You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PNEUMONIA DI RUANG ICU RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Disusun oleh :

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SEMARANG POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG 2012

LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA

a. Definisi Pneumonia adalah peradangan paru dimana asinus paru terisi cairan radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang kedalam dinding alveoli dan rongga interstisium. (secara anatomis dapat timbul pneumonia lobaris maupun lobularis / bronchopneumonia. Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan yang terbanyak didapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir di seluruh dunia. Di Indonesia berdasarkan survei kesehatan rumah tangga tahun 19 ! yang dilakukan Departemen "esehatan# pneumonia tergolong dalam penyakit infeksi akut saluran nafas# merupakan penyakit yang banyak di$umpai. b. a!"#r$fa!"#r %an& 'en%ebab!an "er(a)in%a *ne+'#nia , Diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi ter$adinya pneumonia yaitu : 1. %ekanisme pertahanan paru Paru berusaha untuk mengeluarkan berbagai organisme yang terhirup seperti partikel debu dan bahan&bahan lainnya yang terkumpul di dalam paru. 'eberapa bentuk mekanisme ini antara lain: bentuk anatomis saluran pernafasan# reflek batuk# system mukosilier# $uga system fagositosis yang dilakukan oleh sel&sel tertentu dengan memakan partikel&partikel yang mencapai permukaan alveoli. 'ila fungsi ini ber$alan baik# maka bahan infeksi yang bersifat infeksius dapat dikeluarkan dare saluran nafas# sehingga pada orang sehat tidak akan ter$adi infeksi serius. Infeksi saluran nafas berulang ter$adi aakibat berbagai komponen system pertahanan paru yang tidak beker$a dengan baik. (. "olonisasi bakteri di saluran nafas Di dalam saluran nafas atas banyak bakteri yang bersifat kosal. 'ila $umlah mereka semakin meningkat dan mencapai suatu konsentrasi yang cukup# kuman ini kemudian masuk ke saluran nafas ba)ah dan paru# dan akibat kegagalan mekanisme pembersihan saluran nafas keadaan ini akan bermanifestasi sebagai penyakit.

%ikroorganisme yang tidak dapat menempel pada permukaan mukosa saluran nafas akan ikut dengan sekresi saluran nafas dan terba)a bersama mekanisme pembersihan# sehingga tidak ter$adi kolonisasi. Proses penempelan organisme pada permukaan mukosa saluran nafas tergantung dare system pangemalan mikroorganisme tersebut oleh sel eputel. *. Pembersihan saluran nafas terhadap bahan infeksius +aluran nafas ba)ah dan paru berulangkali dimasuki oleh berbagai mikroorganisme dare saluran nafas atas# akan tetapi tidak menimbulkan sakit# ini menin$ukkan adanya suatu mekanisme pertahanan paru yang efisien sehingga dapat menyapu bersih mikroorganisme sebelum mereka bermultiplikasi dan menimbulkan penyakit. Pertahanan paru terhadap hal&hal yang berbahaya dan infeksius berupa reflek batuk# penyempitan saluran nafas dengan kontraksi otot polos bronkus pada a)al ter$adinya proses peradangan# $uga dibantu oleh respon imunitas humoral. -. E"i#.#&in%a +ebagian besar disebabkan oleh mikroorganisme# akan tetapi dapat $uga oleh bahan&bahan lain# sehingga dikenal: 1. ,ipid pneumonia : oleh karena aspirasi minyak mineral (. -hemical pneumonitis : inhalasi bahan&bahan organic atau uap kimia seperti berilium *. ./trinsik 0llergik 0lveolitis : inhalasi bahan&bahan debu yang mengandung allergen# seperti debu dare parik&pabrik gula yang mengandung spora dare actynomicetes thermofilik. 1. Drug 2eaction Pneumonitis : nitrofurantion# busulfan# methotre/ate 3. Pneumonia karena radiasi sinar rontgen !. Pneumonia yang sebabnya tidak $elas : des4uamative interstitial pneumonia# eosinofilik pneumonia 5. %icroorganisma

6278P 'acteri

P.9:.'0' +treptococcos pneumonia +treptococcus piogenes +tafilococcus aureus "lebsiella pneumonia .serikia koli :ersinia pestis ,egionnaires bacillus

;:P. P9.8%79I0 Pneumonia bacteri

,egionnaires disease 0ktinomikosis pulmonal 9okardiosis pulmonal "okidioidomikosis ?istoplasmosis 'lastomikosis 0spergilosis %ukormikosis @ <ever Psitakosis#7rnitosis Pneumonia mikoplasmal

0ktinomyctes

0. Israeli 9okardia asteroids

<ungi

"okidioides imitis ?istoplasma kapsulatum 'lastomises dermatitidis 0spergillus <ikomisetes

2iketsia "lamidia %ikoplasma =irus

"oksiella 'urnetty -hlamidia psittaci %ikoplasma pneumonia

Infulensa virus# adenovirus Pneumonia virus respiratory syncytial Pneumosistis karini

Proto>oa

Pneumonia

pneumistis

(pneumonia plasma selA ). Ga'baran K.inis 6ambaran klinis biasanya didahului olek infeksi saluran nafas akut bagian atas selama beberapa hari# kemudian diikuti dengan demam# suhu tubuh kadang&kadang

melebihi 1B dera$at -# sakit tenggorok# nyeri otot dan sendi. Cuga disertai batuk# dengan sputum mukoid atau purulen# kadang&kadang berdarah. Pada pemeriksaan fisik dada terlihat bagian sakit tertinggal )aktu bernafas dengan suara nafas bronchial kadang&kadang melemah. Didapatkan ronki basah halus# yang kemudian men$adi ronki basah kasar pada stadium resolusi. 1. -ommunity 0c4uired Pneumonia yaitu# pneumonia yang didapatkan di masyarakat# ter$adinya infeksi di luar rumah sakit. (. ?ospital 0c4uirted Pneumonia yaitu# pneumonia yang didapat selama penderita dira)at di rumah sakit. ?ampir 1 D dare penderita yang dira)at di rumah sakit mendapatkan pneumonia selama dalam pera)atan dan 1/*nya mungkin akan meninggal. Demikian pula halnya dengan penderita yang dira)at di I-8 lebih dare !B D menderita pneumonia. *. Pneumonia in the immunocompromised host yaitu# yang ter$adi akibat terganggunya system kekebalan tubuh. %acula ini semakin meningkat dengan penggunaan obat&obatan sitotoksik dan imunosupresif# hal ini akibat dare merningkatnya kema$uan di bidang pengobatan penyakit keganasan dan transplantasi organ. e. Ga'baran Pa"#&enesis Dalam keadaan sehat# paru tidak akan ter$adi pertumbuhan mikroorganisme# keadan ini disebabkan oleh adanya mekanismer pertahanan paru. ;erdapatnya bakteri di dalam paru merupakan akibat ketidakseimbangan antara daya than tubuh# mikroorganisme# dan lingkuingan sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya sakit. %asuknya mikroorganisme ke saluran nafas dan paru dapat melalui berbagai cara# yaitu : & & & & Inhalsi langsung dare udara 0spirasi dare bahan&bahan yang ada di nasofaring dan orfaring Perluasan langsung dare tempat&tempat lain Penyebaran secara hematogen

6ambaran patologis dalam batas&batas tertentu# tergantung pada penyebabnya. Di antaranya yaitu : 1. Pneumonia bakteri Ditandai oleh eksudat intra alveolar supuratif disertai konsolidasi. Proses infeksi dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi. ;erdapat konsolidasi dare seluruh lobus pada pneumonia lobaris# sedangkan pneumonia lobularis atau broncopneumonia menun$ukkan penyebaran daerah infeksi yang berbecak dengan diameter sekitar *&1 cm# mengelilingi dan mengenai broncus. 2. Pneumonia Pneumokokus Pneumokokus mencapai alveolus&alveolus dalam bentuk percikan mucus atau saliva. ,obus paru ba)ah paling sering terserrang# karena pengaruh gaya tarik bumi. 'ila sudah mencapai dan menetap di alveolus# maka pneumokokus menimbulkan patologis yang khas yang terdiri dare 1 stadium yang berurutan : & & kongesti (1&1( $am pertamaAeksudat serusa masuk dalam alveolus&alveolus dare pembuluh darah yang bocor dan dilatasi hepatisasi merah (1 $am berikutnyaA paru&paru tampak merah dan tampak bergranula karena sel darah merah# fibrin# dan leukosit polimorfonuklear mengisi alveolus&alveolus & & hepatisasi kelabu (*& hariA paru&parub tampak abu&abu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi dalam alveolus yang terserang. 2esolusi (5&11 hariA eksudat mengalami lisis dan direabsorbsi oleh mikrofag sehingga $aringan kembali pada strukturnya semula. ;imbulnya pneumonia pneumokokus merupakan suatu ke$adian yang tiba&tiba# disertai menggigil# demam# rasa sakit pleuritik# batuk dan sputum yang ber)arna seperti karat. Pneumonia pneumokokus biasanya tidak disertai komplikasi dan $aringan yang rusak dapat diperbaiki kemabali. "omplikasi tentang sering ter$adi adalah efusi plura ringan. 0danya bakterimia mempengaruhi prognosis pneumonia. 0danya bakterimia menduga adanya lokalisasi proses paru&paru yang tidak efektif. 0kibat bakterimia mungkin berupa lesi metastatik yang dapat mengakibatkan keadaan seperti meningitis# endokariditis bacterial dan

peritonitis. +udah ada vaksin untuk merla)an pneumonia pneumokokus. 'iasanya diberikan pada mereka yang mempunyai resiko fatal yang tinggi# seperti anemia sickle&sell# multiple mietoma# sindroma nefrotik# atau diabetes mellitus. 3. Pneumonia Stafilokokus %empunyai prognosis $elek )alaupun diobati dengan antibiotika. Pneumonia ini menimbulkan kerusakan parenkim paru&paru yang berat dan sering timbul komplikasi seperti abses paru&paru dan empiema. %erupakan infeksi sekunder yang sering menyerang pasien yang dira)at di rumah sakit# pasien lemah dan paling sering menyebabkan broncopneumonia. 4. Pneumonia Klebsiella / Friedlander Penderita ini berhasil mempertahankan hidupnya# akhirnya menderita pneumonia kronik disertai obstruksi progresif paru&paru yang akhirnya menimbulkan kelumpuhan pernafasannya. Cenis ini yang khas yaitu# pembentukan sputum kental seperti sele kismis merah (red currant $ellyA. "ebanyakan ter$adi pada lelaki usia pertengahan atau tua# pecandu alcohol kronik atau yang menderita penyakit kronik lainnya. 5. Pneumonia pseudomonas +ering ditemukan pada orang yang sakit parah yang dira)at di rumah sakit atau yang mnenderita supresi system pertahanan tubuh (misalnya mereka yang menderita leukemia atau transplantasi gin$al yang menerima obat imunosupresif dosis tinggiA. +eringkali disebabkan karena terkontaminasi peralatan ventilasi. 6. Pneumonia Virus Ditandai dengan peradangan interstisial disertai penimbunan infiltrat dalam dinding alveolus meskipun rongga alveolar sendiri bebas dare eksudat dan tidak ada konsolidasi. Pneumonia virus 3B D dare semua pneuminia akut ditandai oleh ge$ala sakit kepala# demam dan rasa sakit pada otot&otot yang menyeluruh# rasa lelah sekali dan batuk kering. "ebanyakan pneumonia ini ringan dan tidak membutuhkan pera)atan di rumah sakit dan tidak mengakibatkan kerusakan paru&paru yang permanen. Pengobatan pneumonia virus bersifat sympomatik dan paliatif# karena antibiotik tidak efektif terhadap virus. Cuga dapat mengakibatkan pneumonitis berbecak yang fatal atau pneumonitis difus.

7. Pneumonia

ikoplasma

+erupa dengan pneumonia virus influen>a# disertai adanya pneumonitis interstitial. +angat mudah menular tidak seperti pneumonia virus# dapat memberikan respon terhadap tetrasiklin atau eritromisin. !. Pneumonia "spirasi %erupakan pneumonia yang disebabkan oleh aspirasi isi lambung. Pneumonia yang diakibatkannya sebagian bersifat kimia# karena diakibatkan oleh reaksi terhadap asam lambung# dan sebagian bersifat bacterial# karena disebabkan oleh organisme yang mendiami mulut atau lambung. 0spirasi paling sering ter$adi selama atau sesudah anestesi (terutama pada pasien obstretik dan pembedahan darurat karena kurang persiapan pembedahanA# pada anak&anak dan pada setiap pasien yang disertai penekanan reflek batuk atau reflek muntah. Inhalasi isi lambung dalam $umlah yang cukup banyak dapat menimbulkan kematian yang tiba&tiba# karena adanya obstruksi# sedangkan aspirasi isi lambung dalam $umlah yang sedikit dapat mengakibatkan oedema paru&paru yang menyebar luas dan kegagalan pernafasan. 'eratnya respon peradangan lebih tergantung dare p? dare >aat yang diaspirasikan. 0spirasi pneumonia selalu ter$adi apabila p? dan >at yang diaspirasi (#3 atau kurang. 0spirasi pneumpnia sering menimbulkan kompliokasi abses# bronchiectase# dan gangrean. %untah bukan sarat masuknya isi lambung kedalam cabang tracheobronchial# karena regurgitasi dapat $uga ter$adi secara diam&diam pada pasien yang diberi anestesi. Paling penting pasien harus ditempatkan pada posisi yang tepat agar secret orofarengeal dapat keluar dare mulut. #. Pneumonia $%postatik Pneumonia yang sering timbul pada dasar paru yang disebabkan oleh nafas yang dangkal dan terus menerus dalam posisi yang sama. Daya tarik bumi menyebabkan darah tertimbun pada bagian ba)ah paru dan infeksi membantu timbulnya pneumonia yang sesungguhnya 1&. Pneumonia 'amur ;idak sesering bakteri. 'eberapa $amur dapat menyebabkan penyakit paru supuratif granulomentosa yang seringkali disalah tafsirkan sebagai ;'-. 'anyak dare infeksi $amur bersifat endemic pada daerah tertentu. -ontohnya di 8+#

hystoplasmosis (barat bagian tengah dan timurA# koksibiodomikosis (barat dayaA dan blastomikosis (tenggaraA. +pora $amur ini ditemukan dalam tanah dan terinhalasi. +pora yang terba)a masuk kebagian paru yang lebih difagositosis ter$adi reaksi peradangan disertai pembentukan kaverne. +emua perubahan patologis ini mirip sekali dengan ;'- sehingga perbedaan kurang dapat ditentukan dengan menemukan dan pembiakan $amur dare $aringan paru.tes serologi serta tes hypersensitifitas kulit yang lambat belum menun$ukan tanda positif sampai beberapa minggu sesudah ter$adi infeksi# bahkan pada penyakit yang berat tes mungkin negatif. Pneumonia $amur sering menimbulkan komplikasi pada stadium terakhir penyakit tersebut# terutama pada penyakit yang sangat berat# misalnya -a atau leukemia# candida alicans adalah se$enis ragi yang sering ditemukan pada sputum orang yang sehat dan dapat menyerang $aringan paru. Penggunaan antibiotik yang lama $uga dapat mengubah flora normal tubuh dan memungkinkan infasi candida. 0mfotinsin ' merupakan obat terpilih untuk infeksi $amur pada paru. f. Pe'eri!saan Lab#ra"#ri+' Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan $umlah leucosit# biasanya E 1B.BBB/Fl kadang mencapai *B.BBB $ika disebabkan virus atau mikoplasma $umlah leucosit dapat normal# atau menurun dan pada hitung $enis leucosit terdapat pergeseran kekiri $uga ter$adi peningkatan ,.D. "ultur darah dapat positif pada (B G (3 pada penderita yang tidak diobatai. "adang didapatkan peningkatan ureum darah# akan tetapi kteatinin masih dalah batas normal. 0nalisis gas darah menun$ukan hypoksemia dan hypercardia# pada stadium lan$ut dapat ter$adi asidosis respiratorik. &. Ga'baran Ra)i#.#&i <oto toraks merupakan pemeriksaan penun$ang yang sangat penting. <oto toraks sa$a tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia# hanya merupakan petun$uk kearah diagnosis etiologi. 6ambaran konsolidasi dengan air bronchogram (pneumonia lobarisA# tersering disebabkan oleh streptococcus pneumonia. 6ambaran radiologis pada pneumonia yang disebabkan clebsibella

sering menun$ukan adanya konsolidasi yang ter$adi pada lobus atas kanan# kadang dapat mengenai beberapa lobus. 6ambaran lainya dapat berupa bercak daan cavitas. "elainan radiologis lain yang khas yaitu penebalan (bulgingA fisura inter lobar. Pneumonia yang disebabkan kuman pseudomonas sering memperlihatkan adanya infiltrasi bilateral atau gambaran bronchopneumonia. <irus dan mycoplasma sering menyebabkan pneumonia interstisial terutama radang sptum alveola. Pada pemeriksaan radiologis terlihat gambaran retikuler yang difus. /. Pena"a.a!sanaan 1 ( * 1 3 penyebab. ! 5 Pertahankan $alan nafas oksigenasi "oreksi kelainan yang mendasari. ;irah baring. 7bat&obat simptomatis seperti: parasetamol (pada hipereksiaA# morfin (pada nyeri hebatA. Caga keseimbangan cairan dan elektrolit dengan batuan infus# dekstrose 3D#normal salin atau 2,. Pemilihan obat&obat anti infeksi: tergantung kuman

P0;?H0:+ 'akteri +tafilokokus aureus 'akteri ?aemofilus influe>ae Penderita akit berat yang dira)at di 2+ Penderita yang mengalami supresi sistem pertahanan tubuh "ontaminasi peralatan 2+
+aluran Pernafasan 0tas

"uman berlebih di bronkus Proses peradangan

"uman terba)a di saluran pencernaan

Infeksi +aluran Pernafasan 'a)ah

Infeksi saluran pencernaan

Dilatasi pembuluh darah .ksudat plasma masuk alveoli 6angguan difusi dalam plasma 6angguan pertukaran gas

Peningkatan suhu

.dema antara kaplier dan alveoli

0kumulasi sekret di bronkus

Peningkatan flora normal dalam usus

+eptikimia

Iritasi P%9 eritrosit pecah

'ersihan $alan nafas tidak efektif

%ukus bronkus meningkat 'au mulut tidak sedap 0noreksia Intake kurang

Peningkatan peristaltik usus %alabsorbrsi

Peningkatan metabolisme .vaporasi meningkat

.dema paru

Pengerasan dinding paru Penurunan compliance paru

Diare

6angguan keseimbangan cairan dan eletrolit ?iperventilasi

+uplai 7( menurun ?ipoksia %etabolisme Dispneu 2etraksi dada / nafas cuping hidung 6angguan pola nafas Intoleransi aktivitas anaeraob meningkat 0kumulasi asam laktat <atigue

9utrisi kurang dari kebutuhan

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. (Doenges# 1999 : 1!!A (. 6angguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler# gangguan kapasitas pemba)a aksigen darah# ganggguan pengiriman oksigen. (Doenges# 1999 : 1!!A *. 1. (Doenges# 1999 : 15(A 3. 9utrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi# anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum# distensi abdomen atau gas.( Doenges# 1999 : 151A !. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari&hari. (Doenges# 1999 : 15BA OKUS INTER0ENSI 1. 'ersihan $alan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial# pembentukan edema# peningkatan produksi sputum ;u$uan : & & & & & Calan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih dan $elas Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret %empertahankan $alan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/ $elas %enun$ukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan $alan nafas %isalnya: batuk efektif dan mengeluarkan sekret. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli. (Doenges# 1999 :155A 6angguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih# penurunan masukan oral. 'ersihan $alan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial# pembentukan edema# peningkatan produksi sputum.

?asil yang diharapkan :

Intervensi : a. 0uskultasi bunyi nafas# catat adanya bunyi nafas. %isalnya: mengi# krekels dan ronki. 2asional: 'ersihan $alan nafas yang tidak efektif dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas adventisius

b. "a$i/ pantau frekuensi pernafasan# catat rasio inspirasi/ ekspirasi 2asional: ;akipnea biasanya ada pada beberapa dera$at dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/ adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi meman$ang dibanding inspirasi. c. 'erikan posisi yang nyaman buat pasien# misalnya posisi semi fo)ler 2asional: Posisi semi fo)ler akan mempermudah pasien untuk bernafas d. Dorong/ bantu latihan nafas abdomen atau bibir 2asional: %emberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dipsnea dan menurunkan $ebakan udara e. 7bservasi karakteristik batik# bantu tindakan untuk memoerbaiki keefektifan upaya batuk. 2asional: 'atuk dapat menetap# tetapi tidak efektif. 'atuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di ba)ah setelah perkusi dada. f. 'erikan air hangat sesuai toleransi $antung. 2asional: ?idrasi menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah pengeluaran. (. 6angguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler# gangguan kapasitas pemba)a oksigen darah# gangguan pengiriman oksigen. ;u$uan : & Perbaikan ventilasi dan oksigenasi $aringan dengan 6D0 dalam rentang normal dan tidak ada distres pernafasan. ?asil yang diharapkan : & & %enun$ukkan adanya perbaikan ventilasi dan oksigenasi $aringan 'erpartisispasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi

Intervensi : a. ka$i frekuensi# kedalaman# dan kemudahan pernafasan 2asional :%anifestasi distres pernafasan tergantung pada dera$at keterlibatan paru dan status kesehatan umum b. 7bservasi )arna kulit# membran mukosa dan kuku. -atat adanya sianosis 2asional :+ianosis menun$ukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap demam/ menggigil dan ter$adi hipoksemia.

c. "a$i status mental 2asional :6elisah# mudah terangsang# bingung dapat menun$ukkan hipoksemia. d. 0)si frekuensi $antung/ irama 2asional :;akikardi biasanya ada karena akibat adanya demam/ dehidrasi. e. 0)asi suhu tubuh. 'antu tindakan kenyamanan untuk mengurangi demam dan menggigil 2asional :Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler. f. ;inggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi# nafas dalam# dan batuk efektif 2asional :;indakan ini meningkatkan inspirasi maksimal# meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiaki ventilasi. g. "olaborasi pemberian oksigen dengan benar sesuai dengan indikasi 2asional :%empertahankan Pa7( di atas !B mm?g. *. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli ;u$uan: & Pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru $elas/ bersih Intervensi : a. "a$i frekuensi# kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. 2asional :"ecepatan biasanya meningkat# dispnea# dan ter$adi peningkatan ker$a nafas# kedalaman bervariasi# ekspansi dada terbatas. b. 0uskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius. 2asional :'unyi nafas menurun/ tidak ada bila $alan nafas terdapat obstruksi kecil. c. ;inggikan kepala dan bentu mengubah posisi. 2asional :Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. d. 7bservasi pola batuk dan karakter sekret. 2asional :'atuk biasanya mengeluarkan sputum dan mengindikasikan adanya kelainan. e. 'antu pasien untuk nafas dalam dan latihan batuk efektif.

2asional :Dapat meningkatkan pengeluaran sputum. f. "olaborasi pemberian oksigen tambahan. 2asional :%emaksimalkan bernafas dan menurunkan ker$a nafas. g. 'erikan humidifikasi tambahan 2asional :%emberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret untuk memudahkan pembersihan. h. 'antu fisioterapi dada# postural drainage 2asional :%emudahkan upaya pernafasan dan meningkatkan drainage sekret dari segmen paru ke dalam bronkus. 1. 6angguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilngan cairan berlebih# penurunan masukan oral. ;u$uan : %enun$ukkan keseimbangan cairan dan elektrolit Intervensi : a. "a$i perubahan tanda vital# contoh :peningkatan suhu# takikardi## hipotensi. 2asional :8ntuk menun$ukkan adnya kekurangan cairan sisitemik b. "a$i turgor kulit# kelembaban membran mukosa (bibir# lidahA. 2asional :Indikator langsung keadekuatan masukan cairan c. -atat lapporan mual/ muntah. 2asional :0danya ge$ala ini menurunkan masukan oral d. Pantau masukan dan haluaran urine. 2asional :%emberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian e. "olaborasi pemberian obat sesuai indikasi. 2asional :%emperbaiki ststus kesehatan 3. 9utrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi# anoreksia# distensi abdomen. ;u$uan : & & %enun$ukkan peningkatan nafsu makan %empertahankan/ meningkatkan berat badan

Intervensi : a. Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/ muntah. 2asional :Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah

b. 'erikan )adah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin# bantu kebersihan mulut. 2asional :%enghilangkan bahaya# rasa# bau#dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual c. Cad)alkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 $am sebelum makan. 2asional :%enurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini d. 0uskultasi bunyi usus# observasi/ palpasi distensi abdomen. 2asional :'unyi usus mungkin menurun bila proses infeksi berat# distensi abdomen ter$adi sebagai akibat menelan udara dan menun$ukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran gastro intestinal e. 'erikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering atau makanan yang menarik untuk pasien. 2asional :;indakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali f. .valuasi status nutrisi umum# ukur berat badan dasar. 2asional :0danya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi# rendahnya tahanan terhadap infeksi# atau lambatnya responterhadap terapi !. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas hidup sehari&hari. ;u$uan : Peningkatan toleransi terhadap aktifitas. Intervensi : a. .vakuasi respon pasien terhadap aktivitas. 2asional :%enetapkan kemampuan/ kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi b. 'erikan lingkungan yang tenang dan batasi pengun$ung selama fase akut. 2asional :%enurunkan stres dan rangsangan berlebihan# meningkatkan istirahat c. Celaskan pentingnya istitahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbamgan aktivitas dan istirahat. 2asional :;irah baring dipertahankan untuk menurunkan kebutuhan metabolik d. 'antu aktivitas pera)atan diri yang diperlukan. 2asional :%eminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen DA TAR PUSTAKA 'arbara .ngram (199 A# (en)ana "su*an Kepera+atan Peneribit 'uku "edokteran .6-# Cakarta. edikal , -eda* 'ilid ./

'arbara -. ,ong (199!A# Pera+atan edikal -eda*0 Suatu Pendekatan Proses Kepera+atan/ ;he -.= %osby -ompany +t. ,ouis# 8+0. ?udak I 6allo (1995A# "epera)atan "ritis: Pendekatan $olistik Volume ./ Penerbit 'uku "edoketran .6-# Cakarta. Can ;ambayonmg ((BBBA# Patofisiolo1i 2nutk Kepera+atan# Penerbit 'uku "edoketran .6-# Cakarta. %arylin .. Doenges ((BBBA# (en)ana "su*an Kepera+atan0 Pedoman 2ntuk Peren)anaan dan Pendokumentasian Pera+atan Pasien edisi 3/ Penerbit 'uku "edoketran .6-# Cakarta. +ylvia 0. Price (1993A# Patofisiolo1i0 Konsep Klinis Proses3proses Pen%akit 4disi 4 -uku 2# Penerbit 'uku "edoketran .6-# Cakarta 6uyton I ?all (1995A# -uku "5ar Fisiolo1i Kedokteran 4disi ## Penerbit 'uku "edoketran .6-# Cakarta