You are on page 1of 7

ANATOMI DAN FISIOLOGI KEPALA

A. Tengkorak
Tulang tengkorak menurut, Evelyn C Pearce (2008) merupakan
struktur tulang yang menutupi dan melindungi otak, terdiri dari tulang
kranium dan tulang muka. Tulang kranium terdiri dari 3 lapisan: lapisan
luar, etmoid, dan lapisan dalam. Lapisan luar dan dalam merupakan
struktur

yang

kuat

sedangkan

etmoid

merupakan

struktur

yang

menyerupai busa. Lapisan dalam membentuk rongga/fosa; fosa anterior


di dalamnya terdapat lobus frontalis, fosa tengah berisi lobus temporalis,
parientalis, oksipitalis, fosa posterior berisi otak tengah dan sereblum.

Gambar 1. Anatomi dan fisiologi Kepala

Gambar 2. Lapisan cranium

B. Meningen
Pearce, Evelyn C. (2008) otak dan sumsum tulang belakang diselimuti
meningia yang melindungi syruktur saraf yang halus itu, membawa
pembulu darah dan dengan sekresi sejenis cairan, yaitu:

cairan

serebrospinal yang memperkecil benturan atau goncangan. Selaput


meningen menutupi terdiri dari 3 lapisan yaitu:
1. Duramater
Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu
lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Duramater merupakan
selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat
erat pada permukaan dalam dari kranium. Karena tidak melekat pada
selaput arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial
ruang subdural yang terletak antara duramater dan arachnoid,
dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada cedera otak,
pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak
menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging
Veins, dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan
subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus
transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat
mengakibatkan perdarahan hebat. Hematoma subdural yang besar,
yang menyebabkan gejala-gejala neurologis biasanya dikeluarkan
melalui pembedahan. Petunjuk dilakukannya pengaliran perdarahan
ini adalah: 1) sakit kepala yang menetap 2) rasa mengantuk yang
hilang-timbul 3) linglung 4) perubahan ingatan 5) kelumpuhan ringan
pada sisi tubuh yang berlawanan.
Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan
dalam dari kranium ruang epidural. Adanya fraktur dari tulang kepala
dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan
perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah
arteri meningea media yang terletak pada fosa media fosa temporalis.
Hematoma epidural diatasi sesegera mungkin dengan membuat
lubang di dalam tulang tengkorak untuk mengalirkan kelebihan
darah,

juga

perdarahan.

dilakukan

pencarian

dan

penyumbatan

sumber

2. Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus
pandang. Selaput arakhnoid terletak antara piamater sebelah dalam
dan

duramater

sebelah

luar

yang

meliputi

otak.

Selaput

ini

dipisahkan dari duramater oleh ruang potensial, disebut spatium


subdural dan dari piamater oleh spatium subarakhnoid yang terisi
oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan sub arakhnoid umumnya
disebabkan akibat cedera kepala.
3. Piamater
Piamater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Piamater
adalah membran vaskular yang dengan erat membungkus otak,
meliputi gyri dan masuk ke dalam sulci yang paling dalam. Membran
ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya.
Arteri-arteri yang masuk ke dalam substansi otak juga diliputi oleh
piamater.
C. Otak
Menurut Ganong (2002); Price (2005), otak terdiri dari 3 bagian, antara
lain yaitu:
1. Cereberum

Gambar 3. Lobus-Lobus Otak


Serebrum atau otak besar terdiri dari dari 2 bagian, hemispherium
serebri kanan dan kiri. Setiap hemispher dibagi dalam 4 lobus yang
terdiri dari lobus frontal, oksipital, temporal dan pariental. Masingmasing lobus memiliki fungsi yang berbeda, yaitu:
a. Lobus frontalis
Lobus frontalis pada korteks serebri terutama mengendalikan
keahlian motorik misalnya menulis, memainkan alat musik atau
mengikat tali sepatu. Lobus frontalis juga mengatur ekspresi wajah
dan

isyarat

tangan.

daerah

tertentu

pada

lobus

frontalis

bertanggung jawab terhadap aktivitas motorik tertentu pada sisi


tubuh yang berlawanan. Efek perilaku dari kerusakan lobus
frontalis

bervariasi,

tergantung

kepada

ukuran

dan

lokasi

kerusakan fisik yang terjadi. Kerusakan yang kecil, jika hanya


mengenai satu sisi otak, biasanya tidak menyebabkan perubahan
perilaku yang nyata, meskipun kadang menyebabkan kejang.
Kerusakan luas yang mengarah ke bagian belakang lobus frontalis
bisa menyebabkan apati, ceroboh, lalai dan kadang inkontinensia.
Kerusakan luas yang mengarah ke bagian depan atau samping
lobus

frontalis

menyebabkan

perhatian

penderita

mudah

teralihkan, kegembiraan yang berlebihan, suka menentang, kasar


dan kejam.
b. Lobus parietalis
Lobus parietalis pada korteks serebri menggabungkan kesan
dari bentuk, tekstur dan berat badan ke dalam persepsi umum.
Sejumlah kecil kemampuan matematikan dan bahasa berasal dari
daerah ini. Lobus parietalis juga membantu mengarahkan posisi
pada ruang di sekitarnya dan merasakan posisi dari bagian
tubuhnya. Kerusakan kecil di bagian depan lobus parietalis
menyebabkan
Kerusakan

mati

yang

rasa
agak

pada
luas

sisi
bisa

tubuh

yang

menyebabkan

berlawanan.
hilangnya

kemampuan untuk melakukan serangkaian pekerjaan keadaan ini


disebut ataksia dan untuk menentukan arah kiri-kanan. Kerusakan
yang

luas

bisa

mempengaruhi

kemampuan

penderita

dalam

mengenali bagian tubuhnya atau ruang di sekitarnya atau bahkan


bisa mempengaruhi ingatan akan bentuk yang sebelumnya dikenal
dengan baik misalnya, bentuk kubus atau jam dinding. Penderita
bisa menjadi linglung atau mengigau dan tidak mampu berpakaian
maupun melakukan pekerjaan sehari-hari lainnya.
c. Lobus temporalis
Lobus temporalis mengolah kejadian yang baru saja terjadi
menjadi dan mengingatnya sebagai memori jangka panjang. Lobus
temporalis juga memahami suara dan gambaran, menyimpan
memori dan mengingatnya kembali serta menghasilkan jalur

emosional.

Kerusakan

pada

lobus

temporalis

sebelah

kanan

menyebabkan terganggunya ingatan akan suara dan bentuk.


Kerusakan pada lobus temporalis sebelah kiri menyebabkan
gangguan pemahaman bahasa yang berasal dari luar maupun dari
dalam

dan

bahasanya.
Penderita

menghambat
dengan

penderita

lobus

dalam

temporalis

mengekspresikan

sebelah

kanan

yang

nondominan, akan mengalami perubahan kepribadian seperti tidak


suka bercanda, tingkat kefanatikan agama yang tidak biasa,obsesif,
dan kehilangan gairah seksual.
d. Lobus Oksipitalis
Fungsinya untuk visual center. Kerusakan pada lobus ini
otomatis akan kehilangan fungsi dari lobus itu sendiri yaitu
penglihatan.
2. Cereblum
Terdapat di bagian belakang kranium menempati fosa serebri
posterior

di bawah lapisan durameter. Cereblum mempunyai aksi

yaitu; merangsang dan menghambat serta mempunyai tanggunag


jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus. Ditambah
mengontrol

gerakan

yang

benar,

keseimbangan

posisi,

dan

mengintegrasikan input sensori.


3. Brainstem
Batang otak terdiri dari otak tengah, pons dan medula oblongata.
Otak tengah midbrain/ ensefalon menghubungkan pons dan sereblum
dengan hemisfer sereblum. Bagian ini berisi jalur sensorik dan
motorik, sebagai pusat reflek pendengaran dan penglihatan. Pons
terletak di depan sereblum antara otak tengah dan medula, serta
merupakan jembatan antara 2 bagian sereblum dan juga antara
medula dengan serebrum. Pons berisi jarak sensorik dan motorik.
Medula oblongata membentuk bagian inferior dari batang otak,
terdapat pusat-pusat otonom yang mengatur fungsi-fungsi vital
seperti

pernafasan,

frekuensi

jantung,

vasomotor, reflek batuk dan bersin.


D. Saraf-saraf otak

pusat

muntah,

tonus

Suzanne C Smeltzer (2001), Nervus kranialis dapat terganggu bila


trauma kepala meluas sampai batang otak karena edema otak atau
pendarahan otak. Kerusakan nervus yaitu:
1. Nervus Olfaktorius (Nervus Kranialis I)
Saraf pembau yang keluar dari otak dibawa oleh dahi, membawa
rangsangan aroma (bau-bauan) dari rongga hidung ke otak.
2. Nervus Optikus (Nervus Kranialis II)
Mensarafi bola mata, membawa rangsangan penglihatan ke otak.
3. Nervus Okulomotorius (Nervus Kranialis III)
Bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital (otot pengerak bola mata)
menghantarkan serabut-serabut saraf parasimpati untuk melayani
otot siliaris dan otot iris.
4. Nervus Trokhlearis (Nervus Kranialis IV)
Bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital. Saraf pemutar mata yang
pusatnya terletak di belakang pusat saraf penggerak mata.
e. Nervus Trigeminus (Nervus Kranialis V)
Sifatnya majemuk (sensoris motoris) saraf ini mempunyai tiga
buah cabang. Fungsinya sebagai saraf kembar tiga, saraf ini
merupakan saraf otak besar, sarafnya yaitu:
1. Nervus oftalmikus: sifatnya sensorik, mensarafi kulit kepala
bagian depan, kelopak mata atas, selaput lendir kelopak mata,
dan bola mata.
2. Nervus maksilaris: sifatnya sensoris, mensarafi gigi atas, bibir
atas,

palatum,

batang

hidung,

ronga

hidung

dan

sinus

maksilaris.
3. Nervus mandibula: sifatnya majemuk (sensori dan motoris)
mensarafi otot-otot pengunyah. Serabut-serabut sensorisnya
mensarafi gigi bawah, kulit daerah temporal dan dagu.
f. Nervus Abducens (Nervus Kranialis VI)
Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsinya sebagai
saraf penggoyang sisi mata.
g. Nervus Fasialis (Nervus Kranialis VII)
Sifatnya majemuk (sensori dan motori) serabut-serabut motorisnya
mensarafi otot-otot lidah dan selaput lendir ronga mulut. Di dalam
saraf ini terdapat serabut-serabut saraf otonom (parasimpatis)
untuk wajah dan kulit kepala fungsinya sebagai mimik wajah untuk
menghantarkan rasa pengecap.
h. Nervus Akustikus (Nervus Kranialis VIII)

Sifatnya sensori, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan


dari pendengaran dan dari telinga ke otak. Fungsinya sebagai saraf
pendengar.
i. Nervus Glosofaringeus (Nervus Kranialis IX)
Sifatnya majemuk (sensori dan motoris) mensarafi faring, tonsil
dan lidah, saraf ini dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.
j. Nervus Vagus (Nervus Kranialis X)
Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris) mengandung saraf-saraf
motorik, sensorik dan parasimpatis faring, laring, paru-paru,
esofagus, gaster intestinum minor, kelenjar-kelenjar pencernaan
dalam abdomen. Fungsinya sebagai saraf perasa.
k. Nervus Aksesorius (Nervus Kranialis XI)
Saraf ini mensarafi muskulus sternokleidomastoid dan muskulus
trapezium, fungsinya sebagai saraf tambahan.
l. Nervus Hipoglosus (Nervus Kranialis XII)
Saraf ini mensarafi otot-otot lidah, fungsinya sebagai saraf lidah.
Saraf ini terdapat di dalam sumsum penyambung.