You are on page 1of 48

I.

ANATOMI GENITALIA EKSTERNA DAN INTERNA


A. GENITALIA EKSTERNAL
1.

Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi
perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia
minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae
externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.

2.

Mons pubis / mons veneris


Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut
pubis.

3.

Labia mayora

4.

Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah


bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena.
Homolog

embriologik

dengan

skrotum

pada

pria.

Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia


mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu
(pada commisura posterior).
5.

Labia minora

1 | Page

Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak


mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh
darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
6.

Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di
bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam
di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik
dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen
pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut
saraf, sangat sensitif.

7.

Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah
fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus
urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium
urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae
Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri antara
fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.

8.

Introitus / orificium vagina


Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo)
tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara /
hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal terdapat

2 | Page

lubang

kecil

untuk

aliran

darah

menstruasi,

dapat

berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau


fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat
robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan
robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen
postpartum

disebut

parous.

Corrunculae

myrtiformis

adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada


wanita pernah melahirkan / para. Hymen yang abnormal,
misalnya

primer

tidak

berlubang

(hymen

imperforata)

menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah


menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.
9.

Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai
dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke
vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix
disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior,
fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina
memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis.
Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus
haid. Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus
pada

haid,

untuk

jalan

lahir

dan

untuk

kopulasi

(persetubuhan).
Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah

3 | Page

dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu


fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix
uteri.
Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah
sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat
sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.
10.

Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan

anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani,


m.coccygeus)

dan

diafragma

urogenitalis

(m.perinealis

transversus profunda, m.constrictor urethra). Perineal body


adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong
(episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah
ruptur.

B.

GENITALIA
INTERNAL
1.

Uterus

4 | Page

Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir,


dilapisi peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi
sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding
uterus

dan

pembukaan

serviks

uterus,

isi

konsepsi

dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus


dan serviks uteri.
2.

Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis
(berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars
supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos,
jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin.
Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis
uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar,
arah

vagina)

dilapisi

epitel

skuamokolumnar

mukosa

serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum).


Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium
externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan
(primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi
serviks

mengarah

ke

kaudal-posterior,

setinggi

spina

ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir


getah

serviks

yang

mengandung

glikoprotein

kaya

karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida

5 | Page

dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks


dipengaruhi siklus haid.

C.

CORPUS UTERI
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang
melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen,
tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga
lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal,
anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium
yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh
sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium.
Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke
anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria. Proporsi
ukuran

corpus

terhadap

isthmus

dan

serviks

uterus

bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita


(gambar).

D.

LIGAMENTA
PENYANGGA UTERUS
Ligamentum

latum

uteri,

ligamentum

rotundum

uteri,

ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina

6 | Page

propium,

ligamentum

infundibulopelvicum,

ligamentum

vesicouterina, ligamentum rectouterina.


E.

VASKULARISASI
UTERUS
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca
interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis.

F.

SALPING / TUBA
FALOPII

Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang


tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan
transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.Dinding tuba
terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular)
serta mukosa dengan epitel bersilia.Terdiri dari pars interstitialis,
pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan
fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang
berbeda-beda pada setiap bagiannya (gambar).
G.

PARS

ISTHMICA

(PROKSIMAL/ISTHMUS)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter
uterotuba pengendali transfer gamet.

7 | Page

H.

PARS AMPULARIS
(MEDIAL/AMPULA)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula /
infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga
terjadi
Pars

implantasi
infundibulum

ostium

tubae

di

dinding

(distal)Dilengkapi

abdominale

pada

tuba

bagian

ini.

dengan

fimbriae

serta

ujungnya,

melekat

dengan

permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi menangkap ovum yang


keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya
ke dalam tuba.
I. MESOSALPING
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada
usus).
J. OVARIUM
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga
peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai
jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari
korteks dan medula. Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan
pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal
primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi
(pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid

8 | Page

(estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum


pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba
Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae menangkap ovum
yang dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium terfiksasi oleh
ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum
dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta
abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

II.

HORMON REPRODUKSI WANITA


A. ESTROGEN
Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari
estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah
estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri
perkembangan seksual pada

wanita

yaitu pembentukan

payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan,dll. Estrogen juga


berguna

pada

siklus

menstruasi

dengan

membentuk

ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas


cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi
sperma.
B. PROGESTERONE
Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone
mempertahankan
menerima

ketebalan

implantasi

zygot.

endometrium
Kadar

sehingga

dapat

progesterone

terus

9 | Page

dipertahankan

selama

trimester

awal

kehamilan

sampai

plasenta dapat membentuk hormon HCG.


C. GONADOTROPIN RELEASING HORMONE
GnRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus
diotak.

GnRH

akan

merangsang

pelepasan

FSH

(folikl

stimulating hormone) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi,


maka estrogen akan memberikan umpanbalik ke hipotalamus
sehingga

kadar

sebaliknya.
D. FSH (FOLIKEL

GnRH

akan

menjadi

STIMULATING

rendah,

HORMONE)

begitupun
DAN

LH

(LUTEINIZING HORMONE)
Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang
diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GNRH. FSH
akan menyebabkan pematangan dari folikel. Dari folikel yang
matang akan dikeluarkan ovum. Kemudian folikel ini akan
menjadi korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu
tertentu oleh LH.
III. SIKLUS BULANAN
A.
SIKLUS OVARIUM
A. Folikuler
Selama beberapa hari pertama sesudah dimulainya menstruasi,
konsentrasi FSH dan LH meningkat dari sedikit menjadi sedang.
Peningkatan FSH lebih awal daripada LH. FSH mempercepat
pertumbuhan 6-12 folikel primer setiap bulannya. Sel-sel yang
dihasilkan

oleh

interstitium

ovarium

berkumpul

dalam

beberapa lapisan di luar sel granulosa, membentuk kelompok sel


yang kedua disebut sel teka.
10 | P a g e

Sesudah tahap awal pertumbuhan proliferasi, yang berlangsung


beberapa hari, massa sel granulosa menyekresi cairan folikular
yang mengandung estrogen dalam konsentrasi tinggi.
B. Ovulasi
Ovulasi adalah fase pengeluaran oosit dari folikel yang terjadi 14
hari sesudah terjadinya menstruasi.tepat sebelum ovulasi, oosit
menyelesaikan pembelahan meiotik pertamanya. Pecahnya folikel
ini menandakan berakhirnya fase folikuler dan dimulainya fase
luteal.
C. Luteal
Selama beberapa jam pertama sesudah ovum dikeluarkan dari
folikel, sel-sel granulosa dan teka interna yang tersisa berubah
menjadi sel lutein. Diameter sel ini membesar dua kali dengan
inklusi lipid yang memberi tampilan kekuningan. Proses ini
disebut luteinisasi dan seluruh massa dari sel bersama-sama
disebut sebagai korpus luteum.
Pada wanita normal diameter korpus luteum menjadi 1,5 cm,
tahap perkembangan dicapai dalam waktu kira-kira 7 sampai 8
hari setelah ovulasi. Kemudian korpus luteum mulai berinvolusi
dan akhirnya kehilangan fungsi sekresi juga warna kekuningan
kira-kira 12 hari setelah ovulasi disebut korpus albikan.
B.
1. Menstruasi

SIKLUS ENDOMETRIUM
Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus
dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh

11 | P a g e

hanya stratum basale. Rata-rata fase ini berlangsung selama


lima hari (rentang 3-6 hari). Pada awal fase menstruasi kadar
estrogen, progesteron, LH (Lutenizing Hormon) menurun atau
pada kadar terendahnya selama siklus dan kadar FSH (Folikel
Stimulating Hormon) baru mulai meningkat.
2. Proliferasi
Fase proliferasi merupakan periode pertumbuhan cepat yang
berlangsung sejak sekitar hari ke-5 sampai hari ke-14 dari
siklus haid. Permukaan endometrium secara lengkap kembali
normal

sekitar

empat

hari

atau

menjelang

perdarahan

berhenti. Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal


3,5 mm atau sekitar 8-10 kali lipat dari semula, yang akan
berakhir

saat

ovulasi.

Fase

proliferasi

tergantung

pada

stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium.


3. Sekresi
Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga
hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Pada akhir fase
sekresi,

endometrium

sekretorius

yang

matang

dengan

sempurna mencapai ketebalan seperti beludru yang tebal dan


halus. Endometrium menjadi kaya dengan darah dan sekresi
kelenjar.
4. Pramenstruasi
Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar
7 sampai 10 hari setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi

12 | P a g e

pembuahan dan implantasi, korpus luteum yang mensekresi


estrogen dan progesteron menyusut. Seiring penyusutan
kadar estrogen dan progesteron yang cepat, arteri spiral
menjadi spasme, sehingga suplai darah ke endometrium
fungsional terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional
terpisah dari lapisan basal dan perdarahan menstruasi
dimulai.
IV.

KEHAMILAN
A. FERTILISASI
Fertilisasi atau yang sering disebut juga dengan konsepsi
didefenisikan sebagai pertemuan antara sperma dan sel telur
yang menandai awal kehamilan. Peristiwa ini merupakan
rangkaian kejadian yang meliputi pembentukan gamet (sel telur
dan sperma), ovulasi (pelepasan telur), penggabungan gamet
dan implantasi embrio di dalam uterus.
Penghamilan (fertilisasi) adalah terjadinya pertemuan dan
persenyawaan antara sel mani dan sel telur. Konsepsi/
fertilisasi/pembuahan

adalah

suatu

peristiwa

penyatuan

antara sel mani dengan sel telur di tuba fallopii (Mochtar,


1998:18).

Sedangkan

menurut

Manuaba

(1998:99)

konsepsi/fertilisasi/pembuahan adalah pertemuan inti ovum


dengan inti spermatozoa dan membentuk zigot. Jadi fertilisasi
adalah proses peleburan/ penyatuan antara satu sel sperma
dengan satu sel telur (ovum) yang sudah matang dan
membentuk zigot yang umumnya terjadi pada sepertiga dari

13 | P a g e

panjang saluran telur yaitu di ampulla tuba fallopi. Bagian ini


adalah bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat
dengan ovarium.
Untuk terjadinya setiap kehamilan harus ada :
1. Ovum (sel telur), terdapat nukleus, mengandung vitelus,
zona pelusida, korona radiata, siap dibuahi setelah 12 jam.
2. Spermatozoa (sel mani), kepala (lonjong & sedikit gepeng=>
hialuronidase), leher, ekor (panjangnya 10 kali panjang
3.
4.
5.
6.

kepala), bertahan hidup selama 3 jam dalam genitalia.


Pembuahan (konsepsi = fertilisasi)
Nidasi (implantasi)
Plasentasi
Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.
Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke rahim dan

selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik ini


disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Perlu
diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita,
spermatozoa belum mampu menbuahi oosit. Mereka harus
mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom.
Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam
saluran reproduksi wanita, yang pada manusia berlangsung
kira-kira 7 jam. Selama waktu itu, suatu selubung glikoprotein
dari protein-protein plasma

semen dibuang dari selaput

plasma, yang membungkus daerah akrosom spermatozoa.


Hanya sperma yang mengalami kapasitasi yang dapat melewati
sel korona dan mengalami reaksi akrosom.
Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona
pellusida dan diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini

14 | P a g e

berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk


menembus zona pelusida, antara lain akrosin dan zat-zat
serupa tripsin.
Pada fertilisasi mencakup 3 fase :
1. Penembusan korona radiata
2. Penembusan zona pelusida
3. Fusi oosit dan membrane sel sperma
Fase 1 : penembusan korona radiata
Dari 200-300 juta spermatozoa yang dicurahkan ke dalam
saluran kelamin wanita, hanya 300-500 yang mencapai tempat
pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk
pembuahan

dan

diduga

bahwa

sperma-sperma

lainnya

membantu sperma yang akan membuahi untuk menembus


sawar-sawar yang melindungi gamet wanita. Dari akrosom
(tudung

kepala)

sperma dikeluarkan

enzimenzim

secara

berurutan: Hyaluronidase, Corona penetrating enzim (CPE) dan


terakhir akrosin untuk menembus zona pelusida. Setelah itu
sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus
sel korona.
Fase 2 : penembusan zona pelusida
Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di
sekeliling telur yang mempermudah dan mempertahankan
pengikatan
Pelepasan

sperma

dan

enzim-enzim

menginduksi

akrosom

reaksi

akrosom.

memungkinkan

sperma

menembus zona pelusida, sehingga akan bertemu dengan


membrane plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah

15 | P a g e

ketika kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini


mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granulgranul korteks yang melapisi membrane plasma oosit. Pada
gilirannya, enzim-enzim ini menyebabkan perubahan sifat zona
pelusida (reaksi zona) untuk menghambat penetrasi sperma
dan

membuat

tak

aktif

tempat-tempat

reseptor

bagi

spermatozoa pada permukaan zona yang spesifik spesies.


Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pelusida
tetapi hanya satu yang menembus oosit.
Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma
Segera setelah spermatozoa menyentuh membrane sel
oosit, kedua selaput plasma sel tersebut menyatu. Karena
selaput plasma yang membungkus kepala akrosom telah hilang
pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi
adalah antara selaput oosit dan selaput yang meliputi bagian
belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan ekor
spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma
tertinggal di permukaan oosit.
Segera setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur
menanggapinya dengan 3 cara yang berbeda :
1. Reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat terlepasnya butirbutir kortikal oosit. Selaput oosit tidak dapat ditembus lagi
oleh spermatozoa lain sehingga zona pelusida mengubah
struktur dan komposisinya untuk mencegah penambatan

16 | P a g e

dan penetrasi sperma dengan cara ini terjadinya polispermi


dapat dicegah.
2. Melanjutkan

pembelahan

meiosis

kedua.

Oosit

menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah


spermatozoa masuk. Salah satu dari sel anaknya hamper
tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan
kutub kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitive.
Kromosomnya

(22+X)

tersusun

di

dalam

sebuah

inti

vesikuler yang dikenal sebagai pronukleus wanita.


3. Penggiatan metabolik sel telur. Faktor penggiat diperkirakan
dibawa oleh spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan
diperkirakan untuk mengulangi kembali peristiwa permulaan
seluler dan molekuler yang berhubungan dengan awal
embriogenesis.
B. IMPLANTASI
Setelah fertilisasi,

hasil

konsepsi

harus

mengadakan

implantasi pada dinding uterus dan memberikan informasi


kepada

ibu

agar

mengadakan

adaptasi

akibat

adanya

kehamilan.Tanpa adanya kedua hal itu, zygote akan dengan


mudah keluar dari uterus bersamaan dengan menstruasi
berikutnya. Pada saat endimetrium siap menerima implantasi
(sekitar tujuh hari setelah implantasi), morula telah turun ke
uterus dan terus berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi
blastokista yang kemudian dapat melakukan implantasi.

17 | P a g e

Implantasi

dimulai

ketika

setelah

berkontak

dengan

endometrium, sel sel trofoblastik yang menutupi massa sel dala


mengeluarkan enzim enzim pencerna protein. Enzim enzim ini
mencerna sel sel endometrium dan membentuk jalan hingga sel
trfoblas

mirip

jari

dan

dapat

menembus

ke

dalam

endometrium.
Melalui efek kenibalistiknya trofoblas melakukan fungsi
ganda yaitu pertama dengan menyelesaikan implantasi dengan
membuat lubang di endometrium untuk blastokista, kedua
menyediakan bahan mentah dan bahan bakar metabolic untuk
mudigah yang sedang berkembang sewaktu tonjolan tonjolan
trofoblatik menguraikan jaringan endometrium kaya nutrient.
Dinding sel sel trofoblas yangmasuk ke endometrium luruh,
membentuk

sinsitium

multinukleus

menjadi plasenta bagian janin.


Jaringan
endometrium

yang

akhirnya

yangmengalami

akan

modifikasi

sedemikian rupa ditempat implantasi disebut dengan desidua,


kedalam jaringan desidua yang sangat kaya inilah blastokista
terbenam. Setelah blastokista membuat lobang ke dalam
desidua oleh aktivitas trofoblas, suatu lapisan endometrium
menutupi permukaan lubang dan mengubur total blastokista
didalam

lapisan

dalam

uterus.

Lapisan

trofoblas

terus

mencerna sel sel dosidua sekitar dan menghasilkann energy


untuk mudigah sampai plasenta terbentuk.
Blastokista merupakan suatu bola berongga

berlapis

tunggal. Selama dalam tuba falopii, hasil konsepsi tetap


18 | P a g e

diselubungi zona pelucida. Setelah 2 hari dalam uterus,


blastokista

melepaskan diri dari zona

pellucida. Setelah

peristiwa pelepasan tersebut, sel trofoectoderm blastokista


mulai

berdiferensiasi

menjadi

sel

trofoblas.

Proses

memungkinkan

sel

trofoblas

berhubungan

simultan

ini

langsung

dengan

endometrium.

Dalam

beberapa

yang

jam,

endometrium dibawah blastokista akan terkikis dan lisis


sehingga substrat-substrat metabolik primer yang dihasilkan
akan digunakan untuk kehidupan blastokista. Endometrium
yang mengalami perubahan biokimia dan morfologi yang hebat
itu

disebut

sedang

mengadakan

proses

desidualisasi,

suatu proses yang dimulai saat terjadinya implantasi dan


menyebar dalam bentuk gelombang konsentris yang berpusat
dari tempat implantasi . Endometrium sekitar hasil implantasi
akan kembali pulih sehingga seluruh hasil implantasi tertanam
dalam endometrium.
Bersamaan dengan invasi embrio ke jaringan ibu, sel
trofoblas kemudian berdiferensiasi menjadi 2 jenis sel : sel
sitotrofoblas dan sel sinsitiotrofoblas. Sel sinsitiotrofoblas
adalah sel berukuran besar dan multinuklear yang berkembang
dari lapisan sitotrofoblas. Sel ini aktif mengeluarkan hormon
plasenta dan mentrasfer zat makanan dari ibu ke janin.
Sekelompok sel sitotroblas memiliki sifat invasif, melewati
stroma endometrium untuk mencapai pembuluh darah ibu,
termasuk arteri spiralis endometrium.

19 | P a g e

V. FISIOLOGI PLASENTASI
Sel telur yang dibuahi sperma akan berkembang menjadi
janin, air ketuban, selaput ketuban, dan plasenta. Plasenta
berbatasan dan berhubungan dengan selaput ketuban. Di dalam
selaput terdapat kantong amnion (ketuban), di mana di dalamnya
terdapat

bayi

uri/tembuni.

berada.
Plasenta

Plasenta

dikenal

merupakan

juga

organ

dengan

sementara

istilah
yang

menghubungkan ibu dengan janin. Plasenta merupakan alat


pertukaran zat antara ibu dan janin.
Plasenta
berperan
penting

dalam

pertumbuhan,

perkembangan, dan kelangsungan hidup bayi. Plasenta baru


terbentuk pada minggu keempat kehamilan. Plasenta tumbuh dan
berkembang bersama janin dan akan lepas saat bayi dilahirkan.
Jadi, plasenta merupakan bagian dari konsepsi atau bagian dari
sel telur yang dibuahi sperma.
A. STRUKTUR PLASENTA MATUR
Unit uteroplasenta terdiri atas jaringan fetus yang berasal
dari kantung korion dan jaringan maternal yang berasal dari
endometrium. Pada plasenta matur, aspek fetus disebut lempeng
korion. Daerah ini membawa pembuluh darah korion janin,
merupakan cabang radial dari pembuluh darah umbilikal. Aspek
maternal plasenta disebut lempeng basal. Di antara dua daerah
ini terdapat rongga intervilli yang mengandung unit fungsional
utama plasenta, mempunyai cabang yang luas dan melekat erat

20 | P a g e

dengan struktur villi yang mengandung pembuluh darah fetus.


Pada

daerah

terminal

villi

korionik

terjadi

pertukaran

fetomaternal dalam jumlah besar. Rongga intervilli seluruhnya


dilapisi oleh sinsitium multi inti yang disebut sinsitiotropoblas.
Sirkulasi darah ibu masuk ke rongga ini melalui arteri spiralis
pada endometrial, membasahi villi dan aliran balik melalui vena
endometrial. Darah fetus yang kurang oksigen akan melalui dua
arteri umbilikal dan cabang arteri korionik menuju sistem
arteriokapilervena yang luas dalam villi korionik. (gambar 1A).
Darah fetus yang kaya oksigen pada kapiler kembali ke fetus
melalui berbagai vena korionik dan satu vena umbilikal.

Gambar 1. Gambaran presentatif sirkulasi fetoplasenta (A), garis


putus-putus menunjukkan potongan melintang villi korionik
pada usia kehamilan 10 minggu (B), potongan melintan villi
korionik pada kehamilan aterm (C).

21 | P a g e

Dikutip dari Pijnenborg R

B. MEMBRAN PLASENTA
Terminologi membran plasenta (kadang disebut barier
plasenta) mengacu pada lapisan sel yang memisahkan darah
maternal pada rongga intervilli dan darah fetus pada pembuluh
darah inti villi. Awalnya membran plasenta terdiri atas empat
lapis,

maternal

menutupi

sinsitiotropoblas,

lapisan

sel

sitotropoblas, jaringan ikat villi dan endotel yang melapisi kapiler


(gambar 1B). Dalam kurun waktu 20 minggu lapisan sel
sitotropoblas villi-villi menipis dan menghilang. Sesudahnya,
pada hampir seluruh villi korionik, membrannya terdiri dari tiga
lapis dan pada beberapa area menjadi sangat tipis seperti
sinsitiotropoblas

menuju

kontak

langsung

dengan

endotel

kapiler fetus (gambar 1C). Lalu pada posisi ini darah maternal
dan fetus menjadi sangat dekat (sedekat 2-4 m).

C. MEMBRAN FETUS
Membran fetus melingkupi fetus selama kehamilan dan
pada akhirnya menjalani ruptur selama persalinan kala I. Terdiri
atas amnion yang melapisi fetus dan korion yang menghadap
ibu. Amnion terdiri lima lapisan yang berbeda. Lapisan paling
dalam adalah epitel amniotik, yang berhubungan langsung
dengan cairan amnion pada satu sisi dan membran basal di sisi

22 | P a g e

lainnya. Lapisan lainnya terdiri atas lapisan padat, lapisan


fibroblas, dan lapisan spons atau intermediate. Korion terdiri
atas lapisan retikular, membran basal dan daerah sel tropoblas
yang saat aterm melekat kuat dengan jaringan desidual
maternal. Seperti plasenta, membran fetus berperan integral
pada perkembangan fetus dan kemajuan kehamilan. Sebagai
tambahan terhadap aktifitas pengaturan autokrin, membran
mensekresikan suatu substansi ke dalam cairan amnion,
mempengaruhi homeostasis cairan amnion dan terhadap uterus,
yang mana dapat mempengaruhi fisiologi selular maternal.
Membran juga berperan melindungi fetus akan infeksi ascending
dari saluran reproduksi.

D. Pembentukan dan Fisiologi Plasenta


Villi

terdapat

diseluruh permukaan blastosis.

Dengan

semakin membesarnya blastosis, desidua superfisial (desidua


kapsularis) akan tertekan dan kehamilan semakin mengembang
kearah dalam cavum uteri.

23 | P a g e

Perkembangan
memangkas

desidua

sirkulasi

kapsularis

yang

secara

melaluinya.

Hal

bertahap
ini

akan

menyebabkan atrofi dan hilangnya viili yang bersangkutan.


Permukaan blastosis menjadi halus dan bagian korion ini
disebut Chorion

Laeve.

Pada sisi yang berlawanan, villi

mengalami pertumbuhan dan pembesaran dan disebut sebagai


Chorion

Frondusum.

Dengan

semakin

luasnya

ekspansi

blastosis, desidua kapsularis menempel dengan desidua vera


dan cavum uteri menjadi obliterasi Trofoblas primitif chorion
frondusum melakukan invasi desidua. Pada proses ini, kelenjar
dan stroma akan rusak dan pembuluh darah maternal yang
kecil akan mengalami dilatasi membentuk sinusoid. Trofoblas
mengembangkan lapisan seluler yang disebut sitotrofoblas dan
lapisan sinsitium yang disebut sinsitiotrofoblas.
Struktur yang disebut villi chorialis ini terendam dalam
darah ibu. Dengan kehamilan yang semakin lanjut, struktur viili
chorialis menjadi semakin komplek dan viili membelah dengan
cepat untuk membentuk percabangan-percabangan dimana
cabang

vasa

umbilkalis

membentuk

percabangan

yang

berhubungan erat dengan permukaan epitel trofoblas. Sebagian


besar cabang villi chorialis yang disebut sebagai villi terminalis
mengapung

dengan

bebas

dalam

darah

ibu

sehingga

memungkinkan terjadinya tarnsfer nutrien dan produk sisa

24 | P a g e

metabolisme. Sejumlah villi melekat pada jaringan maternal dan


disebut sebagai "anchoring villi".
Struktur dan hubungan villi terminalis dapat dipelajari
dengan

melihat

gambar

penampangnya.

Dengan

semakin

lanjutnya kehamilan, hubungan antara vaskularisasi trofoblas


dan maternal menjadi semakin erat. Trofoblas mengalami
migrasi kedalam arteri spiralis maternal yang berasal dari ruang
intervillous. Perubahan fisiologi yang berakibat dilatasi arteri
maternal

1/3

bagian

berakibat

konversi

dalam

pasokan

miometrium.
darah

Perubahan

uteroplasenta

ini

kedalam

vaskularisasi yang bersifat low resistance high flow vascular


bed yang diperlukan untuk tumbuh kembang janin intra uterin.
Kegagalan

invasi

trofoblas

akan

menyebabkan

penyakit

hipertensi dalam kehamilan (HDK) atau pertumbuhan janin


terhambat (PJT).
Dengan

semakin

lanjutnya

kehamilan

maka

transfer

nutrien sisa metabolisme hormon dan CO serta O2 plasenta


akan semakin meningkat dimana struktur pemisah antara
sirkulasi ibu dan anak menjadi semakin tipis.

Tidak ada

hubungan langsung antara kedua jenis sirkulasi dan placental


barrier

pada

akhir

kehamilan

terletak

di

microvilli

sinsitiotrofoblas yang memperluas permukaan transfer nutrien


dan lain lain. Selanjutnya, sinsitiotrofoblas dan mesoderm janin
akan semakin tipis dan vas dalam villus mengalami dilatasi.

25 | P a g e

Plasenta yang sudah terbentuk sempurna berbentuk cakram


yang berwarna merah dengan tebal 2 -3 cm pada daerah insersi
talipusat. Berat saat aterm 500 gram.
Tali pusat berisi dua arteri dan satu vena dan diantaranya
terdapat Wharton Jelly yang bertindak sebagai pelindung arteri
dan vena sehingga talipusat tidak mudah tertekan atau terlipat,
umumnya berinsersi di bagian parasentral plasenta.

E. FUNGSI PLASENTA
Fungsi plasenta bagi janin :
1. Organ respirasi
2. Organ transfer nutrisi dan ekskresi
3. Organ untuk sintesa hormon
Diperkirakan pula memiliki peranan sebagai barier
imunologis yang melindungi janin dari reaksi penolakan oleh
sistem imunologi maternal. Transportasi bahan melalui
plasenta berlangsung melalui
a. Transportasi pasif :
1) Difusi sederhana [simple diffusion]
2) Difusi dengan fasilitas [facilitated diffusion]
b. Transportasi aktif:
1) Reaksi enzymatic
2) Pinocytosis

26 | P a g e

Mekanisme diatas memerlukan energi dan kecepatan


metabolisme plasenta sebanding dengan yang terjadi pada
hepar atau ginjal.

F. FUNGSI RESPIRASI
Vaskularisasi yang luas didalam villi dan perjalanan darah
ibu dalam ruang intervilus yang relatif pelan memungkinkan
pertukaran oksigen dan CO2 antara darah ibu dan janin melalui
difusi pasif.

Pertukaran diperkuat dengan saturasi dalam

ruang intervilus sebesar 90 100% dan PO 2 sebesar 90 100


mmHg.
Setelah

kebutuhan

plasenta

terpenuhi,

eritrosit

janin

mengambil oksigen dengan saturasi 70% dan PO 2 30 40


mmHg, sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan janin. CO 2
melewati

plasenta

dengan

difusi

pasif.

Ion

Hidrogen,

bicarbonate dan asam laktat dapat menembus plasenta melalui


difusi sederhana sehingga status keseimbangan asam-basa
antara ibu dan anak sangat berkaitan erat. Oleh karena transfer
berlangsung perlahan, janin dapat melakukan buffer pada
kejadian

penurunan

pH,

kecuali

bila

asidosis

maternal

27 | P a g e

diperberat dengan dehidrasi atau ketoasidosis sebagaimana yang


terjadi pada partus lanjut dimana janin dapat mengalami
asidosis.
Efisiensi pertukaran ini tergantung pada pasokan darah ibu
melalui arteri spiralis dan fungsi plasenta. Bila pasokan darah
ibu terbatas seperti yang terjadi pada penyakit hipertensi dalam
kehamilan, penuaan plasenta sebelum saatnya, kehamilan
postmatur, hiperaktivitas uterus atau tekanan tali pusat, maka
ketoasidosis pada janin dapat terjadi secara terpisah dari
asidosis

maternal.

G. TRANSFER NUTRIEN
Sebagian besar nutrien mengalami transfer dari ibu ke
janin melalui metode transfer aktif yang melibatkan proses
enzymatik. Nutrien yang komplek akan dipecah menjadi
komponen sederhana sebelum di transfer dan mengalami
rekonstruksi ulang pada villi chorialis janin. Glukosa sebagai
sumber energi utama bagi pertumbuhan janin (90%), 10%
sisanya diperoleh dari asam amino. Jumlah glukosa yang
mengalami transfer meningkat setelah minggu ke 30. Sampai
akhir kehamilan, kebutuhan glukosa kira-kira 10 gram per
kilogram berat janin, kelebihan glukosa dikonversi menjadi
glikogen dan lemak.

28 | P a g e

Glikogen disimpan di hepar dan lemak ditimbun disekitar


jantung, belakang skapula. Pada trimester akhir, terjadi sintesa
lemak 2 gram perhari sehingga pada kehamilan 40 minggu 15%
dari berat janin berupa lemak. Hal ini menyebabkan adanya
cadangan energi sebesar 21.000 KJ dan diperlukan untuk
fungsi metabolisme dalam regulasi suhu tubuh janin pada
hari-hari pertama setelah lahir. Pada bayi preterm atau
dismatur,

cadangan

energi

lebih

rendah

sehingga

akan

menimbulkan permasalahan. Lemak dalam bentuk asam lemak


bebas sulit untuk di transfer. Lemak yang mengalami proses
transfer di resintesa kedalam bentuk fosfat dan lemak lain dan
disimpan dalam jaringan lemak sampai minggu ke 30. Setelah
itu, hepar janin memiliki kemampuan untuk sintesa lemak dan
mengambil alih fungsi metabolisme.

H. TRANSFER OBAT
Transfer obat melalui plasenta tidak berbeda dengan
nutrien lain pada umumnya. Kecepatan transfer dipengaruhi
oleh kelarutan dari molekul ion didalam lemak dan ketebalan
trofoblas. Pada paruh kedua kehamilan, trofoblas menjadi tipis
dan area plasenta bertambah luas sehingga transfer obat dapat
berlangsung lebih mudah.

Obat ilegal (narkotika, cocain dan

marihuana) yang dikonsumsi oleh ibu hamil dapat melewati


plasenta dan dapat mengganggu perkembangan janin. Dampak

29 | P a g e

dari hal ini sulit ditentukan oleh karena selain obat ilegal,
pasien biasanya juga adalah perokok atau peminum alkohol.
Pertumbuhan janin cenderung terhambat dan mengalami
kelainan

kongenital

tertentu,

Seringkali

mengakibatkan

terjadinya persalinan preterm dan anak yang dilahirkan dapat


menunjukkan sindroma withdrawal.

I. FUNGSI ENDOKRIN PLASENTA


Sejumlah

besar

hormon

dihasilkan

oleh

plasenta.

Termasuk diantaranya hormon yang analog dengan hormon


hipotalamus dan hipofisis serta hormon steroid. Sejumlah
produk juga dihasilkan oleh plasenta. Beberapa diantaranya
adalah glikoprotein seperti misalnya Pregnancy Associated
Protein A B C dan D, Pregnancy Specific Glycoprotein (SP1)
dan Placental Protein 5 (PP5). Peran dari bahan ini dalam
kehamilan masih belum jelas.
Hormon

Properti

Human Chorionic Somatotropin Serupa dengan Growth Hormon dan


hCS

Prolaktin

Human Chorionic Gonadotropin Stimulasi


hCG
Human Chorionic Gonadotropin
hCT
Corticotropin Releasing Hormon CRH

steroidogenesis

adrenal

dan plasenta. Analog LH


Analog dengan Thyrotropin
Seperti pada dewasa

30 | P a g e

Komplek.

Estrogen

Stimulasi

aliran

darah

dan pertumbuhan uterus

Progestogen

Implantasi dan relaksasi otot polos


Induksi sistem ensim dan maturasi

Adrenocorticoid

janin

Sejumlah produk plasenta dan metabolisme janin dapat


digunakan

untuk

skrining

penyakit

janin.

Pengukuran

alfafetoprotein yang dihasilkan oleh hepar, usus dan yolc sac


janin dapat digunakan untuk deteksi sejumlah kelainan
anatomi. Bersama dengan penentuan serum hCG maternal,
dapat diperhitungkan terjadinya trisomi.

VI.

PERSALINAN
A. PENGERTIAN
1. Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup
dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Sarwono,
1999: 180)
2. Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uteri)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan
melalui jalan lahir atau melalui jalan lain tanpa bantuan
(kekuatan sendiri) (Manuaba, 1998: 134)
B. FAKTOR DIMULAINYA PERSALINAN
Faktor
penyebab
dimulainya

persalinan

Menurut

Wiknjosastro (2007) faktor penyebab dimulainya persalinan


adalah :

31 | P a g e

1. Hormonal
Satu hingga dua minggu terjadi penurunan hormon
estrogen dan progesterone. Progesterone berfungsi sebagai
relaksasi otot polos, sehingga aliran darah berkurang dan
dapat menyebabkan pengeluaran ptostaglandin merangsang
dilepaskannya oksitosin. Faktor ini yang menyebabkan
kontraksi uterus.
2. Faktor syaraf
Pembesaran janin dan dan masuknya janin ke panggul
akan menekan dan menggesek ganglion servikalis yang
dapat menimbulkan kontraksi uterus.
3. Faktor kekuatan plasenta
Penurunan hormon progesterone

dan

estrogen

disebabkan karena plasenta yang mengalami degenerasi.


4. Faktor nutrisi
Hasil konsepsi segera dikeluarkan dikarenakan suplai
nutrisi yang berkurang.
5. Faktor partus
Partus dapat sengaja ditolong dengan menggunakan
oksitosin, amniotomo gagang laminaria.
VII.

NIFAS
A. PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA NIFAS
Pada masa nifas ini, terjadi perubahan-perubahan
anatomi dan fisiologis pada ibu. Perubahan fisiologis yang
terjadi sangat jelas, walaupun dianggap normal, di mana
proses-proses pada kehamilan berjalan terbalik. Banyak
faktor,

termasuk

tingkat

energi,

tingkat

kenyamanan,

kesehatan bayi baru lahir dan perawatan serta dorongan

32 | P a g e

semangat yang diberikan oleh tenaga kesehatan, baik dokter,


bidan maupun perawat ikut membentuk respon ibu terhadap
bayinya

selama

masa

nifas

ini

(Bobak,

2009).

Untuk

memberikan asuhan yang menguntungkan terhadap ibu, bayi


dan

keluarganya,

seorang

bidan

atau

perawat

harus

memahami dan memiliki pengetahauan tentang perubahanperubahan anatomi dan fisiologis dalam masa nifas ini dengan
baik.
1. Perubahan Sistem Reproduksi
Selama masa nifas, alat-alat interna maupun eksterna
berangsur-angsur kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahan keseluruhan alat genitalia ini disebut involusi.
Pada masa ini terjadi juga perubahan penting lainnya,
perubahan-perubahan yang terjadi antara lain sebagai
berikut :
a. Perubahan uterus
Pengerutan

uterus

merupakan

suatu

proses

kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil. Terjadi


kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal
ini

menyebabkan

iskemia

pada

lokasi

perlekatan

plasenta (plasenta site) sehingga jaringan perlekatan


antara plasenta dan dinding uterus, mengalami nekrosis
dan lepas. Ukuran uterus mengecil kembali (setelah 2
hari pasca persalinan, setinggi sekitar umbilikus, setelah
2 minggu masuk panggul, setelah 4 minggu kembali

33 | P a g e

pada ukuran sebelum hamil (Suherni, et al. 2009).


Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil di
sebut involusi.
Segera

setelah

persalinan

bekas

implantasi

plasenta berupa luka kasar dan menonjol ke dalam


cavum uteri. Penonjolan tersebut diameternya kira-kira
7,5 cm. Sesudah

2 minggu diameternya berkurang

menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam mengecil lagi


sampai 2,4 cm, dan akhirnya akan pulih. Di samping
itu, di cavum uteri keluar cairan sekret di sebut lokia.
Ada berapa jenis lokia menurut Suherni, et al. (2009)
yakni: lokia rubra/kruenta (merah): merupakan cairan
bercampur darah dan sisa-sisa penebalan dinding rahim
(desidua) dan sisa-sisa penanaman plasenta (selaput
ketuban), berbau amis. Lokia rubra berwarna kemerahmerahan dan keluar sampai hari ke-3 atau ke-4, Lokia
sanguinoleta: warnanya merah kuning berisi darah dan
lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan,
lokia serosa: berwarana kuning dan cairan ini tidak
berdarah lagi pada hari 7-14 pasca persalinan, lokia
alba: cairan putih yang terjadi pada hari setelah 2
minggu, lokia parulenta: Ini karena terjadi infeksi,
keluar cairan seperti nanah berbau busuk, lokiaotosis:
lokia tidak lancar keluarnya.

34 | P a g e

b. Perubahan vagina dan perineum


Perubahan vagina dan perineum pada masa nifas
ini terjadi pada minggu ketiga, vagina mengecil dan
timbul ragae (lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan)
kembali. Perlukaan vagina yang tidak berhubungan
dengan luka perineum tidak sering dijumpai. Mungkin
ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering
akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala
janin harus diputar. Robekan terdapat pada dinding
lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum.
Biasanya setelah melahirkan, perineum menjadi
agak bengkak/edema/memar dan mungkin ada luka
jahitan bekas robekan atau episiotomi, yaitu sayatan
untuk

memperluas

pengeluaran

bayi.

Proses

penyembuhan luka episiotomi sama seperti luka operasi


lain.

Perhatikan

tanda-tanda

infeksi

pada

luka

episiotomi seperti nyeri, merah, panas, bengkak atau


keluar cairan tidak lazim. Penyembuhan luka biasanya
berlangsung 2-3 minggu setelah melahirkan (Suherni, et
al. 2009).

Vagina yang semula teregang akan kembali

secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, 6 sampai 8


minggu setelah bayi lahir.
c. Organ Otot Panggul
Otot panggul pada masa nifas juga mengalami
perubahan. Struktur dan penopang otot uterus dan
vagina

dapat

mengalami

cedera

selama

waktu

35 | P a g e

melahirkan.

Hal

ini

dapat

meyebabkan

relaksasi

panggul, yang berhubungan dan pemanjangan dan


melemahnya topangan permukaan struktur panggul
yang menopang uterus, dinding vagina, rektum, uretra
dan kandung kemih (Bobak, 2009). Jaringan penopang
dasar panggul yang teregang saat ibu melahirkan akan
kembali ke tonus semula setelah enam bulan.
d. Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah

ibu

melahirkan dan 18 jam setelah melahirkan serviks akan


kembali ke bentuk semula dan konsistensinya menjadi
lebih padat kembali.
2. Perubahan pada Sistem Pencernaan
Ibu postpartum setelah melahirkan sering mengalami
konstipasi. Hal ini umumnya disebabkan karena makanan
padat dan kurangnya berserat selama persalian. Di
samping

itu

sehubungan

rasa
dengan

takut

untuk

jahitan

pada

buang

air

besar,

perineum,

jangan

sampai lepas dan juga takut akan rasa nyeri. Buang air
besar

harus

dilakukan

3-4

hari

setelah

persalian.

Bilamana masih juga terjadi konstipasi dan BAB mungkin


keras dapat diberikan obat laksan peroral atau per rektal.
3. Perubahan Perkemihan
Pada masa nifas, sistem perkemihan juga mengalami
perubahan. Saluran kencing kembali normal dalam waktu
2 sampai 8 minggu setelah melahirkan, tergantung pada

36 | P a g e

keadaan/status sebelum melahirkan. Menurut Saleha


(2009)

pelvis

ginjal

ureter

dan

yang

teregang

dan

berdilatasi selama kehamilan kembali normal pada akhir


minggu keempat setelah melahirkan.
4. Perubahan Tanda-Tanda Vital pada Masa Nifas
Pada ibu pasca persalinan, terdapat

beberapa

perubahan tanda-tanda vital sebagai berikut:


a. Suhu: selama 24 jam pertama, suhu

mungkin

meningkatkan

menjadi

38C,

sebagai

akibat

meningkatnya kerja otot, dehidrasi dan perubahan


hormonal. Jika terjadi peningkatan suhu 38C yang
menetapkan 2 hari setelah 24 jam melahirkan, maka
perlu

dipikirkan

adanya

infeksi

sepsis

seperti

puerperalis (infeksi selama postpartum), infeksi saluran


edometritis

kemih,

(peradangan

pembengkakan payudara, dan lain-lain.


b. Nadi: Dalam periode waktu 6-7

endometrium),
jam

sesudah

melahirkan, sering ditemukan adanya bradikardia 50-70


kali permenit (normalnya 80-100 kali permenit) dan
dapat berlangsung sampai 6-10 hari setelah melahirkan.
Keadaan ini bisa berhubungan dengan penurunan
usaha

jantung,

mengikuti

penurunan

volume

darah

yang

pemisahan plasenta dan kontraksi uterus

dan peningkatan stroke volume. Takhikardi kurang


sering

terjadi,

bila

terjadi

hubungan

peningkatan

kehilangan darah.

37 | P a g e

c. Tekanan

darah:

selama

beberapa

jam

setelah

melahirkan, ibu dapat mengalami hipotensi orthostik


(penurunan 20 mmHg) yang ditandai dengan adanya
pusing segera setelah berdiri, yang dapat terjadi hingga
46 jam pertama. Hasil pengukuran tekanan darah
seharusnya tetap stabil setelah melahirkan. Penurunan
tekanan

darah

bisa

mengindikasikan

penyesuain

fisiologis terhadap penurunan tekanan intrapeutik atau


adanya hipovolemia sekunder yang berkaitan dengan
hemorhagi uterus.
d. Pernapasan: fungsi pernapasan ibu kembali ke fungsi
seperti saat sebelum hamil pada bulan ke enam setelah
melahirkan (Maryunani, 2009).
5. Perubahan dalam Sistem Kardiovaskuler
Pada kehamilan terjadi peningkatan sirkulasi volume
darah yang mencapai 50%. Perubahan volume darah
tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilanagn
daarh

selama

melahirkan

dan

mobilisasi

serta

pengeluaran cairan ekstravasekuler (Bobak, et.al 2005).


Mentoleransi kehilangan darah pada saat melahirkan
perdarahan

pervaginam

normalnya

400-500

cc.

Sedangkan melalui seksio caesaria kurang lebih 700-1000


cc. Bradikardia (dianggap normal), jika terjadi takikardia
dapat merefleksikan adanya kesulitan atau persalinan
lama dan darah yang keluar lebih dari normal atau

38 | P a g e

perubahan

setelah

melahirkan

(Saleha,

2009).

Pada

minggu ketiga dan keempat setelah bayi lahir, volume


darah biasanya menurun mencapai volume darah sebelum
hamil.
6. Perubahan dalam sistem Endokrin
Sistem endrokrin mengalami perubahan secara tibatiba selama kala IV persalinan dan mengikuti lahirnya
plasenta. Menurut Maryunani (2009) selama periode
postpartum,

terjadi

perubahan

hormon

yang

besar.

Selama kehamilan, payudara disiapkan untuk laktasi


(hormon

estrogen

dan

progesteron)

kolostrum,

cairan

payudara yang keluar sebelum produksi susu terjadi pada


trimester III dan minggu pertama postpartum. Pembesaran
mammae/payudara terjadi dengan adanya penambahan
sistem vaskuler dan limpatik sekitar mammae. Waktu yang
dibutuhkan hormon-hormon ini untuk kembali ke kadar
sebelum hamil sebagai ditentukan oleh apakah ibu
menyusui atau tidak. Cairan menstruasi pertama setelah
melahirkan biasanya lebih banyak dari normal, dalam 3
sampai 4 sirkulasi, seperti sebelum hamil.
7. Perubahan Berat Badan
Kehilangan/penurunan berat badan pada ibu setelah
melahirkan terjadi akibat lahir atau keluarnya bayi,
plasenta dan cairan amnion atau ketuban. Pada minggu

39 | P a g e

ke-7 sampai ke-8, kebanyakan ibu telah kembali ke berat


badan

sebelum

hamil,

sebagian

lagi

mungkin

membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk kembali


ke berat badan semula.
VIII.

FISIOLOGI LAKTASI
Laktasi

adalah

pengeluaran

ASI

suatu

proses

produksi,

yang membutuhkan

calon

sekresi,

ibu

yang

dan
siap

secara psikologi dan fisik, kemudian bayi yang telah cukup


sehat untuk menyusu, serta produksi ASI yang telah disesuaikan
dengan kebutuhan bayi, dimana volume ASI 500-800 ml/hari.
Ketika

bayi

oksitosin
saluran

menghisap

payudara,

hormon

yang

bernama

membuat ASI mengalir dari dalam alveoli melalui


susu

dibelakang

menuju

aerola

lalu

ke

reservoir

ke

dalam

susu
mulut

yang
bayi.

berlokasi
Pengaruh

hormonal bekerja melalui dari bulan ketiga kehamilan dimana


tubuh

wanita

memproduksi

hormon

yang

munculnya ASI dalam sistem payudara. ASI

menstimulasi
adalah

suatu

emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garamgaram


organik yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara
ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Perawatan payudara
dimulai dari kehamilan bulan 7-8 memegang peran penting
dalam

menentukan

perawatan

payudara

berhasilnya
yang

baik,

menyusui
ibu

tidak

bayi.

Dengan

perlu

khawatir

40 | P a g e

bentuk

payudaranya

akan cepat

berubah

sehingga

kurang

menarik dan puting tidak akan lecet sewaktu dihisap bayi.

A. HORMON YANG MEMPENGARUHI LAKTASI


Hormon-hormon yang mempengaruhi pembentukan ASI
adalah sebagai berikut : Mulai dari bulan ketiga kehamilan,
tubuh

wanita

memproduksi

hormon

yang

menstimulasi

munculnya ASI dalam sistem payudara:


1. Progesteron : mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran
alveoli.

Tingkat progesteron

sesaat

setelah

dan

melahirkan.

estrogen

Hal

produksi secara besar-besaran.


2. Estrogen : menstimulasi sistem

menurun

ini menstimulasi

saluran

ASI

untuk

membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan


dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap
menyusui.

Karena

itu,

sebaiknya

ibu

menyusui

menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen,


karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI.
3. Prolaktin : merupakan suatu hormon yang disekresi
oleh

glandula

penting

untuk

pituitari.

memproduksi

selama kehamilan.
plasenta
kadar

pada

Peristiwa

ini memiliki

peran

ASI,

dan

meningkat

lepas

atau

keluarnya

ahir proses persalinan akan membuat

estrogen

menurun

Hormon

sampai

dan

progesteron

tingkat

dapat

berangsur-angsur
dilepaskan

dan

41 | P a g e

diaktifkanya

prolaktin.

Peningkatan

prolaktin

akan

menghambat ovulasi. Kadar paling tinggi adalah ada


malam hari dan penghentian pertama pemberian air susu
dilakukan pada malam hari.
4. Oksitosin : mengencangkan
pada

saat

melahirkan

otot

halus

dalam

rahim

dan setelahnya, seperti halnya

juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin juga


mengencangkan

otot

halus

di

sekitar

alveoli

untuk

memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan


dalam proses turunnya susu let -down / milk ejection
reflex.
5. Human Placental Lactogen (HPL): Sejak bulan kedua
kehamilan,

plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang

berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan


areola

sebelum

melahirkan.Pada

keenam

kehamilan, payudara

Namun,

ASI

bisa

juga

bulan

siap

kelima

dan

memproduksi

ASI.

diproduksi

tanpa kehamilan

(induced lactation).
B. SIKLUS LAKTASI
1. Laktogenesis stadium 1 (kehamilan) : penambahan dan
pembesaran lobulus alveolus.
2. Laktogenesis stadium 2 (akhir

kehamilan

postpartum) : produksi ASI


3. Laktogenesis stadium 3 (galaktopoeisis)

2-3
mulai

hari
40

hari setelah berhenti menyusui.

42 | P a g e

C. PROSES PEMBENTUKAN LAKTOGENESIS


Laktogenesis

I : Pada

fase

terakhir

kehamilan,

payudara wanita memasuki fase Laktogenesis I. Saat itu


payudara
kental

memproduksi
yang

kolostrum,

kekuningan.

yaitu

berupa

cairan

itu,

tingkat

Pada saat

progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya.


Tetapi bukan merupakan masalah medis apabila ibu hamil
mengeluarkan

(bocor)

dan

juga

hal

ini

kolostrum

sebelum

lahirnya

bayi,

bukan indikasi sedikit atau banyaknya

produksi ASI sebenarnya nanti.


Laktogenesis II : Saat melahirkan, keluarnya plasenta
menyebabkan
estrogen,

dan

turunnya
HPL

tingkat

secara

hormon

tiba-tiba,

progesteron,

namun

hormon

prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI


besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II.
Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah
meningkat,

memuncak

dalam

periode

45

menit,

dan

kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam


kemudian.

Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di

dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga


keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengindikasikan
bahwa level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi
ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi,
namun level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.

43 | P a g e

Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol,


juga terdapat
tersebut

dalam

belum

proses

ini,

namun

diketahui.

peran

Penanda

hormon

biokimiawi

mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar


30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru
merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari)
setelah

melahirkan.

Artinya,

memang

produksi

ASI

sebenarnya tidak langsung setelah melahirkan. Kolostrum


dikonsumsi

bayi

sebelum

ASI

sebenarnya.

Kolostrum

mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi


daripada ASI sebenarnya, khususnya tinggi dalam level
immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi
yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA
ini juga mencegah alergi makanan. Dalam dua minggu
pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan-pelan hilang
dan tergantikan oleh ASI sebenarnya.
Laktogenesis III : Sistem

kontrol

hormon

endokrin

mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari


pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil,
sistem kontrol autokrin dimulai.

Fase ini dinamakan

Laktogenesis

apabila

III.

Pada

tahap

ini,

ASI

banyak

dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak


pula. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara
dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan

44 | P a g e

taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat


dipengaruhi

seberapa

sering

dan

seberapa

baik

bayi

menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan.

D. REFLEKS PROLAKTIN
Refleks pembentukan atau produksi ASI. Rangsangan
isapan bayi melalui serabut syaraf akan memacu hipofise
anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin ke dalam
aliran darah.

Prolaktin memacu sel kelenjar untuk sekresi

ASI. Makin sering bayi menghisap makin banyak prolaktin


dilepas oleh hipofise, makin banyak pula ASI yang diproduksi
oleh sel kelanjar, sehingga makin sering isapan bayi, makin
banyak produksi ASI, sebaliknya berkurang isapan bayi
menyebabkan produksi ASI kurang. Mekanisme ini disebut
mekanisme supply and demand. Efek lain

dari

prolaktin

yang juga penting adalah menekan fungsi indung telur


(ovarium). Efek penekanan ini pada ibu yang menyusui
secara eksklusif adalah memperlambat kembalinya fungsi
kesuburan dan haid. Dengan kata lain, memberikan ASI
eksklusif pada bayi dapat menunda kehamilan.
E. REFLEKS OKSITOSIN
Reflek pengaliran atau pelepasan ASI

(let down reflex)

setelah diproduksi oleh sumber pembuat susu, ASI akan


dikeluarkan

dari sumber

pembuat susu dan dialirkan ke

45 | P a g e

saluran
halus

susu. Pengeluaran ASI ini terjadi karena sel otot


di

sekitar

kelenjar

payudara

mengerut

sehingga

memeras ASI untuk keluar. Penyebab otot-otot itu mengerut


adalah

suatu

hormon

yang

dinamakan

oksitoksin.

Rangsangan isapan bayi melalui serabut syaraf memacu


hipofise posterior untuk melepas hormon oksitosin dalam
darah. Oksitosin

memacu

sel-sel

myoepithel

yang

mengelilingi alveoli dan duktuli untuk berkontraksi, sehingga


mengalirkan ASI dari alveoli ke duktuli menuju sinus dan
puting. Dengan demikian sering menyusui penting untuk
pengosongan

payudara

agar

tidak

terjadi

engorgement

(payudara bengkak), tetapi justru memperlancar pengaliran


ASI.

F. REFLEKS LAKTASI
Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan,
yaitu refleks prolaktin dan reflek saliran yang timbul akibat
perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.
Pada saat menyusui akan terjadi beberapa refleks
pada ibu dan bayi yang penting pengaruhnya terhadap
kelancaran menyusui. Refleks yang terjadi pada ibu yaitu
rangsangan yang terjadi sewaktu bayi menghisap puting
susu diantaranya :
1. Refleks Prolaktin

46 | P a g e

Refleks

prolaktin

mengeluarkan

hormon

(rangsangan
prolaktin),

ke

otak

hormon

untuk

ini

akan

merangsang sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi


ASI. Makin sering bayi menghisap, makin banyak prolaktin
yang lepas makin banyak pula ASI yang diproduksi. Maka
cara yang terbaik mendapatkan
banyak

ASI

dalam

jumlah

adalah menyusui bayi sesering mungkin atau

setidaknya

menempelkan puting susu ibu pada mulut

bayi untuk bisa dihisap bayinya. Saat lepasnya plasenta


dan berkurangnya fungsi korpus luteum maka estrogen
dan progesterone juga berkurang.
Hisapan bayi akan merangsang puting susu dan
payudara,
berfungsi

karena

ujung-ujung

sebagai

reseptor

saraf

mekanik.

sensoris

yang

Rangsangan

ini

dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis


hipotalamus

dan

akan

menekan

pengeluaran

faktor

penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang


pengeluaran

faktor

pemicu

sekresi

prolaktin

akan

merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin.


Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi
untuk membuat air susu. Kadar
menyusui
melahirkan

akan

menjadi

prolaktin pada

normal 3

sampai penyapihan

ibu

bulan setelah

anak dan pada saat

tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada

47 | P a g e

isapan bayi, namun

pengeluaran

air susu tetap

berlangsung.
Pada

ibu nifas

prolaktin akan

yang tidak

menjadi normal

menyusui,

pada

kadar

minggu ke 23.

Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat


dalam keadaan seperti : stress atau pengaruh psikis,
anastesi, operasi dan rangsangan puting susu.

48 | P a g e