You are on page 1of 15

1

ANATOMI MANAJEMEN PENDIDIKAN


Secara umum pemahaman tentang: anatomi manajemen pendidikan.
Anatomi adalah:
1. Uraian yang mendalam tentang sesuatu.
2. Ilmu yang melukiskan letak dan hubungan bagian-bagian tubuh manusia, berbinatang atau tumbuh2an.
Berdasarkan pengertian di atas, maka anatomi manajemen pendidikan adalah uraian dan pemahaman yang
mendalam tentang hubungan ilmu manajemen dengan ilmu2 yang lain dalam bidang pendidikan.

manajemen

Pendidikan publik organisasi bisnis, partai,dll


1. prog pengembangan pendidikan
2. pelaksanaan pendidikan
3. sdm (guru/dosen/staf) pendidikan
4. kurikulum, tupoksi, sarana/prasarana, biaya, evaluasi, mutu dan
5. warga belajar siswa/mahasiswa/kelompok belajar luar sekolah.

Manajemen

Walaupun terdapat berbagai pendapat tentang pengertian manajemen, pada dasarnya Mempunyai makna yang kura
ng lebih sama.
Anajemen adalah suatu seni untuk mendapatkan segala sesuatu dilakukan orang lain
Manajemen merupakan praktik spesifik yang mengubah sekumpulan orang menjadi
Kelompok yang efektif, berorientasi pada tujuan dan produktif.

Manajemen merupakan suatu proses menggunakan sumber daya organisasi

untuk mencapai tujuan oganisasi melalui fungsi:planning, dan decision

making,

Organizing,

leading dan controlling.


Berkaitan dengan masalah manajemen pendidikan, baik pada tatanan Makro maupun mikro, rendahnya
efisiensi internal dan eksternal masih merupakamn masalah yang dihadapi bangsa kita saat ini. Lahirnya berbagai
masalah tersebut akan bermuara pada rendahnya mutu dan kinerja sistem pendidikan. Untuk itu perlu kajian yang
mendalam, terarah dan sistematik untuk menangani adanya masalah-masalah pendidikan kita.

1.

Latar belakang
.Pendidikan merupakan salah satu

investasi penting

bagi

setiap

negara

untuk

mewujudkan sdm bermutu, oleh karena itu pendidikan mutlak harus dilaksanakan.
2.
.Dunia pendidikan kita dewasa ini, mengalami 4 krisis utama yaitu: (1) kualitas, (2) relevansi
atau efisiensi eksternal, (3) elitisme, (4) manajemen. (tilaar, 2003).
3.
Secara global mutu pendidikan bangsa kita saat ini rendah, bila dibandingkan dengan negara
- negara tetangga di asean.
4.
Sorotan
yang paling tajam
masalah mutu output
5.
Depdiknas

dan mutu pengelolaan.


tahun 2002 mengisyaratkan

oleh paradigma baru pendidikan tinggi yaitu: (1)


akuntabilitas, (4)

terhadap kita
bahwa

saat

ini adalah

tuntutan mutu dipacu

kualitas yang berkelanjutan,

(2) otonomi, (3)

akreditasi dan (5) evaluasi.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 yaitu pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.
Lalu, dimensi-dimensi apa sajakah yang membangun atau mempengaruhi tatanan dunia pendidikan itu? Untuk
lebih jelasnya, berikut ini penulis akan menjelaskan satu demi satu dimensi-dimensipendidikan dan aplikasinya.
1. Dimensi Sosial dan Kultur
Sebagai mahluk sosial, manusia bergaul dengan sesamanya dalam arti bukan hanya sekadar berkomunikasi,
melainkan juga berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi manusia merupakan kebutuhan dasar setiap
individu dalam peranannya sebagai mahluk sosial (homo sapiens). Manusia membutuhkan manusia lain untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tasmara (2002:161) menyatakan tentang kandungan utama yang menjadi esensi budaya,

yaitu:
a. Budaya berkaitan erat dengan persepsi terhadap nilai dan lingkungannya.
b. Adanya pola nilai, sikap, tingkah laku (termasuk bahasa), hasil karya dan karsa, sistem kerja dan
teknologi.
c. Budaya merupakan hasil pengalaman hidup, kebiasaan-kebiasaan, serta proses seleksi terhadap normanorma.
d. Adanya interdependensi yaitu saling ketergantungan baik sosial, maupun, non sosial.
2. Dimensi Proses Belajar yang Efektif
Dalam proses pendidikan terdapat di dalamnya proses belajar. Ada tiga elemen yang perlu diperhatikan dalam
proses belajar yaitu siswa (learner), proses belajar, dan situasi belajar. Ketiga elemen ini tidak dapat dipisahkan
satu dengan yang lainnya.
Peserta didik atau siswa adalah subjek ajar yang berkepentingan memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan
sesuai dengan kebutuhannya. Tanpa subjek didik, proses belajar tidak pernah ada.
3. Dimensi Ekonomi dan Finansial
Proses pendidikan tidaklah mungkin terlepas dari dimensi ekonomi dan atau finansial (economic and financing
dimensions). Dikatakan demikian karena antara pendidikan dengan kondisi ekonomi masyarakat memiliki
hubungan yang konklusif. Saling mempengaruhi. Bila taraf pendidikan suatu bangsa tinggi, ada kecenderungan
income per kapitanya juga tinggi yang berarti Gross national productions (GNP)-nya pun tinggi. Atau dibalik, jika
kesejahteraan suatu bangsa tinggi, maka cost untuk pendidikannya pun dianggarkan cukup besar. Kondisi seperti
ini akan memberi peluang untuk memperoleh pendidikan yang maksimal.
4. Organizational Behaviour in Educations
Lembaga pendidikan sebagai sebuah organisasi yang memiliki suatu tujuan yang dinamis, akan mendorong para
pelaku pendidikan untuk mengadaptasi setiap aspek yang diarahkan pada pemenuhan tuntutan pendidikan. Para
pelaku pendidikan yang berlatar belakang berbeda-beda, jabatan berbeda, motivasi, dan kondisi ke-diri-an turut
mewarnai perilaku organisasi pendidikan.
5. Dimensi Politik
Sistem pendidikan sebenarnya merupakan strategi politik suatu bangsa dalam membangun negaranya. Maka
rasanya mustahil bila pendidikan bersih dari pengaruh politik. Dapat kita perhatikan, bagaimana perkembangan
dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, dari masa ke masa. Kontrol pemerintah yang sedang berkuasa akan

turut mewarnai dunia pendidikan. Terlebih lagi saat sistem pemerintahan didominasi secara absolut oleh sebuah
rejim, dunia pendidikan Indonesia berubah menjadi wadah pembentukan sikap mental yang diarahkan pada
kepentingan penguasa.
6. Dimensi Hukum dan Profesionalisme
Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah pembekalan life skill kepada siswa agar memiliki kemampuan atau
daya juang dalam menghadapi kehidupannya. Dalam agama Islam dijadikan sebagai kalimat doa yakni Robbana
atina fi dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa kinaa adzabannar. Artinya bagaimana generasi penerus kita
terlepas dari jerat hukum. Baik hukum negara, hukum masyarakat yang tidak tertulis, baik berupa adat kebiasaan,
maupun etika moral, dan tentu saja hukum agama.
Dengan demikian, dalam pendidikan para pelajar dibekali oleh orang dewasa (pendidik) tentang kesadaran hidup
sesuai dengan norma hukum. Dan sebagai sebuah proses, pendidikan juag diatur dengan hukum berupa peraturan
yang mengikat stake holder dalam rangka membangun proses pendidikan yang harmonis dan teratur. Uraian ini
menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak terlepas dari peraturan, perundangan, dan atau hukum sebagai alat
pengatur tata laksana pendidikan.
7. Dimensi Pengembangan Sumber Daya Manusia
Sebagai agen perubahan, sudah menjadi keharusan dunia pendidikan melakukan penelitian untuk meningkatkan
kinerjanya sebagai model pengembangan sumber daya manusia sekaligus sebagai bahan ajar yang dapat
dimanfaatkan untuk melakukan tugas, peranan dan fungsinya dalam mengembangkan sumber daya manusia yang
siap bersaing dalam menghadapi tekanan perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta era globalisasi.
Dunia pendidikan modern tidak hanya berfungsi sebagai wadah mentrasfer nilai-nilai kultur belaka. Karena para
ahli pendidikan modern memandang dunia pendidikan juga sebagai pusat atau agen perubahan.
Peserta didik memiliki dua sisi yaitu sebagai pelestari kultur bangsa, dan sebagai pembaharu kultur bangsa. Maka
dari itu, guru setidaknya memiliki wawasan yang luas tentang karakteristik kultur bangsanya, juga kapabelitas
teknologi masa kini. Diharapkan tidak ada guru yang berpandangan kolot bagai katak dalam tempurung. Tentu saja
tuntutan semacam ini imbasnya pada institusi sebagai lembaga pendidikan untuk menyediakan perangkat teknologi
yang dibutuhkan proses pembelajaran.
8. Dimensi Teknologi Informasi
Abad ke-20 disebut-sebut sebagai abad informasi. Pendapat ini muncul setelah informasi dirasakan begitu penting
sebagai sumber daya seperti sarana dan prasarana, tenaga, dan sebagainya. Informasi adalah data yang telah
diambil kembali atau diolah atau sebaliknya untuk tujuan informatif, atau kesimpulan argumentasi sebagai dasar
ramalan pengambilan keputusan. (Robert G. Murdick, John E. Roos/James R. Claggell). Sedangkan yang
dimaksud dengan teknologi informasi meliputi seluruh jenis teknologi yang memroses data, dan informasi seperti
telepon, satelit, radio, dan komputer.(Ade Cahayana).
Perkembangan teknologi informasi turut mempengaruhi sistem pendidikan baik nasional, maupun internasional.
Setiap aspek yang terkait dengan pendidikan, tata nilai, dan sistem juga berubah akibat dampak dari perkembangan
teknologi informasi. Bahkan saat ini, terutama di perkotaan, internet sudah jadi sumber pembelajaran yang handal.

Kecenderungan pemanfaatan internet (dunia maya) semakin hari semakin meningkat. Sehingga masyarakat
pemerhati pendidikan dapat menarik kesimpulan bahwa lembaga-lembaga pendidikan sudah saatnya melibatkan
diri sebagai pemeran dalam dunia maya tersebut. Jangan kaget, jika suatu ketika (ramalan penulis) bangunan
sekolah itu sudah tidak ada lagi karena transformasi pendidikan dilakukan melalui internet. Setiap siswa dapat
mengakses dan memiliki e-mail. Gurunya bahkan bukan hanya e-mail, mereka sudah buka warung berupa blog
yang bisa dikunjungi oleh para siswanya.
Kenyataan seperti ini sudah seharusnya disadari sebagai sebuah fenomena yang perlu ditanggapi oleh setiap pelaku
pendidikan. Diharapkan sekecil apapun fenomena itu, jika bermanfaat untuk kemajuan pendidikan itu sendiri,
maka tidak ada alasan untuk mengelak.
Namun demikian, masih banyak para pelaku pendidkan yang masih skeptis terhadap perubahan teknologi. Seakanakan perubahan yang diberlakukan itu sebagai sebuah hambatan. Padahal jika diselidiki, respons negatif itu
didasari oleh lemahnya pengetahuan, atau keterampilan yang terkait dengan teknologi tersebut. Masalah demikian
tentunya harus ditangani secara arif dan bijaksana oleh para pemimpin pendidikan agar masalah tersebut dapat
diatasi dan energinya dapat diubah menjadi energi positif.
Di sisi lain dunia pendidikan pun harus memenuhi kebutuhan proses yang terus berubah dengan menyediakan
sarana, prasarana, media, tenaga ahli, serta sumber daya lainnya, termasuk pelatihan guru. Aplikasi semacam ini
menegaskan bahwa pendidikan tidak akan bisa memisahkan diri dengan perkembangan teknologi yang justru
merupakan hasil proses pendidikan.

PERENCANAAN PENDIDIKAN
B. Perencanaan Pendidikan
1.

Penegertian Perencanaan (Planning)

Perencanaan pendidikan adalah proses menetapkan keputusan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan yang
akan dicapai, sumber-sumber yang akan diberdayakan, dan teknik/metode yang dipilih secara tepat untuk
melaksanakan tindakan selama kurun waktu tertentu agar penyelengaraan pendidikan dapat dilaksanakan
secara efektif, efisien, dan bermutu.Untuk memahami lebih detail dan komprehensif masalah perencanaan
pendidikan (education planning), terlebih dahulu dalam buku ini, akan dikemukakan pengertian perencanaan.
Departemen Pendidikan Nasional dengan tegas mengartikan, perencanaan berasal dari kata rencana yaitu suatu
proyeksi tentang apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sahih (valid) dan bernilai. Kaufman
mendefinisikan perencanaan sebagai suatu proses untuk menetapkan ke mana harus pergi dan
mengidentifikasikan prasyarat untuk sampai ke tempat itu dengan cara yang paling efektif dan
efisien. Griffin, mengemukakan bahw perencanaan berarti menetapkan tujuan organisasi dan memutuskan
bagaimana cara terbaik untuk mencapai-nya. Selanjutnya Swastha DH, mengemukakan bahwa perencanaan adalah
mencakup penetapan tujuan dan standar penentuan aturan dan prosedur, pembuatan rencana, dan ramalan yang
akan terjadi. Lebih luas lagi Cushway dalam bukunyaHuman Resource Management, mengemukakan bahwa
perencanaan merupakan upaya mengidentifikasi bentuk-bentuk metode yang akan dipergunakan, tugas-tugas yang
perlu dilaksanakan dan penentuan beberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan metode dan
tugas-tugas yang telah dipilih tersebut.
Sebagai disiplin ilmu, sebenarnya perencanaan belum lama berkembang. Perhatian banyak orang terhadap
perencanaan ini baru terlihat sejak terjadinya krisis ekonomi dan setelah perang dunia pertama, dimana saat itu
sumber ekonomi hampir semua negara di dunia menjadi lumpuh, sehingga usaha pada sektor pembangunan
negara-negara tersebut mengalaman kelangkaan sumber daya yang sangat dibutuhkan, dan kondisi ini sangat
mengkhawatirkan kelangsungan hidup manusia. Tentu saja keadaan yang seperti ini, memaksa para pemimpin dan
aparat pemerintahan untuk secara bijaksana mengarahkan perhatian dan usaha pembangu-nan negaranya. Untuk
maksud tersebut, tentu saja tujuan harus dirumuskan secara hati-hati, kegiatan yang akan dilaksanakan dan sumbersumber yang diperlukan harus diidentifikasi dan diberi prioritas utama, kendalah-kendala yang mungkin terjadi
harus diantisipasi secara cermat. Keharusan inilah yang menyebakan ilmu tentang perencanaan makin
lama mendapatkan tempat dan ruang yang berarti dalam setiap menentukan langkah-langkah kehidupan umat
manusia berbangsa dan bernegara.
Perencanaan biasanya berkenaan dengan pengembangan visi, misi, tujuan dan strategi, alokasi sumber daya
secara umum, lazimnya dinyatakan dalam struktur program dasar. Pada dasarnya apa yang ingin dicapai setiap
organisasi atau lembaga adalah bagaimana membuat rencana pencapaian sasaran dan rencana kegiatan yang benarbenar sesuai dengan arahan visi, misi, dan tujuan serta strategi yang telah ditetapkan oleh organisasi atau lembaga
yang bersang-kutan. Dalam dunia manajemen visi, merupakan suatu inovasi, terutama manajemen strategis, visi itu
perannya amat dominan terutama dalam proses mengambil suatu keputusan dan setiap pembuat kebijakan. Visi
merupakan atribut kunci kepemimpinan. Karena itu, statemen tentang visi harus ditetapkan oleh pimpinan
organisasi. Dari pengertian tentang visi tersebut diatas tersimpul makna bahwa visi merupakan salah satu
kunci sukses setiap aktifitas sebuah lembga, terutama dari sisi perspetif sumber daya manusianya, karena visi
merupakan atribut kunci kepemimpinan dan pembuat keputusan.
Mencermati dan menganalisis semua pernyataan tersebut di atas, dalam setiap kegiatan apapun namanya ada dua
tahap yang yang harus kita lakukan yaitu, pertama perencanaan, maksudnya tahap dimana tujuan ditetapkan,
mengidentifikasi dan memilih bagaimana cara-cara mencapai tujuan dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah
fungsi pertama di dalam manajemen. Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan, artinya dimana rencana yang telah

dibuat dan disusun dilaksanakan dalam bentuk program. Pada tahap ini sangat diperlukan pengetahuan dan
keahlian manaje-men. Setiap perencanaan ditentukan tujuan kongkrit organisasi, kelompok kerja, dan terus
dikembangkannya seluruh strategi untuk mencapainya. Disamping perencanaan ditentukan pula arah organisasi,
hal ini dimaksudkan untuk membantu bagaimana operasi dilaksanakan. Pada tahapan perencanaan, ditentukan
tujuan dan gabungan kerangka pembentukan organisasi termasuk sumber daya manusia dan aktivitas untuk
mencapai tujuan tersebut.
Bila dicermati secara seksama, konteks tersebut di atas terkandung bahwa perencanaan mempunyai tiga tahapan
mendasar, yaitu: (1) tahap pemikiran strategis, pada tahap ini berupaya untuk menentukan aspek intuitif
pengembangan visi, misi dan strategi yang akan dipergunakan sebagai inti penentu dalam pengem-bangan
organisasi/lembaga dalam mencapai tujuan akhir. (2) tahap perencanaan jangka penjang, pada tahap ini berupaya
mengkombinasikan pemikiran intuitif dengan pemikiran analisis, sehingga menghasilkan proyeksi-proyeksi
pemikiran analisis dan akan menghasilkan pula proyeksi-proyeksi pemikiran ke masa depan dalam rangka
mewujudkan visi, misi dan strategi. (3) tahap perencanaan taktis, pada tahap ini merupakan langkah-langkah
operasional taktis yang dipergunakan sebagai landasan tindakan-tindakan nyata sehari-hari dari organisasi/
lembaga tersebut.
Dipandang dari sudut pengertian, dan konsep dasar perencanaan, menurut Plunkett dan Attner, masalah ini meliputi
hal-hal yaitu : (1) apa yang akan dilakukan, (2) dimana posisi pengambil kebijakan dalam hubungannya untuk
mencapai tujuan, (3) faktor-faktor apa saja yang akan membantu proses untuk mencapai tujuan, (4) alternatif apa
saja yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan alternatif yang terbaik6.
Konsep dasar perencanaan seperti disebutkan di atas, secara kontekstual perencanaan itu sangat mempengaruhi
sumberdaya manusia dan mempengaruhi semua proses yang dilakukan oleh sumberdaya manusia itu.
Disamping itu pula perencanaan akan memberikan arahan kepada karyawan untuk apa semua itu dilakukan, dan
akan membantu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan dengan efektif. Dari beberapa
pengertian perencanaan sebagaimana telah dikemuka-kan di atas, maka fokus terpenting dapat disimpulkan yaitu
(1) menetapkan tujuan, (2) menganalisis tujuan, (3) menganalsis dan mengevaluasi lingkungan, (4) menetapkan
alternatif, (5) menetapkan pilihan yang terbaik, (6) menetapkan perencanaan yang matang dan (7) melakukan
pengendalian serta melaksanakan evaluasi hasil akhir.
Sebagai bahan perbandingan kita, masih banyak para ahli perencanaan yang mengemukan
pendapat mengenai istilah perencanaan (planning). H.L.M. Sadli dkk, (1994) perencanaan adalah proses dasar
(fundamen) dan suatu fungsi utama dari manajemen dalam hal memberikan kepada organisasi, cara memutuskan
suatu tujuan yang akan dicapai dalam menetapkan prosedur terbaik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Terkait
dengan pengertian tersebut prosedur perencnaan memungkinkan segala macam keahlian diikutsertakan di dalam
keputusan-keputusan tanpa adanya kesulitan yang dipaksakan oleh jalur-jalur otoritas di dalam organisasi.
Perencanaa

(planning) adalah

suatu

proses,

suatu

aktivitas. Sedangkan plan

(rencana)

adalah

suatu

kewajiban/perbuatan yang dianggap perlu untuk mencapai hasil tertentu, merupakan pedoman kearah mana
organisasi (pendidikan) tersebut akan bergerak. Pandangan lain mengatakan bahwa perencanaan disebut sebagai
kumpulan daripada keputusan-keputusan yang telah disepakati, karena di dalamnya mengandung beberapa
peraturan dalam penggunaan waktu, sumberdaya yang dimiliki, dan upaya untuk mewujudkan apa yang ingin kita
capai, menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, karena rencana adalah dasar pengendalian. Perencanaan
adalah proses yang tidak berakhir bila rencana itu telah ditetapkan. Perencanaan dibutuhkan disemua tingkatan dan
mempunyai dampak potensial terhadap suksesnya organisasi termasuk organisasi bidang pendidikan.

Dari beberapa pandangan para ahli perencanaan seperti disebutkan di atas, pengertian perencanaan mengandung
enam pokok pikiran sebagai berikut:
1. Perencanaan melibatkan proses penetapan keadaan masa depan yang diinginkan.
2. Keadaan masa depan yang diinginkan itu kemudian dibandingkan dengan keadaan sekarang, sehingga
dapat dilihat kesenjangannya.
3. Untuk menutup kesenjangan itu perlu dilakukan suatu usaha-usaha.
4. Usaha yang dilakukan untuk menutup kesenjangan itu dapat beraneka ragam dan merupakan alternatif
yang mungkin ditempuh.
5. Pemilihan alternatif yang paling baik, dalam arti yang mempunyai efektivitas dan efisiensi yang paling
tinggi, perlu dilakukan.
6. Alternatif yang dipilih itu harus diperinci sehingga dapat menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan
apabila akan dilaksanakan.
Berdasarkan teori dan fakta implementasi, bahwa perencanaan tidak dapat dipisahkan dengan proses, hal ini cukup
beralasan karena perencanaan itu sendiri merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan saling berhubungan
satu dengan yang lainnya. Dalam perencanaan, kegiatan dituntut suatu kreativitas untuk mewujudkan inovasi
dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan menyempurnakannya serta memiliki tanggung-jawab yang
tinggi baik secara pribadi maupun kelompok. Inti dari perencanaan adalah terjadinya proses dan diskusi, bukan
bergantung pada suatu dokumen. Hendaknya suatu proses perencanaan itu konsisten dengan kultur lembaga, hal
ini dimaksud-kan untuk menghindari jangan sampai terjadi suatu kegagalan. Dinamika budaya akademis terkadang
mengganggu suatu perencanaan yang efektif dan efisien, karena itulah kehandalan suatu perencanaan patut
diperhatikan.
Suatu proses dapat didefinisikan sebagai integrasi sekuensi dari orang, material, metode dan sarana prasarana,
dalam suatu lingkungan guna menghasilkan nilai tambah output untuk kepentingan bersama. Sehubungan dengan
kajian yang diteliti ini, untuk mempermudah menganalsis masalah-masalah yang dimaksudkan tersebut di atas,
Depdiknas memberikan rujukkan dalam buku yang berjudul Perencanaan Pendidikan, telah merinci dan
membedakan enam tahap proses perencanaan yaitu: pertama, tahap pra-perencanaan, kedua, perencanaan
awal, ketiga, formulasi rencana, keempat elaborasi rencana,kelima implementasi rencana, dan keenam evaluasi
perencanaan ulang .
a. Menurut, Prof. Dr. Yusuf Enoch
Perencanaan Pendidikan, adalah suatu proses yang yang mempersiapkan seperangkat alternative keputusan bagi
kegiatan masa depan yang diarahkan kepadanpencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan
mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu
Negara.

b. Beeby, C.E.
Perencanaan Pendidikan adalah suatu usaha melihat ke masa depan ke masa depan dalam hal menentukan
kebijaksanaan prioritas, dan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kenyataan kegiatan yang ada dalam bidang

ekonomi, social, dan politik untuk mengembangkan potensi system pendidikan nasioanal memenuhi kebutuhan
bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut.
c. Menurut Guruge (1972)
Perencanaan Pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan
pendidikan.
d. Menurut Albert Waterson (Don Adam 1975)
Perencanaan Pendidikan adala investasi pendidikan yang dapat dijalankan oleh kegiatan-kegiatan pembangunan
lain yang di dasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.
e. Menurut Coombs (1982)
Perencanaan pendidikan suatu penerapan yang rasional dianalisis sistematis proses perkembangan pendidikan
dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan
para peserta didik dan masyarakat.
f.

Menurut Y. Dror (1975)

Perencanaan Pendidikan adalah suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk kegiatan-kegiatan di
masa depan yang di arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan cara-cara optimal untuk pembangunan ekonomi
dan social secara menyeluruh dari suatu Negara.
Jadi, definisi perencanaan pendidikan apabila disimpulkan dari beberapa pendapat tersebut, adalah suatu proses
intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan
keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis
dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam
pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan
mendahului dan didahului oleh kegiatan lain.
Secara konsepsional, bahwa perencanaan pendidikan itu sangat ditentukan oleh cara, sifat, dan proses pengambilan
keputusan, sehingga nampaknya dalam hal ini terdapat banyak komponen yang ikut memproses di dalamnya.
Adapun komponen-komponen yang ikut serta dalam proses ini adalah :
1.

Tujuan pembangunan nasional bangsa yang akan mengambil keputusan dalam rangka kebijaksanaan

nasional dalam rangka kebijaksanaan nasional dalam bidang pendidikan.


2.

Masalah strategi adalah termasuk penanganan kebijakan (policy) secara operasional yang akan mewarnai

proses pelaksanaan dari perencanaan pendidikan. Maka ketepatan pelaksanaan dari perencanaan pendidikan.
Dalam penentuan kebijakan sampai kepada palaksanaan perencanaan pendidikan ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu : siapa yang memegang kekuasaan, siapa yang menentukan keputusan, dan faktor-faktor apa
saja yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan. Terutama dalam hal pemegang kekuasaan sebagai
sumber lahirnya keputusan, perlu memperoleh perhatian, misalnya mengenai system kenegaraan yang merupakan
bentuk dan system manajemennya, bagaimana dan siapa atau kepada siapa dibebankan tugas-tugas yang
terkandung dalam kebijakan itu. Juga masalah bobot u ntuk jaminan dapat terlaksananya perencanaan pendidikan.
Hal ini dapat diketahui melalui output atau hasil system dari pelaksanaan perencanaan pendidikan itu sendiri, yaitu
dokumen rencana pendidikan.
Dari beberapa rumusan tentang perencanaan pendidikan tadi dapat dimaklumi bahwa masalah yang menonjol
adalah suatu proses untuk menyiapkan suatu konsep keputusan yang akan dilaksanakan di masa depan. Dengan

demikian, perencanaan pendidikan dalam pelaksanaan tidak dapat diukur dan dinilai secara cepat, tapi memerlukan
waktu yang cukup lama, khususnya dalam kegiatan atau bidang pendidikan yang bersifat kualitatif, apalagi dari
sudut kepentingan nasional.
Urgensi Perencanaan Pendidikan
Dalam menetapkan perencanaan pendidikan secara garis besar memiliki keuntungan dari Pentingnya Perencanaan
Pendidikan. Dengan melakukan perencanaan pendidikan para pelaku pengembangan pendidikan dapat memberikan
bimbingan arah bagaimana perencanaan pendidikan dapat dijalankan baik sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan agar tidak melenceng, dimana tujuan perencanaan pendidikan merupakan orientasi tujuan yang akan
dicapai. Pentingnya perencanaan pendidikan juga berfungsi sebagai antisipasi terlebih dahulu terhadap hambatan
atau resiko yang akan di alami pada saat perencanaan pendidikan di implementasikan secara nyata, dengan
mengetahui itu maka para pelaku pengembangan pendidikan sudah mempersiapkan solusi yang terbaik terhadap
resiko yang akan dialami atau pun dapat meminimalisir resiko yang akan diterima nanti sehingga tujuan dari
perencanaan dapat dicapai dengan maksimal. Kesemuaan pentingnya perencanaan pendidikan dapat dijelaskan
pada tujuan perencanaan pendidikan dan manfaat perencanaan pendidikan.
Tujuan Perencanaan Pendidikan
Pada dasarnya tujuan perencanaan adalah sebagai pedoman untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Sebagai
suatu alat ukur di dalam membandingkan antara hasil yang dicapai dengan harapan. Dilihat dari pengambilan
keputusan tujuan perencanaan adalah :
1. Penyajian rancangan keputusan-keputusan atasan untuk disetujui pejabat tingkat nasional yang berwenang.
2. Menyediakan pola kegiatan-kegiatan secara matang bagi berbagai bidang/satuan kerja yang bertanggung jawab
untuk melakukan kebijaksanaan.
Tujuan perencanaan pendidikan menurut (Dahana, OP and Bhatnagar, OP. 1980; Banghart, F.W and Trull, A.
1990) Ada beberapa tujuan perlunya penyusunan suatu perencanaan pendidikan, antara lain:
1. Untuk mengetahui standar pengawasan pola perilaku pelaksana pendidikan, yaitu untuk mencocokkan antara
pelaksanaan atau tindakan pemimpin dan anggota organisasi pendidikan dengan program atau perencanaan yang
telah disusun. Dengan standar yang telah ditetapkan dapat dinilai sejauh mana perencaan pendidikan telah
dilasanakan dan apa saja yang perlu lebih diperbaiki.
2.

Untuk mengetahui kapan pelaksanaan perencanaan pendidikan itu diberlakukan dan bagaimana proses

penyelesaian suatu kegiatan layanan pendidikan. Perencanaan pendidikan memberikan secara jelas waktu yang
tepat dalam melaksanakan perencanaan pendidikan dapat di terapkan dengan pertimbangan bayak hal
pendukungnya agara dapat tercapai dengan baik. Kemudian juga dijelaskan bagaimana tahapan atau langkah yang
sistematis yang dilakukan dalam kegiatan perencanaan pendidikan seperti dengan cara memperatikan kemajuan
Teknologi Informasi, jumlah penduduk yang terus meningkat dan kebutuhan dunia kerja saat ini.
3.

Untuk mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya) dalam pelaksanaan program atau

perencanaan pendidikan, baik aspek kualitas maupun kuantitasnya, dan baik menyangkut aspek akademiknonakademik. Perencanaan pendidikan juga berfungsi dalam menetapkan siapa saja yang terlibat dalam
pelaksanaan perencanaan pendidikan dengan menempatkan seseorang dengan keahlian dan komposisi yang
dimiliki sehingga tidak terjadi salah penempatan posisi yang tidak sesuai dengan keahlian seseorang, dengan tujuan

10

agar semua pihak dapat menjalankan tugas atau fungsinya masing-masing dengan baik sehingga tujuan
perencanaan pendidikan dapat tercapai ke arah yang baik.
4. Untuk mewujudkan proses kegiatan dalam pencapaian tujuan pendidikan secara efektif dan sistematis termasuk
biaya dan kualitas pekerjaan. Dengan perencanaan pendidikan yang menempatkan seseorang pada posisi yang
sesuai dengan keahlian, hal ini akan memberikan keuntungan dikarenakan dapat memaksimalkan biaya dengan
membayar seorang pegawai dari hasil rekrut yang tepat untuk memenuhi kebutuhan yang akan menyebabkan
kualitas dari pekerjaan akan baik.
5. Untuk meminimalkan terjadinya beragam kegiatan yang tidak produktif dan tidak efisien, baik dari segi biaya,
tenaga dan waktu selama proses layanan pendidikan. Dengan perekrutan peagawai yang tepat dan sesuai dengan
kebutuhan dapat menghindari kegiatan atau pekerjaan yang tidak produktif dan tidak efisien dalam memanfaatkan
sumberdaya, biaya yang di keluarkan pun sesuaikan dengan anggaran, tenaga dan waktu yang diperlukan dilakukan
dengan efektif dan efisien.
6. Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh (integral) dan khusus (spefisik) tentang jenis kegiatan atau
pekerjaan bidang pendidikan yang harus dilakukan. Dalam perencanaan pendidikan dapat mendiskripsikan proses
dari seluruh rangkaian yang dilakukan dalam melaksanakan perencanaan pendidikan baik secara umum dan
khusus. Hal ini akan memberikan keuntungan dalam mempersiapkan semua yang dibutuhkan dan apa saja yang
mempengaruhi, manfaat dalam penerapan perencanaan pendidikan.
7. Untuk menyerasikan atau memadukan beberapa sub pekerjaan dalam suatu organisasi pendidikan sebagai
suatu sistem. Pentingnya perencanaan pendidikan dapat menghubungkan dari semua sub pekerjaan yang berbeda
tugas dan fungsinya, melalui perencanaan pendidikan semua sub pekerjaan tersebut dapat sailing dihubungkan dan
saling terkait dan membutuhkan dalam pencapaian tujuan sehingga semua menjadi satu kesatuan suatu sistem.
8.

Untuk mengetahui beragam peluang, hambatan, tantangan dan kesulitan yang dihadapi organisasi pendidikan.

Dengan melakukan perencanaan pendidikan,pelaku pendidikan dapat menganalisis peluang, hambatan, tantangan
dan kesuliatan melalui analisis SWOT. Dalam analisis SWOT terdapat faktor dominan dan faktor penghambat,
faktor dominan seperti kekuatan dan peluang yang dapat digunakan secara maksimal untuk mendukung dalam
mendukung tercapainya tujuan. Sedangkan faktor penghambat yaitu kelemahan dan tantangan, faktor ini juga
mempengaruhi dalam proses pelaksanaan pencapaian tujuan, apabila tidak direspon dengan baik faktor
penghambat ini akan menghasilkan resiko yang fatal dalam tercapainya tujuan perencanaan pendidikan.
9.

Untuk

mengarahkan

proses

pencapaian

tujuan

pendidikan

Fungsi dan Manfaat perencanaan pendidikan


Fungsi

perencanaan

adalah

sebagai

pedoman

pelaksanaan

dan

pengendalian,

sebagai

alat

bagi

pengembangan quality assurance, menghindari pemborosan sumber daya, menghindari pemborosan sumber daya,
dan sebagai upaya untuk memenuhiaccountability kelembagaan. Jadi yang terpenting di dalam menyusun suatu
rencana, adalah berhubungan dengan masa depan, seperangkat kegiatan, proses yang sistematis, dan hasil serta
tujuan tertentu
Manfaat perencanaan pendidikan. Menurut , (Depdiknas. 1997; Soenarya, E. 2000; Depdiknas, 2001) ada beberapa
manfaat dari suatu perencanaan pendidikan yang disusun dengan baik bagi kehidupan kelembagaan, antara lain:
1.

Dapat digunakan sebagai standar pelaksanaan dan pengawasan proses aktivitas atau pekerjaan pemimpin dan

anggota dalam suatu lembaga pendidikan. Dalam membuat sutau perencanaan, hal ini sudah menjadi standar yang
berarti semua aktivitas kegiatan harus berdasarkan pada perencanaan yang telah di buat.

11

2. Dapat dijadikan sebagai media pemilihan berbagai alternatif langkah pekerjaan atau strategi penyelesaian yang
terbaik bagi upaya pencapaian tujuan pendidikan. Manfaat perencanaan pendidikan juga untuk mempersiapkan
berbagai alternatif dari rencana serangkaian kegiatan apabila terdapat kesalahan yang tidak dikehendaki sehingga
dapat diatasi dengan cepat dan tepat dengan menggunakan alternatif yang telah disiapkan.
3.

Dapat bermanfaat dalam penyusunan skala prioritas kelembagaan baik yang menyangkut sasaran yang akan

dicapai maupun proses kegiatan layanan pendidikan.


4.

Dapat mengefisiensikan dan mengefektifkan pemanfaatan beragam sumber daya organisasi atau lembaga

pendidikan. Dari pemanfaatan sumberdaya perencanaan pendidikan juga menganalisis pemanfaatan sumberdaya
yang dibutuhkan dengan seefisien dan seefektif mungkin untuk menghindari penggunaan sumberdaya yang
berlebihan.
5.

Dapat membantu pimpinan dan para anggota (warga sekolah) dalam menyesuaikan diri terhadap

perkembangan atau dinamika perubahan sosial-budaya. Dengan dilakukan perencanaan pendidikan semua pihak
yang terkait didalamnya seperti warga sekolah diharapakan ikut berpartisipasi dalam mendukung pelaksanaan
perenacanaan pendidikan sesuai dengan posisinya masing-masing.
6. Dapat dijadikan sebagai media atau alat untuk memudahkan dalam berkoordinasi dengan berbagai pihak atau
lembaga pendidikan yang terkait, dalam rangka meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Melalui perencanaan
pendidikan yang telah menjadi tujuan bersama maka perencanaan pendidikan dapat dijadikan sebagai alat
berkoordinasi dalam melaksanakan tugas bagian masing-masing
7.

Dapat dijadikan sebagai media untuk meminimalkan pekerjaan yang tidak efisien atau tidak pasti. Salah satu

resiko dari pelaksanaan perencanaan pedidikan terjadinya pekerjaan yang tidak efisien, melalui perencanaan
pendidikan dapat di antisipasi pekerjaan yang tidak efisien mealaui perencanaan yang baik.
8. Dapat dijadikan sebagai alat dalam mengevaluasi pencapaian tujuan proses layanan pendidikan. Suatu
gambaran tentang tujuan yang akan dicapai yang mana didalamnya terdapat bagaimana proses yang dilakukan.

Ada beberapa tipe atau jenis perencanaan dalam pendidikan. Pertama yaitu tipe atau jenis perencanaan yang
ditinjau dari dari segi ruang lingkupnya ada tiga yaitu perencanaan mikro, perencanaan meso dan perencanaan
makro. Kedua adalah tipe atau jenis perencanaan ditinjau dari segi waktu yang dapat dibagi menjadi tiga juga yaitu
perencanaan jangka pendek , perencanaan jangka menengah dan juga perencanaan jangka panjang. Dan yang
selanjutnya yaitu ketiga perencanaan ditinjau dari segi sifatnya dapat dibagi menjadi tiga juga yaitu tipe atau jenis
perencanaan strategi dan operasi.
A. Menurut Besaranya atau segi ruang lingkup
1.

Perncanaan Makro

Perencanaan makro adalah perencanaan yang menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan ditempuh, tujuan yang
ingin dicapai dan cara-cara mencapai tujuan itu pada tingkat nasional. Rencana pembanguna nasional dewasa ini
meliputi rencana dalam bidang ekonomi dan social. Dipandang dari sudut perencanaan makro, tujuan yang harus
dicapai Negara (khususnya dalam bidang peningkatan SDM) adalah pengembangan system pendidikan untuk
menghasilkan tenaga pembangunan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif pendidikan harus
menghasilkan tenaga yang cukup banyak sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Sedangkan secara kualitatif

12

harus dapat menghasilkan tenaga pembangunan yang terampil sesuai dengan bidangnya dan memiliki jiwa
pancasila.
2. Perencanaan meso
Kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada tingkat makro, kemudian dijabarkan kedalam program-program yang
bersekala kecil.pada tingkatamnya perencanaan sudah lebih bersifat operasional disesuaikan dengan depertem,en
dan unit-unit
3. Perencanaan mikro
Perencanaan mikro diartikan sebagai perencanaan pada tingkat instituisional dan merupakan penjabran dari
perencanaan tingkat mesokhususan dari lembaga mendpatkan perhatian, namun tidak boleh bertentangan dengan
apa yang telah ditetapkan dalam perencanaan makro ataupun meso.
B. menurut tingkatannya
1. perencanaan strategic
Perencanaan strategic disebut juga dengan perencanaan jangka panjang. Strategi itu menurut R.G. Muurdick
diartikan sebagai konfigurasi tentang hasil yang diharapkantercapai pada masa depan. Bentuk konfigurasi
terungkap berdasarkan:
1.

Ruang lingkup

2.

Hasil persaingan

3.

Target

4.

Penataan sumber-sumber

Perencanaan strategic digunakan untuk mengatakan suatu lingkup perencanaan yang lebih general disamping
adanya beberapa jenis perencanaan lain yang disebut stainer. Pengertian perencanaan strategic yaitu proses
pendayagunaan sumber-sumber dan strategi yang mengatur pengadaan dan pendayagunaan sumber untuk
pencapain tujuan .
Hal tersebut bertujuan untuk mencari bentuk dan identitas pada masa yang akan datang dengan mempertimbangkan
berbagai kompleks dalam suatu system. Berdasarkan hal diatas, metode penelaah dan pemecahan masalah
didasarkan atas kerangka ini mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut:
1.

Sistematik dan sistemik

2.

Berorientasi pada output dan konfigurasi keinginan

3.

Mempunyai tujuan menyeluruh

4.

Berdimensi jangka panjang, menengah, dan pendek

5.

Menerapkan metode keilmuan analisi teoretik dan empiric dengan program pengembangan.

6.

Rencana operasional terjabar kedalam proyek dan program

7.

Berlandaskan kebijakan

8.

Memperhitungkan norma dan kaidah

13

9.

Mempunyai pola input, proses, output dengan informasi umpan balik.

2. perencanaan koordinatif
Perencanaan koordinatif ditunjukan untuk mengarahkan jalannya pelaksanaan, sehingga tujuan yang telah
ditetapkan itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Perencanaan ini mempunyai cangkupan semua aspek
operasi suatu system yang meminta di taatinya kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkanpada tingkat perencanaan
strategic.
Sedangkan ada pendapat lain yang menyimpulkan yang hampir sama dengan pengertian diatas yaitu menurut
dalam buku system informasi manajemen dan perencanaan pembangunan pendidikan yang disusun Idocdi Anwar,
dkk yang dikutip dari

H. Ozbehkan (D. Cleland & W.R king. 1975, Hal, 31) mengemukaka tiga jenis

perencanaan, yaitu: polici planning. Strategic planning dan operational planning.


1.

Perencanaan strategis berbagai upaya untuk mempersiapkan seperangkat desisi dimasa yang akan datang
yang mempengaruhi keseluruhan kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu organisasi

2.

Perencanaan taktis adalah sebagai upaya dalam mempersiapkan berbagai desisi untuk kegiatan-kegiatan
jangka pendek terutama dalam mengalokasi berbagai sumber yang diperlukan dalam pencapaian tujuan

3.

Perencanaan teknis adalah proses upaya untuk mempersiapkanberbagai desisi untuk dilaksanakan terutama
dalam jangka waktu yang pendek dan untuk pelaksanaan tugas-tugas yang spesifik dalam rangka pencapaian
tujuan yang sudah pasti (target-target)

C. menurut jangka waktunya


1. perencanaan jangka pendek
Perencanaan jangka pendek adalah perencanaan tahunan atau perencanaan yang dibuat untuk dilaksanakan dalam
waktu kurang dari 5 tahun, sering disebut sebagai rewncana operasional. Perencanaan ini merupakan penjkabaran
dari rencana jangka menengah dan jangka panjang.
2. perencanaan jangka menengah
Perencanaan jangka menengah mencakup kurun waktu diatas 5-10 tahun. Perencanaan ini penjabaran dari rencana
jangka panjang, tetapi sudah lebih bersifat operasional.
3. Perencanaan jangka panjang
Perencanaan jangka panjang meliputi cakupan waktu diatas 10 tahun sampai dengan 25 tahun. Perencanaan ini
memiliki jangka menengah, lebih-lebih lagi jika dibandingkan dengan perencanaan jangkla pendek. Dengan
demikian perencanaan tahunan bukan hanya sekedar pembabakan dari rencana 5 tahun, tetapi merupakan
penyempurnaan dari rencana itu sendiri.
Kegiatan-kegiatan apakah yang terdapat dalam penyusunan rencana tahunan ? secara garis besar jenis kegiatan dan
tahapannya meliputi sebagai berikut:
1.

Penyusunan kebijakan umum

14

2.

Penyusunan kebijakan teknis

3.

Penyusunan rancangan penyesuaian kebijaksanaan

4.

Penyempurnaan program

5.

Penyusunan uraian kegiatan operasional proyek-proyek (UKOP)

6.

Identifikasi proyek

7.

Penyusunan pra-DUP (daftar Usulan Proyek)

8.

Penyusunan DUP Depdikbud

9.

Pembahasan DOP, antara Depdikbud, Bapenas dan Departemen Keuangan

10. Penyusunan UKOP


11. Penyusunan Pra-DIP (Daftar Isian Proyek)
12. Pembahasan Pra-DIP, antar Depdikbud, Bappenas, dan Dirjen Anggaran
13. Penyempurnaan UKOP
14. Penyeleseian DIP (dari konsep DIP yang telah disetujui)
D. Jenis perencanaan berdasarkan sifatnya
Jenis perencanaan berdasarkan sifat dibagi atas :
1.

Perencanaan Strategik, perencanaan yang berhubungan dengan proses penetapan tujuan , pengalokasian
sumber sumber untuk mencapai tujuan dan kebijakan kebijakan yang dipakai sebagai pedoman untuk
memperoleh, menggunakan atau menghilangkan hal hal tersebut. Perencanaan strategis cenderung
dipusatkan pada masalah masalah yang tidak begitu terstruktur yang melibatkan variable variable yang
jumlahnya banyak dan parameter yang tidak pasti.
1.

Perencanaan Manajerial, perencanaan yang ditujukan untuk mengarahkan jalannya pelaksanaan,


sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

2.

Perencanaan Operasional, yang memusatkan perhatian pada apa yang akan dikerjakan pada tingkat
pelaksanaan
Jenis

di
perencanaan

lapangan
berdasarkan

dari

suatu
sektor

rencana
dibagi

manajerial.
atas

Perencanaan Nasional, proses penyusunan perencanaan berskala nasional sebagai konsensus dan
komitmen seluruh rakyat yang terarah, terpadu, menyeluruh untuk mencapai masyarakat adil dan
makmur.
3.

Perencanaan Regional, yang juga disebut dengan perencanaan daerah atau wilayah, diantaranya
Propeda dan perencanaan pendidikan di tingkat propinsi, kabupaten /kota.

4.

Perencanaan Tata Ruang, perencanaan yang mengupayakan pemanfaatan fungsi kawasan tertentu,
mengembangkan secara seimbang , baik secara ekologis, geografis maupun demografis.

E. Hubungan antar tipe-tipe atau jenis-jenis perencanaan


Tipe-tipe perencanaan baik dari segi waktu, ruang lingkup, maupun dari segi sifat ada kaitanya satu dengan yang
lainya. Perencanaan jangka panjangberkaitan erat dengan tipe-tipe ruang lingfkup terutama perencanaan mikro

15

dengan perencanaan operasional. Perencanaan jangka panjang sifatnya umum dan fleksibel, hamper sama dengan
perencanaan strategi yang sifatnya juga belum spesifik.
Perencanaan operasional pada umumnya dilakukan dengan jangka pendekyang mencakup perencanaan makro,
meso maupun mikro. Perencanaan operasional berjangka pendek ini palin jelas tampak pada perencanaan mikro
sebab ia bergerak dalam wilayah yang sangat kecil.
Sedangkan Perancanaan itu sendiri adalah seperangkat prosedur untuk memecahkan permasalahan fisik, social,
dan ekonomi, yang harus meliputi prinsip-prinsip sebagai berikut: Seperangkat tindakan Upaya untuk
memecahkan masalah, Memiliki dimensi waktu dan berorientasi ke masa yang akan datang Suatu proses
berputar dengan adanya umpan balik , Melibatkan beberapa alternatif untuk mencari pemecahan Dari definisi
atau pengertian tentang perencanaan tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa perencanaan tersebut disusun agar
dapat menuju kearah yang lebih baik, walaupun demikian tidak semua perencanaan tersebut berjalan sesuai
rencana, terkadang sesuatu yang telah kita perhitungkan dengan matang, tapi pada kenyataanya kadang kala
terdapat masalah yang diluar perkiraan kita, oleh karena itulah perencanaan tersebut akan terus dievaluasi dalam
kurun waktu tertentu agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.
Kebijakan yang sering berganti-ganti bukanlah satu-satunya penyebab rendahnya mutu pendidikan saat ini, ada
banyak faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan, diantara faktor-faktor tersebut misalnya
adalah rendahnya kualitas/profesionalisme guru selaku tenaga pendidik, kurangnya sarana prasarana pendidikan,
kurangnya perhatian orang tua/partisipasi masyarakat juga dapat menyebabkan rendahnya mutu pendidikan.
Rendahnya kualitas/profesionalisme guru dapat disebabkan karena banyak sekali guru yang tidak fokus kepada
profesinya dikarenakan rendahnya income yang diperoleh guru tersebut, hingga mereka mengajar hanya untuk
memenuhi kewajiban saja, mereka tidak mempunyai beban moral atau tanggung jawab untuk mencerdaskan anak
didik mereka, karena yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat mencari penghasilan tambahan
untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hariKarena itulah perubahan kebijakan yang dilakukan ditengah jalan
sebaiknya seminimal mungkin kalau bisa dihindarkan, hingga tidak menjadikan salah satu penyebab rendahnya
mutu pendidikan.
Hudson menunjukkan 5 proses perencanaan yaitu radical, advocacy, transactive, synoptic, dan incremental yang
dikatakan sebagai taxonomy. Perencanaan partisipatori berarti perencanaan yang melibatkan beberapa yang
berkepentingan dalam merencanakan sesuatu yang dipertentangkan dengan merencanakan yang hanya dibuat oleh
seseorang atau beberapa orang atas dasar wewenang kedudukan, seperti perencana di tingkat pusat kepala-kepala
kantor pendidikan di daerah.