You are on page 1of 1

Abu dan Pertobatan

Puasa dimulai hari Rabu abu ini dengan penerimaan abu yang merupakan suatu tanda
pertobatan yang bersifat komunal. Di seluruh dunia setiap orang katolik menerima abu di
dahinya sebagai ungkapan kesediaan mereka untuk memulai saat pertobatan. Abu yang telah
kita terima di dahi itu tak dapat disembunyikan seperti halnya saat kita menerima suntikan,
di mana setelah disuntik kita bisa menutupinya dengan menurunkan kembali lengan baju. Abu
diberikan di dahi dan karenanya semua orang bisa melihatnya dengan mudah.
Di hari Rabu abu kita tidak datang menerima abu di tangan dan secara sembunyi-sembunyi
kita kembali lalu mengoleskannya di dahi. Dahi yang bersih saat kita datang kini ditaburi abu
untuk bias dilihat secara jelas oleh semua orang tanpa mampu bersembunyi.
Tentu ketika kita keluar dari pintu gereja setelah menerima abu di dahi, kita mungkin akan
merasa malu bahwa justru bagian diri kita yang biasanya dengan mudah dilihat orang kini
dikotori. Apa lagi kalau kita berada di lingkungan yang mayoritasnya tak beriman sama
seperti kita, yang tak mengenal dan tak memahami apa makna di balik kotornya dahi
tersebut. Tapi justru inilah nilai rohani dari penerimaan abu, yakni bahwa kita secara terbuka
dan dengan amat rendah hati berdiri di hadapan sesama dan berkata bahwa kita bukanlah
manusia yang bersih. Kita adalah kaum pendosa. Kita butuh sesuatu yang melampaui kekuatan
manusiawi kita, yakni kekuatan rahmat Allah untuk membebaskan kita dari keadaan kita saat
ini, yakni membebaskan kita dari dosa-dosa kita.
Satu hal menarik saat kita menerima abu. Karena abu diurapi di dahi kita, maka amatlah
mustahil bahwa kita bisa melihat secara langsung betapa kotoranya dahi kita. Kita hanya bisa
melihatnya lewat cermin setelah kita kembali ke rumah. Namun kita bisa dengan amat mudah
melihat kotornya dahi orang lain. Di sini orang lain seakan berdiri di depan kita dan menjadi
cermin tempat kita melihat diri kita masing-masing. Dalam hidup nyata kitapun dapat dengan
mudah melihat kekurangan, kelemahan serta keburukan orang lain. Kita sulit melihat dengan
jelas kelemahan diri sendiri. Orang lain selalu salah sementara aku selalu berada di pihak
yang benar. Namun di hari Rabu abu sesamaku adalah gambaran diriku. Sesamaku adalah
cermin diriku. Aku melihat diriku yang penuh kelemahan melalui orang lain yang kini berada di
depanku. Tak ada yang bisa kita katakan di saat itu kecuali bersama-sama berdiri di hadapan
Tuhan dan mengakui bahwa kita adalah manusia lemah, manusia yang sering jatuh. Kita adalah
manusia yang bersama-sama membutuhkan rahmat istimewa dari Tuhan agar bisa bangun lagi
dan menjadi layak lagi disebut anak-anak pilihanNya.
Selamat memasuki masa puasa dan lebih lagi mari kita mulai bertobat.
Tarsis Sigho - Taipei
Email: tarsis@svdchina.org