You are on page 1of 14

PEMBINAAN MUTU SUMBER DAYA

MANUSIA
(Makalah)

Disusun Oleh
Nama : DICNA FEBRIANTY
NIM

: 1405105106

Kelas : C (Pagi)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Puncak tekanan terhadap sektor lingkungan hidup Kalimantan Timur
terjadi pada awal 2000-an, menyusul lahirnya UU Nomor 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 32 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.Lahirnya dua UU yang
menjadi dasar bagi bergulirnya desentralisasi itu membawa dampak luar
biasa terhadap perkembangan pembangun di daerah.
Bahkan, kemajuan pembangunan selama beberapa tahun pada awal
bergulirnya reformasi itu, yang menurut sementara pihak melampaui
berbagai program Pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun itu, tidak
terlepas dari besarnya kewenangan kepala daerah (bupati dan walikota). ,
Di balik gemerlap hasil-hasil pembangunan tersebut ternyata menyisakan
berbagai persoalan serius terhadap sektor lingkungan. Salah satu faktor
penyebabnya terkait dengan besarnya kewenangan kepala daerah
tersebut.
Para kepala daerah juga memanfaatkan salah satu peraturan yang
dibuat berdasarkan semangat desentralisasi itu, yakni UU Nomor 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan, di mana pasal -I mengatur hal itu
sehingga kepala daerah seperti berlomba mengeluarkan izin HPHH 100
Ha yang diberikan kepada koperasi.Berbeda dengan izin HPH yang
pengawasan terhadap program lingkungan yang cukup berjalan melalui
kegiatan rehabilitasi, maka pembabatan hutan melalui izin HPHH tersebut
tanpa kendali, karena dilaksanakan oleh Siapa saja yang memiliki izin
tersebut tanpa ada aturan mengenai besaran diameter kayu yang bisa
ditebang.
Kerusakan hutan pada awal 2000 ini dianggap mengalahkan
kerusakan hutan selama puluhan selama Orde Baru. Asumsinya saja, jika
satu kabupaten mengeluarkan 100 HPHH maka ada 10.000 Ha yang
ditelantarkan tanpa program reboisasi atau rehabilitasi.Pemerintah pusat
akhirnya mencabut kewenangan kepala daerah mengeluarkan izin HPHH.
Pada saat itu, krisis ekonomi global juga terjadi. Dua faktor itu akhirnya
menyebabkan sektor perkayuan dan perhutanan terpuruk.
Setelah era booming kayu bulat berakhir, maka baru bara kini
menjadi komoditas menjanjikan karena tersedianya pasar nasional
maupun internasional terhadap fosil minyak itu meskipun dalam kondisi
krisis ekonomi global.Berdalih meningkatkan pendapatan daerah, para
bupati dan wali kota kembali memanfatkan kewenangan untuk
mengekploi-tasi potensi sumberdaya alam dengan berdasarkan UU
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, yakni
melalui izin KP (kuasa penambangan).

Para kepala daerah seperti mengulang kasus HPHH, juga berlombalomba mengeluarkan izin. Data Distamben Kaltim mengungkapkan bahwa
di provinsi itu ada 1.180 perusahaan memegang izin KP.Padahal, selain
1.180 izin KP itu, di Kaltim juga terdapat 32 perusahaan yang memegang
PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara),
sehingga total perusahaan batu bara menjadi 1.202 perusahaan.
Celakanya, sebagian pengusaha batu bara di Kaltim yang
mengantongi izin KP dari wali kota dan bupati tersebut ternyata tidak
memiliki pengalaman pada usaha pertambangan. Bahkan, sebagian besar
pengusaha tersebut dulunya adalah pengusaha sektor perhutanan dan
perkayuan
yang
coba-coba
keberuntungan
pada
usaha
pertambangan.Banjir yang kini kerap melanda sejumlah daerah di Kaltim
diyakini merupakan dampak langsung dari kerusakan lingkungan baik
pada sektor perhutanan maupun pertambangan.
Misalnya, banjir yang sebelumnya terjadi dalam siklus tahunan di
Samarinda namun kini dalam satu tahun bisa terjadi empat kali kasus
banjir besar seperti masing-masing terjadi pada 2008 dan 2009.Pengamat
hukum menilai bahwa pemerintah daerah seharusnya memanfaatkan UU
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
untuk mengatasi berbagai masalah ekologis, yakni dampak dari kegiatan
penambangan batu bara di Kalimantan Timur yang kini kian merebak.
Kita harapkan agar kasus kerusakan lingkungan karena pemberian izin
HPHH atau HPH skala kecil tanpa kendali seperti awal 2000-an jangan
sampai terulang pada sektor pertambangan, kata pengamat hukum
Kalimantan Timur, Prof. Sarosa Hamongpranoto, SH, MHum di
Samarinda, Senin.
Dengan UU Nomor 32 Tahun 1999 itu maka perusahaan tambang.batu bara yang terbukti melakukan kesalahan dapat dijerat agar
mendapat sanksi administrasi, sanksi perdata dan sanksi pidana,
katanya.Hal itu disampaikannya terkait dengan kekhawatiran kian
meluasnya dampak lingkungan di Kaltim akibat provinsi itu kini ternyata
dikepung 1.202 perusahaan batu bara. Data itu terungkap dalam dengar
pendapat antara Komisi II DPRD Kaltim dengan Distamben setempat
pada akhir 2009. Kalau hanya mengandalkan UU No Nomor 4 Tahun
2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara maka pihak
perusahaan paling hanya bisa dijerak dengan sanksi administratif,
misalnya pencabutan izin, katanya.
Ia juga menambahkan bahwa kekhawatiran masalah lingkungan akan
menjadi persoalan serius pada 2010, yakni terkait dengan adanya
keputusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan gugatan uji materi
Bupati Kutai Timur terhadap surat edaran pihak Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM).Sebelumnya, Dirjen Mineral Baru Bara dan
Panas Bumi (Mi-nerpabum) Departemen ESDM mengeluarkan surat
Nomor 03.E-/31 DJB/2009 tanggal 30 Januari 2009 mengenai pelarangan
kepala daerah (bupati dan wali kota) mengeluarkan izin KP. Adanya
keputusan MA itu berarti kepala daerah kini bisa kcmbaji keluarkan izin

KP. Padahal, kita tahu bahwa latar belakang terbitnya surat edaran dari
Dirjen karena berbagai persoalan lingkungan akibat kebijakan kepala
daerah yang begitu mudah mengeluarkan izin KP, ujar Sarosa.
Dari sisi hukum, ia menilai bahwa keputusan MA sudah tepat karena
memang kelemahan surat Dirjen itu bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, yakni UU Nomor 4 Tahun 2009.
Meskipun niat dan tujuannya baik, jika secara administrasi juga salah
maka keputusan itu keliru. Jadi upaya dalam melakukan pengawasan
masalah lingkungan terkait eksploitasi batu bara itu kini sepenuhnya
berada di tangan kepala daerah, termasuk DPRD harus lebih berperan
aktif melaksanakan tugasnya, ujar Sarosa.Persoalan lain, ternyata pihak
Dinas Perikanan dan Kelautan Kaltim memprogramkan pengembangan
lokasi bekas penambangan untuk program budi daya perikanan darat.
Program ini terkait dengan tekad Kaltim untuk swasembada ikan pada
2010.
Dinas Perikanan dan Kelautan Kaltim berkoordinasi dengan
Pemkab/Pemkot se-Kalimantan Timur untuk pengembangan lokasi bekas
penambangan itu untuk menjadi kolam budi daya berbagai jenis perikanan
darat, misalnya ikan nila dan ikan mas.Pihak DPRD Kaltim kurang setuju
apabila semua kolam raksasa eksploitasi penambangan baru bara
dikembangkan untuk subsektor perikanan, mengingat kewajiban reklamasi
nantinya akan diabaikan sehingga harus lebih selektif dalam
pemanfaatannya. Kita khawatir apabila kolam raksasa eks eksploitasi
penambangan batu bara itu semuanya dimanfaatkan untuk
pengembangan subsektor perikanan, khususnya perikanan darat,
nantinya para pengusaha dengan mudah meninggalkan kewajibannya
untuk melakukan reklamasi karena akan dijadikan kolam pengembangan
ikan air tawar, kata Ketua Komisi 11 DPRD Kaltim, Sofyan Alex di
Samarinda, Jumat.
Ia setuju apabila pemanfaatan kolam-kolam raksasa bekas penggalian
bongkahan emas hitam itu yang benar-benar sudah sangat sulit meminta
pertanggungjawaban pihak perusahaan. Misalnya, perusahaan tersebut
sudah tutup dan tidak jelas lagi meminta pertanggungjawaban untuk
melakukan program reklamasi. Kolam yang statusnya sudah tidak
mungkin lagi direklamasi ini yang dimanfaatkan, jadi program pada
subsektor perikanan ini harus selektif dalam memanfaatkan kolam, kata
politisi dari PDI Perjuangan itu.
Beberapa daerah di Kaltim kini banyak terdapat kolam raksasa bekas
penggalian bongkahan batu bara, terutama di Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Samarinda. Kalau semua
bekas penggalian tambang itu dibiarkan maka jelas menjadi persoalan
serius bagi lingkungan hidup. Padahal, program reklamasi adalah sebuah
kewajiban perusahaan yang sesuai perjanjian kontrak kerja perusahaan
baik dalam KP maupun PKP2B, kata politisi dari PDI Perjuangan itu.
Sofyan Alex menjelaskan bahwa kondisi lingkungan di Kaltim kini cukup
memprihatinkan, mengingat sebelum maraknya penambangan fosil

minyak itu telah terjadi pembabatan hutan secara serampangan saat


terjadi booming II sektor perkayuan di Kaltim pada awal 2000-an.
Kondisi hutan Kaltim yang kritis akibat booming sektor perkayuan awal
2000-an yang masih belum pulih, kini ditambah lagi dengan masalah
lingkungan, terkait dengan maraknya penambangan batu bara. Hal ini
yang harus mendapat perhatian kita semua, katanya.
Di Kaltim terdapat ratusan perusahaan pemegang PKP2B (Perjanjian
Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara) dan KP (Kuasa
Penambangan), namun yang benar-benar melaksanakan program
reklamasi hanya sebagian kecil.Faktor utama yang menjadi alasan
perusahaan untuk melaksanakan kewajibannya itu, yakni terkait dengan
besarnya dana untuk melaksanakan program penimbunan serta
penanaman pohon di atas lahan eks penambangan itu, terutama untuk
beban biaya alat berat Melihat kondisi itu, agaknya ancaman terhadap
sektor lingkungan di Kaltim belum berakhir, meskipun faktor penemunya
ada di kepala daerah. Terutaman di kota Samarinda yang masalah
sampah yang menyebabkan banjir belum teratasi.

B. Rumusan Masalah
1. Strategi penanganan dan sumbangan pemikiran ?
2. PENYEBAB BANJIR DI SAMARINDA ?
3. Solusi penanganan banjir ?

C. Tujuan
1. Agar menambah wawasan kita pemahaman konsep tentang
banjir
2. Memupuk rasa kesadaran akan lingkungan di sekitar kita
3. Meningkatkan kebersihan lingkungan tempat kita berada

BAB II
PEMBAHASAN
Data Umum Kota Samarinda
Letak Geografis
Kota Samarinda merupakan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur
yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota
Samarinda secara astronomis terletak pada posisi antara 1170300
1171814 Bujur Timur dan 001902 004234 Lintang Selatan,
dengan ketinggian 10.200 cm diatas permukaan laut dan suhu udara kota
antara 23.7 32.8 C dengan curah hujan mencapai 2.345 mm pertahun
dengan kelembaban udara rata-rata 82,8 %.
Administrasi
Adanya Sungai Mahakam yang membelah di tengah kota
menjadikan kota ini bagai gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur.
Luas Wilayah Kota Samarinda adalah 71.800 Ha yang terbagi menjadi 6
( enam )Kecamatan yaitu : Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan
Samarinda Ilir, Kecamatan Samarinda Seberang, Kecamatan Palaran, dan
Kecamatan Sungai Kunjang.
Batas Adminsitrasi Kota Samarinda
Sebelah Utara: Kec. Muara Badak Kabupaten Kukar
Sebelah Timur: Kecamatan Anggana dan Sanga-Sanga (Kab Kukar)
Sebelah Selatan: Kec Loa Janan .Kab Kutai Kartenegara
Sebelah Barat: Kec. Muara Badak Tenggarong Seberang (Kab Kukar)
Ketinggian / Topografi
Berdasarkan topografinya , maka wilayah Kota Samarinda berada di
ketinggian antara 0 200 dpl, dan hampir 24,17 % berada di ketinggian 0
7 dpl, umumnya terletak di dekat Sungai Mahakam sekitar 41,10 %
berada dalam ketinggian 7 25 dpl, dan 32,48 % berada di ketinggian 25
100 dpl.
Ditinjau dari fisiografinya, wilayah Kota Samarinda dapat dikelompokkan
dalam 7 (tujuh) deskripsi masing-masing satuan fisiografi tersebut adalah
sebagai berikut :

Daerah Patahan (daerah dimana terjadi patahan ) yakni patahan


menurun dan kasar, dengan permukaan yg besar dengan
kemiringan tanah sangat bervariasi

Daerah rawa pasang surut (tidal swamp) yaitu daerah dataran


rendah ditepi pantai yang selalu dipengaruhi pasang surut air laut
dan ditumbuhi hutan mangrove dan nipah, bentuk wilayah datar
dengan variasi lereng kurang dari 2 % dan perbedaan tinggi kurang
dari 2 meter.

Daerah dataran alluvial (alluvial plain) yaitu daerah dataran yang


terbentuk dengan proses pengendapan, baik didaerah muara
maupun daerah pedalaman.

Daerah berombak/bergelombang yakni daerah dengan konfigurasi


medan berat ditandai dengan penyebaran daerah perbukitan 8,15%

Daerah dataran (plain) yaitu daerah endapan, dataran karst,


dataran vulkanik, dataran batuan beku (metamorf) masam, dataran
basalt dengan bentuk wilayah bergelombang sampai berbukit,
variasi lereng 2 sampai 15,94 % dengan beda ketinggian kurang
dari 50 meter.

Daerah berbukit (hill) yaitu daerah bukit endapan dan ultra basa,
sistem punggung sedimen, metamorf dan kerucut vulkanik yang
terpotong dengan pola drainase radial. Bentuk wilayah
bergelombang sampai agak bergunung, variasi lereng 16 sampai
60 %, dan beda ketinggian antara 50 sampai 150 meter.

Daerah Sungai (River). Daerah ini berfungsi sebagai daerah reterdam,


daerah pengendali atau waterponds.

Geologi
Struktur geologi di wilayah Kota Samarinda diketahui berdasarkan hasil
survey dan atau pemetaan geologi yang dimuat dalam buku Geology of
Indonesia, Volume IA. Oleh R.W. Van Bemmelen, 1949, pada umumnya
berumur Praktertier hingga Kwarter.
Beberapa formasi geologi yang terdapat diwilayah Kota Samarinda
diantaranya adalah

Kampung Baru Beds

Balikpapan Beds

Pulau Balang Beds

Pemaluan Beds
Beberapa Wilayah geologi telah mengalami perubahan yang ditandai
dengan adanya patahan. Formasi ini terdiri dari Grewake, batu pasir
kwarsa, batu gamping, batu lempeng dan tufa dasitik dengan sisipan batu
bara.
Agenda Prioritas Pemerintah Kota Samarinda
Atasi pengangguran, karena di Kaltim jumlah angkatan kerja, dengan
jumlah lapangan pekerjaan masih belum seimbang.

Pembangunan infrastruktur perekonomian, terutama jalan, jembatan dan


pelabuhan. Jalan trans Kalimantan perlu segera dituntaskan. Begitu pula
pembangunan jalan kabupaten/kota.
Pelaksanaan komitmen untuk mengalokasikan biaya pendidikan sebesar
20 persen (di luar gaji dan kesejahteraan guru), pencanangan wajib
belajar 12 tahun serta pendidikan gratis.
Penanganan banjir yang melanda Kota Samarinda, Balikpapan, dan kotakota lainnya, terutama sepanjang Daerah Aliran Sungai Mahakam.
Pemberdayaan ekonomi rakyat semakin ditingkatkan, terutama
memperhatikan pada sektor riil, sektor informal dan UKM. Begitu pula
perlunya mengurangi keterbatasan akses permodalan.
Peningkatan daya beli masyarakat dan peningkatan kesejahteraan PNS /
TNI dan Polri.
Penyelesaian krisis energi, mengurangi ketimpangan antara ketersediaan
tenaga listrik dengan kebutuhan tenaga listrik.
Kemandirian/kecukupan pangan dalam rangka ketahanan pangan.
Pembangunan kawasan wilayah perbatasan, kawasan pedalaman dan
daerah terpencil. Satu hal yang perlu terobosan khusus, mengingat tingkat
kemajuan yang dicapai pada saat ini relatif lambat.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dengan memperbaiki iklim investasi.

Strategi
Masyarakat

dan

Cara

Meningkatkan

Kesadaran

Meningkatkan kesadaran masyarakat memang mudah diucapkan, tetapi


bagaimana cara efektif untuk meningkatkan hal tersebut adalah hal yang
sulit. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk meningkatkan kesadaran
tersebut. Berikut ini adalah beberapa butir pemikiran yang bisa
ditindaklanjuti secara konkrit untuk meningkatkan kesadaran tersebut.
Menciptakan Budaya Malu, Merasa Bersalah dan Merasa Diawasi
oleh Masyarakat sekitarnya & mengotori lingkungan jika membuang
sampah sembarangan.
Di negara-negara maju, kebiasaan tidak membuang sampah
sembarangan terbentuk karena setiap orang merasa malu untuk
membuang sampah sembarangan karena takut ditegur oleh orang yang
melihatnya, orang-orang yang ada di sekitarnya. Di lain pihak, mereka
juga sadar setiap sampah yang dibuang akan memberikan sumbangan
negatif terhadap pencemaran lingkungan. Pertanyaan yang timbul:
bagaiman kita bisa membentuk masayarakat seperti ini ? Berikut adalah
beberapa usulan konkrit yang bisa dilakukan :
Perlu adanya kampanye terus menerus mengenai akibat membuang
sampah sembarangan. Kegiatan ini seharusnya dimotori oleh suatu
lembaga misalnya Dinas Kebersihan & Pertamanan (DKPP) Samarinda
bekerjasama dengan LSM Lingkungan, yang bekerja terus menerus
khusus untuk kampanye ini. Strateginya adalah dengan menjadikan

kegiatan ini sebagai gerakan bersama meminta dan mengajak semua


pihak (swasta, instansi pemerintah, kelurahan dll) untuk mendukung
program ini, untuk menciptakan suatu sistim penanganan sampah dan
pengawasannya di lingkungan masing-masing. DKPP & LSM ini dapat
memberikan beberapa contoh penanganan sampah di masing-masing
lembaga tersebut. Dana mengenai kegiatan ini dapat kita usahakan
melalui usulan ke lembaga di dalam dan luar negeri yang peduli dengan
kegiatan kampanye kebersihan kota ini. DKPP pun dapat mengusahakan
semacam dana abadi dan membuka kantong-kantong sumbangan untuk
kegiatan kampaye ini dari masyarakat luas, semacam sumbangan rumah
ibadah maupun melewati rekening bank. Kampaye dapat dilakukan
melalui koran-koran lokal dengan tulisan-tulisan berkala mengenai
sampah, melalui radio pemancar maupun televisi.
Menciptakan Rasa Bangga dengan Kebersihan Kota dan
Lingkungannya
Rasa bangga akan kebersihan kota & lingkungannya membuat
masyarakat kota tersebut untuk tetap menjaga kebersihan kotanya,
misalnya masyarakat Kota Balikpapan dan Tenggarong yang beberapa
kali memenangkan kebersihan kota, merasa bangga dengan predikat kota
bersih dan merasa bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan
tersebut.
Memberikan Insentif atau reward bagi pihak-pihak berjasa untuk
kebersihan
Penanganan sampah yang baik, termasuk pula kepada petugaspetugas kebersihan/pengangkut sampah, bisa dalam bentuk penghargaan
dan promosi kepada lembaga-lembaga tersebut, kenaikan gaji, fasilitas
yang lebih baik untuk pegawai, kesejahteraan yang semakin baik.
Kegiatan lain dapat berupa lomba kebersihan antar RT dan memupuk
kebanggaan kepada pihak-pihak yang menang lomba tersebut. Insentif
lain adalah mengumumkan secara berkala di Koran-koran lokal mengenai
lembaga dan lingkungan mana saja yang memenangkan lomba
kebersihan, sehingga aspek kebanggaan tersebut dapat terus dipupuk.
PENGELOLA SAMPAH KOTA
Sampah. Bagian yang selalu luput dari perhatian banyak pihak.
Padahal banyak hal yang harus diperbuat dalam menjadikan sampah tak
selalu menjadi masalah. Masih belum lama berlalu peristiwa kekerasan di
bulan November 2004 yang dilakukan oleh aparat kepada masyarakat
Bojong, yang melakukan penolakan atas beroperasinya Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong oleh PT Wira Guna
Sejahtera. Penolakan yang dilakukan oleh masyarakat Bojong diakibatkan
telah terjadi pembohongan publik yang dilakukan pengelola dan
pemerintah, dimana lokasi TPST tidak sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Kota Bogor, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan untuk

pendirian pabrik keramik, serta dalam beberapa kali ujicoba, ternyata


proses pengangkutan dan pengolahan telah menimbulkan bau yang
sangat menyengat.
Beralih ke kota Samarinda, ternyata permasalahan pengelolaan
sampah merupakan bahaya laten yang hingga saat ini masih menyimpan
percik api yang sewaktu-waktu dapat menjadi bara bahkan api. Samarinda
dengan jumlah penduduk 579.933 jiwa, memiliki sampah sebanyak 1.406
m3 perharinya dengan jumlah yang tidak terangkut mencapai 140,6 m3
setiap harinya. Bahkan Walikota Samarinda pun hanya bisa tersayat hati
tanpa berbuat apa-apa melihat sungai telah menjadi tempat sampah
alternatif.
Banyak hal yang tidak mampu diselesaikan oleh pemerintah kota
selama ini dalam mengatasi permasalahan sampah. Dihilangkannya 256
tempat penampungan sementara (TPS) oleh Dinas Kebersihan,
Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota Samarinda hanya
mengalihkan lokasi permasalahan pengelolaan sampah. Sementara itu,
masih belum satu titikpun dilakukan peningkatkan pengetahuan dan
keterampilan warga kota untuk melakukan pengelolaan sampah di tingkat
rumah tangga.
Tiga buah tempat pembuangan akhir (TPA) sampah kota Samarinda
pun hingga saat ini masih menggunakan pola menghamparkan sampah di
lahan terbuka tanpa dilakukan penutupan lagi dengan tanah (open
dumping). Saat ini lokasi TPA sampah pun telah menimbulkan keresahan
terhadap masyarakat yang ada di sekitarnya, selain juga telah
mengganggu keindahan kota.
Bilapun selalu dinyatakan bahwa banyak negara telah menggunakan
insinerator, namun kenyataannya Amerika Serikat telah menutup dan
membatalkan lebih dari 300 pengelolaan sampah kota yang
menggunakan insinerator, sementara Jepang sebagai negara peringkat
pertama pengguna insinerator malah juga telah menutup 500 tempat
pengelolaan sampah yang menggunakan insinerator. Pertanyaan
berikutnya, apakah kota Samarinda masih mau mengambil teknologi ?
sampah?? dalam pengelolaan sampah?
Yang utama dalam memilih teknologi pengolahan sampah adalah
dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dini (precautionary principle),
dimana perlunya menerapkan kehati-hatian dalam menghadapi
ketidakpastian teknologi; prinsip pencegahan (preventive principle), yang
menekankan bahwa mencegah suatu bahaya adalah lebih baik daripada
mengatasinya; prinsip demokrasi (democratic principle), dimana semua
pihak yang dipengaruhi keputusan-keputusan yang diambil, memiliki hak
untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan-keputusan, serta;
prinsip holistik (holistic principle), dimana perlunya suatu pendekatan

siklus-hidup yang terpadu untuk pengambilan keputusan masalah


lingkungan.
Lalu bagaimana melakukan pengelolaan sampah di kota Samarinda
dengan semakin tingginya bahaya sampah, dimana bukan tidak mungkin
Samarinda akan menjadi kota sampah? Ada beberapa langkah penting
yang harusnya mulai dilakukan, yaitu dengan mengurangi sumber-sumber
sampah. Pemerintah harusnya mulai mendorong para produsen untuk
mengurangi penggunaan kemasan berlebih yang dapat meningkatkan
jumlah sampah. Selain itu, di tingkat distributor (penyalur ataupun
pengecer), juga memulai mengurangi jumlah pembungkus barang yang
dibeli oleh pembeli. Sementara di tingkat konsumen sudah harus memulai
mengurangi penggunaan kantong plastik untuk membawa barang
belanjaan.
Di tingkat rumah tangga, harus dilakukan peningkatan pengetahuan
berkaitan dengan pengelolaan sampah rumah tangga, diantaranya untuk
mengolah sampah organik, serta melakukan pemilahan sampah. Dan bila
memungkinkan, materi pengelolaan sampah dapat dijadikan salah satu
bagian dari proses pembelajaran di sekolah, sehingga dapat semakin
memperkaya pengetahuan pelajar, yang harapannya dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerintah harusnya dapat lebih berperan untuk menguatkan industri
kecil daur ulang. Di Samarinda sendiri terdapat beberapa industri daur
ulang, namun belum memperoleh dukungan serius dari pemerintah kota.
Industri kecil daur ulang ini bukan tidak mungkin akan menjadi sebuah
ruang baru bagi pencari kerja di kota Samarinda, serta bisa memberikan
nilai efek ekonomi bagi masyarakat lainnya. Interaksi antara rumah
tangga, kelompok pemulung, pengelola industri daur ulang, akan menjadi
sebuah titik bangkitnya gerakan ekonomi rakyat, dimana terjadi hubungan
yang saling menguntungkan antar pihak. Selain itu, pemerintah juga harus
membuat peraturan agar daya saing dari industri kecil dapat semakin
menguat, diantaranya mengenai larangan impor sampah, karena dapat
mempengaruhi harga di tingkat pemulung.
Dengan melihat berbagai hal di atas, maka sangat penting bagi DPRD
Kota Samarinda beserta Pemerintah Kota Samarinda untuk membuka
ruang bagi partisipasi publik dalam pembangunan kota, termasuk dalam
hal penggunaan teknologi pengolahan sampah di Kota Samarinda. Hal
penting lainnya adalah DPRD Kota Samarinda dan Pemerintah Kota
Samarinda harus lebih membuka kembali hasil-hasil kajian yang telah
dilakukan oleh para peneliti di Kota Samarinda dalam membuat
keputusan, karena senyatanya telah banyak hasil-hasil kajian dan hasilhasil penelitian yang akan sangat bermanfaat bagi pembangunan kota
Samarinda, termasuk di dalam hal pengelolaan sampah kota.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Strategi penanganan :
a. Menciptakan Budaya Malu, Merasa Bersalah dan Merasa
Diawasi oleh Masyarakat sekitarnya & mengotori lingkungan jika
membuang sampah sembarangan.
b. Menciptakan Rasa Bangga dengan Kebersihan Kota dan
Lingkungannya
c. Memberikan Insentif atau reward bagi pihak-pihak berjasa
untuk kebersihan
d. Aturan, Sanksi dan denda kepada pihak-pihak yang membuang
sampah tidak pada tempatnya
e. Ada sistem pengelolaan sampah di tiap RT, RW dan Kelurahan
f. Penguatan kelembagaan organisasi yang menangani sampah
2. Lima penyebab banjir di Samarinda :
a. Kesalahan peruntukan kawasan
Bukti nyatanya, banyak lahan tangkapan air yang kini
mengalami pembukaan, sehingga banyak perluasan lahan terbuka.
Contoh konkritnya yakni, banyaknya pembangunan perumahan dan
ruko di Samarinda.
b. Pembuangan sampah di daerah sungai oleh masyarakat
Pembuangan sampah di daerah sungai oleh masyarakat
turut memberi andil semakin parahnya banjir di Samarinda.
Walaupun relokasi sudah dilakukan di Sungai Karang Mumus,
namun sebagian besar pasar yang berada di pinggir sungai di
Samarinda turut menyumbang andil yang besar. Ini hanya
pengingat ke pada masyarakat untuk bijak dalamn membuang
sampah.
c. Kapasitas tampungan sungai dengan limpasan air yang masuk
ke sungai menjadi faktor ketiga penyebab banjir.
Kondisi ini semakin diperparah dengan back water (arus balik atau
air pasang, Red.) dari Sungai Mahakam.

d. Wilayah Samarinda termasuk daerah yang memiliki intensitas


curah hujan yang sangat tinggi

3. Solusi
a. Melakukan perencanaan peruntukan kawasan yang sistematis
dan melakukan pengawasan yang matang dan mengacu pada
konservasi. Kedua, melakukan rehabilitasi hutan dan lahan serta
perbaikan daerah tangkapan air di DAS.
b. Pemkot Samarinda segera merencanakan penanganan banjir
untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Perencanaan yang
dibuat Pemkot Samarinda saya tahu sudah banyak. Sekarang ini
tinggal komitmen untuk melakukannya dengan benar, apalagi
ditunjang
dengan banyaknya hasil riset yang telah dilakukan
untuk penanganan banjir ini.
B. Saran
Jika dalam menyusun laporan sebaiknya mengikut sertakan aspekaspek yang lebih mendalam serta rinci tentang penanganan banjir di kota
Samarinda serta juga mengikut sertakan juga aspek social, biologis serta
geografis yang lebih rinci lagi.

DAFTAR PUSTAKA
http://kaltim.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?
option=com_content&view=article&id=39:organik&catid=22:sint
a&Itemid=26
http://timpakul.web.id/amdal.html
http://www.samarinda.go.id/node/8476

http://www.ssffmp.or.id/berita/18793/Banjir_di_Samarinda_Akib
at_Alih_Fungsi_DAS