You are on page 1of 5

HUBUNGAN PARAMETER ENTOMOLOGI (HOUSE INDEX, CONTAINER

INDEX DAN BRETEAU INDEX) TERHADAP ANGKA KEJADIAN DEMAM


BERDARAH DENGUE DI PUSKESMAS GAMBIRSARI SURAKARTA
Mega Aini, Amalia Salim, Windhy Monica, Berlian Adji, Hera Amalia
1

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami 36 A,
Surakarta, 57126, Indonesia

Abstrak
Surakarta merupakan daerah endemis penyakit DBD. Dari lima kecamatan yang ada semua merupakan
daerah endemis. Salah satu faktor risiko terjadinya DBD adalah kepadatan vektor yang tinggi.
Keberadaan larva Aedes aegypti di suatu daerah merupakan indikator terdapatnya populasi nyamuk yang
berperan dalam penularan DBD sehingga House Index (HI), Container Index (CI), dan Breteau Index (BI)
yang menjadi parameter entomologis perlu dinilai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis parameter
entomologi (HI, CI dan BI) dengan angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari
Surakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah rumah warga yang terjaring dalam program PSN di
Kelurahan Kadipiro. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa laporan hasil pemeriksaan
PSN yang dilakukan oleh kader-kader yang telah ditunjuk oleh Puskesmas Gambirsari Surakarta. Tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara nilai parameter entomologi terhadap angka kejadian DBD di
Puskesmas Gambirsari Surakarta.
Kata kunci: Parameter entomologi, Demam berdarah dengue

Abstract
The Relationship of Entomologic Parameters to The Incidence of Dengue Hemorrhagic Fever at
Gambirsari Primary Health Care in Surakarta. Surakarta is an endemic area of dengue hemorrhagic
fever (DHF). All of five districts are an endemic area. One of the risk factors for DHF is a high vector
density. The existence of Aedes aegypti larvae in an area is an indicator of the presence of mosquito
populations that play a role in transmission of dengue fever, so that the House Index (HI), Container
Index (CI), and the Breteau Index (BI), which became entomologic parameters need to be assessed. This
study aims to analyze the entomologic parameters (HI, CI and BI) with the incidence of DHF at
Gambirsari Primary Health Care (PHC) in Surakarta. The subjects in this study are homes that included in
the periodic larvae monitoring program in Kelurahan Kadipiro. The data used is secondary data from
periodic larvae monitoring report conducted by cadres who have been appointed by the Gambirsari PHC
in Surakarta. There is no significant relationship between the value of entomologic parameters to the
incidence of DHF at Gambirsari PHC in Surakarta.
Keyword

: Entomologic parameter, Dengue Hemorrhagic Fever

Pendahuluan
Penyakit DBD sebagai salah satu penyakit di
wilayah tropis dan subtropis telah tersebar di
sebagian besar wilayah Indonesia, menyebabkan
Kejadian Luar Biasa (KLB), serta endemis di
beberapa daerah. Data profil kesehatan Surakarta
tahun 2012 menunjukkan bahwa Surakarta
merupakan daerah endemis penyakit DBD. Dari lima
kecamatan yang ada semua merupakan daerah
endemis. Faktor yang berperan dalam penularan
DBD salah satunya adalah lingkungan biologi berupa
densitas larva Aedes aegypti.
Penelitian Ishak et al (2009) serta Sudibyo
(2010) menyatakan bahwa densitas larva mempunyai
hubungan yang signifikan dengan tinggi rendahnya
endemisitas DBD. Keberadaan larva Aedes aegypti di
suatu daerah merupakan indikator
terdapatnya
populasi nyamuk Aedes aegypti di daerah tersebut
sehingga data tentang populasi vektor DBD di setiap
wilayah seperti House Index (HI), Container Index
(CI), dan Breteau Index (BI) yang menjadi parameter
entomologis sangat diperlukan untuk mengetahui
tingkat penularan DBD di suatu daerah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalis
parameter entomologi (HI, CI dan BI) dan
mengetahui hubungannya dengan angka kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari
Surakarta.

Metode Pengambilan Data


Pengambilan data ini dilakukan di Puskesmas
Gambirsari Surakarta pada Mei 2016. Subjek di
dalam pengambilan data ini adalah seluruh rumah
warga yang terjaring dalam program PSN yang
melingkupi satu kelurahan di wilayah Kecamatan
Banjarsari yaitu Kelurahan Kadipiro. Sumber data
yang digunakan berupa data sekunder. Data yang
digunakan sebagai bahan dalam laporan ini diperoleh
melalui laporan hasil pemeriksaan PSN yang
dilakukan oleh kader-kader yang telah ditunjuk oleh
Puskesmas Gambirsari Surakarta . Data yang telah
diperoleh, kemudian dianalisa dan dibandingkan
dengan angka kejadian DBD di daerah tersebut.

pemeriksaan jentik nyamuk sejumlah 3012


pemukiman.
Data yang digunakan untuk mengetahui
pengaruh parameter entomologi terhadap angka
kejadian DBD merupakan hasil pelaporan program
PSN pada bulan Januari hingga April 2016.
Dari hasil pengolahan data yang telah
dilakukan, didapatkan hasil data seperti yang
tercantum pada tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Laporan Kegiatan PPM
Puskesmas Gambirsari Tahun 2016
N
O

UPTD Puskesmas Gambirsari melingkupi satu


kelurahan di wilayah Kecamatan Banjarsari yaitu
Kelurahan Kadipiro. Kelurahan Kadipiro terdiri dari
219 RT yang terkelompokkan menjadi 34 RW,
dengan luas wilayah 808,76 hektar dengan jumlah
rumah sebanyak 8.235 buah. Sejak bulan Januari
hingga bulan April total rumah yang dilakukan

BULAN

JML

JAN

FEB

MAR

APR

JUMLAH
KASUS
DBD

17

20

16

53

JUMLAH
KASUS DSS

11

JUMLAH
PEMUKIMA
N (RUMAH)
DIPERIKSA

541

530

617

1324

3012

JUMLAH
PEMUKIMA
N (RUMAH)
POSITIF
JENTIK

27

36

77

HOUSE
INDEX
PEMUKIMA
N (%)

11

JUMLAH
CONTAINE
R
DIPERIKSA

173
9

204
9

2436

7776

14000

JUMLAH
KONTAINE
R POSITIF
JENTIK

50

11

61

127

CONTAINE
R INDEX
(%)

BRETEAU
INDEX (%)

0,9

9,4

1,7

4,6

16,6

Hasil dan Pembahasan

PROGRAM

Dari data yang sudah didapatkan di atas


selanjutnya dibuat grafik parameter entomologi
terhadap angka kejadian DBD, untuk mengetahui
adakah pengaruh peningkatan nilai parameter
entomologi terhadap peningkatan angka kejadian
DBD.
.

Gambar 1. Grafik parameter entomologi terhadap


angka kejadian DBD
Subjek dalam laporan ini adalah warga di
kelurahan
Kadipiro
yang
telah
dilakukan
pemeriksaan jentik nyamuk dan di data oleh
Puskesmas Gambirsari. Subjek dilihat nilai parameter
entomologinyanya kemudian di evaluasi angka
kejadian DBD yang dilaporkan ke Puskesmas
Gambirsari.
Data yang sudah diperoleh selanjutnya
dianalisis secara manual dengan menggunakan
grafik. Setelah dilakukan analisis, didapatkan hasil
bahwa tidak terdapat hubungan antara nilai parameter
entomologi dengan angka kejadian DBD di
Puskesmas Gambirsari Surakarta.
Kasus DBD di Provinsi Jawa Tengah selalu
meningkat dari tahun ke tahun, baik dalam hal jumlah
maupun persebaran wilayahnya. Menurut Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dalam analisis
situasi DBD, peningkatan kasus DBD disebabkan
oleh pertambahan penduduk, perkembangan wilayah
dari sebuah desa menjadi kota, perpindahan
penduduk dan penataan kota dan struktur bangunan
yang kurang memperhatikan unsur kebersihan
lingkungan sekitar. Keadaan ini mempermudah
penyebaran penyakit DBD karena nyamuk Aedes
aegypti mencari tempat yang sesuai untuk istirahat
dan berkembang biak (Rohmah et al, 2014).
Menurut WHO, House Index (HI)
merupakan indikator yang paling banyak digunakan
untuk memonitor tingkat investasi nyamuk. Namun,
parameter ini termasuk lemah dalam risiko penularan
penyakit apabila tidak menghitung Tempat
Penampungan Air (TPA) atau kontainer dan data

rumah yang positif larva/jentik. Nilai HI


menggambarkan persentase rumah yang positif untuk
perkembangbiakan
vektor
sehingga
dapat
mencerminkan jumlah populasi berisiko (Pants dan
Celf, 1999). HI tidak memperhitungkan jumlah
kontainer dengan nyamuk dewasa maupun produksi
nyamuk dewasa dari kontainer tersebut (Sivagname
dan Gunasekaran, 2012). Bila suatu daerah
mempunyai HI lebih dari 5%, daerah tersebut
mempunyai risiko tinggi unntuk penularan dengue.
Bila HI kurang dari 5%, masih bisa dilakukan
pencegahan untuk terjadinya infeksi virus dengue.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa bila HI>15% berarti
daerah tersebut sudah ada kasus DBD. Semakin
tinggi angka HI, berarti semakin tinggi densitas
nyamuk, semakin tinggi pula risiko masyarakat di
daerah tersebut untuk kontak dengan nyamuk dan
juga terinfeksi virus dengue (Sambuaga, 2011).
Nilai CI dapat digunakan sebagai alat
pembanding yang penting dalam mengevaluasi
program pengendalian vektor, tetapi tidak begitu
berguna dari sisi epidemiologis. Nilai CI
menggambarkan banyaknya kontainer yang positif
dibandingkan dengan jumlah seluruh kontainer yang
terdapat
disuatu
wilayah
karena
hanya
mengungkapkan persentase TPA atau kontainer yang
positif dengan larva/jentik perkembangbiakan
nyamuk Aedes spp (Pants dan Celf, 1999).
Nilai BI menunjukkan hubungan antara
kontainer yang positif dengan jumlah rumah. Index
ini dianggap yang paling baik, tetapi tidak
mencerminkan jumlah larva atau jentik dalam
kontainer. Meskipun demikian, pada waktu
pengumpulan data dasar untuk perhitungan BI akan
didapatkan juga profil dan karakter habitat
larva/jentik, dengan cara sekaligus mencatat jumlah
dan potensi dari semua macam tipe kontainer (WHO
dan Depkes RI, 2003). Secara umum, BI merupakan
indikator paling baik dibandingkan dengan CI dan HI
karena mengkombinasikan antara tempat tinggal dan
kontainer. Oleh karena itu, BI mempunyai nilai
signifikan epidemiologis yang lebih besar (Pants dan
Celf, 1999). Nilai BI tinggi berarti masih ditemui
jumlah rumah dengan kontainer positif jenisnya lebih
dari satu kontainer. BI membentuk hubungan antara
kontainer yang positif dan rumah, tetapi juga tidak
dapat memperhitungkan nyamuk dewasa dari
kontainer (Sivagname dan Gunasekaran, 2012).
Densitas larva Aedes sp pada suatu wilayah
dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat
jika terjadi kontak gigitan dengan manusia. Kontak
nyamuk Aedes sp dengan penderita DBD akan
menyebabkan nyamuk terinfeksi dan jika menggigit
manusia sehat akan menyebabkan terjadinya
penularan DBD. Densitas larva yang diukur pada
penilitian ini berupa HI, CI dan BI. Hasil yang

didapatkan dari data yang telah terkumpul


menunjukkan bahwa hasil pemantauan jentik berkala
di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari memiliki HI
(<10%), CI (<5%) dan BI (<50) yang rendah, namun
terdapat peningkatan pelaporan kasus DBD setiap
bulannya. Hasil ini menunjukkan ketidaksesuain
dengan beberapa literatur yang ada. Ketidaksesuaian
ini dapat dipengaruhi oleh berbagai macam hal,
antara lain karena kelemahan nilai parameter
entomologi yang tidak dapat memperhitungkan
nyamuk dewasa yang menularkan virus dengue.
Penyebab lainnya bisa disebabkan karena DBD
merupakan traveler disease yang bisa ditularkan
ketika seseorang berpergian ke luar kota sehingga
walaupun nilai parameter entomologi di wilayah
kerja Puskesmas Gambirsai rendah, namun angka
kejadian DBD tetap tinggi. Atau bisa jadi ketika akan
dilakukan PJB, warga beramai-ramai membersihkan
tempat penampungan air secara massal, sehingga
ketika diperiksa nilai parameter entomologi yang ada
menjadi rendah. Selain itu, faktor-faktor lain seperti
mobilitas
penduduk,
kepadatan
penduduk,
pertambahan penduduk, perkembangan wilayah dari
sebuah desa menjadi kota, dan penataan kota dan
struktur bangunan yang kurang memperhatikan unsur
kebersihan lingkungan sekitar yang mempengaruhi
angka kejadian DBD juga tidak dilakukan analisis.
Parameter entomologi HI, CI dan BI
memiliki relevansi langsung dengan dinamika
penularan penyakit DBD. Namun, tingkat ambang
batas investasi vektor yang merupakan pemicu untuk
transmisi dengue dipengaruhi oleh banyak faktor,
termasuk umur nyamuk dan status imunologi
manusia. Sebagai contoh di Singapura, transmisi
dengue terjadi bahkan ketika HI <2%. Di Singapura
meskipun densitas vektor rendah melalui program
pengendalian DBD/DSS wabah masih terjadi bahkan
ketika HI turun menjadi 1% (Vijayakumar et al,
2014). Hal ini sama seperti keadaan yang terjadi di
wilayah kerja Puskesmas Gambirsari Surakarta.
Cara yang paling dianggap efektif dalam
pemberantasan nyamuk DBD adalah dengan
pemutusan rantai penularan nyamuk, yaitu mencegah
telur nyamuk berkembang menjadi larva dan nyamuk
dewasa. Upaya yang harus dilakukan agar nyamuk
tidak berkembang dan menyebarkan penyakit adalah
memelihara kesehatan lingkungan. Memperbaiki
sanitasi dan memelihara kesehatan lingkungan, bukan
hanya menjadi beban dan tanggung jawab
pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh
komponen masyarakat (Tamawiwi et al, 2006 ;
Suyasa et al, 2007). Langkah yang ditempuh adalah
melalui Pemantauan Jentik Berkala (PJB) yang
mencakup upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN)
berupa
3M
Plus,
menguras
bak
mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali

seminggu, mengganti/menguras vas bunga dan


tempat minum burung seminggu sekali, menutup
dengan rapat tempat penampungan air, mengubur
kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di
sekitar rumah dan lain sebagainya, pengelolaan
sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan
nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan
perbaikan desain rumah (Aryati, 2004; Kusriastuti,
2007). Gerakan ini dipercaya menjadi cara yang
ampuh dalam menekan kasus DBD. Namun, hal ini
sangat membutuhkan kesadaran dan peran serta
seluruh potensi masyarakat. Keberhasilan upaya PSN
telah dibuktikan pada penelitian Taviv et al (2010).

Simpulan
Parameter entomologi HI, CI dan BI
memiliki relevansi langsung dengan dinamika
penularan penyakit DBD. Namun, transmisi dengue
dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk umur
nyamuk dan status imunologi manusia.
Pada penelitian ini didapatkan hasil yang
tidak sesuai dengan literatur yang digunakan, yaitu
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
parameter entomologi dengan angka kejadian DBD.

Daftar Acuan
1.

2.

3.

4.

5.

Ishak, Hasanuddin (2009). Analisis Faktor


Faktor Densitas Larva Aedes aegypti dan
Endemisitas Penyakit Demam Berdarah Dengue
di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Disajikan pada Seminar Nasional Hari Nyamuk
2009 Tanggal 10 Agustus 2009.
Sudibyo (2012). Kepadatan Larva Aedes aegypti
pada Musim Hujan di Kelurahan Petemon,
Surabaya. Skripsi. Universitas Airlangga:
Surabaya.
Rohmah EA, Moehadi N, Salamun (2014).
Fluktuasi populasi larva aedes aegypti pada
berbagai jenis tempat perkembangbiakan di
rumah penderita DBD. Jurnal Ilmiah Biologi,
2(1):40-9.
Rohmah EA, Moehadi N, Salamun (2014).
Fluktuasi populasi larva aedes aegypti pada
berbagai jenis tempat perkembangbiakan di
rumah penderita DBD. Jurnal Ilmiah Biologi,
2(1):40-9.
World Health Organization (2009). Dengue
Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention,
and

Control.

World

Health

Organization.

Diunduh

dari

http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789
6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

241547871_eng.pdf.
Pant CP, Self LS (1999). Vector ecology and
bionomics. Monograph on Dengue/Dengue
Hemorrhagic Fever. WHO Reg Punl SEARO,
22: 121-38.
Sivagname N, Gunasekaran K (2012). Need for
effeicient adult trap for the surveillance of
Dengue vectors. Indian Journal of Medical
Research, 136 (5): 739-49.
Sambuaga JVI (2011). Status entomologi vektor
demam berdarah dengue di Kelurahan Perkamil
Kecamatan Tikala Kota Manado Tahun 2011.
JKI, 1 (1): 54-61.
Vijayakumar K, Kumar TKS, Nujum ZT, Umarul
F, Kuriakose A (2014). A study on container
breeding mosquitoes with special references to
aedes (stegomyia) aegypti and aedes albopictus
in Thiruvananthapuram district, India. Journal of
Vector Born Disease, 51 (1): 27-32.
Tamawiwy WH, Pratiwi B, Tombi R, dan
Tarmizi. Hubungan Sanitasi dan Demam
Berdarah Dengue di Manado. (Online) 2006.
http://www.scribd.com/doc/72968102/Hubungan
-Sanitasi-Lingkungan-Dengan-Kejadian-DBDDi-Daerah-Pesis
Suyasa ING, Putra NA, dan Aryanta IWR. 2007.
Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku
Masyarakat dengan Kebaradaaan Vektor DBD
di Wilayah Kerja Puskesmas Denpasar.
Ecotrophic. 2007; 3(1): 1-6.
Aryati. Diagnosis Laboratories DBD Terkini.
Simposium Sehari Penangan DBD Terkini
Fakultas Kedokteran Departemen Patologi
Klinik. Surabaya, 2004.
Kusriastuti R. Kebijakan Penanggulangan
Demam Berdarah Dengue di Indonesia.
Simposium Nasional DBD. Pusat Studi
Bioteknologi UGM Yogyakarta. Yogyakarta, 16
Mei 2007.
Taviv, et al (2010). Pengendalian DBD melalui
pemanfaatan pemantau jentik dan ikan cupang di
kota Palembang. Buletin Penelitian Kesehatan,
38 (4): 215-224.