You are on page 1of 63

PENGARUH MODAL KERJA DENGAN LABA USAHA KOPERASI

PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA JAKARTA

NAMA

: ANNA NURFARHANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
JAKARTA
2013

ABSTRAK
A.

Kata Kunci : Hubungan, Modal Kerja, Laba Usaha Koperasi

B.

Modal Kerja memegang peranan penting dalam mencapai tujuan koperasi.


Pengelolaan modal kerja yang baik dapat meningkatkan laba usaha koperasi
pada Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia. Agar laba usaha dapat meningkat
penulis menyarankan hendaknya terus memperbesar modal kerja dengan
menggalakkan simpanan simpanan anggota dan usaha usaha lainnya
sehingga semakin sejahtera para anggotanya.
Teknik analisa data dilakukan berdasarkan perhitungan koefisien korelasi
dengan rumus product moment pearson diperoleh nilai r = 0,87 adalah
mendekati 1, berarti terdapat hubungan yang kuat dan positif.
KD sebesar 76% perolehan laba usaha dipengaruhi oleh faktor modal kerja
sedangkan sisanya 24% dipengaruhi faktor lain.
Uji Hipotesis berdasarkan hasil uji thitung sebesar 3,6 dan ttabel sebesar 2,776
berarti 3,6 > 2,776 atau thitung > ttabel, maka hipotesa Ho ditolak dan hipotesa Ha
diterima. Berarti terdapat hubungan yang signifikan antara modal kerja
dengan laba usaha/SHU Koperasi.

Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan atas kehadiran Allah SWT atas segala
karuniaNya yang diberikan, serta salawat dan salam atas junjungan nabi besar
Muhammad SAW serta para sahabat tabit dan tabiin sehingga saya dapat
menyelesaikan laporan penelitian ini tepat pada waktunya.
penelitian yang berjudul Pengaruh Modal Kerja Dengan Laba Usaha
Koperasi Pada Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia
Dalam kesempatan ini saya sebagai peneliti mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang membantu saya dalam menyelesaikan laporan penelitia
ini,

Peneliti menyadari bahwa laporan penelitian ini masih belum sempurna


dan masih perlu penyempurnaan

Akhir kata saya sebagai penulis berharap semoga kehadiran Skripsi ini
memenuhi sasarannya.

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK ...................................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................................... vi
DAFTAR ISI ................................................................................................................. viii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ....................................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ...................................................................................... 5
D. Perumusan Masalah ....................................................................................... 5
E. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian .................................................................. 5
F. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 5
G. Sistematika Penulisan .................................................................................... 6
BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR ...................................... 7
A. Landasan Teori ............................................................................................... 7
1. Gambaran Umum Koperasi ....................................................................... 7
2. Pengertian Modal

.................................................................................. 9

3. Pengertian Modal Kerja ............................................................................ 15


4. Pengertian Laba Usaha / Sisa Hasil Usaha .............................................. 19
B. Kerangka Berpikir ........................................................................................ 23
C. Hipotesis

......................................................................................... 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................................... 26


A. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................................... 26
B. Metode Penelitian ....................................................................................... 26
C. Populasi dan Sampel .................................................................................... 27
D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 27
E. Teknik Analisa Data ..................................................................................... 28
BAB IV HASIL PENELITIAN ..................................................................................... 31
A. Pengumpulan Data ....................................................................................... 31
1. Gambaran Umum Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jati Padang ........ 31
2. Deskripsi Data .......................................................................................... 39

B. Pengolahan Data .......................................................................................... 42


C. Analisa Data

........................................................................................... 47

D. Pengujian Hipotesis ...................................................................................... 51


E. Interpretasi Data ........................................................................................... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 53
A. Kesimpulan

............................................................................................ 55

B. Saran

............................................................................................ 55

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Koperasi merupakan salah satu bentuk usaha yang sesuai dengan
demokrasi Indonesia. Azas yang digunakan dalam pengelolaan koperasi
mencerminkan pelaksanaan dari demokrasi ekonomi yaitu azas kekeluargaan.
Pengelolaan koperasi tidak hanya mengandalkan kualitas pengurus saja akan
tetapi juga mengharapkan partisipasi para anggotanya.
Dengan memperhatikan azas yang terkandung didalam koperasi maka
ada nilai lebih dari koperasi yang tidak dimiliki oleh badan usaha lainnya.
Nilai-nilai

kesetiakawanan,

kekeluargaan,

gotong

royong,

solidaritas,

demokrasi dan kebersamaan merupakan suatu nilai lebih tersendiri bagi


koperasi. Hal inilah yang menjadikan dasar koperasi sebagai sokoguru
perekonomian Indonesia seperti yang termaktub dalam Undang - Undang
Dasar 1945. Koperasi diharapkan akan mampu menumbuhkan dan
mengembangkan ekonomi rakyat dan mewujudkan kehidupan ekonomi yang
demokratis. Dalam kehidupan ekonomi yang semakin mengglobal koperasi
seharusnya mempunyai ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas yang
menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat.
Oleh karena itu, pembangunan koperasi perlu diarahkan sehingga lebih
bermanfaat bagi masyarakat ekonomi kecil. Pengembangan diarahkan agar
koperasi benar-benar menerapkan prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi.
Dengan demikian koperasi merupakan organisasi ekonomi yang mantap

demokratis, otonom, partisipatif serta berwatak sosial. Pembinaan koperasi


pada dasarnya dimaksudkan untuk berperan utama dalam kehidupan ekonomi
rakyat. Golongan masyarakat ekonomi lemah baik yang tinggal di desa
maupun di kota perlu diajak dan diikutsertakan secara aktif dan diberi
kesempatan yang lebih luas untuk membangun dirinya melalui koperasi.
Didalam Undang-Undang RI No 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,
dinyatakan bahwa koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan
perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju,
adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Selain ingin mencapai tujuan dari koperasi seperti yang tercantum di atas,
koperasi juga mempunyai fungsi dan peran didalam masyarakat. Fungsi dan
peran yang dijalankan koperasi antara lain membangun dan mengembangkan
potensi serta kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat
pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
Dari kedua hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa koperasi
mempunyai dua dimensi yaitu dimensi ekonomi dan dimensi sosial. Dimensi
ekonomi yaitu koperasi didalam menyelenggarakan usahanya bertujuan untuk
mensejahterakan

anggota.

Sedangkan

dimensi

sosial

yaitu

koperasi

merupakan kumpulan orang-orang yang bekerjasama atas azas kekeluargaan.


Koperasi adalah suatu Badan Usaha, maka kecuali bertujuan memenuhi
kebutuhan anggotanya juga harus mampu menghasilkan keuntungan atau laba.
Kemampuan suatu perusahaan menghasilkan laba dalam periode tertentu
disebut Rentabilitas. SHU atau laba yang besar bukanlah jaminan bahwa
koperasi tersebut telah bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahui

dengan membandingkan laba yang diperoleh itu dengan kekayaan atau modal
yang menghasilkan laba tersebut. Efisiensi sangat diperlukan oleh koperasi
karena akan memungkinkan koperasi dapat beroperasi se-ekonomis mungkin.
Sebagai organisasi ekonomi koperasi dalam menjalankan usahanya
memerlukan modal usaha. Peranan modal didalam operasional koperasi
mempunyai kontribusi yang sangat penting karena tanpa modal yang cukup
koperasi tidak akan berjalan lancar. Schwiedland memberikan pengertian
modal dalam arti luas dimana modal itu meliputi baik modal dalam bentuk
uang maupun dalam bentuk barang, misalnya mesin, barang-barang dagangan
dan lain sebagainya . (Riyanto, 2001 : 17). Dengan demikian modal dapat
berupa uang maupun harta lainnya yang mempunyai nilai uang yang
digunakan untuk menjalankan usaha.
Modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal
sendiri dapat berasal dari: simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan
dan hibah. Sedangkan modal pinjaman dapat berasal dari : anggota, koperasi
lainnya dan atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya.
Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jatipadang adalah koperasi yang
keanggotaannya bersifat terbuka dan umum untuk semua golongan
masyarakat, apakah itu PNS, pensiunan, pegawai swasta, pedagang, ibu rumah
tangga, dan sebagainya. Tanpa membedakan suku, agama, dan ras. Koperasi
Serba Usaha Sejati Mulia merupakan salah satu jenis koperasi yang
membutuhkan modal yang cukup untuk menggerakkan dan meningkatkan
seluruh bidang usahanya. Modal kerja merupakan faktor yang tidak kalah
penting jika dibandingkan dengan faktor yang lain misalnya : tenaga kerja,
mesin atau alat produksi dan bangunan. Modal kerja mempunyai hubungan

yang erat dengan kegiatan operasi sehari-hari, karena selalu dibutuhkan untuk
membelanjakan koperasi secara terus menerus. Modal kerja yang cukup,
memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi seekonomis mungkin dan
perusahaan tidak mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya-bahaya yang
mungkin timbul karena ada krisis atau kekacauan keuangan.
Dengan modal kerja koperasi yang ada, koperasi dapat menggunakannya
seefektif dan seefisien mungkin agar dapat menghasilkan sisa hasil usaha
secara kontinyu. Namun sering terjadi juga koperasi hanya mendapatkan sisa
hasil usaha besar pada tahun tahun pertama dan tahun tahun berikutnya
mulai menurun.
Salah satu penyebabnya adalah pihak manajemen tidak dapat
menggunakan modal kerja koperasi secara efektif dan efisien. Untuk
mengukur efisiensi dalam pengelolaan kekayaan koperasi dapat menggunakan
ratio rentabilitas yaitu membandingkan antara sisa hasil usaha dengan modal
yang digunakan dalam operasi laporan keuangan.
Rentabilitas koperasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, besar
kecilnya modal kerja, penjualan yang dihasilkan, besar kecilnya sisa hasil
usaha yang dihasilkan. Dari analisis rentabilitas pihak manajemen dapat
melihat dalam pengelolaan modal kerja. Atas dasar inilah penulis mengambil
judul

PENGARUH

MODAL

KERJA

DENGAN

LABA

USAHA

KOPERASI PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA .


B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan

latar

belakang

masalah

diidentifikasikan masalah sebagai berikut :

tersebut

diatas

dapat

1. sejauh mana hubungan modal kerja dengan laba usaha dalam bentuk sisa
hasil usaha.
2. sejauh mana peningkatan modal kerja dapat meningkatkan sisa hasil
usaha.
3. sejauh mana peranan pengurus koperasi terhadap sisa hasil usaha.
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan ruang lingkup penelitian dilakukan untuk mempermudah
pemecahan masalah yaitu bagaimana hubungan modal kerja koperasi yang
terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela dengan
laba usaha koperasi dalam bentuk sisa hasil usaha pada koperasi Serba Usaha
Sejati Mulia.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas penulis telah menentukan permasalahan
sebagai berikut:
Adakah pengaruh modal kerja yang meliputi simpanan pokok, simpanan
wajib, dan simpanan sukarela dengan laba usaha koperasi dalam bentuk sisa
hasil usaha pada koperasi Serba Usaha Sejati Mulia ?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengaruh modal kerja dengan laba usaha koperasi
dalam bentuk sisa hasil usaha.
F. Manfaat Penelitian
Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut :

setelah diketahui bahwa modal kerja mempunyai pengaruh yang kuat dengan
laba usaha koperasi serba usaha sejati mulia maka perlu diketahui kendala
kendala apa saja yang dihadapi serta faktor faktor pendukung apa saja yang
dimiliki oleh koperasi guna untuk terus meningkatkan laba usaha koperasi.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pemahaman dan memperjelas arah pembahasan
maka peneliti mencoba mebuat ini sistematisasikan penulisan laporan
penelitian ini menjadi lima bab dengan uraian sebagai berikut :
Bab I

Merupakan bab pendahuluan. Dalam bab ini penulis menguraikan


tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
dan sistematika penulisan.

Bab II

Memaparkan tentang landasan teori. Dalam bab ini membahas


tentang kajian teori, kerangka berfikir, dan hipotesis

Bab III :

Metodologi penelitian, membahas tentang waktu dan wilayah


penelitian, metode penelitian, populasi dan sampel, data dan
sumber data dan teknik analisa data.

Bab IV :

Merupakan bagian analisa dan pembahasan. Dalam bab ini


penulis akan membahas tentang profil obyek penelitian
perusahaan, pengujian dan hasil analisa data, pembuktian
hipotesis, pembahasan hasil analisa data dan jawaban atas
pertanyaan pertanyaan yang disebutkan dalam perumusan
masalah.

Bab V :

Merupakan bagian penutup yang berisikan kesimpulan dan saransaran.

BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Landasan Teori
1. Gambaran Umum Koperasi
Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 dinyatakan bahwa perekonomian
disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Hal ini
mengandung arti bahwa kemakmuran masyarakat yang diutamakan dan bukan
kemakmuran orang seorang.
Menurut UU No. 25 Tahun 1992 Koperasi diartikan sebagai badan usaha
yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi sekaligus
sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan (Sitio
dan Tamba, 2001 : 18). Karena koperasi juga sebagai gerakan ekonomi rakyat
yang berdasar atas asas kekeluargaan maka kegiatan operasional koperasi
lebih mementingkan gotong royong dan kerjasama antar anggotanya.
R.S. Soeriaatmadja mendefinisikan koperasi sebagai suatu perkumpulan
dari orang-orang yang atas dasar persamaan derajat sebagai manusia dengan
tidak memandang haluan agama dan politik secara sukarela masuk untuk
sekedar memenuhi kebutuhan bersama yang bersifat kebendaan atau
tanggungan bersama (Hendrojogi, 2000 : 22).
Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa koperasi
mengandung unsur demokrasi, unsur sosial dan unsur ekonomi tidak sematamata mencari keuntungan. Seperti yang menjadi fungsi dan tujuan koperasi
bahwa koperasi memberikan manfaat bagi anggotanya terutama adalah bidang
ekonomi dan sosialnya.

Dari kedua definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa koperasi


didirikan oleh beberapa orang dengan persamaan derajat, tidak memandang
haluan agama dan politik yang secara sukarela bekerjasama untuk memenuhi
kebutuhan bersama yang berdasar atas asas kekeluargaan.
Definisi lain tentang koperasi juga dikemukakan oleh Paul Hubert
Casselman dalam bukunya berjudul The Cooperative Movement and Some
of Its Problems , menurut Casselman koperasi adalah suatu sistem ekonomi
yang mengandung unsur sosial. (Firdaus dan Edhi Susanto, 2002:39)
Definisi Casselman diatas mengandung makna yang luas, koperasi
mengandung dua unsur yaitu unsur ekonomi dan unsur sosial. Koperasi
merupakan suatu sistem dan sebagaimana diketahui sistem tersebut
merupakan himpunan komponen komponen atau bagian yang saling
berkaitan yang secara bersama sama berfungsi mencapai tujuan.
Tujuan yang dimaksud adalah tujuan ekonomi atau dengan kata lain
bahwa koperasi harus bekerja berdasarkan motif ekonomi atau mencari
keuntungan, sedangkan bagian bagian yang saling berkaitan tersebut
merupakan unsur unsur ekonomi seperti digunakannya sistem pembukuan,
dan diadakannya pemeriksaan secara periodik.
Sedangkan unsur sosial yang terdapat dalam definisi Casselman tersebut
bukan dalam arti kedermawanan, tetapi lebih untuk menerangkan kedudukan
anggota dalam organisasi, hubungan antar sesama anggota dan hubungan
anggota dengan pengurus. Unsur sosial juga ditemukan dalam cara kerja
koperasi yang demokratis, kesamaan derajat, kebebasan keluar masuk
anggota, persaudaraan, pembagian sisa hasil usaha kepada anggota secara
proporsional dengan jasanya.

Agar koperasi tidak menyimpang dari tujuan tersebut, pembentukan dan


pengelolaan koperasi harus dilakukan secara demokratis. Pada saat
pembentukannya, koperasi harus dibentuk berdasarkan kesukarelaan dan
kemauan bersama dari para pendirinya. Kemudian pada saat pengelolaannya,
tiap tiap anggota koperasi harus turut berpartisipasi dalam mengembangkan
usaha dan mengawasi jalannya kegiatan koperasi.
Bila dirinci beberapa pokok pikiran pikiran yang dapat ditarik dari
uraian mengenai pengertian koperasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. koperasi adalah suatu perkumpulan yang didirikan oleh orang orang
yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, yang bertujuan untuk
memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi.
b. bentuk kerjasama dalam koperasi bersifat sukarela.
c. masing masing anggota koperasi mempunyai hak dan kewajiban yang
sama.
d. masing masing anggota koperasi berkewajiban untuk mengembangkan
serta mengawasi jalannya usaha koperasi.
e. resiko dan keuntungan koperasi ditanggung dan dibagi secara adil.
2. Pengertian Modal
Adam Smith mengartikan modal sebagai bagian dari nilai kekayaan yang
dapat mendatangkan penghasilan. Dalam perkembangannya, pengertian modal
mengarah kepada sifat non physical oriented dimana antara lain
pengertian modal ditekankan pada nilai, daya beli atau kekuasaan memakai
atau menggunakan yang terkandung dalam barang modal.
Prof. Meij mengartikan modal sebagai kolektivitas dari barang barang
modal yang terdapat dalam neraca sebelah debet. Sedang yang dimaksud
dengan barang barang modal ialah semua barang yang ada dalam rumah

tangga perusahaan dalam fungsi produktifnya untuk membentuk pendapatan.


(Bambang Riyanto, 2001 : 18)
Sementara itu pengertian tentang modal dijelaskan pula oleh Prof. Polak
yang mendefinisikan modal sebagai berikut :
Modal ialah sebagai kekuasaan untuk menggunakan barang barang
modal. Dengan demikian modal ialah terdapat di neraca sebelah kredit.
Adapun yang dimaksud dengan barang barang modal ialah barang barang
yang ada dalam perusahaan yang belum digunakan, jadi yang terdapat di
sebelah debit. (Bambang Riyanto, 2008 : 18)
Jadi yang terdapat di sebelah debit dari neraca disebut modal kongkret dan
yang tercatat di sebelah kredit disebut modal abstrak. Apabila kita melihat
neraca suatu perusahaan maka selain menggambarkan adanya modal kongkret
dan modal abstrak, dari neraca juga akan tampak dua gambaran modal yaitu
bahwa neraca disatu pihak menunjukkan modal menurut bentuknya ( sebelah
debit ) dan dilain pihak menurut sumbernya atau asalnya ( sebelah kredit ).
Pengertian modal dalam sebuah organisasi perusahaan termasuk badan
usaha koperasi adalah sama, yaitu modal yang digunakan untuk menjalankan
usaha.
Koperasi merupakan perkumpulan orang orang yang mempunyai
kepentingan yang sama, bukan merupakan perkumpulan modal, batasan ini
sering menimbulkan pendapat yang sempit pada sementara orang, bahwa
kedudukan modal koperasi tidaklah penting. Orang yang berpendapat
demikian jelas memandang koperasi dengan menitikberatkan pada fungsi
koperasi sebagai alat sosial tanpa mengingat koperasi sebagai alat ekonomi.
Koperasi sebagai alat sosial dan alat ekonomi haruslah menjalankan usaha
( bussines ) dengan demikian modal mempunyai kedudukan vital, tetapi
dengan pengertian bahwa modal tersebut tidak boleh diberi arti yang lebih
penting daripada kepentingan orang orang yang menjadi anggotanya.

Jelasnya kalau modal yang akan digunakan untuk usaha itu akan menjadikan
koperasi tersebut jatuh ke bawah pengaruh kaum modal atau menjadikannya
ketergantungan, maka modal demikian harus ditolak karena kepentingan
anggota lebih penting daripada modal.
Setiap perkumpulan atau organisasi dalam melakukan kegiatan untuk
mencapai tujuannya memerlukan sejumlah dana. Sebagai badan usaha,
koperasi memerlukan dana sesuai dengan lingkup dan jenis usahanya. Dalam
rangka mendirikan badan usaha koperasi, yang ditetapkan oleh pembuat
undang-undang sebagai syarat minimum untuk mendirikan sebuah koperasi
adalah jumlah anggota pendiri. Sedangkan besar modal minimum yang harus
disetor sebagai modal awal koperasi oleh para pendirinya tidak ditentukan, hal
ini sesuai dengan karakteristik koperasi yang mengedepankan jumlah anggota
ketimbang besar modal usaha.
Koperasi merupakan sebuah perkumpulan dari orang-orang yang
mempunyai tujuan bersama untuk bekerja sama dalam memperbaiki dan
meningkatkan taraf kemampuan mereka dibidang ekonomi. Unsur - unsur
penting dari kalimat tersebut adalah adanya orang-orang, yang berkumpul
dalam sebuah perkumpulan, mempunyai tujuan yang sama dengan bekerja
sama, didalam bidang kesejahteraan ekonomi. Jadi sejak awal sebuah koperasi
menjalankan usahanya, para pengurus dan anggota koperasi secara sadar dan
wajib memanfaatkan jasa atau produk yang dihasilkan oleh koperasi mereka
sendiri, sebagai cara utama untuk ikut memajukan koperasi dalam memupuk
modal.
Sedikitnya ada tiga alasan koperasi membutuhkan modal, antara lain:
a. untuk membiayai proses pendirian sebuah koperasi atau disebut biaya praorganisasi untuk keperluan: pembuatan akta pendirian atau anggaran

dasar, membayar biaya administrasi pengurusan izin yang diperlukan,


sewa tempat bekerja, ongkos transportasi, dan lain-lain.
b. untuk membeli barang-barang modal. Barang-barang modal ini dalam
perhitungan perusahaan digolongkan menjadi harta tetap atau barang
modal jangka panjang.
c. untuk modal kerja. Modal kerja biasanya digunakan untuk membiayai
operasional koperasi dalam menjalankan usahanya.
Tujuan utama mendirikan sebuah organisasi koperasi

adalah untuk

mengakumulasikan potensi keuangan para pendiri dan anggotanya yang


meskipun pada awalnya berjumlah kecil tetapi tetap ada.
Ada dua sumber modal dalam koperasi :
a. Modal Sendiri
1) Simpanan Pokok
Simpanan pokok ialah sejumlah uang yang wajib disetorkan ke dalam
kas koperasi oleh para pendiri atau anggota koperasi pada saat masuk
menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat ditarik kembali oleh
anggota koperasi tersebut selama yang bersangkutan masih tercatat
menjadi anggota koperasi.
2) Simpanan Wajib
Simpanan Wajib ialah simpanan yang harus dilakukan oleh semua
anggota koperasi yang dapat disesuaikan besar kecilnya dengan tujuan
usaha koperasi dan kebutuhan dana yang hendak dikumpulkan, karena
itu akumulasi simpanan wajib para anggota harus diarahkan mencapai
jumlah tertentu agar dapat menunjang kebutuhan dana yang akan
digunakan menjalankan kebutuhan koperasi.
3) Dana Cadangan
Dana cadangan ialah sejumlah uang yang diperoleh dari sebagian hasil
usaha yang tidak dibagikan kepada anggotanya, tujuannya adalah

untuk memupuk modal sendiri yang dapat dipergunakan sewaktu


waktu apabila koperasi membutuhkan dana secara mendadak atau
menutup kerugian dalam usaha.
4) Hibah
Hibah adalah bantuan, sumbangan atau pemberian cuma cuma yang
tidak mengharapkan pengembalian atau pembalasan dalam bentuk
apapun. Siapa pun dapat memberikan hibah kepada koperasi dalam
bentuk apapun sepanjang memiliki pengertian seperti itu.
b. Modal Pinjaman
1) Pinjaman dari Anggota
Pinjaman dari anggota adalah pinjaman yang diperoleh dari anggota
koperasi. Pinjaman dari anggota koperasi ini dapat disamakan dengan
simpanan sukarela, hanya saja perbedaannya dalam simpanan sukarela
besar kecilnya dari nilai yang disimpan tergantung dari kerelaan
anggota, sedangkan dalam pinjaman koperasi meminjam sejumlah
uang kepada anggota.
2) Pinjaman dari Koperasi Lain
Pada dasarnya diawali dengan adanya kerjasama yang dibuat oleh
sesama badan usaha koperasi untuk saling membantu dalam bidang
kebutuhan modal.
3) Sumber Lain yang Sah
Adalah pinjaman dari bukan anggota koperasi yang dilakukan tidak
melalui penawaran secara umum.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sekalipun koperasi bukan
merupakan

bentuk

kumpulan

modal,

tetapi

pengaruh

modal

dan

penggunaanya dalam koperasi tidak boleh mengaburkan dan mengurangi


makna koperasi yang lebih menekankan kemanusiaan daripada kebendaan.
Sementara itu di dalam Undang undang No. 17 Tahun 2012 menjelaskan
mengenai permodalan koperasi sebagai berikut :
a. Simpanan Pokok
Simpanan pokok ialah sejumlah uang yang diwajibkan kepada anggota
untuk diserahkan kepada koperasi pada waktu seorang masuk menjadi
anggota koperasi dan besarnya sama untuk semua anggota koperasi.
Simpanan pokok ini tidak dapat diambil kembali selama menjadi anggota
koperasi.
c. Simpanan Wajib
Simpanan wajib ialah simpanan tertentu yang diwajibkan kepada anggota
untuk membayarnya kepada anggota koperasi pada waktu waktu
tertentu.
d. Simpanan Sukarela
Simpanan sukarela adalah simpanan yang diadakan oleh anggota atas
dasar sukarela.
Modal yang terbaik adalah modal yang terkumpul dari simpanan
simpanan anggota dan cadangan ( modal intern ). Akan tetapi untuk
melancarkan usaha modal intern ini kadang kadang jauh dari mencukupi
sehingga diperlukan modal ekstern atau modal pinjaman. Besar kecilnya
modal pinjaman yang didapat oleh koperasi akan sangat bergantung dari
reputasi koperasi tersebut, karena timbulnya kepercayaan dari pihak ketiga
untuk memberikan pinjaman, nama baik koperasilah yang menjadi dasarnya.
Penilaian positif terhadap koperasi tersebut jika koperasi dalam usahanya
lancar dan terbukti beberapa kali mempunyai kemampuan mengembalikan
segala pinjaman dengan baik dan lancar.
Agar ketergantungan terhadap modal ekstern dapat dihindarkan maka
modal ekstern tersebut harus dimanfaatkan sebagai pelengkap (Supplement).

Artinya manfaatkan terlebih dahulu modal intern, apabila masih terdapat


kekurangan usahakan dengan jalan :
a. Mengadakan pemungutan simpanan khusus dari para anggota.
b. Menganjurkan dari para anggota yang mampu untuk memperbesar
simpanan sukarelanya kepada koperasi.
Mengenai permodalan koperasi, ada beberapa prinsip yang harus dipatuhi
oleh koperasi dalam kaitannya dengan permodalan :
a. Pengendalian dan pengelolaan koperasi harus tetap berada ditangan
anggota dan tidak perlu dikaitkan dengan jumlah modal yang dapat
ditanam oleh seseorang anggota koperasi dan berlaku satu anggota satu
suara.
b. Modal harus dimanfaatkan untuk usaha usaha yang bermanfaat dan
meningkatkan kesejahteraan anggota.
c. Kepada modal hanya diberikan balas jasa terbatas.
d. Koperasi pada dasarnya memerlukan modal yang cukup untuk membiayai
usahanya secara efisien.
e. Usaha usaha dari koperasi harus dapat membantu pembentukan modal
baru. Hal ini dapat dilakukan dengan menahan dari sebagian keuntungan
atau sisa hasil usaha anggota. ( Firdaus dan Edhi Susanto, 2002 : 70 71 )
Dari uraian uraian di atas maka jelaslah bahwa modal menempati
kedudukan yang vital dalam koperasi guna melancarkan usaha usahanya.
Kematangan pikir perlu diutamakan, dengan dibantu dengan kejujuran pribadi
para pengelolanya karena sekali pendayagunaannya yang salah maka kerugian
kerugian akan diderita oleh segenap anggota koperasi.
3. Pengertian Modal Kerja
Sebagaimana bentuk bentuk perusahaan lainnya, penyelenggaraan usaha
koperasi tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan modal kerja. Modal kerja
merupakan salah satu faktor produksi. Menurut aliran klasik, modal kerja
diartikan sebagai hasil produksi yang digunakan untuk memprodusir lebih
lanjut.

Modal kerja diperlukan dalam menunjang kelancaran kegiatan seperti


membeli bahan baku, membayar gaji pegawai, membayar hutang, membayar
bunga dan kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan rutin koperasi.
Jumlah modal yang diperlukan oleh suatu koperasi sudah harus bisa
ditentukan dalam proses pengorganisasian atau pada waktu pendiriannya
dengan rincian berapa untuk modal tetap atau disebut juga sebagai modal
jangka panjang dan berapa untuk modal kerja atau yang disebut juga modal
jangka pendek.
Adanya modal kerja yang cukup sangat penting bagi suatu perusahaan
karena dengan modal kerja yang cukup itu memungkinkan bagi perusahaan
untuk beroperasi dengan seekonomis mungkin dan perusahaan tidak
mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya bahaya yang mungkin timbul
karena adanya krisis atau kekacauan keuangan.
Tetapi modal kerja harus cukup jumlahnya dalam arti harus mampu
membiayai pengeluaran pengeluaran atau operasi perusahaan sehari hari,
karena modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan,
disamping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis
dan perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan, juga akan memberikan
beberapa keuntungan lain, antara lain :
a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai
dari aktiva lancar.
b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban kewajiban
tepat pada waktunya.
c. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup
untuk melayani para anggotannya.
d. Memungkinkan bagi koperasi untuk memberikan syarat kredit yang lebih
menguntungkan bagi para anggota.
e. Memungkinkan bagi koperasi untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien
karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang ataupun jasa yang
dibutuhkan (S.Munawir, 2004 : 117).

Jika ditinjau dari sudut neraca, modal kerja adalah aktiva lancar dikurangi
kewajiban lancar. Aktiva lancar adalah harta perusahaan yang dalam jangka
paling lama setahun dapat dicairkan menjadi uang kas, seperti deposito jangka
pendek, piutang piutang dagang, persediaan barang, dan uang kas.
Ditinjau dari segi perspektif manajemen, modal kerja ( working capital )
selalu dibutuhkan selama usaha berjalan. Oleh sebab itu, para pengelola usaha
pada umumnya menaruh perhatian khusus pada penanganan modal kerja ini.
Dilihat dari sifatnya, modal kerja akan berputar terus menerus di dalam
perusahaan. Pengeluaran pengeluaran yang dipergunakan untuk pembelian
bahan baku, pembayaran gaji atau upah karyawan, dan lain lainnya akan
kembali lagi menjadi uang kas melalui hasil penjualan dan selanjutnya
dipergunakan lagi untuk biaya operasional perusahaan. Siklus yang demikian
ini disebut perputaran modal kerja sebagaimana yang ditunjukkan diagram
dibawah ini.
Modal kerja

Penjualan

Operasi perusahaan

Barang / jasa

Gambar 2.1 Siklus Modal Kerja

Oleh sebab itu, salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan oleh
manajemen dalam perputaran modal kerja adalah periode ( lama waktu yang
dibutuhkan ) dalam setiap perputaran. Semakin pendek periode perputaran
modal kerja akan menyebabkan semakin kecil kebutuhan modal kerja.
Sebaliknya semakin lama atau panjang waktu periode perputaran modal kerja,
maka semakin besar modal kerja yang dibutuhkan.

Agar berbagai kegiatan itu dapat dilakukan dengan lancar, maka koperasi
harus dapat merencanakan kebutuhan modal kerjanya dengan baik, serta
merencanakan penggunaannya secara baik pula. Prinsipnya adalah bahwa
koperasi harus selalu berusaha agar uang yang dibelanjakannya untuk
membiayai berbagai kegiatannya, harus dapat kembali masuk ke dalam
koperasi melalui penjualan barang barang atau jasa yang dilakukannya.
Manajemen modal kerja harus diselenggarakan dengan sebaik baiknya,
karena hal ini berkaitan dengan kelangsungan hidup koperasi. Pengelolaan
modal kerja yang tidak baik akan mengakibatkan pemborosan yang pada
akhirnya dapat mengancam kelangsungan hidup koperasi.
Manajemen modal kerja menurut Revrisond Baswir (2000 : 173 176)
meliputi manajemen kas, manajemen piutang, dan manajemen persediaan.
a. Manajemen Kas
Kas dapat diartikan sebagai nilai uang kontan yang ada dalam perusahaan
beserta pos pos lain yang dalam waktu dekat dapat diuangkan sebagai
alat pembayaran. Pusat manajemen kas adalah pada tercapainya
keseimbangan antara kas yang dikeluarkan dengan kas yang diterima.
Sebagaimana diketahui, kas adalah aktiva yang sifatnya paling liquid.
Dengan sifat seperti itu, maka manajemen kas harus diarahkan agar
mencapai keadaan keadaan sebagai berikut :
1) Tersedianya kas dalam jumlah yang cukup untuk membiayai transaksi
transaksi koperasi selama periode berjalan
2) Menghindari terjadinya pengangguran kas koperasi dalam jumlah yang
relatif besar
3) Menghindari terjadinya penyalahgunaan penggunaan kas koperasi
Sehubungan dengan tujuan tujuan di atas maka koperasi harus
berusaha memanfaatkan uang kas yang sementara waktu belum
digunakan, untuk membiayai berbagai kegiatan yang bersifat
produktif. Sebagai misal, kelebihan uang yang ada, untuk sementara
bisa diinvestasikan dalam bentuk deposito. Dengan demikian,
meskipun kegiatan itu bukan tujuan utama koperasi, ia akan dapat
meningkatkan pendapatan koperasi.
b. Manajemen Piutang
Piutang adalah tagihan kepada pihak pihak di luar koperasi, yang timbul
karena terjadinya atau penyerahan jasa jasa koperasi.
Permasalah manajemen piutang biasanya terletak pada segi pengihannya.
Piutang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap likuiditas
koperasi. Likuiditas adalah kemampuan untuk menyediakan dana dalam
jumlah yang cukup untuk membiayai semua transaksi usaha koperasi.

Karena piutang menyangkut hubungan dengan pihak ketiga, maka


pengendaliannya cenderung agak rumit. Resiko paling kecil yang
seringkali terjadi dalam kaitannya dengan piutang adalah tidak tertagihnya
piutang itu pada tanggal jatuh temponya. Agar dampak dari keterlambatan
pengumpulan piutang itu dapat diperkecil, maka keputusan menjual
barang secara kredit dan tunai perlu direncanakan dengan memperhatikan
kondisi likuiditas koperasi.
c. Manajemen Persediaan
Persediaan adalah barang barang yang dimiliki oleh koperasi, dengan
maksud untuk dijual kembali atau diproses lebih lanjut menjadi produk
baru yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.
Menurut Pasal 41 Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 sumber modal
koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman.
a. Modal Sendiri
Modal sendiri merupakan pemupukan modal yang diperoleh dari para
anggota. Modal sendiri terdiri dari :
1) Simpanan pokok anggota yaitu sejumlah uang yang wajib dibayar oleh
anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Tiap
anggota membayar simpanan pokok sama besarnya.
2) Simpanan wajib anggota adalah sejumlah uang tertentu yang wajib
dibayar oleh anggota setiap bulan atau secara berkala sesuai dengan
keputusan rapat anggota
3) Dana Cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari pembagian
SHU yang dimaksudkan untuk memupuk modal sendiri setiap tahun
dan digunakan untuk memupuk kerugian koperasi bila diperlukan
b. Modal Pinjaman
Modal pinjaman disebut juga sebagai modal ekstern karena berasal dari
luar koperasi. Modal pinjaman terdiri dari :
1) Pinjaman dari Anggota
Yaitu modal yang diperoleh koperasi dari pinjaman kepada anggota
2) Koperasi Lain
Yaitu modal yang diperoleh dari pinjaman koperasi lain, yang didasari
dengan kerjasama antar koperasi
3) Bank atau Lembaga Keuangan Lain
Adalah pinjaman dari Bank atau lembaga keuangan lain dalam bentuk
barang atau uang
4. Pengertian Laba Usaha Koperasi / Sisa Hasil Usaha
Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan diatas biaya
biaya dalam jangka waktu tertentu. Dalam koperasi laba usaha biasa disebut
dengan Sisa Hasil Usaha (SHU).

Ditinjau dari aspek ekonomi manajerial, Sisa Hasil Usaha ( SHU )


koperasi adalah selisih dari seluruh pemasukan atau penerimaan total dengan
biaya biaya dalam satu tahun buku.
Menurut UU No. 17 / 2012, tentang perkoperasian menjelaskan mengenai
Sisa Hasil Usaha sebagai berikut :
a. SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu
tahun buku dikurang dengan biaya biaya, penyusutan, dan kewajiban
lain termasuk pajak dalam satu tahun buku yang bersangkutan.
b. SHU setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota
sebanding jasa usaha yang dilakukan oleh masing masing anggota
dengan koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan
perkoperasian dan keperluan koperasi, sesuai dengan keputusan Rapat
Anggota.
c. Besarnya pemupukan modal dana cadangan ditetapkan dalam Rapat
Anggota.
Dengan mengacu pengertian di atas, maka besarnya SHU yang diterima
oleh setiap anggota akan berbeda, tergantung besarnya partisipasi modal dan
transaksi anggota terhadap pembentukan pendapatan koperasi. Dalam
pengertian ini juga dijelaskan bahwa adanya hubungan antara transaksi usaha
anggota dan koperasinya dalam perolehan SHU. Artinya, semakin besar
transaksi ( usaha dan modal ) anggota dengan koperasi, maka semakin besar
SHU yang akan diterima.
Sebagai suatu badan usaha, koperasi didalam menjalankan kegiatan
usahanya tentu saja menghendaki untuk mendapatkan keuntungan atau sisa
hasil usaha yang cukup.
Sisa Hasil Usaha mungkin tidak dapat dibagi habis, apabila rapat anggota
memutuskan SHU untuk tetap tinggal dalam rekening simpanan anggota
masing masing dalam tahun buku yang bersangkutan. SHU yang tidak
dibagikan ini digunakan untuk pemupukan modal.

Sebuah koperasi dikatakan baik atau berkembang bukan hanya dilihat dari
perolehan Sisa Hasil Usaha ( SHU ) saja, tetapi juga dilihat dari rencana kerja
pelaksanaan yang telah ditentukan dalam rapat anggota tahunan apakah
rencana tersebut bisa dilaksanakan secara keseluruhan.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah pelayanan terhadap
anggota. Koperasi yang dapat melayani anggota sebaik baiknya dapat
dikatakan berhasil. Namun sebagai badan usaha, koperasi juga dituntut untuk
dapat sejajar dengan badan usaha lain termasuk dalam perolehan sisa hasil
usaha. Untuk itu pengurus harus bekerja keras dan mempunyai manajemen
yang baik sehingga dapat menghasilkan pelayanan maupun SHU yang wajar.
Salah satu sendi dasar koperasi yang mengatur keuntungan pada koperasi
yaitu SHU. Sisa Hasil Usaha ( SHU ) bila dibagikan kepada anggota
dilakukan tidak berdasarkan pada modal tetapi berdasarkan perimbangan jasa
usaha dan kegiatannya dalam penghidupan koperasi itu.
Pada dasarnya SHU yang diperoleh disetiap tahunnya dibagi sesuai
dengan aturan yang telah ditetapkan pada Anggaran Dasar / Anggaran Rumah
Tangga ( AD/ART ) koperasi yang bersangkutan. Acuan dasar untuk membagi
SHU adalah prinsip prinsip dasar koperasi yang menyebutkan bahwa,
pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa masing
masing anggota.
Pembagian SHU yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk
anggota koperasi itulah yang boleh dibagikan kepada para anggota, misalnya
hasil pelayanan terhadap pihak ketiga tidak boleh dibagikan kepada anggota
karena ini bukan diperoleh dari jasa anggota, sisa hasil usaha ini digunakan
untuk pembiayaan pembiayaan tertentu lainnya.

Pembagian SHU harus dilakukan pada akhir periode pembukuan. Menurut


Sitio dan Tamba (2001 : 89) secara umum koperasi dibagi untuk :
a. Cadangan Koperasi
Cadangan koperasi merupakan bagian dari penyisihan SHU yang tidak
dibagi dan dapat digunakan untuk memupuk modal sendiri serta untuk
menutup kerugian koperasi bila diperlukan.
b. Jasa Anggota
Anggota di dalam koperasi memiliki fungsi ganda yaitu sebagai pemilik
(owner) dan sekaligus sebagai pelanggan (customer). Sebagai pemilik,
seorang anggota berkewajiban melakukan investasi. Dengan demikian
sebagai investor anggota berhak menerima hasil investasinya. Disisi lain
sebagai pelanggan, seorang anggota berkewajiban berpartisipasi dalam
setiap transaksi bisnis koperasinya. Dengan demikian, SHU yang
diberikan kepada anggotanya berdasarkan atas 2 (dua) kegiatan ekonomi
yang dilakukan oleh anggota sendiri, yaitu :
1) SHU atas jasa modal, adalah SHU yang diterima oleh anggota karena
jasa atas penanaman modalnya (simpanan) didalam koperasi.
2) SHU atas jasa usaha, adalah SHU yang diterima anggota karena jasa
atas transaksi yang dilakukan sebagai pelanggan didalam koperasi.
c. Dana Pengurus
Dana pengurus adalah SHU yang disisihkan untuk pengurus atas balas
jasanya dalam mengelola organisasi dan usaha koperasi.
d. Dana Pegawai
Dana Pegawai adalah penyisihan SHU yang digunakan untuk membayar
gaji pegawai yang bekerja dalam koperasi.
e. Dana Pendidikan
Dana Pendidikan adalah Penyisihan SHU yang digunakan untuk
membiayai pendidikan pengurus, pengelola, dan pegawai koperasi sebagai
upaya meningkatkan kemampuan dan keahlian sumber daya manusia
dalam mengelola koperasi.
f. Dana Sosial
Dana sosial adalah penyisihan SHU yang dipergunakan untuk membantu
anggota dan masyarakat sekitar yang tertimpa musibah.
g. Dana Pembangunan Daerah Kerja
Dana pembangunan daerah kerja adalah penyisihan SHU yang digunakan
untuk mengembangkan daerah kerjanya.
Agar tercermin azas keadilan, demokrasi, transparansi, dan sesuai dengan
prinsip prinsip koperasi, maka perlu diperhatikan prinsip prinsip
pembagian SHU sebagai berikut :
a. SHU yang dibagi adalah yang bersumber dari anggota
Pada hakekatnya SHU yang dibagi kepada anggota adalah yang bersumber
dari anggota sendiri. Sedangkan SHU yang bukan berasal dari hasil
transaksi dengan anggota pada dasarnya tidak dibagi kepada anggota,

melainkan dijadikan sebagai cadangan koperasi. Oleh sebab itu, langkah


pertama dalam pembagian SHU adalah memilahkan yang bersumber dari
hasil transaksi usaha dengan anggota dan yang bersumber dari
nonanggota.
b. SHU anggota adalah jasa dari modal dan transaksi usaha yang dilakukan
anggota sendiri
SHU yang diterima setiap anggota pada dasarnya merupakan insentif dari
modal yang diinvestasikan dan dari hasil transaksi yang dilakukannya
dengan koperasi. Oleh sebab itu, perlu ditentukan proporsi SHU untuk jasa
modal dan jasa transaksi usaha yang dibagi kepada anggota. Dari SHU
bagian anggota, harus ditetapkan berapa persentase untuk jasa modal,
misalkan 30 % dan sisanya 70 % berarti untuk jasa transaksi usaha.
c. Pembagian SHU anggota dilakukan secara transparan
Proses perhitungan SHU per anggota dan jumlah SHU yang dibagi kepada
anggota harus diumumkan secara transparan, sehingga setiap anggota
dapat dengan mudah menghitung secara kuantitatif berapa partisipasinya
kepada koperasinya. Prinsip ini pada dasarnya juga merupakan salah satu
proses pendidikan bagi anggota koperasi dalam membangun suatu
kebersamaan, kepemilikan terhadap suatu badan usaha, dan pendidikan
dalam proses demokrasi.
d. SHU anggota dibayar secara tunai
SHU per anggota haruslah diberikan secara tunai, karena dengan demikian
koperasi membuktikan dirinya sebagai badan usaha yang sehat kepada
anggota dan masyarakat mitra bisnisnya.
B. Kerangka Berpikir
Koperasi dalam menjalankan usaha membutuhkan modal yang digunakan
untuk membiayai kegiatan usaha. Kegiatan yang dijalankan adalah dalam
rangka pencapaian laba atau sisa hasil usaha. Modal koperasi terdiri dari
modal sendiri dan modal pinjaman yang keduanya setelah menjadi modal
usaha yang kemudian disebut dengan modal kerja akan digunakan untuk
membiayai seluruh kegiatan usaha koperasi.
Modal kerja merupakan faktor yang tidak kalah penting jika dibandingkan
dengan faktor yang lain misalnya : tenaga kerja, mesin atau alat produksi dan
bangunan. Modal kerja mempunyai hubungan yang erat dengan kegiatan
operasi sehari hari, karena selalu dibutuhkan untuk membelanjakan operasi
secara terus menerus. Modal kerja yang cukup memungkinkan bagi
perusahaan untuk beroperasi seekonomis mungkin dan perusahaan tidak
mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya bahaya yang mungkin timbul
karena ada krisis atau kekacauan keuangan (S. Munawir, 2004 : 114).

Peranan modal kerja yang cukup bagi koperasi adalah melindungi


perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai aktiva lancar,
memungkinkan untuk membayar semua kewajiban tepat pada waktunya,
menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan yang semakin besar dan
memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau
kesulitan keuangan yang terjadi, memungkinkan untuk memiliki persediaan
dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumen / anggota,
memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien
karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang
dibutuhkan, memungkinkan bagi koperasi untuk memberikan syarat kredit
yang menguntungkan bagi para anggotanya (S.Munawir, 2004 :116-117).
Laba atau SHU diperoleh dengan membandingkan antara modal kerja
dengan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam satu periode tertentu. Besar
kecilnya SHU dipengaruhi oleh besar kecilnya modal kerja dan jumlah biaya
yang dikeluarkan.
Sebagai badan usaha yang bergerak di bidang kegiatan ekonomi, koperasi
sangat memerlukan modal sebagai pembiayaan dari usahanya tersebut. Besar
kecilnya nilai modal yang ada pada koperasi menentukan pula besar kecilnya
lapangan usaha yang dijalankan koperasi tersebut. Sehingga dengan demikian
faktor modal dalam usaha koperasi merupakan salah satu alat yang ikut
menentukan maju mundurnya koperasi. Tanpa adanya modal ini, sesuatu yang
bersifat ekonomis tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Disamping simpanan pokok dan simpanan wajib yang merupakan modal
sendiri juga bisa didapat dari dana cadangan dan hibah. Dari modal sendiri
diharapkan rentabilitas atau keuntungan yang diperoleh koperasi akan
mendapatkan Sisa Hasil Usaha ( SHU ) yang cukup untuk kesejahteraan para
anggota koperasi.
Secara sistematis kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan
sebagai berikut :

Modal Kerja
Tinggi

Laba usaha
Naik/Tinggi

Modal Kerja

Modal Kerja
Rendah

SHU
Tinggi

SHU

Laba usaha
Turun/Rendah

SHU
Rendah

C. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah Terdapat pengaruh yang kuat antara
Modal Kerja dengan Laba Usaha Koperasi.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jakarta.
Waktu yang digunakan peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah
selama 6 ( enam ) bulan dimulai dari bulan April sampai dengan bulan
September.
B. Metode Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui apakah ada
pengaruh modal kerja yang diperoleh dari simpanan simpanan anggota
terhadap laba atau SHU pada Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia. Metode ini
adalah metode Expose Facto dengan pendekatan korelasi dan observasi
langsung pada pihak yang berwenang di koperasi tersebut.
Metode Expose Facto adalah suatu penelitian empiris yang tidak dapat
mngendalikan variabel bebas (x) adalah modal kerja sedangkan variabel
terikat (y) adalah laba atau SHU.
Alasan peneliti menggunakan metode Expose Facto karena peneliti
mengambil data yang sudah terjadi sebelum penelitian ini dilaksanakan
sehingga peneliti dapat langsung mengambil data yang diperlukan sehingga
sesuai dengan pengertian dari metode penelitian Expose Facto itu sendiri yaitu
suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi
dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor faktor yang

menimbulkan kejadian tersebut (Sugiyono, 2007:7). Dengan demikian tujuan


memperoleh informasi yang berhubungan dengan Hubungan Modal Kerja
dengan Laba Usaha dapat diperoleh.
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan satuan analisis yang merupakan sasaran
penelitian. Populasi dari penelitian ini adalah laporan keuangan anggota dan
sisa hasil usaha selama 6 (enam) tahun pada Koperasi Serba Usaha Sejati
Mulia Jatipadang terhitung dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013.
Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi yaitu data simpanan
anggota dan SHU dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013.
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mencapai tujuan penelitian dibutuhkan data yang berhubungan
dengan objek untuk mencari jawaban dari permasalahan. Penelitian ini
menggunakan metode wawancara, metode dokumentasi dan kepustakaan.
a. Wawancara
Yaitu peneliti datang langsung ke objek penelitian di Koperasi Serba
Usaha Sejati Mulia Jatipadang guna mencari data dan informasi yang
dibutuhkan dengan mengadakan pendekatan dan mengadakan wawancara
dengan pihak yang berkompeten di Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia
Jakarta (Pengurus dan Anggota).
b. Dokumentasi
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan
sebagai dasar untuk mengadakan penelitian selanjutnya, yakni data
Neraca, Laporan Laba / Rugi dan buku keuangan lainnya di Koperasi
Serba Usaha Sejati Mulia Jakarta selama 6 (enam) tahun.

c. Kepustakaan
Setiap penelitian memerlukan bahan yang bersumber dari perpustakaan,
studi pustaka merupakan metode informasi yang diperoleh dengan
mencari dan membaca buku-buku yang ada hubungannya dengan
pembahasan, kemudian dicatat dan dipelajari untuk dijadikan data
tambahan. Dalam hal ini penulis mengumpulkan informasi-informasi yang
menunjang tema dan judul yang disajikan.
E. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis
kuantitatif. Pengukuran secara kuantitatif mengenai penggunaan modal kerja
dalam penelitian ini berdasarkan data historis enam tahun terakhir yaitu tahun
2008 - 2013. Data tersebut kemudian diolah untuk memperoleh informasi
yang diperlukan untuk menjawab permasalahan yang diajukan.
Dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah modal kerja yang diperoleh
dari simpanan simpanan anggota terhadap laba usaha atau SHU pada
Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia dengan teknik korelasi Product Moment.
Langkah yang ditempuh dalam menganalisis data adalah sebagai berikut :
a. Mencari Persamaan Regresi
Untuk menunjukkan hubungan penelitian terlebih dahulu dicari uji
persamaan regresi adalah, y = a + bx . dimana koefisien regresi b dan
konstanta a dicari dengan rumus sebagai berikut :
a=(y)b(x)
n
b = n . ( xy ) ( x ) . ( y )

n . x - ( x )

b. Perhitungan Koefisien Korelasi


Untuk menghitung koefisien korelasi antara variabel bebas (x) dan
variabel terikat (y) dengan menggunakan rumus korelasi product moment
dari Pearson, sebagai berikut :
rxy = n . ( xy ) - ( x ) ( y )
{ n. (( x) - ( x )) } { n. (y) - ( y) }
Keterangan :
rxy

= tingkat keterkaitan hubungan (koefisien determinasi)

= jumlah skor dalam sebaran x yang adalah modal kerja


(variabel bebas)

= jumlah skor dalam sebaran y yang adalah laba usaha


(variabel terikat)

xy

= jumlah hasil kali skor x dan skor y yang berpasangan

= jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x

= jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y

= banyaknya data

Dengan ketentuan penggunaan r adalah :


1)

Jika r mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel tersebut


adalah lemah

2)

Jika r mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel adalah kuat

3)

Jika r positif, maka hubungan kedua variabel adalah searah

4)

Jika r negatif, maka hubungan kedua variabel adalah berlawanan

c. Mencari Koefisien Determinasi


Koefisien Determinasi adalah suatu angka koefisien yang menunjukkan
besarnya hubungan suatu variabel (x) dengan variabel lainnya (y) yang
Koefisien Determinasi adalah suatu angka koefisien yang menunjukkan
besarnya hubungan suatu variabel (x) dengan variabel lainnya (y) yang
dinyatakan dalam angka persentase, dengan rumus :
KD = rxy x 100%
d. Pengujian Hipotesis
Untuk melihat keberartian koefisien korelasi dilakukan pengujian hipotesis
dengan menggunakan rumus uji t sebagai berikut :
r

n2

t=
h

1 r2

Keterangan :
th

= nilai t hitung

= nilai koefisien korelasi

= jumlah sampel

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Pengumpulan Data
1. Gambaran Umum Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jakarta
a)

Sejarah Perkembangan Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia


Jatipadang
Sebelum KSU Sejati Mulia berdiri, pada bulan Juli 1977 di RW 01

kelurahan Jatipadang telah berdiri suatu Paguyuban Krida Tri Darma.


Salah satu kegiatan dari Paguyuban tersebut adalah usaha simpan pinjam
bagi anggotanya. Ternyata kegiatan ini mendapat tanggapan positif dari
masyarakat sekitarnya sehingga pada tanggal 8 Januari 1978 disepakati
membentuk usaha bersama dalam wujud Koperasi Simpan Pinjam yang
diberi nama KSP Dana Mulia. KSP Dana Mulia inilah yang akhirnya
berkembang atau lebih tepatnya cikal bakal dari KSU Sejati Mulia.
Pada tanggal 21 Juli 1978 beberapa RW mengadakan rapat
membentuk KSU tingkat kelurahan di mana disepakati KSP Dana Mulia
ditingkatkan dari KSP menjadi KSU. Dan menjadi KSU Sejati Mulia,
Koperasi tingkat Kelurahan Jatipadang.
Pada tanggal 23 Juli 1978 melalui formatur terbentuklah Pengurus
KSU lengkap dengan Badan Pemeriksa dan disepakati pula nama yaitu
KSU Sejati Mulia yang disyahkan oleh Kantor Wilayah Koperasi DKI

Jakarta pada tanggal 14 Desember 1978 dengan Badan Hukum No : 1263 /


BH / I.
Para pendiri KSU Sejati Mulia adalah :
a.

R. Soekarno (alm)

b.

T. Wahyo Karta Waisan (Lurah Jatipadang waktu itu)

c.

H. Wangsid (alm)

d.

H. Muhammad Iskak

e.

Sueb Paulana (alm)


Modal pertama KSU untuk menjalankan kegiatannya adalah sebesar

Rp 3.045.950,-. Sebagai modal dasar yang berasal dari simpanan anggota.


Pertama kali berdiri untuk melaksanakan kegiatannya KSU Sejati
Mulia telah diberikan tempat sepetak dari sebagian kantor Kelurahan
Jatipadang lama. Kantor Kelurahan Jatipadang pun waktu itu masih
menggunakan bangunan yang dibangun oleh P.T. Taruna Bangun yaitu
P.T. yang membangun komplek perumahan pegawai Departemen
Pertanian, tepatnya dibagian depan dari lahan yang dipergunakan untuk
Masjid Raya Al Ikhlas dan SD Pelita/M.I Al Ikhlas saat ini.
Dengan dibangunnya kantor kelurahan Jatipadang yang baru yang
terletak di tempat dimana kantor Kelurahan Jatipadang sekarang, maka
sementara KSU Sejati Mulia masih dapat menggunakan bekas kantor
tersebut sebagai tempat usaha.
Karena ada rencana pembangunan Masjid Al Ikhlas, maka dengan
terpaksa kantor dan toko KSU Sejati Mulia harus pindah. Dengan
semangat tinggi yang didukung oleh baik Pengurus, Pengawas, maupun
Anggota, Ketua Umum KSU Sejati Mulia saat itu Bpk. H. Suharyo

Husein, S.E. membeli sebidang tanah dimana KSU Sejati Mulia berada
saat ini.
Bidang tanah yang dibeli tersebut semula adalah tanah bekas rumah
dinas Bpk. AK Sudibyo, mantan kepala Dinas Keuangan Departemen
Pertanian, seluas 860m. Harga pembelian saat itu Rp 550.000.000,- dan
uang yang diperoleh dari kredit Bank DKI dengan jaminan sertifikat tanah
termasuk sertifikat tanah beberapa pengurus KSU Sejati Mulia waktu itu.
Dengan berbagai cara dalam pengembalian kredit pembelian tanah
dan rumah tersebut maka akhirnya pada tahun 1995 seluruh pinjaman
yang berkaitan pembelian tanah tersebut lunas, sehingga sepenuhnya tanah
dan bangunan tersebut menjadi milik KSU Sejati Mulia.
Pada saat ini KSU Sejati Mulia telah memiliki selain tanah seluas
860m tersebut juga bangunan berlantai 3 dengan luas seluruh bangunan
termasuk bangunan baru adalah 1200m. Alamat KSU Sejati Mulia adalah
Jl. Raya Ragunan No.B.1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telpon
sekretariat : 021-78841252 atau Fax : 021-78844114.

b)

Wilayah Kerja Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jatipadang


Wilayah kerja utama bagi KSU Sejati Mulia adalah kelurahan

Jatipadang, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Perkembangan


selanjutnya menunjukkan bahwa keanggotaan KSU Sejati Mulia tidak saja
dilingkup

kelurahan

Jatipadang,

tetapi

juga

meliputi

Kelurahan

Kebagusan, Kelurahan Pasar Minggu, Kelurahan Cilandak dan berbagai


kelurahan terutama diwilayah DKI Jakarta. Hal ini terjadi karena ada
beberapa anggota yang pindah ke kelurahan lain tanpa melepas

keanggotaannya pada KSU Sejati Mulia, disamping itu ada beberapa


pemasok yang juga sebagai anggota KSU Sejati Mulia
berdomisili di luar wilayah tersebut. Sehingga disimpulkan bahwa
keanggotaan KSU Sejati Mulia tersebar diwilayah DKI Jakarta dan
sekitarnya.
c)

Organisasi
1)

Keanggotaan
Keanggotaan KSU Sejati Mulia bersifat terbuka dan umum untuk

semua golongan masyarakat, apakah itu PNS., Pensiunan , Pegawai


Swasta, Guru, Pedagang, Ibu Rumah Tangga, dan sebagainya. Tanpa
membedakan suku, agama, dan ras, tetapi Warga Negara Indonesia
bertempat tinggal di Jakarta dan Sekitarnya. Keanggotaan koperasi
melekat pada setiap anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama,
misalnya menerima SHU sesuai dengan simpanannya dan wajib
membayar simpanan wajib bulanan sebesar yang telah ditentukan dan
disetujui bersama.
2)

Rapat Anggota
Rapat anggota mempunyai hak dan wewenang tertinggi
diadakan 2 kali dalam setahun yaitu :

Rapat Anggota membahas dan mengesahkan RAPB dan


Program Kerja Tahunan

Rapat Anggota membahas dan mengesahkan Laporan


Pertanggung jawaban Pengurus dan Pengawas setiap tahun.

3)

Pengurus
Susunan Pengurus periode 2011 2013 adalah sebagai berikut :

4)

Ketua Umum

: Drs. H Sutjipto

Sekretaris

: W Budiawan, BBA., MBA.

Ketua Bidang Usaha

: H. Suripto

Ketua Bidang Organisasi

: Sadjoem Soehono

Bendahara

: Drs. Salim Hakim

Pengawas
Susunan Pengawas periode 2011 2013 adalah sebagai
berikut :

5)

Ketua

: Ir. H Suprat

Sekretaris

: Ir. Bambang Sugianto, Msi.

Anggota

: Drs. Sutono Edyjanto

Dewan Penasehat
Susunan Dewan Penasehat periode 2011 2013 adalah
sebagai berikut :

6)

Ketua

: Asir A Chodirun

Sekretaris

: Hendartono.

Anggota

: Ir. H Supodo Budiman

KKA ( Ketua Kelompok Anggota )


Adalah Ketua Kelompok Anggota dari kelompok anggota
yang dipilih oleh anggota dalam kelompoknya dan diangkat serta
disyahkan dengan surat Keputusan Pengurus dengan masa bakti 2
tahun.

Fungsi dari KKA adalah sebagai wakil kelompoknya atau


penyambung lidah para anggotanya yang akan disampaikan kepada
Pengurus dan Pengawas dalam rapat anggota.
Manfaat adanya KKA dari sisi Pengurus merupakan jembatan
atau penyambung tangan Pengurus untuk disampaikan kepada
anggota dalam kelompoknya atau sebaliknya. Jumlah KKA saat ini
adalah 38 orang.
7)

Karyawan
Karyawan adalah pegawai KSU Sejati Mulia yang bertugas
sehari hari melaksanakan kegiatan di kantor atau Toko KSU,
digaji sesuai dengan jabatan atau pekerjaan yang diembannya dan
lama waktu pengabdiaannya pada KSU Sejati Mulia.
Karyawan KSU Sejati Mulia sebagian mempunyai kedudukan
selaku karyawan tetap (33 orang) dan karyawan honorer / Kontrak
(5 orang).
Karyawan KSU Sejati Mulia diangkat dan diberhentikan oleh
Pengurus KSU Sejati Mulia, menerima gaji sesuai peraturan yang
ditetapkan oleh Pengurus.
Apabila seorang karyawan berhenti dengan hormat dari KSU
Sejati Mulia karena habis masa bakti tugasnya, karena usia,
ataupun mengundurkan diri dengan hormat, maka kepada yang
bersangkutan diberikan hak haknya sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Kepada karyawan tetap selain gaji diberikan tunjangan
tunjangan sesuai peraturan yang berlaku pada KSU Sejati Mulia.

Tunjangan berupa tunjangan jabatan bagi yang menduduki jabatan


kepala bagian, manager dan kepala unit.
Sedangkan

yang

tidak

mempunyai

jabatan

diberikan

tunjangan pelaksanaan tugas, demikian pula kepada para karyawan


tetap diberikan tunjangan ASTEK dan ASKES sesuai peraturan
yang berlaku.
Baik karyawan tetap ataupun karyawan honorer setiap bulan
menerima gaji diatas upah minimun propinsi DKI Jakarta.

8) Kegiatan Usaha
KSU Sejati Mulia memiliki Gedung dengan luas tanah 860 m2
dengan 3 lantai dipergunakan untuk Toserba, Pondok kue, Gudang,
Kantor Sekretariat, Ruang rapat, dan sebagian disewakan kepada
Anggota dan Non Anggota dengan penjelasan sebagai berikut:
1.

Unit Usaha Eceran


Berupa Toko Swalayan yang menjual segala jenis keperluan
sehari-hari (Sembako dan lain-lain) yang omset penjualan
pada tahun 2012 direalisasikan sebesar 6,3 miliar. Unit ini
menjual sekitar 3000 jenis barang keperluan anggota termasuk
diantaranya bahan pokok kebutuhan sehari-hari, perlengkapan
sekolah/kantor, perlengkapan dapur, pakaian bayi, obatobatan, dan lain-lain. Omzet sehari-hari usaha berkisar antara
Rp 15-20 juta per hari.

2.

Unit Simpan Pinjam


a. Simpanan

Simpanan anggota terdiri dari simpanan sukarela dan


simpanan khusus .
Simpanan sukarela (tabungan) diberikan jasa 5% per tahun
dan 8,5% untuk simpanan khusus (deposito/berjangka).
Pada

tahun

2012

891.045.890,-

simpanan

Simpanan

sukarela
khusus

sebesar
sebesar

Rp
Rp

2.738.400.000.-

b. Pinjaman
Pinjaman hanya diberikan kepada anggota yang sudah aktif
selama 6 bulan. Besarnya pinjaman disesuaikan dengan
kebutuhan anggota dan nilai jaminan jasa pinjaman sebesar
2,5% per bulan dari saldo pinjaman.
3.

Unit Jasa Listrik dan Telepon


Unit ini melayani anggota kurang lebih 200 pelanggan listrik
dan telepon dengan modal kerja Rp 100.000.000,-. Jasa yang
diperoleh tahun ini Rp 31.419.400,-.

4.

Kerjasama Anggota
a. Pemasok kue basah (Pondok Kue)
Anggota yang berpartisipasi sebagai pemasok pondok kue
60 orang. Omzet Pondok kue 4 juta sampai dengan 5 juta
dengan keuntungan 20 %. Pada tahun 2012 keuntungan
pondok kue mencapai Rp 313.749.450,-.
b. Kerjasama Sewa Ruangan / kios

Terdiri dari kartu telepon, tahu Sumedang, cendol


Bandung, gado-gado, koran / majalah, empek-empek, NickNack, SIM/STNK, busana muslim dan salon muslimah.
Pada tahun 2012 kerjasama ini mencapai Rp 244.392.496,-.
5.

Kerjasama Non Anggota


Terdiri dari bank BCA, Bank Mandiri (ATM), Bank BNI
(ATM), Warnet, Mega photo dan Bank BRI mulai bulan
januari 2011. Pada tahun 2012 kerjasama non anggota
mencapai Rp 138.933.809,-.

6.

Kerjasama Konter
Terdiri dari konter daging, buah, obat, alat tulis kantor,
perlengkapan bayi, perlengkapan dapur. Pada tahun 2012
perlengkapan konter mencapai Rp 158.365.888,-.

2. Deskripsi Data
a)

Data Modal Kerja dan Laba Usaha


1) Modal Kerja
Adapun modal kerja berdasarkan data dari Koperasi Serba Usaha

Sejati Mulia Jatipadang yang diperoleh dari simpanan pokok, simpanan


wajib, dan simpanan sukarela. Data yang diambil oleh peneliti adalah data
yang diambil selama 6 tahun yaitu dari tahun 2007 sampai dengan tahun
2012.
Tabel 4.1
Data Modal Kerja Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jatipadang
Periode Tahun 2007 20012
Tahun
2007
2008
2009

Modal Kerja
668.963.000
756.431.000
1.016.445.000

2010
2011
2012
JUMLAH

1.117.317.000
1.405.705.000
1.747.674.000
6.712.535.000

Berdasarkan data tabel 4.1 diketahui bahwa pada tahun 2007


jumlah Modal Kerja yang terkumpul Rp 668.963.000,-. Pada tahun 2007 2012 terjadi peningkatan Modal Kerja sebesar 161,25%.
Bila dilihat dari data tersebut diatas Koperasi Serba Usaha Sejati
Mulia Jatipadang, sudah cukup baik dalam pertumbuhannya, cukup
pengelolaannya sehingga mampu memberi manfaat bagi anggotanya.
Peranan Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia dalam meningkatkan
Modal Kerja dari tahun 2007 s/d 20012 dapat ditunjukan dalam diagram
batang berikut ini.
Gambar 4.1

Berdasarkan diagram diatas terlihat bahwa upaya yang terus


menerus diusahakan Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia agar anggota

memanfaatkan keberadaan Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia. Terdapat


peningkatan jumlah Modal Kerja hal ini tak lepas dari peran para anggota
kepada pengurus dalam menjalankan usahanya.

2) Laba Usaha/Sisa Hasil Usaha (SHU)


Sisa hasil usaha pada Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia
Jatipadang adalah laba usaha bersih. Data tentang laba usaha / SHU yang
akan dijadikan sebagai variabel terikat (Y) diambil dari laporan
perhitungan laba rugi atau laporan penerimaan SHU koperasi setiap akhir
tahun dari tahun 2007-2012 sebanyak 6 data.
Data tesebut dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.2
Jumlah Laba Usaha/Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi Serba Usaha Sejati
Mulia Jatipadang Periode Tahun 2007-2012
Tahun

Jumlah

2007

249.765.000,00

2008

151.322.000,00

2009

254.650.000,00

2010

354.973.000,00

2011

414.622.000,00

2012

418.607.000,00

Jumlah

1.843.939.000

Sisa hasil usaha (SHU) adalah pendapatan bersih setelah dikurangi


dengan berbagai biaya-biaya yang dikeluarkan selama melaksanakan
kegaiatan (satu tahun). Berdasarkan tabel 4.2 diatas bahwa SHU yang
diperoleh Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia dari tahun 2007-2012
meningkat.

Meningkatnya SHU tahun 2007-2012 kemungkinan disebabkan


oleh kepercayaan yang diberikan anggota kepada koperasi dan juga
disebabkan oleh kesadaran para anggota dalam mengembangkan Koperasi
Serba Usaha Sejati Mulia menjadi lebih baik.
Adapun sumber pendapatan Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia, yaitu

unit usaha eceran, meliputi toko swalayan

unit simpan pinjam, meliputi simpanan sukarela dan simpanan khusus


sedangkan pinjaman hanya diberikan kepada anggota yang sudah aktif.

Unit jasa listrik dan telepon.


Dari deskripsi data diperoleh tentang peranan Koperasi Serba

Usaha Sejati Mulia Jatipadang selama 6 tahun terakhir dalam rangka


meningkatkan kesejahteraan anggota.
Dalam penelitian ini sengaja penulis hanya meneliti 6 tahun
terakhir dengan maksud untuk mendapatkan data yang lebih akurat, lebih
valid serta kebenaran hipotesa yang diajukan.
Gambar 4.2

B. Pengolahan Data
Data Modal Kerja dan Laba Usaha Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia
Jatipadang periode Tahun 2007 2012. Data di bawah ini menggambarkan
besarnya modal kerja dan laba usaha Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia
Jatipadang, sebagai berikut :
Tabel 4.3
Data Modal Kerja dan Laba Usaha Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jakarta
Periode Tahun 2007- 2012
(setelah dibulatkan dalam jutaan rupiah)

Dari data
dapat
tentang
besarnya
laba usaha dari

No
1
2
3
4
5
6
Jumlah

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012

Modal
Kerja
6,7
7,6
10,2
11,2
14,1
17,5
67,4

Laba
Usaha
2,5
1,5
2,5
3,5
4,1
4,2
18,3

selama 6 tahun

tersebut penulis
menjelaskan
perubahan
modal kerja dan
tahun ke tahun
( tahun 2007

2012 ), hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel 4.4
Data Perubahan Modal Kerja dan Laba Usaha Koperasi Serba Usaha Sejati
Mulia Jatipadang Periode Tahun 2007 2012
(dalam jutaan rupiah)

Tahun

Modal Perubahan
Kerja Absolut

Perubahan
Relatif (%)

Laba
Usaha

Perubahan
Absolut

Perubahan
Relatif (%)

2007

6,7

2,5

2008

7,6

0,9

13,4

1,5

40

2009

10,2

2,6

34,2

2,5

66,7

2010

11,2

9,8

3,5

40

2011

14,1

2,9

25,9

4,1

0,6

17,1

2012

17,5

3,4

24,1

4,2

0,1

2,5

Keterangan :

Tahun 2007 : Modal Kerja sebesar Rp 6,7 Milyar dengan perolehan laba
usaha sebesar Rp 2,5 Milyar.
Tahun 2008 : Modal Kerja sebesar Rp 7,6 Milyar terdapat perubahan absolut
sebesar Rp 0,9 Milyar dan perubahan relatif sebesar 13,4%
dengan laba usaha Rp 1,5 Milyar terdapat perubahan absolut
sebesar Rp 1 Milyar dan perubahan relatif sebesar 40%.
Tahun 2009 : Modal Kerja sebesar Rp 10,2 Milyar terdapat perubahan
absolut sebesar Rp 2,6 Milyar dan perubahan relatif sebesar
34,2% dengan laba usaha Rp 2,5 Milyar terdapat perubahan
absolut sebesar Rp 1 Milyar dan perubahan relatif sebesar
66,7%.
Tahun 2010 : Modal Kerja sebesar Rp 11,2 Milyar terdapat perubahan absolut
sebesar Rp 1 Milyar dan perubahan relatif sebesar 9,8% dengan
laba usaha Rp 3,5 Milyar terdapat perubahan absolut sebesar
Rp 1 Milyar dan perubahan relatif sebesar 40%.
Tahun 2011 : Modal Kerja sebesar Rp 14,1 Milyar terdapat perubahan absolut
sebesar Rp 2,9 Milyar dan perubahan relatif sebesar 25,9%
dengan laba usaha Rp 4,1 Milyar terdapat perubahan absolut
sebesar Rp 0,6 Milyar dan perubahan relatif sebesar 17,1%.
Tahun 2012 : Modal Kerja sebesar Rp 17,5 Milyar terdapat perubahan absolut
sebesar Rp 3,4 Milyar dan perubahan relatif sebesar 24,1%
dengan laba usaha Rp 4,2 Milyar terdapat perubahan absolut
sebesar Rp 0,1 Milyar dan perubahan relatif sebesar 2,5%.
Untuk mempermudah dalam melakukan pengolahan data dengan memakai
rumus rumus perhitungan sebagai berikut :

1. Perhitungan Regresi Sederhana


Untuk menunjukkan hubungan penelitian terlebih dahulu dicari uji
persamaan regresi adalah, y = a + bx . dimana koefisien regresi b dan
konstanta a dicari dengan rumus sebagai berikut :

a=(y)b(x)
n
b = n . ( xy ) ( x ) . ( y )
n . x - ( x )

2. Perhitungan Koefisien Korelasi


Untuk menghitung koefisien korelasi antara variabel bebas (x) dan
variabel terikat (y) dengan menggunakan rumus korelasi product moment
dari Pearson, sebagai berikut :
rxy = n . ( xy ) - ( x ) ( y )
{ n. (( x) - ( x )) } { n. (y) - ( y) }
Keterangan :
rxy = tingkat keterkaitan hubungan (koefisien determinasi)
x

= jumlah skor dalam sebaran x yang adalah modal kerja


(variabel bebas)

= jumlah skor dalam sebaran y yang adalah laba usaha


(variabel terikat)

xy = jumlah hasil kali skor x dan skor y yang berpasangan


x = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x
y = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y

n = banyaknya data
Dengan ketentuan penggunaan r adalah :
5)

Jika r mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel tersebut


adalah lemah

6)

Jika r mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel adalah kuat

7)

Jika r positif, maka hubungan kedua variabel adalah searah

8)

Jika r negatif, maka hubungan kedua variabel adalah berlawanan

Dan juga dengan ketentuan Interpretasi Koefisien Korelasi


Koefiesien Korelasi

Tingkat Hubungan

0-0,299

Sangat rendah

0,30-0,499

Rendah

0,50-0,699

Sedang

0,70-0,899

Kuat

0,90-1,0

Sangat kuat

Selain itu juga untuk mempermudah perhitungan, penulis menggunakan


tabel 4.5 seperti di bawah ini :
Tabel 4.5
Data Modal Kerja dan Laba Usaha Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia
Jatipadang Periode Tahun 2003 2008
(dalam jutaan rupiah)

No

Tahun

xy

2007

6,7

2,5 16,75

44,89

6,25

2008

7,6

1,5 11,4

57,76

2,25

2009

10,2

2,5 25,5

104,04

6,25

2010

11,2

3,5 39,2

125,44

12,3

2011

14,1

4,1 57,81

198,81

16,8

2012

17,5

4,2 73,5

306,25

17,6

Jumlah

67,4

18,3 224,2

837,2

61,5

Dari tabel di atas dapat diketahui xrata rata sebesar 11,2 dan yrata rata sebesar
3,05. xrata-rata dan yrata-rata tersebut akan digunakan untuk membuat suatu trend yang
dapat dilihat pada gambar 4.3.
C. Analisa Data
1. Perhitungan Regresi Sederhana
Perhitungan regresi sederhana adalah dengan menggunakan rumus
y=a+bx. Dengan terlebih dahulu mencari konstanta a dan b.
b = n . ( xy ) ( x ) . ( y )
n . x - ( x )
b = 6. (224,2) (67,4) . (18,3)
6. (837,2) (67,4)
b = 1345,2 1233,42
5023,2 4542,76
b = 111,78
480,44
b = 0,23
a=(y)b(x)
n
= 18,3 (0,23) (67,4)
6

= 18 15,502
6
= 0,42
Setelah harga a dan harga b ditemukan, maka persamaan regresi linier
sederhana dapat disusun. Persamaan regresi modal kerja dan laba usaha
koperasi adalah sebagai berikut: y = 0,42 + 0,23x
Persamaan regresi yang telah ditemukan tersebut dapat digunakan untuk
melakukan prediksi (ramalan) bagaimana laba usaha kopersi dalam
variabel dependen akan terjadi bila modal kerja dalam variabel independen
ditetapkan. Begitu juga dengan perolehan laba usaha / SHU pada Koperasi
Serba Usaha Sejati Mulia dari tahun 2007 - 2012 dapat diprediksi dengan
menggunakan persamaan regresi tersebut. Hal ini terlihat seperti di bawah
ini :
Tahun 2007 : Modal Kerja (x) = 6,7 maka perolehan laba usaha/SHU (y)
adalah y = 0,42 + 0,23x
= 0,42 + 0,23(6,7)
y = 1,961
Artinya bahwa pada tahun 2007 dengan modal kerja sebesar
6,7 diprediksikan akan mendapatkan laba usaha/SHU
sebesar 1,961.
Tahun 2008 : Modal Kerja (x) = 7,5 maka perolehan laba usaha/SHU (y)
adalah y = 0,42 + 0,23x
= 0,42 + 0,23(7,5)
y = 2,14

Artinya bahwa pada tahun 2008 dengan modal kerja


sebesar

7,5

diprediksikan

akan

mendapatkan

laba

usaha/SHU sebesar 2,14.


Tahun 2009 : Modal Kerja (x) = 10 maka perolehan laba usaha/SHU (y)
adalah y = 0,42 + 0,23x
= 0,42 + 0,23(10)
y = 2,72
Artinya bahwa pada tahun 2009 dengan modal kerja
sebesar

10

diprediksikan

akan

mendapatkan

laba

usaha/SHU sebesar 2,72.


Tahun 2010 : Modal Kerja (x) = 11 maka perolehan laba usaha/SHU (y)
adalah y = 0,42 + 0,23x
= 0,42 + 0,23(11)
y = 2,95
Artinya bahwa pada tahun 2010 dengan modal kerja
sebesar

11

diprediksikan

akan

mendapatkan

laba

usaha/SHU sebesar 2,95.


Tahun 2011 : Modal Kerja (x) = 14 maka perolehan laba usaha/SHU (y)
adalah y = 0,42 + 0,23x
= 0,42 + 0,23(14)
y = 3,64
Artinya bahwa pada tahun 2011 dengan modal kerja
sebesar

14

diprediksikan

usaha/SHU sebesar 3,64.

akan

mendapatkan

laba

Tahun 2012 : Modal Kerja (x) = 17 maka perolehan laba usaha/SHU


(y) adalah y = 0,42 + 0,23x
= 0,42 + 0,23(17)
y = 4,3
Artinya bahwa pada tahun 2012 dengan modal kerja
sebesar

17

diprediksikan

akan

mendapatkan

laba

usaha/SHU sebesar 4.
Dari persamaan regresi di atas dapat diartikan bahwa, bila nilai modal
kerja bertambah 1 (satu) atau setiap modal kerja bertambah 10 maka nilai
rata rata laba usaha koperasi tiap tahun akan bertambah sebesar 0,23.
Dari persamaan regresi di tersebut, dapat digambarkan trend sebagai
berikut :
Gambar 4.3
Garis Persamaan Regresi Linier y = 0,42 + 0,23x
y
15

10

=0,42+ 0,23x
5
y rata-rata

3,05
0,42

X rata -rata
0
5

10

11,2

Perhitungan koefisien korelasi adalah :

( )( )

n
r=

n 2 ( ) 2

n( 2 ( ) 2

6 (224,2) (67,4)(18,3)
r=
6(837,2) (67,4) 2

6(61,5) (18,3) 2

1345,2 1233,42
=

5023,2 4542,76 369 334,89


111,78
=

(480,44)(34,11)
111,78
=
128,01
=

0,873

0,87

Dari nilai koefisien korelasi dapat ditentukan besarnya nilai koefisien


determinasi. Untuk perhitungan nilai koefisien dapat digunakan rumus sebagai
berikut :
Koefisien determinasi (KD)
KD = r x 100%
= (0,87) x 100 %
= 0,76 x 100%
= 76%

D. Pengujian Hipotesis
Hipotesis ini dapat dibuat dengan rumus sebagai berikut :
1. Hipotesis Awal
Ho

: tidak ada hubungan antara modal kerja dengan laba usaha/SHU

Ha

: ada hubungan antara modal kerja dengan laba usaha/SHU

2. Uji Hipotesis dengan uji to


n2

r
to =

1 r2

0,87 6 2

1 0,76
0,87 4
=

0,24
0,87 x 2
=
0, 49
1,74
=
0,49
=

3,551

3,6

Harga thitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan harga ttabel. Untuk


kesalahan 5%

uji

dan

dk = n-2 = 4, maka

2,776. hal ini dapat digambarkan seperti berikut :

diperoleh ttabel

Ho

Daerah Penolakan Ho

Ha
0

2,776

3,6

Gambar 4.2 Uji Signifikan Koefisien Korelasi Dengan Uji t

Berdasarkan perhitungan maka dinyatakan bahwa thitung jatuh pada daerah


penolakan Ho, maka dapat dinyatakan hipotesis nol yang menyatakan tidak
ada hubungan antara modal kerja dengan laba usaha koperasi, dan hipotesis
alternatif diterima. Jadi kesimpulannya koefisien korelasi antara modal kerja
dan laba usaha koperasi sebesar 0,87 adalah signifikan.
Uji signifikan korelasi product moment secara praktis, yang tidak perlu
dihitung, tetapi langsung dikonsultasikan pada tabel r product moment. Dari
tabel tersebut dapat dilihat bahwa, untuk n=6, taraf kesalahan 5%, maka harga
rtabel = 0,811. ketentunannya bila rhitung lebih kecil dar rtabel, maka Ho diterima,
dan Ha ditolak. Tetapi sebaliknya bila rhitung lebih besar dari rtabel (rh>rtabel) maka
Ha diterima. Ternyata rhitung (0,87) lebih besar dari rtabel (0,811). Dengan
demikian koefisien korelasi 0,87 itu signifikan dan hasilnya sama dengan uji t.
E. Interpretasi Data
Berdasarkan hasil perhitungan korelasi diperoleh nilai r = 0,87 ini
berarti bahwa antara modal kerja (x) dengan laba usaha/sisa hasil usaha/SHU
(y) terdapat hubungan yang sangat kuat dan positif, dalam pengertian bahwa
setiap kenaikan variabel x akan diikuti dengan kenaikan variabel y,

disebabkan oleh kepercayaan yang diberikan anggota kepada koperasi dalam


bentuk simpanan yang akan dijadikan sebagai modal kerja.
Dari hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh nilai 76% maka
dapat diinterpretasikan bahwa besarnya pengaruh modal kerja (x) terhadap
laba usaha/sisa hasil usaha koperasi dipengaruhi oleh simpanan sukarela
sebesar 76% sedangkan sisanya 24% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya
yaitu unit usaha eceran, unit simpan pinjam, unit jasa listrik dan telepon,
kerjasama anggota, kerjasama Non anggota, kerjasama kantor dan sebagainya.
Ini artinya peningkatan modal kerja koperasi berkorelasi positif dengan
peningkatan perolehan laba usaha koperasi/Sisa Hasil Usaha (SHU).
Dari hasil perhitungan uji Hipotesis dengan uji to menunjukan bahwa
terdapat hubungan yang positif antara modal kerja dengan laba usaha/Sisa
Hasil Usaha (SHU) hal ini terlihat dari hasil uji t didapat bahwa thitung 3,6>ttabel
2,776 maka Ho ditolak.
Begitu pula dengan hasil perhitungan uji Hipotesis dengan
menggunakan tabel r product moment menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang positif antara modal kerja dengan laba usaha/sisa hasil usaha (SHU) hal
ini terlihat dari hasil bahwa rhitung 0,87 > rtabel 0,811.
Sehingga hipotesis pengujian Ho yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan antara variabel x dengan variabel y ditolak, dengan kata lain
menolak Ho menerima Ha yang menyatakan bahwa ada hubungan antara
modal kerja (x) dan laba usaha/sisa hasil usaha (y).
Jadi jika koperasi menaikkan atau meningkatkan modal kerja yang
besar maka akan lebih memungkinkan meningkatnya laba usaha koperasi/sisa
hasil usaha Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jakarta.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, selanjutnya dapat
disimpulkan hal -hal sebagai berikut.
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara modal kerja dan laba usaha
koperasi pada Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jatipadang.
2. Besarnya hubungan yang diberikan oleh variabel Modal Kerja dengan
Laba Usaha pada Koperasi Serba Usaha Sejati Mulia Jatipadang adalah
sebesar 76%.
B. Saran
Selanjutnya dari kesimpulan yang diperoleh, maka saran-saran yang
diajukan adalah :
1. Hendaknya pihak pengelola dan pengurus Koperasi Serba Usaha Sejati
Mulia mengajak para anggotanya untuk lebih berperan serta dalam
meningkatkan usahanya yaitu dengan menaikkan simpanan pokok,
simpanan wajib, dan simpanan sukarela karena hubungan modal kerja
dengan Laba Usaha lebih besar dari modal luar.
2. Untuk meningkatkan laba usaha / SHU hendaknya Koperasi Serba Usaha
Sejati Mulia Jati Padang memperbesar jumlah modal kerja. Sehingga
dengan modal kerja yang besar dapat diperoleh laba usaha / SHU yang
maksimum.

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Agus Edhi Susanto, dan M. Firdaus. 2002. Perkoperasian Sejarah Teori dan
Praktek. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Arifin Sitio dan Halomoan Tamba. 2001. Koperasi Teori dan Praktek. Jakarta:
Erlangga.
Arikunto Suharsimi. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta: Br. Bineka Cipta.
Baswir Revrisond. 2000. Koperasi Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: P.T. Asdi
Mahasatya.
G. Kartasapoetra, dan A.G. Kartasapoetra dkk.2003. Koperasi Indonesia.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hendrojogi. 2004. Koperasi Asas Teori dan Praktek. Jakarta: P.T. Grafindo
Persada.
Iskandar, M Soesilo. 2008. Dinamika Gerakan Koperasi Indonesia. Jakarta:
Wahana Semesta Intermedia.
Kadir dan Raihan. 2006. Statistik Sosial. Jakarta: Universitas Islam Negeri
Jakarta.
Kusnadi, dan Hendar. 2005. Ekonomi Koperasi. Jakarta: Fakultas Ekonomi.
Munawir,S. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta : Liberty.
Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Riyanto, Bambang, 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
BPFE.
SR, Soemarso. 2000. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian dan Bisnis. Bandung: CV Alfabeta.
Supranto, J. 2001. Statistik Teori dan Aplikasi. Jakarta: Erlangga.
Internet: