You are on page 1of 26

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama

: Ny.L

Jenis kelamin :

Perempuan

Tanggal Lahir :

31/12/1931

Umur

: 85

tahun

Alamat

Lempobatu Desa Kanna

Agama

Kristen

Tanggal MRS :

15/02/2015

No.RM

014610

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri pada panggul kiri.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien rujukan dari RS Lintang Laut datang ke RS Hikmah diantar oleh
keluarganya dengan keluhan nyeri di panggul kiri yang dialami sejak 3
minggu yang lalu akibat tergelincir dan terjatuh di kamar mandi. Pasien
mengeluh nyeri bertambah parah bila paha kiri digerakkan. Nyeri juga
bertambah parah bila pasien berjalan. Nyeri dirasakan hilang timbul di dalam
paha kiri. Tidak terdapat luka terbuka pada daerah panggul dan pangkal paha

kiri. Pasien tidak mengalami benturan pada kepala dan bagian tubuh lain.
BAB dan BAK lancar. Riwayat demam tidak ada. Riwayat diurut 4 kali ada.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat trauma (-)
Riwayat DM (+)
Riwayat HT (-)
Riwayat Penyakit Keluarga: (-)
Riwayat Penggunaan Obat:
Riwayat Alergi Obat: (-)
Riwayat Konsumsi obat Diabetes (+)
C. PEMERIKSAAN FISIK
o

Keadaan Umum
Sakit sedang/Gizi Cukup/Compos mentis/GCS 15 (E4M6V5)
o Status Vitalis
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 84x/menit

Pernafasan

: 24x/menit

Suhu

: 36.4oC (Axilla)

o Status Generalis
o Kepala
Konjungtiva

: Tidak tampak anemis

Sklera

: Tidak tampak ikterus

Mata

: pupil, isokor, 2,5mm/2,5mm, RC +/+

Bibir

: kering

o Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, trakea di

tengah

o Thorax
Inspeksi

: Simetris kanan=kiri, tidak ada retraksi intercostal, ictus


cordis tidak tampak

Auskultasi : Bunyi pernapasan bronkovesikuler kanan=kiri, Bunyi


tambahan: ronkhi -/- Wheezing -/-. Bunyi jantung S1/S2
reguler, murmur tidak ada
Palpasi

: nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba, vocal


fremitus raba kanan=kiri, ictus cordis tidak teraba.

Perkusi

: sonor kanan=kiri. Batas jantung dalam batas normal.

o Abdomen
Inspeksi : datar, ikut gerak napas
Auskultasi : peristaltik (+) kesan normal
Palpasi
: Massa tumor : tidak teraba
Hati
: tidak teraba
Limpa
: tidak teraba
Ginjal
: tidak teraba
Perkusi : Tympani (+), asites (-)
o Alat Kelamin
: dalam batas normal
o Anus dan rektum : tidak dilakukan pemeriksaan
o Punggung
o Inspeksi
: Gerakan normal, tidak ada edema dan
hematom, tidak tampak massa tumor
o Auskultasi
: BP : vesikuler
BT : Ronkhi-/-, Wheezing-/o Palpasi
: nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak
teraba
o Perkusi
: Nyeri ketok tidak ada
o Ekstremitas
: Akral hangat, CRT<2 detik, edema (-)
3

o Status Lokalis (Regio femoralis sinistra)


o Look: deformitas (+), functio laesa (+), panjang kiri < kanan,
hematoma (-), edema (-)
o Feel: nyeri tekan (+)
o Movement: krepitus (+), nyeri gerak (+), Range of Motion berkurang
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
WBC
RBC
HGB
HCT
PLT
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT
GDS

Hasil
10.4 H
2.84 L
9.9 L
26.6 L
210
53.0 H
3.14 H
5
10
163 H

Nilai Normal
3.5-10.0 103/mm3
3.80-5.80 106/mm3
11.0-16.5 g/dl
35.0-50.0 %
150-390 103/mm3
10-50 mg/dl
0.5-0.9 mg/dl
< 31 U/L
<32 U/L
70-120 mg/dl

Pemeriksaan 2D-ECHO: Degenerative valve disease

Pemeriksaan radiologi
Foto Pelvis AP

Kesan: Fraktur Collum Femoris (Basocervical) Sinistra dengan


gambaran Osteoporosis Senilis

E. Gambaran klinis

Pre operasi

F. RESUME
Pasien rujukan dari RS Lintang Laut datang ke RS Hikmah diantar oleh
keluarganya dengan keluhan nyeri di panggul kiri yang dialami sejak 3 minggu yang
lalu akibat tergelincir dan terjatuh di kamar mandi. Pasien mengeluh nyeri bertambah
parah bila paha kiri digerakkan. Nyeri juga bertambah parah bila pasien berjalan.
Nyeri dirasakan hilang timbul di dalam paha kiri. Tidak terdapat luka terbuka pada
daerah panggul dan pangkal paha kiri. Pasien tidak mengalami benturan pada kepala
dan bagian tubuh lain. BAB dan BAK lancar. Riwayat demam tidak ada. Riwayat
diurut 4 kali ada.
Dari pemeriksaan fisik didapati pasien sakit sedang, gizi cukup dan compos
mentis. Status lokalis regio panggul sinistra didapati deformitas (+), function laesa
(+), panjang kiri < kanan, nyeri tekan (+), krepitus (+), nyeri gerak (+), dan Range of
Motion berkurang. Pada pemeriksaan laboratorium didapati WBC meningkat, RBC,
hemoglobin, hematocrit menurun, ureum dan kreatinin meningkat, GDS meningkat.
Foto polos pelvis AP dan femur sinistra memberi kesan Fraktur Collum Femoris
(Basocervical) Sinistra dengan gambaran Osteoporosis Senilis.
6

G. DIAGNOSIS
Fraktur collum femoris sinistra

H. PENATALAKSANAAN
Planing Terapi
a. Konservatif

: Pemasangan Traksi

b. Operatif

: Bipolar Hemiarthroplasty

Planing Edukasi
Fisioterapi : latihan fisik
Planing Monitoring
a. Awasi sindroma kompartemen: monitoring KU, Kesadaran, TTV
b. Awasi terjadi syok
c. Awasi terjadi pendarahan
I. PROGNOSA
Dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Tulang

Secara umum, tulang dibagi menjadi 4 bagian yaitu epifisis, lempeng


pertumbuhan, metafisis, dan diafisis. Masing-masing bagian tersebut memiliki
karakteristik yang menentukan kelainan apa yang sering pada daerah tersebut.
Epifisis adalah bagian tulang yang terletak di dalam artikulasi. Lempeng
pertumbuhan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan tulang yang hilang pada usia + 15
tahun, cidera pada bagian ini pada masa kanak-kanak dapat menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan tulang. Metafisis adalah daerah yang kaya akan
pembuluh darah (end artery) sehingga rawan terjadi infeksi. Diafisis adalah bagian
tengah dari sebuah tulang panjang yang tersusun dari tulang kortikal yang biasanya
berisi sumsum tulang dan jaringan adiposa1.
B. Definisi fraktur
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya yang biasanya disebabkan oleh rudapaksa
atau tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang 4.
Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami fraktur,
kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah harus
diketahui terlebih dahulu. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan
kompresi dan tekanan memuntir (shearing)2.
C. Proses terjadinya fraktur:
Fraktur dapat diakibatkan:
a. Injury (trauma)
b. Stres berulang
c. Kelemahan abnormal dari tulang (fraktur patologis)

Penyebab tersering adalah akibat dari trauma; trauma bisa bersifat:


a. Trauma langsung
Menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah
tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut
mengalami kerusakan.

b.

Trauma tidak langsung


Trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. Pada keadaan
ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Trauma dapat berupa tekanan berputar,
tarikan, membengkok, dan kompresi.

D. Klasifikasi fraktur (secara klinis)


a. Fraktur tertutup (simple fracture)

Suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar

b. Fraktur terbuka (compound fracture)

Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui kulit


dan jaringan lunak, dapat berbentuk dari dalam atau dari luar

c. Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)

Fraktur yang disertai dengan komplikasi misalnya malunion, delayed


union, nonunion, infeksi tulang

E. Diagnosa (Pemeriksaan Klinis)


Anamnesa

Biasanya ada riwayat cedera, diikuti oleh ketidakmampuan menggunakan


anggota tubuh yang cedera - tapi hati-hati fraktur tidak selalu terjadi di lokasi
cedera.
9

Usia pasien dan mekanisme cedera penting diketahui. Jika fraktur terjadi
dengan trauma sepele, curigai lesi patologis.

Nyeri, memar dan pembengkakan adalah gejala umum tetapi mereka tidak
membedakan fraktur dengan cedera jaringan lunak. Deformitas (Deformity)
jauh lebih sugestif.

Selalu tanyakan tentang gejala terkait cedera:

Rasa sakit dan bengkak di tempat lain (seringkali terjadi kesalahan


karena terlalu fokus pada cedera utama, apalagi jika cedera parah),
mati rasa atau kehilangan gerakan, pucat atau sianosis, darah dalam
urin, nyeri perut, kesulitan bernapas atau kehilangan kesadaran
sementara.

Setelah keadaan darurat yang akut telah ditangani, tanyakan tentang cedera
sebelumnya, atau kelainan muskuloskeletal lainnya yang mungkin
menyebabkan kebingungan ketika terlihat pada X-ray.

Riwayat medis sangat penting, untuk persiapan anestesi atau operasi.

F. Pemeriksaan Fisik
General Signs

Sampai jelas riwayat bahwa pasien mengalami cedera lokal dan cukup
sederhana, prioritas yang harus diberikan adalah yang berkaitan dengan efek
umum akibat trauma.

Ikuti ABC: mencari, dan jika perlu tangani, Airway obstruction, Breathing
problems, Circulation problems dan Cervical spine injury.

Selama survei sekunder juga akan diperlukan untuk memeriksa kembali


cedera lainnya yang mungkin dialami tetapi tidak ditemukan sebelumnya dan
untuk mengetahui kemungkinan predisposisi yang ada pada pasien (seperti
penyakit Paget atau mungkin suatu metastasis).
10

Local Signs

Jaringan yang terluka harus ditangani dengan hati-hati.

Untuk memperoleh krepitus (crepitus) atau gerakan abnormal (false


movement) tidak perlu menyakiti pasien, diagnosis sinar-X lebih dapat
diandalkan. Namun demikian pemeriksaan klinis harus selalu
dipertimbangkan, atau kerusakan pada arteri, saraf dan ligamen mungkin
dapat terlewati.

Suatu pendekatan sistematis selalu membantu:

Periksa bagian yang paling jelas terluka.

Pengujian kerusakan arteri dan saraf.

Carilah cedera yang berhubungan di wilayah (region) tersebut.

Carilah cedera yang berhubungan di bagian yang jauh.

LOOK

Bengkak, memar dan deformitas mungkin jelas terlihat, tetapi yang penting
adalah apakah kulit masih utuh, jika kulit rusak dan luka berkomunikasi
dengan fraktur, cederanya 'terbuka' ('compound').

Perhatikan juga postur ekstremitas distal dan warna kulit (Untuk mengetahui
kerusakan saraf atau pembuluh darah).

FEEL

Bagian yang cedera diraba secara gentle untuk nyeri lokal.

Seringkali fraktur terlewat ditemukan jika tidak dicari secara teliti, misalnya
tanda klasik (memang satu-satunya tanda klinis!) dari fraktur scapoid adalah
nyeri tekanan tepat pada daerah sesuai anatomisnya.
11

Luka harus diperiksa, walaupun pasien tidak ada keluhan.

Kelainan saraf perifer dan pembuluh darah harus diuji sebelum dan setelah
pengobatan.

MOVE

Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan

Lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakkan sendi


distal yang cedera.

Tanda-tanda fraktur
a. Krepitasi
b. Deformitas
c. False movement

G. Bone Healing
Pemulihan bisa terjadi walaupun tidak dipasang splint, karena pembentukan callus terjadi
sebagai respon dari gerakan.

a. Pemulihan oleh callus


Merupakan bentuk pemulihan alami dari tulang; tanpa adanya fiksasi yang rigid, melalui 5
tahap:
1. Destruksi jaringan dan pembentukan hematoma
-Pembuluh darah robek dan membentuk hematoma di sekitarnya dan di
dalam fraktur.

12

-Tulang pada permukaan fraktur, kekurangan suplai darah, jaringannya mati


satu hingga dua milimeter.
2. Inflamasi dan proliferasi dari sel
-Dalam 8 jam dari fraktur, terjadi reaksi inflamasi akut dengan migrasi selsel inflamasi dan inisiasi dari proliferasi dan diferensiasi stem cell mesenkim
dari periosteum, masuk ke kanalis medularis dan muskulus di sekelilingnya.
-Ujung fragmen dikelilingi jaringan dan sel-sel, membentuk suatu kerangka
yang berseberangan pada lokasi fraktur.
-Mediator-mediator inflamasi juga terlibat dalam proses ini (sitokin dan
berbagai growth factor).
-Hematoma yang membeku pelan-pelan diserap dan kapiler-kaplier baru
yang baik tumbuh di area tersebut.
3.Pembentukan callus
-Stem cell berdiferensiasi menjadi sel kondrogenik dan osteogenik; pada
kondisi yang tepat biasanya berhubungan dengan biologis lokal dan
lingkungan biomekanik akan mulai membentuk tulang dan, pada beberapa
kasus, kartilago juga.
-Populasi sel-sel sekarang terdiri dari osteoklas (mungkin derivat dari
pembuluh darah baru), yang akan mulai membersihkan tulang yang mati.
-Massa sel yang tebal, pada tulang yang imatur dan kartilago, membentuk
callus atau splint pada permukaan periosteal dan endosteal.
-Sebagaimana serat-serat tulang imatur (woven bone) termineralisasi
semakin padat, pergerakan pada lokasi fraktur menurun secara progresif dan
sekitar 4 minggu setelah injury fraktur menyambung (unite).
4. Konsolidasi

13

-Dengan berlanjutnya aktivitas osteoklastik dan osteoblastik, woven bone


berubah menjadi tulang lamellar, menjadi cukup rigid, membuat osteoklas
dapat masuk melalui debris dari garis fraktur, dan berada di dekatnya.
-Osteoblas mengisi gap-gap di antara fragmen dengan tulang baru.
-Proses ini berjalan lambat dan memerlukan hingga beberapa bulan sampai
tulang cukup kuat untuk menanggung beban normal.
5.Remodelling
-Fraktur telah dijembatani oleh suatu belenggu daripada tulang padat.
-Setelah beberapa bulan, atau bahkan bertahun-tahun, proses yang terjadi
secara kasar tersebut dibentuk kembali oleh suatu proses berkelanjutan dari
resorpsi dan pembentukan tulang berulang-ulang.
-Lamellae menjadi lebih tebal, stres menjadi tinggi, materi yang tidak
diinginkan diperbaiki dan medullary cavity dibentuk kembali.
-Akhirnya, khususnya pada anak-anak, tulang kembali seperti bentuk
normalnya.

Gambar 1. Bone Healing


b. Istilah-istilah penting yang berkaitan dengan proses bone healing

14

Union

Perbaikan yang inkomplit, callus terkalsifikasi.

Secara klinis, lokasi fraktur sedikit nyeri dan, melalui


penggerakan tulang, angulasi yang dilakukan terasa nyeri
sekali.

X-ray menunjukkan garis fraktur masih dapat terlihat jelas,


dengan callus seperti kapas di sekitarnya.

Perbaikan masih inkomplit, dan belum aman untuk


memberikan stres pada tulang tanpa perlindungan.

Konsolidasi

Perbaikan komplit; callus terkalsifikasi menjadi terosifikasi.

Secara klinis, lokasi fraktur tidak terasa nyeri, tidak ada


gerakan yang didapatkan dan angulasi yang dilakukan tidak
terasa nyeri.

X-ray menunjukkan garis fraktur yang hampir hilang dan


dilewati trabekula tulang, dengan callus berbatas jelas di
sekitarnya.

Perbaikan sudah komplit dan proteksi lebih jauh tidak


dibutuhkan.

Timetable

Berapa lama suatu fraktur membutuhkan waktu untuk


menyatu dan konsolidasi? Tidak ada jawaban waktu yang
pasti karena umur, konstitusi, suplai darah, tipe fraktur dan
fraktur lainnya mempengaruhi waktu yang dibutuhkan.

15

Perkiraan prediksi mungkin dilakukan dengan Perkins


timetable secara sederhana.

Spiral fraktur pada upper limb menyatu dalam 3 minggu,


untuk konsolidasi waktu dikalikan 2; untuk lower limb
dikalikan 2 lagi; untuk fraktur transverse dikalikan 2 lagi.
25% bila frakturnya bukan spiral dan bila femur yang
terlibat.

Fraktur pada anak-anak lebih cepat menyatu. (Ini hanya


perkiraan kasar saja)

Non-Union

Terkadang proses normal perbaikan tulang tidak sesuai dan


gagal menyatu, penyebabnya:
(1) distraksi dan separasi dari fragmen
(2) gerakan berlebihan pada garis fraktur
(3) injury parah, jaringan sekitarnya non-viable
(4) suplai darah lokal buruk
(5) infeksi.

Tentu saja intervensi bedah yang tidak tepat, juga penyebabnya.


H. Anatomi (Collum Femur)3,4

Epiphysis femoralis atas menutup pada usia 16 tahun.

Sudut collum - corpus : 130 7 derajat

Femoral anteversion : pengontrol sebesar 10 7 derajat

16

Ada periosteum minimal di sekitar collum femur, dengan demikian, setiap callus
yang terbentuk dibentuk oleh proliferasi endosteal.

Calcar femorale:

Suatu plat berorientasi secara vertikal dari bagian posteromedial dari corpus
femur yang menyebar superior menuju ke trochanter major

Gambar 2. Calcar Femorale

Kapsul melekat anterior garis intertrochanteric dan posterior 1 sampai 1,5 cm


proksimal ke garis intertrochanteric.

17

Gambar 3. Anatomi Femur

Tiga ligamen melekat di daerah ini:


1. Iliofemoral : Y - ligamen Bigelow (anterior)
2. Pubofemoral : anterior
3. Ischiofemoral : posterior

Gambar 4. Ligamen panggul

Vaskularisasi:
1. Basis collum femur: Sebuah cincin ekstrakapsular dibentuk anterior oleh
cabang ascending dari arteri sirkumfleksa femoralis lateralis dan posterior oleh arteri
sirkumfleksa femoralis medialis.

18

2. Cabang-cabang cervical ascending dari cincin ini menembus kapsul


pinggul dekat insersi distal, menjadi arteri retinacular mengalir sepanjang leher
femoralis. Terbanyak suplai ke caput femur di posterosuperior.
3. Sebuah cincin arteri intrakapsular subsynovial dibentuk oleh arteri
retinacular di basis caput femur. Ketika memasuki caput femur, bersatu untuk
membentuk arteri epifisis lateralis.
4. Arteri epifisis lateralis yang muncul dari cabang-cabang cervical
ascending posterosuperior mensuplai sebagian besar caput femur.
5. Arteri dari ligamentum teres, biasanya suatu cabang dari arteri obturator,
memberi kontribusi tambahan kecil untuk caput femur dan terbatas pada daerah
sekitar capitis fovea.

Gambar 5. Vaskularisasi Femur


19

I.Fraktur Collum Femur


Fraktur collum femoris dibagi atas intra- (rusaknya suplai darah ke head femur) dan
extra- (suplai darah intak) capsular. Diklasifikasikan berdasarkan anatominya.
Intracapsular dibagi kedalam subcapital, transcervical dan basicervical. Extracapsular
tergantung dari fraktur per trochanteric.

Gambar 6. Klasifikasi fraktur collum femoris


Mekanisme Injury
Fraktur collum femoris disebabkan oleh trauma yang biasanya terjadi karena
kecelakaan, jatuh dari ketinggian atau jatuh dari sepeda dan biasanya disertai trauma
pada tempat lain. Jatuh pada daerah trochanter baik karena kecelakaan lalu lintas
atau jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi seperti terpeleset di kamar mandi di
mana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi dapat menyebabkan fraktur collum
femoris5.
Klasifikasi
Berikut ini adalah klasifikasi fraktur collum femur berdasarkan Garden 8, yaitu: (a)
stadium I adalah fraktur yang tak sepenuhnya terimpaksi; (b) stadium II adalah
fraktur lengkap tetapi tidak bergeser; (c) stadium III adalah fraktur lengkap dengan
pergeseran sedang; (d) stadium IV adalah fraktur yang bergeser secara hebat.

20

Gambar 7 . Klasifikasi fraktur collum femoris menurut Garden


Fraktur collum femoris harus ditangani dengan cepat dan tepat sekalipun merupakan
fraktur collum femoris stadium I. Jika tidak, maka akan berkembang dengan cepat
menjadi fraktur collum femur stadium IV8. Selain Garden, Pauwel5 juga membuat
klasifikasi berdasarkan atas sudut inklinasi collum femoris sebagai berikut: (a) tipe I,
yaitu fraktur dengan garis fraktur 30; (b) tipe II, yaitu fraktur dengan garis fraktur
50; dan (c) tipe III, yaitu fraktur dengan garis fraktur 70.

Gambar 8 . Klasifikasi fraktur collum femoris menurut Pauwel


Epidemiologi
Lebih dari 250.000 patah tulang pinggul terjadi di Amerika Serikat setiap
tahunnya (50% melibatkan collum femur), dan jumlah ini diperkirakan akan berlipat
ganda pada tahun 2040. Rata-rata usia kejadian adalah 77 tahun untuk perempuan
dan 72 tahun untuk pria. 80% terjadi pada wanita, dan kejadian dua kali lipat setiap 5
sampai 6 tahun usia wanita > 30 tahun. Insiden pada pasien yang lebih muda sangat
21

rendah dan berhubungan terutama dengan trauma energi tinggi. Faktor risiko
termasuk jenis kelamin perempuan, ras kulit putih, bertambahnya usia, kesehatan
yang buruk, merokok dan minum alkohol, riwayat fraktur sebelumnya, riwayat jatuh,
dan tingkat estrogen yang rendah.

Evaluasi Klinis
Anamnesis biasanya menunjukkan adanya riwayat jatuh dari ketinggian
disertai nyeri panggul terutama daerah inguinal depan. Tungkai pasien dalam posisi
rotasi lateral dan anggota gerak bawah tampak pendek. Pada foto polos penting
dinilai pergeseran melalui bentuk bayangan yang tulang yang abnormal dan tingkat
ketidakcocokan garis trabekular pada caput femoris dan ujung collum femoris.
Penilaian ini penting karena fraktur yang terimpaksi atau tak bergeser (stadium I dan
stadium II berdasarkan Garden) dapat membaik setelah fiksasi internal, sementara
fraktur yang bergeser sering mengalami non-union dan nekrosis avaskular 8.
Pasien dengan fraktur displacement collum femur biasanya tidak dapat
berjalan, dengan pemendekan dan rotasi eksternal dari ekstremitas bawah. Pasien
fraktur stres atau impakta dapat menunjukkan temuan kecil saja, seperti nyeri kapsul
anterior, nyeri dengan kompresi aksial, tidak adanya deformitas, dan mungkin dapat
menanggung berat badan. Nyeri mengakibatkan range of motion (ROM) pinggul
terbatas, dapat disertai nyeri kompresi aksial dan nyeri pada palpasi pangkal paha.
Riwayat yang akurat penting dalam fraktur energi rendah yang biasanya terjadi pada
orang tua, dalam menentukan perawatan yang optimal dan disposisi. Kita harus
menilai pergelangan tangan dan bahu pada orang tua karena 10% terkait dengan
cedera ekstremitas atas.
Penanganan
Pengobatan fraktur collum femoris dapat berupa terapi konservatif dengan
indikasi yang sangat terbatas dan terapi operatif. Pengobatan operatif hampir selalu
22

dilakukan baik pada orang dewasa muda ataupun pada orang tua karena perlu reduksi
yang akurat dan stabil dan diperlukan mobilisasi yang cepat pada orang tua untuk
mencegah komplikasi. Jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu pemasangan pin,
pemasangan plate dan screw, dan artroplasti yang dilakukan pada penderita umur di
atas 55 tahun, berupa: eksisi artroplasti, hemiartroplasti, dan artroplasti total 9.
Tujuan daripada terapi adalah untuk meminimalisasi ketidaknyamanan
pasien, memulihkan fungsi pinggul, mobilisasi cepat dengan melakukan reduksi
anatomi lebih awal dan fiksasi internal yang stabil atau penggantian prosthetic.Terapi
awal: obat anti nyeri dan bidai pada tungkai, bila operasi ditunda bisa dilakukan
femoral nerve block. Terapi nonoperatif untuk fraktur traumatik hanya diindikasikan
pada

pasien dengan resiko tinggi

bila

dilakukan tindakan pembedahan;

dipertimbangkan pula pasien untuk rawat inap walau nyeri minimal pada pinggul.
Mobilisasi tidur-duduk penting untuk menghindari resiko dan komplikasi dari
perawatan yang berkepanjangan, seperti gangguan paru (atelektasis, pneumonia),
stasis vena, and pressure ulceration. Penggantian prosthetic lebih dipilih daripada
fiksasi internal pada orang usia lanjut karena resiko perlu dilakukan operasi berulang
kecil.
Prosthetic replacement Hemiarthroplasty

Keuntungan dibanding reduksi terbuka dan fiksasi internal:


Lebih cepat dapat menahan berat tubuh
Menghilangkan non-union, osteonekrosis, resiko kegagalan
fiksasi (>20% hingga 30% kasus dengan open reduksi dan
fiksasi internal membutuhkan bedah sekunder).

Kerugian

Prosedur lebih ekstensif dengan kehilangan darah


lebih banyak
Resiko dari erosi acetabulum pada individu aktif

Indikasi:

Kominutiva, displaced femoral neck pada orang tua

Fraktur patologis
23

Kondisi medis yang buruk

Status rawat inap buruk sebelum fraktur

Kondisi neurologis (dementia, ataxia, hemiplegia, parkinson)

Kontraindikasi
Sepsis yang aktif
Orang yang masih muda
Penyakit pada acetabulum yang sudah ada sebelumnya (rheumatoid arthritis)
Bipolar versus unipolar implants:

Secara teoritis mengurangi resiko erosi acetabulum

Memiliki resiko lebih rendah terjadinya dislokasi post operatif

Sangat sulit untuk dilakukan reduksi tertutup suatu bipolar


prosthesis yang dislokasi.

Bipolar dapat menyebabkan resiko polyethylene debris.

Setelah waktu yang lama, bipolar dapat kehilangan gerak seiring


penyangga dalam dan secara fungsional menjadi unipolar.

Unipolar biayanya lebih murah.

Gambar 9. Unipolar Hemiarthroplasty


24

Gambar 10. Bipolar Hemiarthroplasty


Komplikasi
Komplikasi tergantung dari beberapa faktor, yaitu 5: (a) komplikasi yang
bersifat umum: trombosis vena, emboli paru, pneumonia, dekubitus; (b) nekrosis
avaskuler caput femoris. Komplikasi ini biasanya terjadi pada 30% pasien fraktur
collum femoris dengan pergeseran dan 10% pada fraktur tanpa pergeseran. Apabila
lokasilisasi fraktur lebih ke proksimal maka kemungkinan untuk terjadi nekrosis
avaskuler menjadi lebih besar; (c) nonunionlebih dari 1/3 pasien fraktur collum
femoris tidak dapat mengalami union terutama pada fraktur yang bergeser.
Komplikasi lebih sering pada fraktur dengan lokasi yang lebih ke proksimal. Ini
disebabkan karena vaskularisasi yang jelek, reduksi yang tidak akurat, fiksasi yang
tidak adekuat, dan lokasi fraktur adalah intraartikuler. Metode pengobatan tergantung
pada penyebab terjadinya nonunion dan umur penderita; (d) Osteoartritis sekunder
dapat terjadi karena kolaps caput femoris atau nekrosis avaskuler; (e) anggota gerak
memendek; (f) malunion; (g) malrotasi berupa rotasi eksterna.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: ECG

2. American College of Surgeon Committee of Trauma (ACSCOT). 2008.


Advanced Trauma Life Support for Doctor. Chicago: ATLS Student Course
Manual.
3. Koval, Kenneth J.; Zuckerman, Joseph D.. 2006. Handbook of Fractures, 3rd Edition.
Lippincott Williams & Wilkins. IV - Lower Extremities Fractures and Dislocations;
Femoral Neck Fractures.
4. Netter, Frank H.. 2006. Atlas of Human Anatomy, 4th edition. W.B. Saunders
Company. Plate 335, plate 459.
5. Apley GA, Solomon L. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem Apley. Edisi ke-7.
Jakarta, 1995. Widya Medika
6. Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. PT. Yarsif Watampone,
Jakarta. p. 355-361; p. 398-399.
7. Solomon, Louis; Warwick, David; Nayagam, Selvadurai. 2010. Apleys System of
Orthopaedics and Fractures, 9th edition. Hodder Arnold, An Hachette UK Company.
p. 687-694; p. 847-853.
8. James
E
Keany,

MD.

Femur

Fracture.

In

site

<http://emedicine.medscape.com/article/824856-overview#showall> diakses pada 19


Februari 2015
9. Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G.,

Chen, John W.

Musculoskeletal Imaging in Primer of Diagnostic Imaging, 4th Edition. Mosby


Elsevier. United States. 2007. Page 408-410
10. http://www.gentili.net/thr/hemiarth.htm

26