You are on page 1of 26

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah matakuliah yang harus diikuti dan dilaksanakan oleh setiap mahasiswa program studi Teknik Pertanian Universitas Andalas. Sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan merupakan salah satu syarat penyelesaian kuliah. Penulis melakukan praktek kerja lapangan ini di PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) Unit Usaha Adolina. Dalam suatu lembaga pendidikan, salah satu program yang dapat membentuk sumber daya manusia yang siap pakai adalah PKL. Mahasiswa dapat

mempraktekkan, mencocokkan teori yang telah didapat selama kuliah dengan keadaan yang sebenarnya yang ada dilapangan atau dunia kerja. Dengan ini, mahasiswa tidak dapat hanya mengetahui secara teori saja, tetapi mengetahui secara langsung dilapangan. Dengan adanya PKL, mahasiswa juga dapat memperoleh pengalaman di dunia kerja sehingga dengan meleksanakan PKL mahasiswa dapat dibentuk menjadi tenaga kerja siap pakai. Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan kurikulum pengembangan wawasan, pengalaman dan pengetahuan praktis mahasiswa melalui program-program usaha dibidang industri perkebunan yang dikelola oleh lembaga pemerintah dan swasta. Proses pengolahan yang dilakukan pada pabrik kelapa sawit (PKS) merupakan proses kontinu, dimana hasil dari suatu proses akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya dan terjadi perubahan kualitas hasil proses, dimana untuk mendapatkan hasil proses ini diperlukan pengolahan yang baik untuk mendapatkan hasil proses ini diperlukan pengolahan yang baik untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan keinginan perusahaan. Hasil pengolahan bahan baku tandan buah segar (TBS) atau Fresh Fruit Bunch (FFB) mendapatkan hasil yang optimal minyak sawit dan inti

sawit tergantung pada mutu bahan baku sesuai dengan standart yang telah ditentukan dan juga mutu peralatan yang diperlukan dalam proses. 1.2 Tujuan Pelaksanaan PKL Adapun tujuan pelaksanaan PKL ini adalah : a. Mengenal peralatan yang ada dipabrik atau perusahaan. b. Memperluas wawasan mahasiswa dalam bidang teknik pengolahan umumnya dan teknik tanah dan air khususnya. c. Mengenal ruang lingkup kerja di pabrik atau diperusahaan ditempat kita kerja. d. Mengenal sistem kerja organisasi diperusahaan. 1.3 Manfaat Pelaksanaan PKL Manfaat pelaksanaan PKL ini adalah : 1. Bagi Mahasiswa Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan. Sebagai bahan perbandingan ilmu yang didapat secara teori selama diperkuliahan dengan kerja praktek langsung diperusahaan pabrik yang ditempatkan. Sebagai media untuk melatih diri agar dapat bekerja dilapangan secara realitas dan mengenal lingkungan masyarakat pada umumnya serta perusahaan atau pabrik pada khususnya. Sebagai media menjadikan kesempatan besar bagi mahasiswa yang berprestasi agar dapat diterima bekerja setelah menyelesaikan kerja praktek. 2. Bagi Fakultas Sebagai sarana untuk memperkenalkan Universitas Andalas kepada perusahaan.

Sebagai sarana untuk menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan.

3. Bagi Perusahaan Sebagai sarana untuk mencari bibit-bibit pekerja handal secara langsung diperusahaan. Sebagai bahan untuk membandingkan atau usulan bagi perusahaan upaya menyelesaikan beberapa permasalahan yang terjadi

diperusahaan. 1.4 Desksripsi Tempat Penelitian 1.4.1 Sejarah Perusahaan Unit Adolina didirikan oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1926 dengan nama NV Cultuur Maatschappy Ondenerming (NV CMO) yang bergerak dalam budidaya tembakau. Pada tahun 1938 budidaya tembakau diubah menjadi kelapa sawit dan karet dengan nama NC Serdang Cultuur Maatschappy (SCM) sejak tahun 1973 budi daya karet diganti dengan kakao, sedangkan kelapa sawit tetap dipertahankan . Pada tahun 1942 diambil oleh pemerintah Jepang dari pemerintah Belanda. Pada tahun 1946 diambil kembali oleh pemerintah Belanda dengan nama NV SCM. Maka pada tahun 1958 perusahaan ini diambil alih oleh Republik Indonesia dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), tahun 1960 PPN diganti dengan nama PPN Baru SUMUT V. Pada tahun 1963 PPN Baru SUMUT V dipisah menjadi dua kesatuan yaitu : 1. PPN Karet III kebun Adolina Hulu, Kantor Kesatuan di Tanjung Morawa. 2. PPN Aneka Tanaman II Kebun Adolina Hilir , Kantor Kesatuan di Pabatu. Pada tahun 1968 PPN Aneka Tanaman II diganti menjadi PNP VI, dengan penggabungan kembali PPN Karet III Kebun Adolina Hulu dengan PPN Aneka Tanaman II Kebun Adolina Hilir, lalu pada tahun 1978 PNP VI diubah menjadi bentuk Persero dengan nama PT. Perkebunan VI (Persero). Tahun 1994 PTP VI, PTP VII, PTP VIII digabung dan dipimpin oleh Direktur Utama PTP VII. Sejak tanggal 11 maret 1996 sampai dengan saat ini gabungan PTP

VI, PTP VII, PTP VIII diberi nama PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Adolina merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Untuk dewan Direksi terdiri dari : 1. Direktur Utama 2. Direktur Produksi 3. Direktur Keuangan : H.Dahlan Harahap : H.Balaman Tarigan : Setia Dharma Sebayang

4. Direktur Pengembangan/Pengamatan : Ahmad Haslan Saragih 5. Direktur SDM/UMUM : H.Rusdi Lubis

Luas areal hak guna usaha kebun Adolina adalah seluas 8.965,96 Ha, dan dibagi menjadi tiga bagian tanaman, yaitu : Kelapa Sawit seluas 8815,69 Ha, Kakao seluas 150 Ha, dan lainnya 329,69 Ha (Termasuk Emplasment, Pondok, Bibitan, dan pabrik). Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina ini awalnya didirikan pada tahun 1956 dengan kapasitas 26 ton Tandan Buah Segar (TBS)/Jam, namun pada saat ini kapasitas PKS yang terpasang adalah 30 ton TBS/Jam dengan tingkat stagnasi sebesar 1,58% dan tingkat losses mencapai 1,53 %. 1.4.2. Letak Geografi Sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Nomor : 04.13/Kpts/Org/93/XII/1998 tanggal 17 Januari 1998 memutuskan terhitung mulai tanggal 1 Januari 1999 melebur kebun Bangun Purba dan merubah statusnya menjadi Afdeling Unit : Adolina, Kantor Kebun / Unit : Adolina merupakan pintu gerbang PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) , yang berada di Kabupaten Serdang Bedagai tepatnya di pinggiran jalan raya Medan-Pematang Siantar dengan jarak 38 Km dari Medan. Yang dikelilingi oleh 21 desa, berada di enam kecamatan yaitu : Perbaungan, Pantai Cermin, Pegajahan (beradaa di Kabupaten Serdang Bedagai), Galang, Bangunan Purba, dan STM Hilir (berada di Kabupaten Deli Serdang). Topografi tanah keadaannya datar dengan ketinggian 15 meter di atas permukaan laut.

1.4.3 Sistem Manajemen Mutu dan Lingkungan Sistem Manajemen Mutu dan Lingkungan di PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Adolina telah dilaksanakan pada tahun 2004 dan telah memiliki ISO diantaranya adalah ISO 9001 : 2008 tentang Mutu dan ISO 14001 : 2004 tentang Lingkungan. 1.4.4 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 1. Pengolahan sistem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) kepada tamu yang dilakukan oleh P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan Dan Kesehatan Kerja). 2. Struktur P2K3 P2K3 diketuai langsung oleh Manager Unit Adolina 3. Sistem Izin Kerja (SIK) SIK untuk ketinggian ketinggian > 2 m) SIK Panas SIK Penggalian SIK Ruangan tertutup : Pengelasan : Instalasi kabel, pipa bawah tanah : Tangki Timbun Minyak. : Penyucian atap seng pabrik (dengan

4. Prosedur Keadaan Darurat Apabila lonceng darurat berbunyi sesuai dengan ketentuan dalam prosedur keadaan darurat maka seluruh pekerja harus keluar ke titik evakuasi. 5. Pelapor sumber bahaya/ cidera Yaitu melaporkan jika ada sesuatu hal yang berpotensi menimbulkan bahaya atau cidera ke P2K3. 6. Menyediakan kotak P3K di lokasi yang rawan kecelakaan 7. Setiap memasuki pabrik diharuskan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) 8. Mematuhi pembatas akses yaitu merupakan garis beewarna kuning yang berada di lantai merupakan daerah terlarang bagi tamu terkecuali didampingi oleh pembimbing lapangan.

1.5 Waktu Pelaksanaan PKL dan Jadwal Kegiatan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 17 Februari 2012 di Kebun Sawit Afdeling II dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Unit Usaha Adolina Perbaungan, Sumatera Utara. Jadwal kegiatan disajikan pada tabel 1 dan kegiatan selama PKL dilihat pada lampiran 2.

Tabel 1. Jadwal kegiatan PKL No. 1 2 KEGIATAN Pengurusan administrasi Pengenalan kebun (Afdeling) Orientasi di Pembibitan Pengenalan Irigasi Pembibitan Orientasi di lapangan Orientasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Pengenalan PKS Proses pengolahan kelapa sawit * Stasiun Timbangan * Stasiun Loading Ramp * Stasiun Perebusan * Stasiun Penebah * Stasiun Klarifikasi Perminyakan * Stasiun Pabrik Biji * Stasiun Ketel Uap/Boiler * Stasiun Pembangkit Tenaga Sarana Pendukung * Stasiun Demint Plant Penanganan Limbah Pabrik * Limbah Padat * Limbah Cair * Emisi Gas Buang Pembuatan dan Pengumpulan Laporan Perpisahan dan Penyerahan Plakat kepada pihak PTPN IV Adolina 6
JANUARI FEBRUARI

II

III

IV

VI

3 4

7 8

BAB II PROSES PENGOLAHAN LIMBAH 2.1. Pengertian Limbah Limbah adalah suatu sisa usaha atau kegiatan produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat atau konsentrasinya dan jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan merusakkan lingkungan hidup, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Limbah yang dihasilkan selama proses produksi CPO dipabrik kelapa sawit yaitu berupa limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. 1. Limbah Padat Limbah padat dihasilkan dari stasiun penebah, stasiun kempa, stasiun pabrik biji dan stasiun ketel uap. Limbah padat yang dihasilkan dari stasiun penebah janjangan kosong. Limbah padat dari stasiun kempa berupa tankos, limbah padat dari stasiun pabrik biji berupa fibre dan cangkang inti kelapa sawit, dan limbah dari ketel berupa abu ketel. Limbah padat berupa tankos (tandan kosong), cangkang inti dan abu ketel disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Limbah padat

2. Limbah cair Limbah cair adalah limbah yang dihasilkan yang berbentuk cairan yang masih mengandung bahan kimia dan minyak. Limbah cair ini berasal dari stasiun sterilizer (perebusan), stasiun klarifikasi, air penambung debu ketel dan air cucian pabrik. Bak penampung limbah cair yang berasal dari stasiun sterilizer dan stasiun klarifikasi, dan kemudian di alirkan ke kolam limbah disajikan pada gambar 2.

Gambar 2. Limbah cair 3. Limbah gas Limbah gas adalah limbah yang dihasilkan yang berbentuk gas berupa asap dan debu yang dihasilkan sumber tenaga seperti boiler. Limbah gas disajikan pada gambar 3.

Gambar 3. Limbah gas 8

2.2 Hasil Pengolahan Dalam pabrik kelapa sawit terjadi serangkaian proses untuk menghasilkan minyak kelapa sawit. Di PKS PT. perkebunan Nusantara IV (Persero) Unit usaha Adolina. Proses pengolahan TBS tidak sampai menghasilkan minyak inti sawit (PKO), namun hanya sebatas penghasilan inti sawit (kernel) dan minyak kelapa sawit (CPO) saja, dengan kapasitas pabrik 30 ton/jam dengan spesifikasi : Tabel 2. Kapasitas pabrik
No 1 2 Bagian Pengolahan Kapasitas olah Hari olah Hasil Rendemen Produksi minyak sawit Produksi inti sawit Jumlah 30 ton/jam 278 hari

3 4

24,30% 4,90%

2.3 Limbah Limbah adalah sisa hasil pengolahan kelapa sawit dipabrik kelapa sawit yang terdiri dari limbah padat, limbah cair dan limbah gas. 1. Limbah Padat 1.1 Stasiun Penebahan Stasiun penebah berfungsi untuk memisahkan berondolan (buah) dari janjangan atau tandannya. Efisiensi dari stasiun penebah yang tinggi akan didapatkan jika proses perebusan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Buah matang dari sterilizer diatur masuk sebagai umpan kedalam thresher yang kecepatannya diatur oleh variabel speed. Didalam thresher buah dipisah dengan tandannya dengan cara dibantingkan/dijatuhkan dengan kecepatan perputaran 25 Rpm. Tandan/janjangan hasil pemisahan dikirim kelapangan sebagai limbah padat yang digunakan sebagai

pupuk organik. Stasiun penebah disajikan pada gambar 4 dan thresher disajikan pada gambar 5.

Gambar 4. Stasiun penebah

Gambar 5. Thresher

10

1.2 Stasiun kempa Stasiun kempa berfungsi untuk mengempa buah sehingga menghasilkan minyak sebagai cikal bakal CPO. Pada proses ini buah sawit dilumatkan untuk mengeluarkan minyak dan biji. Limbah padat yang dihasilkan adalah berupa fiber yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Stasiun kempa disajikan pada gambar 6.

Gambar 6. Stasiun Kempa 1.3 Stasiun Pabrik Biji Stasiun pabrik biji berfungsi untuk memisahkan cangkang dan inti (kernel) untuk menghasilkan inti sawit dengan mutu sesuai spesifikasi. Limbah yang dihasilkan berupa cangkang dan serabut yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Stasiun pabrik biji disajikan pada gambar 7.

Gambar 7. Stasiun pabrik biji 11

1.4 Stasiun Klarifikasi Stasiun ini berfungsi sebagai penyaringan/pembilasan atau pemurnian minyak untuk memisahkan minyak dari masa padatan berupa pasir dan fiber yang ada didalam minyak. Limbah padat yang dihasilkan adalah berupa pasir dan serat.

Gambar 8. Stasiun klarifikasi 1.5 Stasiun Ketel Uap Stasiun ini berfungsi untuk menghasilkan uap yang berfungsi sebagai penggerak turbin dan sebagai media perebusan TBS serta pengering inti. Limbah padat yang dihasilkan berupa abu ketel. stasiun ketel uap disajikan pada gambar 9.

Gambar 9. Ketel uap

12

2. Limbah Cair 2.1 Stasiun Sterilizer (Rebusan) Stasiun ini berfungsi untuk mempermudah brondolan lepas dari tandan pada waktu proses penebahan di thresher dan menghentikan proses peningkatan Asam lemak Bebas (ALB). Limbah cair yang dihasilkan adalah air pembuangan/endapan dari dalam buah. Stasiun sterilizer (rebusan) disajikan pada gambar 10.

Gambar 10. Stasiun Sterilizer 2.2 Stasiun Klarifikasi Stasiun ini berfungsi sebagai penyaringan/pembilasan atau pemurnian minyak untuk memisahkan minyak dari masa padatan berupa pasir dan fiber yang ada didalam minyak. Limbah cair yang dihasilkan berupa sluge. Stasiun kalarifikasi disajikan pada gambar 11.

Gambar 11. Stasiun klarifikasi 13

3. Limbah Gas 3.1 Stasiun Pembangkit Tenaga Stasiun ini berfungsi sebagai pengubah air menjadi uap, yang digunakan sebagai sumber tenaga pada proses pengolahan kelapa sawit. Limbah gas yang dihasilkan berupa asap putih dan hitam yang langsung dibuang ke udara bebas. Stasiun pembangkit tenaga disajikan pada gambar 12.

Gambar 12. Cerobong asap 2.4 Proses Pengolahan Air Limbah Limbah cair yang dihasilkan berupa cairan yang masih mengandung minyak dan komponen kimia tertentu. Limbah cair ini memerlukan perlakuan khusus agar tidak berbahaya bagi lingkungan, ada beberapa fungsi dari pengolahan limbah cair, diantaranya : 1. Untuk mengolah limbah cair sampai pada tingkat baku mutu yang telah ditentukan oleh departemen lingkungan hidup melalui kepmen Nomor KepMen LH no: 28 tahun 2003 tentang Land Application dengan pH 6-9, BOD = 3000 5000 mg/I 2. Menghasilkan bahan organik yang berguna sebagai pupuk dimana limbah cair yang dihasilkan PKS 60% dari TBS diolah.

14

3. Menghasilkan CH4 (gas metan), CO dan endapan solid CH4 yang dapat digunakan sebagai sumber renewable energy. 4. Untuk mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas, dan tingkat bahaya limbah cair yang berasal dari proses produksi.

Penanganan limbah cair dapat dilakukan secara fisika, kimia, dan biologis. Secara fisika limbah cair dapat ditangani dengan melakukan sedimentasi, filtrasi dan pengumpalan mekanis. Secara kimia limbah cair dapat ditangani dengan memanfaatkan reaksi reaksi kimia seperti netralisasi, oksidasi, reduksi, dan pertukaran ion ion kimia. Namun, untuk mendapatkan reaksi yang terbaik, perlu dilakukan kontrol terhadap pH dengan penambahan asam atau alkali. Secara biologis limbah cair dapat ditangani dengan menggunakan bantuan mikroorganisme yang dapat menguraikan senyawa senyawa berbahaya yang masih terkandungdalam limbah cair. Pengolahan limbah cair dipabrik kelapa sawit Adolina dilakukan dengan menggunakan kolam kolam seperti bak pengutip, bak fat fit, deoling pond dan kolam limbah. Kolam limbah terdiri dari acidification pond, anaerobic pond, facultive pond dan aerobic pond. 1. Bak pengutip Bak pengutip adalah bak yang digunakan untuk menampung air bilasan dari proses produksi. Minyak dan lumpur yang masuk ke bak ini kemudian dikutip dan diambil minyaknya dan membuang lumpurnya. Lumpur yang dibuang melalui pipa ke parit pembuangan menuju bak fat-fit. Lumpur yang terbuang berwarna coklat dan masih mengandung minyak. Bak pengutip disajikan pada gambar 13.

15

Gambar 13. Bak pengutip 2. Bak fat fit Bak fat fit merupakan bak penampung limbah sementara yang digunakan untuk mengambil minyak yang terbuang bersama lumpur yaitu sisa pembuangan dari air rebusan (kondensat), air buangan klarifikasi. Jumlah bak yang digunakan adalah 8 buah bak yang dibagi menjadi 2 unit bak yang setiap unit terdiri dari 4 buah bak yang disekat sekat satu dengan yang lain. Bak fat fit berada dalam bangunan beratap tanpa dinding penutup dengan pagar yang dipasang pada permukaan atas cairan yang mengalirkan minyak yang berada dibagian atas. Bak ini diberi steam dengan tekanan 3 kg/cm2 agar tidak terjadi pembekuan untuk lebih mengoptimalkan pemisaha air dan lumpur serta menurunkan viskositas cairan. Steam diberi dengan cara menginjeksikan uap bekas BVP ke setiap bak. Prinsip kerja bak fat fit adalh cairan yang akan mengalir pada pipa bagian dasar kolam, sedangkan lumpur akan terlihat melayang dipermukaan karena lumpur masih mengandung minyak memiliki berat jenis yang lebih kecil, sehingga lumpur akan melayang (pada keadaan dingin). Pada keadaan panas lumpur tidak akan melayang karena lumpur masih bercampur minyak. Minyak yang terambil akan ditampung ditangki penampungan

16

untuk dialirkan ke stasiun klarifikasi sedangkan lumpur akan dialirkan ke deoling pond. Gambar bak fat fit disajikan pada gambar 14.

Gambar 14. Bak fat - fit 3. Deoling pond Deoling pond adalah tempat penampungan sisa minyak dan lumpur yang berasal dari bak fat-fit sebelum dialirkan kekolam penampungan limbah. Deoling pond berfungsi untuk mengutip kembali sisa miyak yang belum terkutip di bak fat-fit sehingga kadar maksimum minyak menjadi 0,5%. Kadar minyak pada deoling pond lebih tinggi dari standar yang berlaku diakibatkan beberapa hal, yaitu adanya kebocoran di stasiun klarifikasi, losses minyak di sludge separator > 0,5%. Pengutipan minyak di stasiun klarifikasi dan bak fat-pit efektif dan pengutipan di deoling pond tidak dilakukan. Deoling pond memiliki kedalaman 3 m dengan retention time selama 4 hari. Deoling pond berupa bak terbuka yang berupa persegi panjang. Deoling pond dilengkapi suatu alat yang disebut rodos. Rodos berupa silinder yang berputar dan bergerak maju mundur yang berfungsi untuk mengutip minyak yang berada dibagian atas. Loses yang tertampung pada deoling pond akan dipisahkan dengan rodos. Rodos dilengkapi dengan plat pengikis untuk melepaskan minyak yang menempel pada rodos. Rodos ini bergerak electromotor.

17

Rodos berada diujung deoling pond dan berada di permukaan cairan yang disanggah oleh dua buah tiang dan kabel sliup penahan. Cairan yang masih mengandung minyak ditampung dan setelah beberapa hari kandungan minyak dalam cairan akan semakin banyak. Untuk itu diperlukan pengutipan kembali. Minyak yang terpisah disalurkan dengan bantuan pompa ke penampungan dan dialirkan ke stasiun klarifikasi, sedangkan lumpur dialirkan kekolam penampungan limbah. Gambar deoling pond disajikan pada gambar 15.

Gambar 15. Deoling pond 4. Kolam limbah Kolam limbah berfungsi sebagai tempat penampung akhir sisa

pengolahanlimbah cair yang masih mengandung pH 4. Limbah ini akan diolah menjadi limbah yang siap untuk dimanfaatkan dan dapat disalurkan ke areal perkebunan melalui parit instalasi. Karakteristik limbah yang masuk kedalam kolam pengendapan limbah adalah sebagai berikut : Tabel 3. Karakteristik limbah yang masuk kedalam kolam pengendapan limbah No 1 Parameter BOD Satuan Mg/I Kisaran 20.000 30.000

18

2 3 4 5 6 7 8 9

COD Suspensed solid Total solid Minyak dan lemak NH3 N Total N Suhu Ph

Mg/I Mg/I Mg/I Mg/I Mg/I Mg/I 0c -

40.000 60.000 15.000 40.000 30.000 70.000 5.000 7.000 30 40 500 800 90 140 45

Limbah cair yang telah dikutip di deoling pond mempunyai karakteristik asam dengan pH 4 4,5 dan suhu 70 800C limbah ini akan masuk kedalam kolam pendinginan dimana suhu limbah akan diturunkan menjadi 40 500C agar bakteri eshopilik dapat berkembang biak dengan baik. Setelah itu, limbah akan masuk ke actification pond (kolam pengemasan) untuk menaikan kandungan asam mudah menguap (volatile fatty acid) dari 1000 ppm menjadi 5000 ppm. Selain itu untuk menaikkan pH, kolam pengemasan juga bertujuan untuk menambah nutrisi bakteri dan membantu proses pendinginan. Kolam pengemasan ini memiliki kedalaman sekitar 3 m dengan retention time 4 hari. Limbah yang berasal dari kolam pengemasan ini akan dialirkan kekolam netralisasi untuk menaikkan pH limbah. pH dinaikkan dengan cara menambah alkali pada limbah. Setelah itu, limbah limbah akan dialirkan kekolam anaerobik (anaerobic pond). Tujuannya yaitu untuk mengurangi butiran butiran minyak yang masih tersisa atau senyawa organik yang kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bakteri yang akan digunakan kedalam kolam anaerobik pada awalnya dipelihara apada suatu tempat dengan untuk pembiakan bakteri. Dalam pembiakan awal perlu ditambahkan nutrisi yang merupakan sumber energi dalam metabolisme bakteri. Lalu akan menunjukkan perkembangannya dengan indikasi munculnya gelembung gelembung gas dipermukaan umumnya gelembung

19

gas ini muncul setelah 2 4 hari. Setelah tumbuh, maka bakteri tersebut dimasukkan kedalam kolam anaerobik yang sebelumnya telah diisi dengan limbah matang. Limbah matang adalah limbah yang telah melalui proses pengasaman dengan netralisasi dengan pH 7. Kolam anaerobik ini memiliki kedalaman 3 m agar aktifitas bakteri tidak menurun dengan retention time 47 hari. Zat zat organik didalam kolam anaerobik diuraikan oleh bakteri secara bertahap. Tahap pertama, bakteri yang berperan adalah clostridium, peptocoocus, desulvofibrio, dan lactobacillus untuk membentuk CH3COOH, tahap kedua yaitu CH3COOH dirombak oleh bakteri Methanobacterium, Methanobacillus, Methanococcus dan Methanosarcina untuk membentuk metan, dalam kolam anaerobik bakteri anaerobik yang aktif akan membentuk asam organik yang menjadi metan dan CO2. Jika BOD (debiological demand) limbah pada kolam anaerobik masih cukup tinggi, maka limbah akan diproses kembali pada kolam anaerobic sendimentation adalah dengan cara sirkulasi yang bertujuan untuk menurunkan temperatur, menaikkan pH dan menambah jumlah mikroorganisme. Sirkulasi dilakukan dengan menggunakan pompa berkapasitas 30 m3/jam. Kemudian limbah cair ini akan dialirkan kekolam komulatif untuk merombak senyawa yang masih tersisa dari kolam anaerobik dengan menggunakan oksigen. Kolam fakulatif memiliki kedalaman 3 m dengan retention time 25 hari. pH kolam fakulatif adalah 7,6 7,8. Jika pH lebih dari 7,6 berarti proses penguraian butiran minyak pada kolam kolam sebelumnya tidak berlangsung efektif. Proses yang terjadi pada kolam fakulatif adalah proses penonaktifan bakteri anaerobik dan prakondisi proses anaerobik. Aktifitas ini dapat diketahui dengan indikasi pada permukaan kolam tidak dijumpai scum dan cairan tampak kehijau hijauan. Dikolam fakulatif terjadi proses penguraian ditiga zona yaitu zona atas, zona tengah, dan zona bawah.

20

Dizona atas bakteri yang digunakan adalah bakteri aerobik. Di zona tengah bakteri yang digunakan adalah bakteri anaerobik fakulatif. Di zona bawah bakteri yang digunakan adalah bakteri anaerobik. Lalu limbah dialirkan kekolam aerobik untuk proses aerobik dengan cara memasukkan oksigen kedalam air limbah dengan bantuan aerator. Aerator digunakan untuk melakukan proses aerasi yang bertujuan untuk mengikat oksigen, menghilangkan sisa sisa gas dan menonaktifkan bakteri bakteri anaerobik. Prinsip aerasi adalah memperluas permukaan air sehingga kontak dengan udara dapat berlangsung dengan mudah. Aerator bekerja dengan menyemprotkan udara didasar kolam. Umumnya aerator menggunakan kincir atau piddle yang diputar oleh sebuah motor listrik aerator yang ada di kolam anaerobik. Prinsip aerasi adalah memperluas permukaan air sehingga konyak dengan udara dapat berlangsung lebih mudah. Aerator bekerja dengan menyemprotkan udara didasar kolam. Umumnya aerator menggunakan kincir atau piddle yang diputar oleh sebuah motor listrik. Aerator yang terdapat dikolam aerobik adolina yaitu sebanyak dua unit dengan kapasitas 90 m3/menit. Kolam aerobik tidak perlu terlalu dalam agar dapat ditembus oleh sinar matahari sampai kedasarnya. Kedalaman kolam ini umumnya 2 m dengan retention time 50 hari. Pada kolam ini telah tumbuh ganggang dan mikroba heterotop yang membentuk floc. Hal ini merupakan proses penyediaan oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba dalam kolam. Metode pengadaan oksigen dapat dilakukan dengan secara alami. Dengan adanya sinar matahari, maka ganggang dan mikroba heterotop dapat melakukan proses fotosintesis, sehingga oksigen yang terbentuk dapat semakin meningkat. Dengan adanya oksigen, maka proses penguraian bahan organik pada limbah dapat berlangsung. Tahap akhir yang akan dilakukan dalam proses pengolahan limbah adalah land aplication. Land aplication merupakan pemanfaatan limbah cair pabrik untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan menyalurkannya kegawangan (parit).

21

Kadar BOD limbah cair yang digunakan untuk land aplication adalah sekitar 3.000 5.000 ppm (diambil dari anaerobic pond). Pada land aplication, semua rumput dan tanaman liar yang berasa dipinggiran parit harus dibersihkan dan perlu dibuat sumur pantau untuk mengetahui pengaruh pencemaran yang mungkin terjadi. Selain itu, air limbah yang digunakan untuk land aplication juga dianalisa setiap 1 bulan agar menghindari terjadinya pencemaran lingkungan. Berdasarkan semua rangkaian proses diatas, maka waktu tinggal limbah mulai dari awal proses penanganan limbah berlangsung yaitu kolam pendingin sampai air buang ke badan lingkungan, membutuhkan waktu tinggal selama 47 hari. Gambar kolam limbah disajikan pada gambar 16.

Gambar 16. Kolam limbah

22

5. Land aplication Land aplication adalah pembuangan / jalur parit pembuangan terakhir limbah yang dialirkan ke areal perkebunan melalui parit yang dibuat diareal perkebunan. Gambar land aplication disajikan pada gambar 17.

Gambar 17. Land aplication

23

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan Pabrik Adolina merupakan pabrik yang mengelola kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit kasar. Pengolahan kelapa sawit menghasilkan limbah yang berbentuk padat, cair dan gas. Limbah padat dihasilkan dari stasiun penebah, stasiun kempa, stasiun pabrik biji dan stasiun ketel uap. Limbah cair dihasilkan dari stasiun rebusan (sterilisasi), stasiun klarifikasi, air pendingin ketel air penampung debu ketel, air cucian pabrik. Limbah gas dihasilkan dari mesin mesin yang digunakan dan sumber tenaga seperti boiler. Limbah padat PKS Adolina digunakan sebagai pupuk organik dan bahan bakar. Limbah gas PKS Adolina langsung dilepaskan keudara tanpa ada perlakuan khusus. Limbah cair PKS Adolina digunakan sebagai pupuk organik dengan menerapkan land aplication yaitu pemanfaatan limbah cair pabrik untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan menyalurkannya ke parit parit di area perkebunan. Namun sebelum digunakan, limbah cair ini harus diolah terlebih dahulu, agar tidak berbahaya terhadap lingkungan. Pengelolaan limbah cair yang di PKS Adolina dilakukan dengan bak fat pit, bak deoling pond dan kolam limbah, hingga limbah yang dihasilkan bersifat ramah lingkungan. 3.2 Saran 1. Pihak perusahaan diharapkan lebih memperhatikan dan terus meningkatkan kualitas limbah yang dihasilkan agar ramah lingkungan. 2. Kadar BOD dan COD agar disesuaikan dengan karakteristik limbah yang dikeluarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup.

24

3. Buat teman-teman yang nanti Praktek Kerja Lapangannya di PTPN 4 Unit Usaha Adolina ini agar lebih teliti lagi dalam mengambil data. Sebab setiap tahun data di perusahaan ini dapat berubah.

25

DAFTAR PUSTAKA Naibaho Ponten, 1996. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Bachtiar Yuwono, 2002. Sistem Jaringan Air Limbah, PDAM Tirtanadi.

26