You are on page 1of 21

ASUHAN KEPERAWATAN PADA CA SERVIKS

KANKER SERVIKS

CA SERVIK
PENDAHULUAN
Kanker adalah istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan maligna dalam setiap bagian
tubuh, pertumbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit, dan berkembang dengan mengorbankan
manusia sebagai hospesnya
Kanker serviks merupakan keganasan tersering kedua dari traktus reproduksi wanita. Umumnya
paling banyak ditemukan pada usia 31-60 tahun. Penyebaran kanker ini dapat secara
perkontinuatum, melalui pembuluh limfe atau melalui pembuluh darah.
Epidemiologis :
Kanker serviks uterus merupakan kanker ginekologi terbanyak (70%-75%)
Kanker serviks kurang lebih 26% kanker pada wanita
Satu dari 63 bayi wanita yang lahir akan menjadi kanker serviks
Sembilan persen penderita kanker serviks berusia kurang dari 35 tahun
Hanya 53% kanker in situ terjadi pada usia kurang dari 35 tahun
Survival rate akan lebih baik pada penderita kurang dari 45 tahun
Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan
95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Pasien yang menjalani
histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat
deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80%
rekurensi dalam 2 tahun. Faktor-faktor yang menentukan prognosis adalah :
Umur penderita
Keadaan umum penderita
Stadium penyakit
Ciri-ciri histologik sel tumor
Kemampuan ahli atau tim ahli yang menanganinya
Sarana pengobatan yang tersedia
Konsep Dasar

A.PENGERTIAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari
adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya
(FKUI, 1990; FKKP, 1997).
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada serviks uteri, dan merupakan karsinoma
ginekologi yang terbanyak diderita oleh wanita.
Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel
serviks uteri (Price dan Wilson, 1995).
Kanker serviks adalah Kanker yang terjadi pada serviks uteri, dan merupakan karsinoma
ginekologi yang terbanyak diderita oleh Wanita.Kanker Leher Rahim ( Kanker Serviks ) adalah
tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim / serviks ( bagian terendah dari rahim yang
menempel pada puncak vagina ). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55
tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10%
sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam
rahim.
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ
reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim
(uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah
berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang
wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.
Kanker cerviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau cerviks (bagian
terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker cerviks biasanya menyerang
wanita berusia 35-55 tahun.(Nada, 2007)

B. ETIOLOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan
predisposisi yang menonjol, antara lain :
Pemakaian Celana Ketat
Pemakaian celana ketat dapat meningkatkan suhu vagina sehingga akan merusak daya hidup
sebagian mikroorganisme, dan mendukung perkembangan sebagian mikroorganisme lainnya.
Akhirnya, pertumbuhan mikroorganisme menjadi tidak seimbang. Kondisi tersebut
memungkinkan perkembangan mikroorganisme yang justru menyebabkan terjadinya infeksi
Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin
besar mendapat kanker serviks. Hubungan sexual pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu
muda
Umur
Peningkatan usia seseorang kinerja organ-organ dan kekebalan tubuhnya. Dan itu membuatnya
relatif mudah terserang berbagai infeksi. Kanker rahim berpotensi paling besar pada usia antara
35-55 tahun.
Paritas
Paritas adalah kemampuan wanita untuk melahirkan secara normal. Pada proses persalinan
normal, bayi bergerak melalui mulut rahim dan ada kemungkinan sedikit merusak jaringan epitel
di tempat tersebut. Pada kasus wanita yang melahirkan lebih dari dua kali dan dengan jarak yang

terlalu dekat. Kerusakan jaringan epitel ini berkembang kea rah pertumbuhan sel abnormal yang
berpotensi ganas.
Penurunan Sistem Kekebalan Tubuh
Tubuh kita memiliki serangkaian system kekebalan yang secara otomatis berusaha mengatasi
gangguan-gangguan infeksi dan pertumbuhan sel abnormal. Namun dalam kondisi tertentu,
system kekebalan ini dapat melemah sehingga pengendalian gangguannya pun melemah.
Kondisi semacam ini terdapat pada wanita yang menjalani operasi gagal ginjal, atau pengiap
virus HIV. Dengan melemahnya sistem kekebalan, maka perkembangan infeksi tidak terhambat,
dan pertumbuhan sel abnormal terus meningkat hingga mencapai tahap invasif (menyebar
kemana-mana).
Pemakaian Pil KB
Pemakaian pil KB secara terus-menerus berpotensi menimbulkan kanker serviks. Pada
pemakaian lebih dari lima tahun, risiko ini menetap menjadi 2 kali lebih besar disbanding wanita
yang tidak memakai pil KB.
Ras
Pola kehidupan sosioekonomi tiap-tiap ras dapat dapat berpengaruh terhadap peningkatan risiko
mengidap kanker rahim. Hasil penelitian menunjukkan ras Afrika-Amerika paling berisiko tinggi
mengidap kanker rahim. Sementara Amerika-Hispanik cenderung di bawahnya. Adapun ras
Asia-Amerika relatif sama dengan Amerika-Hispanik.

Polusi Udara
Polusi udara baik yang berasal dari asap rokok, emisi kendaraan, pabrik dan sebagainya memiliki
banyak kandungan senyawa karsinogen yang berpotensi memunculkan sel kanker.
Pemakaian obat DES
DES (Diethylstilbestrol) adalah obat penguat kehamilan yang dikonsumsi untuk mencegah
keguguran. Obat ini sekarang sudah tidak popular. Para ahli menyimpulkan DES berpotensi
menimbulkan sel kanker di wilawah serviks.
Pemakaian Antiseptik di Vagina
Wanita modern ingin selalu tampil sempurna termasuk di wilayah pribadinya. Kini banyak sekali
produk antiseptik khusus vagina yang biasa membuat vagina lebih bersih dan selalu wangi.
Namun pemakaian antiseptik yang terlalu sering tidak baik. Antiseptik tersebut dapat membunuh
bakteri di sekitar vagina, termasuk bakteri yang menguntungkan. Dan apabila digunakan dalam
dosis yang terlalu sering, maka zat antiseptik tersebut dapat mengakibatkan iritasi pada kulit
bibir vagina yang sangat lembut. Iritasi ini biasa berkembang menjadi sel abnormal yang
berpontensi displasia.
Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus
semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor
resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata
diduga sebagai factor penyebab kanker serviks

Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial
ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan
sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi
imunitas tubuh.
Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya
belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga
banyak kumpulan-kumpulan smegma.
Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan
berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi
infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya
kanker serviks.

Cara Penularan Kanker Serviks


a. Cara Penularan HPV
Cara HPV menularkan virusnya dapat dilakukan dengan berbagai jalur yaitu:
Melalui jalur seksual
Jalur seksual dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu hubungan intim, kelamin-kelamin,
tangan-kelamin. Kebanyakan pria dan wanita yang telah berhubungan intim berisiko terinveksi
HPV, apalagi yang sering berganti pasangan dan kehidupan seksualnya tidak bersih, maka lebih
dari 75% pernah terifeksi HPV.

Melalui jalur nonseksual


Penularan jalur nonseksual adalah dengan cara penularan langsung. Misalnya dari ibu ke bayinya
pada saat persalinan. Tentu saja ini pada ibu yang telah tertular virus HPV.
3) Tidak melalui kelamin
Penularan tidak melalui kelamin misalnya pakaian dalam, alat-alat kedokteran yang tidak steril
(tapi ini sangat kecil kemungkinan).
Bagi orang yang terkena HPV maka hanya dua kemungkinan yaitu :
a) 80% akan sembuh dengan sendirinya oleh sistem kekebalan tubuhnya yang tinggi.
b) 10-20% kemungkinan akan menjadi infeksi yang menetap, yang kemudian berisiko menjadi
kanker. (Bertiani, 2009, 56-57)

C. PATOFISIOLOGI
Kanker serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoservik (portio) dan endoserviks
yang disebut sebagai Squamo-Columnas Junction (SCJ). Pada wanita muda, SCJ berada di luar
osteum uteri eksterna sedang pada wanita berumur 35 tahun SCJ ini berada di kanalis serviks.
Tumor dapat tumbuh :

Eksofilik
Mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa poliferatif yang mengalami infeksii sekunder
dan nekrosis.
Endofilik
Mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi
menjadi ulkus.
Ulseratif
Mulai dari SCJ daan cenderung merusak jaringan serviks dengan melibatkan awal pornises
vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Serviks yang normal secara alamiah mengalami proses metaplasia. Dengan masuknya mutagen,
proses tersebut dapat berkembang ke arah displasia. Tingkatan displasia :
Ringan (NIS I) : kelainan epitel terbatas pada lapisan basal
2. Sedang (NIS II) : lesi epitel lebih dari setengah bagian
3. Berat (NIS III) : seluruh lapisan epitel terkena
Perubahan displasia dapat terjadi karena trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus/bakteri, dan
gangguan keseimbangan hormon.
Kanker serviks dapat menyebar melalui tiga cara, yaitu :
Perkontinuatum ke alat-alat tubuh sekitarnya
Dari serviks ke ostium uteri internum kemudian ke segmen bawah uterus dan mengenai dinding
fundus. Menyebar ke kandung kemih, vagina, dan rektum.
Limfogen
Ke kelenjar paraservikalis, hipogastrika dan iliaka eksterna
Hematogen
Tumor metastasis ke alat-alat tubuh yang jauh, paru-paru, hati sumsum tulang dan lain-lain.
D. Klasifikasi pertumbuhan sel kankers serviks
Mikroskopis
1. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua
pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
2. Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi
karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel
skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.
3. Stadium karsinoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel
tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari
membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.
4. Stadium karsinoma invasif
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel
bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas

ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan korpus
uteri.
5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah
dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan
perdarahan.
Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks,
posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.
Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk
menjadi ulkus.
Markroskopis
1.Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan
yang rapuh dan mudah berdarah.
KLASIFIKASI menurut FIGO (Federation Internationale de Gynecologic et Obstetrigue), 1988:
Tingkat Kriteria
Karsinoma Pra invasif
0 Karsinoma in situ atau karsinoma intra epitel.
Karsinoma Invasif
I Proses terbatas pada serviks (perluasan ke korpus uteri tidak dinilai).
I a Karsinoma serviks preklinis hanya dapat didiagnostik secara mikroskopis, lesi tidak lebih
dari 3 mm atau secara mikroskopik kedalamannya > 3-5 mm dari epitel basal dan memanjang
tidak lebih dari 7 mm.
I b Lesi invasif > 5, dibagi atas lesi < 4 Cm dan > 4 Cm.
II Proses keganasan telah keluar dari serviuks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan atau
ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul.
II a Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat tumor.
II b Penyebaran ke parametrium, uni atau bilateral tetapi belum sampai dinding pangguL
III Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.
III a Penyebaran sampai 1/3 distal vagina namun tidak sampai ke dinding panggul.
III b Penyebaran sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor
dengan dinding panggul atau proses pada tingkat I atau II tetapi sudah ada gangguan faal
ginjal/hidronefrosis.
IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan atau
vesika urinaria (dibuktikan secara histologi) atau telah bermetastasis keluar panggul atau
ketempat yang jauh.

IV a Telah bermetastasis ke organ sekitar.


IV b Telah bermetastasis jauh.
E. Tanda dan Gejala
GEJALA
Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak
terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear.
Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan
menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut:
Perdarahan vagina yang abnormal,
Terjadi perdarahan di antara dua masa haid, baik sesudah koitus maupun tidak, perdarahan lebih
dari satu tahun sesudah menopause dan keluar lendir bercampur darah serta polymenorhea.
Perdarahan awal bertambah jumlah dan durasinya sejalan dengan progresivitas kanker dan
merupakan indikasi bahwa proses penyakit sudah menyerang limfe.
Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)
Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah
atau hitam serta berbau busuk.
Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:
Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
Nyeri panggul, punggung atau tungkai
Dari vagina keluar air kemih atau tinja
Patah tulang (fraktur).

Gambaran Klinis
Keluhan Metroragia
Keputihan
Perdarahan pascakoitus
Perdarahan spontan
Bau busuk yang khas
Obstruksi total vesika urinaria
Cepat lelah
Kehilangan berat badan
Anemia
Serviks teraba membesar,ireguler,teraba lunak
Lesi pada porsio dan vagina
F. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya pembengkakan kelenjar limfe supraklavikuler dan
pembesaran hepar
Pada pemeriksaan spekulum didapatkan lapisan-lapisan besar selaput lendir mudah lepas dan
mudah berdarah waktu disuap spatel
Adanya warna kemerahan di sekitar ostium eksternum servikalis uteri
Inspeksi
Perdarahan
keputihan

palpasi
nyeri abdomen
nyeri punggung bawah
Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa cara memeriksakan kanker serviks, diantaranya:
a. Mendeteksi kanker serviks dengan Pap smear
Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes pap smear biasanya mereka yang tinggi aktivitas
seksualnya. Namun tidak menjadi kemungkinan juga wanita yang tidak mengalami aktivitas
seksualnya memeriksakan diri. Berikut ini adalah wanita-wanita sasaran tes pap smear:
b. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)\
Merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin dengan
menggunakan asam asetat 3-5%. Alat ini begitu sederhana sebab saat memeriksakannya tidak
perlu ke laboratorium dan dapat dilakukan oleh bidan.
c. Mendiagnosis serviks dengan kolposkopi
Koloskopi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat permukaan leher rahim. Pemeriksaan ini
menggunakan mikroskop berkekuatan rendah yang memperbesar permukaan leher rahim.
Perbesarannya dari 10-40 kali dari ukuran normal. Ini dapat membantu mengidentifikasi area
permukaan leher rahim yang menunjukkan ketidaknormalan.
d. Vagina inflammation self test card
Vagina inflammation self test card adalah alat pendeteksian yang dapat menjadi warning sign.
Yang ditest dengan alat ini adalah tingkat keasaman (pH), test ini cukup akurat, sebab pada
umumnya apabila seorang wanita terkena infeksi, mioma, kista bahkan kanker serviks, kadar
pHnya tinggi. Dengan begitu maka melalui tets ini paling tidak wanita dapat mengetahui kondisi
vagina mereka secara kasar.
e. Schillentest
Cara kerja pemeriksaan ini adalah:
Serviks diolesi dengan larutan yodium
Sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat
Sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
Jika terkena karsinoma tidak berwarna
f. Kolpomikroskopi
Kolpomikroskopi adalah pemeriksaan yang bergabung dengan pap smear. Kolpomikroskopi
dapat melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali.
G. Penatalaksanaan
1. Terapi local
Terapi local dilakukan pada penyakit prainvasif, yang meliputi biopsy, cauterasi, terapi laser,
konisasi, dan bedah buku.
2. Histerektomi
Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia wanita, status anak, dan atau
keinginan untuk sterilisasi. Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus, pelvis dan nodus
limfa para aurtik.
3. Pembedahan dan terapi radiasi
a. Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker.
b. Dilakukan pada kanker serviks invasive
c. Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui luas dan lokasi tumor serta mengecilkan
tumor

4. Radioterapi batang eksternal


a. Dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas pembedahan itu tegas.
b. Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang kateter urine sehingga tetap berada di
tempat tidur, makan makanan dengan diet ketat dan memakan obat untuk mencegah defekasi,
karena pada terapi ini biasanya terpasang tampon (aplikator)
5. Eksenterasi pelvic
a. Dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang
b. Dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior, atau total tergantung organ yang diangkat
ditambah dengan uterus dan nodus limfa disekitarnya.
6. Terapi biologi
Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun)
7. Kemoterapi
Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik.
H. Komplikasi
1. Berkaitan dengan intervensi pembedahan
a. Vistula Uretra
b. Disfungsi bladder
c. Emboli pulmonal
d. Infeksi pelvis
e. Obstruksi usus
2. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Sistitis radiasi
b. Enteritis
3. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Supresi sumsum tulang
b. Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung sisplatin
c. Kerusakan membrane mukosa GI
d. Mielosupresi
I. Pencegahan
Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks, yaitu:
1. Mencegah terjadi infeksi HPV
2. Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur
3. Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah 18 tahun
4. Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau gunakan kondom untuk
mencegah penularan penyakit
5. Jangan berganti-ganti pasangan seksual
6. Berhenti merokok
Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas kanker serviks diperlukan upaya pencegahanpencegahan sebagai berikut :
Pencegahan primer, yaitu usaha untuk mengurangi atau menghilangkan kontak dengan
karsinogen untuk mencegah inisiasi dan promosi pada proses karsinogen.
Pencegahan sekunder, termasuk skrining dan deteksi dini untuk menemukan kasus-kasus dini
sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan.
Pencegahan tertier, merupakan pengobatan untuk mencegah komplikasi klinik dan kematian
awal.

KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN


Pengkaijan
Data subyektif :
Keluar keputihan, berbau
Nyeri
Cemas
Tidak ada nafsu makan
Berat badan menurun
Data obyektif :
Keluar keputihan, berbau
Perdarahan pervagina
Inspiculo portio rapuh, mudah berdarah
Kurus, pucat
Anemis
HB kurang dari 9 gram %
Ekspresi wajah cemas
Hypo Albumin Alb kurang dari 2,5

1. Identitas klien.
2. Keluhan utama.
Perdarahan dan keputihan
3. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak
gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk
mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk
memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan
keluarga.
4. Riwayat penyakit terdahulu.
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian
dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi.
5. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit
menular lain.
6. Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan bagaimana
pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Risiko Infeksi b.d imunosupresif, prosedur invasive
2. Kurang pengetahuan tentang program penggobatan dan tindakan preventif.
3. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisik

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan perkembangan


penyakit
5. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan
terbatasnya informasi.
6. Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan konsentrasi Hb dan darah, suplai oksigen
berkurang (anemia)
7. Resiko Injury b/d kecenderungan perdarahan sekunder.
8. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunann nafsu
makan

RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi
Risiko Infeksi b.d imunosupresif, prosedur invasive
Setelah dilakuakan asuhan keperawatan selama 5 X 24jam pasien dapat memperoleh
1.Pengetahuan:Kontrol infeksi
Indikator:
Menerangkan cara-cara penyebaran infeksi
Menerangkan factor-faktor yang berkontribusi dengan penyebaran
Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
Menjelaskan aktivitas yang dapat meningkatkan resistensi terhadap infeksi
Keterangan:
1 : tidak pernah
2 : terbatas
3 : sedang
4 : sering
5 : selalu
2.Status Nutrisi
Asupan nutrisi
Asupan makanan dan cairan
Energi
Masa tubuh
Berat badan
Keterangan:
1 : sangat bermasalah
2 : bermasalah
3 : sedang
4 : sedikit bermasalah
5 : tidak bemasalah
Kontrol Infeksi
Bersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien
Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
Batasi jumlah pengunjung
Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu

Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat


Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan
Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan setelah meninggalkan ruangan pasien
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
Lakukan universal precautions
Gunakan sarung tangan steril
Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
Lakukan teknik perawatan luka yang tepat
Ajarkan pasien untuk pengambilan urin porsi tengah
Tingkatkan asupan nutrisi
Anjurkan asupan cairan yang cukup
Anjurkan istirahat
Berikan terapi antibiotik
Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala dari infeksi
Ajarkan pasien dan anggota keluarga bagaimana mencegah infeksi
Kurang pengetahuan tentang program penggobatan dan tindakan preventif Pengetahuan : proses
penyakit
Mengenal nama penyakit
Deskripsi proses penyakit
Deskripsi faktor penyebab atau faktor pencetus
Deskripsi tanda dan gejala
Deskripsi cara meminimalkan perkembangan penyakit
Deskripsi komplikasi penyakit
Deskripsi tanda dan gejala komplikasi penyakit
Deskripsi cara mencegah komplikasi
Skala :
1 : tidak ada
2 : sedikit
3 : sedang
4 : luas
5 : lengkap
Pengetahuan : prosedur perawatan
Deskripsi prosedur perawatan
Penjelasan tujuan perawatan
Deskripsi langkah-langkah prosedur
Deskripsi adanya pembatasan sehubungan dengan prosedur
Deskripsi alat-alat perawatan
Skala :
1 : tidak ada
2 : sedikit
3 : sedang
4 : luas
5 : lengkap

Pembelajaran : proses penyakit


Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakit
Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana kaitannya dengan anatomi dan fisiologi tubuh
Deskripsikan tanda dan gejala umum penyakit
Identifikasi kemingkinan penyebab
Berikan informasi tentang kondisi klien
Berikan informasi tentang hasil pemeriksaan diagnostik
Diskusikan tentang pilihan terapi
Instruksikan klien untuk melaporkan tanda dan gejala kepada petugas
Pembelajaran : prosedur/perawatan
Informasikan klien waktu pelaksanaan prosedur/perawatan
Informasikan klien lama waktu pelaksanaan prosedur/perawatan
Kaji pengalaman klien dan tingkat pengetahuan klien tentang prosedur yang akan dilakukan
Jelaskan tujuan prosedur/perawatan
Instruksikan klien utnuk berpartisipasi selama prosedur/perawatan
Jelaskan hal-hal yang perlu dilakukan setelah prosedur/perawatan
Instruksikan klien menggunakan tehnik koping untuk mengontrol beberapa aspek selama
prosedur/perawatan (relaksasi da imagery)

Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisik NOC: Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 5X24jam pasien mampu untuk
Mengontrol nyeri dengan indikator:
Mengenal factor-faktor penyebab nyeri
Mengenal onset nyeri
Melakukan tindakan pertolongan non-analgetik
Menggunakan analgetik
Melaporkan gejala-gejala kepada tim kesehatan
Mengontrol nyeri
Keterangan:
1 = tidak pernah dilakukan
2 = jarang dilakukan
3 =kadang-kadang dilakukan
4 =sering dilakukan
5 = selalu dilakukan pasien

Menunjukan tingkat nyeri


Indikator:
Melaporkan nyeri
Melaporkan frekuensi nyeri

Melaporkan lamanya episode nyeri


Mengekspresi nyeri: wajah
Menunjukan posisi melindungi tubuh
kegelisahan
perubahan respirasi rate
perubahan Heart Rate
Perubahan tekanan Darah
Perubahan ukuran Pupil
Perspirasi
Kehilangan nafsu makan
Keterangan:
1 : Berat
2 : Agak berat
3 : Sedang
4 : Sedikit
5 : Tidak ada Manajemen Nyeri
Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik dan onset, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi
observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan
untuk komunikasi secara efektif
Berikan analgetik sesuai dengan anjuran
Gunakan komunikiasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri
Kaji latar belakang budaya pasien
Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola tidur, nafsu makan, aktifitas
kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggungjawab peran
Kaji pengalaman individu terhadap nyeri, keluarga dengan nyeri kronis
Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan
Berikan dukungan terhadap pasien dan keluarga
Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan tindakan
pencegahan
kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan (seperti: temperatur ruangan, penyinaran, dll)
Anjurkan pasien untuk memonitor sendiri nyeri
Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (seperti: relaksasi, guided imagery, terapi musik,
distraksi, aplikasi panas-dingin, massase)
Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri
Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon pasien
Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup
Anjurkan pasien untuk berdiskusi tentang pengalaman nyeri secara tepat
Beritahu dokter jika tindakan tidak berhasil atau terjadi keluhan
Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota keluarga saat tindakan nonfarmakologi
dilakukan, untuk pendekatan preventif
Monitor kenyamanan pasien terhadap manajemen nyeri
Pemberian Analgetik
Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas,dan keparahan sebelum pengobatan

Berikan obat dengan prinsip 5 benar


Cek riwayat alergi obat
Libatkan pasien dalam pemilhan analgetik yang akan digunakan
Pilih analgetik secara tepat /kombinasi lebih dari satu analgetik jika telah diresepkan
Tentukan pilihan analgetik (narkotik, non narkotik, NSAID) berdasarkan tipe dan keparahan
nyeri
Monitor tanda-tanda vital, sebelum dan sesuadah pemberian analgetik
Monitor reaksi obat dan efeksamping obat
Dokumentasikan respon setelah pemberian analgetik dan efek sampingnya
Lakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan efek analgetik (konstipasi/iritasi lambung)
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan perkembangan penyakit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 24 jam, klien mampu :
Meningkatkan citra tubuh, indikator :
Penerimaan diri secara verbal
Mempertahankan kontak mata
Komunikasi terbuka
Perhatian terhadap orang lain
Tingkat kepercayaan diri
Skala :
1 : Tidak pernah berfikir positif
2 : Jarang berfikir positif
3 : Kadang berfikir positif
4 : Sering berfikir positif
5 : Selalu berfikir positif Peningkatan citra tubuh
Kaji citra tubuh klien dengan cara menanyakan bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai
Bantu klien untuk mendiskusikan perubahan tubuh akibta penyakit
Bantu klien untuk mendiskusikan fungsi tubuh yang terganggu
Kaji perasaan klien ketika berinteraksi dengan orang lain
Kaji persepsi klien dan keluarga tentang perubahan tubuh yang terjadi
Identifikasi strategi koping yang digunakan
Kaji apakah perubahan gambaran diri mempengaruhi hubungan sosial klien
Bantu klien mengidentifikasi bagian tubuh lain yang bernilai positif
Identifikasi dukungan sosial yang dimiliki klien

Cemas b.d krisis situasional, ancaman terhadap konsep diri, perubahan dalam status
kesehatan
Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan konsentrasi Hb dan darah, suplai oksigen
berkurang (anemia)
Resiko Injury b/d kecenderungan perdarahan sekunder
Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan nafsu
makan

NOC: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2X24 jam, pasien mampu mengontrol
cemas dengan indikator:

Memonitor intensitas cemas


Menghilangkan penyebab cemas
Menurunkan stimulus lingkungan ketika cemas
Mencari informasi untuk menurunkan cemas
Menggunakan strategi koping yang efektif
Melaporkan kepada perawat penurunan lama cemas
Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas
Mempertrahankan hubungan sosial
Mempertahankan konsentrasi
Melaporkan kepada perawat tidur cukup
Melaporkan kepada perawat bahwa cemas tidak mempengatruhi keadaan fisik
Tidak adanya tingkah laku yang menunjukan cemas
Keterangan:
1 = tidak pernah dilakukan
2 = jarang
3 = kadang-kadang
4 = sering
5 = selalu dilkakukan
NOC : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2X24 jam, diharapkan :
Circulation status
Tissue Prefusion : cerebral
Kriteria Hasil :
mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan :
Tekanan systole dandiastole dalam rentang yang diharapkan
Tidak ada ortostatikhipertensi
Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg)
mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan:
berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan
menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi
memproses informasi
membuat keputusan dengan benar
menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh : tingkat kesadaran mambaik, tidak ada
gerakan gerakan involunter
NOC : Risk Kontrol
Kriteria Hasil :
Klien terbebas dari cedera
Klien mampu menjelaskan cara/metode untukmencegah injury/cedera
Klien mampu menjelaskan factor resiko dari lingkungan/perilaku personal
Mampumemodifikasi gaya hidup untukmencegah injury
Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
Mampu mengenali perubahan status kesehatan
NOC :
Nutritional Status : food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :
Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Menurunkan cemas:
Tenangkan pasien
Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada pasien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat
melakukan tindakan
Berusaha memahami keadaan pasien
Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan tindakan
Mendampingi pasien untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kenyamanan
Dorong pasien untuk menyampaikan tentang isi perasaannya
Kaji tingkat kecemasan
Dengarkan pasien dengan penuh perhatian
Ciptakan hubungan saling percaya
Bantu pasien menjelaskan keadaan yang bisa menimbulkan kecemasan
Bantu pasien untuk mengungkapkan hal hal yang membuat cemas
Ajarkan pasien teknik relaksasi
Berikan obat obat yang mengurangi cemas
NIC :
Intrakranial Pressure (ICP) Monitoring (Monitor tekanan intrakranial)
Berikan informasi kepada keluarga
Set alarm
Monitor tekanan perfusi serebral
Catat respon pasien terhadap stimuli
Monitor tekanan intrakranial pasien dan respon neurology terhadap aktivitas
Monitor jumlah drainage cairan serebrospinal
Monitor intake dan output cairan
Restrain pasien jika perlu
Monitor suhu dan angka WBC
Kolaborasi pemberian antibiotik
Posisikan pasien pada posisi semifowler
Minimalkan stimuli dari lingkungan
Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer)
Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
Monitor adanya paretese
Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lsi atau laserasi
Gunakan sarun tangan untuk proteksi
Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
Monitor kemampuan BAB
Kolaborasi pemberian analgetik
Monitor adanya tromboplebitis
Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi

NIC : Environment Management (Manajemen lingkungan)


Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien
dan riwayat penyakit terdahulu pasien
Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)
Memasang side rail tempat tidur
Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien.
Membatasi pengunjung
Memberikan penerangan yang cukup
Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.
Mengontrol lingkungan dari kebisingan
Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status
kesehatan dan penyebab penyakit.
Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas normal
Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nuntrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.

Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah :
1. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi
perdarahan.
2. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh
3. Tidak ada tanda-tanda infeksi
4. Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan
5. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.
6. Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.
7. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan
mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.
8. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kanker cerviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau cerviks.
ETIOLOGI
Pemakaian Celana Ketat
Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Umur
Paritas
Penurunan Sistem Kekebalan Tubuh
Pemakaian Pil KB
Ras
Polusi Udara
Pemakaian obat DES
Pemakaian Antiseptik di Vagina
Jumlah kehamilan dan partus
Jumlah perkawinan
Infeksi virus
Sosial Ekonomi
Hygiene dan sirkumsisi
Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Cara Penularan Kanker Serviks
Melalui jalur seksual
Melalui jalur nonseksual
Tidak melalui kelamin
Tanda dan Gejala
Perdarahan vagina yang abnormal,

Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)


Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah
atau hitam serta berbau busuk.
Klasifikasi pertumbuhan sel kankers serviks (mikroskopis)
Displasia
Stadium karsinoma insitu
Stadium karsinoma mikroinvasif.
Stadium karsinoma invasif
Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Klasifikasi pertumbuhan sel kankers serviks (makroskopis)
1.Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan
yang rapuh dan mudah berdarah.

B. Kritik dan Saran


Makalah Asuhan Keperawatan pada Klien Kanker Serviks ini masih kurang dari sempurna,
untuk itu kami mohon kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Gale, D., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi (Oncology Nursing Care Plans), EGC,
Jakarta.
Johnson, M., 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC), second edition, Mosby,
Philadelphia.
NANDA, 2005. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006, NANDA
International, Philadelphia.
.Hacher/moore, 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, hypokrates , jakarta
Abdul bari saifuddin,, 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,
penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta
Marlyn Doenges,dkk, 2001,Rencana perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta
Helen Varney,DKK, 2002, Buku Saku Bidan, cetakan I, EGC, Jakarta
Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa keperawatan edisi 8,EGC,Jakarta.
Arif Mansjoer dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1. EGC : Jakarta