You are on page 1of 4

Abu Darda, Pedagang Kaya Yang Fakir, Berhemat Di Dunia

Menabung Untuk Surga


15 Juni 2009 pukul 15:52 Disimpan dalam . LIHAT SELURUH ARTIKEL, 03. Jalan Untuk Memperbanyak Amal & Ibadah, 4.
Kisah Teladan, 4. Sahabat Rasululloh

Uwaimir bin Malik al-Khazraji yang lebih dikenal dengan nama Abu Darda
tergolong seorang sahabat yang terlambat masuk kedalam Islam di zaman
Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Sebelumnya ia sangat disibukkan dengan
ketekunan perdagangannya dan keasyikannya menyembah berhala. Singkat
cerita, dengan bantuan sahabatnya yang lebih dahulu masuk Islam, Abdullah
bin Rawahah, akhirnya ia memeluk Islam. Dia sangat menyesal agak
terlambat masuk Islam, karenanya ia sangat bersemangat mengejar
ketertinggalannya dengan upaya-upaya yang luar biasa. Berikut ini kisahnya.
Kawan-kawan beliau yang telah lebih dahulu masuk Islam telah memperoleh
pengertian yang mendalam tentang agama Allah ini, hafal Al Quran,
senantiasa beribadat, dan takwa yang selalu mereka tanamkan dalam dirinya
di sisi Allah. Inilah yang membuatnya bertekad hendak mengejar
ketertinggalannya dengan sungguh-sungguh sekalipun dia berpayah-payah
siang dan malam, hingga tersusul orang-orang yang telah berangkat lebih
dahulu. Dia berpaling kepada ibadat dan memutuskan hubungannya dengan
dunia; mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan;
mempelajari Alquran dengan tekun dan menghafal ayat-ayat, serta menggali
pengertiannya sampai dalam. Tatkala dirasakannya perdagangannya
terganggu dan merintanginya untuk beribadat dan menghadiri majlis-majlis
ilmu, maka ditinggalkannya usaha perdagangannya yang telah maju tanpa
ragu-ragu dan tanpa menyesal.
Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu, orang pernah bertanya
kepadanya. Maka, dijawabnya, Sebelum masa Rasulullah, saya menjadi
seorang pedagang. Maka, setelah masuk Islam, saya ingin menggabungkan
berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda dalam kuasaNya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput shalat
berjamaah, kemudian saya berjual-beli dan berlaba setiap hari 300 dinar.
Kemudian, saya menengok kepada si penanya dan berkata, Saya tidak
mengatakan, Allah Taala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi
pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak mengganggu saya untuk
dzikrullah (berzikir).
Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekadar
meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya
sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan badan, dan sehelai
pakaian kasar untuk menutupi tubuh.
Pada suatu malam yang sangat dingin, suatu jamaah menumpang bermalam
di rumahnya. Abu Darda menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak
memberinya selimut. Ketika hendak tidur, mereka mempertanyakan selimut.
Seorang di antaranya berkata, Biarlah saya tanyakan kepada Abu Darda.
Kata yang lain, Tidak perlu! Tetapi, orang yang seorang itu bersikeras untuk
tetap menanyakannya ke Abu Darda. Ia pergi ke kamar Abu Darda. Sampai di

muka pintu dilihatnya Abu Darda berbaring, dan istrinya duduk di


sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak mungkin
melindungi mereka dari kedinginan.
Orang itu bertanya kepada Abu Darda, Saya melihat Anda sama dengan
kami, tengah malam sedingin ini tanpa selimut. Ke mana saja kekayaan dan
harta benda Anda?
Jawab Abu Darda, Kami mempunyai rumah di kampung sana. Harta benda
kami langsung kami kirimkan ke sana setiap kami peroleh. Seandainya masih
ada yang tinggal di sini (berupa selimut), tentu sudah kami berikan kepada
tuan-tuan. Di samping itu, jalan ke rumah kami yang baru itu (rumah akhirat,
red) sulit dan mendaki. Karena itu, membawa barang seringan mungkin lebih
baik daripada membawa barang yang berat-berat. Kami memang sengaja
meringankan beban kami supaya mudah dibawa. Kemudian Abu Darda
bertanya kepada orang itu, Pahamkah Anda?
Jawab orang itu, Ya, saya mengerti.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Umar mengangkat Abu
Darda menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi, Abu Darda menolak
pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu
Darda, Bilamana Anda menghendaki saya pergi ke Syam, saya mau pergi
untuk mengajarkan Alquran dan sunnah Rasulullah kepada mereka serta
menegakkan shalat bersama-sama dengan mereka.
Khalifah Umar menyukai rencana Abu Darda tersebut. Lalu, Abu Darda
berangkat ke Damsyiq. Sampai di sana didapatinya masyarakat telah mabuk
kemewahan dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Hal itu sangat
menyedihkannya. Maka, dipanggilnya orang banyak ke masjid, lalu dia
berpidato di hadapan mereka.
Katanya, Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku se-agama;
tetangga se-negeri; dan pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai
penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah yang menyebabkan kalian tidak
menyenangi saya? Padahal, saya tidak mengharapkan balas jasa dari kalian.
Nasihatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian. Saya
tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orangorang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan kalian supaya
melaksanakan segala perintah Allah Taala, dan menghentikan segala
larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan
banyak-banyak, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian
membangun gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati atau
kalian mencita-citakan sesuatu yang tak mungkin tercapai oleh kalian.
Bangsa-bangsa sebelum kamu pernah mengumpulkan harta sebanyakbanyaknya dan bercita-cita setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebentar, harta
yang mereka tumpuk habis kikis, cita-cita mereka hancur berantakan, dan
bangunan-bangunan mewah yang mereka bangun rubuh menjadi kuburan.
Hai penduduk Damsyiq! Inilah bangsa Ad (kaum Nabi Hud As.)yang telah
memenuhi negeri (antara Aden dan Oman) dengan harta kekayaan dan anakanak. Siapakah di antara kalian yang berani membeli dariku peninggalan
kaum Ad itu dengan harga dua dirham?

Mendengar pidato Abu Darda tersebut orang banyak menangis, sehingga isak
tangis mereka terdengar dari luar masjid. Sejak hari itu Abu Darda senantiasa
mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar.
Jika ada yang bertanya kepadanya, dijawabnya; jika dia bertemu dengan
orang bodoh, diajarinya; dan jika dia melihat orang terlalai, diingatkannya.
Direbutnya setiap kesempatan yang baik sesuai dengan situasi dan kondisi
serta kemampuan yang ada padanya.
Ketika Abu Darda tinggal di Damsyiq, Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan
melamar anak gadis Abu Darda, yaitu Darda, untuk putranya, Yazid. Abu
Darda menolak lamaran Muawiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak
gadisnya, Darda, dengan Yazid (putra Gubernur). Bahkan, Darda
dikawinkannya dengan pemuda muslim, anak orang kebanyakan. Abu Darda
menyukai ilmu dan akhlak pemuda itu. Orang banyak heran dengan sikap Abu
Darda, dan berbisik-bisik sesama mereka, Anak gadis Abu Darda dilamar oleh
Yazid bin Muawiyah, tetapi lamarannya ditolak. Kemudian Abu Darda
mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak masyarakat
biasa.
Seorang penanya bertanya kepada Abu Darda,Mengapa Anda bertindak
seperti itu.
Jawab Abu Darda, Saya bebas berbuat sesuatu untuk kemaslahatan Darda.
Tanya, Mengapa?
Jawab Abu Darda, Bagaimana pendapat Anda, apabila nanti Darda telah
berada di tengah-tengah inang pengasuh yang senantiasa siap sedia
melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang gemerlapan
menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda ketika itu?
Pada suatu waktu ketika Abu Darda berada di negeri Syam, Amirul Mukminin
Umar bin Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi sahabat itu di
rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka pintu rumah Abu Darda,
ternyata pintu itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu
Darda mendengar suara Khalifah, Abu Darda berdiri mengucapkan selamat
datang dan menyilakan Khalifah Umar untuk duduk. Keduanya segera terlibat
dalam pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan menyelubungi
keduanya, sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara.
Khalifah Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda, kiranya sebuah
pelana kuda. Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda, kiranya berisi
pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya pakaian-pakaian tipis yang tidak
mencukupi untuk musim dingin.
Kata Khalifah Umar, Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda.
Maukah Anda saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk
melapangkan kehidupan Anda?
Jawab Abu Darda, Ingatkah Anda hai Umar sebuah hadits yang disampaikan
Rasulullah kepada kita?
Tanya Umar, Hadits apa gerangan?
Jawab Abu Darda, Bukankah Rasulullah telah bersabda, Hendaklah puncak
salah seorang kamu tentang dunia seperti perbekalan seorang pengendara
(yaitu secukupnya dan seadanya).
Jawab Khalifah Umar, Ya, saya ingat! Kata Abu Darda, Nah, apa yang telah
kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?

Khalifah Umar menangis, Abu Darda pun menangis pula. Akhirnya, mereka
berdua bertangis-tangisan sampai waktu subuh.
Abu Darda menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi pengajaran
kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan kitab (Al Quran)
dan hikmah kepada mereka sampai dia meninggal.
Tatkala Abu Darda hampir meninggal, para sahabatnya datang berkunjung.
Mereka bertanya, Sakit apa yang Anda rasakan?
Jawab Abu Darda, Dosa-dosaku!
Tanya, Apa yang Anda inginkan?
Jawab, Ampunan Tuhanku.
Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya,
Ulangkanlah kepadaku kalimah, Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.
Abu Darda senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang hingga
nafasnya yang terakhir.
Setelah Abu Darda pergi menemui Tuhannya, Auf bin Malik al-Asyjaiy
bermimpi. Dia melihat dalam mimpinya sebuah padang rumput yang luas
menghijau. Maka, mengambanglah bau harum semerbak dan muncul suatu
bayangan berupa sebuah kubah besar dari kulit. Sekitar kubah berbaring
hewan ternak yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Dia bertanya, Milik siapa ini?
Jawab, Milik Abdur Rahman bin Auf.
Abdur Rahman muncul dari dalam kubah. Dia berkata kepada Auf bin Malik,
Hai, Ibnu Malik! Inilah karunia Allah kepada kita berkat Al Quran. Seandainya
engkau mengawasi jalan ini, engkau akan melihat suatu pemandangan yang
belum pernah engkau saksikan, dan mendengar sesuatu yang belum pernah
engkau dengar, dan tidak pernah terlintas dalam pikiranmu.
Tanya Auf bin Malik, Untuk siapa semuanya, hai Abu Muhammad?
Jawab, Disediakan Allah Taala untuk Abu Darda, karena dia telah menolak
dunia dengan mudah dan lapang dada.