

Dynamic Programming adalah suatu cara pemecahan persoalan
untuk mencari keluaran yang optimal dari berbagai alternatif (G. Hadley,
1964: 350-358), dalam hal ini ialah unit pembangkit, yang bisa ditempuh






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



6
untuk memenuhi suatu beban tertentu. Dalam metode ini, peminimalan
biaya dilakukan secara bertahap dimana dilakukan terhadap biaya minimum
unit 1 yang sudah ditambah dengan biaya unit ke-2. Dari perhitungan ini
didapatkan biaya minimum dari dua unit pembangkit serta keluaran unit ke-
2. kemudian dilakukan peminimalan untuk tiga unit. Demikian seterusnya
hingga didapatkan biaya minimum untuk m unit pembangkit (m = jumlah
unit pembangkit) yang terdapat dalam sistem serta keluaran masing-masing
unit tersebut. Keuntungan dari penggunaan metode ini adalah dengan
mengetahui cara optimal untuk pengoperasian m unit pembangkit, maka
dengan mudah dapat ditentukan cara optimal pengoperasian dari (m + 1)
unit pembangkit.

Perumusan pengoptimalan biaya pembebanan dengan metode
Dynamic Programming (DP) dapat dinyatakan sebagai berikut:

F
M
(X) = Minimumkan[f
M
(Y) + F
M-1
(X-Y)] (11)

Dengan batasan batasan:

Y Y
M
(12)

(XY) X
M-1
(13)

Y
M
= {Y | Y=0 atau Y
Mmin
Y Y
Mmaks
} (14)

X
M-1
= {X | X = 0 atau X
(M-1)min
X X
(M-1)maks
} (15)

X
(M-1)min
= Minimumkan [Y
1min
, Y
2min
, Y
3min
, , Y
Mmin
] (16)

X
(M-1)maks
= (X
1maks
+ X
2maks
+ + X
Mmaks
) (17)

Dimana:
F
M
(X) : Biaya bahan bakar minimum M unit pembangkit
dengan beban sebesar X MW (Rp / Jam)
F
M
(Y) : Biaya bahan bakar unit pembangkit ke - M dengan
beban sebesar Y MW (Rp / Jam)
F
M-1
(X-Y) : Biaya bahan bakar minimum (M-1) unit pembangkit
dengan beban sebesar (X-Y) MW (Rp / Jam)
Y
Mmin
: Keluaran minimum unit pembangkit ke-M (MW)
Y
Mmaks
: Keluaran maksimum unit pembangkit ke-M (MW)






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



7
Agar persamaan (11) bisa dipecahkan, harus diketahui dahulu kurva biaya
bahan bakar masing-masing unit pembangkit dengan persamaan berikut ini:

f
M
(Y) = a
0
+ a
1
P
T
+ a
2
P
T
2
(18)

Dengan menggunakan persamaan dari kurva biaya bahan bakar
diatas, maka perhitungan biaya pembebanan dapat dilakukan. Tetapi,
sebelum perhitungan dilakukan harus ditentukan terlebih dahulu nomor-
nomor unit. Penomoran dilakukan dengan cara:
1. Harus selalu diingat adanya batas pembebanan minimum dan
maksimum (Y
Mmin
& Y
Mmaks
) pada masing-masing unit pembangkit.
2. Sebagai unit ke-1, dipilih unit pembangkit dengan keluaran minimum
yang terkecil.
3. Untuk nomor-nomor unit selanjutnya, urutan dibuat berdasarkan pada
unit dengan besar keluaran maksimum yang terkecil sampai unit dengan
keluaran maksimum terbesar.

Langkah-langkah perhitungan optimasi pembebanan unit-unit
pembangkit termis adalah sebagai berikut:
1. Tentukan dahulu step kenaikan () yang sama antara harga X dan Y;
2. Apabila hanya terdapat sebuah unit pembangkit termis (M=1) dalam
sistem, maka beban sistem hanya dapat dilayani oleh satu-satunya unit
pembangkit termis tersebut, sehingga biaya bahan bakar minimum
dapat ditulis menjadi:

F
1
(X) = f
1
(X)

3. Kemudian dengan M=2, yaitu apabila terdapat dua unit pembangkit
termis, maka biaya bahan bakar minimum dapat diperoleh dengan:

F
2
(X) = Minimumkan [ f
2
(Y) + F
1
(X-Y)]

Dengan batasan-batasan:

X = 0 atau Y
1min
X (Y
1maks
+ Y
2maks
)

Y = 0 atau Y
2min
Y Y
2maks


Untuk mencapai nilai minimum pada suatu harga X MW tertentu
yaitu F
2
(X), maka pernyataan f
2
(Y) + F
1
(X-Y) dihitung terlebih dahulu
dengan urutan sebagai berikut:






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



8
a. Dipilih beban sistem X mulai dari nilai yang sekecil mungkin,
kemudian harga X tersebut dibagi untuk unit pembangkit ke-1 sebesar
(X-Y) MW dan untuk unit pembangkit ke-2 sebesar Y MW. Kemudian
dengan mengubah-ubah harga Y dengan variasi , didapatkan nilai yang
minimum (F
2
(X));
b. Dipilih beban sistem X yang lebih besar dan dilakukan kembali proses
perhitungan seperti butir 1 di atas;
c. biaya bahan bakar minimum dapat dihitung yaitu: F
2
(0), F
2
(Y
Mmin
),
F
2
(Y
Mmin
+ ), F
2
(Y
Mmin
+ 2), F
2
(Y
Mmin
+ 3), , F
2
(Y
Mmaks
+ Y
M-1maks).
Sehingga didapatkan komposisi beban unit 1 dan unit 2 yang
menghasilkan biaya bahan bakar minimum untuk berbagai beban
sistem.
4. Untuk M=3, 4, dan seterusnya dapat dihitung dengan cara yang sama
sehingga diperoleh F
3
(X), F
4
(X), , F
M
(X).

Dari proses perhitungan di atas, akan ditentukan keluaran masing-masing
unit pembangkit untuk menanggung beban sistem tertentu.

Sementara itu, perhitungan terhadap biaya energi terputus atau
expected Interrupted cost (EIC) menggambarkan besarnya resiko yang akan
dihadapi apabila kemampuan sistem tidak mampu memenuhi kebutuhan
beban sehingga ada beban yang terpaksa dilepas dari sistem. EIC diperoleh
dari:

EIC
t
=IEAR
t
.EENS
t
t=1,.,T (19)

dimana:
EIC
t
: Expected interrupted costof energy atau biaya energi
terputus dalam periode t (Rp)
IEAR
t
: Interrupted energy assessment rate atau tarif perkiraan
energi terputus dalam periode t (Rp/MWh)
EENS
t
: Expected energy not served atau besar energi yang tidak
dapat dilayani (MWh)

Bahasan Expected energy not served (EENS) ini, dilakukan
perhitungan dengan metode konvolusi yang berguna untuk menghitung
keandalan suatu sistem yaitu melalui parameter LOLP dan EENS. Jika
LOLP menggambarkan besarnya probabilitas suatu sistem tidak bisa
memenuhi beban sistem, maka EENS menggambarkan besarnya beban
sistem yang tidak mampu dipenuhi yang dinyatakan dalam MWh. Dalam






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



9
metode Random Unit Outage, setiap unit pembangkit bisa mengalami
outage atau keluar dari operasi secara acak (random), sehingga LOLP
diperoleh melalui proses konvolusi kapasitas masing-masing unit
pembangkit dengan menggunakan nilai FOR yang dimiliki.

Jadi, untuk setiap penambahan unit pembangkit, probabilitas
keandalannya menjadi:

Pn (X) = P
n-1
(X) (FOR
n
) + P
n-1
(X-C
n
) (1-FOR) (20)

Dimana:
P
n
: Fungsi kurva lama beban setelah ada unit pembangkit
ke-n (MW)
P
n-1
: Fungsi kurva lama beban sebelum ada unit pembangkit
ke-n (MW)
C
n
: Besar kapasitas unit ke-n (MW)
FOR
S
: Nilai FOR unit ke-n

Dalam proses ini, kurva lama beban dibagi kedalam segmen-
segmen daya yang sama yang diambil dari gambar kurva beban harian yang
telah dibuat berupa histogram beban harian yang menggambarkan berapa
lama suatu berlangsung. Di atas setiap segmen terdapat dua angka, angka
pertama disebut m
0
(momen nol) menggambarkan berapa lama suatu beban
dalam suatu segmen berlangsung, yang kedua disebut m
1
(momen pertama)
menunjukan besarnya energi yang dibutuhkan oleh suatu beban dalam
segmen tersebut.

Perhitungan nilai EENS diperoleh dimana nilai EENS adalah
penjumlahan nilai m
1
dari baris terakhir pada tabel konvolusi yang dihitung
mulai dari segmen yang senilai dengan jumlah total kapasitas unit
pembangkit ke atas dikurangi dengan kapasitas total seluruh unit yang
dikonvolusi yang sebelumnya telah dikalikan nilai LOLP.

Tarif perkiraan energi terputus atau dalam bahasa inggris disebut
Interrupted Energy Assessment Rate (IEAR) merupakan faktor yang
penting dalam perkiraan keandalan sistem pembangkitan karena
menggambarkan besarnya pengaruh energi terputus terhadap kehidupan
negara secara makro. Besarnya IEAR berbeda untuk tiap wilayah dan tipe
konsumen yang ditentukan berdasarkan pengaruh terputusnya energi
terhadap suatu tempat atau konsumen. Dalam tulisan ini, diasumsikan
besarnya IEAR adalah Rp1000/Kwh.






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



10
3. Aplikasi dan Analisa Metode Random Unit Outage Untuk
Pengoptimalan Operasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali
Metode pengoptimalan operasi sistem hidrotermis yaitu metode
Random Unit Outage, dapat digunakan untuk mengoptimalkan sistem Jawa-
Bali. Analisa perhitungan dilakukan untuk periode satu minggu pertama
dibulan November 2004 yaitu pada tanggal 1-7 November. Data yang
dipakai dalam perhitungan diambil dari data unit-unit pembangkit P.T.
Indonesia Power dan dari P.T. PLN (PERSERO) P3B Unit UBOS, salah
satunya seperti yang terdapat pada tabel 1 dan gambar 1 di bawah ini.

Tabel 1. Data Beban Senin, 1 November 2004
Waktu (Pukul) Beban (MW) Waktu (Pukul) Beban (MW)
1:00 10149 13:00 11332
2:00 10112 14:00 11829
3:00 10647 15:00 11735
4:00 10412 16:00 11727
5:00 10000 17:00 12330
6:00 9001 18:00 14034
7:00 9129 19:00 14210
8:00 10452 20:00 14076
9:00 11154 21:00 13641
10:00 11380 22:00 12937
11:00 11489 23:00 12095
12:00 10992 24:00 11534

Total kapasitas terpasang sistem Jawa-Bali adalah sebesar 17114,8
MW dimana salah satu unit pembangkit termis yaitu PLTU Paiton yang
besar kapasitas terpasangnya 3240 MW, dibebani konstan selama 24 Jam
sebesar 80% dari besar kapasitas terpasangnya, yaitu 80% x 3240 MW =
2592 MW.Untuk unit-unit yang dayanya relatif kecil seperti PLTA Sutami
(Jatim), PLTA Jeloktimo (Jateng), PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA
Cikalong, dan lain-lain juga dibebani konstan dan berperan sebagai beban
dasar (Base Load) dengan total daya pembangkitan sebesar 850 MW untuk
setiap Jam dalam sehari.

Unit yang menjalani pemeliharaan (Over haul) pada bulan
November adalah PLTG/U Muara Karang Unit 1 dan PLTP Kamojang Unit
2 dan 3.






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



11
0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
14000
16000
0
1
:
0
0
0
2
:
0
0
0
3
:
0
0
0
4
:
0
0
0
5
:
0
0
0
6
:
0
0
0
7
:
0
0
0
8
:
0
0
0
9
:
0
0
1
0
:
0
0
1
1
:
0
0
1
2
:
0
0
1
3
:
0
0
1
4
:
0
0
1
5
:
0
0
1
6
:
0
0
1
7
:
0
0
1
8
:
0
0
1
9
:
0
0
2
0
:
0
0
2
1
:
0
0
2
2
:
0
0
2
3
:
0
0
2
4
:
0
0
:
0
0
Waktu (Pukul)
B
e
b
a
n

(
M
W
)

Gambar 1. Kurva Beban Harian Senin, 7 November 2004

3.1. Penyelesaian Subproblem Hidro
Unit-unit pembangkit hidro yang masuk dalam perhitungan ini
adalah PLTA dengan kapasitas yang relatif besar yaitu PLTA Saguling,
PLTA Jatiluhur, PLTA Cirata, dan PLTA Mrica.

Dalam perhitungan dengan menggunakan metode Gradien
diperlukan jumlah energi yang bisa dihasilkan oleh unit pembangkit hidro
dalam satuhari dimana dalam jangka waktu tersebut volume air dalam
kolam tando dianggap konstan. Untuk mengetahui jumlah energi yang
dihasilkan unit-unit pembangkit hidro di atas pada waktu periode
perhitungan, digunakan data yang telah diketahui yaitu, total produksi
energi sistem pada hari Selasa, 13 November 2001 adalah sebesar 240608
MWH. Maka diasumsikan bahwa pada tahun 2004 kemampuan produksi
sistem mengalami kenaikan sebanyak 5% sehingga menjadi 252638.4
MWH, diketahui bahwa PLTA berperan sebesar 12% dalam penyediaan
daya untuk pemenuhan beban sistem (Djiteng, 2003: 149). Sehingga total
energi yang mampu dihasilkan oleh unit pembangkit hidro dalam sehari
adalah 12% x 252638.4 MWH = 30316.608 MWH, dengan mengingat
pernyataan sebelumnya bahwa PLTA beban dasar mampu memenuhi
kebutuhan beban sistem sebanyak 850 MW tiap jam dalam sehari. Maka
dalam sehari PLTA besar mampu memproduksi energi sebanyak 30316.608
MWH (850 MW x 24 Jam) = 9916.608 MWH.

Sebelum dilakukan perhitungan, dilihat dulu jadwal pemeliharaan
dalam satu minggu ke depan untuk mengetahui unit-unit pembangkit mana
saja yang beroperasi pada minggu tersebut, berikut ini merupakan daftar






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



12
unit-unit pembangkit termis yang masuk dalam perhitungan dan diurutkan
berdasarkan merit loading (Nurhidayat, 2003: 78).

Tabel 2 Urutan unit pembangit termis berdasarkan Merit Loading
No
Unit
Pembangkit
Nama Jenis
Unit
ke-
Bahan
Bakar
Rp /
KWH
Rp
10
6
/Jam
1 Suralaya Suralaya PLTU 5 Batubara 111
196.47

2 Suralaya Suralaya PLTU 6 Batubara 111
3 Suralaya Suralaya PLTU 7 Batubara 111
4 Suralaya Suralaya PLTU 1 Batubara 115
177.1
5 Suralaya Suralaya PLTU 2 Batubara 115
6 Suralaya Suralaya PLTU 3 Batubara 115
7 Suralaya Suralaya PLTU 4 Batubara 115
8 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTU 3 Batubara 141
12.69
9 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTU 4 Batubara 141
10 Semarang Tambak Lorok PLTU 1 Batubara 141
11.562
11 Semarang Tambak Lorok PLTU 2 Batubara 141
12 Semarang Tambak Lorok PLTU 3 Batubara 141 27.072
13 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 3.3.1 1 Gas 163
182.56
14 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 3.3.1 2 Gas 163
15 Perak Grati Perak PLTU 3 Batubara 177
16.992
16 Perak Grati Perak PLTU 4 Batubara 177
17 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 3.3.1 1 Gas 177
175.584
18 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 3.3.1 2 Gas 177
19 Perak Grati Grati PLTGU CC 3.3.1 1 Gas 178 82.236
20 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 2.2.1 1 Gas 180
133.2
21 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 2.2.1 2 Gas 180
22 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 2.2.1 1 Gas 192
117.12
23 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 2.2.1 2 Gas 192
24 Perak Grati Grati PLTGU CC 2.2.1 1 Gas 192 57.6
25 Kamojang Kamojang PLTP 1 Uap 225 6.75
26 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 1 Gas 228
84.36
27 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 2 Gas 228
28 Perak Grati Grati PLTGU CC 1.1.1 1 Gas 231 34.65
29 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU GTOC 1 Gas 234
58.5
30 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU GTOC 2 Gas 234
31 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 1 Gas 241
72.3
32 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 2 Gas 241
33 Perak Grati Grati PLTGU GTOC 1 Gas 254 25.4
34 Semarang Tambak Lorok PLTGU GTOC 1 Gas 254
52.832
35 Semarang Tambak Lorok PLTGU GTOC 2 Gas 254
36 Muara Karang Muara Karang PLTU 4 MFO 288
95.04
37 Muara Karang Muara Karang PLTU 5 MFO 288






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



13
Tabel 2 Urutan unit pembangit termis berdasarkan Merit Loading (lanjutan)
No
Unit
Pembangkit
Nama Jenis
Unit
ke-
Bahan
Bakar
Rp /
KWH
Rp
10
6
/Jam
38 Perak Grati Grati PLTG 1 Gas 303
90.9 39 Perak Grati Grati PLTG 2 Gas 303
40 Perak Grati Grati PLTG 3 Gas 303
41 Muara Karang Muara Karang PLTU 1 MFO 314
80.07 42 Muara Karang Muara Karang PLTU 2 MFO 314
43 Muara Karang Muara Karang PLTU 3 MFO 314
44 Bali Pesanggaran PLTG 3 Gas 320
19.84
45 Bali Pesanggaran PLTG 4 Gas 320
46 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTG 4 Gas 325
13
47 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTG 5 Gas 325
48 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTG 1 Gas 325
26
49 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTG 3 Gas 325
50 Bali Pesanggaran PLTG 1 Gas 325
11.7
51 Bali Pesanggaran PLTG 2 Gas 325
52 Muara Karang Muara Karang PLTG GTOC 1 HSD 384
110.592 53 Muara Karang Muara Karang PLTG GTOC 2 HSD 384
54 Muara Karang Muara Karang PLTG GTOC 3 HSD 384
55 Bali Gilimanuk PLTG 1 Minyak
Diesal
531 70.623
56 Bali Pesanggaran PLTD 8 Minyak
Diesel
536 20.368
57 Bali Pesanggaran PLTD 2 Minyak
Diesel
548 15.344

Daya maksimum (P
HMaks
) yang bisa dibangkitkan oleh keempat unit
pembangkit hidro besar adalah sebesar 1743 MW. Dibawah ini merupakan
kurva beban harian senin, 1 November 2004 dengan pembebanan konstan
oleh PLTA beban dasar dan PLTU Payton sebesar 650 MW + 2592 MW =
3442 MW. Daya yang dibangkitkan oleh kedua unit pembangkit di atas
berharga nol dalam kurva biaya bahan perjam sebagai fungsi beban sistem,
begitu juga dengan daya maksimum unit pembangkit hidro besar karena
pembangkitan dengan tenaga air adalah gratis.

Kurva biaya bahan bakar perjam dibawah ini disusun berdasarkan
jumlah energi maksimum yang bisa dibangkitkan oleh suatu unit
pembangkit, misalnya untuk unit pembangkit pertama, yaitu PLTU
Suralaya unit 1:

P
max
=385 MW






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



14
Harga bahan bakarnya = Rp 115/KWH

PLTU Suralaya Unit 1 akan menghabiskan biaya sebesar:

385 MW x 1 x 1000 x Rp 115 = Rp 44.275.000 /jam

0
500
1000
1500
2000
2500
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000
Beban (MW)
B
i
a
y
a

B
a
h
a
n

B
a
k
a
r

(
R
p
1
0
6
/
J
a
m
)
Gambar 2. Kurva Biaya Bahan Bakar Per Jam Fungsi Beban Sistem

Dilihat dari kurva data beban harian serta dengan memperhatikan gambar 2,
maka diperoleh tabel 3.

Tabel 3. Tabel Kenaikan Harga Bahan Bakar
Waktu (Pukul) Beban (MW)
T
T
P
) F(P
c
c

1:00 10149 177
2:00 10112 177
3:00 10647 177
4:00 10412 117
5:00 10000 117
6:00 9001 163
7:00 9129 163
8:00 10452 177
9:00 11154 178
10:00 11380 178
11:00 11489 178
12:00 10992 177
13:00 11332 178
14:00 11829 180
15:00 11735 180






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



15
Tabel 3. Tabel Kenaikan Harga Bahan Bakar (lanjutan)
Waktu (Pukul) Beban (MW)
T
T
P
) F(P
c
c

16:00 11727 180
17:00 12330 192
18:00 14034 241
19:00 14210 241
20:00 14076 241
21:00 13641 231
22:00 12937 192
23:00 12095 180
24:00:00 11534 180

Berdasarkan tabel 3., dapat disusun kurva
T
T
P
) F(P
c
c
sebagai fungsi waktu
yang menggambarkan prioritas penggunaan air bagi PLTA besar


0
50
100
150
200
250
300
1:00 3:00 5:00 7:00 9:00 11:00 13:00 15:00 17:00 19:00 21:00 23:00
Waktu (Pukul)
d
F
(
P
T
)
/
d
P
T


Gambar 3. Kurva Prioritas Penggunaan Air

Prinsip dari optimasi unit pembangkit hidro dengan metode gradien
adalah menghabiskan air yang tersedia dalam sehari dengan mengikuti
naik-turunnya kurva di atas. Jumlah air yang tersedia (dalam bentuk energi)
adalah 9916,608 MWH dengan P
H

Maks
= 1743 MW dan P
H

Min
= 7,5 MW.
Dari gambar 3., terlihat bahwa prioritas pertama pemenuhan beban oleh
PLTA adalah pada saat beban puncak yang berlangsung selama empat jam.,
jadi sisa energi yang harus dihabiskan adalah:

9916,608 MWH (1743 MW x 4 Jam) = 2944,608 MWH






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



16
Atau dengan kata lain dan dengan berdasarkan pada gambar 3.,
dipakai pembatasan-pembatasan untuk pembebanan PLTA sebagai berikut:
a. Jika harga
T
T
P
) F(P
c
c

> 192, maka unit pembangkit hidro dibebani 1743 MW
b. Jika harga
T
T
P
) F(P
c
c
=192, maka unit pembangkit hidro dibebani 1394,4 MW
c. Jika harga
T
T
P
) F(P
c
c

<192, maka unit pembangkit hidro dibebani sisa dari
energi yang belum habis.

Beban sistem pada hari senin, 1 November 2004, setelah dibebani
maksimum selama 4 jam, maka prioritas selanjutnya adalah membebani
PLTA sebesar 1394,4 MW selama 2 jam sesuai dengan gambar 3 di atas
dimana diketahui bahwa
T
T
P
) F(P
c
c
= 192, adalah selama 2 jam, sehingga
sisa energi menjadi:

2944,608 MWH- (1394,4 MW x 2 Jam) = 155,808 MWH

sisa energi tersebut akan di alokasikan pada proritas ke-dua dengan nilai
T
T
P
) F(P
c
c


sebesar 180 yang berlangsung selama 5 jam, maka untuk setiap jam
PLTA akan dibebani sebesar: 155,808 MWH / 5 Jam = 31,16 MW, dengan
demikian, air yang tersedia akan terpakai habis dan sangat berpengaruh
pada peghematan biaya pembangkitan. Berikut ini ditampilkan waktu-
waktu PLTA dioperasikan:

Tabel 4. Waktu Pengoperasian PLTA
Waktu (Pukul) Beban PLTA (MW) F(PT)/PT
1:00 - 177
2:00 - 177
3:00 - 177
4:00 - 117
5:00 - 117
6:00 - 163
7:00 - 163
8:00 - 177
9:00 - 178
10:00 - 178
11:00 - 178
12:00 - 177






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



17
Tabel 4. Waktu Pengoperasian PLTA (lanjutan)
Waktu (Pukul) Beban PLTA (MW) F(PT)/PT
13:00 - 178
14:00 31,16 180
15:00 31,16 180
16:00 31,16 180
17:00 1394,4 192
18:00 1743 241
19:00 1743 241
20:00 1743 241
21:00 1743 231
22:00 1394,4 192
23:00 31,16 180
24:00 31,16 180
Total 9916,608 MW

3.2. Penyelesaian Subproblem Termis
Hal pertama yang harus dilakukan dalam menyelesaikan
subproblem termis adalah memperoleh karakteristik pembangkitan unit
pembangkit termis yang masuk dalam perhitungan terlebih dahulu. Adapun
unit-unit pembangkit termis yang diikutsertakan kedalam perhitungan
metode Dynamic Programming berjumlah 13 buah seperti yang terdapat
pada tabel 5. dibawah ini:

Tabel 5. Unit-unit Pembangkit Untuk Perhitungan Dynamic Programming
No
Unit
Pembangkit
Nama Jenis #
P
Min

(MW)
P
Max
(MW)
1 Perak Grati Grati PLTG 1 40 100
2 Perak Grati Grati PLTG 2 40 100
3 Perak Grati Grati PLTG 3 40 100
4 Perak Grati Grati PLTGU GTOC 1 40 100
5 Semarang Tambak Lorok PLTGU GTOC 1 40 104
6 Semarang Tambak Lorok PLTGU GTOC 2 40 104
7 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU GTOC 1 40 125
8 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU GTOC 2 40 125
9 Perak Grati Grati PLTGU CC 1.1.1 1 90 150
10 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 1 99 150
11 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 2 99 150
12 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 1 105 185
13 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 2 105 185






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



18
Unit- unit pembangkit termis lain, selain dipakai sebagai beban
dasar dengan berdasarkan urutan merit loading, juga ada yang dipakai
sebagai peban puncak yang dibangkitkan jika suatu beban sistem pada suatu
waktu belum dapat terpenuhi yaitu unit-unit pembangkit yang harga bahan
bakarnya mahal. Keduanya dibebankan secara Merit Loading.

Untuk penentuan karakteristik pembangkitan dari 13 buah unit
pembangkit diatas diambil salah satu contoh yaitu PLTG Grati unit 1, yaitu:
P
T terpasang
= 100,75 MW
P
T maks
= 100 MW
P
T min
= 40 MW

Tabel 6. Pemakaian Bahan Bakar PLTU Grati unit 1
N
F
(Rp/jam)
P
(MW)
P
2
P
3
P
4
PF P
2
F
1 23858835 40 1600 64000 2560000 954353400 3,8174E+10
2 25356771 50 2500 125000 6250000 1267838550 6,3392E+10
3 27155310 70 4900 343000 24010000 1900871700 1,3306E+11
4 36149750 99 9801 970299 96059601 3578825250 3,543E+11
112520666 259 18801 1502299 128879601 7701888900 5,8893E+11

Dari tabel di atas, data kemudian dimasukkan ke dalam persamaan matriks
yaitu B
-1
. C = A

(
(
(

+
=
(
(
(

=
11 889 . 5
7701888900
112520666
128879601 1502299 18801
1502299 18801 259
18801 259 4
E
C
B
,

A= B
-1
. C

5137835.92 3.85 01 1.19 8.26 03 1.13 08
181138.167 1.19 3.76 02 2.64 04 7.7 09
7.06 02 8.26 03 2.64 04 1.88 11 5.89 11
E E E
E E E
E E E E E
+ + ( ( (
( ( (
= - +
( ( (
( ( ( + + +



Maka diperoleh persamaan karakteristik pembangkitan dari PLTG
Grati unit 1, yaitu:






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



19
F = 5137835,92 + 181138,167 P
T
+ 7,06E+02 P
T
2
(Rp/Jam)

Proses berikutnya adalah menghitung biaya pembangkitan termurah
diantara alternatif yang ada yaitu dengan dynamic programming. Proses
perhitungan dilakukan dari unit pembangkit dengan Pmin terkecil,
kemudian dilanjutkan dengan unit pembangkit yang mempunyai Pmax
terkecil demikian seterusnya dengan menggunakan biaya pembangkitan
untuk membangkitkan sejumlah besar beban yang termurah, dalam hal ini,
angkanya tercetak miring dan tebal, angka ini akan digunakan untuk
perhitungan selanjutnya. Angka yang tercetak miring dan tebal yang
terdapat dalam tabel perhitungan dibawah merupakan biaya pembangkitan
minimum yang dihasilkan, yang digunakan untuk perhitungan tahap
selanjutnya.

Step kenaikan () = 50 MW
M = 1
Unit pembangkit ke-1: PLTG Grati unit 1
P
min
= 40 MW
P
maks
= 100 MW
F
1
(Y) = 5137835,92+181138,167P
T
+705,981924P
T
2
(Rp/jam)

Karena hanya 1 unit pembangkit, maka biaya minimum didapat dari satu-
satunya unit tersebut seperti tabel 7 berikut ini:

Tabel 7. Biaya Minimum untuk Satu Unit Pembangkit
X (MW) f
1
(X) = F
1
(Y)
0 5137835.92
50 15959699.08
100 30311471.86

M = 2
Unit pembangkit ke-2: PLTG Grati unit 2
P
min
= 40 MW
P
maks
= 100 MW
F
2
(Y) = 5137835,92+181138,167P
T
+705,981924P
T
2
(Rp/jam)

Setelah seluruh perhitungan dilakukan, sampai dengan M=13, maka
diperoleh hasil berupa alternatif pembebanan yang digunakan untuk
memenuhi beban sistem. Optimasi yang diperoleh dari metode Dynamic
Programming ini diterapkan untuk setiap jam.






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



20
Tabel 7. Hasil Optimasi Dengan Metode Dynamic Programming
X (MW) Y(MW) X-Y(MW) f
2
(Y) F
1
(X-Y) f
2
(Y)+F
1
(X-Y)
0 0 100 5137835,92 5137835,92 10275671,84
50 0 50 5137835,92 15959699,08 21097535
50 50 0 15959699,08 5137835,92 21097535
100 0 100 5137835,92 30311471,86 35449307,78
100 50 50 15959699,08 15959699,08 31919398,16
100 100 0 30311471,86 5137835,92 35449307,78
150 50 100 15959699,08 30311471,86 46271170,94
150 100 50 30311471,86 15959699,08 46271170,94
200 100 100 30311471,86 30311471,86 60622943,72

Sebagai contoh, diambil beban sistem pada hari Senin, 1 November
2004 pukul 19.00 yaitu sebesar 14210 MW.sebelum memenuhi beban
sistem dengan kombinasi pembebanan yang diperoleh dari Dynamic
Programming, beban sistem diketahui sebelumnya telah dipenuhi oleh:

PLTA Beban Dasar : 850 MW
PLTU Paiton : 2592 MW
PLTA Besar : 1743 MW
Unit-unit termis beban dasar : 7994 MW +
Total pembangkitan (sementara) : 13179 MW

Maka sisa beban yang harus dipenuhi oleh ke-13 unit pembangkit yang
masuk dalam proses perhitungan Dynamic Programming adalah sebesar:
14210 MW 13179 MW = 1031 MW.

Dengan melihat kembali kepada tabel perhitungan diatas didapat
bahwa pembebanan yang mendekati sisa beban yang belum terpenuhi
adalah sebesar 1033 MW yaitu dengan kombinasi pembebanan seperti pada
Tabel 8. pada halaman berikut.






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



21
Dalam paper ini, untuk keperluan perhitungan biaya energi terputus
hanya diambil 5 buah unit pembangkit termis yang juga terdapat dalam
perhitungan Dynamic Programing beserta nilai FOR-nya seperti yang
tertera pada Tabel 9. pada halaman berikut ini.

Tabel 8. Kombinasi Pembebanan
No
Unit
Pembangkit
Nama Jenis #
Pembebana
n (MW)
1 Perak Grati Grati PLTG 1 50
2 Perak Grati Grati PLTG 2 50
3 Perak Grati Grati PLTG 3 50
4 Perak Grati Grati PLTGU GTOC 1 100
5 Semarang Tambak Lorok PLTGU GTOC 1 104
6 Semarang Tambak Lorok PLTGU GTOC 2 104
7 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU GTOC 1 125
8 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU GTOC 2 0
9 Perak Grati Grati PLTGU CC 1.1.1 1 150
10 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 1 150
11 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 2 150
12 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 1 0
13 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 2 0

Tabel 9. Perhitungan Biaya Energi Terputus
No
Unit
Pembangkit
Nama Jenis #
P
Max
(MW)
FO
R
1 Perak Grati Grati PLTGU CC 1.1.1 1 150 0,07
2 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 1 150 0,07
3 Semarang Tambak Lorok PLTGU CC 1.1.1 2 150 0,07
4 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 1 185 0,07
5 Tanjung Priok Tanjung Priok PLTGU CC 1.1.1 2 185 0,07

Sebelum dilakukan proses konvolusi dari kelima unit pembangkit di
atas, terlebih dahulu dibuat kurva beban harian, dalam contoh perhitungan
ini adalah untuk hari senin, 1 November 2004, tetapi, karena hanya lima
buah unit yang dimasukkan kedalam perhitungan maka kurva beban harian
ini hanya memuat waktu-waktu dimana terdapat pembebanan dari salah
satu atau seluruh unit pembangkit yang bersangkutan, sehingga diperoleh
kurva beban harian seperti pada halaman berikut ini.






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



22

Kurva beban Harian
0
100
200
300
400
500
600
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23
Waktu (Pukul)
B
e
b
a
n

(
M
W
)


Gambar 4. Kurva Beban Harian 5 Unit Pembangkit

Dengan memperhatikan gambar 4 diatas dan menggunakan
persamaan (3), dibuat proses konvolusi dari 5 unit pembangkit yang
bersangkutan. Berdasarkan nilai m
0
dan m
1
, maka dihasilkan nilai LOLP
dan EENS. Untuk nilai LOLP diambil dari penjumlahan seluruh nilai m
0

dari baris terakhir konvolusi (P
5
(X)) mulai dari segmen 900 MW, yang
merupakan jumlah kapasitas total dari kelima unit pembangkit yaitu 850
MW, ke atas,jadi nilai LOLP:

LOLP = 0,0513+0,0088+0,003413+0,00033+1,2E-04+4,80E-06+1,7E-06

= 0,063916017 jam/hari

Dari gambar di atas, dibuat histogram beban hariannya seperti yang terdapat
pada gambar 5.

Histogram Beban Harian
0
0,5
1
1,5
2
2,5
135 270 300 310 335 400 520
Beban(KW)
W
a
k
t
u
(
J
a
m
)


Gambar 5. Histogram Beban Harian 5 Unit Pembangkit






Liem Ek Bien & Ajeng Welly S., Optomasi Sistem Hidrotermis Jawa-Bali Dengan Menggunakan



23
Kemudian untuk perhitungan EENS, didapat dari penjumlahan nilai
m1 mulai dari segmen 900 MW dari baris terakhir konvolusi (P
5
(X))
dikurangi dengan jumlah total kapasitas dari 5 unit pembangkit (850 MW)
yang telah dikalikan dengan nilai LOLP, yaitu:

EENS = 46,15+8,773+3,755+0,390+0,1539+0,00672+0,00252

-(850x0,063916017)

= 4,904075575 MWh

Setelah diperoleh nilai EENS, dicari dahulu besar biaya energi
terputusnya (EIC) untuk tiap jam,sesuai dengan persamaan (19), yaitu:

EIC = EENSt . IEAR

Adapun diasumsikan harga energi terputusnya (IEAR) adalah Rp
1000/KWh.

Maka dengan menggunakan nilai EENS di atas, bias diperoleh
biaya energi terputus untuk hari senin, 1 November 2004, yaitu sebesar:

EIC = 4,904075575 MWh x Rp 1000/KWh x 1000

= Rp 4904,075575

Setelah kedua objective function diperoleh, yaitu biaya operasi dan
biaya energi terputus.

Maka pada tahap terakhir diperoleh pula biaya total pembangkitan
sistem sesuai dengan persamaan (1), yaitu:

Biaya Total = OC
t
+ EIC
t


= Rp 2,80E+10 + Rp 4904,075575

= Rp 2,80E+10

Terlihat dari hasil perhitungan di atas besar biaya total tidak
berbeda dengan besar biaya operasi, ini dikarenakan sangat kecilnya nilai
EIC.






JETri, Tahun Volume 5, Nomor 1, Agustus 2005, Halaman 1 - 24, ISSN 1412-0372



24
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh bahwa:
1. Dengan menggunakan metode Gradien untuk menyelesaikan
subproblem hidro didapatkan hasil yang lebih optimal karena jumlah air
yang tersedia untuk setiap harinya akan habis terpakai dan
pembebanannya lebih efektif karena mengikuti kenaikan harga air.
2. Dengan menggunakan Dynamic Programming untuk menyelesaikan
subproblem termis, diperoleh alternativ pembebanan antar unit
pembangkit termis yang ekonomis. Selain itu, perhitungan dengan
Dynamic Programming bisa dilakukan jauh hari sebelum diperoleh
perkiraan beban (kapanpun) dengan tetap memperhatikan jadwal
pemeliharaan unit-unit pembangkit.
3. Besar nilai LOLP, EENS, dan biaya total yang dihasilkan dari
perhitungan relatif kecil, hal ini disebabkan karena unit pembangkit
yang dimasukan kedalam perhitungan tahap terakhir hanya 5 unit,tidak
seluruhnya, sehingga, pengaruhnya terhadap biaya total pembangkitan
sistem tidak terlalu terlihat.
4. Secara keseluruhan, proses optimasi dengan metode Random unit
outage selain prosesnya sederhana, juga memberikan hasil yang
ekonomis, singkat, dan memperhatikan keandalan sistem.


Daftar Pustaka
1. Bimantoro jati, Nurhidayat. 2003. Pembagian Beban Yang Ekonomis
Antara Kelompok Hidro dan Kelompok Termis Dengan Metode
Langrange Multiplier. Jakarta: Trisakti.
2. Hadley, G. 1964. Nonlinear and Dynamic Programming. United State
of America: Addison-Wesley Company.
3. Marsudi, Djiteng. 1990. Operasi Sistem Tenaga Listrik. Jakarta: Balai
Penerbit dan Humas ISTN.
4. Marsudi, Djiteng. 2003. Pembangkitan Energi Listrik. Jakarta: PT.
Jalamas Berkatama dan STT YPLN.