You are on page 1of 27

MAKALAH

SISTEM MUSKULOKLETAL
ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOMALASIA PADA DEWASA

Disusun oleh kelompok 7:


-

Ria Amya
Gebby Pratiwi
Rahmi Putri Roza
Azri Idrias

(14121955)
(14121960)
(14121970)
(14121966)

Tingakat III B

PROGRAM STUDI
S1 KEPERAWATAN
STIKES MERCUBAKTIJAYA PADANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas anugerah
dan petunjuk serta hidayah-Nya lah, makalah ini dapat terselesaikan meskipun memiliki
banyak sekali kekurangan.
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan tentang
Patofisiologi dan Asuhan Keperawatan pada Klien osteomalasia yang merupakan salah satu
penyakit pada sistem Muskulokletal.
Tentunya masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan di dalam pembuatan
makalah ini. Oleh karena keterbatasan ilmu dan referensi yang kami jadikan sebagai acuan
untuk menyusun makalah ini ataupun karena hal hal lain. Namun, karena adanya niat untuk
belajar, maka dengan antusias dan semangat yang tinggi, akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan kita semua
umumnya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terkait
dalam penyusunan makalah ini, serta kepada teman teman yang telah memberikan
dukungannya yang sangat berharga bagi penulis untuk dapat menyelesaikan makalah ini.

Padang, 22 September 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
KONSEP PATOFISIOLOGI PENYAKIT OSTEOMALASIA
A. Pengertian
B. Etiologi
C. Anatomi Fisiologi
D. Patofisiologi
E. WOC
F. Manifestasi Klinik
G. Komplikasi
H. Penatalaksanaan
I. Pemeriksaan diagnostic
BAB III PEMBAHASAN
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOMALASIA
2.1 Pengkajian
2.2 Diagnosa Keperawatan
2.3 Intervensi
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

i
ii
1
2
3
4
4
7
9
11
11
12
12
12
18
18
25
25

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama penyusun tulang adalah
kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan berkurangnya kalsium
yang terdapat pada tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan pada
mikroarstektur tulang dan tulang menjadi lunak Akibatnya tulang menjadi kehilangan
kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak/patah.
Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang
yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar
yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio
antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang..
Banyak faktor yang dapat menyebabkan osteomalasia . Kekurangan kalsium dan
vitamin D terutama di masa kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa
tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama osteomalasia Konsumsi kalsium
yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang
umumnya terjadi pada dewasa , dapat menyebabkan osteomalasia ,selain itu ganguan
pada sindroma malabsorbsi usus ,penyakit hati ,gagal ginjal kronis dapat juga
menyebab terjadinya osteomalasia
Terjadinya osteomalasia merupakan rangkaian awal terjadinya osteoporosis
.pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat meningkat tajam baik pada
anak anak ,dewasa atau pun orang tua
Pada orang dewasa kondisi ini adalah kronis dan deformitas skeletal tidak
separah yang terjadi pada anak-anak karena pertumbuhan skeletal telah terhenti.Pada
pasien ini, sejumlah osteoid atau remodelling tulang baru tidak mengalami
klasifikasi.Diduga bahwa defek primernya adalah defisiensi dalam mengaktivasi
vitamin D aktif (kalsitrol), yang memacu absorpsi kalsium dari traktus
gastrointestinalis dan memfasilitasi mineralisasi tulang.
Berdasarkan hasil penelitian University of Otago, Selandia Baru, bekerja sama
dengan Seameo Tropmed RCCN, Universitas Indonesia dan Universitas Putra
Malaysia, yang dipublikasikan European Journal of Clinical Nutrition tahun 2007,
perempuan Indonesia hanya mengonsumsi 270 miligram kalsium per hari.
Hal tersebut berarti asupan perempuan Indonesia bahkan kurang dari 50%
rekomendasi kalsium harian yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan dan kesehatan
tulang.

Asupan yang kurang dari 50% rekomendasi harian tersebut bahkan juga terjadi
di 9 negara Asia, seperti terlihat pada penelitian yang dilakukan Lyengar dan tim pada
2004. Kebutuhan kalsium yang dianjurkan per harinya adalah 1.000-1.200 mg.
Data kepadatan tulang yang dianalisa oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan
(Puslitbang) Gizi Bogor pada 2005, ditemukan bahwa 2 dari 5 orang Indonesia
berisiko menderita kerapuhan tulang
Dari jumlah kejadian diatas dan kondisi penyakit yang memerlukan
pendeteksian dan penanganan sejak dini, penulis tertarik untuk menulis makalah
Asuhan Keperawatan osteomalasia
B. Rumusan masalah
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami dan mampu membuat asuhan keperawatan dengan
klien Ostomalasia
2. Tujuan khusus
Setelah menyusun makalah ini mahasiswa diharapkan mampu :
a. Mengetahui pengertian dari Ostomalasia.
b. Mengetahui etiologi dari Ostomalasia.
c. Mengetahui anatomi dan fisiologi tulang
d. Mengetahui patofisiologi dari Ostomalasia
e. Mengetahui klasifikasi dari Ostomalasia
f. Mengetahui manifestasi klinis dari Ostomalasia
g. Mengetahui komplikasi dari Ostomalasia
h. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari Ostomalasia
i. Mengetahui penatalaksanaan Ostomalasia
j. Menyusun diagnosa keperawatan pada klien dengan Ostomalasia
k. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien Ostomalasia

BAB II
KONSEP TEORITIS
A. Defenisi Osteomalasia
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang ditandai dengan tidak
memadainya mineralisasi tulang. (kondisi serupa pada anak disebut rikets) pada orang
dewasa osteomalasia bersifat kronik, dan deformitas skeletalnya tidak seberat pada
anak karena pertumbuhan skeletalnya telah selesai, pada pasien ini, sejumlah besar
osteoid atau remodeling tulang baru tidak mengalami kalsifikasi. Diperkirakan bahwa
defek primernya adalah kekurangan vitamin D aktif (kalsitrol), yang memacu absorpsi
kalsium dari traktus gastrointestinalis dan memfasilitasi mineralisasi tulang. Pasokan
2

kalsium dan fosfat dalam cairan eksternal rendah. Tanpa vitamin D yang mencukupi ,
kalssium dan fosfat tidak dapat dimasukkan ketempat kalsifikasi tulang. Sebagai
akibat kegagalan mineralisasi, terjadilah perlunakan dan perlemahan kerangka tubuh,
menyebabkan nyeri, nyeri tekan, pelengkungan tulang, dan patah tulang patologik.
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang dikarakteristik oleh
kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang
disebut rickets) pada orang dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi
deformitas skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena
pada orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit).( Smeltzer. 2001:
2339 )
Pada pasien ini, sejumlah osteoid atau remodelling tulang baru tidak
mengalami klasifikasi.Diduga bahwa defek primernya adalah defisiensi dalam
mengaktivasi vitamin D aktif (kalsitrol), yang memacu absorpsi kalsium dari traktus
gastrointestinalis dan memfasilitasi mineralisasi tulang.Pasokan kalsium dan fosfat
dalam cairan ekstra sel rendah.Tanpa vitamin D yang mencukupi, kalsium dan fosfat
tidak dapat dimasukkan ke tempat klasifikasi tulang.Sebagai akibatnya terjadi
perlunakan dan perlemahan kerangka tubuh, menyebabkan nyeri, nyeri tekan,
pelengkungan tulang, dan patah tulang patologik.
Osteomalasia adalah manifestasi defisiensi vitamin D. Perubahan mendasar
pada penyakti ini adalah gangguan mineralisasi tulang, disertai meningkatnya osteoid
yang tidak mengalami mineralisasi.(Robins, 2007)
Osteomalasia adalah penyakit pada orang dewasa yang ditandai oleh gagalnya
pendepositan kalsium kedalam tulang yang baru tumbuh. Istilah lain dari osteomalasia
adalah soft bone atau tulang lunak. Penyakit ini mirip dengan rakitis, hanya saja
pada penyakit ini tidak ditemukan kelainan pada lempeng epifisis (tempat
pertumbuhan tulang pada anak) karena pada orang dewasa sudah tidak lagi dijumpai
lempeng epifisis.
B. Etiologi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami osteomalasia yaitu:
a. kekurangan kalsium dan vitamin D. Anak yang kekurangan kalsium akan
mengalami gangguan pada proses mineralisasi. Demikian juga apabila ia
kekurangan vitamin D. Di dalam tubuh vitamin D berfungsi membantu
penyerapan kalsium di dalam tubuh. Jika kedua unsur ini tidak terpenuhi makan
tulang-tulang si kecil menjadi lunak dan mudah patah. Proses mineralisasi adalah
proses proses terakhir pembentukan tulang. Jika kebutuhan kalsium anak

tercukupi maka otomatis proses mineralisasi dalam tubuhnya akan berlangsung


dengan baik.
b. Penderita gangguan hati seperti sirosis. Hal ini karena organ hatinya tak mampu
memroses vitamin D sehingga fase mineralisasi tidak terjadi.
c. Adanya gangguan fungsi ginjal sehingga proses ekskresi/pembuangan kalsium
akan meningkat. Dengan begitu proses mineralisasi akan terhambat.
d. Pemakaian obat dalam jangka waktu panjang. Pada kasus tertentu, efek
pemakaian obat seperti streroid dalam jangka waktu yang panjang rentan
terhadap penyakit ini.
e. Gangguan malabsorbsi
a. Menurunnya penyerapan vitamin D akibat penyakit bilier, penyakit mukosa
usus halus proksimal dan penyakit ileum.
b. Peningkatan katabolisme vitamin D akibat obat yang me- nyebabkan
peningkatan kerja enzim-enzim oksidase hati.
c. Gangguan tubulus renalis yang disertai terbuangnya fosfat (acquired), renal
tubular acidosis yang disertai disproteinemia kronik.
C. Anatomi dan fisiologi Tulang
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus
pergerakan. Komponen utama dari sistem muskuloskeletal adalah tulang dan jaringan
ikat yang menyusun kurang lebih 25 % berat badan dan otot menyusun kurang lebih
50%. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligament, dan jaringanjaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. (Price,S.A,1995 :175)
1. Tulang Sebagai Struktur dan Organ
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan menjadi
temppat melekatnya otot- otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Tulang adalah
jaringan terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama:
a. Membentuk rangka badan
b. Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot
c. Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat- alat
dalam seperti otak sumsum tulang belakang, jantung, dan paru- paru.
d. Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium fosfat, magnesium, dan
garam.
e. Ruang di tenganh tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi
tambahan lain, yaitu sebagai jaringan hemopoietik untuk memproduksi sel
darah merah sel darah putih dan trombosit.
2. Anatomi Tulang
Secara garis besar, tulang dibagi menjadi enam:
4

a. Tulang panjang (long bone), misalnya femur, tibia, fibula, ulna, dan humerus.
Daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis
epifisis disebut metafisis. Di daerah ini sangat sering ditemukan adanya
kelainan atau penyakit karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang
aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan
perkembangan pada daerah lempeng epifisis akan menyebabkan kelainan
b.
c.
d.
e.
f.

pertumbuhan tulang.
Tulang pendek (short bone), misalnya tulang- tulang karpal.
Tulang pipih (flat bone), misalnya tulang parietal, iga, skapula, dan pelvis.
Tulang tak beraturan (irreguler bone), misalnya tulang vertebra.
Tulang sesamoid, misalnya tulang patela.
Tulang sutura (sutural bone), ada di atap tengkorak.
Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut

korteks dan bagian dalam (endosteum) yang bersifat spongiosa berbentuk


trabekula dan di luarnya dilapisi oleh periosteum. Periosteum pada anak lebih
tebal daripada orang dewasa, yang memungkinkan penyembuhan tulang pada
anak lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
3. Fisiologi Sel Tulang
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel:
a. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan
proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses
yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid,
osteoblas, menyekresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang
peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks
tulang. Sebagai dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah sehingga
kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik
tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada
kasus metastasis kanker ke tulang.
b. Osteosit adalah sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk
pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
c. Osteoklas adalah sel besar berinti banyak memungkinkan mineral dan matriks
tulang dapat diabsorpsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas
mengikis tulang. Sel ini menghasilkan enzim proteolik yang memecahkan
matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang sehingga kalsium
dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah.
Dalam keaadaan normal, tulang mengalami pembentukan dan absorpsi
pada suatu tingkat yang konstan, kecuali pada masa pertumbuhan kanak- kanak
5

yang lebih banyak terjadi pembentukan dari pada absorpsi tulang. Proses ini
penting untuk fungsi normal tulang. Keaadaan ini membuat tulang dapat
berespons terhadap tekanan yang meningkat dan mencegah terjadi patah tulang.
Bentuk tulang dapat disesuaikan untuk menanggung kekuatan mekanis
yang semakin meningkat. Perubahan tersebut juga membantu mempertahankan
kekuatan tulang pada proses penuaan. Matriks organik yang sudah tua
berdegenerasi sehingga membuat tulang relatif menjadi lemah dan rapuh.
Pembentukan tulang yang baru memerlukan matriks organik baru sehingga
memberi tambahan kekuatan pada tulang.
Faktor yang berpengaruh terhadap keseimbangan pembentukan dan
reabsorpsi tulang adalah :
a. Vitamin D
Berfungsi meningkatkan jumlah kalsium dalam darah dengan meningkatkan
penyerapan kalsium dari saluran pencernaan. Kekurangan vitamin D dapat
menyebabkan deficit mineralisas, deformitas dan patah tulang.
b. Horman parathyroid dan kalsitonin
Merupakan hormone utama pengatur homeostasis kalsium. Hormon
parathyroid mengatur konsentrasi kalsium dalam darah, sebagian dengan cara
merangsang perpindahankalsium dari tulang. Sebagian respon kadar
kalsiumdarah

yang

rendah,

peningkatan

hormone

parathyroid

akan

mempercepat mobilisasi kalsium, demineralisasi tulang, dan pembentukan


kista tulang. Kalsitonin dari kelenjar tiroid meningkatkan penimbunan kalsium
dalam tulang.
c. Peredaran darah
Pasokan darah juga mempengaruhi pembentukan tulang. Dengan menurunnya
pasokan darah / hyperemia (kongesti) akan tejadi penurunan osteogenesis dan
tulang mengalami osteoporosis (berkurang kepadatannya). Nekrosis tulang
akan terjadi bila tulang kehilangan aliran darah.
4. Biokimia Tulang
Struktur tulang berubah sangat lambat terutama setelah periode pertumbuhan
tulang berakhir. Setelah fase ini perubahan tulang lebih banyak terjadi dalam
bentuk perubahan mikroskopik akibat aktivitas fisiologis tulang sebagai suatu
organ biokimia utama tulang.
a. Komposisi tulang terdiri atassubstansi organik 33% dan substansi inorganik
67% Substansi organik terdiri atas sel- sel tulang serta substansi organik

intraseluler atau matriks kolagen dan merupakan bagian terbesar dari matriks
(90%), sedangkan sisanya adalah asam hialuronat dan kondroitin asam sulfat.
b. Substansi inorganik terutama terdiri atas kalsium dan fosfat dan sisanya adalah
magnesium 0,5%, natrium 0,7%, kalsium 39%,kalium 0,2%, karbonat 9,8%,
dan fosfat 17%. Enzim tulang adalah fosfatase alkali yang diproduksi oleh
osteoblas yang kemungkinan besar mempunyai peranan yang penting dalam
produksi organik matriks sebelum terjadi kalsifikasi.
D. Patofisiologis
Ada berbagai macam penyebab dari Osteomalasia
menyebabkan gangguan metabolism mineral. Faktor
osteomalasia

adalah

kesalahan

diet,

malabsobrsi,

yang

umumnya

yang berbahaya untuk


gastrectomi,

GGK,terapi

anticonvilsan jangka lama ( phenyton, phenorbar bital ) dan insufisiensi vitamin D


( diet sinar matahari ).
Tipe malnurisi ( defisiensi vitamin D sering di golongkan dalam hal
kekurangan kalsium ) terutama gangguan fungsi kerusakan tetapi factor dan
kurangnya pengetahuan tentn nutrisi yang juga dapat menjadi factor pencetus hal itu
terjadi dengan frekuensi tersering dimana kandungan vitamin D dalam makanan
kurang dan adanya kesalahan diet serta kekurangan sinar matahari.
Defisiensi vitamin D menyebabkan penurunan kalsium serum, yang
merangsang

pelepasan

hormon

paratiroid.

Peningkatan

hormon

paratiroid

meningkatkan penguraian tulang dan ekskresi fosfat oleh ginjal. Tanpa mineralisasi
tulang yang adekuat, maka tulang menjadi tipis. Terjadi penimbunan osteoid yang
tidak terkristalisasi dalam jumlah abnormal yang membungkus saluran-saluran tulang
bagian dalam, hal ini menimbulkan deformitas tulang.
Diperkirakan defek primernya adalah kekurangan vitamin D aktif yang
memacu absorbsi kalsium dari traktus gastrointestinal dan memfasilitasi mineralisasi
tulang. Pasokan kalsium dan fosfat dalam cairan ekstrasel rendah. Tanpa vitamin D
yang mencukupi, kalsium dan fosfat tidak dapat dimasukkan ke tempat kalsifikasi
tulang, sehingga mengakibatkan kegagalan mineralisasi, terjadi perlunakan dan
perlemahan kerangka tubuh.
Penyebab osteomalasia adalah kekurangan kalsium dalam diet, malabsorbsi
kalsium (kegagalan absorbsi atau kehilangan kalsium berlebihan dari tubuh), kelainan
gastrointestinal (absorbsi lemak tidak memadai sehingga mengakibatkan kehilangan
vitamin D dan kalsium) gagal ginjal berat dapat mengakibatkan asidosis (kalsium
yang tersedia dalam tubuh digunakan untuk menetralkan asidosis, pelepasan kaslsium

skelet terus-menerus mengakibatkan demineralisasi tulang), dan kekurangan vitamin


D (diet dan sinar matahari.

WOC OSTEOMALASIA
Hereditas

Diet Malnutrisi:
a. Proses
mematangkan
makanan
terlalu
lama
b. Kurang
pengetahuan
tentang nutrisi
c. Akibat kemiskinan

Paparan Sinar UV

Kelainan GIT
Absorbsi lemak
Steatorhea

Kurang paparan sinar matahari


Pembentukan Vit.
D dikulit
terhambat

Kehilangan Vit. D
dan kalsium

Kekurangan Vit. D
Gangguan fungsi hati
Terjadi konversi Vit. D
ke bentuk aktif

Penurunan Vit D dalam serum

Gagal ginjal kronik


Asidosis
Kalsium menetralkan asidosis
dan hormon paratiroid
Pelepasan dari kalsium skelet
Fibrosis tulang dan kista tulang

Mineralisasi tulang
Kadar kalsium dalam otot
Kekuatan otot
Pelunakan keraangka tulang
Kelemahan otot
Kompresi vetebrata
Pelengkungan tulang
MK: Intoleransi Aktivitas
Patah tulang patulogik
Penekanan saraf vetebrata
MK: Gangguan
Mobilitas Fisik

Osteomalasia
Proses
pengerasan tulang (osifikasi)
Tulang kerangka
menjadi lunak
Perlemahan
tulang
MK: Resiko Tinggi
Cedera
OSTEOMALASIA

Nyeri panggung
9

Kaki menopang berat badan tunuh


Tulang pada kaki menjadi bengkok
Perubahan bentuk tubuh (kaki O)
Perubahan gaya jalan
(jalan bebek, pincang)

MK: Nyeri
Kronis

MK: Gangguan Konsep Diri

10

E. Manifestasi klinis
Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah :
Nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya
terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau
cara berjalan loyo/lemah.. Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama

pada daerah pinggang dan paha


Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan
tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan

kelainan bentuk thoraks (kifosis).


Penurunan berat badan
Anoreksia
Pada anak anak
Munculnya tonjolan tulang pada sambungan antara tulang iga dan tulang

rawan di bagian dada.


Tulang terasa lunak dan jika disenduh akan merasakan nyeri mengigit
Sakit pada seluruh tulang tubuhnya
Mengalami gangguan motorik karena kurang beraktivitas dan menjadi pasif.
Merasakan sakit saat duduk&mengalami kesulitan bangun dari posisi duduk

ke posisi berdiri.
Mudah Sekali mengalami patah tulang. Terutama di bagian tulang panjang

seperti tulang lengan atau tulang kaki.


F. Komplikasi
1. Pada anak-anak yang menderita penyakit rachitis, jika penyakit ini tidak segera
diobati, maka pertumbuhannya akan terhalang, anak itu menjadi lambat untuk
duduk, merangkak, dan berjalan. Berat tubuhnya mungkin akan membengkokkan
lutut, tulang, serta persendian lainnya sehingga menyebabkan kaki-O (Genu
Varum), dada busung (Pigeon Chest), dan lutut bengkok kedalam atau kaki-X
(Genu Valgum).
2. Pada orang dewasa, kelemahan tulang akan menimbulkan risiko fraktur. Os
vertebra yang melunak akan tertekan menjadi pendek sehingga orang itu akan
berkurang tingginya atau cebol. Trunkus klien yang memendek sehingga
mengubah bentuk toraks disebut kifosis, dimana klien terlihat seperti bungkuk,
dan skoliosis.
G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medik
Jika penyebabnya kekurangan vitamin D, maka dapat disuntikkan vitamin D
200.000 IU per minggu selama 4-6 minggu, yang kemudian dilanjutkan
dengan 1.600 IU setiap hari atau 200.000 IU setiap 4-6 bulan.
11

Jika terjadi kekurangan fosfat (hipofosfatemia), maka dapat diobati dengan

mengonsumsi 1,25-dihydroxy vitamin D.


2. Penatalaksanan keperawatan
Jika kekurangan kalsium maka yang harus dilakukan adalah memperbanyak
konsumsi unsur kalsium. Agar sel osteoblas (pembentuk tulang) bisa bekerja
lebih keras lagi. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, buah, tahu, tempe, ikan

teri, daging, yogurt. Konsumsi suplemen kalsium sangatlah disarankan.


Jika kekurangan vitamin D, sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi
makanan seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Untuk
membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh cobalah sering berjemur di

bawah sinar matahari pagi antara pukul 7 - 9 pagi dan sore pada pukul 16 - 17.
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Rontgen
Pada sinar-x jelas terlihat demineralisasi tulang secara umum. Pemeriksaan
vertebra memperlihatkan adanya patah tulang kompresi tanpa batas vertebra yang
jelas.Pada radiogram, osteomalasia tampak sebagai pengurangan densitas tulang,
terutama pada tangan, tengkorak, tulang iga dan tulang belakang.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil lab memperlihatkan kadar kalsium serum dan fosfor yang rendah dan
peningkatan moderat kadar alkali fosfatase. Ekskresi kreatinin dan kalsium urine
rendah serta biopsi tulang yang menunjukkan peningkatan jumlah osteoid

BAB II
ASUHAN KEPERAWATA TEORITIS
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Identitas klien terdiri dari nama, umur dimana kejadian osteomalasialebih sering
terjadi pada dewasa, jenis kelamin hal ini tidak berpengaruh tarhadap kejadian
penyakit Osteomalasia.
2. Keluhan utama
Penderita mengeluh mengeluh nyeri pada tulang dan kadang mengeluh mengalami
anoreksia.
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang

12

Klien biasanya mengalami Nyeri tulang dan kelemahan. Nyeri tulang yang
dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha kaki terjadi
bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan,
pemendekan batang tubuh pasien, Penurunan berat badan dan Anoreksia
b. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit osteomalasia ini biasanya tidak menular dan juga tidak merupakan
penyakit keturunan
c. Riwayat kesehatan dahulu
Klien pernah mengalami kekurangan kalsium dan vitamin D, klien pernah
menglami gangguan hati seperti sirosis, klien dulunya pernah menglami gangguan
fungsi ginjal, dan pernah menjadi Pemakaian obat dalam jangka waktu panjang.
4. Pola kebutuhan dasar (bio-psiko-sosial-kultural-spiritual)
a. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Klien dengan Osteomalasia biasanya mengenal penyakit ini dengan baik
walaupun tidak secara mendetail karena penyakit ini sangat mengganggu aktivitas.
b. Pola Nutrisi Metabolik
Biasanya klien dengan osteomalasia tidak mengalami gangguan makan hanya saja
gangguan penyerapan vitamin D
c. Pola Eliminasi
Biasanya klien dengan gangguan osteomalasia tidak mengalami gagguan dalam
BAB baik itu warna, frekuensi, kosistensi dari feses. Klien keratosis juga tidak
mengalami gagguan dalam BAK baik itu frekuensi, kandungannya tidak ada
darah atau glukosa dll
d. Pola gerak dan aktifitas
- Aktivitas
Biasanya klien mengalami penurunan kemampuan perawatan diri mulai dari
makan dan minum, mandi, toileting, berpakaian dan berpendah sehingga klien
-

melakukan hal tersebut dengan bantuan orang lain.


Latihan
Biasanya klien dengan keratosis mengalami gangguna dalam bergerak klien
tidak bisa melakukan aktivitas dengan bebas menggunakan anggota geraknya

karena rasa nyeri saat menggerakkan sendi


e. Pola kognitif dan persepsi
Biasanya klien sangant mengetahui penyakit ini secara menditail karena penyakit
ini cukup membuat seseorang menjadi sulit beraktivitas dan rasa sakit serta
perubahan fisik yang cukup membuat khawatir
f. Pola persepsi Konsep diri
Biasanya klien dengan mengalami penurunan harga diri karena perubahan
kemampuan diri dan postur tubuh.
g. Pola tidur dan istirahat

13

Biasanya klien mengalami gangguan tidur ini berkaitan dengan nyeri yang
dirasakan ileh klien saat menggerakkan sendinya.
h. Pola peran hubungan
Biasanya klien dengan osteomalasia ini tidak mengalami gagguan komunikasi dan
gangguan lain yang menyebabkan klien tidak bisa berhubungan dengan orang lain
i. Pola seksual reproduksi
Biasanya klien dengan gangguan ini tidak mengalami masalah dengan pola
seksual dan gangguan pada organ reproduksinya
j. Pola toleransi strees koping
Biasanya klien dengan osteomalasia biasanya mengalami perubahan pada pola
toleransi stress maupun kopingnya karena mengalami harga diri rendah terhadap
perubahan postur atau fisik.
k. Pola nilai Kepercayaan
Biasanya klien dengan osteomalasia tidak memiliki hambatan dalam melakukan
ibadah dan juga tidak mengalami perubahan nilai.
B. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum klien
a) Tingkat kesadaran
Secara umum pasien dengan osteomalasia dalam kondisi sadar
(composmentis)
b) Berat badan
Biasanya klien dengan penyakit bisa saja mengalami penurunan berat
badan.
c) Tinggi badan
Biasanya klien dengan osteomalasia bisa mengalami penurunan tinggi
badan karena kompresi tulang vertebra dan perubahan bentuk tulang kaki
yang leter O
d) Teperatur
Biasanya klien dengan Osteomalasia tidak mengalami perubahan
peningkatan pada suhu. (36 derjat C- 37 derjat C).
e) Nadi
Biasanya nadi klien tidak mengalami perubahan (60-100x/menit).
f) Tekanan darah
Biasanya tekanan darah klien tidak mengalami penigkatan atau penurunan
( 110-140mmHg).
g) Pernapasan
Pada klien dengan osteomalasia biasanya tidak mengalami perubahan
frekuensi nafas ( 16-24x/menit) (Kushariyadi,2011).
2. Kepala
a. Rambut
Biasanya tidak ada terjadi kerotokan atau gagguan lain pada pertumbuhan
rambuh namun bisa saja terjadi ketosis pada kulit kepala namun hal ini
sangat jarang terjadi dan ini tidak menggangu karena tertutup rambut.
14

b. Wajah
Biasanya tidak terjadi gangguan pada wajah klien dengan osteomalasia.
c. Mata
Biasanya klien dengan osteomalasia tidak mengalami gagguan pada mata
yang dapat dikaitkan dengan penyakit ini. dimana reflek pupil bagus, mata
idak ikterik
d. Hidung
Biasanya keadaa hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada pembenggakan
pada hidung, septum nasi biasanya normal, lubung hidung biasanya tidak
ada secret, serta tidak ada cupping hidung.
e. Bibir
Biasanya mukosa bibir terlihat dalam keadaan baik yaitu lembab apabila
klien mengalami anoreksia maka bisa saja menjadi kering.
f. Gigi
Klien yang mengalami ketosis biasanya tidak mengalami gagguan pada
gigi dimana gigi terlihat putih tidak mengalmi kerusakan .
g. Lidah
Biasanya lidah klien tidak mengalami gangguan dimana warna lidah klien
merah muda tidak terdapat lesi dan simetris
h. Telinga
Biasanya simetris kanan dan kiri dan mungkin tidak terjadi penurunan
pendengaran.
3. Leher
Biasanya tidak ada pembesaran kelenjer tiroid, kelenjer getah bening serta
deviasi trakea, pergerakan leher tidak terganggu, tidak ada perlukaan pada
leher klien dan JVP normal 5-2 cm air (Kushariyadi,2011).
4. Thorak
a. Inspeksi : Biasanya rongga dada simetris kiri dan kanan, bentuknya
normal, frekunsi nafas normal sedikit meningkat (16-24kali/menit), irama
pernapasan biasanya kurang, tidak adanya perlukaan, ictuscordis tidak
terlihat dan tida ada terlihat pembenggakan.
b. Palpasi : Biasanya gerakan antara paru-paru kiri dan kanan sama, tidak
ada nyeri tekan dan udema.
c. Perkusi : Biasanya suara nafas terdengar normal yaitu sonor.
d. Auskultasi : Biasanya suara nafas terdengar normal.
5. Jantung
a. Inspeksi : biasanya ictus kordis tidak terlihat
b. Palpasi : biasanya ictus kordis teraba
c. Perkusi : biasanya batas jantung dalam batas normal, yaitu :
Kanan atas SIC II line para sternalis dextra
Kanan bawah SIC IV line para dextralis dextra
Kiri atas SIC II line para sternalis sinistra
Kiri bawah SIC IV medioklavikula sinistra.
15

d. Auskultasi: biasanya irama jantung terdengar normal.


6. Abdomen
a. Inspeksi : biasanya tidak terrjadi masalah abdomen klien simetris kiri
dan kanan,
b. Auskultasi : biasanya tidak ada gangguna bunyi bising usus normal 535x/menit
c. Palpasi : tidak ada pembesaran hepar atau kelenjar limfa
d. Perkusi : apabila diperkusi tidak terjadi perubahan bunyi tetap pada
bunyi normal yaitu timpani.
7. Ekstremitas
Biasanya klien mengalami kesulitan dalam bergerak karena rasa nyeri yang
dialami klien pada tulangnya.
8. Genitourinaria
Tidak ada gangguan perkemihan pada klien dengan keratosis
9. System integumen
Biasanya klien dengan osteomalasia tidak terjadi gangguan integument
diamana baik itu integitasa, warna dan lainnya
10. Neurosensori
Status mental tereorientasi,
C. Aktivitas sehari-hari
a. Kebersihan perorangan
Kepala
Keadaan kulit kepala dan rambut bersih
Kuku
Keadaan kuku secara umum pasien osteomalasia bersih karena tidak

dipengaruhi oleh penyakit


Badan
Penyakit ini terutama terdapat di daerah wajah, leher, punggung, bahu,
bagian ekstremitas, dsb. Lesi yang muncul kadang menimbulkan gejala

pruritus atau peradangan.


D. pemeriksaan penunjang
1. Foto Rontgen
Pada sinar-x jelas terlihat demineralisasi tulang secara umum. Pemeriksaan
vertebra memperlihatkan adanya patah tulang kompresi tanpa batas
vertebra yang jelas.Pada radiogram, osteomalasia tampak sebagai
pengurangan densitas tulang, terutama pada tangan, tengkorak, tulang iga
dan tulang belakang.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil lab memperlihatkan kadar kalsium serum dan fosfor yang rendah dan
peningkatan moderat kadar alkali fosfatase. Ekskresi kreatinin dan kalsium
urine rendah serta biopsi tulang yang menunjukkan peningkatan jumlah
osteoid
16

b. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri kronis b/d kompresi syaraf spinal
2. Risiko cedera berhubungan dengan kehilangan integritas tulang
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidaknyamanan saat bergerak
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan otot
5. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan peran
Intervensi Keperawatan
NO

DIAGNOSA

NOC

NIC

KEPERAWATAN
1

Nyeri
berhubungan

kronis
dengan

Pain control

kompresi saraf spinal

Mampu
nyeri

mengontrol
(tahu

secara

penyebab

nyeri,

mampu

menggunakan

tehnik

nonfarmakologi

untuk

mengurangi

nyeri,

(skala,

nyeri)
Menyatakan
nyaman

dan

setelah

berkurang
Tanda
vital
rentang normal

durasi,
kualitas

dan

komunikasi

terapeutik

untuk

mengetahui

pengalaman nyeri pasien


Kaji
kultur
yang
mempengaruhi

intensitas,

frekuensi

karakteristik,

dari ketidaknyamanan
Gunakan
teknik

menggunakan

lokasi,

faktor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal

dengan

manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri

termasuk

Melaporkan bahwa nyeri


berkurang

komprehensif

frekuensi,

mencari bantuan)

Lakukan pengkajian nyeri

respon

tanda

nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri

rasa

masa lampau
Evaluasi bersama pasien

nyeri

dan tim kesehatan lain


tentang

dalam

kontrol nyeri masa lampau


Bantu pasien dan keluarga
untuk

ketidakefektifan

mencari

dan

menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri

17

seperti

suhu

ruangan,

pencahayaan

dan

kebisingan
Kurangi faktor presipitasi

nyeri
Pilih

dan

lakukan

penanganan

nyeri

(farmakologi,

non

farmakologi

dan

inter

personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk

menentukan

intervensi
Ajarkan tentang teknik non

farmakologi
Berikan analgetik

untuk

mengurangi nyeri

Evaluasi

keefektifan

kontrol nyeri

Tingkatkan istirahat

Kolaborasikan

dengan

dokter jika
2

Risiko

cedera Risk Kontrol

berhubungan

dengan

kehilangan

integritas

Klien

Environment
terbebas

dari

(Manajemen lingkungan)
Sediakan lingkungan yang

cedera

tulang

Klien

Management

mampu

aman untuk pasien


Identifikasi
kebutuhan
keamanan pasien, sesuai

menjelaskan

dengan kondisi fisik dan

cara/metode

fungsi kognitif pasien dan

untukmencegah

riwayat penyakit terdahulu

injury/cedera
Klien

mampu

menjelaskan

factor

18

pasien
Menghindarkan lingkungan
yang berbahaya (misalnya

resiko

dari

lingkungan/perilaku

personal
Mampumemodifikasi
gaya

hidup

untukmencegah injury
Menggunakan fasilitas

kesehatan yang ada


Mampu
mengenali
perubahan

status

kesehatan

memindahkan perabotan)
Memasang side rail tempat

tidur
Menyediakan tempat tidur

yang nyaman dan bersih


Menempatkan saklar lampu
ditempat

yang

mudah

dijangkau pasien.
Membatasi pengunjung
Memberikan penerangan

yang cukup
Menganjurkan

untuk menemani pasien.


Mengontrol
lingkungan

dari kebisingan
Memindahkan
barang

yang

keluarga

barangdapat

membahayakan
Berikan penjelasan pada
pasien dan keluarga atau
pengunjung

adanya

perubahan status kesehatan


dan penyebab penyakit.

Gangguan
fisik

mobilitas
berhubungan

Mobility Level

dengan
ketidaknyamanan

Klien meningkat dalam

Exercise therapy : ambulation


Monitoring
vital
sign
sebelm/sesudah latihan dan

aktivitas fisik
saat

bergerak

Mengerti

tujuan

peningkatan mobilitas

lihat respon pasien saat

dari

dan

kemampuan

berpindah
19

ambulasi

dalam

meningkatkan kekuatan

dengan

terapi fisik tentang rencana

Memverbalisasikan
perasaan

latihan
Konsultasikan

sesuai

kebutuhan
Bantu
klien

dengan
untuk

menggunakan tongkat saat

Memperagakan

berjalan

penggunaan alat Bantu

terhadap cedera
Ajarkan pasien atau tenaga

untuk

mobilisasi

dan

kesehatan

(walker)

cegah

lain

tentang

teknik ambulasi
Kaji kemampuan

pasien

dalam mobilisasi
Latih
pasien

dalam

pemenuhan
ADLs

kebutuhan

secara

mandiri

sesuai kemampuan
Dampingi dan Bantu pasien
saat mobilisasi dan bantu

penuhi kebutuhan ADLs ps.


Berikan alat Bantu jika

klien memerlukan.
Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan

Intoleransi aktivitas b/d


kelemahan otot

Toleransi aktivitas
Kecepatan respirasi saat

Manajement energy
Gunakan peralatan yang

beraktivitas (kondisi

valid

yang dialami pasien /

keletihan jika terindikasi


Pilih
perencanaan

peningkatan yang

untuk

menentukan

peningkatan

diharapkan)
Denyut nadi saat

beraktivitas
Tekanan sistol darah saat

dengan pharmakologi atau

beraktivitas
Tekanan diastole darah

tepat
Tntukan

saat beraktivitas

dengan

keletihan
berkolaborasi

nonpharmakologi

bagaimana

apa

dengan
dan

banyaknya

aktivitas yang diperlukan


untuk
tahan
20

membangun

daya

Memantau

intek

untuk

nutrisi

menjamin

keadekuatan sumber energy


Konsultasi dengan ahli gizi
tetang

bagaimana

untuk

meningkatkan intek dengan

makanan tinggi energy


Bantu
pasien
untuk

menetukan pilihan aktivitas


Hindari aktivitas perawatan

selama jadwal priode tidur


Gunakan ROM aktif dan
pasif

untuk

mengurangi

tekanan otot
Terapi aktivitas
Tentukan
kemamapuan
pasien

dengan

aktivitas

latihan spesifik
bantu
pasien

untuk

mengetahui

pilihan

aktivitas yng tepat


bantu pasien dan kelurga
untuk mengenal penurunan

Gangguan konsep diri


berhubungan

dengan

perubahan penampilan
peran

Harga diri
Mengatakan penerimaan

terhadapa diri
Penerimaan

keterbatasan diri
Mempertahankan postur

yang benar
Mempertahankan kontak

mata
Menjelaskan diri
Hormat terhadap orang

lain
Menerima

tingakat aktivitas
Peningkatan coping
Bantu klien mengenali
tujuan jangka panjang dan

terhadap

terhadap

pendek
Bantu klien
sumber

kemampuannya

dalam mencapai tujuannya


Bantu
klien
untuk
mencapai

memeriksa

tujuan

yang

rumit menjadi mudah


Bantu
klien
dalam
menyelesaikan

masah

dalam membangun sikap


21

pujian orang lain


Memberikan
respon

Sediakan

terhadap orang lain


Menjelaskan kesuksesan

menerima klien
Menyediakan

dalam bekerja
Menjelaskan kesuksesan

dalam sekolah
Menjelaskan
kebanggaan diri

suasana

yang

informasi

factual tentang diagnose,

treatment dan diagnosis


Menyerahkan pembuatan
keputusan

ketika

klien

dalam keadaan stress


Membrikan
perasaan
senang saat berhubungan

dengan klien
Menemani klien

dalam

perasaannya (marah atau

sedih)
Menyusun

situasi

yang

meningkatkan

autonomy

klien
Mengenalkan

klien

terhadap orang lain yang


berhasil

melalui

pengalaman yang sama

BAB IV
22

PENUTUP
A. Kesimpulan
Osteomalasia terjadi akibat defisiensi vitamin D ataupun akibat defisiensi
kalsium.Penyakit malabsorbsi, gangguan hati dan gagal ginjal kronik dapat juga
mengakibatkan terjadinya osteomalasia. Adapun tanda dan gejala dari osteomalasia ini
adalah nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya
terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan
loyo/lemah. Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan
paha .Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan
tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk
thoraks (kifosis).dan banyak tanda dan gejala lainnya. Osteomalasia yang paling sering
disebabkan oleh kekurangan vitamin D berkepanjangan. Vitamin D berasal dari dua
sumber utama: sinar matahari, yang bertanggung jawab atas 80 persen dari vitamin D
yang Anda perlukan, dan diet anda dari mana Anda mendapatkan sisa 20 persen.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari
pengetahuan tentang penyakit osteomalasia. Yang lebih khususnya kita sebagai tenaga
kesehatan (perawat) harus mampu dan memahami konsep dan segala sesuatu dan
bagaimana kita merawat dan mengobati pasien dengan penderita Osteomalasia.

23

DAFTAR PUSTAKA
Brunner&Suddarth(2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi kedelapan
jilid III. Penerbit Buku Kedoktoran EGC. Jakarta.
Harnowo Sapto& Susanto Titri(2001). Keperawatan Medikal Bedah Untuk Akademi
Keperawatan. Widya Medika. Jakarta.
Henderson M A(1980).Ilmu Bedah Untuk Perawat. Penerbit Yayasan Essantia
Medica. Yogyakarta.
J Charlene&Roux Reeves Gayle&Lockhart Robin(2001). Keperawatan Medikal
Bedah. Salemba Medika. Jakarta.
Muttaqin

Arief(2008).Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem

Muskuloskeletal. Penerbit Buku Kedoktoran EGC. Jakarta.


http://harrawatias.wordpress.com
http://books.google.co.id intervensi+kerusakan+mobilitas
http://the medical dictionary.com/pics
http://depts.washington.edu/bonebio/ASBMF