You are on page 1of 6

PENGOLAHAN AIR TERPRODUKSI

M. Khairiza Saputra (03111002021)


Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Jl. Raya Palembang-unsri KM 32
Inderalaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Indonesia
khairiza_saputraminer@yahoo.co.id

ABSTRAK
Dalam memproduksikan gas CBM, pertama kali gas harus didesorpsi (dilepaskan) dari permukaan batubara. Untuk
dapat melepaskan gas dari permukaan batubara, tekanan reservoir harus diturunkan hingga mencapai tekanan
desorpsi yaitu tekanan terbesar dimana metana mulai terlepas dari batubara. Oleh karena itu untuk awal produksi
dilakukan proses dewatering yaitu Produksi air secara besar-besaran untuk menurunkan tekanan reservoir dan
melepaskan metana dari batubara. Seiring dengan dilakukannya dewatering, produksi gas akan meningkat hingga
akhirnya mencapai puncak produksi. Air hasil dewatering tersebut haruslah diolah terlebih dahulu hingga dapat
dinyatakan aman untuk dimanfaatkan ataupun dikembalikan ke alam sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan
pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.02 tahun 2011 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau
kegiatan Eksplorasi dan eksploitasi Gas Metana Batubara. Pengolahan air tersebut dapat menggunakan metode
Surface Discharge, Infiltration Impoundments, Shallow Re-injection dan Reverse Osmosis.
Kata kunci :CBM, desorpsi, dewatering

ABSTRACT
In CBM produced gas , the gas must first desorption ( released ) from the coal surface . To be able to release the gas
from the coal surface , the reservoir pressure must be lowered until it reaches the desorption pressure is greatest where
the methane pressure ranging apart from coal . Therefore, for the initial production of the dewatering process is carried
water production on a large scale to lower the reservoir pressure and the release of methane from coal . Along with
doing dewatering , gas production will increase until it reaches peak production . The results of dewatering water
should be processed first to be declared safe for use or returned to nature in accordance with the parameters specified
in the MOE Regulation No.02 of 2011 on Wastewater Quality Standard Business and / or activities of exploration and
exploitation of Methane Gas coal . The water treatment methods can use Surface Discharge , Infiltration impoundments
, Shallow Re - injection and Reverse Osmosis .
Key word : CBM, desorption, dewatering

I. PENDAHULUAN
Menyadari bahwa energi Migas dan Batubara merupakan sumber daya yang tidak terbarukan, maka pemanfaatannya
harus di kelola dengan azas efisien lagi hemat dan mengingat makin meningkatnya harga minyak dunia menyebabkan
sebagian besar negara yang sangat bergantung pada bahan bakar tersebut saat ini berusaha untuk mencari energy
alternative yang lebih murah dan ramah lingkungan. Suatu kenyataan bahwa kebutuhan energi, khususnya listrik di
Indonesia terus berkembang dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari

dan menuntut perindustrian Minyak dan Gas Bumi agar dapat meningkatkan cadangan Unconventional Gas Reservoir
untuk dikembangkan. Pengelolaan energi ke depan harus dilakukan dengan efisien melalui teknologi yang tepat sasaran
dalam menopang pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.
Seiring dengan Boomingnya pengembangan energi unconventional di dunia saat ini telah memicu beberapa negara
untuk berlomba mencari sumber energi baru yang lebih familiar dikenal dengan unconventional hydrocarbon. Energi
baru tersebut adalah Coal Bed Methane disingkat CBM atau dalam istilah yang telah diserap ke dalam Bahasa Indonesia
oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) menjadi Gas Metana Batubara (GMB) yang tertuang
dalam Peraturan Menteri ESDM No.36 Tahun 2008 dengan pengertian Gas Bumi (hidrokarbon) dimana Gas Metana
merupakan sebagai komponen utama, terjadi secara alamiah oleh proses pembentukan Batubara (coalification) dalam
kondisi terperangkap dan terserap (teradsorbsi) didalam Batubara dan/atau lapisan Batubara.
Dari hasil pengkajian pada 10 (sepuluh) cekungan yang ada di Indonesia, potensi CBM di perkirakan sebesar 453
Triliun Cubic Feet (Tcf), berdasarkan Advanced Resources International,inc. Angka tersebut di atas menunjukan bahwa
CBM sangat potensial untuk di kembangkan di Indonesia.
Terdapat 3 (tiga) tahapan utama dalam memproduksi CBM, antara lain;
1. Tahap pengurasan air, dimana sejumlah air dengan muatan yang besar akan diproduksi bersamaan dengan keluarnya
gas CBM
2. Tahap stabil, sebagai tahapan produksi stabil yang terjadi setelah pengurangan tekanan reservoir pada tahap pertama
dilakukan dimana dalam tahap ini sejumlah gas yang diproduksi akan meningkat dan jumlah air yang diproduksikan
akan menurun
3. Tahap penurunan, yaitu terjadi penurunan jumlah gas yang diproduksi dan produksi air juga rendah
Air yang dihasilkan pada tahapan awal produksi CBM ini haruslah menjadi fokus lingkungan hidup yakni air
terproduksi yang dibuang langsung ke permukaan (lingkungan) tidak boleh melewati ambang batas yang telah
ditentukan oleh Pemerintah. Adapun metode-metode dalam pengolah air terproduksi ini yaitu surface discharge,
infiltration impoundments, re-injection dan reverse osmosis.

II. METODE PENELITIAN


Pada penelitian paper ini, penulis hanya menggunakan metode penelitian berupa study literatur. Penulis sama sekali
tidak melakukan penelitian langsung baik itu melakukan penelitian dengan langsung terjun ke lapangan ataupun
melakukan pengamatan laboratorium. Penulis hanya mengumpulkan data dan informasi yang telah ada dari berbagai
sumber terlampir dan memanfaatkannya sesuai tujuan dari penulisan paper ini.

III. PEMBAHASAN
Gas CBM yang terdapat pada lapisan Batubara terperangkap pada matriks Batubara dan sebagian kecil terdapat pada
cleat (rekahan) sebagai gas bebas dan terlarut pada air yang berada di dalam cleat. Agar gas CBM tersebut dapat
diproduksikan, maka tekanan reservoir harus lebih kecil dari critical desorption pressure, yaitu tekanan terendah
dimana gas metana yang terdapat dalam Batubara dapat diproduksikan. Untuk menurunkan tekanan tersebut, maka
dilakukan pekerjaan Dewatering yaitu memproduksikan air sehingga tekanan kritis desorpsi reservoir dapat tercapai.
Setelah tekanan reservoir turun sampai pada tekanan kritis desorpsi akibat terproduksikannya air dari reservoir, maka
gas dapat terbebaskan. Pada kondisi ini, fluida yang terproduksikan tidak hanya air, tetapi gas yang terakumulasi pada
matriks Batubara juga sudah mulai terbebaskan. Secara umum, pada waktu air terproduksikan dari reservoir pada saat
yang sama gas CBM juga terproduksikan, hal ini disebabkan tekanan gas CBM pada Batubara lebih kecil jika
dibandingkan dengan tekanan air sehingga untuk memproduksi gas CBM tersebut maka air perlu dikeluarkan.
Air yang keluar dari proses dewatering ini akan menjadi permasalahan sendiri bila tidak ditangani dengan baik. Jika air
ini dibuang langsung ke lingkungan maka akan menimbulkan banyak masalah karena tingginya kandungan mineral
yang terdapat didalamnya. Kualitas air terproduksi CBM tergantung pada kondisi lingkungannya. Parameter untuk
menilai kualitas air tersebut adalah Total Dissolved Solids (TDS), Electric Conductivity (EC) dan Sodium Adsorption
Ratio (SAR), dimana secara garis besar parameter tersebut berhubungan dengan kandungan garam dan senyawa kimia
yang dapat membentuk kandungan garam seperti pada tabel 3.1 berikut ini :

Tabel 3.1. Parameter Standar Air

Saat ini telah ada peraturan khusus mengenai pengelolaan air terproduksi CBM yakni Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup No.02 tahun 2011 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau kegiatan Explorasi dan eksploitasi Gas
Metana Batubara. Memperhatikan karakter air terproduksi CBM yang berbeda dengan air terproduksi Migas umumnya,
sudah seharusnya mendapat perlakuan atau aturan khusus dari Pemerintah dalam pengelolaannya.
Dalam pelaksanaannya pembuangan air produksi gas CBM dilakukan berdasarkan hasil studi Andal dan UKL/UPL
yang dibuat pada saat pembuatan Masterplant produksi gas CBM. Selama masa pengurasan (dewatering), air yang
terproduksi sangat besar sekali, berdasarkan data Lapangan Powder River Basin di Amerika Serikat pada awal
dewatering air terproduksi mencapai 800 bwpd (barrel water per day) sehingga diperlukan penanganan air terproduksi
secara tepat dan ekonomis.
Dengan jumlah yang demikian besar dan kualitas yang cukup baik membuat air terproduksi memiliki berbagai
kemungkinan dalam pemanfaatannya (untuk memasok irigasi pertanian, enhanced oil recovery dan pasokan untuk
bahan baku air minum). Kualitas air yang cukup baik dapat dibuang langsung ke lingkungan sebagai penambah debit air
untuk irigasi. Namun, untuk pasokan air minum diperlukan teknologi yang cukup sehingga dapat memenuhi standar
baku mutu air minum. Pemanfaatan air tersebut tergantung pada kualitas air terproduksi, lokasi sumur dan pengolahan
air yang efektif. Umumnya ada 4 (empat) cara yang dilakukan oleh pelaku bisnis CBM dalam penangan air akibat
proses dewatering antara lain; Surface Discharge, Infiltration Impoundments, Shallow Re-injection dan Reverse
Osmosis.
3.1. Surface Discharge (pembuangan permukaan)
Air terproduksi dari beberapa sumur dipompa ke pusat pengolahan kemudian air tersebut dialirkan ke lingkungan.
Pelepasan air ke aliran sungai diatur sesuai dengan baku mutu dan mempertimbangkan erosi yang berlebihan pada
aliran sungai, sehingga debit air yang dibuang diatur sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kriteria yang telah
ditentukan. Pada saat produksi air konstan maka pembuangan pun akan konstant (inlet=outlet). Bila ada rencana
pembuangan air tersebut akan di buang ke sungai, maka sungai yang akan menjadi tempat pembuangan tersebut
mengalami penambahan debit airnya sekitar 10,000 Barrel Per Day (bpd), (1 barrel = 160 liter). Sebelum dibuang ke
lingkungan biasanya ada beberapa treatment yang harus dilakukan terutama dalam hal penyelidikan kandungan kimia
pada air CBM tersebut, apabila telah memenuhi ambang batas mutu air lingkungan maka, air tersebut dapat saja
dibuang langsung ke lingkungan melalui sungai terdekat atau dapat pula dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
kebutuhan industri maupun rumah tangga. Umumnya daerah pengembangan WK CBM berada di darat (onshore) dan
terletak disekitar desa yang masyarakatnya hidup dari bercocok tanam dengan mengandalkan musim. Jika air tersebut
telah layak dibuang ke sungai, maka air tersebut juga layak dimanfaatkan untuk mengaliri lahan dan ladang untuk
bercocok tanam. Air CBM dapat dimanfaatkan, antara lain:

Sebagai pengairan pertanian atau peternakan sekitar WK CBM.

Sebagai sumber air baku untuk pengolahan air minum daerah setempat.

Dapat juga digunakan untuk Industri.


Demi terlaksananya program pemanfaatan buangan air produksi gas CBM perlu dilakukan perencanaan bersama antara
Pemerintah Daerah dan Perusahaan Pengelola CBM sehingga manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan air
produksi CBM dapat digunakan bagi kepentingan masyarakat banyak, antara lain :

Peningkatan hasil produksi tanaman, karena tidak lagi bergantung pada musim.

Penghematan biaya Produksi Air Minum (PDAM) karena sumber air bakunya merupakan air bersih.
Meningkatnya kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Terjadinya hubungan yang harmonis antara masyarakat, Pemerintah daerah dan perusahaan Pengelola CBM

3.2. Infiltration Impoundments


Air terproduksi dari beberapa sumur dipompa ke kolam untuk diuapkan (evaporasi), penguapan dibantu dengan alat
penyemprot atau diresapkan kembali kedalam akuifer. Sebelum digunakan untuk kebutuhan pertanian maupun rumah
tangga terlebih dahulu di kumpulkan dalam sebuah kolam. Kendala utama dalam pembuatan kolam ini adalah
ketersediaan lahan yang akan dipergunakan untuk membuat kolam tersebut karena area yang dibutuhkan dalam
pembuatan kolam yang cukup luas.
Jika kandungan airnya saline tentu dapat merusak vegetasi, dan jika tidak di filteralisasi (saring) kadar garamnya tentu
akan dapat mencemari air tanah. Kontroversi pembuangan air produksi CBM di kolam (pool) yakni sebagai cara paling
murah namun, dapat merusak lingkungan karena mampu mengubah perilaku hidrologi area tersebut, mengancam ikan
dan kehidupan air lainnya, serta bisa mengubah iklim lokal karena mengandungan moisture Batubara yang tinggi.
Selain itu, juga dapat mengakibatkan erosi atau penurunan muka air tanah dan vegetasi yang terkait dengannya.
Tampungan produksi air CBM yang mengandung garam dapat mengandung racun organik atau anorganik, seperti
amonia atau hidrogen sulfida yang secara substansial dapat merusak lingkungan.
Gambar 3.1. Tahapan Metode Infiltration Impoundments

3.3. Shallow Re-injection (Sumur Injeksi)


Air terproduksi dari beberapa sumur ditampung ke kolam kemudian dipompakan ke dalam lapisan akuifer (lapisan
Formasi batuan) yang mempunyai salinitas tinggi melalui sumur injeksi ke dalam tanah pada kedalaman tertentu. Harga
sumur injeksi ini juga cukup mahal yaitu hampir sama dengan harga sumur CBM.
3.4. Reverse Osmosis (Osmosa Terbalik)
Reverse Osmosis (Osmosa Terbalik) atau hyperfiltration adalah proses pengolahan yang dapat memisahkan kandungan
senyawa organik dan anorganik dari air. Teknik ini banyak digunakan untuk desalinasi air laut dan payau, pengolahan
limbah indusri dan lain-lain. Prinsip osmosa terbalik adalah memindahkan pelarut dari larutan encer ke larutan pekat,
dengan mengalirkan air (pelarut) melalui membrane semi permeable, tekanan yang digunakan harus lebih besar dari
tekanan osmotic (biasanya kira-kira tiga kali lebih besar). Membran yang digunakan pada proses ini biasanya adalah
membran yang porinya sangat kecil atau padat. Bahan membran yang digunakan adalah selulosa asetat, komposit,
polimida dengan modul tubular, spiral wound, flat sheet atau hallow fiber.

IV. KESIMPULAN
CBM merupakan salah satu energi alternatif yang mempunyai potensi sangat besar, khususnya di Indonesia. Potensi
CBM di Indonesia diperkirakan sebesar 453 Triliun Cubic Feet (Tcf), berdasarkan Advanced Resources
International,inc. Oleh karena itu akan sangat sia - sia jika kita tidak memanfaatkannya semaksimal mungkin. Akan
tetapi dalam tahapan produksi CBM sendiri, yaitu pada tahapan awal produksi haruslah dilakukan proses dewatering
terlebih dahulu. Proses dewatering sendiri adalah suatu proses mengeluarkan air yang terdapat pada endapan batubara
sehingga tekanan pada lapisan batubara dapat berkurang yang akan mengakibatkan gas methane dapat keluar melalui
pori dan cleat batubara, hal ini disebabkan tekanan gas CBM pada Batubara lebih kecil jika dibandingkan dengan
tekanan air.
Air dalam jumlah yang sangat besar (mencapai 800 barel per hari) hasil dari dewatering ini haruslah di perhatikan
dengan sungguh sungguh karena dapat menimbulkan bahaya dan kerusakan yang serius bagi lingkungan jika tidak
dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu. Sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.02 tahun 2011 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau kegiatan
Eksplorasi dan eksploitasi Gas Metana Batubara. Adapun parameter untuk menilai kualitas air tersebut adalah Total
Dissolved Solids (TDS), Electric Conductivity (EC) dan Sodium Adsorption Ratio (SAR), dimana secara garis besar
parameter tersebut berhubungan dengan kandungan garam dan senyawa kimia yang dapat membentuk kandungan
garam.
Langkah penanganan untuk mengatasi air terproduksi hasil dewatering, ditampung dalam kolam penampung air.
Langkah selanjutnya, air terproduksi dipompakan melalui pipa penyalur menuju pengolahan air limbah ( filtration unit)
yang mempunyai kemampuan untuk menyaring Total Solid Suspended (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), Chemical
Oxygen Demand (COD), kandungan logam dan kandungan garam. Air produksi yang sudah diolah, dapat dimanfaatkan
kembali untuk irigasi tanaman, perikanan air payau dan masih banyak fungsi pemanfaatannya.
Proses pengembangan CBM tidak akan menjadi ramah lingkungan apabila resiko yang diakibatkan tidak diantisipasi.
Oleh karena itu, penting adanya untuk melakukan upaya penanganan terhadap air terproduksi pada CBM. Mengingat
kebutuhan akan energi yang semakin meningkat, mau tidak mau Indonesia harus segera memberdayakan CBM sebagai
energi alternatif. Pemanfaatan CBM dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan akan energi minyak bumi dan
meningkatkan produksi gas nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Kusumo, A. Lesto. P (2013). Penanganan dan Pengolahan Migas Hijau. RAISE SM-IATMI UPNV Yogyakarta.
SKK Migas (2013). Kemajuan Pengelolaan Migas Non Konventional di Indonesia. RAISE SM-IATMI UPNV
Yogyakarta.
Dhany, Rista Rama. Cadangan Minyak Indonesia Tinggal Tersisa 11 Tahun Lagi.
Finance.detik.com ; diakses Mei 2014.
Sustainability Air Terproduksi CBM Terhadap Lingkungan
http://vinamediyanti.blogspot.com/2011/11/sustainability-air-terproduksi-cbm.html, diakses Mei 2014

Unconventional Reserve ; Saatnya CBM menjadi Migas Hijau Masa Depan Indonesia
http://lintaskampusup45.blogspot.com/2014/02/unconventional-reserve-saatnyacbm.html, diakses Mei 2014

Pemanfaatan Constructed Wetland Metode Sistim Pengelolaan Air Terproduksi CBM di


Indonesia, Mungkinkah?
http://vinamediyanti.blogspot.com/2012/09/pemanfaatan-constructed-wetlandmetode.html, diakses Mei 2014

Pengelolaan Air Terproduksi Sumur CBM Di South Sumatera Basin


http://www.scribd.com/doc/162534792/Pengelolaan-Air-Terproduksi-Sumur-CBM-DiSouth-Sumatera-Basin, diakses Mei 2014