You are on page 1of 3

PROPOSAL PEMILIHAN DOSEN TUGAS AKHIR

Nama : Teddie Gunawan Wijaya


NIM : 02220120065
Pilihan Dosen :
Prioritas 1: Dennis Indramawan ( Adaptive Re-use )
Prioritas 2: Realrich Syarief ( Investigating Poetic Architecture Approach )
Judul Tulisan : Enhancing Building Experience Through the Use of Natural Lighting
Waktu merupakan salah satu dimensi yang tidak dapat lepas dari praktik berarsitektur,
terutama kaitannya dengan pencahayaan alami. Sebuah ruang dapat memberikan pengalaman
ruang yang berbeda (ambience) ketika terpapar oleh waktu yang berbeda. Cahaya natural adalah
salah satu sumber cahaya alami yang hampir pasti selalu memberikan dampak positif bagi
bangunan. Melalui media bayang bayang yang akan terus bergerak karena waktu, interaksi
antara cahaya dan struktur sebuah bangunan juga dapat berperan sebagai generator sebuah
pernaungan dan sebuah karya seni secara sekaligus. Oleh karena itu, cahaya dapat dikatakan
sebagai kontributor utama keindahan sebuah bangunan. Cahaya natural dapat dilihat sebagai
katalisator arsitektural untuk mencapai kualitas pengalaman sebuah ruang yang lebih tinggi.
Puisi dan Arsitektur merupakan dua buah hal yang berbeda, tetapi juga sama di saat yang
sama. Sama halnya seperti sebuah puisi memiliki kata dan mengomposisikannya untuk
menciptakan sebuah perasaan tertentu, arsitektur juga memiliki bahasanya sendiri dan caranya
sendiri untuk menciptakan pengalaman ruang tertentu. Sama seperti cara puisi menyusun kata
demi kata menjadi kalimat, baris, bait menjadi sebuah puisi yang utuh, arsitektur pun meletakkan
titik, merangkai garis, mengomposisikan bentuk, serta mengatur hubungan satu elemen dengan
elemen lainnya sehingga menghasilkan sebuah suasana ruang yang baik. Sebuah puisi bermain
dengan tempo, durasi, ritme dan pola. Arsitektur pun melakukan hal demikian. Mendikte jarak,
mengintegrasi fungsi dan struktur, mengomposisikan bentuk, mengatur gelap terang, semua
untuk menciptakan sebuah pengalaman ruang yang dinamis dan nyaman bagi para penggunanya.
Puisi berada pada level yang sama dengan arsitektur. Sama halnya dengan kumpulan kata tidak
sama dengan puisi, suara tidak sama dengan musik dan gambar tidak sama dengan lukisan,
arsitektur pun tidak dapat disamakan dengan bangunan.
A picture worth a thousand words. Kalimat tersebut menjadi sebuah ruang berpikir
dalam topik bahasan tentang poetic architecture. Image atau bayangan mental; perasaan spesifik
tersebutlah yang hendak diciptakan oleh poetic architecture. Poetic Architecture adalah sebuah
konsep arsitektural dimana bangunan bisa melebihi (transcend) dirinya sendiri. Konsep tersebut
terkait dengan indra penglihatan dan waktu; momen ketika sebuah bangunan bukanlah hanya
komposisi dari berbagai material ataupun sebuah tempat yang dapat disinggahi, melainkan
menjadi sebuah jejak yang membekas di dalam pikiran penggunanya. Menjadi monumen memori

yang memiliki nilai tertentu bagi para penikmat ruang tersebut. Poetic Architecture berbicara
tentang kualitas sebuah ruang (space) dalam ranah estetika. Arsitektur memiliki karakteristik
ruang, skala, dan komposisi yang membedakan dirinya sebagai sebuah bentuk karya seni dalam
mempengaruhi penggunanya. Kreativitas, imajinasi, dan perasaan (feeling) merupakan aspek
yang hendak dimanipulasi atau dituju dengan media cahaya alami.
Poetic Architecture dan kaitannya dengan pencahayaan natural dianggap sebagai topik
yang menarik dan relevan dengan perkembangan arsitektur masa kini. Penelitian ini bertujuan
untuk mengeksplorasi pemanfaataan cahaya natural dan penerapannya dalam mencapai sebuah
kualitas ruang yang dinamis dan mampu memenuhi kebutuhan fungsionalnya, tanpa mengurangi
aspek estetika dan persepsi visual sebuah arsitektur.

PEMANFAATAN
CAHAYA NATURAL DALAM
PENINGKATAN
PENGALAMAN RUANG PADA BANGUNAN PERPUSATAKAAN
Keywords: architectural experience, natural lighting, library
Latar belakang Pendidikan penting, definisi library
Masalah aristektur
Kaitannya dengan arsitektur sebagai seni
Human is fundamentally related to space.

KUALITAS