You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan bagian urgensial dalam
sebuah perusahaan. Upaya pemantauan, pengukuran, pengendalian risiko hingga
tindakan pencegahan terhadap hal yang paling tidak diinginkan perusahaan yakni
kecelakaan. Menurut Frank Bird, an accident is undesired event that result in
physical harm to a person or demage to property. It is usually the result of a
contact with a source of energy (kinetic, electrical, chemical, thermal, etc).
Jelaslah bahwa sebuah kecelakaan akan mengakibatkan kerugian yang
tidak sedikit. Dewasa ini, para pengusaha sudah menyadari betapa pentingnya
Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang
terintegritas. Kesadaran ini termanifestasi dalam berbagai upaya pengendalian dan
program K3. Namun sayangnya, kesadaran akan pentingnya K3 belum sampai
pada tingkatan yang optimal. Perusahaan menyadari K3, namun pekerja belum
sepenuhnya mengerti dengan K3 sehingga upaya program K3 pun bagai berdiri
dengan kaki sebelah, belum ada keseimbangan dalam implementasiprogram K3.
Hal ini dapat terlihat dari tingkat pengetahuan pekerja terhadap K3 dan masih
tingginya angka kecelakaan pekerja di Indonesia.
Berdasarkan data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah
kecelakaan di Indonesia pada tahun 2011 adalah 108.699 jiwa dengan total
kerugian (yang terlihat) sebesar Rp. 217.435.000.000,-. Ini merupakan kerugian
yang tampak, tentunya fenomena gunung es berlaku disini.
Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas dan menganalisis salah
satu kasus kecelakaan kerja untuk menemukan faktor penyebab terjadinya
kecelakaan dengan menggunakan metode Systematic Cause Analysis Technique
(SCAT).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalahnya adalah apa
yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja di Proyek Gedung Manhattan,
Jakarta.
1.3 Tujuan
1.3.1

Tujuan Umum
Secara umum, tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk
mengetahui penyebab kecelakaan kerja di Proyek Gedung Manhattan,
Jakarta

1.3.2

Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah:

1. Mengetahu kronologis kejadian kecelakaan kerja Proyek Gedung


Manhatten, Jakarta
2. Mengetahui penyebab langsung dari kecelakaan kerja Proyek Gedung
Manhatten, Jakarta
3. Mengetahu penyebab tidak langsung dari kecelakaan kerja Proyek Gedung
Manhatten, Jakarta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kecelakaan


Menurut Frank Bird, an accident is undesired event that result in physical
harm to a person or damage to property. It is usually the result of a contact with a
source of energy (kinetic, electrical, chemical, thermal, etc) (Soehatman, 2010)
Menurut Heinrich, Petersen dan Roos, 1980 Kecelakaan kerja atau
kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak
terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang atau
radiasi yang mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya. (Mayendra,
2009).
Kecelakaan adalah semua kejadian yang tidak direncanakan yang
menyebabkan atau berpotensial menyebabkan cidera, kesakitan, kerusakan, atau
kerugian lainnya. (Standar AS/NZS 4801:2001). Sementara itu, menurut OHSAS
18001:2007 Kecelakaan Kerja didefinisikan sebagai kejadian yang berhubungan
dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan cidera atau kesakitan (tergantung dari
keparahannya) kejadian kematian atau kejadian yang dapat menyebabkan
kematian. Pengertian ini digunakan juga untuk kejadian yang dapat menyebabkan
merusak lingkungan (Sumber : OHSAS 18001:2007).
Kecelakaan kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.3 adalah
suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang adapat
menimbulkan korban manusia dan atau harta benda.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa
kecelakaan akibat kerja adalah suatu peristiwa yang tidak terduga, tidak terencana
tidak dikehendaki dan menimbulkan kerugian baik jiwa maupun harta yang
disebabkan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan yaitu ketika
pulang dan pergi ke tempat kerja melalui rute yang biasa dilewati.

2.2 Investigasi Kecelakaan


Investigasi kecelakaan adalah suatu cara untuk mencari fakta-fakta yang
berkaitan dengan kecelakaan. Penyebab-penyebabnya dan mengembangkan
langkah-langkah untuk mengatasi serta upaya untuk mengendalikan resikonya.
Investigasi atau menyelidiki kecelakaan dilakukan guna mencari sebab-sebab
dasar dari suatu kecelakaan sehingga kecelakaan serupa tidak terulang kembali.
Investigasi biasanya dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap korban,
saksi-saksi serta rekonstruksi atau pengulangan kejadian guna mendapatkan datadata proses terjadinya kecelakaan, dimana data-data tersebut akan digunakan
sebagai bahan untuk menganalisa dalam mencari sebab dasar dari suatu
kecelakaan. (Permatasari, 2009)
Accident investigation adalah suatu rangkaian kegiatan yng dilakukan
untuk mencari penyebab utama terjadinya suatu kecelakaan dan menentukan
dengan tepat tindakan perbaikan yang dilakukan setelah ditemukan fakta
sebenarnya dari kecelakaan yang terjadi dan penyebab kecelakaan tersebut.
Berdasarkan definisi kecelakaan yang ada accident investigators harus melihat
secara cermat rangkaian peristiwa yang terjadi dan faktor apa saja yang terlibat
saat terjadinya kecelakaan (Covan dalam Permatasari, 2009)
OHSAS 18001 mensyaratkan diadakannya penyelidikan setiap insiden
yang terjadi dalam organisasi. Insiden adalah semua kejadian yang menimbulkan
atau dapat menimbulkan kerugian baik materi, kerusakan atau cedera pada
manusia. Insiden meliputi kecelakaan, kebakaran, penyakit akibat kerja,
kerusakan dan hampir celaka (nearmiss).

2.3 Metode SCAT


SCAT adalah suatu tool yang digunakan untuk mengevaluasi dan
menginvestigasi

incident

dengan

menggunakan

SCAT

chart.

SCAT

dikembangkan dari ILCI (International Loss Control Institute) Loss caution


Model
Dalam salah satu literature review dikatakan bahwa The Systematic
Cause Analysis Technique (SCAT) is a method which has been developed by the
4

International Loss Control Institute (ILCI), which can be used to determine the
root causes of an incident once a description of the sequence of events has been
determined. A paper describing SCAT by Bird and Germain (1985) is reproduced
in a manual by ILCI (1989). (Health Safety Executive, United Kingdom, 2001 )
Ada 5 block dalam SCAT chart, dan model setiap block hampir sama
dengan ILCI Loss Caution Model. Berikut ILCI Loss Causation Mode dan
Framework SCAT Method.

ILCI Loss Causation Mode

Metode SCAT, meliputi:


1. Pada blok pertama diisi tentang diskripsi dari incident
2. Blok yang kedua diisi tentang berbagai hal yang dapat memicu timbulnya
kecelakaan
3. Blok ketuga berisikan tentang immediate cause.
4. Blok yang kempat berisikan basic cause
5. Blok yang kelima berisikan tentang tindakan yang dapat dilakukan untuk
mensukseskan loss control program.
2.4 Studi Kasus Kecelakaan Kerja
Polisi Simpulkan Insiden Manhattan Square Murni Kecelakaan
(Vivanews.com) Polisi meyakini pimpinan proyek telah menerapkan
SOP.

VIVAnews - Polisi menyimpulkan insiden maut di Gedung The Manhattan


Square, Jalan TB Simatupang Kavling 1S, Pasar Minggu, Jakarta Selatan,
murni kecelakaan. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan
Ajun Komisaris Besar Hermawan, mengatakan itu berdasarkan hasil
pemeriksaan terhadap pimpinan proyek Manhattan Square. Polisi meyakini
pimpro telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP).

"Jadi sebelum melaksanakan tindakan mereka dikumpulkan dulu, diarahkan


sesuai SOP seperti menyediakan blower, pengamanan dua di atas, dua di
bawah," kata Hermawan, Senin 18 Februari 2013.
Menurut Hermawan, setiap lubang sudah sediakan blower. Tapi ternyata kadar
racun CO2 lebih besar dari perhitungan. Dia menjelaskan lubang sedalam
enam meter tempat lima korban tewas keracunan itu bukanlah septic tank. Itu
adalah tempat drainase air. "Air limbah, misalnya kecing, sabun, air
kotoranlah," ucap dia. Karena belum digunakan maka bisa jadi mengandung
racun. Dia menduga racun diakibatkan bahan kimia bercampur semen dan
bahan lain yang mempengaruhi ruangan itu.
6

Saat ini hasil labaratorium belum keluar. "Kami belum bisa memastikan kadar
terkandung apa saja. Yang jelas dari labfor sudah ambil sampel udara, air,
genangan air, darah korban dan bagian tubuh seperti paru-paru," kata
Hermawan. Hingga saat ini polisi sudah memeriksa tujuh saksi, yaitu tiga
orang dari Waskita, satu pimpinan pekerja, dan tiga orang pekerja. "Kalau
pemilik kan tidak terkait pekerjaan itu," ucapnya. (adi)

Identitas 5 Korban Tewas di Kecelakaan Kerja Proyek Gedung


Manhattan (Detik.com)

Jakarta - Lima orang korban tewas akibat kecelakaan kerja di proyek gedung
Manhattan, Jakarta Selatan. Jenazah mereka kini disemayamkan di RS Marinir
Cilandak. Ini identitas mereka. Data yang dihimpun dari kepolisian, Selasa
(12/2/2013), lima orang korban itu terdiri Cecep Cahyana (29), Joko, Jimjim, M
Saiku, dan Ahmad Syamsudin. Ada dua lagi korban kritis, Sutaryo Al Khaerudin
dan Wahyudi.

Korban kritis dilarikan ke RS Mintoharjo. Sementara korban tewas di RS Marinir


Cilandak, lalu nanti akan dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo untuk diautopsi.
"Kemungkinan penyebab terjadinya laka masih dalam proses penyelidikan," kata
Kapolres Jaksel Kombes Pol Wahyu Hadiningrat, di lokasi kejadian, Jl TB
Simatupang kavling 1, Jaksel. Pukul 15.30 WIB, polisi sudah meninggalkan
lokasi. Aktivitas proyek masih berjalan seperti biasa.

Begini Kronologi Kecelakaan Kerja di Manhattan Square (Tribunnews.com)


Tribunnews.com - Rabu, 13 Februari 2013 15:42 WIB

Lima pekerja meninggal dunia saat bekerja di dalam bakal septic tank, di
basemene II proyek pembangunan Gedung The Manhattan Square, Jalan TB
Simatupang, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2013) sekitar pukul
11.00 WIB.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Kronologi kecelakaan kerja di Gedung


Manhattan Square, Jalan TB Simatupang, Kav 1S, Pasar Minggu, Jakarta Selatan,
Selasa (12/2/2013), sempat simpang siur. Kecelakaan itu menewaskan lima orang,
dan dua lagi kritis. Menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP
Hermawan, kecelakaan berawal dari pekerjaan membuat lubang untuk
pembuangan air kotor.
8

"Ada pengerjaan empat lubang, tiga lubang sudah selesai, tinggal finishing. Saat
lubang keempat hendak di-finishing. yakni mencopot kerangka besi dan papan
bekas cor untuk dicat, sesuai SOP ada dua pekerja di dalam, dan dua pekerja di
atas," jelas Hermawan di Mapolda Metro Jaya, Rabu (13/2/2013). Tiba-tiba,
lanjutnya, dari dalam lubang, kedua pekerja meminta tolong, sehingga dua pekerja
di atas turun ke lubang untuk menolong dua rekannya. Lantas, dua pekerja yang
menolong juga berteriak minta tolong lagi, karena tidak bisa bernapas, dan
kembali dibantu oleh pekerja finishing di lubang lain.

"Jadi, total sudah ada enam yang masuk ke lubang. Lalu, yang di dalam minta
tolong lagi, dan dibantu oleh satu orang K3 yang ikut bantu. Jadi, ada tujuh orang
pingsan," tutur Hermawan. Setelah itu, baru lah petugas dari PT Waskita turut
membantu menolong menggunakan masker oksigen serta blower, dan berhasil
mengevakuasi tiga orang.

Petugas dari PT Waskita yang menolong mengaku lemas. Ia digantikan petugas


lain dan mengevakuasi empat pekerja lainnya. Hermawan mengungkapkan, yang
berhasil dievakuasi ada tujuh orang. Lima orang meninggal dunia, dan dua orang
pekerja lainnya kritis. Saat ini, dua pekerja yang kritis sudah siuman dan sadar.

"Kami sudah lakukan olah TKP, ambil sampel air, darah, dan udara dari korban
dan sampel dibawa oleh Labfor Mabes. Dari hasil otopsi sementara, korban
meninggal karena lemas kelebihan C02 beracun dari lubang sedalam enam, lebar
tiga meter, dan panjang lima meter," papar Hermawan. (*)

Ini Dia Kronologi Kecelakaan Kerja di Manhattan Square Versi Polisi


(Indonesiaraya.com)
Wednesday, February 13, 2013 - 16:28

@IRNewscom | Jakarta: KAPOLRES Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu


Hadiningrat membeberkan kronologi tewasnya lima pekerja di proyek
pembangunan The Manhattan Square di Jalan TB Simatupang Kavling I.S
Cilandak

Timur,

Jakarta

Selatan,

Selasa

(12/02)

kemarin.

Menurut Wahyu, berdasarkan hasil pemeriksaan empat orang saksi, Agus, Irfan,
Rian dan H. Marmo, sebelum terjadinya insiden, ada dua orang pekerja sedang
membongkar kayu penyanggah septictank.

"Mekanismenya dua orang berjaga di atas, sedangkan yang di bawah septictank


itu Joko dan Ahmad Syamsudin. Karena lemas, mereka berteriak minta tolong dan
dibantu M. Saiku. Kemudian M. Saiku Juga minta tolong lalu dibantu Jimjim,"
kata Wahyu, Rabu (13/02) di Mapolres Metro Jakarta Selatan. Wahyu
menjelaskan, di basement lantai 2 Tempat Kejadian Perkara (TKP) memang
terdapat beberapa lubang penampungan atau septictank yang tertutup. Di lubang
10

lain yang sedang dalam tahap finishing, pekerja bernama Cecep Cahyana
mendengar teriakan lalu berupaya membantu keempat rekannya itu. Dibantu
pekerja lainnya Agus dan petugas K3 bernama Sunaryo. "Agus menunggu di atas,
sementara Sunaryo bersama pekerja lainnya bernama Masudi. Setelah itu, datang
lagi dua orang petugas K3 yang turun dengan tabung oksigen dan menolong
korban secara bertahap," papar Wahyu.

Berdasarkan keterangan laboratorium forensik, kata Wahyu, secara detail belum


bisa disampaikan penyebab dari kematian korban. Namun dari uji sampel
genangan air, udara dan gas yang diambil di TKP, penyebab kematian korban
karena gas beracun di dalam septictank. Jenis dari gas tersebut sendiri masih
belum bisa disampaikan karena sedang dalam proses.

"Kelima korban yang tewas dalam insiden itu masing-masing bernama Cecep
Cahyana, Joko, Jimjim, M. Saiku, dan Ahmad Samsudin. Jasad mereka saat ini
sedang diotopsi dan diambil sampel darah di RSCM. Sedangkan dua korban
selamat yang bernama Masudi dan Sutaryo sudah siuman dari pingsan dan masih
dirawat intensif di RS Mintohardjo," terangnya.

Perlu diketahui sebelumnya, Selasa (12/02) sekitar 10.00 WIB, lima orang pekerja
tewas dalam kecelakaan kerja di dalam lubang septictank lantai 2 basement
proyek pembangunan The Manhattan Square di Jalan TB Simatupang Kav I.S
Cilandak Timur, Jakarta Selatan.

Kelima korban tewas akibat terpelosok ke dalam lubang septicktank sedalam


enam meter dengan luas 5X3 meter. Dua rekan korban yang berusaha membantu
nyaris tewas dan mengalami kondisi kritis. Lima korban tewas dilarikan ke RS
Marinir Cilandak, sedangkan dua korban selamat dirawat di RS Mintohardjo.
[dry-15]

11

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kronologis Kecelakaan


Berdasarkan informasi dari berbagai sumber berita, pada Selasa, 12
Februari 2013 sekitar pukul 10.00 WIB beberapa pekerja bertugas membuat
empat lubang untuk pembuangan limbah pada Basemene Lantai II Proyek The
Manhattan Square di Jalan TB Simatupang, Kavling IS, Cilandak Timur, Jakarta
Selatan. Dalam satu lubang terdapat empat petugas yang mengerjakan tugas
tersebut yaitu dua orang petugas utama (berada dibawah) dan petugas madya
(berada diatas). Beberapa saat, pembuatan lubang tersebut hampir selesai, tinggal
finishing yaitu mencopot kerangka besi dan papan bekas cor untuk dicat.
Pada lubang keempat sesuai Standar Operasional Prosedur terdapat dua
pekerja yang berada di atas dan dua pekerja yang berada dibawah. Namun
beberapa saar kemudian, dari lubang tersebut terdengar dua pekerja (pekerja 1 dan
2) yang berada di dalam lubang meminta tolong. Sehingga dua pekerja yang ada
di atas (pekerja 3 dan 4) turun ke lubang untuk menolong kedua pekerja yang ada
di dalam lubang.
Kemudian dua pekerja yang menolong pun ikut meminta tolong karena
kesulitan bernafas. Seorang pekerja (pekerja 5) pada lubang lain mendengar
teriakan tersebut,lalu berusaha membantu keempat rekannya tersebut. Pekerja
tersebut dibantu oleh seorang pekerja lainnya (pekerja 6) dan satu petugas K3.
Petugas K3, pekerja 5 dan dibantu satu pekerja lain (pekerja 7) turun ke
bawah, sedangkan petugas 6 tetap berjaga di atas. Kemudian mereka meminta
tolong lagi dan pingsan. Sehingga barulah dua orang petugas dari PT. Waskita
turut membantu menolong menggunakan masker oksigen dan blower. Mereka
berhasil mengevakuasi tiga orang. Petugas dari PT Waskita yang menolong
mengaku lemas. Kemudian mereka digantikan petugas lain dan mengevakuasi
empat pekerja lainnya. Korban yang berhasil dievakuasi ada tujuh orang. Lima
orang meninggal dunia, dan dua orang pekerja lainnya kritis.
12

Tabel Gambaran Peristiwa


Waktu Kejadian

Selasa, 12 Februari 2013, Pukul 10.00 WIB

Lokasi Kejadian

Basemene Lantai II Proyek The Manhattan Square di


Jalan TB Simatupang, Kavling IS, Cilandak Timur,
Jakarta Selatan

Peralatan yang
digunakan
Kondisi Lingkungan

Confined Space
Cecep Cahyana (29), Joko, Jimjim, M. Saiku, Ahmad

Data Korban

Samsudin (Korban Jiwa)


Masudi, Sunaryo (Korban Kritis)
Agus, Irfan,Rian dan H. Marno

Saksi
Akibat Kejadian

Korban meninggal sebanyak 5 orang dan korban kritis


2 orang.

3.2 Analisis Penyebab Kecelakaan (Metode SCAT)


Berdasarkan data yang didapat maka dapat dilakukan analisis penyebab
kecelakaan dengan menggunakan Metode SCAT. Berikut skema kejadian dengan
metode SCAT.
Description of
Incident
Keracunan
gas/defisiensi
oksigen

Categories of
Contact that
could have led
to the incident
Kontak dengan
gas beracun

Immediate Cause

Basic Cause

Substandard Act
Failure to secure
Failure to use PPE
Properly

Personal
factors
Poor of
Knowladge
Lack of
coaching

Substandar
Condition
Hazardous
Envvironmental
Condition
Unproperly PPE

13

Job factor
Lack of
supervisory
Lack of risk
Identification

Activities for a
successful loss
control
program
Gas Detector
Properly and
adequate
Blower
Harness

Skema diatas merupakan gambaran mengenai analisis kasus kecelakaan


yang terjadi di Proyek Manhatten Square. Diprediksi bahwa kasus kecelakaan
kerja ini merupakan jenis kasus keracunan gas. Beberapa gejala menunjukkan
adanya indikasi terjadinya keracunan gas yaitu pekerja mengalami lemas pada
badan, susah bernafas hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Selain itu dugaan ini
diperkuat dengan karaakteristik dari kondisi lingkungan kerja yaitu berupa
Confined Space. Salah satu risiko terbesar dalam tempat kerja Confined Space
adalah keracunan gas.
Pada kotak kedua terdapat Blok yang berisi tentang berbagai hal yang
dapat memicu timbulnya kecelakaan.Pada kasus ini kontak dengan gas beracun
merupakan hal yang pasti terjadi. Dari kondisi ini dapat dijabarkan beberapa fakta.
Diantaranya terjadinya release gas yang berbahaya sehingga mengakibatkan
kesulitas pekerja dalam bernafas, pekerja tidak dilengkapi dengan Gas Detektor
dan kemampuan menggunakannya, identifikasi yang dilakukan tidak sesuai, dan
lainnya.
Pada kotak ketiga terdapat immediate cause (penyebab langsung) dari
kecelakaan. Terdapat dua kategori penilaian yaitu Substandard Act dan
Substandar Condition. Pada Substandad Act kasus ini,setidaknya terdapat dua
poin utama dari poin diagram SCAT yang kita tuliskan yaitu Kegagalan dalam
mengamankan kondisi kerja dan pekerja itu sendiri serta Kegagalan pekerja dalam
menggunakan APD. Failure to secure dalam hal ini korban tidak terlindungi dari
risiko keterpaparan gas berbahaya. Failure to use PPE Properly artinya korban
tidak menggunakan APD dengan benar. Dalam berita tidak disebutkan apakah
pekerja menggunakan APD berupa alat bantu pernapasan atau tidak, hanya
disebutkan bahwa pihak proyek telah menyedian satu blower untuk setiap lubang.
Pada kotak keempat terdapat Basic Cause (Penyebab dasar) yaitu berisi
Personal Factor dan Job Factor. Personal Factor diantaranya adalah Poor of
Knowladge dan Lack of coaching. Poor of Knowladge artinya pekerja dan petugas
14

HSE belum memiliki pengetahuan yang cukup dalam menjalankan tugas di


kondisi kerja Confined Space. Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan
Pengawasan

Ketenagakerjaan

No.Kep/113/DJPPK/IX/2006

sudah

diatur

mengenai siapa saja yang dibolehkan untuk bekerja di ruang terbatas (Confined
Space) bahkan ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi untuk bekerja di
Confined space. Selain itu dalam berita tersebut disebutkan bahwa ada nsatu
Petugas K3 yang menjadi korban. Ini menunjukkan bahwa Sumber Daya Manusia
khususnya Petugas K3 tidak mengetahui standar pertolongan pertama dalam
sebuah kecelakan. Terkadang petugas K3 di Perusahaan tidak berlatar belakang
kompetensi yang sesuai sehingga kompetensi yang didapat hanya saat pelatihan
K3 Umum atau K3 spesialisasi yang kurang lebih kurang dari seminggu. Korban
yang harusnya bisa ditekan jumlahnya menjadi semakin banyak.
Job factor meliputi Lack of supervisory dan Lack of risk Identification.
Jelas bahwa ada kelalaian dalam menegakkan budaya K3 di lingkungan kerja.
Selain itu petugas K3 yang salah satu fungsinya adalah melakukan identifikasi
bahaya melakukan kelalaian dengan tidak mendeteksi keberadaan gas berbahaya
sehingga upaya pengendalian yang dilakukan tidak tepat.
Pada kotak yang kelima membahas tentang tindakan yang dapat dilakukan
untuk mensukseskan Loss Control Program. Beberapa rekomendasi yang
diberikan adalah melengkapi pekerja dengan Gas Detector, Blower yang sesuai
dan Harness. Namun selain itu, hal yang paling penting dilakukan adalah
revitalisasi K3 pada pekerja proyek tersebut dan membekali pekerja dengan
pengetahuan yang cukup mengenai K3 sehingga dapat meningkatkan tindakan
aman dalam bekerja. Baik pekerja maupun petugas K3/HSE harus memenuhi
kualifikasi dalam bekerja.

15

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kecelakaan kerja terjadi pada Selasa, 12 Februari 2013 sekitar pukul 10.00
WIB beberapa pekerja bertugas membuat empat lubang untuk pembuangan
limbah pada Basemene Lantai II Proyek The Manhattan Square di Jalan TB
Simatupang, Kavling IS, Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Kecelakaan kerja
berupa keracunan gas dimana terdapat 7 koran, 5 pekerja meninggal dan 2 pekerja
kritis. Basic cause nya adalah lack of suvervisory, lack of risk identification, lack
of coaching dan poor of knowledge. Immediate cause nya adalah Failure to
secure, Failure to use PPE Properly, Hazardous Envvironmental Condition, dan
Unproperly PPE.
4.2 Saran
Dalam kecelakaan ini kesalahan tersebar merata dan sistemik. Tidak hanya
kondisi lingkungan tetapi pengawasan dan implementasi K3 pun terlihat kurang
memadai. Seharusnya pihak perusahaan dan proyek pengerjaan Gedung The
Manhatten Square harus memperhatikan hal ini dan membenahi pelaksanaan K3
dalam proyek tersebut. Mulai dari memenuhi syarat administrative, artinya
menempatkan orang yang tetap dan qualified dalam bidangnya. Kemudian
perusahaan harus memenuhi standar perlindungan terhadap kondisi kerja yang
memang sudah diketahui sebelumnya dengan cara mengidentifikasi secara akurat
hazard dan melakukan upaya yang tepat.

16