You are on page 1of 15

Keberhasilan Tetes Mata Azitromisin 1,5% pada Okular Rocasea pada Anak dengan Blefarokeratokonjungtivitis Flikten

Serge Doan, Eric Gabison, Frederic Chiambaretta, Melissa Touati dan Isabella Cochereau
Doan et al. Journal of Ophthalmic Inflammation and Infection 2013, 3:38 : http://www.joii-journal.com/content/3/1/38

Abstrak
Latar Belakang Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melaporkan keberhasilan pengobatan tetes mata (TM) Azitromisin 1,5% pada anak dengan rosacea okular dan blefarokeratokonjungtivitis flikten. Penelitian yang dilakukan dari bulan Januari 2009 sampai Maret 2010 ini melibatkan 16 anak yang diberikan pengobatan berupa perawatan hygiene palpebra ditambah TM Azitromisin 1,5% (Azyter) : Gelombang I (G-I) dengan pengobatan 3 hari (1 tetes 2 kali sehari setiap harinya) setiap 10 hari sekali, kemudian dikurangi pada Gelombang II (G-II) menjadi sekali pengobatan setiap 15 hari sekali dan selanjutnya Gelombang III (G-III) menjadi 1x pengobatan setiap 1 bulan sekali.

Hasil Sebanyak 16 anak yang terdiri dari 6 anak laki-laki dan 10 anak perempuan, berusia 4 sampai 16 tahun (rata-rata, 9,3 40) dilibatkan dalam penelitian ini. Penyakit ini pada seluruh pasien ternyata telah resisten dengan perawatan hygene palpebra. Pada 1 pasien resisten dengan eritromisin dan pada 6 pasien telah resisten dengan pemberian kortikosteroid topikal yang intermiten. Rata-rata / median durasi pemberian Azitromisin pada pasien dalam penelitian ini (yakni pada GI, GII, dan GIII) adalah selama 2 bulan. Peradangan okular dapat dikendalikan dengan pemberian azitromisin pada 15 pasien. Sedangkan pada 1 pasien yang penyakitnya tidak dapat dikendalikan, TM siklosporin 2% diberikanpada bulan ke-5 pengobatan. Hiperemia Bulbi dan konjungtiva sembuh sempurna dalam waktu 1 bulan pada semua mata pasien, sementara fliktenula pada konjungtiva dan inflamasi kornea membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh, dengan penyembuhan sempurna yang membutuhkan waktu antara 3 sampai 10 bulan. Derajat blefaritis berkurang dari 2,31 0,79 sampai 1,50 0,73. Rata-rata pengobatan dihentikan setelah median 6 bulan (dari 4-10 bulan) tanpa rekurensi dari inflamasi kornea dan konjungtiva

(pemantauan/follow-up kekambuhan post terapi dilakukan rata-rata selama 11 bulan). 6 kasus iritasi okular dilaporkan, 2 diantaranya putus obat.

Kesimpulan TM Azitromisin 1,5% adalah pengobatan yang efektif untuk keratokonjungtivitis flikten yang menjadi komplikasi pada anak dengan rosacea okular.

Kata kunci : Rosacea; Anak; Keratokonjungtivitis; Blepharitis; Azitromisin

Latar Belakang
Rosacea okular merupakan penyakit langka yang sering dimisdiagnosa sebagai blefaritis kronik, dan pada banyak kasus, disertai dengan keratokonjungtivitis flikten(1). Nama lain dari penyakit ini adalah blefarokeratokonjungtivitis(2,3) atau keratokonjungtivitis flikten stafilokok. Bila mengenai palpebra maka ditandai dengan blefaritis anterior dan posterior kronik dengan kalazion kronik. Inflamasi okular biasanya unilateral dengan hyperemia konjungtiva; fliktenula pada konjungtiva, limbus, atau kornea; dan keratopati punctata inferior. Bila mengenai kornea biasanya lebih parah dengan infiltrat subepitel yang dominan pada inferior, ulkus pada stroma, neovaskularisasi kornea, dan sikatriks, sehingga menganggu visus pada 17% kasus(4). Tidak semua kasus mengenai kulit. Mekanisme utama / primer dari rosacea okular pada anak-anak adalah meibomitis kronis . Infeksi stafilokokus pada glandula meibom kemungkinan adalah komplikasi sekunder dan dapat menginduksi inflamasi konjungtiva dan kornea dengan memicu respon imun dari sel limfosit T terhadap antigen dinding bakteri atau toxin bakteri. Infiltrat pada fliktenula dan kornea disebabkan oleh adanya reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV (berdasarkan klasifikasi Gell dan Coomb)(5). Pengobatan dari rosacea okular anak didasari oleh mekanisme fisiopatogenik yang telah disebutkan dan bertujuan meningkatkan fungsi kelenjar meibom, mengendalikan

proliferasi bakteri dengan perawatan hygiene palpebra, pemberian antibiotika oral, serta menginhibisi inflamasi yang dimediasi Sel T dengan pemeberian kortikosteroid topikal dan

siklosporin. Perawatan hygiene palpebra terkadang tidak cukup untuk mengobati rosacea okular, sehingga pemberian antibiotika per oral dibutuhkan bila perawatan hygiene palpebra ini gagal dan pada penyakit yang sudah parah. Generasi ke-2 dari tetrasiklin digunakan untuk anak-anak usia diatas 8 tahun, dan eritromisin, azitromisin, atau metronidazole digunakan pada pasien yang lebih muda(6-8). Antibiotik topikal sering dipakai, namun keberhasilannya belum banyak diteliti(3). Steroid topikal sangat efektif namun sebaiknya hanya digunakan pada inflamasi kornea akut dengan alas an menghindari resiko komplikasi iatrogenic. TM Siklosporin 0,5% sampai 2% juga merupakan alternative yang menarik pada anak yang dependent / tergantung terhadap pengobatan steroid(9). Azitromisin adalah antibiotika makrolid yang memiliki spectrum luas, masa paruh panjang terhadap penetrasinya ke jaringan dan sel-sel(10), dan dapat berperan sebagai antiinflamasi(11). Azitromisin oral adalah pengobatan efektif pada rosacea okular(12) dan rosacea kutis (yang keefektifannya hampir sama dengan pengobatan doksisiklin)(13). Pada penelitian retrospektif ini, kami menilai keberhasilan TM azitromisin 1,5% pada anak-anak yang menderita rosacea okular dan blefarokeratokonjungtivitis flikten.

Hasil
16 anak (19 mata) diobati: 6 anak laki-laki dan 10 anak perempuan dengan rerata (mean) usia pada pemberian azitromisin 9,3 4,0 tahun (range : 4 sampai 16 tahun).

Status Rosacea Okular Anak Sebelum Pengobatan Azitromisin


Status Pre-pengobatan dijelaskan lebih detail untuk setiap pasien pada tabel 1. Penyakit ini asimetris atau unilateral pada 13 pasien. Interval rata-rata antara onset penyakit dan pengobatan Azitromisin adalah 39 bulan (dari 8 bulan hingga 12 tahun). 2 anak menderita kalazion rekuren, sementara episode mata merah rekuren dilaporkan terdapat pada semua pasien. Hiperemia bulbi dan konjungtiva dan fliktenula terdapat pada seluruh mata yang terserang (19 mata), dan inflamasi kornea didapatkan pada 18 mata. Pengobatan sebelum azitromisin (dimana

inflamasinya tidak dapat dikendalikan) terdiri dari perawatan hygiene palpebra pada seluruh kasus ditambah eritromisin oral pada 1 kasus dan kortikosteroid topikal intermiten pada 6 kasus. Steroid topikal dan eritomisin oral kemudian dihentikan pada semua kasus. Tabel 1 Demografik pasien dan baseline (kondisi awal) pasien Keterangan : LH lid hygiene (perawatan hygiene palpebra) ; ERY oral erythromycin (eritromisin oral). JK: jenis kelamin

No. Pasien

JK

Usia

Mata Unilateral

Perubahan (dalam bulan)

Pengobatan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

P L P P P P L P P P L P

10 12 7 10 7 8 15 14 6 16 5 10

Ya Tidak Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Tidak Ya Ya

96 30 15 8 15 69 18 20 10 90 12 15

LH LH LH + steroids LH + steroids LH LH LH + steroids LH LH + ERY LH LH + steroids LH

No. Pasien

JK

Usia

Mata Unilateral

Perubahan (dalam bulan)

Pengobatan

13 14 15 16

L P L L

5 7 4 15

Ya Ya Ya Ya

27 24 20 148

LH + steroids LH + steroids LH LH

Keberhasilan Pengobatan Azitromisin


Pengobatan dan durasi follow-up (pemantauan) per pasien dilaporkan dalam tabel 2. Azitromisin topikal (TM Azitromisin) diberikan selama rerata (mean) 6,0 1,4 bulan (range: 4 sampai 10 bulan). Pasien yang mendapatkan pengobatan azitromisin Gelombang I dengan pengobatan 3 hari (1 tetes 2 kali sehari setiap harinya) setiap 10 hari sekali selama rerata 2 bulan (range 0 sampai 2 bulan), Gelombang II (G-II) dengan pengobatan setiap 15 hari sekali dengan rerata pengobatan selama 2 bulan (range, 1 sampai 2 bulan) dan Gelombang III (G-III) dengan 1x pengobatan setiap 1 bulan sekali rerata pengobatan selama 2 bulan (range, 0 sampai 2 bulan). Penyakit ini disembuhkan dengan azitromisin sebagai terapi tunggal pada 15 dari 16 pasien (18 mata). 1 pasien yang belum sembuh (1 mata) diberikan tambahan TM siklosporin 2% selama 5 bulan setelah sempat diberikan azitromisin selama 5 bulan, untuk mengendalikan inflamasi okular. Azitromisin topikal secara dramatis memberikan kemajuan (kesembuhan) pada keluhan mata merah (dilaporkan oleh pasien) dan hyperemia bulbi dan konjungtiva (diketahui melalui pemeriksaan dokter mata). Kedua keluhan dan gejala ini sembuh dalam 1 bulan (Figure 1A). Fliktenula konjungtiva dan inflamasi kornea membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh, dengan penyembuhan sempurna antara 3 sampai 10 bulan (Figure 1B,C). Keratitis punctata superficial inferior hanya sembuh sebagian pada seluruh mata.

Figure 1 Perbaikan hiperemia bulbi dan konjungtiva, fliktenula konjungtiva, inflamasi kornea dengan pengobatan azitromisin. (A) Evolusi dari hiperemia bulbi dan konjungtiva (jumlah mata). (B) Evolusi fliktenula konjungtiva (jumlah mata). (C) Evolusi dari inflamasi kornea (jumlah mata).

Tabel 2 Penatalaksanaan, durasi follow up, dan efek samping Keterangan : LH lid hygiene

No. Pasien

Pengobatan yang bersamaan dengan Azitromisin


LH LH

Durasi Pengobatan Azitromisin (dalam bulan)


6 4

Follow-up tanpa Azitromisin (dalam bulan)


8 9 Mata merah derajat sedang setelah

Efek samping

1 2

LH LH, Siklosporin topikal diberikan pada bulan ke-5

12

pemberian TM Rasa terbakar, pengobatan berhenti

selama 5 bulan

10

11

pada bulan ke-10 Rasa tersengat setelah pemberian

5 6 7 8

LH LH LH LH

6 5 6 8

9 13 9 12

TM

Rasa tersengat sedang setelah 9 10 11 LH LH LH 4 6 6 10 11 9 Mata merah derajat sedang setelah 12 13 14 15 LH LH LH LH 6 6 6 6 12 10 11 12 Rasa terbakar, pengobatan terhenti 16 LH 5 14 pada bulan ke-5 pemberian TM pemberian TM

Derajat blefaritis terdapat pada 13 pasien (16 mata). Rerata derajat blefaritis berkurang dari 2,31 0,79 dari baseline menjadi 1,50 0,73 pada tahap akhir pengobatan. Meskipun tanda blefaritis anterior dan posterior tidak diderajatkan (not graded). Secara terpisah, blefaritis anterior tampaknya lebih cepat membaik dibandingkan blefaritis posterior dan disfungsi kelenjar meibom. Meskipun begitu, tidak ditemukan adanya kalazion selama pengobatan azitromisin pada kedua anak yang mengeluhkan kalazion rekuren dari pengobatan awal. Azitromisin dihentikan ketika fliktenula konjungtiva dan inflamasi kornea sembuh sempurna, dalam rerata 6,0 1,4 bulan (range antara 4 sampai 10 bulan). Inflamasi korneokonjungtiva tidak kambuh dengan perawatan hygiene palpebra sebagai terapi tunggal pada follow up post terapi setelah rerata 11,0 1,7 bulan (range 8 sampai 14 bulan).

EFEK SAMPING
Efek samping dari pengobatan disimpulkan pada tabel 2. Sensasi menyengat ringan dilaporkan pada 2 pasien dan mata merah sedang dilaporkan pada 2 pasien lainnya. Pengobatan dihentikan karena intoleransi lokal (rasa terbakar yang nyata) pada 2 pasien setelah 5 sampai 10 bulan. Setelah 2 pasien terakhir sembuh, tidak ditemukan rekurensi pada pasien setelah pengobatan azitromisin dihentikan. Tidak ada efek samping sistemik yang dilaporkan oleh orangtua pasien.

DISKUSI
Rosacea okular pada anak dipercaya merupakan konsekuensi dari inflamasi kronik dari disfungsi glandula meibom. Infeksi sekunder stafilokokus terhadap margo palpebra kadang muncul dan kemungkinan bertanggung jawab terhadap inflamasi kornea dan konjungtiva yang didasari oleh respon imun spesifik Sel T. Mekanisme gabungan ini menjelaskan keberhasilan pengobatan antiinflamasi topikal (steroid dan siklosporin) dan antibiotic sistemik seperti makrolid atau tetrasiklin.

Azitromisin merupakan opsi pengobatan baru bagi rosacea kutis dan sama efektifnya dengan tetrasiklin
(13)

, dan keberhasilannya dalam mengobati rosacea okular telah dibuktikan


(12)

dengan pemberian oral

. TM Azitromisin sekarang tersedia untuk mengobati konjungtivitis

bacterial, dan pada indikasi ini, TM Azitromisin 1,5% yang diberikan 2x sehari selama 3 hari adalah sama efektifnya dengan TM tobramisin 0,3% 4x sehari selama 7 hari (14). Penelitian kali ini menunjukan bahwa TM azitromisin 1,5% sangat efektif dalam mengobati rosacea okular pada anak. Keberhasilannya terhadap pengobaatan inflamasi kornea dan konjungtiva luar biasa. Namun, karena terdapat reaksi inflamasi yang tertunda atau lambat, pengalaman klinik sebelumnya menunjukan bahwa pada kasus yang parah dan mengancam penglihatan sebaiknya diberikan terapi tambahan dengan steroid topikal dan/atau siklosporin. Eritromisin oral biasanya diresepkan pada rosacea okular pada anak
(15)

. Pada penelitian ini,

seorang pasien yang tidak sembuh dengan pengobatan eritromisin oral, diberikan azitromisin dan hasilnya adalah sembuh sempurna terhadap reaksi inflamasinya. Strategi pengobatan sebelumnya adalah dengan memberikan eritromisin oral dengan perawatan hygiene palpebra sebagai terapi lini pertama. Meskipun demikian, pengalaman terbaru kami dengan pemberian azitromisin topikal menunjukan bahwa pengobatan lokal lebih efektif dibandingkan eritromisin sistemik. Inilah alasannya mengapa kami memutuskan untuk menggunakan TM azitromisin sebagai terapi lini pertama. Azitromisin topikal memiliki masa paruh panjang, dengan akumulasi dan konsentrasi yang tinggi pada jaringan. Pada uji coba terhadap kelinci, setelah TM 1% azitromisin diberikan , konsentrasi yang tinggi terdeteksi pada air mata, konjungtiva, kornea, dan palpebra. Dan selama 6 hari di palpebra
(10)

. Konsentrasi pada air mata, konjungtiva, dan kornea berada diatas

konsentrasi inhibitor selama 7, 17, dan lebih dari 24 hari secara berturut-turut setelah pemberian Azyter (Laboratorium Thea, Clermont-Ferrand, Prancis) 2 kali sehari selama 3 hari (16). Inilah alasan mengapa kami memilih untuk memberikan pengobatan yang terputus-putus sehingga lebih simpel untuk pasien; 1 pengobatan hanya berasal dari 1 tetes mata (TM); Kemudian pemberian 3x pengobatan dalam sebulan (Gelombang I/G-I), dikurangi perlahan (tapering-off) menjadi 2x dalam sebulan (G-II) dan dikurangi lagi menjadi 1x setiap bulan (G-III) merupakan cara pengobatan yang nyaman, mudah dimengerti, dan dapat diterima anak-anak (pasien) maupun orangtuanya. Dosis awal pada G-I (3 hari pengobatan, 3x sebulan, dengan jarak 10 hari sekali) dipilih dengan alasan bahwa azitromisin dapat bertahan selama 7 hari pada air mata. Cara

pemberian Tapering-off menggunakan prinsip empiris. Eritromisin oral harus diminum 2x sehari secara terus menerus selama beberapa minggu. Pada 16 pasien dalam penelitian, azitromisin topikal tidak merangsang efek samping sistemik, sementara eritromisin oral sering mnimbulkan efek samping gastrointestinal. Metronidazole oral juga sering digunakan sebagai pengobatan rosacea okular, namun meskipun tampaknya efektif, pengobatan metronidazole tidak dapat digunakan jangka panjang terus menerus karena dapat mengakibatkan neuropati perifer dan relaps yang lebih sering (6). Beberapa jurnal melaporkan keberhasilan antibiotic topikal terhadap penyakit ini. Pada penelitian retrospektif oleh Viswalingam et al., Kloramfenikol topikal 4x sehari selama 1 bulan dan salep kloramfenikol saat malam hari selama 4 bulan menunjukan kesembuhan pada kasus derajat ringan dan sedang
(3)

. TM Azitromisin 1% telah dievaluasi pada blearitis posterior pada


(17,18)

orang dewasa dalam 2 penelitian kecil

. Pada salah satu penelitian, kualitas meibum dan

kemerahan pada tepi palpebra mengalami penyembuhan pada pasien yang diobati dengan gabungan azitromisin dan perawatan hygiene palpebra selama 2 minggu dibandingkan dengan pasien yang hanya yang hanya diberikan perawatan hygiene palpebra. Pada penelitian kedua, keluhan, kualitas meibum, dan kemerahan tepi palpebra mengalami penembuhan setelah dilakukan perawatan hygiene palpebra dan azitromisin selama 4 minggu. Kami tidak meneliti secara spesifik mengenai tepi palpebra pada penelitian ini, namun efek azitromisin topikal pada blefaritis anterior cukup terlihat, dan tidak ada kalazion yang ditemukan. Kortikosteroid topikal sering diresepkan untuk anak-anak dengan rosacea okular dan blefarokeratokonjungtivitis flikten, namun relaps terjadi pada tahap akhir pengobatan pada 40% kasus (15). Durasi pengobatan adalah kunci untuk menghindari rekurensi. Dalam penelitian kami, pengobatan dihentikan setelah 4 sampai 10 bulan, dan tidak terdapat rekurensi selama follow up dalam rerata 11 bulan post pengobatan (range 8 sampai 14 bulan). Pengobatan jangka panjang baisanya dibutuhkan untuk mengendalikan inflamasi. Penyembuhan total dari fliktenula dan infiltrate kornea harus ada sebelum pengobatan dihentikan, dimana penyembuhan ini didapatkan dalam rerata 3-6 bulan pengobatan dalam mayoritas pasien yang diberikan azitromisin topikal. Durasi terapi minimal ini dapat dibandingkan dengan pengobatan siklosporin topikal
(9)

atau kloramfenikol topikal (3). Durasi ini tidak dapat dibandingkan dengan steroid topikal karena banyaknya komplikasi okular yang akan timbul. Dalam penelitian kami, pemberian steroid

topikal dihentikan pada semua pasien sebelum diberikan azitromisin topikal, dan tidak ada satupun pasien penelitian yang membutuhkan terapi steroid tambahan setelahnya. Dalam penelitian sebelumnya, kami menunjukan siklosporin 2% topikal merupakan pengobatan yang patent untuk blefarokeratokonjungtivitis flikten
(9)

. Keberhasilan pengobatan

azitromisin topikal (TM) dinilai cukup untuk hampir semua kasus, meskipun demikian dari pengalaman klinis menunjukan bahwa siklosporin topikal memiliki keberhasilan lebih tinggi, pasien dengan inflamasi kornea yang parah diberikan siklosporin topikal sebagai lini pertama pengobatan. Efek bifasik diobservasi dalam penelitian ini. Penyembuhan mata merah sangat cepat, dalam sebulan sudah sembuh, sedangkan fliktenula dan infiltrat kornea membutuhkan beberapa bulan untuk sembuh. Ini dapat menjelaskan mekanisme yang berbeda. Mata merah dapat berkaitan dengan produksi toksin bakteri. Fliktenula dan infiltrate kornea diperkirakan disebabkan oleh reaksi Hipersensitivitas lambat Tipe IV terhadap antigen parietal stafilokokus (5). Selain memiliki peran sebagai antibiotic, azitromisin juga memiliki efek antiinflamasi. Lebih lanjut, azitromisin dapat menurunkan produksi sitokin pro-inflamasi IL-2 dan IL-6 oleh makrofag in vitro
(11)

; men-supresi matriks metalloprotease 2 dan 9, nuclear transcription

factor NfkB, dan Toll-like receptor 2 pada epitel kornea secara in vitro (19,20); dan menginhibisi makrofag serta migrasi sel dendritik pada corneal burn pada uji coba terhadap tikus (21). Keamanan azitromisin 1,5% tampaknya cukup baik untuk digunakan terhadap anak yang menderita Rocasea ocular. Putus obat dengan azitromisin topikal 1,5% dapat ditoleransi.

Intoleransi lokal terdapat dalam beberapa kasus dengan jumlah yang kecil, dan baisanya ringan, kecuali pada 2 pasien yang menghentikan pengobatan seelah 5 dan 10 bulan secara berturutan. Efek samping telah dilaporkan pada beberapa litelature (17,18). Kekurangan dalam penelitian ini adalah sedikitnya jumlah pasien, sedikitnya frekuensi rosacea pada anak, dan terdapat penelitian yang meneliti lebih banyak pasien (44 pasien) daripada penelitian ini
(3)

. Studi retrospektif juga merupakan kelemahan dalam jurnal ini.

Penelitian terkontrol, multisenter dapat menjadi langkah selanjutnya untuk mengevaluasi TM azitromisin pada anak dengan rocasea ocular.

Kesimpulan
Kesimpulannya, penelitian restropektif ini menunjukan bahwa azitromisin topikal 1,5% adalah pengobatan efektif dan aman pada bentuk rocasea ocular yang tidak parah pada anak yang disertai dengan blefarokeratokonjungtivitis flikten. Ketika diobati dalam jangka waktu panjang, dengan metode terputus, selama kurang lebih 4 bulan, rekurensi tidak akan timbul dalam 14 bulan setelah selesai terapi. Mempertimbangkan rasio untung/rugi, pengobatan baru ini mungkin dapat menggantikan antibiotika oral, namun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan.

METODE Desain
Penelitian ini adalah penelitian kasus serial, restropektif, dan non komparatif

Metode
Kami meninjau dan membaca ulang keseluruhan kasus (16 kasus) anak dengan rocasea dan blefarokonjungtivitis yang diberikan pengobatan dengan TM azitromisin 1,5% selama januari 2009 sampai Maret 2010 di departemen Oftalmologi Rumah Sakit Bischat dan Yayasan A. de Rothschild, Paris, Prancis. Inform consent tertulis telah didapatkan dari pasien dan orangtuanya untuk mempublikasikan artikel ini. Penelitian ini juga disahkan oleh Komite Etik dari Yayasan A de Rothschild. Pasien dengan roscasea ocular pertama diobati dulu dengan perawatan hygiene palpebra 1x sehari, dan normal salin dengan frekuensi yang sering selama kurang lebih 1 bulan. Pasien yang visusnya terancam akibat infiltrate kornea diobati dengan steroid dan siklosporin 2% (TM) dan tidak diobati dengan azitromisin; sehingga mereka tidak dimasukan dalam penelitian. TM Azitromisin 1,5% (Azyter, dari Lab Thea) diberikan hanya kepada pasien yang tidak menunjukan kemajuan dengan perawatan hygiene palpebra. Pengobatan 3 hari (1hari 1 tetes) dan

diberi resep setiap 10 hari sekali (3x pengobatan dalam sebulan) selama 1 bulan. Berdasarkan keberhasilan secara klinis, pengobatan diturunkan menjadi 1x pengobatan selama 15 hari sekali dan 1x pengobatan per bulan.

Follow-Up
Pasien diperiksa setelah 1 bulan dan setiap 1 sampai 2 bulan sesudah pengobatan. Pengukuran atau penilaian utama didasari adanya mata merah (subjektif dari pasien), kalazion (objektif dari dokter), hiperemia konjungtiva bulbi, fliktenula konjungtiva, inflamasi kornea (fliktenula dan infiltrate) dan epiteliopati, dan inflamasi margo palpebra (blefaritis). Setiap penilaian dijadikan dalam bentuk skala dari 0 sampai 4. Rosacea ocular bila skala bernilai 0 meskipun masih terdapat blefaritis. Efek sampik okuler dan sistemik juga dilaporkan.

Daftar Pustaka

1.

Thygeson P: The etiology and treatment of phlyctenular keratoconjunctivitis. Am J.. Ophthalmol 1951,34(9):12171236.PubMed

2.

Farpour B, McClellan KA: Diagnosis and management of chronic blepharokeratoconjunctivitis in children. J. Pediatr Ophthalmol Strabismus 2001,38(4):207212.PubMed

3.

Viswalingam M, Rauz S, Morlet N, Dart JK: Blepharokeratoconjunctivitis in children: diagnosis and treatment. Br J Ophthalmol2005,89(4):400403.PubMedCrossRef

4.

Doan S, Gabison EE, Nghiem-Buffet S, Abitbol O, Gatinel D, Hoang-Xuan T: Long-term visual outcome of childhood blepharokeratoconjunctivitis. Am J Ophthalmol 2007,143(3):528529.PubMedCrossRef

5.

Mondino BJ, Kowalski RP: Phlyctenulae and catarrhal infiltrates. Occurrence in rabbits immunized with staphylococcal cell walls.Arch Ophthalmol 1982,100(12):19681971.PubMedCrossRef

6.

Chamaillard M, Mortemousque B, Boralevi F, da CC M, Aitali F, Taieb A, Laut-Labrze C: Cutaneous and okular signs of childhood rosacea. Arch Dermatol 2008,144(2):167171.PubMedCrossRef

7.

Zaidman GW, Brown SI: Orally administered tetracycline for phlyctenular keratoconjunctivitis. Am J Ophthalmol 1981,92(2):178182.PubMed

8.

Meisler

DM,

Raizman

MB,

Traboulsi

EI: Oral

erythromycin

treatment

for

childhood

blepharokeratitis. J AAPOS 2000,4(6):379380.PubMedCrossRef 9. Doan S, Gabison E, Gatinel D, Duong MH, Abitbol O, Hoang-Xuan T: Topikal cyclosporine a in severe steroid-dependent childhood phlyctenular keratoconjunctivitis. Am J Ophthalmol 2006,141(1):62 66.PubMedCrossRef 10. Akpek EK, Vittitow J, Verhoeven RS, Brubaker K, Amar T, Powell KD, Boyer JL, Crean C: Okular surface distribution and pharmacokinetics of a novel ophthalmic 1% azithromycin formulation. J Ocul Pharmacol Ther 2009,25(5):433439.PubMedCrossRef 11. Murphy BS, Sundareshan V, Cory TJ, Hayes D Jr, Anstead MI, Feola DJ: Azithromycin alters macrophage phenotype. J Antimicrob Chemother 2008,61(3):554560.PubMedCrossRef 12. Bakar O, Demircay Z, Toker E, Cakir S: Okular signs, symptoms and tear function tests of papulopustular rosacea patients receiving azithromycin. J Eur Acad Dermatol

Venereol 2009,23(5):544549.PubMedCrossRef 13. Akhyani M, Ehsani AH, Ghiasi M, Jafari AK: Comparison of efficacy of azithromycin vs. doxycycline in the treatment of rosacea: a randomized open clinical trial. Int J Dermatol 2008,47(3):284 288.PubMedCrossRef

14. Cochereau I, Meddeb-Ouertani A, Khairallah M, Amraoui A, Zaghloul K, Pop M, Delval L, Pouliquen P, Tandon R, Garg P, Goldschmidt P, Bourcier T: 3-day treatment with azithromycin 1.5% eye drops versus 7-day treatment with tobramycin 0.3% for purulent bacterial conjunctivitis: multicentre, randomised and controlled trial in adults and children. Br J Ophthalmol 2007,91(4):465 469.PubMedCrossRef 15. Hammersmith KM, Cohen EJ, Blake TD, Laibson PR, Rapuano CJ: Blepharokeratoconjunctivitis in children. Arch Ophthalmol2005,123(12):16671670.PubMedCrossRef 16. Amar T, Caillaud T, Elena PP: Okular pharmacokinetic study following a single and multiple azithromycin administrations in pigmented rabbits. Curr Eye Res 2008,33(2):149

158.PubMedCrossRef 17. Luchs J: Efficacy of topikal azithromycin ophthalmic solution 1% in the treatment of posterior blepharitis. Adv Ther 2008,25(9):858870.PubMedCrossRef 18. Haque RM, Torkildsen GL, Brubaker K, Zink RC, Kowalski RP, Mah FS, Pflugfelder SC: Multicenter open-label study evaluating the efficacy of azithromycin ophthalmic solution 1% on the signs and symptoms of subjects with blepharitis. Cornea 2010,29(8):871877.PubMedCrossRef 19. Jacot JL, Jacot TA, Hahto S, Helis J, Sheppard CJ, Sheppard JD Jr, Lattanzio FA Jr, Williams PB: Azithromycin alters ProMMP-2 and TIMP-1 following corneal wounding in an experimental animal model of diabetic okular complications. Invest Ophthalmol Vis Sci 2009,50(5):E-Abstract 2663. 20. Li D-Q, Zhou N, Zhang L, Ma P, Pflugfelder SC: Suppressive effects of azithromycin on zymosaninduced production of proinflammatory mediators by human corneal epithelial cells. Invest Ophthalmol Vis Sci 2010,51(11):56235629.PubMedCrossRef 21. Sadrai Z, Hajrasouliha AR, Chauhan S, Saban D, Dana R: Anti-inflammatory activity of topikal azithromycin ophthalmic solution 1% in the treatment of okular inflammation. Invest Ophthalmol Vis Sci 2010, 51:E-Abstract 3789.